Kouji tak bersuara, tapi tangannya yang bergetar akhirnya bergerak. Kali ini dia menggenggam Katana dengan kedua tangan. Ujung tajam katana mengarah pada Takuya. Desiran angin seperti membisiki Kouji untuk segera mengangkat tangannya. "Takuya ..."
Tak ada perlawanan dan tanda-tanda bahwa Takuya akan menghindar. Kouji mendecih, antara sebal, marah, kecewa dan takut. Katana milik Kouji sudah lurus sempurna, siap menghujam jantung di bawah sana.
"Sayonara."
Kedua tangan itu mengayun kuat, menuju dada kiri Takuya.
"Hentikan, Kouji!"
.
.
Unscandal
[FINAL CHAPTER]
.
.
Waktu seperti berhenti tiba-tiba.
Bola mata Takuya melebar. Katana milik Kouji menancap tepat di tanah, nyaris menggores pipi Takuya. Didapatinya wajah Kouji yang tegang, keringat dingin membuat wajah pemuda itu tampak lebih berantakan.
Entah sejak kapan angin kencang kembali menerpa lapangan sekolah dan suara bising dari baling-baling helikopter sudah memenuhi pendengaran. Seluruhnya menengok ke atas, mendapati helikopter milik Amano sudah ada di atas sana.
"Ah, itu!" Shinya mengacungkan telunjuknya. Tampak seseorang tengah berdiri di ambang pintu helikopter. Helaian birunya tertiup angin. Kedua tangannya berpegang erat pada sisi-sisi pintu. "Kak Kouichi!"
"Loh, kok bisa?" Amano Yuu spontan berdiri. Dia menatap heli dengan tatapan heran, lalu berbalik memandang kakak perempuannya. "Ja-jangan-jangan Kakak yang—"
"Kamu masih terlalu cepat 100 tahun untuk melawan kakakmu, Amano Yuu," Nene mengedip cantik sekali.
"Kouji! Tolong hentikan!" walau terganggu akibat suara bising baling-baling helikopter, tapi Kouji masih tetap dapat mendengar suara sang kakak. Waktu dalam diri Kouji seakan berhenti seketika. Tubuhnya melemas, dia jatuh terduduk.
xxx
"Maafkan, sebenarnya ini ulah kami," Nene menekan kepala adiknya agar ikut membungkuk dan meminta maaf. "Ini rencana kami berdua, hanya saja ada bagian rencana Yuu yang aku ubah sedikit."
"Tapi, Kak—"
"Dengar bocah tolol, kau mau menambah masalah lagi dengan menghilangkan nyawa orang?" omelan Nene kali ini sungguh pedas, ditambah cubitan keras di pipi. "Setelah ini jangan harap bisa lolos dari hukumanku!"
Kini, Kanbara dan Minamoto tengah berbaur, menuntut penjelasan dari Amano bersaudara. Heli sudah mendarat dengan aman. Kouichi dan tim medis ikut turun dan menghampiri Takuya.
"Awalnya kami memang berencana melenyapkan Kimura, tapi aku tidak setuju dengan ide itu, jadi aku menghubungi anggota Yakuza Kanbara yang disewa Yuu agar pura-pura membunuh Kimura dan membuatnya tampak seperti pembunuhan sungguhan."
"Benar sekali ehehe," pria yang berperan sebagai pembunuh itu terkekeh, mirip anak-anak, kalau diperhatikan, ternyata penampilannya jauh dari kata seram. "Aku menusuk perutnya dengan peniti yang dilumuri obat bius dosis ringan supaya seolah-olah dia merasa tertusuk lalu hilang kesadaran, setelahnya kulumuri bagian perut dengan cat merah. Ternyata semuanya berjalan lancar," dia menunjukkan peniti popok bayi yang jadi senjata itu. "Nona Nene memintaku membawa Kimura Kouichi ke mari jika terjadi sesuatu. Untunglah waktunya tepat sekali."
"... Kakak seharusya bilang padaku," ujar Yuu, tapi disahut cubitan lagi.
"Lagipula jika adu domba ini terjadi, hanya Kimura yang bisa menghentikannya," Nene memandang Kouichi yang tengah menepuk-nepuk pundak Kouji, sementara di samping mereka ada Takuya yang sedang berwadaw ria ketika luka-lukanya dibalut. "Hanya Itu yang dapat kupikirkan. Maafkan aku."
Kakek Takuya segera maju, lalu mengusap kepala kedua bersaudara Amano. "Terima kasih. Kalian sudah bekerja keras, terutama kau, Yuu."
"Eh?"
"Kau yang paling bersemangat agar kejayaan Kanbara bangkit dan berseteru kembali dengan Grup Minamoto," tatapan pria tua itu melembut. "Tapi aku sudah setua ini dan aku sudah berniat tidak akan lagi memimpin Grup Kanbara."
"Ta-tapi—"
"Tak apa-apa, setelah ini, kalian pun akan baik-baik saja," ujarnya, lalu berbalik pergi ke tempat Takuya.
"Semuanya!" suaranya lantang memerintah para anggotanya agar menyimak. "Mulai hari ini, aku, Kanbara Toushizou telah resmi mengundurkan diri dari jabatan ketua Yakuza Kanbara!" seluruh yang ada di sana terkejut, bisik-bisik riuh mulai terdengar. "Aku sudah memutuskan, bahwa posisi ketua yang baru akan kuserahkan pada Kanbara Takuya!"
"Apaaa?" Takuya terhenyak kaget. "Kakeeeek!"
Dan sang Kakek bahkan menutup telinga dari protes apapun yang dilayangkan.
"Jadi, ini semua ulah Yuu?" entah sejak kapan Kouji sudah berdiri di dekat Amano bersaudara. Nene hanya menghela napas, apalagi setelah melihat wajah Kouji yang sudah macam setan itu.
"Hoo kau sudah mempermainkanku, ternyata, kutang anyar," ada petir-petir imajiner cantik yang tadi lewat. Aura Kouji benar-benar sudah macam dewa kematian.
"Ah keparat," umpat Yuu sebelum akhirnya kabur. Kouji mendecih lagi, dia mengangkat Katananya dan berlari mengejar Yuu.
xxx
Esok pagi sekolah masih diliburkan. Takuya mendapat perawatan akibat luka-luka yang ia dapat dari Kouji. Kini, dia tengah berbaring di kasur sambil makan kue kering.
"Jadi begitukah, ternyata sahabatku juga berpikiran sama," sang kakek masih di sini, menjaga cucunya yang masih belum sembuh dari luka-luka. Kouji dan Kouichi juga datang menjenguk. Untung Kouji membawa surat-surat yang ia dapatkan, hingga akhirnya menyerahkan surat-surat itu pada Kakek Takuya.
"Aku terharu Minamoto masih mengingat taruhan itu, padahal aku sendiri sudah lupa," genggaman tangan pada kertas surat semakin kuat. "Ah andai dia di sini, pasti aku sudah ditertawai habis-habisan karena seluruh cucuku laku-laki. Dia menang telak."
"Jadi bagaima, Kek? Kalau berdasarkan taruhan itu, Minamoto yang menang dan sesuai permintaannya, sekolah itu diserahkan pada kita."
"Iya. Takuya benar. Jadi sekolah itu milik kita sekarang, sesuai dengan surat wasiat ini," Kakek menepuk-nepuk pundak Kouji dan Kouichi. "Untuk kalian berdua, aku ucapkan terima kasih karena sudah menjadi teman bagi cucuku. Mulai sekarang, aku berjanji tidak akan ada lagi perselisihan di antara kedua grup."
"Terima kasih kembali, Kek," Kouichi tersenyum simpul. "Senang tidak ada yang kehilangan nyawa," dia menyikut pinggul Kouji.
"Iya-iya aku mengertii!" Kouji mendecih sebal, merasa tulang rusuknya akan lepas akibat sikutan Kouichi. Dia maju, lalu membungkukkan badannya. "Aku minta maaf untuk yang semalam. Cucu Anda terluka karena aku tidak bisa mengontrol emosiku. Takuya nyaris saja terbunuh. Aku benar-benar minta maaf. Sungguh."
"Wah, ini beneran Kouji? Kamu nggak lagi kesabet malaikat mana gitu, kan?" Takuya menyeringai usil. "Aw!" dan kembali kesakitan ketika Kouji memukul pelan area tubuh Takuya yang terluka.
"Hahaha, aku maklum, tidak apa-apa," sang kakek tertawa lepas sekali. "Aku yakin, Shinya juga pasti begitu kalau Takuya terbunuh di tangan Minamoto."
Dan tidak ada seorang pun di ruangan itu yang yakin seratus persen dengan ucapan Kakek. Itu Shinya, loh?
"Jadi Takuya, lusa aku akan kembali ke Amerika Serikat bersama Nene dan Yuu. Apa rencanamu selanjutnya?"
Takuya mengedip setelah mendengar ucapan kakeknya. Dia meminta Kouichi, Kouji serta kakek untuk berbisik-bisik berempat.
xxx
"Pagiiiiiiii! Alohaaa! Kanbara Takuya yang tampan nan rupawan ini telah hadiiiiir!"
Krik. Krik. Krik. Bahkan jangkrik pun lelah berkomentar. Seluruh yang hadir di lapangan sekolah pagi itu juga sama, ogah menanggapi.
"Harusnya kamu pukul kepalanya lebih keras kemarin biar dia warasan dikit," ujar Shinya pada Kouji.
Pagi ini, seluruh anggota grup Kanbara, Minamoto, serta kedua kakak-adik Amano hadir di lapangan sekolah. Semua tampak berbaris layaknya upacara penerimaan siswa baru. Takuya, dibantu Kouichi naik ke atas podium dengan sebuah mikrofon. Dia menyapa dengan cerah-ceria.
"Pagi ini aku, Kanbara Takuya sudah resmi menjadi ketua grup yang baru setelah disumpah di hadapan seluruh anggotaku pagi buta tadi," Takuya mendeham kecil, lalu melanjutkan. "Karena itu, mulai hari ini, perintahku adalah absolut dalam Grup Kanbara.
Aku ingin sekali menyampaikan rasa terima kasihku yang besar untuk seluruh anggota Grup Kanbara yang sangat peduli padaku, melindungiku, dan membantuku dalam setiap hal. Kalian semua sangat berarti bagiku, serius."
Tampak beberapa anggota menangis sesengukan dan ada yang mengusap airmata dengan saputangan berenda.
"Aku juga minta maaf sebesar-besarnya kepana pihak-pihak yang sudah kami rugikan. Baik, psikis, fisik, materi, maupun waktu. Aku minta maaf dan terima kasih sudah memaklumiku!"
Shinya tepuk tangan pelan, merasa telah dirugikan secara psikis dan waktu.
"Terima kasih juga untuk kakak-adik Amano yang telah membantu Grup Kanbara sekuat tenaga mereka. Jasa kalian tidak akan kulupakan."
"Wah, Kak, kita dipuji!" Yuu merasa terharu dan ingin lap ingus juga.
"Tapi ralat, maksudku Amano Nene, ya," sambung Takuya. Sialnya ingus Yuu yang keluar tidak bisa di-cancel. Kutang anyar.
"Karena ini, sekali lagi, aku, Kanbara Takuya, selaku ketua baru dari Grup Kanbara ini akan memberikan satu perintah. Sekali dalam seumur hidupku," Takuya menghela napasnya dalam-dalam sebelum mengembuskannya. "Mulai hari ini, Grup Yakuza Kanbara dibubarkan!"
"APAAAAA?"
Sudah Takuya duga, akan banyak yang berteriak dengan 'apa' setelah dia mengatakan kalimatnya.
"Benar sekali. Aku sudah merundingkan ini dengan Kakek dan dia setuju!"
Ketika semua pandangan mengarah pada sang kakek, pria itu menampakkan anggukan mantap.
"Aku juga bermaksud mencarikan beberapa pekerjaan untuk anggota yang ada di rumahku. Perusahaan yang dikelola Kakek di Amerika Serikat akan membutuhkan banyak orang, jadi kalian tak perlu cemas."
"Uhuhuhuhu, Tuan Takuyaaaa!" ada yang sudah banjir air mata.
"Ta-tapi—Tunggu!" Yuu spontan berdiri, tapi langsung dihalangi Nene.
"Tidak boleh ada protes, Yuu."
"Tapi, Kak—
"Kau ingat taruhan kita? Aku yang menang, kan?" kalimat itu bagai senjata pamungkas bagi Yuu. Pemuda itu akhirnya duduk lagi dengan bibir manyun.
Sang Kakek, selaku pemimpin terdahulu naik ke atas panggung dengan membawa surat-surat. Itu adalah surat wasiat dari Grup Minamoto, serta satu surat baru.
"Yang cucuku katakan benar. Dan akupun setuju untuk membubarkan kelompok ini, mulai hari ini," ucapnya ketika telah menerima mikrofon. "Ini janjiku—bukan, ini tanggung jawabku terhadap janji yang kubuat dengan Minamoto. Kurasa tidak akan ada lagi untungnya aku memelihara hasrat perseteruan dengan Minamoto. Semuanya sudah berakhir, begitu pula dengan grup ini. Aku sudah setua ini, aku hanya ingin menikmati hidupku."
"Ketuaaa!"
"Ketuaaa kami akan selalu bersamamu, Ketuaaa!"
Kanbara Toushizou tersenyum. "Soal sekolah ini, cucuku meminta agar hak sekolah ini tetap pada pemegang kepala sekolah yang sekarang, walau ada beberapa yang nanti ingin Takuya rundingkan, benar, kan, Takuya?"
"Benar!" Takuya mengacungkan jempolnya.
"Aku akan berangkat ke Amerika Serikat bersama Amano Yuu."
Yuu melotot. "Loh, kok begitu?"
"Aku sudah mendaftarkanmu ke sekolah basket kenalan manajerku di Amerika Serikat," sahut Nene dengan wajah tegas. "Jadi kuharap kau fokus saja di sana."
"Tapi, Kak—"
"Siapa yang menang taruhan, Yuu?"
Detik ini, Amano Yuu menyadari kalau kakaknya bagaikan seorang ratu.
"Kuucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya bagi yang telah kurugikan. Terutaman Grup Minamoto," Takuya tersenyum ketika sang kakek membuka satu kertas. Itu perjanjian yang ia tulis semalam dan ditandatangani oleh Takuya dan Kouji.
"Ini adalah surat perdamaian yang ditulis oleh Kanbara Takuya dan Minamoto Kouji. Kuminta Minamoto Kouji untuk maju dan berhadapan dengan cucuku."
Kouji menjejakkan kakinya pada podium. Dia berhadapan dengan Takuya. Keduanya bertatapan beberapa saat, sebelum akhirnya tersenyum penuh lega. Sang Kakek memberikan surat itu untuk dipegang sisinya oleh kedua belah pihak. "Anggaplah ini sebagai plakat perdamaian bagi kedua grup."
"UWOOOOOOO!"
Sorak-sorai, tepuk tangan dan kegirangan mewarnai lapangan sekolah pagi itu. Ada yang berpelukan. Ada yang tertawa. Tak lupa konfeti berjatuhan—sumbangan dari Amano Nene. Pagi itu, seluruh sejarah perseteruan Kanbara dan Minamoto seluruhnya sudah berakhir.
xxx
"Adududuh! Kak! Sakiiit!"
"Yuu dadah~ Yuu babaaaay~" Takuya nyengir lebar saat melihat Yuu diseret (atau dijewer?) oleh Nene menuju ruang tunggu penerbangan. Harusnya pakai pesawat pribadi pun bisa, tapi Nene menolak dan meminta agar adiknya naik penerbangan biasa saja.
"Takuya, aku mewakili adikku meminta maaf atas apa yang telah Yuu lakukan," Nene menekan kepala Yuu agar anak itu ikut membungkuk. "Setelah ini dia akan terkurung di asrama akademi olahraga. Semoga otaknya jadi lebih normal ketika keluar nanti."
"Ih Kakak—aw!" jeweran Nene kembali menguat lagi.
"No Problemo! Lagipula aku batal mati. Iya, kan Kouji?"
"Benar. Aku pun sudah memaafkannya," sambung Kouji, padahal malam itu Kouji benar-benar garang ketika memburu Yuu seolah-olah akan membunuh dalam sekali tusuk.
"Baiklah, Takuya, kalau begitu Kakek dan Yuu akan berangkat setelah ini. Nene juga akan kembali bekerja setelah ini," sang Kakek menepuk pelan bahu cucunya. "Sekolah masih diliburkan. Karena itu, pakailah waktu liburan ini untuk melakukan hal-hal yang kaumau."
"Yang itu, sih, tak perlu Kakek cemaskan! Pastiii!" Takuya terkekeh gembira.
Sosok Kakek dan Yuu telah menghilang di balik pintu ruang tunggu. Nene juga sudah pamit pergi ke stasiun televisi, karena pagi ini dia harus menghadiri acara kontes menyanyi, sebagai juri. Kini tinggal Takuya, Kouji dan Kouichi. Ketiganya saling bertatapan gembira, sebelum akhirnya perut Takuya berbunyi.
"Sori, sarapannya kurang, nih. Sebentar lagi jam makan siang. Cari makan, yuk?" Tawarnya.
Kouichi maklum. "Boleh, di mana?"
"Di McLampir, yuk? Ada promo buat anak kembar. Murah," Takuya mengatupkan tangannya. "Pliiis? Mumpung kalian di sini."
"Di situ lagi?" Kouji melotot.
"Yo wislah, ayo, Kouji!" inilah Kimura Kouichi, yang ternyata juga lemah dengan kata-kata promo.
Kouji terdiam sesaat, sebelum akhirnya berkacak pinggang. "Boleh. Tapi ada syaratnya," dia mengambil kuda-kuda, siap berlari. "Yang paling terakhir sampai dia yang traktir, ya!"
Takuya mencak-mencak. "Uwoooy Kouji brengsek! Kautahu kalau aku jalannya belom beneeer aaaaaa!"
Kanbara Takuya kepayahan menyusul kedua sahabatnya.
TAMAT
Halo. Terima kasih sudah membaca Unscandal hingga akhir xDD aku senang bisa nyelesein satu fanfiksi multichapter hingga tamat. Terima kasih sudah membaca semuanyaa 8"D #hugs
Oh iya, di bawah ini ada tambahan, bagaimana nasib Shinya? Mari kita lihat~
Shinya in Love.
.
.
"Yeah! Lupakan Kak Hikari! Aku akan coba mendapatkan yang lain. Cewek di dunia ini ada jutaan, kok!" Shinya rupanya masih belum jera untuk mendapatkan cewek idaman. Siang itu, dia memutuskan untuk keluyuran lagi di daerah Odaiba. Siapa tahu nemu cewek cantik yang mau menerima dirinya apa adanya.
Bruk!
Tak sengaja, tubuh seorang wanita menubruk Shinya. Bocah kelas enam SD itu jatuh terduduk di tengan keramaian.
"Maaf, Dik. Kamu tidak apa-apa?" tanya wanita itu. Wajahnya pun cantik. Shinya langsung terpana dibuatnya. Rambut pendek oranye itu disisir rapi dihiasi dengan jepitan lucu. Manik matanya merah elok. Wajahnya sangat cerah. Di bahu kirinya tersampir tas raket tenis yang simpel berwarna hitam, serta tas selempang lucu berwarna merah. Aroma segarnya citrus tercium darinya.
"A-aduh, Kak, rasanya sakit di bagian sini," Shinya langsung pura-pura kesakitan di bagian punggung, padahal yang ditabrak tadi kan bagian depan tubuhnya. Tak lupa dia pasang wajah ganteng ketika memandang kakak mahasiswi yang menawan ini. Jantungnya berdebum. Kakak ini manis banget. Cantik, anggun lagi. Batin Shinya terpana tak henti-henti.
"Oh, astagaa maafkan aku ... duh! Benar juga," gadis itu menurunkan tas selempangnya dan mengeluarkan sebungkus cokelat dari sana. "Sebagai permintaan maaf, ambillah ini. Cokelat ini untukmu."
"Wah Makasih, Kak," Shinya berbunga-bunga ketika menerima cokelat dari wanita cantik di hadapannya. Serasa dapet cokelat valentine~
"Namaku Kanbara Shinya! Kelas enam SD! Nama Kakak yang cantik ini siapa?"
"Namaku Sora. Takenouchi Sora. Salam kenal, ya, adik ganteng," sahut Sora. "Rasanya jadi pingin punya adik selucu kamu."
"Masa, sih, Kaaaak," Shinya berlagak lucu. Padahal dalam hati sedang tertawa antagonis dan menyusun rencana untuk mendapatkan Sora. "Kakak sedang apa di sini? Nungguin teman, ya?"
"Uuuh, bu-bukan teman juga, sih, ah—tapi bisa dibilang begitu," pipi itu bersemu merah.
"He?"
"Loh, kamu lagi?"
Shinya terperanjat. Ketika menoleh, dia mendapati sosok horor yang ia cap sebagai mahasiswa gila. Siapa lagi kalau bukan mahasiswa stress yang berada di rumah Hikari. Mas-mas menyeramkan bernama Yagami Taichi yang siscon itu. Orang yang mengejar Shinya sambil mengacung-acungkan jangka arsitektur.
"Wah, Taichi kenal adik ini, ya?" Sora tertawa girang.
Taichi tetawa garang.
Sementara Shinya tertawa garing.
"Abis Hikari, sekarang Sora? Hebat bener kau, Dik!" kletek! Bunyi ruas-ruas jari dilemaskan.
"Oow," langkah seribuuuu. Lariiiiiii!
"WEI TUNGGUUUUU!"
.
TAMAT (beneran)
