-Happy Reading-

"Chanyeol-ah!" panggil Sehun kepada pemuda tampan di sebelahnya. Mereka berdua kini berada dalam perjalanan menuju sekolah.

"Ya," sahut Chanyeol.

"Menurutmu, Jongin...eh maksud aku... siswa baru yang kemarin baru masuk ke kelasmu bagaimana? Apa dia siswa yang menyenangkan? Dia tidak melakukan hal yang aneh, kan?" tanya Sehun beruntun.

Raut wajah Chanyeol berubah menjadi dingin begitu Sehun menyebut nama anak baru itu. "Biasa saja,"jawabnya singkat.

"Kau tahu, dia adalah temanku waktu di SMP dulu."

"O..." respon Chanyeol singkat.

"Ish...kau tidak asyik." Sehun lalu mendekati wajah Chanyeol. "Kenapa? Apa kau cemburu melihat aku dekat dengan dia, huh?" lanjutnya.

Chanyeol terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Sehun barusan. "Y-ya! Apa yang kau katakan, huh? Aku tidak cemburu," elaknya.

"Tsk. Raut wajahmu terlihat sangat jelas kalau kau itu cemburu." Sehun lalu menepuk-nepuk pundak pemuda itu. "Tenang saja. Kami hanya dekat sebagai teman saja, kok. Tidak lebih. Tapi...dia sangat tampan.."

Chanyeol menyipitkan matanya menatap kearah Sehun.

"Ah...tapi masih jauh lebih tampanan Chanyeol tetanggaku yang tidak sombong dan rajin menabung," goda Sehun.

Chanyeol hanya menanggapinya dengan dengusan kesal.

Jam pelajaran pertama di kelas Sehun adalah olahraga. Ia dan Luhan kini sedang berada di ruang ganti.

"Sehun-ah!" panggil Luhan.

"Ya, ada apa?" sahut Sehun sambil mengikat tali sepatunya.

"Hari ini kita olahraga basket."

"Terus?"

"Terus...yang akan mengajari kita adalah..." Luhan menggantungkan kalimatnya.

"Ya! Bisa tidak kalau berbicara itu to the point saja," protes Sehun.

"Hehehe, maaf. Yang akan mengajar olahraga hari ini adalah Yifan Sunbae," ujar Luhan dengan mata berbinar.

"O..."

"Kok cuma o, sih. Kau tidak senang ya kalau yang ngajar itu Yifan Sunbae?"

"Um...biasa saja, tuh."

"Ish...kau tau kan Yifan Sunbae itu siapa?"

"Sunbae kelas paling tampan sekaligus kapten basket sekolah, kan? Ck, aku cukup tau itu. Sudah ah ayo kita ke lapangan."

Pelajaran olahraga telah usai beberapa menit yang lalu. Namun Sehun dan juga Luhan harus mengembalikan bola-bola yang tercecer di lapangan karena hari ini adalah jadwal piket mereka.

"Sehun...kau bisa kan mengembalikan bola-bola basket itu sendiri? Aku sudah tak tahan nih," ujar Luhan sambil memegangi perutnya.

"Iya.." ucap Sehun sambil memunguti bola basket yang masih tercecer di lapangan.

"Kalian sudah tau kan apa rencana kita," ujar salah satu siswi perempuan teman sekelas Sehun yang berada tidak jauh dari tempat Sehun berada.

Bruk

"Akh...Ya! Apa yang kalian lakukan, huh?" teriak Sehun. Gadis manis itu terjatuh ke lantai beton dengan kerasnya karena Hyesoo dan kawan-kawannya dengan sengaja menjegal kaki Sehun.

"Hahaha rasain. Emang enak," tawa Hyesoo.

"Itulah akibatnya kalau kau dekat-dekat dengan Chanyeol."

"Huh...tsk berlebihan,"umpat Sehun kesal.

"Apa yang kalian lakukan disitu, huh?" teriak Yifan.

"Gawat! Yifan Sunbae melihat kita. Ayo kita pergi dari sini."

Yifan lalu menghampiri Sehun yang mencoba untuk berdiri, namun sulit karena kedua lututnya yang terluka akibat terjatuh tadi. "Kau tidak apa-apa?" tanya Yifan khawatir.

"Sssstttt...sakit," rintih Sehun.

"Lututmu berdarah. Kita harus segera mengobatinya."

"Naiklah...aku akan mengantarmu ke UKS," ucap Yifan menawari Sehun agar naik ke punggungnya. Yifan tidak tega melihat Sehun yang merasa kesakitan. Sehun hanya menatap Yifan diam.

"Kenapa? Kau tidak mau?"

"Apa Yifan Sunbae mau melihatku dihajar sama fans-fans Sunbae, huh? Lagian, tubuhku berat."

Yifan ketawa, lalu berkata "tsk. Mereka tidak akan melakukan itu. Kau bilang saja padaku kalau mereka macam-macam. Cepat! Naiklah.."

"Yifan Sunbae yakin?" tanya Sehun memastikan.

"Yakin." jawab Yifan.

"Baiklah..." Sehun lalu naik kepunggung Yifan dengan susah payah karena lututnya yang masih sakit.

"Kau ringan sekali. Apa kau tidak pernah makan nasi?" ujar Yifan begitu mengangkat Sehun dipunggungnya.

Mendengar ucapan Yifan, Sehun refleks memukul kepala Sunbae kelasnya itu.

"Aduh. Ya! apa yang kau lakukan, huh? Sakit tahu," keluh Yifan.

"Ya! Apa yang Sunbae tadi katakan, huh? Menyebalkan!" balas Sehun.

Yifan menyunggingkan bibirnya keatas.

"Akhhh..." Sehun meringis menahan sakit begitu Yifan mulai membersihkan luka dilututnya.

"Pelan-pelan dong, Sunbae. Sakit nih" protes Sehun.

"Ini sudah pelan sekali. Tahan, sebentar lagi selesai" Yifan dengan telaten mengobati luka Sehun. Sedangkan Sehun sendiri tengah mengamati wajah Yifan sambil sesekali tersenyum.

"Yifan Sunbae!" panggil Sehun.

"Ya, ada apa?"

"Yifan Sunbae belum punya pacar, ya?"

Yifan yang mendengar pertanyaan Sehun langsung menatap Sehun intens. "Iya. Kenapa? Apa kau mau jadi pacarku?"

Sehun terlonjak kaget mendengar jawaban Yifan. "T-tidak. Bukan begitu...maksudku itu, Yifan Sunbae kan tampan, pasti banyak gadis yang suka sama Sunbae. Terus, kenapa Yifan Sunbae belum punya pacar?" elak Sehun.

Yifan yang masih mengobati luka Sehun tertawa begitu mendengar pernyataan Sehun tentang dirinya itu. "Itu karena belum ada yang betul-betul aku cintai dan mencintaiku. Kau sendiri, kenapa tidak punya pacar?"

"Ah..kalau itu karena belum ada pria yang berniat menginginkanku untuk menjadi kekasihnya. Darimana Yifan Sunbae tahu kalau aku belum punya pacar?"

"Hanya insting saja."

Sehun mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang benar adanya, kalau sampai saat ini belum pernah ada seseorang yang menyatakan perasaannya kepada Sehun. Entah karena apa, Sehun juga tidak tahu. Menurutnya dia cantik, manis, dan kemampuan otaknya juga tidak terlalu buruk. Mungkin mereka enggan untuk mengutarakannya karena Sehun adalah gadis yang cukup cuek.

"Nah, selesai. O, ya siapa namamu?" tanya Yifan.

"Namaku Sehun, Oh Sehun," jawab Sehun.

Yifan tersenyum, kemudian bergumam, "Sehun.. nama yang cantik."

"Ya?" ucap Sehun begitu mendengar gumaman Yifan tersebut.

"Ah lupakan."

"Ngomong-ngomong Yifan Sunbae, terima kasih banyak sudah menolongku. Aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan Sunbae," ucap Sehun.

Yifan tampak berfikir sebentar setelah mendengar ucapan Sehun barusan. "Ummmm kau tunggu disini dulu," perintahnya lalu keluar dari ruangan itu dan kembali lagi dengan membawa selembar kertas HVS dan sebuah bolpoin.

"Ini," Yifan memberikan kedua benda itu kepada Sehun.

Sehun menerimanya dengan raut wajah heran. "Ini untuk apa?" tanyanya kepada Yifan.

"Tulis nomor ponselmu di kertas itu. Ya..anggap saja sebagai balasan karena aku sudah menolongmu," jawab Yifan sambil tersenyum.

Sehun kemudian mencatat nomor ponselnya, lalu memberikannya kepada Yifan.

"Thanks. Nanti aku hubungi."

Sehun mengangguk-anggukan kepalanya.

"Sama-sama," ujarnya.

"Emmm aku mau ke kelas. Kau sudah bisa jalan sendiri, kan? Kelas kita berbeda arah."

"Ya. Aku bisa, kok. Lagian, ini sudah tidak sakit lagi."

"Syukurlah kalau begitu. Aku duluan."

Sehun kemudian mencoba untuk berdiri begitu Yifan sudah keluar dari situ.

"Sehun!" panggil Jongin dari arah koridor. Pria itu lalu melangkah menghampiri Sehun.

"Kakimu kenapa?" tanyanya saat melihat Sehun berjalan dengan terpincang.

"O...tidak apa-apa, kok. Aku tadi tidak sengaja kesandung batu di lapangan saat olahraga," jawab Sehun bohong.

"Tapi kelihatannya lumayan parah, ya. Jalanmu sampai terpincang-pincang begitu."

Sehun tersenyum, lalu berkata "tidak apa-apa, kok. Tadi sudah diobati sama Yifan Sunbae."

Jongin mengernyitkan dahinya heran. "Yifan Sunbae? Siapa?" tanyanya.

"Dia kakak kelas kita," jawab Sehun.

Jongin mengangguk paham.

"Kau mau kemana? Bukannya ini sudah memasuki jam belajar?" tanya Sehun.

"O, aku mau ke perpustakaan buat pinjam buku. Kalau begitu aku duluan, ya!"

Sehun mengangguk mengiyakan.

"Ya, Sehun! Kau darimana saja, huh?" tanya Luhan begitu melihat Sehun memasuki kelasnya.

"Aku dari UKS," jawab Sehun.

"UKS?" ucap Luhan terkejut.

Sehun lalu melangkahkan kakinya menuju ke bangkunya. Luhan tampak mengamati Sehun yang sedang berjalan itu dengan raut wajah curiga.

"Kakimu kenapa?" tanya Luhan khawatir.

Sehun melirik sekumpulan siswi perempuan yang juga sedang menatapnya dari meja paling pojok.

"O...tadi aku tidak sengaja menyandung batu di lapangan," jawab Sehun bohong.

"Benarkah? Pasti sakit, ya?"

Sehun tersenyum, lalu berkata "tadi memang sakit. Tapi sekarang sudah tidak, kok."

"Kalau begitu sekarang ayo, aku akan menemanimu ganti baju." Luhan lalu menarik tangan Sehun dan membawa gadis itu keruang ganti.

Kali ini Sehun pulang sendirian lagi. Chanyeol harus pulang terlambat karena dia akan mengikuti pelatihan untuk kegiatan olimpiade fisika yang akan diikutinya. Dia tidak pernah pulang bareng Jongin ataupun Luhan, karena rumah mereka berlawanan arah.

"Tsk, kenapa sih harus Chanyeol melulu yang mewakili sekolah? Kan aku juga bisa. Nilai fisikaku juga bagus," gerutu Sehun saat memasuki kamarnya. Ditaruhnya tasnya asal, lalu rebahan di atas kasur empuknya tanpa ganti baju ataupun mandi terlebih dahulu. Tiba-tiba ponsel di saku bajunya bergetar. Ada sebuah panggilan yang masuk.

"Halo!"

"Halo Sehun! Ini aku Yifan," jawab suara di seberang telepon yang ternyata adalah Yifan.

"Yifan Sunbae?" ucap Sehun tak percaya. Gadis cantik itu langsung bangun dari acara rebahannya.

"Iya...jangan lupa simpan nomor ponselku ini ya."

"Sip..."

"Oke, kalau begitu sudah dulu, ya. Aku mau latihan basket dulu. Nanti kalau tidak sibuk, aku akan menghubungimu lagi. Annyeong Sehun-ssi!"

"Annyeong Yifan Sunbae!" Sehun menjadi senyum-senyum sendiri begitu Yifan menutup panggilannya. Dia kemudian melanjutkan acara rebahannya yang sempat tertunda tadi.

"Mimpi apa ya aku semalam bisa ditelepon sama pria setampan Yifan Sunbae..." ujarnya.

Sehun tengah berada di balkon rumahnya sekarang. Iris matanya nampak sedang mengamati Chanyeol yang baru saja pulang dari sekolahnya.

"Kenapa dia pulang sangat terlambat?" gumamnya.

Matanya terus mengamati gerak-gerik Chanyeol. Habis dari kamarnya sebentar, Chanyeol langsung menuju kebalkon rumahnya. Dia melihat Sehun yang juga berada di balkon.

"Hai Chanyeol!" sapa Sehun sambil melambai-lambaikan tangannya kearah Chanyeol. Ponsel yang dipegangnya tiba-tiba berdering.

"Halo!"

"Aku ada di depan rumahmu sekarang. Keluarlah!" ucap suara di seberang telepon.

Sehun lalu berlari menuju keteras depan rumahnya. Jongin berada disana, dengan tangan kirinya yang menenteng sebuah paper bag yang tidak diketahui apa isinya.

"Ngapain kau kemari?" tanya Sehun.

"Jadi aku tidak boleh gitu datang kerumah orang yang kusayang?"

"Apa?"

"Ah lupakan."

"Apa itu yang kau bawa?" tanya Sehun sambil menunjuk paper bag yang dibawa oleh Jongin.

"Rahasia. Hug me first if you want to know."

Sehun berdecih pelan.

"Why? You don't want to hug me? So be it, I don't want to tell you so."

Sehun menghela nafas pasrah. "Baiklah-baiklah...aku akan memelukmu sampai kau merasa puas."

Jongin tersenyum senang mendengarnya. Sehun lalu mendekati Jongin dan memeluk pemuda itu.

Chanyeol yang berada di balkon rumahnya sana mengepalkan tangannya erat sambil menatap tak suka pemandangan di bawah sana.

Tbc...

12