You and I ( Our Story )

.

.

.

Main Cast : Chanyeol, Baekhyun (GS)

Rate : T

Other Cast : Jongin, Kyungsoo (GS)

Genre : Fluff, Romance and Hurt (Maybe)

It's Genderswitch

Don't Like, Don't Read

.

.

.

Happy Reading

.

.

.

Sudah satu jam berlalu dari telepon sang ibu yang mengatakan bahwa istrinya masuk rumah sakit karena pendarahan. Dan disinilah Chanyeol berada sekarang, di rumah sakit pusat kota Seoul.

"Eomma" Chanyeol berlari menghampiri sang ibu yang tengah berdiri di depan pintu ruangan bertuliskan "Emergency". Setelan jas kantor yang sedikit kusut masih melekat di tubuhnya.

"Chanyeol-ah" sang ibu langsung memeluk putra sulung kesayangannya, matanya sembab dengan wajah basah karena tangis. Chanyeol bisa merasakan kemeja bagian depannya basah karena air mata sang ibu yang seakan tak mau berhenti.

"Chanyeol-ah…Baekhyun…"

"Sssttt…gwenchana eomma, semua baik-baik saja, jangan menangis." Chanyeol mencoba menenangkan sang ibu, tapi justru kata-kata Chanyeol barusan justru membuat tangis sang ibu semakin kencang dalam dekapannya.

Dengan terisak sang ibu menceritakan kronologis kejadian yang membuat Baekhyun harus dilarikan ke rumah sakit. Semua ini berawal ketika sang ibu yang datang berkunjung ke apartemennya untuk menjenguk menantu kesayangannya yang tengah hamil muda. Ia berencana untuk membuatkan salad buah yang merupakan makanan kesukaan Baekhyun. Tapi karena Baekhyun tak mempunyai bahan-bahan yang diperlukan akhirnya ibu Chanyeol berinisiatif untuk pergi ke supermaket untuk membeli bahan-bahan, juga keperluan sehari-hari yang Baekhyun dan Chanyeol butuhkan.

Walaupun ibu mertuanya sudah melarang agar Baekhyun untuk tetap tinggal di rumah tapi Baekhyun memaksa jika ia ingin ikut, dengan alasan bahwa ia bosan dan ia ingin membantu. Ia tak ingin membiarkan ibu mertuanya itu pergi sendirian. Akhirnya setelah meyakinkan ibu mertua kesayangannya, Baekhyun diperbolehkan untuk ikut.

Karena jarak supermaket yang dekat, keduanya memilih untuk pergi dengan berjalan kaki. Walaupun pada awalnya ibu mertuanya menolak, tapi lagi-lagi Baekhyun kembali berhasil meyakinkan ibu mertuanya tersebut. Hingga kejadian itu tiba-tiba saja terjadi begitu cepat.

Saat itu keduanya telah selesai berbelanja, lampu untuk menyebrang jalan telah berubah menjadi hijau. Tapi naas saat menyebrang jalan tiba-tiba saja datang sebuah sepeda motor menabrak Baekhyun hingga membuat perempuan yang tengah hamil muda itu terjatuh tak sadarkan diri dan mengalami pendarahan hingga harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan. Sedangkan si pelaku penabrakan sendiri, bukannya berhenti untuk bertanggung jawab ia justru malah pergi menancap gas melarikan diri.

"Maafkan eomma…" hanya itu yang keluar dari mulut ibunya yang masih saja terisak.

"Ssst…jangan menyalahkan dirimu sendiri eomma, tenanglah Baekhyun baik-baik saja." sekali lagi Chanyeol meyakinkan.

Kata-katanya barusan sebenarnya bukan hanya ditujukan untuk membuat tenang sang ibu saja tapi juga pada dirinya sendiri. Hatinya berdetak tak karuan, memikirkan kondisi sang istri yang berada dibalik pintu buram itu. Entah apa yang dokter dan perawat tengah lakukan demi menyelamatkan dua nyawa disana.

Tanpa disadari sang ibu, bahwa kini Chanyeol pun ikut menangis. Air mata tampak mengalir dari sudut matanya namun dengan cepat Chanyeol menghapusnya sebelum sang ibu menyadari. Ia tak ingin menambah beban ibunya yang sedari tadi terus menyalahkan dirinya sendiri, bahwa karena dirinyalah Baekhyun harus terbaring di rumah sakit seperti ini.

Tak lama berselang pintu buram itu terbuka menampilkan sosok seorang pria paruh baya dengan setelan dokternya keluar dari ruangan.

"Apakah anda kerabat dari nyonya Byun?"

"Ya, saya suaminya dok. Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Chanyeol, raut cemas tak bisa disembunyikan dari wajahnya.

"Maafkan kami, kami sudah berusaha sebaik mungkin. Istri anda mengalami pendarahan yang cukup parah, benturan yang terjadi juga berdampak pada janinnya. Jika kehamilannya terus dilanjutkan akan sangat berbahaya bagi keselamatan nyonya Byun. Dengan sangat terpaksa kami harus melakukan tindakan medis kuret. Jika tidak dilakukan maka nyawa nyonya Byun dalam bahaya." terang sang dokter.

Penjelasan dokter tersebut jusru semakin membuat tangis sang ibu semakin kencang. Tak bisa Chanyeol pungkiri jika ia juga kini terluka mendengar penjelasan dokter tersebut yang mengatakan secara tidak langsung bahwa ia telah kehilangan calon buah hatinya yang sudah Chanyeol dan Baekhyun nanti-nantikan.

Tapi bagaimanapun juga, ini adalah keputusan yang harus diambil. Chanyeol tak mungkin membiarkan nyawa Baekhyun dalam bahaya jika tetap harus mempertahankan kandungannya. Bagaimanapun juga Chanyeol tak ingin kehilangan Baekhyun. Biarlah Tuhan berkendak, karena Chanyeol yakin Tuhan telah menuliskan rencana indah untuknya dan Baekhyun dibalik semua ini.

"Lakukan yang terbaik dokter." Chanyeol berucap tegas sedangkan sang ibu kini telah terkulai lemas karena banyak menangis. Ia pingsan.

.

.

.

Keadaan diluar sudah gelap, ketika Baekhyun dipindahkan ke ruang rawat biasa. Dokter bilang jika Baekhyun harus dirawat beberapa hari kedepan untuk memulihkan keadaannya. Kini hanya Chanyeol seorang yang berada di rumah sakit menunggu Baekhyun. Ibunya telah pulang dengan Jongin, sang adik tadi sore.

Walaupun awalnya menolak tapi pada akhirnya sang ibu mau diajak pulang setelah Chanyeol dan Jongin membujuknya. Chanyeol harus berterima kasih kepada Jongin, karena berkat bantuannya jugalah sang ibu akhirnya bisa tenang dan tak lagi menyalahkan dirinya sendiri. Chanyeol hanya bisa menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, atas cobaan yang kini harus ia alami.

Ia tidak menyangka jika dihari pentingnya dengan Baekhyun justru kenyatan pahitlah yang harus ia dapatkan. Chanyeol memandang Baekhyun yang masih terlelap karena pengaruh obat bius. Perempuan yang berstatus istrinya itu masih terlelap tidur di brankar rumah sakit, tanpa tahu bahwa kini ia telah kehilangan janinnya. Entah apa yang harus ia katakan jika istrinya terbangun nanti, Baekhyun pasti akan sangat terpukul.

"Baekhyun eonni belum bangun?" itu suara Kyungsoo, adik iparnya yang datang menjenguk bersama Jongin untuk mengantarkan keperluan Chanyeol.

"Belum, dokter bilang pengaruh obat biusnya sekitar 3 jam, mungkin sebentar lagi ia akan terbangun."

"Kau harus kuat oppa" ucap Kyungsoo yang kini telah menghambur memeluk Chanyeol dengan berlinang air mata.

"Terima kasih Soo." Chanyeol berusaha tersenyum tapi Kyungsoo bisa melihat ada raut kesedihan dibalik mata yang biasanya selalu bersinar itu.

"Kau berniat untuk mencari tahu siapa pelakunya?" tanya Jongin yang kini telah mengambil posisi duduk disebrang Chanyeol yang duduk di samping ranjang Baekhyun sambil memegangi tangan sang istri yang terbebas dari infus.

Chanyeol menggeleng lemah "Aku tidak tahu Jongin-ah, bagiku keadaan Baekhyun sekarang jauh lebih penting." ucap Chanyeol sambil memandang wajah Baekhyun yang terlelap damai sama seperti yang tengah jongin lakukan saat ini.

"Kejadian ini pasti akan membuatnya terpukul, Baekhyun noona orang yang kuat. Dengan kau selalu disisinya aku yakin, dia bisa melewati ini semua. Kau harus kuat untuknya hyung, jangan pedulikan urusan lain, kesembuhan Baekhyun noona lebih penting dari apapun. Untuk urusan kantor serahkan saja padaku" Ucap Jongin.

"Terima kasih Jongin" hanya ucapan terima kasih yang bisa Chanyeol ucapkan.

Suara mesin penghangat ruangan menjadi satu-satunya suara yang terdengar dalam keterdiaman tiga orang di ruangan bernuansa putih tersebut. Tak ada yang membuka suara, hingga suara Chanyeol yang memanggil nama Baekhyun memecah keheningan ketiganya.

"Baekhyun-ah" Chanyeol berujar saat merasakan adanya gerakan dari tangan sang istri. Mata yang biasanya berhiaskan eyeliner itu perlahan terbuka, menatap sayu keadaan sekitar.

"Yeolli…" Baekhyun berujar lirih

"Ya, aku disini Baek. Akan aku panggilkan dokter." Chanyeol bersiap untuk pergi tapi justru genggaman tangan Baekhyun pada tangannya semakin erat, tak mau dilepaskan.

"Biar aku saja yang panggilkan oppa" ujar kyungsoo yang langsung bergegas keluar ruangan diikuti oleh Jongin.

"Bagaimana dengan bayi kita, Yeolli? Perutku begitu sakit"

"Tenanglah, dokter akan memeriksanya sebentar lagi."

"Bayiku, yeolli…bagaimana keadaan bayi kita?"

Chanyeol hanya bisa menatap Baekhyun dengan tatapan rasa bersalah dan juga kesedihan. Tapi dengan cepat Baekhyun bisa mengartikan dibalik semua tatapan itu, bahwa kini tak ada lagi janin dalam rahimnya. Ia telah kehilangan calon buah hatinya, tangisnya pecah seketika.

Chanyeol merengkuh Baekhyun ke dalam pelukannya.

"Tuhan menyanginya Baek. Ssttt gwenchana…semuanya akan baik-baik saja. Dia di tempat terindah sekarang. Tuhan akan menjaganya dengan baik."

Tak bisa dipungkiri bahwa Chanyeol juga merasakan kesedihan karena harus kehilangan calon buah hati mereka. Tapi ia harus tetap kuat demi Baekhyun, seperti apa yang dikatakan Jongin. Hanya isak tangis Baekhyun yang kini terdengar memenuhi ruangan. Hingga tiba-tiba suara itu tak terdengar lagi. Tangan mungil yang tadi mencengkram bajunya erat terkulai lemas disamping tubuhnya. Baekhyun pingsan, dan membuat Chanyeol panik seketika.

.

.

.

TBC

.

.

.


Oke ini hurt, saya tahu. Sebenernya chapter ini ada dua versi satu versi yang fluffnya dan satu lagi versi yang saya publish ini. Tadinya saya mau publish versi yang itu aja tapi ternyata menurut saya alurnya agak sedikit kecepetan jadi saya publish versi yang ini, versi yang fluffnya saya simpen buat chap depan aja.

Tenang abis chap ini ga ada hurt-hurtan (?) lagi kok, chapter kedepan-depannya nanti dipenuhi dengan adegan-adegan manis Chanbaek kok. Jadi gimana chapter ini reader-deul?

So review juseyo~

Saranghae~ Ppyong~


Thanks To : AuliaPutri14, Guest, V3,bella.bdebebell , VampireDPS, exindira, Byul Hun.K, ChanHunBaek, Luckygirl91.

Yang udah nyempatin waktunya buat riview di chap kemarin. Juga yang udah Fav sama Follow.