THE BOOK OF WITCH

DISCLAIMER: MASASHI KISHIMOTO

WARNING: TYPO'S, GAJE, OOC

3


Sakura terkejut, ia gugup tentu saja tapi dengan cepat ia sembunyikan raut wajahnya di depan Sasuke. " apa?" Tanya Sakura, menantang. Ia mengangkat kepalanya tinggi, dan memberi tatapan tajam terhadap lawan bicara.

"Jadi, seperti ini kelakuanmu?" Terus terang, dan mengenai telak. Sakura mendengus, membuat si pria menaikkan alisnya.

"apa urusanmu?" Sakura membalas tak kalah kejam, ia melipat tangannya di depan dada.

Sasuke terdiam, ia mundur beberapa langkah "terserah kau saja" gumam Sasuke pelan, lalu pergi beranjak dari tempat Sakura berada.

Sakura menatap punggung sasuke, lalu beralih menatap ke Ino yang sedang mematung di sana.

"masuk Ino" suara Sakura berubah menjadi tenang, ia masuk duluan ke dalam meninggalkan dua orang manusia di sana. Tersadar, ia langsung masuk ke dalam mengikuti Sakura sedangkan Sai terdiam menatap pintu Sasuke yang sudah tertutup rapat.

"kau juga" teriak Sakura dari dalam, Sai mengangguk lalu berjalan cepat masuk ke dalam dan menutup pintu dengan pelan.

Ino yang duduk di sofa ruang tamu menatap Sakura, lain halnya dengan Sakura yang ditatap seperti itu hanya memainkan kukunya. Sai yang baru masuk ikut duduk di samping Sakura yang berlawanan arah dengan Ino.

"jadi bisa kau jelaskan?" Ino bertanya

"apa?" Sakura beranjak dari sofa ia pergi ke dapur, mengambil minuman untukk para tamunya.

Di ruang tamu yang tersisa hanya Sai dan Ino, si pria pucat - Sai menatap intens Ino membuat gadis pirang itu risih.

"hei, jaga matamu" Ino berteriak kesal kearah Sai, lalu mengibaskan rambut ekor kudanya.

Sai mengedip polos "kenapa?" Sai bertanya

"apanya kenapa?" Ino bertanya balik dengan kesal dan memutar bola matanya.

"aku suka menatapmu" Sai berucap tenang, ringan seperti kapas membuat Ino bersemu merah di pipinya. Ino berdecak kesal, lalu memposisikan duduk agar lebih nyaman

Sakura masuk ke ruang tamu dengan tiga gelas minuman, ia meletakkan dengan pelan lalu duduk kembali di sofa samping Sai.

"aku ingin muntah mendengarnya" ucap Sakura sarkatis, gadis itu mengambil handphonenya dan mengecek beberapa email yang masuk.

Ino mengangguk lalu meminum habis "dari mana kau dapat dia?"

"aku pungut" Sakura menjawab dengan cuek, matanya masih fokus ke handphone.

"Hei!" Sai berteriak tidak setuju.

"Apa? Aku betulkan, kau jatuh dari langit lalu aku mengambilnya" jelas Sakura.

Sai tersenyum kecut lalu kembali menatap Ino.

"aku tidak mengerti" Ino berucap.

"aku juga" Sai juga berucap.

"aku tidak sedang berbicara denganmu" Ino menjawab malas, ia bergumam kecil lalu kembali meminum minumannya.

Sakura menyimpan handphonenya di saku, dan mengambil majalah yang tersusun rapi di atas meja.

"yah, dia sedikit kurang waras hari ini" kata Sakura dengan raut datar.

Sai mengerucutkan bibirnya, dirinya selalu dihina.

"aku akan menginap malam ini" ucap Ino, suaranya bersemangat dengan tangan mengepal meninju udara.

Sakura menatap ino "tidak" ucapnya.

"Ayolah" Ino memelas, matanya menatap manis Sakura.

Sai tersenyum melihat tatapan Ino walau tatapannya bukan untuk Sai, "tentu" ujar Sai.

Sakura menggertakan gigi, "Sai" desis Sakura sebal.

Ino mengeluarkan puppy eyes andalannya, teman Sakuta satu ini selalu saja bisa mendapat apa yang ia mau membuat Sakura jengah, "baiklah" kata Sakura dengan pasrah.

Sai berteriak kegirangan, ino menatap sai dengan aneh, sedangkan Sakura mengeluarkan wajah datarnya, Sakura terlalu bad mood hari ini entah karena apa.

"aku akan ke supermarket" Sakura bangkit dari duduk, ia mengambil coat pastelnya yang panjang dan memakainya.

"belikan aku bir" ino berteriak ketika Sakura hendak membuka pintu.

"kita bahkan masih di bawah umur" ujar Sakura lalu membanting pintu dengan keras membuat Ino terkejut setengah mati.


Sakura mengambil beberapa ramen untuk makan malam , snack sebagai cemilan , lalu bir untuk pelengkap suasana. Gadis itu mengerutkan dahi, mencoba berfikir apa yang kurang. Ah, Sakura lupa biarkan saja, besok juga ingat.

Gadis guulali itu pergi ke tempt kasir berada lalu meletakkan barang barangnya di atas, penjaga kasir mengucap jumlah bayarannya setelah menghitung harga membuat Sakura mengangguk dan memberi beberapa lembar uang.

Sakura berjalan keluar dari supermarket, dan segera menuju apartemen. Sesampai di apartemen, para ibu tua bersama anaknya menyapa Sakura dengan ramah , Sakura membungkuk lalu tersenyum ramah. Di lobi, Sakura berjumpa dengan Sasuke. Sakura berhenti, mereka saling bertatapan dalam waktu yang lama membuat gadis gulali itu merasakan aura canggung si sekitarnya.

"oh, sensei selamat malam" Sakura membungkuk lalu pergi berjalan, rasanya ia tak sanggup ditatap sepeeti itu oleh Senseinya sendiri.

"Sakura"

Sakura membalikkan badan, merasa terpanggil oleh pria itu. Ia menaikkan alisnya, menunggu ucapan selanjutnya dari Sasuke.

"tidak" Sasuke berlalu begitu saja, meninggalkan Sakura lagi yang menatapnya dengan malas.

Sakura mengangkat bahu lalu berjalan ke ruangnya yang berada di ujung, menyebalkan memang harus berjalan sejauh itu.

OOO

Sakura membuka pintu, lalu meletakkan barang belanjaan di meja.

"aku pulang"

"Sakura! " Ino melambaikan tangannya, disamping ada Sai yang ikut menonton.

Ino berlari ke arah Sakura, lalu duduk di sofa. "kau membeli bir?" Ino bertanya setelah memeriksa barang belanjaan.

"Hum" sakura bergumam mengiyakan, ia duduk bersandar di hadapan Ino.

"kita bahkan masih di bawah umur" Ino mencibir mengikuti ucapan Sakura tadi, ia mengambil bantal kecil di sofa lalu memeluknya.

Sakura berdecak, "sudahlah, minum saja" ucap Sakura, ia mengambil kaleng bir dan membukanya menimbulkan suara khas dari minuman itu.

Sai duduk di samping ino, lalu ikut mengambil kaleng bir. "ini apa?" Tanya Sai.

"susu coklat" jawab Ino dan meneguk minumannya.

"tidak, tadi aku mendengar kalau itu bor" Sai berucap dengan nada anak anak

"bor? Kau saja yang makan" Sakura mengolok dan meminum habis kaleng birnya, setelah habis ia mengambil kaleng kedua birnya.

"aku rasa minum, bukan makan"

"diam saja kau, dan minum" Ino yang kesal berteriak dengan kesal.

Sai terdiam, lalu mencicip rasa minuman alkohol tersebut. "uhm" Sai bergumam, lalu kembali meneguk bir.

Saat ini sudah berpuluh kaleng yang ada di atas meja, Ino terus meracau tidak karuan sedangkan Sai semakin menjadi gila dengan menempel erat terhadap ino.

"minggir kau, bodoh" ino berucap kesal, ia mendorong kuat tubuh Sai yang memeluk dirinya.

Sai menenggelamkan kepalanya diantara ceruk leher ino, "tidak, tidak" Sai bergumam tidak jelas.

Sakura menatap bosan dengan mereka, lalu melemparkan bantal ke arah Sai "lepasin dia, bodoh" Sai tidak menjawab, ia semakin mempererat pelukannya.

"aish, dasar" Sakura kembali meneguk kaleng birnya, lalu tergeletak di sofa begitu saja. Pintu berbunyi, sakura menggeram. Dengan sempoyongan ia berjalan ke arah pintu berada, sesekali jidatnya terantuk dengan dinding membuat Sakura mengumpat.

Sakura membuka pintu , "Sensei~ ah, ada apa?" Sakura berbicara, ia menggunakan nada umumnya seorang pemabuk. Sasuke mengernyit, ia berdehem pelan sebelum berbicara. "kau mabuk"

Gadis merah muda itu tertawa, ia menjatuhkan kepalnya didada bidang sasuke. Tersadar, ia kembali mengangkat kepalanya "ah, maaf" Sakura masuk ke dalam, diikuti Sasuke yang berada di belakang.

"kalian gila" Sasuke menggelengkan kepala tidak percaya, menatap sepasang manusia yang sedang bermesraan di depan matanya, tanpa pikir panjang ia duduk di sofa begitu saja.

"sensei~" Sakura memanggil, ia ikut duduk di samping Sasuke dan memberikannya sekaleng bir yang diterima sasuke.

"Sakura" pria itu memanggil Sakura, lagi mata emerald itu menjebaknya di dalam pesona khas gadis itu.

"ya?" Sakura balas menatap mata kelam itu, beberapa saat ia merasakan jantungnya berdentum tak karuan lalu ditepis Sakura dengan mengalihkan tatapan dari onyx mematikan itu, dia tidak suka dengan perasaan aneh ini.

"Tatap aku" Sasuke berujar menggunakan nada rendah, tangannya memegang pipi rahang Sakura dengan erat.

"Aku" suara Sasuke tercekat, ia seperti orang bodoh jika harus begini.


Tbc

WHAA (ยค)/ SAMPAI JUMPA DI CHAP BERIKUT!

LOVE, PUCOLED