Once Again

mingyu x wonwoo

presented by mingyouths


Denting piring bersahutan dengan ribut, beradu bersama ocehan-ocehan yang bercampur menjadi satu. Sesekali juga terdengar gelak tawa yang memecah ruangan. Orang-orang di ruangan itu tampak sangat menikmati hidangan di depan mata dan larut dalam obrolan santai sesamanya.

Daging panggang, daging tumis, kentang goreng dengan keju, ramen, ikan goreng, dan berbagai olahan seafood terlihat lezat. Tidak heran, lelaki bermata sipit terus menerus menyendok cumi-cumi dan udang goreng namun mulutnya juga terus berceloteh. Diikuti pula dengan lelaki di sampingnya yang terbahak-bahak sambil mengunyah steak.

Beberapa lelaki lain bersikap biasa saja saat makan, namun tetap sesekali bercengkrama satu sama lain, entah mengomentari para lelaki di sisi sebelah yang dengan ganasnya menyendok hidangan, atau tertawa-tawa juga.

Jihoon sedang memakan udangnya dengan tenang, namun Seungkwan di sebelah kirinya tidak bisa tenang dengan mengambil daging-daging dan seafood yang dia wadahi di piringnya. Seungkwan terlihat seperti pemenang ketika berhasil mencuri makanan Jihoon.

Dan Jeon Wonwoo, memotong-motong steak-nya asal, tidak terlihat tanda-tanda akan menyuapkannya ke dalam mulut. Dia menatap Jihoon yang menggeplak Seungkwan, lalu beralih ke steak-nya yang sudah terpotong abstrak.

Sudah seperti itu sejak beberapa menit yang lalu.

Wonwoo sudah memikirkan banyak hal sedari tadi, mulai dari laundry-nya yang harus diambilnya hari ini, acara tv malam yang bisa ditontonnya, jam berapa dia akan tidur, dan rencana membeli ramen banyak-banyak karena dia merasa butuh persediaan.

Terkadang sekuat apapun mengalihkan diri, tetap saja akan gagal. Pikiran tetap kacau. Wonwoo pun merutuk dalam hati.

Mood Wonwoo menjadi buruk, sangat buruk.

Dia ingin berteriak 'diam!' namun suaranya seperti habis.

Tadi, ketika dia akan mengambil tasnya di ruang karyawan dan memakai mantel, Jun buru-buru menariknya dengan antusias karena masakan-masakan koki sudah jadi.

Wonwoo ingin meronta, namun tidak kuasa melihat Jun yang kemudian menyodorkannya kentang goreng keju.

"Oh..."

Wonwoo tersenyum kecil ketika ia berpikir, dia bisa merasa tidak kuasa menolak kepada Jun.

Dia bisa merasa tidak kuasa dan tidak enak hati pada siapapun, karena itu juga salah satu sifatnya—Wonwoo tahu.

Jihoon menyusul masuk ke ruang makan-makan mereka tak lama setelah dia ditarik oleh Jun. Seungkwan mengekori di belakangnya, namun ia terkesiap melihat orang yang tadi ingin ia bentak-bentak ikut masuk. Tersenyum pada Wonwoo.

Sifat tidak kuasa dan tidak enak hati itu meluap, sejauh-jauhnya saat melihat senyum yang membuat muak dirinya.

Wonwoo bertanya-tanya kenapa Jihoon mengajak orang itu ikut masuk. Ia ingin berteriak marah, tapi teman-temannya mulai memasuki ruangan satu persatu dan teriakannya pun tertahan.

Karena itu seperti inilah dia sekarang, tidak ada nafsu makan, mood-nya hancur. Padahal tadi dia benar-benar hampir meneteskan liur membayangkan masakan para koki.

Sebelum Mingyu datang menghampirinya.

Hanya empat suap daging masuk ke mulutnya. Itu karena Jun mengajaknya ngobrol, juga menanyakan rasa steak buatan Jisoo. Dia tentu menyuapkan daging steak sambil mengatakan 'enak sekali'.

Emosi Wonwoo masih belum mereda juga. Dan ketika dia melirik ke depan, Mingyu dengan raut gembiranya berbicara akrab dengan Seungcheol.

Wonwoo marah, sangat marah, dan rasa marah hanya bisa dilampiaskannya pada garpu di tangan kanannya.

Badannya ia rasakan jadi bergetar. Giginya bergemelatuk pelan penuh geraman.

"Haaaaah..."

Dia akhirnya menghela nafas keras-keras tetapi tidak terdengar oleh yang lain.

Ia menundukkan wajah, menatap kosong lalu memejamkan mata.

Kepalanya mendadak terasa sakit.


Aku ada acara makan-makan dengan teman-teman di restoran.

Tidak apa-apa kan? Jemputnya agak malam.

Pesan terkirim ke nomor tujuan sejak 30 menit yang lalu. Wonwoo mengetiknya dengan senyuman, namun senyum itu berganti rasa cemas karena penerima pesan belum juga membalas.

Restoran sudah tutup, sedari tadi pekerja disana bertugas untuk berbersih. Beberapa sudah ke ruang karyawan, sekedar minum kopi dan mengobrol. Sebenarnya mereka sudah boleh pulang jika restoran sudah bersih, tapi hari ini mereka ada acara lain di restoran setelah tutup.

Wonwoo menggigit bibir. "Kenapa belum dibalas?" pikirnya takut.

Wonwoo berpikir keras. Apa yang membuat yang dikiriminya pesan belum membalas? Dia sungguh ingin orang itu cepat mengiriminya pesan balik, sekedar menjawab ya atau tidak saja. Acaranya bersama pekerja lain akan berakhir larut, tentu saja. Wonwoo takut naik bus malam hari karena jalanan ke arah halte terlihat seperti hutan juga terlihat rawan karena gelap.

Karena itu ia bertanya lewat pesan dahulu, jikalau memang orang itu tidak mau menjemputnya atau menyuruhnya pulang saja ke apartemen.

Nihil, tidak ada balasan apapun seperti ini membuat Wonwoo makin takut.

"Wonwoo-ya? Ayo ke belakang, makanan sudah disajikan lho."

Seungkwan menariknya pelan. Wonwoo memasang muka memelas.

"Seungkwan-ah. Mingyu belum membalas pesanku juga."

"Hmm, dia ada masalah di kantor? Atau sedang ada suatu urusan?"

"Masalah? Tapi dia bilang pekerjaannya lancar..."

"Aku jadi cemas, Seungkwan."

Seungkwan mengelus tangan Wonwoo. "Kau cemas tidak ada tumpangan pulang? Atau apa?"

"Aku cemas jika sesuatu terjadi padanya..."

Wonwoo merasa sedikit hangat ketika Seungkwan menepuk-nepuk pundaknya. "Stt, jangan berpikiran aneh. Mingyu pasti menjemputmu."

Tepat setelah kalimat Seungkwan, sebuah mobil sedan hitam mewah parkir di depan restoran. Wonwoo menoleh, dan langsung terlonjak senang.

"Ah!"

Buru-buru didorongnya pintu restoran untuk keluar menghampiri. Bahkan pemilik mobil belum keluar dari mobilnya.

Sosok tegap dengan jas hitamnya membuka pintu mobil. Dia menapakkan kaki keluar sementara dirinya masih di dalam, mencari sesuatu.

"Mingyu, kenapa tidak membalas pesanku? Ada sesuatu, kah?"

Orang tersebut keluar dari mobil kemudian menutup pintunya. Tombol kunci di tekan. Logat tubuh dan wajahnya terlihat malas saat keluar dari mobil, namun ia tetap ingin terlihat biasa-biasa saja.

"Ponselku kehabisan baterai."

Wonwoo ingin meng-iyakan, namun dia langsung berpikir soal mobil yang mempunyai tempat charger.

Dia tidak sedang ingin berpikiran buruk sekarang.

"Yasudah... Tadinya aku menanyakan apa tidak apa-apa kalau kau menjemput agak malam karena aku dan yang lain akan mengadakan acara makan-makan. Tapi kau sudah di sini, itu artinya aku pulang saja."

Yang di ajak bicara menarik napas. "Oh... Tidak... Tidak usah. Tidak apa-apa. Kau boleh ikut acara dengan mereka."

Wonwoo menatap raut muka lelaki di hadapannya. "Serius? Baiklah, kalau begitu kau ikut makan saja di dalam, ya?"

Raut muka lelaki itu terkesiap. Terpancar keengganan. "Ah... Baiklah..."

Tangannya langsung ditarik untuk diajak masuk ke dalam restoran. Wonwoo tidak berpikir apapun lagi ketika melakukannya.

"Soon, tidak apa-apa kalau aku membawa Mingyu untuk acara makan-makan?"

Ruangan itu penuh, yang dipanggil awalnya asyik mengobrol kemudian menoleh. Lalu tersenyum senang. "Oh, dengan senang hati mengajak Mingyu bergabung."

"Yah, tuan muda Mingyu boleh bergabung sesukanya dengan kami, kok." Seungcheol berbicara, kemudian melambaikan tangannya.

Pemuda yang disebut-sebut hanya tersenyum menimpali. Senyum dimana sudut-sudut bibirnya seperti dipaksa tertarik ke atas.

"Mari makan! Aku menghabiskan setengah gajiku, lho, habiskan tanpa sisa!" Soonyoung berteriak—maksud bergurau.

"Siap, tuan Kwon!"

Wonwoo hanya tertawa melihat tingkah Soonyoung dan teman-temannya yang lain. Dia selalu merasa nyaman bersama teman-temannya, hatinya selalu menghangat karena candaan seperti tadi.

Tak lambat baginya untuk menyadari sosok di sebelahnya hanya diam. Wonwoo sibuk mengunyah makanan, tapi kepalanya menoleh memperhatikan.

Baru saja ingin menawari Mingyu steak, lelaki itu sudah menelpon menggunakan ponselnya. Yang sedari tadi dia mainkan selagi diam. Yang dia bilang dayanya telah habis.

Beberapa menit menelpon, ia langsung bergegas, berdiri dari duduknya. Wonwoo terheran melihat Mingyu seperti ingin meninggalkan tempat.

"Ada apa...?"

Wonwoo yang bertanya, Wonwoo yang bersuara duluan karena Mingyu sepertinya tidak akan berkata untuk sekedar memberitahu akan pergi kemana dia.

"Urusan kantor, lagi. Akan aku jemput kalau sudah selesai."

Wonwoo hanya bisa mengiya-kan, dia bisa apa kalau sudah menyangkut urusan perusahaannya Mingyu?

Wonwoo tetap melanjutkan pesta bersama teman-temannya, dan Mingyu pergi. Lelaki itu langsung saja keluar ruangan dengan sendirinya setelah mengatakan kalimatnya. Ruangan terlalu bising untuk menyadari Mingyu meninggalkan tempat itu.

Keributan di ruangan itu terus berlangsung hingga akhirnya larut malam. Mereka baru berbenah usai melihat jam, 10.30 pm.

"Lain kali kalau ada yang mentraktir, harus di tempat lain, ya! Jangan di sini terus." Soonyoung bergurau seraya menenteng tasnya.

"Harus melihat situasi dompet, Soon. Kalau tidak cukup, pasti akan kembali makan-makan di restoran ini." Jun menimpali.

Seungkwan menatap Jun dan Soonyoung, "Disini sudah sangat kenyang, kok! Yang penting gratis."

Tangan Jihoon menggeplak kepala Seungkwan kemudian mengarah menuju saklar lampu restoran. "Jiwa gratisan."

"Ish, sakit, Jihoon!"

Restoran langsung gelap ketika lampu dimatikan Jihoon, dan Wonwoo makin takut. Mingyu kembali tidak membalas pesan yang dikirimnya. Pesan yang memberitahu kalau dia meminta untuk dijemput di restoran.

"Wonwoo-ya, bagaimana kau pulang? Mingyu menjemput, kan?" Jihoon bertanya kepadanya. Wonwoo bingung untuk menjawab.

"Ya... Kurasa sebentar lagi. Aku akan menunggu sebentar."

"Mau ditemani oleh kami?" ucap Jun sambil menggosok-gosok tangannya yang tersapu angin malam.

"Tapi ini sudah larut, akan semakin berbahaya kalau kalian tidak pulang sekarang." ujar Wonwoo, menatap ketiga temannya yang tersisa di restoran.

Seungkwan menggeleng. "Kami berjalan beramai-ramai, tidak masalah."

"Walau beramai-ramai preman tidak akan segan untuk tetap merampas harta kalian. Sudah, pulanglah."

Jihoon berdecak. "Benar? Kami pulang?"

"Benar. Akan lebih berbahaya kalau kalian masih disini." Wonwoo mengangguk menanggapi Jihoon, menatapnya dengan tatapan untuk tidak khawatir.

"Bilang-bilang kami kalau ada apa-apa." Jihoon menepuk pundak Wonwoo. Ketiganya mulai melangkah menjauh.

"Sampai jumpa besok, Wonwoo!"

Wonwoo melambaikan tangan balik ke arah tiga temannya yang berjalan bersama. Ketiga temannya sudah tidak lagi terlihat dari pandangannya, Wonwoo mulai merasa cemas kembali.

Sudah hampir sangat larut, malam semakin gelap dan terasa mencekamnya. Wonwoo ketakutan. Keringat nampak sedikit di pelipisnya. Terus ditekannya tombol memanggil di ponsel. Berulang-ulang kali terus menelpon nomor yang tak henti-hentinya ia kirimi pesan juga. Isinya sama, meminta jemput di tempatnya bekerja.

Terkadang ia berpikir ia memang salah, bekerja di tempat yang jauh dari tempat tinggalnya. Dimana membuat dirinya harus susah payah pulang dan pergi, sementara teman-temannya tinggal di sekitar kawasan yang dekat dengan tempat kerja mereka.

Pukul 11.20, tidak ada tanda-tanda Mingyu akan menjemputnya. Operator tetap menjawab panggilan, dan pesan tidak dibalas.

Raut Wonwoo menjadi redup, bibirnya melengkung ke bawah. Menatap ponselnya yang menunjukkan jam. Ia merasa menyedihkan.

Mingyu meninggalkan dirinya sendirian.

Di seretnya kaki untuk berjalan. Mengarah ke belakang restoran yang juga sudah sangat gelap. Di bantu penerangan dari handphone dia meraba-raba satu persatu jendela.

Dirasanya jendela yang hanya tertutup sedikit. Dibukanya lebar-lebar jendela itu. Dia merasa beruntung jendela di belakang terkadang tidak tertutup dengan benar.

Wonwoo berusaha menaiki jendela yang lumayan tinggi. Susah payah membuat dirinya masuk, dan langsung merosokkan badannya ke dalam restoran ketika satu kakinya berhasil terangkat.

Lampu restoran langsung ia nyalakan, tidak ingin tidur di dalam kegelapan. Membentang selimut yang memang tersedia di ruang karyawan dan membaringkan badannya perlahan.

Badannya sakit dan nyeri karena terjatuh dari jendela. Tapi entah kenapa dia merasakan hatinya lah yang lebih terasa sakit dan nyeri sekali.

Malam itu, Wonwoo tertidur di restoran dengan kedua lutut membiru sampai esok pagi Soonyoung membangunkannya dengan sedih.


Wonwoo membuka matanya. Pikirannya makin berkecamuk ketika kejadian-kejadian yang telah terjadi itu dipikirkannya lagi.

Disuapkannya daging yang sudah dipotongnya banyak-banyak sampai dirinya merasa mual. Namun langsung diteguknya juga soda yang disediakan disamping piringnya.

Ia beranjak dari duduk ketika makanannya sudah habis.

"Wonwoo-ya? Kenapa?" ujar Soonyoung heran melihat Wonwoo yang tadi terburu-buru makan dan langsung berdiri.

"Aku pulang, ya. Baru ingat toko laundry tutup jam tujuh," ucap Wonwoo sambil tersenyum. "Maaf tidak bisa mengantar pulang."

Seungcheol langsung mengibas-ngibaskan tangannya. "Santai saja! Lagipula kami yang menumpang di mobilmu. Tapi kau benar-benar akan ke tempat laundry, kan?"

Wonwoo melirik sosok di sebelah Seungcheol yang langsung berekspresi tidak menentu ketika Seungcheol berkata begitu.

"Memangnya aku pembohong?"

Ucapan Wonwoo terdengar sangat sakarstik membuat suasana menjadi menegang sesaat.

"Yasudah, hati-hati, ya. Jangan ngebut-ngebut menyetirnya." Jihoon akhirnya memecah suasana. Ia mengangkat gelas berisi soda miliknya.

"Memang aku pernah ngebut?" Wonwoo bertanya lagi.

Jihoon meneguk minumnya. "Kalau emosi kau bisa saja ugal-ugalan."

Kalimat Jihoon juga penuh makna, Wonwoo bepikir. Ada rasa puas di hatinya, dan itu membuatnya sedikit lebih baik.

"Baiklah, aku pulang duluan. Sampai jumpa besok." Wonwoo melambai singkat. Ia langsung berjalan agak cepat.

"W-Wonwoo-ya!"

Suara itu memanggilnya lagi. Wonwoo menyempatkan menoleh. "Apa?"

"Mau aku yang menemanimu ke tempat laundry? Aku akan mengemudi dan kita langsung kembali kesini setelah itu."

Wonwoo menyunggingkan sebelah sudut bibirnya ketika mendengar kalimat yang diucapkan pemuda yang terus menerus menawarinya setiap hal yang juga tak pernah ia gubris.

"Aku tidak mau. Dan untuk apa kau datang sok akrab mengobrol dengan Seungcheol. Kenapa tidak berjoget saja di club dengan musik DJ yang kau sukai?"


Wonwoo sudah selesai membenahi pakaiannya telah di laundry malam itu. Dia kemudian mengunci pintu lemarinya.

Langsung dia rebahkan tubuhnya ke kasur empuknya. Tubuhnya memantul sedikit di atas kasur.

Ia merasa sangat lelah, lelah fisik dan batinnya. Namun setelah membeli beberapa makanan hangat dan berkuah, tubuhnya menjadi sedikit tenang dan hangat.

Wonwoo hanya berharap esok mood-nya menjadi bagus kembali.

Matanya hampir terpejam ketika ponsel di atas nakasnya berbunyi pelan. Tidak susah untuk meraih ponselnya dengan sekali tarikan.

Ia menyalakan layar ponsel dan langsung membuka pesan yang diterima tanpa ragu.

Wonwoo-ya, kau pasti sudah mau tidur. Selamat tidur.

Aku tidur sendirian lagi malam ini, dan aku berharap kau bisa menemaniku tidur lagi.

Aku sudah berhenti memasuki club malam... Aku belum memberitahumu, maaf. Sekarang setiap malam aku hanya meminum cokelat panas di kamar, sambil membaca buku-bukumu. Seperti yang sering kau lakukan dulu, kan?

Oke, baiklah... Selamat malam. Maaf menganggu, ku harap aku tidak kau umpati ya...

Pesan yang cukup panjang. Wonwoo membacanya sampai akhir, namun tangannya meletakkan ponselnya kembali. Mukanya biasa saja membaca pesan itu, tidak merasakan apa-apa selain rasa kantuk yang makin membuatnya cepat menutup mata.

"Memangnya aku peduli?"


( t b c )


hai, ini mingyouths!

terima kasih udah kasih feedbacks di chapt sebelumnya~

ku akan up cerita ini tidak lama-lama amat kok, diusahakan ¯\_(ツ)_/¯

oke, terima kasih sudah baca, terus baca, yaa ヾ(´︶` )ノ

( ˙︶˙ )ノ

mingyouths