A fanfiction story by Winter AL Yuurama
THE HALLOWS
HunKai/Sekai
Please if you dont like SeKai, go away from now!
.
.
Darkness has kept the light concealed
Grim as ever
Chapter 1 : BURIED ALIVE
Kebas. Mungkin memang benar jika hatinya sudah kebas walau banyak cinta yang datang kepadanya. Tetapi ia selalu tahu bahwa semua cinta itu bukanlah cinta yang sesungguhnya. Cinta yang orang-orang berikan kepadanya hanya sebatas kekaguman semata. Atau mungkin juga dengan sedikit bumbu nafsu. Mereka menginginkan Sehun bukan untuk memulai kehidupan yang serius, bukan pula untuk menjalin hubungan yang bernama ketulusan. Melainkan demi sebuah gengsi.
Sehun itu tampan, cerdas, berwibawa, misterius, dan muda. Berbalut jubah putih membuat ia tampak seperti malaikat tak bersayap. Karena itulah mereka beranggapan jika mereka mampu menjadikan Sehun sebagai milik sendiri maka akan berimbas pada popularitas yang meningkat. Derajat yang dibawa Sehun itu sangat tinggi. Karena itulah, jika mereka dapat memiliki pria yang memiliki banyak keunggulan itu maka decakan kagum dan berbagai pujian pasti akan orang itu dapatkan. Terlebih lagi dia pasti akan merasa menang dan menginjak yang lain sebagai pecundang.
Pada kenyataannya, Oh Sehun memiliki hati sekeras baja dan sifat sedingin es. Seberapa sering pun ia dirayu dengan berbagai kata manis yang menggoda dan berbagai surat cinta dengan amplop berwarna-warni, hatinya masih belum tertembus meski mereka menggunakan senjata pamungkas sekalipun. Pun sama halnya dengan pujian-pujian kegaguman yang selalu mereka teriakkan setiap ia muncul ke permukaan.
Yah, karena semua sifat dan ketampanan wajahnyalah yang semakin membuat mereka semakin ingin mendapatkan seorang Oh Sehun.
Cinta. Sehun pernah memiliki rasa indah itu. Ia pernah rasakan bagaimana cinta itu datang dan bersemanyam dalam hatinya dengan menggebu. Sehun pernah merasakan kebahagiaan dalam cinta itu. Ia bisa menjabarkan bagaimana perasaan cinta itu karena ia pernah merasakannya.
Cinta adalah sebuah hakikat yang melekat dalam nurani. Menunggu untuk berlabuh ketika telah temukan dermaga yang tepat. Sehun pernah melabuhkan cinta itu pada seseorang. Dan sampai sekarang cinta itu tidak pernah berubah. Hatinya masih untuk orang itu bahkan untuk sekian lama yang dicinta telah menghilang dari semesta. Tetapi cinta yang telah ia labuhkan pada dermaga sosok indah itu tidak kunjung kembali berlayar untuk temukan dermaga yang baru.
Karena baginya, cinta yang dia miliki hanya satu dan telah ia berikan pada satu orang. Seluruhnya. Bahkan tanpa sisa. Semua cinta didalam hatinya telah ada yang memiliki. Cintanya masih hakiki kepada dia yang telah tiada. Dan cinta itulah yang telah membangun dinding kokoh yang sulit tertembus oleh cinta-cinta yang lain. Dalam pandangannya, cinta miliknyalah yang disebut cinta sesungguhnya.
Tetapi, cinta yang indah itu berubah hitam dan menyisakan monokrom-monokrom bernama kenangan. Orang itu telah membawa semua cintanya ketempat entah dimana letaknya. Sebuah tempat delusi yang tak ada dalam semesta. Sebuah tempat yang tidak dapat digambarkan oleh mereka yang masih hidup. Hati Sehun telah dibawa mati oleh orang itu. Dan Sehun menerima takdirnya dengan lapang dada meski gemuruh sesak melingkupinya seumur hidup. Kini hatinya hanya tinggal hitam. Gelap tak memiliki ruang untuk cinta yang baru. Itulah mengapa ia selalu menolak mereka yang menyatakan cinta kepadanya.
Hidupnya hanya sebuah rutinitas belaka. Ia tak memiliki tujuan yang berarti. Ia tidak menikmati hidupnya setelah orang yang amat ia cinta itu pergi untuk selamanya. Ia menjalani hidupnya hanya agar tidak aneh dimata orang lain. Hanya agar sama, sebagaimana manusia seharusnya hidup. Tidak ada yang menarik dalam hidupnya.
.
.
.
"Hari ini ada murid baru yang masuk sekolah kita," Lu Han, seorang siswa tingkat dua berujar santai sambil sesekali menyesap soda dalam kalengnya, duduk di atas meja kerja tepat di depan Sehun yang tidak bergeming. Ia bahkan tidak peduli pada siswa itu. Ia tetap fokus pada sebuah bandul kalung berbentuk lingkaran dengan huruf A ditengah dalam genggamannya. "Kudengar, dia adalah jelmaan siluman," Lanjut Lu Han sambil tertawa kecil. Geli dengan pemikiran masa kini yang ternyata masih sekuno itu. Tapi justru hal itu yang berhasil mengalihkan perhatian Sehun walau lelaki berjubah putih itu tidak merespon dengan suara.
"Aku sudah melihatnya tadi. Aku heran dari mana datangnya pemikiran kolot itu. Dia sama sekali tidak pantas disebut jelmaan siluman, wajahnya terlalu manis dan terkesan polos," Lu Han melanjutkan obrolan sepihaknya tanpa peduli dengan Sehun yang sama sekali tak meresponnya. Jika diingat-ingat, pemuda dua puluh empat tahun itu memang jarang menanggapi celotehannya meski mereka sudah lama saling mengenal.
Tapi, apa peduli Lu Han? Dia baik-baik saja dengan sifat Sehun yang hanya bicara jika perlu saja. "Sayangnya, sebagian besar orang terlihat membencinya. Ketika pertama kali ia menginjakkan kaki di sekolah ini, semua orang berbicara negatif tentangnya. Seperti telah mengenal lama dan mengetahui sifat buruknya," Lu Han menjeda kalimatnya demi meneguk sisa sodanya sampai habis tak tersisa. "Yah, rahasia orang siapa yang tahu?" Lu Han mengedikkan bahunya asal sambil meremas kaleng sodanya menjadi bulatan seperti bola lalu melemparnya ke tempat sampah yang dekat dengan duduknya. Kemudian ia beranjak dari meja Sehun menuju pintu keluar. Namun sebelum ia benar-benar melangkah keluar dari ruang kesehatan, ia sempatkan untuk menoleh pada Sehun yang hanya menatapnya tanpa ekspresi berarti.
"Namanya Kim Jongin. Jika kau bertemu dengannya, kau akan merasakan yang namanya dikubur hidup-hidup,"
BLAM!
Pintu tertutup. Menyisakan kesunyian yang menelusup pada bilik-bilik ruang kesehatan. Menggantungkan ketidakmengertian pemuda berkulit pale itu tentang maksud Lu Han. Tapi toh, ia tidak peduli dan tidak ingin tahu. Memangnya apa pentingnya si anak baru itu untuknya? Nonsense!
.
.
.
Jongin baru saja menutup pintu ruang kepala sekolah sebelum mulai melangkah menyusuri koridor sekolah barunya. Yeah, sebagaimana kehidupan anak sekolah, murid baru seperti dirinya pasti akan mendapat wejangan dari kepala sekolah terlebih dahulu sebelum memulai hari pertamanya di sekolah baru kan? Dalam hati Jongin bersyukur, setidaknya para guru tidak memandang sebelah mata. Walau hanya sebagian sih. Tapi itu masih lebih baik daripada tidak sama sekali.
Hari pertama kepindahannya tidak meninggalkan kesan indah di benaknya. Kedatangannya yang baru pertama ini sudah mengundang banyak cacian dan tatapan kebencian. Pagi-pagi telinga Jongin sudah sakit mendengar cemoohan dari para murid. Dari yang hanya berbisik-bisik membentuk kelompok kecil, sampai yang terang-terangan juga ada. Hah... Selalu begini. Entah di tempat baru atau lama, ia selalu dipandang sebelah mata. Kekuatan gosip memang luar biasa. Pantas saja pepatah mengatakan kalau senjata paling mengerikan adalah lidah. Sekali berkata, akan menyebar kemana-mana.
Mau bagaimana lagi? Jongin tidak bisa menghentikan kekuatan gosip yang sudah menjamur semenjak 3 tahun lalu. Meski telinganya selalu berdenging tidak suka, tetapi panggilannya sebagai anak siluman seperti melekat pada dirinya, menjelma menjadi sebuah identitas yang tak pernah ia harapkan. Inginnya sih pergi saja yang jauh, tapi mana mungkin ia meninggalkan kakeknya sendirian di Korea. Bisa saja sih pindah ke kota lain, tapi Jongin tak bisa. Karena kakeknya sudah terlanjur cinta dengan Seoul. Dan kakeknya itu tidak mudah nyaman dengan tempat baru dan keras kepala juga. Jadilah dia mengalah saja daripada dikatakan berani pada orang tua. Setidaknya dia masih punya nurani pada satu-satunya keluarga yang telah merawatnya selama ini. Walau setiap hari harus merasakan sakit dalam batin, dia masih tidak apa kok. Karena semua ini sudah menjadi biasa baginya. Seperti sudah menjadi melodi yang mengiringi langkahnya.
Lagipula, pergi jauh itu mau pakai uang siapa? Gaji hasil kerja paruh waktunya saja hanya pas-pasan mau berlagak pindah keluar negeri. Jangankan luar negeri, luar kota saja tidak mampu. Masa dia harus minta dari kakeknya. Yah, Jongin tahu kakeknya itu punya cukup banyak uang. Tetapi ia tidak mau egois dan memakai uang kakeknya untuk melarikan diri dari semua situasi menyebalkan ini. Ia tidak ingin terus-terusan merepotkan kakeknya. Hah.. Orang tua itu sudah melakukan banyak hal untuknya. Jongin tidak ingin semakin membuat repot kakeknya. Sudah cukup.
Perjalanan Jongin terganggu oleh suara bel. Tak lama kemudian murid-murid berhamburan keluar kelas. Bel istirahat ternyata. Jongin sempat kaget tadi, karena suara bel nya mirip seperti suara mobil pemadam kebakaran. Jongin kira tadi kebakaran loh.
Tanpa sadar Jongin berhenti dan mendesis sambil memejamkan mata. Jika ini adalah jam istirahat itu artinya...
"Eh, itu anak siluman?!"
Tuh 'kan benar! Baru saja Jongin membatin.
"Sekolah kita pasti dikutuk!"
Sekarang perasaannya jadi tidak enak. Entah kenapa, ia mendapat firasat buruk secara tiba-tiba. Bukan, bukan semua umpatan itu. Tetapi seperti ada hal lain yang akan terjadi. Tapi apa? Jongin sama sekali bukan cenayang yang dapat meramal masa depan bahkan hanya 2 menit yang akan datang.
Jongin memilih mengabaikan perasaan itu dan mulai kembali melangkah menuju kelasnya yang sesungguhnya dia cari sedari tadi. Okey, Jongin itu buta arah asal kalian tahu. Dia tidak pintar membaca peta dan mata angin! Pantas saja tidak ketemu dimana letak 10-C. Payah!
Sambil sekekali merutuk tanpa suara, Jongin mengabaikan pandangan-pandangan itu. Suatu hal yang sudah biasa dan Jongin lebih memilih untuk menganggap bahwa hanya ada dirinya di sini dan menulikan telinganya dari semua kalimat-kalimat negatif itu. Jongin tidak akan terkejut. Dia akan terkejut jika ada diantara mereka yang menjulurkan tangan mengajak berkenalan tanpa memandang dirinya sebelah mata. Itu baru luar biasa! Tapi pada kenyataannya, hal luar biasa itu belum pernah terjadi. Belum ada yang bersedia menjabat tangannya dengan suka rela. Karena mereka berargumen bahwa jangan sentuh Jongin jika tidak ingin celaka.
Sebenarnya, dalam hati Jongin sedikit beranggapan bahwa mungkin argumen itu benar. Ya, karena beberapa tahun lalu Jongin mencelakai beberapa gadis yang tergabung dalam geng amatir sekolah sebelumnya. Jadi, Jongin juga menjaga jarak agar kejadian kelam itu tidak terulang. Dan Jongin tidak akan meluruskan argumen itu, karena pada kenyataannya ia pernah berbuat hal keji pada beberapa gadis dan membuat seseorang tertekan karena melihat dirinya.
Jongin jadi sedih mengingatnya.
"Aish!" Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya absurd. Tanpa sadar langkahnya kembali terhenti. Tahu-tahu ia sudah berada di tengah lapangan olahraga outdoor sekolah barunya. Sepertinya Jongin tidak main-main tentang tidak bisa membaca peta dan mata angin. Demi Tuhan! Dia berada di tengah sekumpulan orang yang sedang bermain basket! Dan menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian seluruh penjuru lapangan. Termasuk Lu Han yang menghentikan acara mendrible bola basketnya. Niatnya mau menyerang tim lawan jadi batal karena kehadiran Jongin yang sontak membuat segala aktivitas di lapangan terhenti.
"Hehe..." Jongin nyengir kikuk terkesan bodoh ketika pandangan mereka tidak segera beralih darinya.
"Dasar bodoh!" Lu Han mengumpat dalam hati sambil mengapit bola basketnya diantara satu tangan dan pinggulnya. Kemudian tersenyum kecut ketika kapten dari tim basket yang memiliki perawakan tinggi dan berwajah sedikit bule mengambil langkah maju saat Jongin membungkukkan badan meminta maaf dan hendak berbalik meninggalkan lapangan olahraga.
"Berhenti!" Kapten basket dengan panggilan Kris itu menginterupsi Jongin yang hendak berlari pergi. Nadanya terdengar dingin dan terkesan diktator. Membuat Jongin urung dan membalikkan tubuh menghadap Kris dengan tatapan tak mengerti.
"Y-ya?" Jongin berbicara dengan nada takut-takut ketika matanya bersinggungan langsung dengan tatapan menusuk. Terlihat marah dan tak suka. Tanpa dijelaskanpun Jongin tahu jika kapten tim basket -Jongin tahu itu dari deker kapten di lengan atas Kris- itu menginterupsinya karena telah mengganggu latihan basket mereka. Jongin merasa bersalah akan hal itu. Mari salahkan otak bodohnya yang dengan kurang ajarnya menuntun dia masuk kedalam sarang para alpha! Argh!
"Kau murid baru itu?" Kris bertanya dengan ekspresi remeh dan menjejek, "Wonshik mengatakan padaku bahwa kau adalah siluman. Seantero sekolah sudah tahu itu. Kau hebat juga ya, dihari pertamamu kau sudah mendapat banyak perhatian. Rupanya kau cukup populer,"
Mata Jongin membola mendengar sebuah nama meluncur mulus dari bibir Kris, "Kau kenal Ravi?" tanya Jongin terkejut.
Kris tertawa sangsi. Lantas ia menunjuk kebelakang tubuhnya dengan ibu jarinya tanpa mengalihkan pandangan dari Jongin. Kening Jongin mengerut, penasaran apa yang ditunjuk Kris dibalik bahunya Jongin lantas melongok. Ia terkejut mendapati seseorang yang dia kenal tengah berdiri di tepi lapangan dengan tubuh bergetar dan menunduk dalam meremat beberapa air mineral dalam pelukannya. Entah mengapa terbesit pikiran bahwa Ravi agak mengenaskan di kepala Jongin. Ravi terlihat seperti seorang pesuruh.
"Ah, rupanya dia sekolah disini juga," Jongin menggumam pelan.
Lu Han masih setia menikmati apa yang ada didepannya. Sama seperti anak-anak lain, dia enggan mencampuri masalah ini. Lebih memilih melihat apa yang akan terjadi selanjutnya diantara Kris dan Jongin. Hah... Suasana berubah tegang begini tetapi si anak baru itu justru terlihat tak paham situasi.
"Hei, bocah siluman! Aku jadi ingin membuktikan," Kris kembali bersuara, dengan masih mempertahankan keangkuhan di wajahnya.
Atensi Jongin kembali pada Kris, menatap sang kapten dengan binar polos yang membuat Lu Han menepuk jidatnya sendiri dalam imajinasi. Si anak baru itu benar-benar cari mati!
Tapi, Lu Han juga lumayan takjup dengan ketenangan yang dimiliki Jongin. Ia rasa Kim Jongin itu tipe orang yang gigih.
"Bagaimana jika aku melakukan sesuatu yang menarik sebagai hukumanmu karena telah mengganggu kami?" Usul Kris disertai seringaian yang mengerikan.
"Uh? Sesuatu seperti apa?" Tanya Jongin tidak mengerti, "Kau ingin aku berlutut meminta maaf padamu?" Ujarnya dengan ekspresi polos.
"Ya, itu terdengar bagus," Meski dalam imajiner kening Kris berkerut heran. Bagaimana anak itu dapat menebak isi kepalanya?
"Apa ini kesalahan besar sehingga aku harus memohon maaf padamu? Kurasa tidak. Jadi aku tidak mau," sekarang Jongin tahu firasat buruk apa yang tadi menggelayut, ternyata ini. Uh, semakin buruk saja hari pertamanya sekolah. Berurusan dengan Kapten club basket bukan sesuatu yang bagus. "Aku sudah meminta maaf tadi. Jadi aku akan pergi sekarang,"
Kris merasa direndahkan saat ini. Bagaimana bisa seorang anak baru berani menentangnya begini. Siswa seniorpun tidak berani menentangnya yang lumayan memiliki kekuasaan di sekolah ini. Jangankan para senior, para guru pun lebih memilih tutup mata dan telinga jika itu menyangkut Kris Wu. Mereka akan pura-pura tidak tahu apa-apa daripada harus berurusan dengan anak pemilik sekolah. Ugh... Bisa-bisa mereka menjadi pengangguran mendadak, karena keluarga Wu pasti bisa leluasa untuk memblokade setiap perusahaan agar tidak menerima lamaran kerja mereka. Resikonya terlalu besar. Jika semua resiko itu terjadi, itu sama saja dengan dikubur hidup-hidup. Jadi, berpura-puralah drama di lapangan olahraga itu tidak ada dan hanya halusinasi. Oke?
Atau kalau tidak, cukup tonton dan jangan ikut campur.
Jongin memutuskan untuk segera berbalik, entah mengapa ketika ia menelisik mata coklat Kris tadi ia seperti merasakan hal yang tidak enak. Ada suatu hal yang mengganggunya tapi ia tak tahu apa itu. Ada bisikan-bisikan yang menyarankan dia untuk segera pergi.
Namun, ketika ia baru mendapat kurang dari 7 langkah kedua lengannya diapit oleh dua orang dengan perawakan yang hampir sama dengan dirinya. Jongin melotot. Tidak perlu tahu apa alasan dia dicekal oleh dua anggota club basket ini, sudah pasti mereka bergerak otomatis untuk membantu Kris mencegah Jongin pergi. Yah, sungguh bagus si Kris itu. Hanya dengan tatapan saja para anak buah langsung mengerti apa maunya. Jongin merutuk dalam hati. Uh, dasar diktator!
Jongin dipaksa berlutut tepat di depan kaki pemuda berambut pirang itu. Gerakannya dikunci oleh dua orang yang sama. Jongin menatap Kris yang bekacak pinggang dengan angkuh. Ia dapat melihat kesombongan dimata itu. Rupanya Kris sudah tidak tertolong lagi, hatinya sudah gelap karena tertutup awan bernama keangkuhan. Jika ini diibaratkan kanker, mungkin Kris sudah stadium 4. Artinya, keangkuhan dan kesombongannya sudah mencapai tingkat akhir. Akan sulit menaklukkan hati yang sombong itu. Dalam imajinasi Jongin menggeleng sangsi. Dirinya terjebak dalam mulut singa. Tidak ada yang lebih bagus dari ini? Oh, tentu saja tidak ada! Hari-harinya kan memang selalu buruk selama 3 tahun ini.
Kris berjongkok, menatap manik biru Jongin dengan tajam. Dan untuk sesaat ia terdiam. Tanpa ekspresi ia tertegun dalam hati. Terpaku pada manik bening milik Jongin yang terasa menyedot atensinya. Mengundang ia untuk menatap lebih lama diantara debar yang menggelora tanpa ia minta. Ada sesuatu dibalik mata biru itu. Sesuatu yang nampaknya luar biasa. Seperti lautan dengan riak air yang menenangkan. Namun Kris tidak mau mengakui jika ia terpesona. Ia terlalu menjunjung derajatnya hingga tak mau jatuh hanya untuk sekedar memuji mata Jongin yang indah. Dan rupanya, keegoisan juga bersarang dalam dirinya.
"Mari buktikan jika kau memang siluman," Ucap Kris menarik diri dari indahnya mata biru itu. Ia segaja memecah hening yang semula berkeliaran menyelubunginya. Karena ia tidak mau jatuh dalam pesona seorang Kim Jongin, yang rupanya memiliki mata sebening embun. Ia membetengi diri agar tidak mudah goyah hanya karena hal aneh bernama pesona. Ia telah menanamkan prinsip bahwa seorang Kris Wu tidak akan pernah terpesona pada orang lain. Orang lain lah yang harus terpesona padanya. See? Kris Wu juga memiliki tingkat percaya diri yang juga tak tertolong.
Lu Han menghela nafas jengah, ia berjalan ke tepi lapangan menghampiri ponsel yang ia titipkan pada manager club. Tidak ada yang memperhatikannya karena mereka terlalu fokus pada Kris yang kini mencengkeram erat wajah Jongin. Gerakan Lu Han tidak ada artinya dibanding dengan pukulan yang Kris layangkan di wajah Jongin hingga tersungkur dan pelipisnya membentur lantai yang sangat keras seperti beton. Lu Han menelfon seseorang dengan ponselnya. Ia tidak perlu menunggu sapaan 'hallo' dari lawan bicaranya, karena memang orang yang dia hubungi itu tak pernah melakukan sapaan diawal pembicaraan. Kurang sopan memang, tapi Lu Han tidak peduli. Ia hanya tinggal bicara ketika terdengar nada yang menandakan bahwa orang yang ia hubungi sudah menerima telepon darinya.
"Cepat ke lapangan olahraga outdoor. Seseorang terluka, dan kau dibutuhkan dalam situasi seperti ini," Tidak perlu mendengar jawaban dari lawan bicaranya, karena menurut Lu Han itu tidak penting. Si Sehun itu pasti akan segera datang karena memang tugasnya untuk mengatasi para murid yang sakit. Dalam kasus Jongin ini juga termasuk pekerjaan Sehun. Wajah manis itu sudah babak belur, dan Sehun perlu mengobatinya. Maka dari itu Lu Han menghubunginya yang merupakan dokter jaga di sekolahnya.
Selain itu, Lu Han juga mempunyai maksud terselubung. Bukan semata-mata untuk Sehun menjalankan tugasnya dan menolong anak baru yang malang itu. Tapi ia ingin melihat bagaimana ekspresi Sehun ketika melihat wajah Jongin babak belur. Lu Han memprediksi ini akan menarik.
"Kukira kau benar-benar siluman seperti apa yang dikatakan Wonshik, ternyata kau hanya bocah lemah yang sama sekali tidak perlu ditakuti. Bodoh sekali orang-orang menganggapmu siluman, kau sama sekali tidak menyeramkan!"
Dalam hati Lu Han membenarkan apa yang Kris katakan. Bahkan dia menggumam bahwa Kris lah yang seharusnya mendapat predikat siluman itu. Semua yang ada pada Kris cocok kok disebut siluman. Melihat Jongin yang hanya terdiam, tak melawan sama sekali membuat Lu Han miris sendiri. Apa iya Jongin selemah apa yang Kris katakan? Hingga tak kuasa membela dirinya sendiri. Ah, bukankah ini tidak seperti lagaknya yang tadi terdengar seperti melawan Kris? Atau Kim Jongin ini keterlaluan polosnya hingga tidak sadar bahwa kata yang ia gunakan tadi justru memancing amarah sang penguasa sekolah. Hahh... Ini sih bukan polos, tapi bodoh!
Lu Han agak ngeri juga sekarang. Anak baru itu sudah mendapat memar dan luka yang cukup banyak di wajahnya. Bahkan pelipis dan sudut bibirnya sudah mengalirkan darah, tetapi bocah itu bahkan tidak merintih kesakitan ataupun meminta belas kasih. Ia hanya mengusap darahnya dengan jemari lentiknya, mengerjapkan matanya beberapa kali menatap darah yang menempel pada jemarinya. Lu Han berdecak dalam hati, ia mengakui bahwa Kim Jongin itu kuat. Kuat untuk menahan amarah. Jarang sekali manusia yang memiliki kesabaran lebih. Dan itulah kekuatan sesungguhnya.
Jongin mengedarkan pandangan keseluruh penjuru. Ada sesuatu yang terasa menohok batinnya. Pandangan orang-orang yang menyaksikan dirinya sama sekali bukan pandangan iba. Melainkan pandangan yang menyampaikan umpatan seperti 'rasakan itu!' atau 'kau pantas mendapatkannya!' atau 'mati saja sekalian di tangan Kris!'
Sebegitu bencinya mereka pada dirinya, hingga iba itu tak satupun ada diantara mereka. Jongin menguatkan dirinya dengan berpikir bahwa mungkin dikehidupan sebelumnya ia adalah orang yang sangat buruk. Sehingga Tuhan membalas perbuatannya dikehidupannya yang sekarang. Ia melapangkan hatinya dan tegar. Mungkin bagi Tuhan, ini adalah balasan yang setimpal.
Jongin melempar pandangan pada Ravi yang hanya berdiri mematung di tepi lapangan. Jongin tidak pernah marah pada si lidah licin itu, ia hanya kecewa pada Ravi yang dulu adalah teman baik kini berubah menjadi musuhnya. Tak ada yang bisa diharapkan, sekalipun ia meminta pertolongan tidak akan ada yang mau menolongnya bahkan termasuk Ravi. Mantan sunbae sekaligus temannya. Sedari kecil Jongin sudah didoktrin untuk mengandalkan diri sendiri oleh kakeknya, karena itulah Jongin akan menghadapi ini sendiri tanpa mengharap bantuan dari orang lain.
"Ayolah, ini sama sekali tidak menarik jika kau hanya pasrah. Setidaknya lawanlah aku agar aku terhibur. Aku jadi tidak tega menindas bocah lemah sepertimu," Kris berlagak dengan sombong. Meremehkan Jongin melalui seringai menjejeknya.
"Lalu kenapa tak kau cari saja lawan yang sebanding denganmu?" Jongin berujar tenang seraya bangkit dari posisi tersungkurnya. Ia berdiri dengan tidak seimbang karena sakit mendera tubuhnya, tapi ia tahu bahwa rasa sakit ini tidak akan lama. Ia menatap Kris dengan raut setenang air kolam. Nafasnya bahkan masih teratur. Artinya, ia baik-baik saja.
Perkataan Jongin semakin menyulut amarah Kris. Dalam kamusnya, apa yang dikatakan Jongin memiliki makna lain. Perkataan Jongin justru diartikan sebagai ejekan oleh Kris. Kris menganggap bahwa anak baru itu meremehkannya yang masih berusaha menang dari seorang yang lemah. Karena secara tidak langsung Jongin membalikkan definisi lemah itu kepadanya.
"Brengsek kau!" Kris melangkah cepat menuju Jongin dengan tangan terkepal. Amarah itu semakin berkobar dalam mata coklatnya. Dan Jongin melihat sekali lagi bagaimana amarah telah menguasai diri seseorang. Bagaimana amarah itu menginginkan ia lenyap dari muka bumi. Sama seperti amarah yang ia lihat 3 tahun lalu dalam diri Eunji. Yang merubah manusia menjadi monster yang sesungguhnya.
Jongin tidak ada niat melawan meski pukulan yang akan ia terima dari Kris berkekuatan penuh. Karena, jika sekali ia membalas itu berarti ia sama saja dengan Kris. Ia tidak ingin kalah oleh amarah sama seperti Kris. Ia akan menang dengan tanpa perlawanan meski dalam pandangan mereka ia telah kalah telak dan menganggap dirinya sangat bodoh serta lemah. Tapi dimata Tuhan, dirinya lah yang sesungguhnya menang.
Jongin menutup mata. Ia siap menerima pukulan Kris yang penuh energi. Tetapi, yang ia rasakan justru aneh. Tidak ada pukulan yang mendarat dipipinya atau dibagian tubuhnya yang lain. Justru yang ia rasakan adalah hembusan angin yang datang secara tiba-tiba. Jongin membuka mata dan menjerjap bingung ketika melihat Kris berekspresi tak terima dan menatap nyalang pada seseorang yang mencekal tangannya diudara. Sebuah lengan bebalut kain putih melindungi Jongin dari pukulan Kris. Tak dipungkiri Jongin mendesah lega dalam hati. Sekaligus bertanya-tanya siapa gerangan sosok yang menolongnya ini? Karena lelaki berambut hitam legam dan berbalut jas putih itu membelakanginya.
Jongin mengedarkan pandangannya melihat semua orang terkejut dan tegang. Kecuali seseorang berambut silver dengan bola basket yang diapitnya. Lelaki dengan paras rupawan itu justru tersenyum menatap seseorang berjubah putih itu. Jongin bertanya-tanya, dari mana penolongnya ini datang? Jongin tidak merasakan kehadirannya sama sekali. Apa Jongin terlalu fokus pada Kris ya?
"Apa-apaan kau ini?!" Kris membentak. Ia berusaha menarik pergelangan tangan yang sejak tadi dicekal oleh pria berjubah yang Jongin tebak sebagai petugas kesehatan siswa. Dokter jaga. Namun usaha Kris malah nampak sia-sia dimata Jongin. Karena bahkan dokter itu tidak bergeser sama sekali. Wah, kuat juga ya dokter ini.
"Aku tidak ingin kau menambah pekerjaanku dengan membuat anak ini semakin parah," Suaranya datar tetapi terdengar maskulin ditelinga Jongin. Sedikit berat dan berwibawa. Tanpa sadar Jongin memuji dalam hati.
"Itu sudah menjadi urusanmu, dasar dokter tidak berguna!"
Sehun sama sekali tidak peduli dengan hinaan Kris. Ia menghempas tangan Kris hingga murid tingkat 2 itu terjajar beberapa langkah kebelakang. "Pergilah. Jam olahraga sudah selesai," Sehun memerintahnya tanpa ekspresi. Yang hanya dibalas dengan decakan Kris. Tentu saja bocah binal itu kesal. Dan Jongin dapat melihat jika dimata Kris menyimpan dendam pada dokter ini.
Lu Han lantas membantu dengan membubarkan para penonton yang sedari tadi menikmati adegan penindasan ini. Ia melakukan gerakan mengusir ayam serta mendorong beberapa punggung siswa agar segera enyah dari muka bumi -eh maksudnya dari lapangan. Ketika sudah mulai sepi, ia menghampiri Sehun dan menyapanya, "Yo!" dengan satu tangan terangkat keatas. Mimik wajahnya benar-benar tanpa dosa. Bahkan ia membuang bola basketnya sembarangan.
"Tidak berguna," Singkat, padat, datar, dan menohok. Tapi Lu Han tidak peduli apa yang dikatakan Sehun. Ia hanya mengedikkan bahunya acuh. Lantas menatap Jongin yang nampak kebingungan dengan situasi ini. Ia memberi senyum terbaik pada Jongin dan itu sukses membuat Jongin kikuk.
"Kau tidak apa-apa, Jongin?" Tanya Lu Han ramah seraya mengamati Jongin. Memperhatikan separah apa luka-luka diwajah anak tan itu. Jongin menahan nafas seketika. Demi apa, siswa berambut silver ini terlalu dekat dengan wajahnya. "Wah..." Lu Han berdecak. "Kau nampak seperti zombie," Lanjutnya dengan ekspresi berpikir. Seperti seorang profesor yang berpikir keras.
Ah, benar. Mungkin memang kelihatan begitu ya? Hidup Jongin selama 3 tahun ini bisa dikatakan porak poranda. Dengan semua cacian itu, bahkan ia masih bertahan dan menulikan telinga. Tetap berjalan kedepan tanpa peduli semua itu. Seperti zombie yang terus berjalan maju. Iya kan? Selama 3 tahun ini Jongin merasa seperti dikubur hidup-hidup. Lalu menjadi mayat hidup yang kebas dengan semua perkatan buruk. Betapa ia sebenarnya mengkasihani diri sendiri yang memaksakan diri untuk acuh. Ucapan sunbae ini ada benarnya juga, dia seperti zombie.
"Jangan khawatir, Sehun akan mengobatimu," Ucap Lu Han dengan nada riang dan Jongin hanya mengangguk. Oh, jadi dokter yang menolongnya dari pukulan Kris ini namanya Sehun ya?
Ngomong-ngomong dirinya dan Dokter Sehun belum bertatap muka sedari tadi. Jongin jadi ingin melihat wajah Dokter Sehun yang ada di belakang Lu Han.
"Oh iya, namaku Lu Han. Aku tingkat 2," Lu Han tersenyum tampan. Jongin membalas senyum itu dengan kaku. Niatnya mau memperkenalkan diri, namun Lu Han sudah menyambar duluan. "Tidak perlu perkenalkan diri. Kau Kim Jongin, benar? Kau populer dihari pertamamu loh,"
Entah Lu Han ini mengejek atau apa, tapi Jongin merasa sedikit tersinggung.
Iya. Populer untuk dihina. Bagus!
Gerutunya dalam hati.
"Aku akan mengobati lukamu di ruang kesehatan," Sehun yang merasa diabaikan menggeser posisinya menjadi disamping Lu Han. Niatnya sih mau mengecek seberapa parah luka diwajah murid bernama Kim Jongin itu. Namun ketika mata mereka bertemu dan Sehun dapat melihat wajah Jongin sepenuhnya, Sehun malah terpaku. Tubuhnya mendadak kaku bersamaan dengan angin yang berhembus lebih kencang dari sebelumnya.
Kedua matanya melebar tanpa ia sadar. Detak jantungnya terpacu dan ia mendapati pikirannya blank seketika dengan tubuh yang serasa dipaku. Ia merasakan desiran getar yang menyusup dalam darahnya. Desiran yang entah bagaimana menjabarkannya, lidahnya kelu seperti terjepit sesuatu. Tenggorokannya tercekat. Dan ia terkejut hebat. Sesuatu seperti menusuk relung gelap dalam hatinya ketika mata biru itu mengerjap, tidak mengerti dengan keadaan Sehun yang tiba-tiba membisu. Dalam pantulan mata sejernih air laut itu, Sehun mendapati dirinya seperti terkubur hidup-hidup oleh sebuah kenyataan yang menghantam tanpa permisi dan ia hanya dapat berdiam diri. Dan seperti apa yang pagi tadi Lu Han katakan, Sehun serasa dikubur hidup-hidup ketika melihat Kim Jongin.
Wajah ini, mengapa... begitu mirip dengan...
"Arshi..."
Dan Jongin hanya mengerutkan dahi ketika Sehun menyebutkan sebuah nama asing yang sama sekali belum pernah dirinya dengar. Sehun menyebut nama itu dalam suara berbisik namun cukup jelas. Mengandung sebuah nada yang menyimpan frustasi. Dan ketika Jongin menyelami mata kelam Sehun, ia dapat melihat jika ada sebuah jiwa mati yang seperti hidup kembali. Ada sebuah rasa yang menyeruak dari sana, rasa bernama kerinduan. Dan Jongin merasa jika perasaan itu telah terpendam begitu lama dalam hati dokter itu. Tapi Jongin tidak mengerti bagaimana bisa perasaan itu dapat menyeruak sedemikian besar setelah mata hitam gagak itu bertemu dengan mata birunya. Pun ketika mata yang telah lama tertutup awan mendung itu menjatuhkan setitik air mata, hati Jongin terasa bergetar. Terasa sakit seperti tertancapi belati.
"Hiks..."
Hati Jongin mencelos melihat tangis Sehun dengan jarak sedekat ini. Entah darimana datangnya, tetapi jiwa Jongin bergetar. Hatinya terenyuh seolah juga merasakan kesedihan dibalik tangis Sehun. Perlahan tapi pasti, mata Jongin pun ikut berair. Setitik air mata menetes kecil.
Kini, yang Jongin lihat dalam mata itu adalah campuran berbagai emosi. Luka, patah hati, kesedihan, ketidakmengertian dan kerinduan bercampur menjadi satu dan membentuk air mata. Jongin merasa tubuhnya kedinginan secara mendadak ketika tangan Sehun menyentuh pipinya dengan amat hati-hati. Begitu dingin seperti tak ada nadi yang berdenyut. Mata Sehun seperti memperlihatkan bahwa sang empunya telah menahan kekosongan seorang diri. Kesepian ditengah hujan salju. Entah berapa lama Sehun menanggung kerinduan yang luar biasa itu, Jongin hanya dapat menyimpulkan bahwa itu sudah terlalu lama. Sehingga mata itu seperti mata mayat hidup. Tak ada pancaran, dan tak ada cahaya. Hanya redup.
Namun, apa yang Jongin lihat saat ini, ada setitik cahaya yang mulai muncul. Cahaya itu bernama harapan. Entah mengapa, Jongin sama sekali tidak menampik tangan dingin bergetar itu terus mengelus pipinya. Ada bisikan yang memintanya untuk menerima saja perlakuan Sehun. Mungkin Jongin terlalu pecaya diri karena ia berkesimpulan bahwa hal yang membuat dokter yang bahkan baru pertama ia temui ini berlaku demikian adalah karena dirinya. Jongin memang tidak tahu mengapa, tapi ia berpikir jika ia bergerak menolak sentuhan Sehun maka akan berakhir buruk. Jadi, ia memilih untuk diam dan membiarkannya. Ia merasa tidak tega untuk mematikan cahaya yang baru saja menyala kembali. Jongin tersesat dalam mata itu.
Yang ada dalam pandangan Sehun sekarang ini bukanlah Kim Jongin melainkan sesosok lelaki yang memiliki rambut berwarna putih tulang, panjang sepinggul dan diikat serampangan dengan jaring-jaring seperti bandana disisi kiri kepalanya, sepasang anting kecil berwarna perak menghiasi kedua telinga. Membuat ia terlihat seperti brandalan yang manis. Menatap Sehun dengan mata hitam yang menawan, memenjarakan Sehun dalam sebuah rasa familiar yang sempat terkubur dalam. Dan tersenyum ceria menyambut dia untuk segera mendekat.
Sehun mendapati dirinya terasa hangat ketika menyentuh pipi pemuda yang selama ini selalu bersemayam dalam hatinya. Ada sebuah bahagia tak terhingga dan rasa tak percaya mendapati sosok yang amat ia rindukan kini ada di depan matanya. Rasa rindu itu terlalu besar hingga tanpa sadar ia menangis.
"Aku sangat merindukanmu,"
Jongin sungguh terkejut ketika dokter yang masih asing baginya ini tiba-tiba memeluk tubuhnya dengan begitu erat hingga rasanya sesak. Dan ia kembali kebingungan dengan ucapan Sehun barusan.
Merindukan? Merindukan siapa? Dirinya? Tidak mungkin!
Jongin sangat yakin mereka belum pernah bertemu sama sekali. Tetapi Dokter Sehun bilang sangat merindukannya? Ouch! Kepala Jongin serasa pusing mendadak. Ada apa sebenarnya? Ia sama sekali tidak mengerti!
Lu Han bergeming. Ia hanya tidak menyangka jika reaksi Sehun bertemu dengan Jongin bisa sebegini menakjupkan. Sampai-sampai ia tidak mampu berkata-kata. Dan sepertinya, pertemuan mereka akan berujung baik.
Akhirnya kau menemukannya, Mocvant.
-dan tanpa sadar ia tersenyum haru. Ia terharu karena rupanya Sehun dapat berekspresi selain datar. Walau Sehun tidak bisa memisahkan antara rasa senang dan terkejut hingga malah jadi tangis, tapi itu masih lebih baik kok dimata Lu Han. Setidaknya Sehun akan kembali hidup setelah ini. Hanya butuh proses 'kan? Apakah Lu Han mendahului Tuhan jika ia menyimpulkan jika mereka akan bersama nantinya?
Hehe... I'm sorry My God. But I trust if you are prepare the best for a heart that seems buried alive. And you prepare how to heal that heart.
"Maafkan aku..." ucap Sehun dengan nada bergetar.
Jongin diam. Ia tidak mengerti mengapa dokter ini meminta maaf. Memangnya Sehun pernah berbuat salah padanya?
Sehun memeluknya dengan sangat erat. Seolah tak ingin kehilangan Jongin. Air matanya malah semakin deras mengalir. Jongin benar-benar tak paham situasi, tetapi ia tetap diam. Tidak berniat meronta sama sekali. Sehun masih terisak, wajahnya ia tenggelamkan pada bahu Jongin. Jongin benar-benar tidak mengerti, mendengar isakan Sehun, seperti ada yang menyayat jiwanya. Sehun terlihat begitu kesakitan dan terluka.
Terluka oleh takdir...
Tangan Jongin dengan perlahan membalas pelukan erat sang guru. Telapak tangannya menepuk-nepuk pelan punggung tegap Sehun. Bermaksud menenangkan. Entah perasaan aneh ini datang darimana, ia ingin sekali tangis Sehun berhenti.
"Jangan tinggalkan aku lagi..." kata Sehun.
Jujur, Jongin semakin tak mengerti. Jangan tinggalkan lagi? Maksudnya apa? Siapa yang meninggalkan Sehun?
"Jangan pergi lagi dariku, Arshi,"
DEG!
Jantung Jongin kembali berdenyut. Tepukan menenangkan peda punggung Sehun seketika berhenti. Tolong! Siapapun tolong jelaskan! Jongin benar-benar tidak mengerti. Siapa Arshi?
"D-dokter," Jongin bercicit pelan, ia merasa pelukan sang dokter kian erat hingga rasanya posokan udara dalam paru-parunya kosong. Jongin merasa sesak. Memecah fantasy Sehun mengenai seseorang yang mirip dengannya. Lu Han berjengit ketika mimik wajah Sehun berubah tak terbaca. Dan Lu Han tahu bahwa Sehun telah kembali dalam dunia yang nyata.
Sehun merasa jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat ketika sebuah suara menariknya paksa pada kenyataan. Dan ketika ia mendapati dirinya memeluk anak baru yang babak belur itu, rasa pahit itu kembali terasa dilidahnya.
Dan ketika bayangan orang yang amat ia rindukan itu berganti dengan wajah penuh lebam Jongin, Sehun kembali merasa...
Death call my name and it seems I've been buried alive...
.
.
Ren Choi HKS : aoyy... Hehe senang jg bisa comeback. Makasi ya udah nyambut hehe... Btw aku bales review kamu lewat PM yak :*
HidekoAyana : ini udah lanjut. Happy reading ya :D
ohkim9488 : ya ampun ternyata salah nyebut nama. Maafkan daku. Jadi malu ih '/\' chap 1 rilis nih. Gimana? Masih puitis gak? Ah, apa kamu masih antusias bacanya?
novisaputri09 : Oke novie :D
Kukirinzuki Chikominonoki : udah di next yak :D
cicimotLee : kamu mah yg di tungguin naena mele. Dasar rated m /? #plak wkwk
hkhs9488 : yahh dibaca atuh xD makasih udah nungguin saya #ketchup /?
cute : yeah! I'm back :D makasih udah mampir :*
ariska : iya ini remake. Hehe... Konsepnya masih sama. Tp mungkin lebih rumit yg ini daripada 9 Tailed. Makasih ya! :D
Kutipan berbahasa inggris diambil dari lirik lagu Avenged Sevenfold berjudul Buried Alive.
Note: ugh... Gak tahu deh mau bilang apa. Saya harap FF comeback ini banyak peminatnya.
