AFFECTION
Yuna Taiyou
Bleach - Tite Kubo
Pairing: just wait for the end of story and you will realize the pair
Enjoy reading minna san ^^
Aku berdiri dari dudukku mendapati sosok itu, dia ternyata benar Rukia yang kukenal. Cantik, berambut hitam pendek dan bermata violet yang ternyata memang mirip dengan ibuku.
Benarkah dia kakak kandungku? Kakak dari ibu yang sama tapi ayah yang berbeda?
Chapter 2
God Must Be Kidding
Masih kutatap sosoknya yang duduk didepanku. Ya Tuhan, dia memang mirip sekali dengan ibuku, Hisana. Seperti pinang dibelah dua. Dia terlihat sangat cantik dalam balutan gaun hitamnya. Ternyata dia memang lebih dewasa dariku, lihat saja dandanan minimalisnya itu, terlihat cantik sekali. Arghhh.. kugaruk kasar tengkukku.
"Ada apa Byakuya?"
Kulihat ibu yang mulai khawatir dengan keadaanku karena dari tadi aku tidak berkata sepatah kata pun. Kulirik Rukia, ah Rukia nee yang juga ikutan melihat kearahku. Dia tersenyum padaku.
Tapi aku kesal dengan senyuman itu. Sepertinya 'malam' itu hanya aku yang—
"Tidak apa-apa," kulanjutkan kegiatan memotong steak yang ada di depanku.
"Rukia nee sekarang kuliah dimana?" Toushiro memulai percakapan. Anak itu memang cepat sekali berbaur dengan orang baru.
"Aku tidak kuliah, tamat SMA langsung bekerja," ucapnya tersenyum ramah. Kulihat raut wajah sedih ibuku.
"Maafkan ibu tidak cepat menemukanmu Rukia, ibu benar-benar minta maaf," kulihat ibu sedang menggenggam tangan Rukia.
"Tidak apa apa bu, lagian selama 18 tahun ini aku dan ayah tidak tinggal di Tokyo, 2 tahun ini baru kami pindah karena aku dipindahtugaskan perusahaan tempat ku kerja,"
"Lagian aku cukup bahagia tinggal berdua dengan ayah dan bersyukur juga akhirnya dapat melihat keluarga baru ibu," ucapnya tersenyum tulus pada ibu, ayah, Toushiro, dan aku.
"Ne Rukia, apa kamu sudah punya pacar?" tanya ayahku. Aku tahu maksudnya untuk memecah keheningan antara kami, tapi aku kurang suka mendengarnya. Atau lebih tepatnya belum siap mendengarnya.
"Hm.. saat ini belum punya,"
Hufthh.. syukurlah, aku tersenyum bahagia sambil meneguk minuman di depanku.
"Kenapa kamu terlihat bahagia Byakuya?
Uhuk. Dengan tidak indahnya aku tersedak minumanku. Damn.
"Ya iyalah bu, onii san kan punya pacar cantik banget, makanya dia mendengus begitu," Toushiro malah menyulut api.
"Aku sudah putus dengannya," jawabku kelabakan.
"Huh, dasar playboy—"
"Toushiro—" kupegang tengkuknya dengan kuat lalu menekannya ke bawah. Ayah pun berusaha meleraiku.
"Sudah, sudah. Maaf ya Rukia dua adik laki-lakimu ini memang sering bertengkar begini."
"Tidak apa-apa, aku senang ramai begini kok bu," kulihat Rukia melirik penuh arti padaku. Lalu mengambil gelas minuman disebelahnya sambil mendengus. I see that face and what is that mean?
"Ne Rukia, bagaimana kalau kukenalkan pada anak lelaki kolegaku?"
"Ah, anaknya Gin Ichimaru san ya Yah? Ya ya, cocok juga dengan Rukia."
Uhuk. Aku tersedak dengan nista untuk kedua kalinya.
"Ibu Ayah ini kan baru pertemuan awal dengan Rukia, kenapa sudah merencanakan perjodohan sih?" agak gelagapan juga kuucapkan pendapatku.
"Byakuya, kamu tidak sopan sekali sih. Rukia kakakmu, masa kamu cuma manggil namanya saja? Lagian tidak apa cepat-cepat. Ibu mau menimang anak kecil lagi," dan ibuku terlihat bahagia sekali dengan ucapan terakhirnya itu. Sial.
"Maaf ya Rukia, maksudku bukan ingin memaksa. Coba saja dulu kenalan dengannya. Namanya Sousuke Ichimaru. Dia seorang dokter, mana tahu jodoh," Ayahku menambahkan lagi. Kedua orang tuaku memang berambisi sekali. Lihat saja seringaian aneh mereka.
"Aku rasa Gin jii akan suka dengan ide ini. Karena dia kan memang terobsesi dengan wajah ibu," Toushiro pun ikut-ikutan menambahkan. Tidak adakah yang mau membelaku?
"Baiklah, bisa kupertimbangkan,"
Bagus. Kutatap Rukia yang mengatakan persetujuan itu. Dia terlihat bahagia. Ternyata memang hanya aku yang menganggap 'malam' itu spesial. Damn, I just wanna go away right now.
"Mau kemana Byakuya?"
"Toilet," kujawab pertanyaan Ayah sambil berlalu meninggalkan meja makan itu.
Sial, sial. Ini benar-benar bukan aku. Sosok yang kutatap di depan cermin ini sama sekali bukan aku selama ini. Dari awal bertemu sampai sekarang memang dia yang bisa membuatku berekspresi macam-macam. Kusisir rambut pendekku dengan tangan kiriku. Lalu melangkah gontai keluar toilet.
"Hei cowboy, you've been so long in there. Jangan buat keluargamu khawatir dong,"
Aku terkejut melihat Rukia sudah berdiri di seberang pintu toilet pria. Dia melipat tangan di depan dadanya, menandakan kekesalannya menungguku keluar dari toilet. Kutatap lagi dia dari ujung kaki sampai kepala. Dia memang sangat cantik—
"Kenapa diam saja?" Dia memandangku sambil menurunkan tangannya. Aku tahu kamu bersikap seperti ini karena kejadian hari kita bertemu itu kan?"
Diam. Aku hanya memilih itu sebagai jawaban.
"Aha— aku tahu alasanmu mendadak ingin pergi jauh itu. Karena putus dari pacarmu kan?" Dia melangkah mendekatiku dan aku masih saja diam—
"Aku sudah melupakan apa yang terjadi di malam itu. Yah, anggap saja karena kamu sedang sedih ditinggal pacarmu, aku maklum saja. Jadi jangan bersikap seperti ini—"
Dia semakin dekat denganku sehingga aroma parfumnya dapat tertangkap oleh penciumanku. Ah— wangi yang manis.
"Karena kita adalah keluarga," dia menempelkan tangannya di dadaku mengelusnya lembut.
Kugenggam kasar tangan itu sebelum dia menyadari detak jantungku yang semakin cepat.
"Aku bukan orang dewasa sepertimu yang dapat bersikap tenang dengan apa yang telah terjadi,"
"Aku tak pernah menganggap ciuman itu sebagai pelampiasan karena sedih putus dari pacarku. Jadi jangan sok berspekulasi. Kau bukan orang yang bisa mengerti perasaan orang lain hanya karena melihat atau menyentuh. Jadi jangan coba menebak sembarangan bagaimana perasaanku, Nee san."
Aku pergi melangkah meninggalkannya. Damn, it's so hurt.
…
"Kamu yakin tidak mau tinggal bersama kami Rukia?"
"Maafkan aku bu, aku tidak mau meninggalkan ayah sendirian. Dia sudah tua, susah juga kalau terjadi sesuatu dengannya nanti."
"Walaupun begitu, sering sering lah ke rumah ya Rukia,"
"Baiklah Ojii san"
"Kalau begitu aku pulang dulu, besok aku harus bekerja pagi-pagi sekali,"
"Oya, kenapa tidak pindah saja ke perusahan kami Rukia? Di sana kamu bisa mendapatkan gaji yang besar daripada tempatmu bekerja sekarang."
"Arigatou Ojii san, tapi aku sudah lama bekerja di sana. Pemiliknya sudah banyak membantuku dan ayah selama ini. Aku jadi malas untuk pindah,"
"Sayang sekali ya,"
"Apa masih lama berbincangnya? Aku mau pulang, ngantuk!"
"Byakuya!"
"Tidak apa-apa bu, terima kasih atas pertemuan ini bu, ojii san. Aku senang dapat bertemu dengan dua saudara laki-lakiku,"
Dia berusaha tersenyum padaku. Tapi aku lebih memilih mengelakkan mataku darinya. I hate her.
Akhirnya dia pergi juga mengendarai taksi. Setibanya di rumah aku diomeli oleh ibu, tapi tidak kutanggapi dan malah berlalu ke lantai dua tempat kamarku, Toushiro, dan kamar Rukia yang dibuat oleh ibu dari awal rumah ini dibuat. Kupandangi pintu kamarnya. Kamar dengan warna violet karena ibu bilang warna mata anak perempuannya yang hilang berwarna violet.
"Tak kusangka reaksimu dari awal bertemu dengan Rukia nee akan seperti itu Onii san,"
Kutatap Toushiro yang berada di depan pintu kamarnya yang berada diantara kamarku dan kamar Rukia.
"Bukannya kamu yang paling tak sabaran ingin bertemu dengan anak gadis ibu?"
"Apa terjadi sesuatu dengan kalian Onii san?"
"Bukan urusanmu," kuusahakan untuk mengabaikan pertanyaannya lalu membuka pintu kamarku.
"Lagian aku benci padanya,"
"Benci itu beda tipis dengan cinta loh Onii san,"
Kutatap dia dengan garang karena sedang memandangku dengan senyuman meremehkannya. Kubanting keras pintu kamarku lalu merebahkan diri di tempat tidur. Sial, seringaiannya itu mengingatkanku dengan Rukia. Yah, namanya juga satu ibu. Jadi tak heran kalau cara Toushiro mengejekku itu mirip dengan Rukia.
Rukia dan Rukia lagi. Aku malas mengingatnya.
hah— Benar Toushiro I love her, but I can't reach her.
Bukan hanya karena dia lebih dewasa dariku, tapi kenyataan bahwa dia kakak perempuanku.
TBC
^_^ Yuna mau senyum innocent dulu ya.
Digeplak reader karena beraninya meninggalkan fic ini begitu saja.
Gomme ne minna san.
Bukan maksud Yuna untuk meninggalkannya, walaupun sebenarnya Yuna pun bingung mau buat apa untuk lanjutan chap 1 nya. Karena jujur Yuna Cuma dapat ide buat awal ma akhirnya. Semuanya berawal karena Yuna lagi berkhayal gimana ya kalau Yuna pergi jalan-jalan sendiri gitu dan ketemu orang yang sama-sama menyukai ketenangan gitu. Saling mengerti walau Cuma diam (ga ada kalii -_-)
Ehem, kata orang kita bisa mengetahui gimana sifat dari penulis cerita dari ceritanya, ada yang berminat menebak bagaimana sifat Yuna ya? Hehe
Karena Yuna pun kurang mengerti o_O
Sebenarnya akhir akhir ini Yuna kurang sreg dengan fandom ini
Bukan hanya karena cerita Bleach itu sendiri yang bikin Yuna gregetan, tapi banyak hal yang membuat Yuna jarang melirik lagi. Pernah berniat untuk menghapus fic ini, biar ga nyampah dan bikin kecewa reader karena ga dilanjutin, tapi semua niat nista itu diurungkan. Yuna usahain yah, disela-sela persiapan ujian kompre ini. Hehehe
Spesial thanx buat .anda, corvusraven, Hanya himbauan, Aii Sakuraii, Nakamura Chiaki, Plovercrest, amexki chan, ayaaa, sora-donald-goofy, Jean Sakuragi, BlueOrchid13, dhiya chan, chariot330, Jubeichanssie, Keiko Eni Naomi, dan silent reader.
Hontou ni Arigatou Gozaimatsu minna san
