AFFECTION
Yuna Taiyou
Bleach - Tite Kubo
Enjoy reading minna san ^^
Rukia dan Rukia lagi. Aku malas mengingatnya.
hah— Benar I love her, but I can't reach her.
Bukan hanya karena dia lebih dewasa dariku, tapi kenyataan bahwa dia kakak perempuanku.
Chapter 3
she is so cute
Kalau ku ingat-ingat sudah lama aku tidak melihat Rukia lagi semenjak pertemuan akhir kami di malam itu. Tapi entah permainan apa yang Kami sama rancang untukku, sekarang Rukia sedang berdiri dengan tenang memakai apron dan asyik berkecimpung dengan bahan masakannya di dapur rumahku. Aku hanya cengo melihat dia dengan tenang melanjutkan kegiatannya setelah menoleh sebentar padaku yang baru pulang sekolah. Kulihat Toushiro dengan santai menyantapi snacknya sambil menonton film kartun yang sama untuk kesekian kalinya. Dasar anak itu—
"Kenapa berdiri saja Byakuya? Cepat ganti bajumu sana. Jangan terkejut kalau Ojii san dan ibu menyuruhku untuk mengurusmu dan Toushiro."
Benar. Aku malah terkejut, kenapa tak ada yang memberi tahuku? Kedua orang tuaku malah pergi dengan alasan honeymoon untuk kesekian kalinya. Kukira kami akan ditinggal dengan pelayan saja. Ternyata— pasti ini ulah ibu.
Aku berjalan pasrah kekamarku. Kulihat kamar Rukia yang terbuka. Kulihat di sana terletak sebuah koper yang masih tertutup. Dia tidak bercandakan? Benarkah dia akan menginap di sini demi mengurus kami?
Aku menuruni tangga menuju ruang keluarga yang berdekatan dengan dapur. Aku bisa mendengar tawa Toushiro dan Rukia membaur satu sama lain. Sepertinya adegan lucu film itu mulai muncul, karena Toushiro selalu cekikikan ketika adegan itu. Sampai-sampai aku hapal bagaimana dialog dan jalan ceritanya tanpa harus menontonnya.
"Ah Byakuya, kamu suka capuccino?"
"Hm, ya," aku duduk di sebelah Toushiro lalu mengambil bantal kursi disebelahku lalu menyumpal mulutnya yang masih saja cekikikan. Adikku itu memilih diam dan mengerucutkan bibirnya setiap kali aku memperlakukannya begitu.
"Byakuya, A—"
Sontak aku langsung membuka mulut sesuai dengan perintah Rukia. Dia menyendokkan adonan ke dalam mulutku.
"Gimana?" tanyanya. "Apa terlalu manis?"
"Ya —" Maksudku itu, caramu yang terlalu manis.
"Benarkah? Padahal kukira manisnya sudah pas," ucapnya lalu menjilati sisa adonan yang masih ada di sendok itu.
Astaga— itu membuatku memerah. Itu kan sama saja dengan ciuman tidak langsung!
"Tidak usah diberi gula Rukia nee, berikan saja adonan pahit padanya. Dia mana tahan dengan sesuatu yang manis."
"Eh? Benarkah?"
Kutatap Rukia yang kebingungan dengan ucapan Toushiro. Kuberikan death glare gratis pada adik terisengku yang malah sibuk memakan snack lalu menonton kembali.
"Bukan. Aku suka dengan manis kok. Ano, sebenarnya yang tadi manisnya sudah pas kok," ucapku gelagapan.
"Benarkah?"
"Iya benar, yang tadi saja. Sudah pas kok."
"Baiklah," dia tersenyum manis padaku lalu melanjutkan kegiatan memasaknya. Sepertinya dia sedang membuat sebuah kue.
Aku menghadap ke televisi sambil menghela nafas. Tanpa kusadari Toushiro sedang memandang penuh ejekan padaku.
"Kau benar benar sakit Onii san. Berat sekali ya rasanya berada dekat dengan Rukia nee?"
"Apa maksudmu?"
"Onii san pasti tahu maksudku. Ayah dan ibu kalau sudah honeymoon pasti butuh waktu lama baru akan pulang, sekitar seminggu lah. Jadi persiapkan jantungmu selama itu Onii san."
Kerlingan nakal Toushiro membuatku tersudut dengan ucapannya. Sialan anak ini.
"Aku akan tidur malam ini dengan Rukia nee,"
"Apa?!" pertanyaanku lebih menjurus ke arah bentakan.
"Tidak hanya malam ini, malam berikutnya pun. Bagaimana denganmu Onii san? Kau boleh ikut bergabung kok,"
"Tentu saja tidak, dasar bodoh. Aku bukan cowok mesum sepertimu."
"Loh kok mesum, biasa saja kan kalau aku mau tidur dengan kakak perempuanku?"
"Atau karena Onii san memandang Rukia nee berbeda?"
Nonsense. Tapi perkataaan Toushiro tepat memukulku secara telak. Adikku ini memang orang yang berbahaya. Dia seakan akan bisa melihat hati orang hanya dengan melihatnya saja. Damn.
"Tenang saja Onii san, aku mendukungmu kok. Mana tahu Rukia nee dan Onii san ternyata berbeda ibu? Misalnya saja Onii san anak dari istri ayah dahulu sebelum menikah dengan ibu?"
Aku terkesiap dengan pendapat yang dilontarkan Toushiro tadi, kenapa anak ini bisa berpikiran begitu?
"Kau kebanyakan spekulasi, kau pikir dunia ini seperti sinetron?" Aku mencoba untuk berusaha tenang.
"Halah Onii san. Sebenarnya kau juga berharap begitu kan?"
"Toushiro kau ini—" Adikku ini memang hobi sekali meledek ataupun menggodaku. But deep in my heart, I hope so—.
######
"Byakuya—, kenapa belum tidur?"
Kutatap suara lembut yang menyapa pendengaranku itu. Dia, Rukia mengenakan piyama yang memiliki hoodie dengan telinga kelinci dan dengan imutnya berdiri di tangga.
Satu detik..
Dua detik..
Tiga detik..
Damn, she's so cute— and it makes my nose wanna bleed.
"Oi, onii san, ditanya malah bengong. Onii san mau tidur dengan kami atau tidak?"
Twitch. Seorang Toushiro dengan seringaian nakalnya memandang rendah padaku. Sialnya lagi dia malah menyenderkan kepalanya disamping kepala Rukia yang masih setia berdiri, menanti jawabanku sepertinya —.
"Kenapa kau memakai piyama itu?" kutunjuk piyama bewarna hitam dengan pola putih melingkar ditengahnya.
"Kenapa? Bukannya piyama panda ini bagus?" tanya Toushiro balik sambil meletakkan hoodie dengan gambar kepala panda menutupi rambut putihnya.
"Ya kan nee san?"
"Kawai—"
Sukses— usaha Toushiro yang berusaha memanasiku dengan cara mengenaskan— ehem, okay I admit it with a cute way maybe — a little. Kulihat Rukia masih tidak mau lepas dari pelukan eratnya pada Toushiro.
"Kenapa Byakuya?" tanya Rukia heran karena dengan nafas ngos-ngosan aku berusaha melepaskan pelukan meraka.
"Kenapa harus berlari segala sih? Me-ma-lu-kan"
Twitch—twitch. Oke, hari ini Toushiro sepertinya benar-benar ingin melihatku murka. I will show you the devil inside of me.
"Byakuya—pakai piyama ini dan mari kita tidur bersama—"
Aku melongo melihat Rukia menyodorkan sebuah piyama dengan motif macan tutul padaku. There is no way I will wear it.
"Ayoolah Byakuya— aku sangat merindukan saat-saat pesta piyama dengan saudaraku suatu saat nanti. Makanya aku belikan piyama ini untukmu dan Toushiro."
"Ya-ya—" Rukia tetap bersikukuh menyuruhku memakai pakaian memalukan ini dengan ekspresi yang sama sekali tidak bisa kutolak. Too damn cute—
"Ayolah onii san, kau tidak mungkin menolak permintaan Rukia nee yang imut ini kan?" Toushiro menambahkan keinginan Rukia sambil menyenderkan kepalanya, lagi— disertai lingkaran tangan kirinya yang bertengger di pinggang Rukia yang memang setinggi dengannya.
"Oke—oke, aku akan pakai." Ucapku lembut, berbeda dengan kekuatanku memisahkan tangan adikku dan kepalanya menjauhi Rukia, agak kasar—.
######
"Ehem— bagaimana?" aku tak bisa menyembunyikan semburat merah dipipiku, karena malu mamakai pakaian terkutuk ini. Piyama ini ternyata tidak bisa dibedakan mana baju dan celananya, mereka jadi satu—setali. Aku merasa seperti seorang bayi yang dipakaikan sebuah baju monyet oleh ibunya.
Kulihat Rukia memandangku diam. Lalu kenapa dengan ekspresinya itu? Sejelek itukah aku sampai-sampa dia tidak bersuara sama sekali. Dia pun mendekat kearahku dan aku masih setia berdiri di depan pintu kamarku.
"Coba pakai hoodie nya."
Aku hanya menuruti perintahnya lalu dia menyuruhku mensejajarkan wajah kami.
"Kawai—" dia memegang pipiku lembut dengan kedua tangannya dan sambil tersenyum lembut dia memeluk erat leherku. Oh God, I will not forget this moment— walaupun dia memelukku hanya karena aku adalah adiknya.
Aku tidak bisa mengartikan bagaimana perasaanku saat ini. Senangkah? Sedihkah? I can't understand it. Tapi tak lama kemudian, Toushiro mengganggu dengan berusaha memeluk Rukia dari belakang.
"Jangan Peluk oniisan saja Rukia nee—" rengek adikku ini. Oke — iramanya terkesan dibuat-buat.
Aku hanya diam dan melepaskan secara kasar tangan Toushiro yang melingkar di pinggang Rukia. Lalu kuluruskan tubuhku yang tadi membungkuk sambil memutar arah membelakangi Toushiro. Ulahku ini menyebabkan tubuh Rukia sontak terangkat karena tubuhnya lebih pendek dariku. Sadar kalau kaki Rukia tidak dapat menapaki lantai, kupeluk erat tubuh mungilnya agar dia tidak terjatuh.
Kupandangi wajah terkejutnya yang tepat berada di depan wajahku. Cukup lama aku memandanginya baru setelah itu aku mendaratkannya untuk berdiri dengan kedua kakinya. Kutatap dia masih saja termenung, aku pun angkat bicara—
"Jangan dekat dekat dengan bocah tengik ini." Ucapku sambil memegangi tengkuk Toushiro.
"Apa?"
"Tampangnya boleh imut, tapi pikirannya lebih dewasa dari kita," kulanjutkan peringatanku tanpa menghiraukan Toushiro yang terus-terusan memberontak.
"Kau juga tidak bisa dipercaya— dia tidak bisa dipercaya Rukia nee, tampangnya boleh tenang begini, tapi pikirannya— so wild."
Rukia terlihat tertawa dengan pertengkaran kecil kami. Dia pun merangkul tangan kananku dan merangkul tangan kiri Toushiro dengan kedua tangannya. Sambil berjalan di antara kami, dia mengucapkan sesuatu yang dapat membuatku dan adikku terdiam.
"Berati kita memang bersaudara, karena aku juga suka memikirkan hal-hal liar dan membangkitkan gairah begitu, hahaha—"
Aku dan Toushiro saling berpandangan, heran—. Tapi tak lama setelah itu kami tertawa kecil lalu membalas rangkulan tangannya dimasing-masing tangan kami.
Kami sama— jika memang menjadi saudara adalah jawaban terbaikmu atas doaku selama ini, aku akan berusaha menghapus rasa cinta ini yang bukannya semakin pudar tapi semakin mendalam pada kakakku sendiri, Rukia—
I will try let it flow and follow your way—
TBC
hi minna san :)
arigatou bagi yg sudah sabar menanti fic ini di update ya..
untuk update berikutnya, Yuna usahakan yah :))
benar-benar mohon maaf bagi yg terkecewakan karena fic ini, baik karena cerita yg ga bagus atau karena update nya yg hrus menunggu terlalu lama. Bukan maksud hati Yuna, tapi karena kesibukan di dunia nyata membuat Yuna harus menangguhkan mengupdate fic dan membuat para reviewer dan silent reader menunggu dengan tidak pasti.
gommenasai T_T
akhir kata, selamat membaca kepada para penyuka fic ini, yg setia menantikan, dan yg sudah lupa dengan alur cerita fic ini. Atau bahkan yang baru membaca.. :)
and don't forget to review. Your reviews are some electric shoc for me, the-he-he.
