Chapter2 update. Terimakasih untuk review-nya. Doumo arigatou minna... ^^
Saya coba panjangkan ceritanya, tapi cuma tambah sedikit. Gomen ne. Maaf jika masih pendek.
.
.
Warning : AU, OOC, miss typo, alur berantakan, pasaran, etc
Genre : Friendship/ Romance
Rate : T
Pairing : SasuSaku
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
You All Special for Me © Sky no Raven
.
.
.
-You All Special for Me-
.
Waktu sekolah belum selesai. Terlihat dari siswa-siswi yang masih setia berada di dalam kelas. Ada yang sedang mengikuti pelajaran yang berlangsung. Tetapi berbeda dengan salah satu kelas, kelas dimana Sakura berada. Tampak para penunggu kelas itu sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Baru saja diberitahukan bahwa guru mapel jam tersebut ada keperluan mendadak, akhirnya meninggalkan kelasnya tanpa sempat memberikan tugas. Jadi seperti itulah yang terjadi.
"Jadi. Ceritakan padaku!" Ino menatap Sakura dengan sangat serius. Sekarang mereka sedang duduk di bangku kelas. Setidaknya jam pelajaran kali ini kosong.
"Hah." Helaan napas keluar dari mulutnya. "Baiklah. Jadi sebenarnya tadi itu..." Sakura menceritakan kronologis insiden di kantin. Ino mendegarkan dengan seksama.
"APA..!"
"I-Ino-chan kecilkan suaramu." Ucap Hinata saat melihat keadaan sekitar. Ya, semua siswa di kelas itu menoleh ke sumbernya, apa lagi kalau bukan karena suara keras dan cempreng milik gadis Yamanaka.
"Oh. Hehehe. Maaf semuanya." Ino hanya bisa nyengir meminta maaf pada penghuni kelas. Dan kini kembali memandang Sakura dengan tatapan tak percaya.
"Kau tahu Sakura. Kau gadis yang beruntung."
"Apa maksudmu dengan itu." Sakura terlihat bingung dengan pernyataan Ino.
"Memangnya kau tak tahu tadi sedang berhadapan dengan siapa?" Tanya Ino yang dijawab oleh gelengan dan tampang innocent milik Sakura. Seketika Ino menepuk jidatnya. "Aku baru ingat, kau murid baru hari ini." Ino merasa konyol dengan pertanyaannya.
"Argh! Lupakan yang tadi! Kuberitahu ya Sakura. Yang tadi kau tabrak di kantin itu Sasuke Uchiha. Siswa paling dingin, eh, maksudku kedua yang dingin di sekolah ini. Jika ada orang yang membuatnya marah, itu seperti pertanda buruk membangunkan serigala liar. Kau tahu, saat serigala tak bisa mengendalikan emosinya, pertama yang ada di depan akan diserang tanpa kecuali. Kau mengerti?"
"Bisakah kau menerangkannya dengan bahasa yang jelas?" Tampang innocent Sakura benar-benar ingin dijadikan sasaran Ino. Kedutan di dahi Ino muncul tanpa diperintah.
"Kuperjelas. Sasuke Uchiha. Orang yang membuatnya marah akan mendapat balasan darinya saat itu juga, tak peduli laki-laki atau perempuan. Sedangkan kau tadi hanya didiamkan begitu saja. Benar-benar momen langka."
"Begitu kah?" Tatap Sakura tak percaya.
"Tentu saja. Dan fakta lain, dia merupakan salah satu siswa paling diincar di sekolah ini. Dia memang tampan, sayang, orangnya dingin apalagi pada anak perempuan."
"Ka-kau me-menyukainya Ino-chan?" Tanya Hinata yang sejak tadi hanya mendengarkan percakapan kedua sahabatnya.
"Ti-tidak. Ten-tentu saja tidak Hinata, kau sudah tahu kan. Ma-mana mungkin aku menyukai orang yang dingin." Kilah Ino, tapi terlihat semburat di pipinya.
"Ah, sudahlah! Oke. Hutang pertamamu lunas. Sekarang cepat bayar yang kedua."
"Eh? Yang kedua? Apa maksudmu Ino?" Sakura melihat Ino dengan alis berkerut. Yang ia tahu hanyalah Ino yang minta penjelasan soal insiden tadi.
"Yang pertama, soal yang di kantin, kau sudah memberitahuku. Dan sekarang yang kedua..." Tampak Ino menghela napas sesaat. "Kau kenal dengan Gaara? Apa hubunganmu dengannya?"
"Ya. Dia... Sahabatku, kami telah bersahabat sejak kecil. Setidaknya sampai kami berpisah saat berumur tiga belas tahun." Senyum kecil mengembang di wajah Sakura.
"What? Aku bahkan tak bisa membayangkan. Sabaku no Gaara adalah siswa paling dingin di sekolah, melebihi Sasuke Uchiha, apalagi dia sangat tertutup, tapi dia juga salah satu incaran di sekolah. Dan tadi aku lihat..." Ino kembali mengingat saat Gaara berbicara dengan Sakura, dengan senyum tipisnya kemudian pergi. Ino hanya bisa melongo dengan apa yang sudah terjadi.
"Begitu kah?" Tanya Sakura memastikan dengan tampang innocent.
Sungguh, Ino ingin melemparkan pot ke kepalanya. 'Eh, tidak.' Setidaknya itu pemikiran Ino. 'Kumohon siapapun, lempar aku dengan uang.' Batin Ino dalam hati. Naas sekali.
.
-You All Special for Me-
.
Bel pulang telah berdering sejak tadi. Hampir sebagian siswa sudah meninggalkan sekolah mereka. Sedangkan Sakura baru saja keluar dari ruang guru, tepatnya mengurus sedikit berkas kepindahannya.
Melangkahkan kaki dan berjalan di koridor sekolah seorang diri. Sekolah tampak sepi. Ia masih ingat dengan ucapan Gaara. Segera saja ia menuju belokan kedua sebelum jalan menuju halaman depan sekolah, tapi sesuatu menghentikan langkahnya. Tampak di depannya siswa yang tadi dibicarakan oleh Ino. Seorang siswa bermata onyx, berambut raven yang mencuat kebelakang. Ia mengenakan kaos olahraga, Sakura pikir ia menggantinya karena seragamnya telah kotor akibat insiden tadi. Berjalan dengan tatapan dingin, benar-benar tak peduli dengan sekitar. Sakura yang tahu akan hal itu hanya bisa diam di tempat dengan menundukkan kepala. Siswa itu terus berjalan, sampai posisinya sejajar dengan Sakura, kemudian melewatinya. Sebelum...
"Maaf." Merasa tak ada tanggapan dari lawannya.
"Maaf untuk yang tadi Uchiha-san!" Ucap Sakura agak keras sambil membalikkan tubuh menghadap siswa yang memunggunginya, berharap yang dimaksud memberikan respon. Usahanya tak sia-sia, Sasuke menghentikan langkahnya, tapi tak menoleh sedikit pun.
"Maaf, sudah membuat seragammu kotor." Sakura menghentikan kalimatnya sejenak. "Apa kau memaafkanku?" Tetap tidak ada respon, Sasuke tetap diam di tempatnya. Dengan tegas Sakura berjalan ke arah Sasuke, menghadap kearahnya lalu membungkuk.
"Memang semua salahku. Maaf sudah membuatmu marah Uchiha-san. Setidaknya aku mohon... Tolong terima ucapan maafku ini." Sakura masih membungkukkan badannya sembilan puluh derajat. Ia benar-benar merasa bersalah. Tetap mempertahankan posisinya, dan menunggu jawaban Sasuke.
"Kau membuang waktuku." Satu kalimat dingin keluar dari mulut Uchiha itu. Tanpa menunggu, ia melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Sakura yang mematung.
"Jawab." Ucap Sakura lemah, tapi masih bisa didengar oleh indera pendengar Sasuke. "Kau hanya tinggal jawab permintaan maafku Uchiha-san." Ucap Sakura kembali tegas.
"Apa peduliku." Satu kalimat dingin sekali lagi keluar. Dan kini Sasuke benar-benar meninggalkan Sakura. Tampak Sakura memandang tak percaya. Bisa-bisanya, hanya karena masalah kecil, seorang Sasuke Uchiha sampai tak menjawab bahkan tak mempedulikan permintaan maafnya.
.
-You All Special for Me-
.
Setelah Sakura meminta maaf pada Gaara atas keterlambatannya dan telah membuat sahabatnya itu menunggu, akhirnya keduanya pun pergi meninggalkan sekolah. Udara sore itu sejuk. Tidak panas seperti siang tadi. Berjalan kaki pun terasa ringan oleh keduanya. Dalam perjalanan mereka tampak berbincang akrab. Tentu saja, bagaimana tidak, mereka sudah bersahabat sejak kecil, setidaknya sebelum perpisahan empat tahun lalu.
"Kau kenapa?" Tanya Gaara pada Sakura. Kini mereka berada di taman tak jauh dari sekolah mereka. Duduk disalah satu kursi taman, yang diteduhi pohon.
"Eh? A-aku baik-baik saja. Hahaha." Tawa Sakura terdengar, tapi terasa aneh bagi Gaara. Tawa yang sumbang. Daripada larut dalam suasana seperti itu, Sakura berinisiatif mencari bahan pembicaraan yang lain.
"Lama kita tak bertemu ya, bagaimana dengan kabar keluargamu Gaara?"
"Keluargaku, mereka baik-baik saja. Kapan-kapan kau harus main ke rumahku Sakura. Mereka akan sangat senang bertemu denganmu." Gaara terseyum simpul.
"Ah, iya. Benar juga, kita sudah empat tahun tidak bertetangga." Balas Sakura.
"Setidaknya itu untukmu saja."
Sakura menoleh. "Un, kau benar. Waktu itu aku tetap di Suna, sedangkan ayah dan ibu pindah ke Konoha karena tuntutan kerja ayah. Hanya beberapa hari setelah kepindahanmu ke Konoha juga kan Gaara."
"Kenapa waktu itu kau tidak sekalian ikut?" Gantian Gaara yang menoleh kearahnya.
"Hahaha... Tentu saja aku tidak ikut. Waktu kecil aku berjanji pada nenek Chiyo akan menjaga dan bersamanya setidaknya sampai usiaku sampai saat ini."
"Janji ya..." Gumam Gaara, lebih pada dirinya sendiri.
Angin semilir menerbangkan daun-daun kering di sekitar. Guguran daun dari pohon-pohon di taman tampak sangat cantik. Apalagi dengan langit sore berwarna senja. Sungguh menenangkan hati siapa saja yang melihatnya.
"Um... Gaara. Boleh aku tanya sesuatu?" Ucap Sakura sambil menoleh ke arah Gaara, dijawab anggukan oleh yang ditanya. "Apa kau orang yang paling dingin di sekolah?"
"Siapa yang mengatakannya?" Ujar Gaara menatap Sakura dengan mengerutkan kening.
"Ano, sahabatku. Apa kau orang yang tertutup? Apa kau juga jadi incaran di sekolah?"
"Apa kau beralih profesi Sakura? Detective eh?" Keningnya tambah mengerut mendengar pertannyaan Sakura.
"Eh? Bukan Gaara...! Aku hanya ingin tanya." Sakura memasang wajah cemberut dengan kedua tangan menyilang di dada. Tapi itu malah terlihat menggemasakan di mata Gaara.
"Hahaha... Baiklah. Aku tertutup atau tidak, terserah orang menganggapku apa. Dan jadi incaran..." Gaara memandang Sakura dalam. "Jika kujawab 'Ya' apa kau akan cemburu?"
"Ha? Jawaban macam apa itu? Hah... Kau memang tak cukup pintar menjawab pertanyaan semacam itu." Sakura membuang muka.
"Kalau sudah tahu, kenapa tanya." Gaara menyeringai.
Sakura tak habis pikir melihat tingkah orang di sampingnya. 'Apanya yang dingin? Menyebalkan sih iya.'
Meskipun menyebalkan. Tetap saja Gaara adalah salah satu orang yang berharga dalam hidupnya, juga orang yang spesial. Spesial dalam artian ini bukanlah hanya ditujukan pada satu orang, tetapi banyak orang, utamanya dan paling penting adalah yang telah mengajari Sakura tentang kehidupan, mengisi hari-harinya, bahkan hatinya. Benarkah yang terakhir ini?
.
-You All Special for Me-
.
"Hei Teme. Kau keterlaluan, aku melihatnya tadi." Ucap seorang anak bermata biru langit, dengan gaya rambut blonde seperti durian. Mereka berdua berada di ruang tamu keluarga Uchiha.
"Apa urusanmu Dobe." Tentu saja bisa ditebak suara siapa ini. Masih berkutat dengan buku bacaannya.
Anak bernama Naruto Uzumaki itu kemudian menghentikan permainan gitarnya. "Tentu saja ini urusanku! Kau memperlakukan wanita dengan sangat dingin. Bahkan hanya untuk menjawab permintaan maafnya kau tak berikan. Apa susahnya jawab 'Ya'. Kau seperti nenek-nenek yang takut kehilangan uang pensiunan jika sudah mati." Cerocos Naruto tak jelas, mengakibatkan pendengaran Sasuke berdenging.
"Apa hubungannya dengan nenek-nenek?" Sasuke mengakat sebelah alisnya.
"Tentu saja karena nenek-nenek itu... Ah! Sudahlah lupakan soal nenek-nenek! Kau membuatku gila Teme." Naruto mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Dan kau membuatku ingin menyumpal mulutmu Dobe." Jawab Sasuke enteng.
"Eh? Ap-apa? Kau ingin menyumpal mulutku?" Tanya Naruto tak percaya dengan mata terbelalak.
"Hn."
"Ka-kau gila Teme? Aku bukan yaoi! Bahkan jika kau yang jadi seme-nya aku tetap tidak mau, meskipun sebenarnya kau cocok jadi seme. Demi Dewa Jashin, aku tak mau ciuman pertamaku direnggut olehmu! Kita ini sesama jen..." Belum selesai, perkataan Naruto terpotong oleh sesuatu.
"Itu yang kumaksud menyumpal mulutmu." Seringai muncul di wajah Sasuke.
"Aph... Hyag Ghou Ghaghukhan Themhe (Apa... Yang kau lakukan Teme)!" Teriak Naruto tak jelas karena mulutnya tersumpal sesuatu.
"Hn." Jawab Sasuke singkat. Tunggu. Bisakah ini dimasukan dalam kategori jawaban?
"Puah..." Naruto mengambil napas setelah melepaskan sesuatu yang tersumpal di mulutnya. "KAU KETERLALUAN TEME! Kau ingin membunuhku ya! Kau tidak lihat? Aku masih muda, aku masih ingin menikmati ramen, main PS, pergi ke pantai dan sebangsanya!" Teriak Naruto mencak-mencak tak jelas, dan tersadar akan sesuatu. "Dan kau memasukan barang HINA dan BAU ini tanpa dosa ke dalam mulutku!" Seru Naruto dengan memberikan penekanan pada dua kata.
"Itu kaos kakimu bodoh." Jawab Sasuke enteng tanpa melihat Naruto, lagi.
"What the..." Dengan cepat Naruto memperhatikan kaos kakinya yang baru saja menjadi korban pelampiasan sang sahabat. Seketika mata Naruto berkaca-kaca. "Oh, maafkan aku kaos kakiku. Aku tak bermaksud mengorbankanmu, semua salah seorang seme bernama Sasuke." Naruto meratapi dan memeluk kaos kakinya.
"Menjijikan." Sasuke memandang jijik sekaligus aneh, tepatnya sangat aneh pada tingkah laku sahabatnya. Memang sahabatnya ini sudah aneh sejak dulu. Tapi lebih aneh lagi seorang Sasuke Uchiha tetap berteman dengan orang aneh. Jadi siapa yang lebih aneh di sini? Tapi itulah persahabatn, apapun sifat orang yang dekat dengan kita, seperti sudah menjadi hal biasa hingga tak perlu dipermasalahkan bukan?
Lepas dari kekonyolan sahabatnya itu, ada sesuatu yang dipikirkan Sasuke. Sebenarnya dari tadi ia tidak membaca atau melihat isi buku yang sedang dibawanya, melainkan ia tengah merenungkan sesuatu. Baru ia sadar, buku yang ada dalam genggamannya adalah buku fashion milik kakaknya. Untung saja Naruto tak memperhatikan hal ini. Dengan cepat Sasuke mengembalikan buku itu di rak meja. Bergidik membayangkan Naruto dengan mulut embernya menyebarkan aib seorang Sasuke Uchiha membaca buku fashion yang isinya model wanita.
.
-You All Special for Me-
.
Setelah pulang diantar oleh Gaara, Sakura berniat untuk mengistirahatkan tubuhnya. Hari pertama di sekolah baru merupakan hari yang menyenangkan, sekaligus tak terduga dalam hidupnya. Sekelebat terlintas bayangan atas permintaan maafnya pada Sasuke, entah mengapa hatinya sedikit tak tenang.
'Hah. Apapun yang terjadi, besok kau harus minta maaf lagi Sakura.' Batin Sakura dalam hati.
Sakura adalah tipe orang yang paling tak tahan jika tidak mendapat jawaban dari permintaan maafnya. Saat seseorang tidak memberikan vonis atas kesalahan yang telah Sakura lakukan, ia merasa orang tersebut belum memaafkannya, dan karena itulah Sakura akan terus-menerus memintanya, sampai ia mendapatkan jawaban.
Saat sudah sampai rumah, ia bergegas menuju kamarnya. Setelah mandi untuk menyegarkan badan, Sakura mengistirahatkan diri dan berbaring di tempat tidur. Terasa tenang sekali istirahatnya kali ini, kaena setelah apa yang terjadi di sekolah tadi.
Tak terasa sudah jam tujuh malam. Sakura masih tertidur dengan tenangnya, sebelum suara terdengar dan membangunkannya.
"Ibu... Ada apa?" Tanya Sakura pelan yang masih sedikit kantuk, sambil mengucek kedua matanya.
"Bahan makanan di rumah tinggal sedikit Sakura-chan. Tolong belikan di supermarket ya." Jawab ibunya.
"Baiklah. Sakura ganti baju dulu."
.
-You All Special for Me-
.
Setelah mengenakan kaos biru, celana jins hitam tiga perempat dan jaket biru, Sakura meninggalkan rumahnya, dan segera pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan yang ada di daftar belanjaan.
Setelah menemukan semua bahan yang diperlukan Sakura segera pergi ke kasir. Saat dengan tidak sengaja matanya menangkap siluet seseorang yang ia kenal. Eh, bukan, mungkin tepatnya ia 'tahu', kata 'kenal' di sini sepertinya kurang cocok. Dengan segera setelah membayar belanjaan, Sakura keluar dan mencoba mengejar sosok yang tak jauh dari supermarket. Setelah dirasa cukup dekat, ia memelankan langkahnya.
"Uchiha-san." Ucap Sakura pada sosok itu, yang ternyata adalah Sasuke. Tampak Sasuke menghentikan langkahnya. Terulang lagi. Ya, terulang lagi seperti kejadian di sekolah tadi siang.
"Apa aku sudah kau maafkan?" Tanya Sakura dengan nada berharap.
"Apa peduliku." Ucap Sasuke tanpa menoleh. Dan jawaban yang sama dengan jawaban di sekolah, itulah yang Sakura dengar. Tetap dingin, tak ada emosi di setiap katanya, datar.
"Aku mohon, setidaknya berikan jawabanmu. Aku akan terus merasa bersalah jika kau tak menerima permintaan maafku."
"Kau ingin dengar jawabanku." Kini Sasuke menoleh ke arah Sakura, dengan suara yang tetap dingin dan tanpa emosi di wajahnya. Mereka berdua berhadapan dalam jarak lima meter.
"Tentu."
"Kau tidak kumaafkan." Jawab Sasuke lebih dingin dari sebelumnya.
Sakura yang mendengarnya menatap Sasuke tak percaya, sama seperti saat di sekolah. "Ap-apa...? Ke-kenapa...? Kenapa begitu."
"Karena..."
.
-You All Special for Me-
.
To be Continued
Balas Review :
-Honeya : Arigatou sudah menjadi 1st reviewer fic saya. Ini sudah update. RnR lagi ya. ^^
-Kakaru niachinaha : Arigatou. Jangan panggil saya senpai, saya newbie. Un, iya terlalu pendek. Pas ngetik di MS char nya banyak, baru tahu kalau di upload ke fic jadinya cuma sedkit, gomen ne. Ini sudah update. RnR lagi ya. ^^
-Obsinyx Virderald : Arigatou. Un, iya, saya baru tahu char di MS dan setelah di upload jumlah char-nya beda. Mulai sekarang coba ketik sedikit banyak (tapi cuma nambah sedikit). Di awal saya bingung bikin adegan yang bagaimana, dan yang terlintas cuma itu. Arigatou sarannya, jadi pembelajaran. RnR lagi ya. ^^
-someone with s : Arigatou. Un, ini sudah update, saya tambah sedikit (cuma tambah sedikit), gomen ne. RnR lagi ya. ^^
-uchiharuno phorepeerr : Arigatou. Ini sudah updet. RnR lagi ya. ^^
-uciharuno chika : Arigatou. Ini sudah update. RnR lagi ya. ^^
Cukup sekian balasan dari saya. Doumo arigatou minna. ^^
