Chapter3 update. Terimakasih untuk review-nya. Doumo arigatou minna... ^^

Di chap ini saya beri flashback (tulisan italic). Maaf jika mengecewakan. Sekali lagi. Mohon bimbingannya minna... ^^


.

.

Warning : AU, OOC, miss typo, alur berantakan, boring, etc

Genre : Friendship/ Romance

Rate : T

Pairing : SasuSaku

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

You All Special for Me © Sky no Raven

.

.

-You All Special for Me-

.

Waktu terus bergulir. Udara malam yang dingin terasa menusuk permukaan kulit. Jalan pun mulai sepi. Hanya satu dua kendaraan yang lewat. Di bawah temaram cahaya lampu jalan yang menerangi, terlihat dua sosok yang masih bertahan pada posisinya.

"Karena..." Sasuke menghentikan ucapannya sesaat. "Kau yang memintaku untuk tidak memaafkanmu." Masih tetap dingin.

Akhirnya kalimat itulah yang terlontar dari mulut sang Uchiha. Sakura yang mendengar perkataan itu hanya bisa menatap Sasuke bingung. 'Apa maksudnya?' Batin Sakura.

"Kenapa kau bilang begitu Uchiha-san? Bukankah aku minta maaf padamu, kenapa seolah-olah aku meminta untuk tidak kau maafkan? Apa maksudmu?" Tanya Sakura tegas. Ia tidak suka diputar dalam pernyataan yang berkebalikan.

"Cih. Bahkan kau tak tahu." Sasuke memandang Sakura dengan tatapan menjatuhkan.

Kini Sakura tak suka dengan cara pandang sosok itu. "Apa maksudmu! Aku benar-benar tak tahu. Bicaralah yang jelas Uchiha-san!"

Sasuke berbalik arah, memunggungi Sakura dan menolehkan kepalanya. "Kau menyedihkan... Saku-chan." Ucapnya datar sebelum ia memasuki mobil dan pergi meninggalkan Sakura.

Sakura masih mencerna kalimat terakhir Sasuke dan hanya bisa memeganggi kepalanya. Ada sesuatu mengganjal di sana, entah apa itu. Tapi yang jelas Sakura rasakan saat ini adalah sebuah perasaan sedang memberontak. Dimana rasa pedih yang ber-volume besar ingin mencair tetapi tertahan. Ya, tertahan oleh sesuatu yang tersamarkan.

Sedikit melupakan perasaan itu, Sakura melangkah pulang menuju rumahnya.

.

-You All Special for Me-

.

Semakin larut dan sunyi, hanya terdengar suara-suara malam. Langit tampak sangat gelap, tak ingin menghiaskan watak dengan sinar keindahan seperti biasa. Sakura duduk di balkon kamar, mendekap kedua lututnya dan menatap kosong hamparan langit yang monoton. Hawa dingin ia abaikan, tepatnya ia tak mempedulikan hal itu. Perasaan sesak masih dirasakan. Layaknya sebuah duri kecil namun tajam, sakit bila terinjak.

Satu tetes. Dua tetes. Tiga tetes. Dan kemudian tetesan-tetesan bening itu menjelma menjadi aliran kecil. Keluar dari pelupuk mata gadis merah muda itu. Tak terdengar isakan di sana, tak terasakan emosi di sana, yang terlihat hanyalah tangisan tanpa suara dan tatapan redup. Memang, itulah lukisan dari luar. Benar-benar sangat kontras dengan suasana hatinya.

'Kenapa? Rasanya di sini sakit, sakit sekali.' Batin Sakura yang kemudian membenamkan kepala di kedua lututnya.

.

-You All Special for Me-

.

Sore hari menenangkan dengan semburat langit senja tampak begitu cantik. Sebuah taman terlihat sepi, meskipun begitu tetap terlihat indah. Terdapat beberapa pohon peneduh di sana. Ada pohon paling besar, dan terdapat ayunan yang sengaja digantung pada batang pohon itu.

"Hiks. Hiks."

Samar-samar terdengar isakan kecil dibalik pohon besar itu. Seperti suara anak kecil.

"Hei, kau kenapa bocah?" Terdengar suara menghampiri bocah yang sedang menunduk mendekap kedua lututnya.

Tak ada tanggapan. Bocah itu tetap terisak, tak mempedulikan suara yang mendekat.

"Halo? Apa kau dengar aku?" Suara itu terdengar lagi, dan kini lebih jelas, karena sekarang ia ada di samping sang bocah.

"Hiks."

Tetap tak ada respon. Tak hilang akal, sosok itu akhirnya mengguncangkan pundak si bocah. Benar saja, bocah itu langsung memandangnya dengan tatapan tajam, walau masih terlihat jelas air matanya mengalir.

"Akhirnya kau menoleh juga." Sosok itu menghela napas.

"Apa maumu!" Gertak si bocah. Tampak tak suka dengan orang di sampingnya.

"Kau tahu, tak baik orang sepertimu menangis. Cari tempat yang lebih aman, kamarmu mungkin. Kau tidak malu jika ada yang melihatmu apa?" Terang sosok yang masih berdiri menghadap si bocah.

"Apa urusanmu? Dan aku tak peduli jika ada yang melihatku!"

"Hah. Dasar keras kepala. Tapi kau ada benarnya." Sosok itu memperhatikan lawan bicaranya. "Kau kan masih kecil, jadi tak perlu malu. Kenapa aku baru sadar akan hal itu ya."

"Diam kau! Kau belum merasakan bagaimana kehilangan orang yang kau sayangi!"

Sosok itu sedikit kaget, tapi kemudian tenang kembali.

"Kau... kehilangan keluargamu?" Suaranya melembut.

"Ibuku."

"Oh, maaf soal ucapanku tadi. Aku turut prihatin." Sosok itu melihat bocah di sampingnya, terlihat rapuh. Seperti bangunan kayu tua termakan rayap, mudah roboh kapan saja.

Hanya butuh waktu sepersekian detik, sosok itu memeluk si bocah. Tampak si bocah memberontak dalam pelukannya.

"Ap-apa yang kau lakukan? Lep-lepaskan aku!" Seru bocah itu. Tapi sosok itu tak melepaskannya. Karena kelelahan akan usaha membebaskan diri, si bocah mulai mengalah, membiarkan sosok itu memeluknya.

"Biar aku belum pernah mengalami hal sepertimu, tapi aku bisa merasakan dari sorot matamu. Kata orang tuaku kalau ada orang yang sedih, jika dipeluk nanti sedihnya berkurang. Makanya aku memelukmu." Terang sosok itu lembut.

"Terimakasih..." Gumam bocah itu lemah.

.

-You All Special for Me-

.

Hari Minggu yang cerah. Merupakan hari yang paling ditunggu-tunggu kebanyakan orang. Termasuk gadis pink ini. Akhirnya bisa bersantai sejenak. Pagi ini Sakura berencana untuk sekedar jalan-jalan. Mungkin bisa me-refresh pikirannya. Dengan pakaian santai, Sakura berjalan keluar rumah, sebelumnya berpamitan pada sang ibu.

Langkah ringan mengajaknya menyesapi hawa sejuk dan bau khas embun pagi. Dan tak terasa kedua kaki itu membawanya ke suatu tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Taman yang indah, dengan beberapa pohon peneduh di sana. Ada satu pohon besar, dengan ayunan menggantung pada batangnya yang kokoh. Sakura melihat sekitar. Tampak beberapa petak bunga bermacam jenis, terkesan natural, lengkap dengan kupu-kupu yang bermain di taman itu.

"Taman yang cantik. Kenapa sebelumnya aku tidak lihat ya?" Ucap Sakura pada diri sendiri, ia masih mengagumi pemandangan yang terlukis. Sakura beranjak pada ayunan yang ada.

Sambil duduk dan mengayunkan ayunan itu pelan dengan kedua kakinya, Sakura bernyanyi-nyanyi kecil. Tampak ringan sekali hatinya saat ini. Terlupakan dengan kejadian tadi malam. Ketenangan ini membuatnya mengantuk, dan akhirnya tanpa sadar Sakura pun tertidur. Waktu masih sangat pagi, setidaknya belum ada orang-orang yang melaksanakan aktifitas di luar rumah pada jam seperti ini. Tapi tidak untuk Sakura dan... sosok yang sejak tadi memperhatikannya dari salah satu sudut taman itu.

"Bahkan kau tak tahu?" Ucap sosok itu lemah.

Sosok itu berjalan mendekat ke arah di mana Sakura sedang terlelap. Setelah sampai tepat di depannya, sosok itu mengamati Sakura. Terlihat seperti malaikat, tak ada yang boleh mengganggu tidur gadis manis itu sedikit pun. Sosok itu mendekatkan wajahnya ke depan wajah Sakura.

"Tak berubah." Hanya dua kata yang keluar, sosok itu menjauhkan kembali wajahnya. Kemudian meninggalkan Sakura.

.

-You All Special for Me-

.

"Kalau ingin main pergi saja ke taman ini! Aku selalu di sini."

"Baiklah. Mulai hari ini kita berteman ya!" Balas lawan bicaranya.

"Tentu!"

Keduanya terlihat sangat senang. Kedukaan yang dirasakan bocah kecil itu kian berkurang, tergantikan dengan keceriaannya bersama sosok yang baru-baru ini ia kenal. Setiap hari mereka bermain bersama, dengan latar yang sama, tetapi suasana hati yang bervariasi. Ada riang, tawa, canda, suka dan duka mereka torehkan kenangan di tempat itu.

"Sudah sore. Aku harus pulang." Ucap salah satu diantaranya.

"Aku juga mau pulang. Besok, kita main lagi ya!"

"Pasti! Besok aku bawakan kue buatan ibuku." Kedua sosok itu pun berpisah di depan taman. Arah rumah mereka berlawanan.

Tepat seperti yang diutarakan, hari ini mereka bertemu kembali. Satu anak membawa kotak bekal yang isinya kue, terlihat dari penutup benda kubus itu transparan.

"Ini! Aku bawakan kue buatan ibuku." Ucapnya sambil menyodorkan kotak. "Ayo kita makan di bawah pohon besar itu!" Ajaknya kemudian diikuti anak yang di belakang.

"Bagaimana rasanya?"

"Ini manis, enak sekali! Lain kali bawakan lagi!" Ucap si anak dengan mata berbinar, ia tampak sangat senang.

"Hehehe. Kau tahu, ini resep rahasia ibuku. Makanya rasanya enak!" Sahut yang satunya bangga sambil menepuk dadanya.

"Oh, begitu." Memberi jeda sejenak, sang anak melanjutkan. "Boleh aku minta sesuatu?" Tanyanya serius menatap sosok di sampingnya.

"Iya. Apa?" tanya sosok itu balik menatap si anak.

"Lain kali, bawakan kue buatanmu sendiri ya!" Terlihat cengiran polos di sana.

"Um, baiklah, nanti aku minta ibu mengajariku." Senyum mengembang dari sosok itu.

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari dan hari berganti minggu. Mereka semakin akrab setiap waktunya. Dan tak terasa persahabatan semakin kuat dan berhubungan erat.

"Aku baru sadar."

"Apa?"

"Rambutmu berwarna merah."

"Oh, ini." Sosok itu mengelus rambutnya sendiri. "Hah. Begitulah." Ia terlihat malas untuk membahas soal warna rambut merahnya.

.

-You All Special for Me-

.

"Sakura! Kau sudah mengerjakan PR Guru Kurenai kan! Aku pinjam ya, ya, ya!" Seru Ino yang langsung menghadang saat kedatangan Sakura di kelasnya.

"I-iya, sudah. Ini." Sakura yang masih agak kaget dengan seruan Ino, kemudian menyerahkan buku pekerjaannya. "Lain kali lebih rajinlah Ino!" Nasehat Sakura seperti menasehati seorang anak kecil.

"Iya Ibu Guru Sakura." Tampang malas Ino muncul. "Aku salin pekerjaanmu ya Sakura! Sepuluh menit lagi bel masuk!" Buru-buru Ino kembali ke bangkunya.

Sakura menuju tempat duduknya. Meletakkan tas sekolah, dan duduk nyaman di kursinya.

"Se-selamat pagi Sakura-chan." Suara lembut terdengar masuk ke dalam indera pendengaran Sakura. Ia menoleh.

"Pagi Hinata. Kau tampak senang sekali hari ini." Memang pagi ini gadis Hyuuga itu terlihat sangat berseri, senyumnya lebih mengembang daripada biasanya.

"Um, a-ano, bu-bukan apa-apa kok." Semburat merah terlihat jelas di wajah putihnya. Sakura yang melihatnya sudah bisa menangkap arti dari hal itu.

"Ada yang membuat hatimu senang eh?" Goda Sakura, membuat wajah di depannya lebih sewarna tomat.

"A-a, su-sudahlah Sakura-chan. Ha-hanya hal biasa saja." Tapi raut Hinata benar-benar sudah menjelaskan. Kali ini Sakura tak bisa dibohongi.

"Benarkah?" Selidik Sakura.

"I-iya. A-aku kembali ke tempatku dulu ya Sakura-chan!" Hinata meninggalkan Sakura dengan terburu-buru.

"Hihihi. Lucu sekali." Gumam Sakura yang masih mengamati kepergian Hinata.

Waktu istirahat telah datang. Tapi sekarang berbeda tidak seperti yang biasanya. Ketiga siswa Konoha Gakuen itu tidak pergi ke kantin, sepertinya ada hal lain yang akan dilakukan.

"Sebenarnya kita mau pergi ke mana?" Tanya Sakura mengimbangi langkah kedua sahabatnya, Ino dan Hinata.

"Kita ke perpustakaan." Balas Ino singkat.

"Eh? Kau suka membaca ternyata!" Seru Sakura tak percaya.

"Bukan begitu. Tadi pagi aku dititipi buku ini oleh Guru Kakashi dan menyuruhku mengembalikannya ke perpustakaan sekolah." Ino menjawab dengan wajah malasnya.

"Kenapa tidak beliau sendiri yang mengembalikannya?"

Ino memutar bola matanya. "Kau belum tahu ya Sakura. Dia adalah guru paling malas di sekolah. Perpustakaan kan ada di lantai tiga, mana mungkin ia mau mengembalikan dengan usahanya sendiri." Sakura memandang kurang percaya pada Ino. "Ya kan Hinata?"

"I-iya Ino-chan." Hinata menjawab dengan anggukan kecil.

"Tuh! Hinata saja setuju. Orang sekalem Hinata tak mungkin berbohong!" Ino merasa menang atas ketidakpercayaan Sakura.

"Baiklah." Jawab Sakura akhirnya.

Beberapa menit berlalu, sampailah ketiganya di perpustakaan. Salah satu tempat sumber ilmu, karena berbagai macam jenis buku ada di sana, terutama untuk hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Berjejer rak-rak penuh buku ditata secara rapi, beberapa meja dan kursi disediakan. Ada rak untuk penitipan, tentu saja karena di tempat itu terdapat larangan membawa tas. Tak lupa meja petugas perpustakaan, tempat di mana peminjaman, pengembalian dan segala hal yang berkaitan dengan administrasi perpustakaan ada di situ.

Seseorang tersenyum pada salah satu dari ketiganya, dan hanya satu orang yang menyadari hal itu.

"Ano, a-aku ke sana sebentar ya?" Ucap Hinata pada kedua sahabatnya yang sedang mengurus pengembalian buku di meja petugas perpustakaan.

"Ah, pergilah Hinata. Kami tak akan kemana-mana." Jawab Ino padanya.

"Un, arigatou." Senyum Hinata kemudian meninggalkan kedua sahabatnya.

"Ino, boleh aku melihat-lihat perpus ini?" Ini pertama kalinya bagi Sakura masuk ke tempat ini sejak kepindahannya.

"Tentu saja. Aku akan mengurus ini dulu."

Setelah mendengar respon sahabatnya, Sakura melangkahkan kaki ke arah deretan rak buku. Saat sedang asyik memilih-milih buku, ia menangkap suara tak jauh dari posisinya.

"Hei, Sasuke. Kau sudah mendapatkan bukunya?" Suaranya terdengar malas-malasan.

"Diam kau tuan Shikamaru! Bantu aku mencarinya." Balas sosok yang ternyata Sasuke, terlihat kesal.

"Ck. Merepotkan." Jawab Shikamaru, tapi toh tetap membantu teman satu kelasnya itu, biarpun temannya itu dingin dan kadang kasar, tak bisa ia sangkal, Uchiha satu ini selalu menjaga tanggung jawab tugasnya dengan baik. Hari ini mereka mendapat tugas membuat laporan dari materi yang baru diajarkan tadi pagi. Hingga mereka perlu mencari buku tambahan untuk itu.

Sakura cepat-cepat bersembunyi di balik rak terdekat, setelah mengetahui siapa sumber suara. Tapi masih memperhatikan gerak-gerik orang tersebut. 'Uchiha-san,' batin Sakura, emerald-nya tampak meredup.

Terlepas dari itu, kedua bola matanya tanpa sengaja menangkap sebuah pemandangan. Tak yakin dengan penglihatannya, Sakura mempertajam dan mengamati lekat-lekat. Tak salah lagi, itu adalah orang yang sangat ia kenal.

.

-You All Special for Me-

.

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Sakura tak langsung pulang. Ia tengah mencari seseorang saat ini. Beberapa kali ia cari dihampir seluruh bagian sekolah, tetap tak terlihat batang hidungnya. Dengan langkah putus asa, Sakura berjalan menuju gerbang sekolah.

"Sakura. Kau akan pulang? Mau kuantar?" Seseorang dengan motornya berhenti tepat di samping Sakura berdiri.

"Um, tidak usah Gaara. Aku... ada keperluan." Senyum Sakura. Tidak bagi seorang Sabaku, terlihat sedikit raut kekecewaan di wajahnya, tapi tak disadari gadis cherry itu.

"Begitu ya. Aku pulang dulu. Hati-hati Sakura." Kata Gaara lembut dan dibalas oleh anggukan kecilnya, Gaara pun melajukan motornya.

Baru tersadar akan sesuatu, Sakura cepat-cepat mengambil ponsel dalam tas. Mencari contact person di ponsel, lalu menekan keypad-nya.

Tut. Tut. Tut.

Terdengar nada tunggu. Tak berapa lama panggilan itu diangkat.

"Moshi-moshi?" Ucap suara di seberang.

"Halo? Hinata, aku butuh bantuanmu!"

.

-You All Special for Me-

.

To be Continued


Balas Review :

-Gha mika chiiyamada : Tentu saja boleh, tak apa, saya berterimakasih Gha-san mau review. Salam kenal . Karena saya tipe yang mudah lupa, jadi kalau ada ide langsung dituangkan, pas kemarin saya dapat makanya langsung update. Haha, iya, di sini saya buat begitu, itu pandangan Ino, setidaknya sebelum Gaara bertemu Sakura. Ini sudah update. Un, doumo arigatou... RnR lagi ya. ^^

-zikrin : Benarkah? Doumo arigatou... RnR lagi ya. ^^

-Hakuya Cherry Uchiha Blossom : Salam kenal Haku-san. Un, saya masih belum terlalu mengerti soal tanda baca, apalagi dalam pembentukan ekspresi. Setelah baca review Haku-san, um, ternyata benar, dilihat-lihat kedua kalimatnya jadi terkesan berintonasi beda, permainan diksi Haku-san bagus. Arigatou atas reviewnya, jadi tambah ilmu, saya coba terapkan di chap ini dan seterusnya. Soal Sasuke sudah terjawab di chap ini kan. Un, ini sudah Update. Doumo arigatou... RnR lagi ya. ^^

-Dijah-hime : Haha, iya, memang wataknya Sasu di sini seperti itu. Benarkah? Un, ini sudah update. Doumo arigatou... RnR lagi ya. ^^

-Obsinyx Virderald : Arigatou, ini juga berkat review Ob-san sebelumnya, tanpa itu saya takkan belajar. Benarkah? Saya sebenarnya bukan tipe humoris, tapi mencoba membuat sesuatu yang sedikit berbeda, dan wow, tak disangka dengan respon Ob-san. Un, ini sudah update. Doumo arigatou... RnR lagi ya. ^^

-Kakaru niachinaha : Ru-san berlebihan, saya masih sangat newbie, saya bukan senpai. Um, semua orang punya potensi itu, tergantung pada hal apa yang mempengaruhi individu itu, yang kemudian berdampak pada mau dan bisa menuangkannya atau tidak, menurut saya seperti itu. Un, Doumo arigatou... RnR lagi ya. ^^

Sekian balasan dari saya. Doumo arigatou minna. ^^