Chapter4 update. Terimakasih untuk review-nya. Doumo arigatou minna... ^^

Maaf jika mengecewakan. Sekali lagi. Mohon bimbingannya minna... ^^


.

.

Warning : AU, OOC, miss typo, alur berantakan, boring, etc

Genre : Friendship/ Romance

Rate : T

Pairing : SasuSaku

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

You All Special for Me © Sky no Raven

.

.

-You All Special for Me-

.

"A-akan kutanyakan dulu, na-nanti kukirim lewat sms Sakura-chan." Suara lembut terdengar dari barang elektronik dalam genggaman Sakura.

"Baiklah, aku tunggu. Terimakasih Hinata." Sambungan pun terputus.

Sambil menunggu balasan dari sahabat baiknya itu, Sakura berjalan-jalan kecil meninggalkan gerbang sekolah. Cuaca tampak sedikit mendung, tapi kali ini sepertinya tak dipermasalahkan. Karena bagi Sakura, hari ini adalah hari yang harus dijalani, apapun konsekuensinya. Tekadnya sudah bulat.

Sakura berhenti tepat di depan taman yang sebelumnya pernah ia kunjungi. Melangkahkan kakinya yang jenjang, dan beristirahat pada ayunan di bawah pohon besar. Beberapa menit terdengar nada dering dari ponsel. Segera saja Sakura mengambil benda di dalam tas sekolahnya.

From : Hinata-chan

Ini alamatnya Sakura-chan.

Clover Street No. 7 Blok. U

Setelah membalasnya dengan kalimat terimakasih, Sakura segera meninggalkan tempat tersebut. Sesekali ia bertanya pada penduduk sekitar akan alamat itu. Awan mulai menghitam, udara luar pun mulai terasa dingin. Tetap bukan menjadi perhatian yang berarti bagi keturunan Haruno ini.

"Masih jauh ya." Gumam Sakura. "Yosh! Sakura kau pasti bisa!" Serunya menyemangati diri sendiri.

Memang, tak ada kendaraan apapun yang bisa membawanya ke alamat yang ia tuju. Namun, bukan karena hal sepele seperti itu akan memupuskan usaha Sakura. Bukan, tentu saja bukan. Apapun yang terjadi, bahkan jika ia dituntut untuk menyelami samudra, ia akan tetap menaklukannya tanpa genjatan senjata dan bendera putih berkibar. Walaupun kiasan ini ternilai hiperbola, namun cukup sebagai konotasi keadaannya.

Ponsel Sakura tiba-tiba saja bergetar, Sakura sempat kaget karenanya.

From : Sweet Mom

Sakura-chan, hari ini ibu harus menemai ayahmu ke luar kota.

Maaf tidak mengabarimu sebelumnya.

Ibu sudah memasak untukmu, jika ingin makan tinggal kau panaskan saja.

Jaga dirimu Sakura-chan. ;)

Itulah yang dapat ia baca dari pesan ponselnya. Ternyata hari ini kedua orang tuanya pergi ke luar.

"Baiklah. Tak apa-apa." Ucap Sakura dengan senyum tipis.

Langit kini benar-benar berwarna hitam, gemuruh pun mulai terdengar. Hasil kondensasi dari siklus hidrologi mulai menampakkan wujud. Tetesan kecil yang jarang, lambat laun makin bertambah.

"Eh! Kenapa disaat seperti ini?"

Sakura mulai mencari tempat berteduh, setidaknya ada rumah kosong berteras di pinggir jalan yang ia lalui. Segera saja Sakura berlari ke tempat itu. Baju seragamnya terlihat sedikit basah, karena sempat terkena hujan. Sepuluh menit ia menunggu, hujan tak kunjung reda, malah kian deras. Sakura tak putus asa. Tak peduli dengan hujan, ia akhirnya berdiri dan melangkah keluar dari teras rumah itu. Ia biarkan tubuhnya terguyur hujan, diabaikannya gemuruh mengimbangi langkah cepatnya. Dari langkah cepat, kemudian Sakura pun berlari. Ya, ia pikir dengan berlari akan lebih cepat sampai. Terus berlari, tanpa merasakan kakinya yang mulai sakit, tanpa mengatur dadanya yang mulai sesak, tanpa mempedulikan kepalanya yang mulai terasa pening, dan tanpa memperhatikan pandangannya yang mulai sedikit mengabur.

.

-You All Special for Me-

.

Akhirnya tujuannya pun mulai terlihat di depan mata. Sakura mempercepat larinya. Kini ia berdiri di depan halaman bangunan rumah yang cukup besar. Ia lihat alamat rumah, dan memang ini yang ia cari. Terdengar suara napas Sakura tak beraturan, namun tanpa membuang waktu Sakura menuju rumah itu.

Tok. Tok. Tok.

Tak ada jawaban.

TOK. TOK. TOK.

Sakura mengetuk pintu besar itu lebih keras.

Dan masih tak ada jawaban. Tangan Sakura siap mengetuk pintu lagi jika saja tak terdengar suara pintu yang mulai terbuka.

Tampak sang tuan rumah sedikit kaget, namun tak terlihat oleh Sakura. Karena yang bisa Sakura lihat hanyalah tatapan dingin seperti biasa dari sosok di depannya.

Tak ada suara yang terdengar dari keduanya. Sang tuan rumah itu pun mulai bosan, siap menutup pintu, sebelum suara lain menginterupsi.

"Tunggu!" Ucap Sakura sambil menahan pintu yang akan ditutup.

"Mau apa kau." Tanya si pemilik rumah dengan nada datar.

"A-aku mau min-minta ma..."

Belum selesai Sakura menyelesaikan kalimatnya, pintu itu sudah ditutup secara sepihak. Sakura membelalakkan mata.

"U-Uchiha-san! Uchiha-san! To-tolong dengarkan aku!" Sakura memukul-mukul pintu itu keras.

"Berdirilah di bawah hujan, dan kau akan kumaafkan!" Seru Sasuke dari dalam tanpa mau membuka pintunya.

Tak ada respon. Sekiranya sudah cukup, Sasuke melangkah menuju kamarnya di lantai dua. Memasuki kamar kesayangannya, kemudian menutup pintu ruangan itu. Terlihat kamar didominasi warna biru tua, hampir seluruhnya berwarna senada. Terkesan gelap dan dingin.

Sasuke mendekat ke jendela kamar yang belum tertutup oleh tirai. Ia lihat keadaan di halaman depan rumahnya.

"Paling hanya sebentar." Gumam Sasuke dengan tatapan tak peduli.

Ia rebahkan tubuhnya di tempat tidur dengan nyaman. Kedua tangan ia silangkan kebelakang sebagai penumpu kepala. Dan kedua bola mata onyx-nya mulai terpejam.

.

-You All Special for Me-

.

Siang telah berganti sore dan menjelang malam. Tampak sang surya mulai beristirahat, meskipun begitu kilaunya tetap tak terlihat, dikarenakan air mata langit belum mau menghentikan tetesannya, masih setia dengan raut kelam tak beremosi.

Ada gerakan kecil dihasilkan dari sosok tubuh di atas tempat tidur. Matanya sedikit demi sedikit terbuka, kemudian berkedip beberapa kali untuk beradaptasi dengan cahaya ruangan itu, onyx itu pun kini tampak jelas. Sasuke menggerakkan tubuhnya perlahan, mencoba bangun dari peristirahatannya.

'Sudah malam.'Batinnya. Sasuke melangkah ke jendela kamarnya. 'Masih hujan.'

Tangannya hendak menarik tirai penutup, sebelum ia melihat siluet seseorang berdiri di halaman. Sasuke tampak tak percaya.

"Ck. Dasar keras kepala!" Sasuke buru-buru turun kebawah.

Cepat-cepat ia turuni tangga, membuka pintu rumah, dan berlari ke arah di mana siluet tadi berada.

"Kau mau mati hah!" Seru Sasuke kesal dan keras mengimbangi derasnya hujan di luar.

Tak ada respon. Ini terlihat ganjil.

"Hei! Kau dengar tidak!" Seru Sasuke lagi sambil menggungcang bahu sosok yang ternyata adalah Sakura.

Saat itu juga tubuh Sakura limbung dan akan membentur tanah, seandainya saja tak ada tangan kekar dengan cepat menyangga. Dengan raut wajah yang menampakkan kekesalan, Sasuke membawa tubuh Sakura dengan bridal style.

Ia bopong tubuh ringkih itu ke kamar. Dan menidurkan Sakura di sofa panjang yang terletak di sana. Sakura bergetar, wajah putihnya tampak semakin pucat. Sekujur tubuhnya basah oleh guyuran hujan. Layaknya bayi kecil yang kedinginan, sangat disayangkan dalam keadaan seperti itu.

Hal ini pun akhirnya sedikit mengetuk hati sang Uchiha bungsu. Ia tak menyangka gadis merah muda itu akan menuruti ucapannya. Berdiri di bawah hujan sejak sebelum ia tidur sampai waktu ia bangun. Untuk apa ia melakukannya sampai sejauh ini? Kecuali hanya akan menyakiti dirinya sendiri. Sasuke pikir, saat ia melihat Sakura yang berdiri di bawah hujan, Sakura hanya bertahan sebentar lalu pulang. Nyatanya tidak, Sakura tetap melakukannya bahkan sampai berjam-jam. Apa ia sudah gila?

"Argh!" Terlihat kesal, Sasuke meremas rambut raven-nya.

Sasuke diam sejenak, memperhatikan Sakura yang masih kedinginan. Ia memutar otak. Jika ada yang kedinginan berarti perlu dihangatkan. Karena Sakura di posisi ini kedinginan disebabkan seragamnya yang basah kuyup, maka untuk menghangatkannya dengan mengganti pakaiannya dengan pakaian kering dan hangat. Ya, tentu saja hanya perlu membuka seragam Sakura, dan memakaikan baju hangat untuknya. Tapi, tunggu. Mana mungkin Sasuke membuka pakaian Sakura? Apalagi dia kan laki-laki? Dan sosok di depannya adalah perempuan.

'Tidak.' Batin Sasuke sambil menggelengkan kepalanya cepat.

Kembali memutar otak, Sasuke ingat akan sesuatu. Segera saja ia ambil ponselnya, menekan beberapa digit angka, lalu menunggu sampai panggilan itu diangkat.

"Halo? Mogi, bisa kau kerumahku?" Ucapnya pada lawan bicara.

Beberapa saat menunggu, keluarlah seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun dari kamar Sasuke.

"Sudah kukeringkan badan dan rambutnya, pakaiannya kuganti dengan piyama, seragamnya kutaruh di tempat yang tadi Kakak tunjukkan." Cengiran khas menghiasi wajah polos anak kecil bernama Mogi.

"Terimakasih Mogi." Balas Sasuke dengan senyum tipis pada tetangganya itu, yang memiliki kediaman tepat di samping rumah Sasuke, setidaknya sudah ia anggap layaknya adik sendiri. "Ini untukmu." Sambil menyerahkan sesuatu pada anak di hadapannya.

"Wah, terimakasih Kak Sasuke!" Seru Mogi sambil menerima cokelat batangan pemberian Sasuke. "Ano, boleh aku bertanya?"

"Ya, apa?"

"Apa kakak manis itu pacarnya Kak Sasuke?" Terlukis rasa penasaran di tampang polos gadis kecil itu.

"Bukan." Ucap Sasuke singkat dengan raut wajah yang sulit diartikan.

"Oh, begitu ya, sayang sekali." Tutur Mogi lemah, tapi masih terdengar oleh Sasuke. "Kalau begitu, aku pulang dulu ya! Dah Kakak!" Seru Mogi sambil melambaikan satu tangannya.

Teringat sesuatu, Sasuke kembali memanggil. "Tunggu!"

Mogi yang hampir akan menuruni tangga pun berbalik arah. "Ada apa Kak?"

"Jangan katakan soal ini pada siapapun ya." Pinta Sasuke dengan rasa sedikit khawatir, tapi tetap saja tak terbaca di wajahnya.

"Siap Kapten! Mulut Mogi akan tertutup rapat!" Seru Mogi bersemangat dengan sikap hormat sekaligus cengiran polos.

Sepeninggalnya Mogi, Sasuke kembali ke kamar. Mengangkat tubuh lemah Sakura, dan membaringkan ke tempat tidur, tak lupa ia tarik selimut guna menghangatkannya.

.

-You All Special for Me-

.

"Ngh..." Terdengar lenguhan kecil dari bibir mungil. Dilanjutkan dengan gerakan kecil.

Tampak tubuh ringkih itu bangun mengubah posisi dirinya secara perlahan, meskipun kepalanya masih terasa pening. Sakura bersender di tempat tidur. Kelopak emerald-nya mencoba terbuka. Sedikit demi sedikit ia menangkap cahaya di sana. Dan yang pertama kali ia lihat adalah... kamar?

"Di-di mana aku?" Gumam Sakura lemah, wajahnya masih terlihat pucat.

"Kau di kamarku." Kalimat dengan nada datar terdengar memasuki gendang telinganya.

Sontak Sakura mencari sumber suara, terlihat kekagetan terpancar. "U-Uchiha-san. Ba-ba-bagai-mana...?" Sakura kehilangan kata-kata, tenggorokannya terasa sangat amat kering.

"Kau pingsan, dan kubawa ke sini." Sasuke menatap Sakura datar dari kursi meja belajar.

Sakura terdiam sejenak, ada sesuatu yang aneh, atau janggal? Ia melihat tubuhnya. "Aaa! Seragamku!" Sakura baru sadar akan perubahan kostumnya, sejak kapan ia pakai piyama berwarna biru tua? "Ap-apa yang kau la-lakukan Uchiha-san!" Wajahnya kini lebih pucat dari sebelumnya.

Terdengar dengusan sebelum si pemilik berujar sesuatu. "Bukan aku yang menggantinya, tapi adik perempuanku." Sakura menatapnya dengan mengerutkan kening. "Kau tak percaya?" Kini berganti Sasuke mengangkat sebelah alisnya.

"Bu-bukan begitu." Ucap Sakura dengan volume kecil, ia menundukkan kepala. "Arigatou."

"Hn."

Suasana kamar itu kembali tenang, tak ada suara lain selain detikkan jam dinding.

"Di mana rumahmu?" Sasuke bangun dari duduknya.

"Wood Street No. 14 Blok. H."

"Bangunlah, ambil tasmu, akan kuantar." Sasuke mulai melangkah ke arah pintu kamar.

"A-aku bisa pulang sendiri." Sakura mengambil tas sekolah, dan mengikuti Sasuke di belakang.

"Ini sudah malam." Tatapan tajam Sasuke berhasil membungkam Sakura. Ia mengikuti langkah sang Uchiha.

Mereka masuk ke dalam mobil. Sasuke melajukan kendaraan itu perlahan keluar dari halaman rumah. Malam semakin larut. Suasana dalam mobil tampak sangat sunyi, tak ada yang memulai percakapan.

Teringat akan sesuatu. "U-Uchiha-san. Aku minta maaf." Sakura menoleh ke arah Sasuke yang masih menyetir mobil dengan tatapan ke depan.

"Apa peduliku." Lagi, dan lagi. Untuk ketiga kalinya kalimat itu yang terdengar.

Genangan air mulai tampak di kelopak Sakura, tapi belum siap untuk turun. "A-apa kau anak kecil di taman waktu itu?"

"Menurutmu?" Sasuke hanya melihat dari ekor matanya.

Sakura memandang sosok di sampingnya. "Maafkan aku." Ucapnya lirih.

"Tak mudah memaafkan orang yang mengingkari janjinya sendiri, bahkan sampai bertahun-tahun." Masih tetap datar.

Sekarang Sakura benar-benar tak dapat membendung kesedihannya. Air mata yang sejak tadi ia tahan, kini mulai mengalir ke bawah.

"Ma-maafkan aku. Hiks, hiks. A-aku tak bermaksud seperti itu Uchiha-san." Terdengar sesenggukkan dan bergetar.

.

-You All Special for Me-

.

"Besok, kau ke sini lagi ya!" Seru bocah kecil pada sosok di sampingnya.

"Tentu! Aku akan ke sini dan membawakan kue buatanku!"

"Eh? Kau sudah bisa membuat kue?" tanya sang bocah terlihat kaget.

"Kau tak percaya? Ya sudah, tak akan kubawakan."

"Um, ya-ya, a-aku percaya." Ucap bocah itu pada akhirnya.

"Baiklah, besok aku bawakan! Yah, meskipun rasanya masih tak se-enak buatan ibu." Cengiran polos terlihat. "Aku janji, besok aku ke sini!"

"Janji?" Tanya bocah itu.

"Ya, aku janji! Kalau besok aku tak datang, aku jangan kau maafkan ya!"

"Ha? Apa maksudmu?" Si bocah terlihat bingung dengan penuturan yang terdengar.

"Um, jika besok aku tidak hadir, saat aku minta maaf padamu nanti, kau harus menolaknya! Karena ini sudah janjiku!"

"Janji ya! Baiklah, aku tak akan memaafkanmu jika kau tak menepati janji!" Bocah itu menautkan kelingkingnya pada kelingking sosok di sampingnya yang sejak tadi sudah terangkat. Keduanya pun tertawa bersama.

Hari pun telah berganti, waktu semakin sore, dan yang ditunggu-tunggu pun tak kunjung datang. Mulai cemas, padahal ia sudah menunggu sejak beberapa jam yang lalu, dimana merupakan jadwal perjanjian sebelumnya. Lama, waktu tak bisa dihentikan, malam tak terasa telah datang.

"Kau bohong Saku-chan. Kau janji hari ini akan datang. Aku menungumu berjam-jam, dan kau tak juga datang." Raut kesal dan sakit melebur menjadi satu.

"Aku benci Saku-chan! Aku benci!" Teriak bocah kecil itu, tanpa terasa air matanya jatuh.

Terdengar langkah kaki mendekat dari arah belakang.

"Sasuke? Ternyata kau di sini! Ayah khawatir, dan aku mencarimu ke mana-mana. Ayo pulang! Hari sudah malam." Seru seseorang yang ternyata adalah kakaknya.

.

-You All Special for Me-

.

Mobil itu telah sampai di depan rumah Sakura. Keduanya turun. Tunggu. Sasuke ikut turun? Tentu, sebenarnya ia hanya ingin memastikan Sakura masuk rumah dengan selamat. Karena yang ia lihat, gadis yang kini di depannya masih ringkih.

Sakura berbalik menghadap Sasuke. "Arigatou Uchiha-san." Ia masih menunduk, belum berani melihat sosok itu.

"Aku tak suka." Ucapnya datar. Sakura mendongakkan kepala. "Aku tak suka kau memanggilku seperti itu." Sambungnya.

"Ja-jadi aku harus panggil apa?"

"Menurutmu?" Hanya kalimat itu yang keluar, tapi kini nadanya tak sedatar tadi, terdengar sedikit melembut. Tatapannya pun tak sedingin sebelumnya, terkesan sedikit teduh.

Sakura tak bisa lagi menahan hatinya. "Sasu-chan!" Dengan cepat Sakura memeluk tubuh tegap itu. Sasuke kaget dengan apa yang terjadi.

"Ma-maafkan aku. Hiks. A-aku tidak bisa datang waktu itu." Ia menangis lagi.

Dengan perasaan ragu, Sasuke membalas pelukan gadis itu.

"Ma-maaf. Se-sebanrnya waktu itu, ayah ada tugas mendadak. Hiks, ja-jadi aku harus ikut. Maaf Sasu-chan." Tangisan dan permohonan maafnya terdengar ngilu.

Sasuke akhirnya membuang egonya. Ia dekap Sakura lebih erat dalam pelukannya.

"Tak mudah bagiku untuk memaafkanmu Saku-chan." Ucapnya lirih. "Sakit ini sudah menjalar bertahun-tahun."

"Eh?" Sakura melepas pelukannya, kebingungan tak bisa ia samarkan. Ditatapnya kedua bola mata onyx itu.

"Jika kau ingin kumaafkan. Kau harus menuruti permintaanku. Saku-chan." Sasuke tersenyum.

Eh? Dia tersenyum? Sahabat masa kecil yang baru diingatnya tersenyum. Sesuatu yang belum pernah dilihat Sakura sejak kepindahannya. Namun tanpa sepengetahuan Sakura, sebenarnya senyuman itu terlihat aneh. Ya, senyuman yang sulit diartikan.

Dan tanpa mereka sadari, ada sosok yang mengamati mereka di balik pohon yang tak terlalu jauh jaraknya.

.

-You All Special for Me-

.

To be Continued


Balas Review :

-Gha mika chiiyamada : Um, soal itu sudah terjawab di chap ini Gha-san, iya Sasu sahabat kecil Saku. Awalnya saya gak kepikiran mau masukkin Gaara, tapi tak apalah saya masukkan sedikit. Un, ini sudah update. Maaf mengecewakan. Doumo arigatou... RnR lagi ya. ^^

-Kakaru niachinaha : Lebih suka panggil Ru-san. Panggil Sky saja. Ini sudah update. Maaf mengecewakan. Un, doumo arigatou. RnR lagi ya. ^^

-saitou ayumu Uchiha : Un, doumo arigatou, ini sudah update. Maaf mengecewakan. RnR lagi ya. ^^

Sekian balasan dari saya. Doumo arigatou minna. ^^