Karena banyak sekali tugas jadi baru bisa update Chapter5, gomen ne minna-san. Terimakasih untuk review-nya. Doumo arigatou. Sekali lagi. Mohon bimbingannya minna-san... ^^


.

Warning : AU, OOC, miss typo, alur berantakan, boring, etc

Genre : Friendship/ Romance

Rate : T

Pairing : SasuSaku

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

You All Special for Me © Sky no Raven

.

.

-You All Special for Me-

.

"Jangan banyak bergerak, istirahatlah." Cegah Sasuke dengan tatapan tajam saat mengetahui Sakura bangun dari tempat tidurnya, memintanya kembali bersandar di tempat tidur.

"Aku sudah sehat Sasu-chan. Dan aku belum mengerjakan PR, besok kan sekolah." Sakura menggembungkan pipinya, terlihat kesal karena sejak tadi laki-laki raven itu melarang apa yang akan dilakukan.

"Baju seragammu di rumahku."

"Eh?" Sakura teringat akan sesuatu, mencoba mengulang dan mengolah memorinya lagi. Benar saja, ia baru ingat jika ia pulang tanpa seragam, yang ia kenakan hanyalah piyama biru tua yang sedikit kebesaran milik sang Uchiha. "Aku masih punya cadangannya!" Tambah Sakura tegas.

"Sampai kapan orang tuamu pergi?" Ucap Sasuke tak menanggapi perkataan gadis pink itu.

"Um... sampai satu minggu kedepan." Terlihat mengingat sesuatu. "Ini sudah larut malam. Sasu-chan pulang saja, besok kita sekolah, tidak mau terlambat kan?" Sakura memandang Sasuke yang duduk di samping tempat tidurnya.

"Aku tak mau pulang." Singkat dan datar.

"Eh? Kenapa?" Sakura memiringkan kepala, tanda ia tak mengerti akan ucapan itu.

"Sudah kubilang aku tak mau pulang!" Tegas Sasuke, ia memalingkan wajahnya ke arah lain, berharap Sakura tak melihatnya, entah kenapa wajahnya terasa sedikit panas.

"Sa-Sasu-chan." Terdengar lirih, Sakura masih tak mengerti dengan jalan pikiran sahabat kecilnya itu.

.

-You All Special for Me-

.

Suara cicit burung gereja terdengar mengawali pagi hari yang cerah. Sejak tadi malam Uchiha bungsu menemani gadis Haruno. Tak bisa ia pungkiri, gadis itu kini sakit karena perlakuannya. Tak ingin berhutang, ia akan bertanggung jawab sampai gadis itu pulih, setidaknya itu janjinnya sendiri dalam hati. Hari ini keduanya tak masuk sekolah, tepatnya Sasuke yang melarang Sakura agar tidak memaksakan diri karena belum sembuh. Sasuke pun menolak permintaan Sakura untuk pulang, karena ia harus merawat Sakura. Sikap seorang Uchiha yang tak akan pernah meninggalkan tanggung jawabnya. Perdebatan antara Sakura yang ingin sekolah dan Sasuke yang melarangnya pagi tadi cukup lama, namun akhirnya Sakura pasrah, perintah Sasuke benar-benar tak bisa ditentang.

"Sekarang makanlah." Sasuke menyodorkan sepiring nasi kari pada Sakura.

"Kau yang membuatnya?" Sakura memandang makanan itu tak percaya, bergantian kemudian menatap Sasuke.

"Hn."

"Kau bisa memasak Sasu-chan?" Tanya Sakura memastikan.

"Hn."

"Err... apa tak ada kata lain selain 'Hn'?"

"Hn."

Sakura tampak kesal, respon laki-laki di sampingnya itu bukanlah respon yang diharapkannya. "Apa kau ingi kulempar dengan bantal?"

"Hn."

BUKKK.

"Apa yang kau lakukan Sakura!" Sasuke menatap tajam Sakura.

Tatapan yang mengerikan, cukup menciutkan nyali Sakura yang sebenarnya masih ingin membalas Sasuke. "Eh, he-he-he. Bu-bukan apa-apa kok sungguh." Tawa dan senyumnya terkesan aneh, tak lupa dengan kedua jari membentuk huruf V. "Habisnya dari tadi kau hanya mengatakan 'Hn' saja. Itu kata yang belum pernah kubaca di kamus bahasa."

"Sekarang makan." Perintah Sasuke.

"Aku tidak mau!" Sakura memalingkan wajahnya, melipat kedua tangan di dada, masih kesal dengan sikap pemuda raven itu.

"Makan!" Lagi, namun sekarang lebih tegas.

"Uun!" Sakura menggelengkan kepalanya cepat.

"Ck, merepotkan." Ternyata benar kalimat yang sering dikatakan salah satu sahabatnya, Shikamaru. Wanita itu merepotkan, seperti sosok di hadapannya ini. Sasuke meletakkan piring nasi kari ke meja di sampingnya. "Jika kau tak mau makan... aku yang akan memaksamu dengan caraku." Sasuke mencondongkan kepalanya dekat wajah Sakura, tak ketinggalan dengan seringai andalan si bungsu Uchiha.

BUKKK.

"Kenapa kau melemparku!" Tak terima dengan perlakuan Sakura, ini kedua kalinya bantal tempat tidur itu mendarat di wajah tampannya.

"Habisnya wajahmu tadi mengerikan!" Sakura menggembungkan kedua pipinya, siap ingin melempar bantal lagi pada lawannya. Namun dengan cepat Sasuke menggenggam erat kedua pergelangan tangan Sakura, menatap kedua emerald itu dalam.

"Jadi... kau ingin aku yang menyuapi hm?" Seringai Sasuke terlihat lagi, dan kali ini lebih lebar.

'Glek'. Sakura menelan ludah. Seperti bukan sahabat kecilnya yang dulu. Sahabatnya dulu hanya mengeluarkan cengiran polos, bukan seringai. Seringai ini tak pernah muncul saat masih kecil, bahkan sedikit pun tak pernah. Tapi waktu yang cukup lama sudah mengubah segalanya, tak terkecuali sifat seorang individu. "A-aku bisa makan sendiri!" Cepat-cepat Sakura melepaskan tangannya, buru-buru mengambil nasi kari di meja sampingnya, dan memakannya dengan lahap.

Tanpa ia sadari, laki-laki di sampingnya tersenyum kecil.

.

-You All Special for Me-

.

"Sakura kemarin kau sakit apa? Bahkan dihari sebelumnya kau baik-baik saja! Apa yang terjadi padamu!" Seru Ino menyerbu Sakura yang duduk di bangkunya. "Katakan padaku, apa yang terjadi kemarin!"

"Aku hanya demam biasa, tidak apa-apa kok." Sakura tersenyum tulus pada kedua sahabatnya.

"Be-benarkah Sakura-chan?" Hinata menatap khawatir pada Sakura. Tentu saja ia khawatir, karena dirinya lah mendapat titipan menyampaikan surat ijin Sakura. Tunggu, surat ijin?

"Iya, aku sudah sembuh Hinata. Hahaha, kalian berlebihan." Sakura tak habis pikir, sahabatnya terlalu mengkawatirkan keadaannya.

"Ceritakan padaku apa yang terjadi!" Ino memandang curiga.

"Bukan apa-apa kok Ino." Sakura mengibaskan kedua tangannya cepat, ia rasa kejadian kemarin tak perlu dijelaskan pada sahabatnya satu ini, kecuali Hinata. Ya, terpaksa, Hinata tahu apa yang terjadi pada dirinya, setidaknya hanya garis besar saja.

"Jadi sekarang kau bermain rahasia padaku Sakura! Aku kan sahabatmu!" Ino menatap Sakura tak suka.

"Bu-bukan begitu... tapi..." Sakura merasa tak enak hati.

"Mu-mungkin ini privasi Sakura-chan, tak se-semua hal yang kita alami bisa diceritakan ke orang lain, bahkan sahabat sediri Ino-chan." Tutur Hinata bijak sambil menenangkan gadis aquamarine itu.

Sadar akan apa yang baru saja dilakukan, Ino segera memeluk Sakura. "Maafkan aku Sakura. Aku memang egois." Ucapnya lirih.

"Tidak apa-apa Ino, maaf aku tak bisa menceritakannya." Pelukan itu pun terlepas.

"Baiklah, tak apa. Tapi... ada satu hal untukmu Sakura." Ino tersenyum.

"Eh?" Sakura merasa de javu dengan kalimat sahabatnya. Yang pertama adalah Sasuke, dan kedua adalah sahabatnya, Ino. Sama-sama mengucapkan kalimat yang berinti sama namun dengan tujuan berbeda. Dan ia mengerti untuk kedua kalinya, ini seperti sebuah permintaan, atau perintah?

Setelah percakapan mereka selesai, sepertinya mereka berniat menuju kantin.

"Ayo ke kantin! Perutku sudah memberontak dari tadi." Seru Ino pada kedua sahabatnya.

"Se-sepertinya tadi Ino-chan sudah makan."

"Ah. Tadi kan energiku habis setelah pelajaran Hinata. Jadi sekarang harus diisi lagi. Aku tak mau konsentrasiku terganggu." Bela Ino.

"Ta-tapi tadi, a-aku lihat Ino-chan melamun," Hinata menerangkan apa yang dilihatnya saat jam pelajaran guru Kurenai berlangsung.

"Eh? Benarkah?" Sakura tampak tak percaya, ia belum pernah melihat Ino melamun, saat jam pelajaran pun biasanya Ino tetap memperhatikan guru, atau kadang mencoret-coret tak jelas di bukunya. "Ada masalah apa Ino?"

"Bu-bukan apa-apa kok!" Ino buru-buru melihat ke arah lain. "Ayo cepat ke kantin! aku sudah lapar." Ino segera berjalan keluar kelas.

"Sakura-chan ayo ke sana." Ajak Hinata yang sudah berdiri di samping meja Sakura.

"Um, aku ada urusan. Hinata duluan saja."

Mengerti akan apa yang diucapkan Sakura, dengan anggukan kecil dan senyumnya, Hinata akhirnya meninggalkan kelas itu. Sakura segera mengambil kotak bekal dalam tas sekolahnya. Kotak bekal berwarna biru tua, dengan motif guguran bunga sakura berwarna putih dan sedikit semburat merah muda. Terkesan cantik. Sakura tersenyum memandang kotak bekal dalam genggamannya. Tak membuang waktu lagi, ia berdiri dan melangkahkan kaki ke suatu tempat.

.

-You All Special for Me-

.

Gadis musim semi itu kini tengah sampai di atap gedung sekolah. Tempat strategis untuk menenangkan pikiran. Kepalanya menoleh ke segala arah. Setelah mendapatkan apa yang dicari, Sakura berjalan mendekat ke tempat itu. Tampak sosok tengah berbaring di sana, dengan kedua tangan menjadi tumpuan kepalanya untuk tidur. Terlihat nyaman. Sakura pun duduk bersimpuh di samping sosok itu, dan meletakkan kotak bekal di pangkuannya.

"Sasu-chan. Ini aku bawakan bekal." Ucap Sakura sambil mengguncang pelan bahu Sasuke yang masih terbaring.

Tak ada tanggapan.

"Sasu-chan... bangunlah!" Seru Sakura, mengguncang bahu itu lagi.

"Berisik Sakura." Akhirnya terdengar juga respon dari pemuda di sampingnya.

"Habisnya kau tak mau bangun!" Sakura memasang tampang kesalnya.

Tetap sama, tak ada pergerakan lain dari si pemilik marga Uchiha. Mulai bosan dengan sikap seperti itu, Sakura tak ingin membuang waktu. Ditariknya lengan kekar itu.

"Bangun Sasu-chan! Atau kau ingin kulempar sepatu!" Serunya dengan tetap menarik lengan itu. Tak sia-sia, Sasuke perlahan bangun.

"Ck, berisik." Decih Sasuke masih menatap Sakura malas.

"Itu kan karena sikapmu." Sakura menjulurkan lidahnya, kemudian kembali memasang wajah kesal.

"Dari mana kau? Kukira akan ingkar lagi."

"Hehehe. Maaf Sasu-chan." Terlihat cengiran polos Sakura, terkesan manis di mata pemuda itu. Benarkah?

"Ah, iya, ini seperti permintaanmu, aku bawakan kue buatanku sendiri!" Disodorkan langsung kotak bekal berisi kue itu pada Sasuke.

"Benar ini buatanmu?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya, merasa tak yakin, kue di hadapannya memang sama dengan waktu pertama kali ia lihat.

"Tentu saja! Kau tak percaya?" Tegas gadis itu. "Sekarang coba rasakan." Kembali menyodorkan kotak bekal itu.

Tanpa ragu lagi Sasuke mengambil sepotong. Kue cokelat berbentuk persegi, dengan potongan cokelat putih di tengahnya, tak ketinggalan dengan krim putih dan serpihan caramel di atasnya, sekali kunyah terasa lumer jadi satu. Tak terlalu manis, pas di lidah Sasuke. Yang ia rasakan, sepertinya lebih enak daripada yang ia cicipi sebelumnya.

"Bagaimana rasanya?" Sakura menatap Sasuke dengan pandangan berbinar, berharap respon yang akan diberikan Sasuke sesuai dengan harapan.

Dengan kunyahan terakhir, Sasuke menelan kue cokelat itu. "Lumayan." Ucapnya datar.

"Apa-apaan responmu itu? Seperti tak ikhlas mengatakannya!" Sakura menggembungkan pipinya, itu yang biasa ia lakukan jika sedang kesal.

Sasuke tak tahan melihat tingkah Sakura. "Kau seperti anak kecil." Dicubitnya kedua pipi Sakura.

"Apha hyang khao hakkukhan! Hlephaskhan akhu! (Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!)" Seru Sakura tak jelas, kedua tangan Sasuke masih mencubit pipinya. "Sakit Sasu-chan! Lihat pipiku jadi merah tahu!" Serunya lagi sambil mengelus pipinya yang panas akibat cubitan tadi.

"Maaf." Sasuke ikut mengelus pipi sebelah kiri Sakura. "Sudah tidak sakit kan?" Terdengar lirih, tapi tersirat penyesalan disana.

"Un, sudah tidak apa-apa." Kini Sakura tersenyum manis. "Um, Sasu-chan?"

"Hn." Tersadar akan sesuatu, cepat-cepat ditarik kembali tangannya dari pipi Sakura. Entah kenapa terasa ada sengatan.

"Baiklah, ayo kita makan kuenya sama-sama Sasu-chan!" Sakura mengambil sepotong kue yang tadi sempat terlupakan.

"Jangan memanggilku dengan nama seperti itu!" Tegas Sasuke.

"Eh? Memangnya kenapa?"

"Itu panggilan saat aku masih kecil Sakura."

"Memang apa salahnya?" Sakura memiringkan kepalanya.

"Aku bukan anak kecil lagi!"

"Menurutku itu panggilan yang manis." Terang Sakura dengan tampang innocent. Sepertinya ia tak tahu kalimat sederhana itu bisa membangunkan serigala yang tertidur. Sama seperti situasi saat ini, apalagi kalimat 'manis' yang ditujukan Sasuke pada Sakura.

"Apa kau ingin aku melakukan sesuatu padamu hm?" Sasuke mendekatkan kepalanya, seringai mengerikan itu muncul kembali. Reflek Sakura memundurkan kepala.

"Ti-tidak usah Sasu... ke." Ucap Sakura gugup. Sosok di depannya benar-benar mengerikan dengan tampang seperti itu.

Keduanya kembali memakan bekal yang dibawa Sakura. Tak mereka sadari ada tiga pasang mata yang memperhatikan mereka dengan pandangan yang berbeda-beda.

.

-You All Special for Me-

.

Di waktu istirahat lapangan basket Konoha Gakuen memang tak pernah sepi, selalu terlihat siswa-siswa yang memainkan bola basket dengan antusias. Tak ketinggalan dengan para siswi yang menyoraki selama permainan, tak sedikit siswi yang akan berteriak histeris meneriakan nama pemain favorit mereka. Tampak di bangku taman yang kosong tak jauh dari lapangan basket, terlihat pemuda bertato kanji Ai duduk di sana.

"Kau tak meridukanku Gaara?" Suara yang sangat familiar tertangkap panca inderanya.

"Untuk apa." Balas Gaara datar, tanpa melihat siapa yang datang.

Sosok itu ikut duduk di samping Gaara. "Seminggu ini aku mendapat tugas penelitian dari sekolah. Dan baru kemarin aku kembali." Sosok itu tersenyum. "Kemarin aku tidak melihatmu. Kemana saja kau?"

"Bukan urusanmu."

"Jangan terlalu dingin jadi orang. Yang tak tahan bisa beku kapan saja hanya dengan melihatmu. Mungkin mendegar namamu." Sosok itu memandang ke atas, melihat biru dan tenangnya langit saat ini. "Kau seperti bukan Gaara yang kukenal." Sambungnya.

"Apa maksudmu?" Pandangan Gaara tertuju pada sosok yang sejak tadi diacuhkan.

"Kau..."

.

-You All Special for Me-

.

To be Continued


Balas Review :

-saitou ayumu Uchiha : Benarkah, doumo arigatou Saitou-san, gomen ne baru update. Maaf mengecewakan. RnR lagi ya. ^^

-Sindi 'Kucing Pink : Salam kenal juga Sindi-san. Gomen ne baru update. Um, doumo arigatou. Tak menyangka respon sama sifatnya Sasu. Di chapter ini sudah terjawab soal perkataan Sasu kan. Maaf mengecewakan. RnR lagi ya. ^^

-uchiharuno phorepeerr : Gomen ne baru update. Sepertinya untuk kali ini belum jadi permintaan Sasu, sudah terjawab kan permintaan Sasu di sini. Maaf mengecewakan Uchiharuno-san. Doumo arigatou. RnR lagi ya. ^^

-Kakaru niachinaha : Gomen ne baru update. Benarkah, doumo arigatou Ru-san. Dan maaf jika mengecewakan lanjutannya. RnR lagi ya. ^^

-Gha mika chiiyamada : Benarkah, doumo arigatou. Gomen ne baru update Gha-san. Um, soal Gaara suka Saku atau tidak akan terjawab di Chap selanjutnya. Maaf mengecewakan. RnR lagi ya. ^^

Sekian. Doumo arigatou minna. ^^