Maaf sekali untuk keterlambatan update. Chapter 6 update. Dan terimakasih banyak untuk RnR sebelumnya.

Sekali lagi mohon bimbingannya Minna-san. ^^

.

.

Warning : AU, OOC, miss typo, alur berantakan, boring, etc

Genre : Friendship/ Romance

Rate : T

Pairing : SasuSakuGaa

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

You All Special for Me © Sky no Raven

.

.

-You All Special for Me-

.

Bel pulang sekolah sudah berdering beberapa menit yang lalu. Tampak para murid berhamburan keluar kelas. Tak terkecuali gadis bubble gum itu. Sudah beberapa hari sejak kepindahannya, dan kejadian-kejadian tak terduga selalu menimpanya. Namun setidaknya hal yang kini ia rasakan adalah sesuatu yang ia harapkan. Bertemu dengan sahabat sekaligus tetangga masa kecilnya, Gaara. Bersahabat dengan Ino dan Hinata. Dan yang lain adalah pertemuan dengan seseorang yang ternyata adalah sahabat kecil, yang bahkan ia ingkari janjinya, Sasuke. Mengingat beberapa kejadian semenjak ia tinggal di Konoha memberikan sense tersendiri pada Sakura, dan itu membuatnya tertawa kecil diperjalanan menuju gerbang sekolah.

"Sakura." Terdengar suara seseorang, tidak, dua orang memanggil namanya secara bersamaan.

"Eh?" Sakura mencari dua sumber suara itu. Dan yang ia lihat adalah... Sasuke dan Gaara?

Keduanya saling menatap saat sampai di dekat Sakura, pandangan dingin sekaligus tajam saling mereka tujukan pada lawan, terlihat tak suka satu sama lain. Masih terdiam, tak ada yang angkat bicara. Siswa-siswi yang melihat kejadian itu menghentikan aktivitas, seperti baru melihat tontonan yang langka. Dua mahkluk tampan namun dingin dan dipuja sebagai pangeran Konoha Gakuen, bertemu dalam satu waktu dan saling menatap. Dingin bertemu dingin, Berapa minus derajat yang dihasilkan?

"Um, tadi Sasuke dan Gaara memanggilku, ada apa?"

Terdengar suara lembut Sakura memasuki pengdengaran keduanya, dan itu sukses mengalihkan mereka dari keadaan sebelumnya.

"Aku ada perlu denganmu." Kembali keduanya mengucapkan hal yang sama secara bersamaan. Dan kembali pula, keduanya memberikan tatapan tak suka.

"Itu..."

"Sakura-chan!" Suara keras memotong ucapan Sakura. Sosok itu mendekat dan berdiri di samping Gaara. Dan kemudian secara tiba-tiba memeluk Sakura.

"Eh!" Tentu saja hal ini membuat Sakura kaget, tak terkecuali dua pangeran itu. Pandangan membunuh kini mereka tujukan pada sosok tadi.

Teringat akan sesuatu, meskipun masih ragu. "Sa-Sai?" Ucap Sakura akhirnya.

"Ya, ini aku Sakura-chan!" Sai menatap Sakura dengan senyum tulusnya.

Benar-benar hal yang tak terduga lainnya. Rasa rindu yang meluap sekarang melebur.

"Sai!" Gantian Sakura yang memeluk sosok tadi. "Aku merindukanmu." Sakura melepas pelukannya.

"Yah, padahal aku masih ingin dipeluk." Dengan wajah yang dibuat kecewa Sai menatap sekilas dua pemuda di dekatnya. 'Menarik kan?' Batinnya dalam hati. "Aku juga merindukanmu Sakura-chan." Senyum tulus Sai kembali ditujukan pada Sakura.

"Um, tadi Sasuke dan Gaara ada apa?" Tanya Sakura kembali teringat akan keberadaan keduanya. Sempat terabaikan karena kedatangan seorang Sai Shimura? Kasihan sekali.

"Ada perlu denganmu Sakura." Lagi-lagi mengucapkan hal yang sama.

"Hei, sepertinya kalian berdua jodoh." Untuk kali ini Sai memberikan senyum pada keduanya. Tapi yang terlihat adalah senyum yang memuakan dimata si bungsu Uchiha dan si bungsu Sabaku. Untuk Gaara senyum itu sudah biasa, namun dalam kondisi seperti ini, senyuman itu terkesan lebih menyebalkan dari yang sebelumnya ia lihat. Ya, Sai adalah sahabat Gaara.

"Tapi maaf, hari ini Sakura-chan ada perlu denganku." Dengan tetap mempertahankan senyumnya Sai menggandeng Sakura dan secara sepihak menariknya keluar gerbang.

"He-hei Sai! Bagaimana dengan mereka?" Seru Sakura dengan posisi masih ditarik Sai.

"Tidak apa-apa, kau tak perlu khawatir." Sai hanya tersenyum kecil.

.

-You All Special for Me-

.

"Sebenarnya Sai ada perlu apa dengaku?" Kini Sakura dan Sai duduk di sofa ruang keluarga , keduanya berada di rumah Sakura sekarang.

"Tidak ada." Jawab Sai simpel dengan senyum kecilnya. Sakura yang mendengarnya hanya menatap tak percaya.

"Apa-apaan itu Sai! Kau tetap menyebalkan seperti dulu." Sakura menatap tak suka, menggembungkan pipinya dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada, seperti yang biasa ia lakukan saat marah.

"Kau juga tetap menggemaskan seperti dulu Sakura-chan." Wajah Sakura yang sedang marah, malah terkesan lucu.

"Aku sudah tahu apa yang akan kau lakukan." Sakura menutup mukanya dengan bantal sofa. Ia tahu apa yang selanjutnya Sai lakukan setelah mengucapkan kata 'menggemaskan', mencubit pipinya, ya itu kebiasan Sai. "Dan untuk kali ini aku tak akan membiarkannya." Sakura menjulurkan lidahnya di depan Sai dengan tetap membawa bantal sebagai tameng.

"Hahaha... begitu ya. Sayang sekali, padahal tanganku sudah gatal." Sai tertawa melihat tingkah Sakura.

"Gatal untuk mencubitku! Bahkan kau selalu mencubit pipiku sampai merah. Lebih baik aku tadi mendengarkan ucapan Sasuke dan Gaara daripada harus pulang dan berada di sini bersamamu."

"Jadi kau tak suka bertemu denganku Sakura-chan?" Kembali Sai memasang tampang kecewanya.

"Bukan begitu, tapi sepertinya tadi ada hal yang ingin dibicarakan Sasuke dan Gaara." Ia mengingat kembali, wajah serius dari keduanya. Sakura merasa bersalah meninggalkan mereka tanpa mengucapkan sepatah kata.

"Seharusnya kau berterimakasih padaku." Kalimat sederhana namun terdengar dalam.

"Apa maksudmu?" Ia benar-benar tak mengerti jalan pikiran pemuda satu ini.

Sai hanya tersenyum simpul, menatap langit yang terlihat teduh dari jendela rumah kediaman Haruno. 'Kau tak mengerti Sakura-chan. Kau tak mengerti.' Ucapnya dalam hati.

.

-You All Special for Me-

.

"Ke-kenapa kau melihatku seperti itu Ino?" Entah mengapa, ia merasa sejak tadi Ino memperhatikannya dengan pandangan menyelidik.

"Benarkah? Hahaha... mungkin perasaanmu saja Sakura." Ketiga sahabat itu sekarang berada di bawah pohon, taman di sekolah mereka. Tempat yang cocok untuk makan bekal atau hanya untuk beristirahat. Apalagi dengan suasana yang lebih nyaman di sini, bisa menenangkan pikiran.

"Se-sepertinya ada yang ingin dikatakan Ino-chan." Hinata yang sejak tadi mendengarkan kedua sahabatnya, akhirnya ikut menanggapi.

"Baiklah." Dengan diawali helaan napas, Ino melanjutkan. "Ada hubungan apa kau dengan Sasuke?" Tatapan intens Ino kembali muncul.

"Eh? Apa maksudmu?" Tanyanya dengan tampang innocent.

"Aku melihatnya. Kemarin kau makan bekal bersama Sasuke di atap sekolah kan?" Sorot mata Ino kini lebih intens.

"Eh? Itu..." Sakura tak mengira sahabatnya Ino mengetahui akan hal itu.

"Yang kulihat saat pertama kalian bertemu sungguh tak bersahabat, bahkan tak kenal. Tapi baru kedua kalinya aku lihat, dan kalian tiba-tiba saja sudah makan bekal bersama! Apa yang sebenarnya terjadi!" Sepertinya kali ini Ino ingin menghakimi Sakura. Menuntut penjelasan yang sejelas-jelasnya.

"Te-tenanglah Ino-chan."

"Bagaimana aku bisa tenang Hinata. Kau lihat sendiri sahabat kita menyembunyikan sesuatu!"

"Ma-maaf Ino. Bukanya aku bermaksud menyembunyikan hal ini." Sakura hanya bisa menunduk.

"Lalu apa? Sekarang jelaskan!"

"Baiklah." Sakura mengalah, toh tak ada yang salah ataupun dirugikan jika Ino meminta penjelasannya. "Itu karena aku mengingatnya kembali. Sasuke adalah sahabat kecilku. Waktu itu aku ikut kunjungan ayah ke rekan kerjanya di Konoha. Dan saat itu aku bertemu Sasuke di taman, saat berumur enam tahun. Namun hanya tiga bulan aku dan ayah berada di Konoha. Kami akhirnya berpisah. Sebelas tahun itu bukan waktu yang singkat. Waktu juga mengubah diri setiap mahkluk hidup kan."

"Ja-jadi?" Seperti petir di siang yang cerah. Ino hanya bisa menatap tak percaya.

"Ya, kami sahabat yang lama tak bertemu. Pertama kali melihat Sasuke di sekolah ini, aku tak menyadari kalau dia adalah Sasuke sahabatku. Tapi karena waktu itu..." Sakura mengingat kembali pertemuannya dengan Sasuke di depan supermarket, panggilan itu 'Saku-chan' hanya satu orang dalam hidup yang memanggilnya demikian, mimpi-mimpi masa kecil yang tiba-tiba muncul dalam tidurnya, juga akan janji yang ia ingakri.

"Begitulah yang sebenarnya." Sakura mengakhiri ceritanya.

"Ja-jadi, Hinata sudah tahu akan hal ini? Jadi, hanya aku yang tidak tahu?" Ino tak suka, hanya dirinya yang tertinggal kabar akan sahabatnya.

"Aku minta maaf Ino. Sebenarnya, aku juga perlu berterimakasih padamu Ino. Seandainya waktu itu kau tidak mengajakku ke perpustakaan, mungkin tak akan begini jadinya." Ungkap Sakura kemudian.

"A-apa maksudmu?"

"Waktu di perpustakaan aku tak sengaja melihat Hinata bicara dengan seseorang. Karena itulah aku minta alamat Sasuke pada Hinata."

"Mengapa kau minta alamatnya pada Hinata?"

"Karena waktu di perpustakaan Hinata sedang bicara dengan Naruto. Ya kan Hinata?" Sakura tersenyum pada Hinata, meminta untuk meyakinkan Ino.

"I-iya, waktu itu aku se-sedang bicara dengan Naruto-kun." Tampak jelas pipi Hinata merona.

"Lalu apa sangkut pautnya bicara dengan Naruto?" Tanya Ino kembali.

"Tentu saja karena hal itu, sekarang aku tahu, Hinata berhubungan dengan Naruto. Bukankah Naruto teman dekat Sasuke? Dengan bertanya pada Hinata, setidaknya Hinata akan bertanya pada Naruto perihal alamat Sasuke."

"Apa hubungan Hinata dan Naruto?" Ino masih tak mengerti akan hal ini.

"Eh? Kau belum tahu ya? Hinata kan pacarnya Naruto." Jelas Sakura dengan tampang innocent.

"Oh, Naruto Uzumaki sahabat Sasuke Uchiha itu." Ino kembali memproses keterangan yang baru didapatnya. Tenang. Tak ada suara yang keluar. "APA! KALIAN PACARAN!" Seru Ino pada akhirnya setelah baru bisa menyerap seluruh rangkain penjelasan tadi.

"Kalian..."

Ino menatap horor kedua sahabatnya. Berbeda dengan kedua sahabatnya yang hanya bisa tersenyum aneh sekaligus was-was melihat reaksi Ino, hanya bedanya wajah Hinata kini terasa sangat panas, apalagi Ino baru saja mengucapkan kalimat itu dengan keras.

.

-You All Special for Me-

.

Mendapat perintah dari guru untuk mengembalikan beberapa buku ensiklopedia sendiri memang bukan hal mudah. Di sinilah ia, Haruno Sakura. Berusaha keras menjaga keseimbangan tubuhnya membawa buku-buku tebal itu, untuk dikembalikan ke perpustakaan. Perpustakaan? Ia ingat saat pertama kali bersama Ino ke sana. Ya, perpustakaan di lantai tiga. Sakura hanya sendiri, sedangkan kedua sahabatnya sedang ada perlu. Kau perlu berjuang keras eh Sakura?

"Berat sekali." Tangannya mulai terasa keram, siap menjatuhkan buku-buku itu sebelum...

"Perlu bantuan." Baritone yang familiar terdengar dekat di belakangnya. Tangan kekar itu mengambil tiga ensiklopedia dari empat yang dibawa Sakura.

"Sasuke?"

"Lebih cepat pergi, lebih cepat sampai."

"I-iya, terimakasih." Sakura mengikuti Sasuke dari belakang.

Setelah mengembalikan buku di perpustakaan, keduanya berjalan beriringan di koridor sekolah.

"Sasuke?"

"Hn?"

"Entah cuma perasaanku atau tidak, kenapa mereka melihat kita seperti itu."

Sasuke pun memperhatikan sekitar. Benar saja, sebagian besar siswi di sana memandang keberadaan keduanya dengan pandangan curiga. Sasuke pun sudah tahu sejak dulu. Banyak siswi yang mengidolakannya, bahkan sering ia dapati surat cinta di rak meja dalam kelasnya. Namun, Sasuke tak menangapi semua hal itu. Ia pikir tak ada gunanya. Terkadang ia merasa lelah, namun seiring berjalannya waktu, itu sudah jadi hal biasa. Teriakan-teriakan fansgirl-nya, surat-surat cinta tak penting, hadiah ataupun cokelat yang selalu ia dapat saat ulang tahunnya dan saat Valentine. Dan tak jarang, ia berikan semua pemberian itu pada sahabatnya Naruto dan Shikamaru. Tanpa diberi pun Naruto akan mengambilnya sendiri dengan senang hati.

"Biarkan saja." Ucap Sasuke datar yang kemudian menggenggam tangan Sakura.

"Eh?" Sakura memperhatikan tangannya, dan berbalik menatap Sasuke.

"Tidak apa-apa kan?" Pemuda itu tersenyum tipis. Meski hanya tipis, sepertinya memberi dampak besar. Coba tengok siswi-siswi yang melihat senyum pangeran Uchiha tadi. Meneriakan nama Sasuke dengan hati berbunga-bunga, dan terkesan fanatik. Bahkan sampai ada yang mimisan dan pingsan.

"I-iya." Sakura baru tersadar akan apa yang terjadi di sekitarnya. "Ke-kenapa mereka?"

"Biarkan saja." Ucap Sasuke datar, kembali menarik Sakura meninggalkan tempat itu.

Mereka telah sampai di depan kelas Sakura.

"Terimakasih sudah membantuku Sasuke." Sakura akan masuk ke kelas jika saja tak ada tangan yang menggenggam pergelangan tangannya.

"Besok kau ada acara?"

"Um, besok, tidak ada."

"Akan kujemput jam sembilan. Nanti sepulang sekolah, bisa temui aku di atap sekolah?"

"Baiklah. Memangnya ada apa?" Sakura tak mengerti.

"Rahasia." Sasuke tersenyum. "Aku pergi dulu." Setelah mengusap kepala Sakura, Sasuke melangkah meninggalkan tempat itu.

"Sakura, tak kusangka Sasuke orang yang romantis. Aku iri padamu."

"I-Ino!" Sakura kaget, bagaimana tidak, tiba-tiba terdengar suara yang dalam tepat di belakangnya. Sakura bersyukur, asal suara itu bukan Sadako.

.

-You All Special for Me-

.

"Sakura, ayo kita pulang sama-sama!" Ajak Ino bersama Hinata yang berada di sampingnya.

"Um, kalian duluan saja. Aku ada urusan." Senyum simpul ia berikan pada kedua sahabatnya.

"Oh, sepertinya kami juga ada keperluan lain. Ayo Hinata kita pulang." Ino mengajak dengan kedipan mata. Hinata mengerti hal itu.

"Ba-baik Ino-chan. Kami duluan Sakura-chan." Selanjutnya Ino menarik Hinata untuk keluar kelas.

"Iya, hati-hati Ino, Hinata." Balas Sakura.

"Yang seharusnya hati-hati itu kau Sakura. Berhati-hatilah dengan pangeranmu. Hahaha..." Ucap Ino berusaha menggodanya.

"A-apa maksudmu? Hei!" Sebelum mendapat jawaban dari pertanyaannya, sepertinya dua siswi itu telah menghilang. "Oiya, Sasuke kan memintaku ke atas atap."

Segera saja Sakura melangkahkkan kakinya ke tempat yang telah dijanjikan. Setelah sampai di atap ia mencari sosok Sasuke. Tapi sepertinya tak ada tanda-tanda kehidupan.

'Mungkin ada urusan. Akan ku tunggu.' Sakura mengambil tempat duduk dan bersandar ditembok atap sekolah, tempat yang nyaman untuk beristirahat dan menunggu Sasuke pikirnya. Tak seperti yang dirasakan, sepertinya bukan hanya dirinya yang ada di atas sekolah. Mulai terdengar suara berlawanan arah dengan posisi dimana ia berada, sisi lain dari atap sekolah. Suara... anak perempuan?

"Ku-kumohon, terimalah aku." Suara lirih seorang siswi mengawali situasi yang tenang sebelumnya.

'Dia bicara dengan siapa?' Bantin Sakura. Sakura tak berani mengintip, ia tetap pada posisinya.

Tak ada jawaban dari lawan bicara.

"Su-sudah lama aku menyimpan perasaan ini. Ja-jadi to-tolong terima aku."

'Eh? Pernyataan cinta?' Sakura tetap mendengarkan suara itu.

Tetap tak ada jawaban.

"I-ini, aku membuat co-cokelat ini khu-khusus untukmu. A-aku harap ka-kau mau mencicipinya meski sedikit." Dengan malu-malu siswi itu menyerahkan sekotak cokelat pada lawan bicaranya.

PLAK.

"Aku tak suka." Dengan ringannya pemuda itu menolak, bahkan menjatuhkan kotak itu ke lantai atap sekolah. Hal itu tentu saja membuat hati siswi itu hancur. Cokelat yang susah payah ia buat, khusus untuk sosok di hadapannya, jatuh dan berceceran begitu saja.

"Ke-kenapa? Hiks. A-aku sangat menyukaimu. Hiks. Aku cukup cantik, aku kaya, kau bisa meminta apa saja padaku, hiks, apa yang kurang dariku?" Tangis mulai pecah dari siswi tadi. Namun pemuda itu sepertinya tetap tak luluh hatinya.

"Aku tak serendah itu." Tegas, dingin sekaligus tajam terasa memasuki gendang telinga.

"Ta-tapi kenapa?" Tanya siswi itu lagi.

"Karena aku tak suka, dan... sudah ada orang lain yang kusukai." Kalimat terakhir yang terdengar lebih dingin dari sebelumnya, dan kali ini benar-benar merusak, menghancurkan, dan mengoyak hati siswi itu. Tak kuat dengan pernyataan dari orang yang disukainya, siswi itu pun berlari pergi dengan berurai air mata. Perasaannya kacau.

Saat menuju pintu atap, untungnya tak memperhatikan keberadaan Sakura di sana.

'Eh? Siswi itu menangis?'

Sakura berdiri dari posisinya, mencoba melihat ke tempat yang sebelumnya menjadi tempat siswi tadi. Ia melihat sosok berdiri tegap di sana. Mata mereka berdua bertemu.

'Ke-kenapa?' Sakura tak percaya dengan yang dilihatnya.

.

-You All Special for Me-

.

To be Continued

Balas Review :

-Gha mika chiiyamada : Um, entah mengapa saya suka membuat Saku dengan karakter seperti itu. Iya, yang melihat scene di atap salah satunya Gaara, dan masih ada dua orang lainnya. Yang ngobrol sama Gaara, itu sahabatnya, di chap ini sudah bisa ditebak siapa sahabat Gaara. Tidak apa-apa dan maaf baru update sekarang. Terimakasih banyak atas review-nya Gha-san. ^^

-Kakaru niachinaha : Terimakasih dorongannya. Maaf baru sekarang update, setelah satu bulan lebih tidak di update. Terimakasih banyak Ru-san. ^^

-Ria-Chan : Salam kenal juga Ria-san. Yang mengintip itu ada tiga orang, semua murid di sini, sudah bisakah ditebak siapa. Um, mungkin kalau dijelaskan secara langsung rasa penasaran pembaca kurang. Yang bicara dengan Gaara itu sahabatnya, di chap ini sudah bisa ditebak ya. Terimakasih banyak review-nya Ria-san. ^^

Sekian, RnR lagi Minna-san. Arigatou. ^^