Setelah sedikit terbebas dari tugas sebulan kemarin, jadi bisa update. Terimakasih untuk RnR sebelumnya. Chapter 7 Update.
Sekali lagi, mohon bimbingannya Minna-san. ^^
.
Warning : AU, OOC, miss typo, alur berantakan, boring, etc
Genre : Friendship/ Romance
Rate : T
Pairing : SasuSakuGaa
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
You All Special for Me © Sky no Raven
.
.
-You All Special for Me-
.
'Ke-kenapa?' Sakura melangkah mendekat kearah pemuda itu.
"Kenapa kau lakukan itu Gaara?" Tanya Sakura hati-hati pada pemuda tadi. Dilihatnya cokelat yang tercecer di lantai atap gedung sekolah.
"Memandang rendah, dan aku memang tak suka." Terdengar dingin seperti sebelumnya.
"Tapi, setidaknya kau tak perlu sekasar itu kan." Sakura berjongkok membersihkan ceceran cokelat, ia masukkan ke kotak cokelat yang sebelumnya. "Sayang sekali." Ditutupnya kotak itu. "Kau tak seperti Gaara yang kukenal."
Tak ada tanggapan. Keduanya saling diam, menatap langit kosong kali ini.
"Meskipun kau tak menyukainya dan dia bersikap kurang menyenangkan bagimu, sepertinya kau perlu minta maaf."
"Untuk apa?" Gaara tak mengerti, mengapa ia harus minta maaf? Rasanya ia tak punya salah.
"Kau menjatuhkan cokelat buatannya. Dan kau menanggapinya dengan dingin."
"Apa itu salah?"
"Jelas salah! Hargailah orang lain, jika tak suka tak perlu sampai menjatuhkannya. Bicaralah padanya tanpa emosi tak bersahabat seperti tadi. Apa kau tak mengerti Gaara? Wanita lebih lunak daripada laki-laki, itu sebabnya wanita lebih mudah berubah jika ada yang terjadi pada perasaannya. Jika kau tak suka, tolaklah dengan cara yang baik, bukan dengan menyakiti perasaannya."
Gaara memperhatikan Sakura, ia bahkan tak begitu mengerti, atau memang tak peduli tentang perasaan orang lain, kecuali orang-orang yang sudah dikenalnya dengan baik. Selama ini dia bersikap dingin, dan akan lebih dingin jika berhadapan dengan gadis-gadis yang menyatakan cinta padanya. Ia benar-benar risih dengan semua itu. Tapi setelah mendengarkan penjelasan Sakura, sedikit ia mulai paham.
"Terimakasih Sakura." Ucapnya, melihat langit yang mulai cerah.
Sakura menoleh ke pemuda bertato kanji Ai di sampingnya. "Tak perlu berterimakasih padaku. Yang penting kau tak mengulangi hal buruk tadi."
"Akan kucoba."
"Anak pintar." Pujinya sambil menepuk-nepuk pelan kepala Gaara.
"Hei!" Gaara tak suka dengan perlakuan Sakura.
"Hahaha. Masih seperti waktu dulu." Sakura teringat, Gaara tak suka dibilang seperti itu dan ditepuk kepalanya.
"Aku bukan anak kecil lagi!"
"Haha. Baiklah." Jika diperhatikan ia rasa sifat Gaara sama seperti sahabat kecilnya yang lain. Seperti Sasuke. "Pasti banyak yang menyatakan cinta padamu, kenapa tidak kau terima salah satu dari mereka Gaara?"
"Pertanyaan bodoh." Gaara mendengus.
"Hei, aku kan cuma tanya. Apa kau mau single seumur hidup?"
"Sudah ada orang yang kusuka." Jawab Gaara enteng.
"Eh! Benarkah? Siapa? Ceritakan padaku!" Kali ini Sakura menatap Gaara lekat dengan wajah berbinar sekaligus penasaran. Wajah yang malah terlihat sangat menggemaskan di mata Gaara.
'Tentu saja kau! Apa kau tak merasa Sakura?' Batinnya, Gaara pasrah akan kepolosan gadis di sampingnya, gadis musim semi yang tak sadar telah mengikat hati si pemuda, dengan kepolosan dan kebaikan hati, selalu membuat perasaan pemuda itu nyaman jika berada di dekatnya.
.
-You All Special for Me-
.
Diwaktu yang sama dan tempat berbeda.
Terlihat dua pemuda dengan gaya rambut yang berbeda berlarian di koridor sekolah.
"Hei! Lepaskan aku Dobe!" Sejak beberapa menit lalu tangan pemilik raven itu ditarik oleh sosok blonde di depannya.
"Cepatlah Teme! Kalau tidak kita akan mati!" Seru Naruto tetap menarik Sasuke, fokus kedepan.
"Itu salahmu sendiri! Kenapa kau ikutkan aku!" Saat pelajaran terakhir tadi ada sedikit masalah. Naruto lupa mengerjakan PR yang diberikan oleh Guru Kurenai. Guru yang sangat disiplin, apa yang dilakukan Naruto sudah pasti ada resikonya. Selain disuruh mengerjakan PR itu, Naruto juga diberi tugas untuk membantu, lebih tepatnya menggantikan petugas perpustakaan untuk menata buku-buku baru di rak, sekaligus membersihkan perpustakaan.
"Karena kau sahabatku yang paling baik Teme! Makanya kau yang kuajak."
"Seharusnya aku tak bersahabat denganmu." Jawab Sasuke ketus.
"Kau kejam Teme, padahal selama ini aku selalu ada untukmu. Aku selalu di dekatmu, memberimu semangat dalam kehidupanmu yang dingin bagai Antartika, kubagi kehangatan di hari-harimu yang suram layaknya wajah Guru Orochimaru." Ucapnya sambil mengusap matanya dengan sebuah sapu tangan, menatap sedih pada Sasuke. "Dan juga kuberi..."
"Hentikan tingkah bodohmu Dobe!" Jitakan sukses mendarat di kepala durian milik Naruto, sekaligus memotong kalimatnya.
"Aw! Kau memang kejam!" Naruto sibuk mengusap kepalanya, lumayan juga tenaga Sasuke.
"Cepat, aku tak mau membuang waktu." Sasuke meninggalkan sahabatnya.
"Kyaaa! Sasuke-kun memang baik!" Seru Naruto dengan gaya fansgirl bungsu Uchiha dan mengikuti langkah tegap itu.
'Menjijikkan.' Dengus Sasuke.
Sampailah di perpustakaan, tanpa membuang waktu keduanya langsung mengerjakan tugas mereka, sebenarnya hanya tugas Naruto, namun ia memaksa Sasuke membantunya. Sekali-sekali meringankan penderitaan sahabat tidak salah kan Sasuke?
"Kenapa tidak kau lakukan sendiri Dobe." Sasuke mendengus kembali.
"Kalau ada yang bantu akan cepat selesai, apalagi hari ini aku ada janji dengan Hinata-chan. Jadi aku tidak mau Hinata-chan lama menunggu." Terangnya dengan cengiran seperti biasa.
'Kau juga membuat seseorang menungguku Dobe.' Sasuke ingat, sebelumnya ia meminta Sakura ke atap sepulang sekolah. Memikirkan itu, Sasuke tak enak hati.
"Hei! Apa yang kau pikirkan Teme?" Suara cempreng Naruto membangunkannya.
"Hn." Jawaban seperti biasa, singkat dan datar.
"Kau melamun eh?"
"Hn."
"Huh! Sok irit bicara!"
"Cepat selesaikan atau kutinggal." Sasuke menatap tajam dengan mata elangnya.
"Eh, i-iya-iya." Luruh juga keberanian Naruto.
.
-You All Special for Me-
.
Diwaktu yang sama dan tempat berbeda lainnya.
Sosok gadis dengan mata lavender tengah duduk di taman sekolah. Sesekali ia memperhatikan penunjuk waktu di ponselnya.
"Hei Hinata."
"Ah! I-Ino-chan. Kau mengagetkanku." Tampak Hinata mengatur detak jantungnya, setelah kaget dengan suara tak diundang yang baru saja terdengar.
"Maaf Hinata." Ino pun ikut duduk di samping Hinata. "Kau belum pulang?"
"Be-belum. Aku menunggu Naruto-kun." Jawabnya pelan sambil menundukkan kepala, wajahnya merona.
"Hahaha. Kau lucu sekali. Tak kusangka seorang pendiam dan polos sepertimu cepat dapat pacar." Ino geli melihat ekspresi Hinata saat ini.
"Ti-tidak juga kok."
"Hm, aku belum tahu. Siapa yang menembak lebih dulu?" Tanya Ino to the point.
"Na-Naruto-kun." Jawab Hinata dengan wajah lebih merona.
"Si berisik itu? Bagaimana bisa?" Ino tak habis pikir, Sasuke yang dingin bisa bersahabat dengan Naruto, siswa paling berisik di Konoha Gakuen, dan tak habis pikir lagi, kalau siswa pecinta ramen itu juga mengerti soal cinta, bahkan menembak salah satu temannya.
"Wa-waktu itu tidak sengaja mendapat tu-tugas membawakan barang-barang untuk dibawa ke Unit Kesehatan. Saat itulah bertemu Na-Naruto-kun di jalan, lalu membantuku. Se-sejak saat itu kami bertemu secara diam-diam, dan pada akhirnya Na-Naruto-kun menyatakan cinta padaku. A-aku sangat senang." Hinata kini tersenyum menatap Ino dengan wajah berseri.
"Wah, beruntung sekali orang semacam Naruto bisa mendapat gadis semanis Hinata."
"Ka-kau berlebihan Ino-chan." Hinata kembali menunduk. "Ino-chan sendiri kenapa belum pulang?"
"Tadi aku..."
Merasa kalimat orang di sampingnya berhenti, Hinata melihat Ino. Sahabatnya satu ini sepertinya sedang memperhatikan sosok yang tak jauh dari mereka.
'Guru Kakashi?' Hinata bingung, mengapa Ino memperhatikan guru mereka satu ini. Tapi setelah diperhatikan lebih jelas lagi, ada sosok lain di depan guru itu, sehingga tak terlalu jelas oleh Hinata.
Beberapa menit berlalu, Guru Kakashi akhirnya meninggalkan tempat itu. Dan jelas sudah siapa yang tadi berbicara dengannya.
'Shi-Shimura-san?' Kini Hinata yakin dengan penglihatannya. Sai Shimura, siswa Konoha Gakuen yang sebelumnya mendapat tugas penelitian keluar sekolah selama seminggu, dan baru beberapa hari lalu ia kembali masuk.
Hinata menoleh ke arah Ino.
"Eh? I-Ino-chan?" Hinata bingung, tampak semburat rona di wajah Ino yang masih menatap sosok tak jauh di sana.
.
-You All Special for Me-
.
"Fiuh! Akhirnya selesai juga. Terimakasih banyak Teme!" Seru Naruto sambil merentangkan kedua tangannya, tugas kali ini membuat tubuhnya cukup pegal.
"Hn."
"Ayo pergi! Pasti Hinata-chan sudah cukup menungguku."
'Benar juga.' Teringat kembali akan keberadaan Sakura. Keduanya meninggalkan perpustakaan.
Di tempat lain.
"Kau masih menunggu Naruto?"
"I-iya. Ka-kalau I-Ino-chan mau pulang, pulang saja." Senyum Hinata pada Ino.
"Tidak, aku mau menemanimu di sini." Ino melihat sekeliling. "Ah! Itu dia Naruto!"
Hinata mengikuti arah pandang Ino. Ya di sana ada orang yang ditunggunya. Dengan tergesa-gesa, pemuda itu berlari menuju tempat Hinata.
"Maaf Hinata-chan! Aku lama, kau pasti sudah menungguku dari tadi, tadi aku mendapat tugas dari Guru Kurenai di perpustakaan, untung ada Teme yang membantuku jadi cepat selesai, kalau tidak mungkin kau akan menungguku lebih lama lagi, lain kali tidak akan kuulangi Hinata-chan." Ucap Naruto panjang dengan perasaan bersalah.
"I-iya tidak apa-apa Naruto-kun." Jawab Hinata dengan senyum dan rona seperti biasanya. Naruto senang mendengarnya.
"Eh? Kau pasti sahabat Hinata-chan kan? Terimakasih sudah menemani Hinata-chan. Salam kenal, perkenalkan namaku Naruto Uzumaki, panggil saja Naruto! Senang berkenalan denganmu!" Secara sepihak Naruto langsung menjabat tangan Ino.
"I-iya, Salam kenal, aku Ino Yamanaka. Panggil saja Ino." Ino hanya bisa tersenyum aneh pada sosok di depannya. 'Benar-benar memang berisik.' Sela Ino dalam hati.
Setelah perkenalan singkat itu, Naruto dan Hinata berpamitan, karena hari mereka ada janji. Meninggalkan seorang Yamanaka di taman sekolah. Sesaat Ino bersiap untuk meninggalkan taman, sebelum ia melihat sosok pemuda dari jauh.
'Sasuke Uchiha?' Ino yakin itu dia. Bukannya tadi sepertinya Sakura ada janji dengan pemuda itu, tapi yang ia lihat pemuda itu masih di sekolah. Sepertinya hendak menuju atap sekolah. 'Oh, mungkin mereka janjian di atap sekolah.' Pikir Ino.
Namun, saat baru beberapa langkah dari taman, ia melihat kembali sosok lain. Dan sosok inilah yang telah menyita perhatiannya akhir-akhir ini.
"Sa-Sai." Tak perlu diperintah, wajah Ino merona. Yang ia lihat pemuda itu sedang berjalan kearah yang sama. Atap Sekolah.
"Apa yang mereka lakukan?" Dengan rasa penasaran, Ino meninggalkan taman, mengikuti kedua pemuda itu pergi.
.
-You All Special for Me-
.
Langkah pemuda itu terhenti di sisi lain atap sekolah.
"Sakura." Panggilnya. Di sanalah sosok yang ia cari tengah menunggu. Berdampingan dengan Gaara?
"Sasuke?"
"Sepertinya kita perlu tempat lain." Perintah Sasuke sambil menarik tangan gadis itu.
"Tidak semudah itu Uchiha!" Sergah Gaara dan ikut menggenggam pergelangan tangan Sakura yang lain.
"Apa masalahmu." Ucap Sasuke dingin sekaligus tajam. Menatap tak suka dengan sosok merah di sana.
"Aku khawatir jika Sakura bersamamu." Jawab Gaara tak kalah dingin.
"Tak perlu khawatir Tuan Sabaku, Putri anda akan baik-baik saja dengan Pangerannya." Balas Sasuke sarkastik dengan penekanan dibeberapa kata. Gaara tak suka, sangat tak suka, tangannya yang bebas tengah mencengkeram kuat.
"Sial kau Uchiha!"
BUGH!
Dengan sekejap pukulan telak di wajah Sasuke ia jatuhkan. Sasuke yang tak siap dengan hal itu hanya bisa tersungkur ke lantai. Dengan posisi memegangi lebam di pipinya.
"Sasuke!" Teriak Sakura yang hendak menuju sahabat kecilnya itu, namun dicegah Gaara.
"Tetap di sini Sakura. Ini urusan kami." Terang Gaara yang kemudian menghampiri Sasuke yang telah bangun.
"Kuharap kau bisa menjaga sopan santunmu sebagai seorang Uchiha." Gaara, kembali dingin pada sosok yang dihadapinya.
"Haha. Lucu sekali, bahkan siapa yang memukul lebih awal eh?" Sasuke menantang Gaara kembali.
"Itu karena kau!"
Gaara siap meninju, namun kali ini gerakannya dipatahkan oleh Sasuke. Dengan kuncian dipergelangan tangan, Sasuke kini berbalik menyerang Gaara.
BUGH!
Sasuke dengan cepat meninju wajah Gaara. Tak perlu menunggu waktu, giliran Gaara yang terjerembab ke lantai atap.
"Dengan begitu kita impas." Sasuke menyeringai pada Gaara.
Keduannya benar-benar diambang emosi. Tak ada yang mau mengalah, pukulan demi pukulan mereka hujamkan pada lawan. Sakura yang melihatnya tak bisa berbuat apa-apa. Ia terlalu terkejut dengan apa yang baru terjadi.
"He-hentikan! Sasuke! Gaara! Hentikan perkelahian kalian!" Seru Sakura berkali-kali, namun sayang, diabaikan oleh keduanya. Sakura sangat khawatir dengan keduanya, ia tak kuat melihat kejadian ini.
"Berhen..."
BUAGGH!
Ucapan Sakura terhenti oleh pemandangan di depan. Berdirilah sosok yang dikenal, yang baru saja mengepalkan telapak tangan dan meninju dua orang sebelumnya secara bersamaan. Tenaganya besar juga, bisa menjatuhkan dua orang sekaligus.
"Sai?" Gumam Sakura. Yang ia lihat, Sai tidak seperti biasanya. Sai yang biasa tersenyum disetiap waktu, kali ini terlihat serius dan tegas.
"Dengar kalian! Orang kekanak-kanakan seperti kalian, tak pantas bersama Sakura-chan!" Seru Sai tegas pada dua pemuda itu.
"Apa maksudmu!" Emosi Sasuke kembali meluap. Apa-apaan orang ini? Tiba-tiba meninjunya dan mengucapkan kalimat seperti itu.
"Sudah jelas kan Uchiha. Aku tak mau ada masalah di sini!"
"Kau tak perlu ikut campur Sai!" Giliran Gaara yang tak suka keberadaan pemuda pucat itu. Meskipun ia sahabatnya, tapi Gaara paling tak suka jika ada yang ikut campur dalam urusannya.
"Aku hanya ingin hal bodoh yang kalian lakukan berhenti. Dan untuk beberapa waktu ini, aku tak akan membiarkan salah satu dari kalian mendekati Sakura-chan." Jelas Sai tegas, tak ada rasa takut di sana, meski dua pemuda lain memberikan tatapan membunuh padanya.
"Apa hakmu melarangku!" Sasuke benci, sangat benci dengan sosok ini.
"Tak ada. Aku baru ingat, bahkan kau ada janji dengan Sakura-chan besok eh Sasuke? Tak akan kubiarkan, karena Sakura-chan akan bersamaku." Sai berjalan kearah Sakura, menggenggam pergelangan tangannya.
"Eh?" Sakura tak mengerti dengan kejadian kali ini, ini terlalu cepat, rangkaian peristiwa yang terlalu cepat memaksa masuk kedalam memorinya.
"Jangan hanya meninggikan ego. Dinginkan kepala kalian." Tegas Sai kembali pada Sasuke dan Gaara.
Di sisi lain atap sekolah, tampak sepasang mata memperhatikan hal itu.
'Ke-kenapa? Kenapa semuanya... kenapa Sakura! Kenapa semuanya harus Sakura!'
Ia tak tahan dengan apa yang ia lihat, tubuhnya bergetar, genangan air mata siap keluar dari pelupuk mata kapan saja. Hal yang baru saja terjadi membuat hati gadis aquamarine itu sakit, terasa tersayat. Bahkan laki-laki yang disukainya melindungi Sakura sampai seperti itu. Ia sudah merelakan pemuda yang sebelumnya ia sukai, ia tak ingin untuk kedua kalinya merelakan hal ini, merelakan pemuda yang kini sangat ia sukai, meski untuk sahabatnya sekalipun.
Sepertinya akan ada yang terjadi diantara mereka.
.
-You All Special for Me-
.
To be Continued
Balas Review :
-Gha mika chiiyamada : Iya, maaf Gha-san, karena sebulan terakhir banyak sekali tugas, jadi sangat telat untuk update. Iya, ada beberapa rahasia di sini, sedikit demi sedikit akan saya ungkap. Baiklah. Ini update. Terimakasih banyak RnR-nya Gha-san. ^^
-Kakaru niachinaha : Haha, iya. Sengaja saya buat begitu. Coba gantian Sai yang memanggilnya seperti itu, bukan hanya Naruto. Aneh ya? Un, ini sudah update. Terimakasih banyak RnR-nya Ru-san. ^^
-Honeya : Benarkah? Haha, entah mengapa saya membuat seperti itu. Kalau saya ingin jadi Sasuke, biar dekat sama Sakura yang polos. Iya, ini sudah update. Terimakasih banyak RnR-nya Honeya-san. ^^
-miyank : Salam kenal juga Miyank-san. Baik, saya usahakan untuk update-nya, semoga saja tak ada tugas lain. Pasti, endingnya SasuSaku. Terimakasih banyak RnR-nya Miyank-san. ^^
-Sindi 'Kucing Pink : Benarkah? Haha, iya monoton, Sasu tetap saya buat dalam karakter seperti itu. Baik, ini sudah update. Terimakasih banyak RnR-nya Sindi-san. ^^
Sekian, RnR lagi Minna-san. Arigatou. ^^
