.

Warning : AU, OOC, miss typo, alur berantakan, boring, etc

Genre : Friendship/ Romance

Rate : T

Pairing : SasuSaku GaaSaku SaiSaku

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

You All Special for Me © Sky no Raven

.

.

-You All Special for Me-

.

Hari ini tak secerah biasanya. Langit terlihat mendung dengan gumpalan awan yang menghitam. Hawa pagi terasa dingin. Dan di sinilah ia, gadis cherry itu berada. Berjalan di trotoar dengan langkah kecilnya. Setelah kemarin hari Minggu, kini saatnya ia kembali ke sekolah.

"Sakura-chan!"

Terdengar seruan memanggil namanya. Sakura pun melihat sekitar, mencari sosok itu, suara yang sangat familiar ditelinganya.

"Sai?" ucap Sakura setelah pemuda itu mendekat.

"Kebetulan bertemu denganmu di sini. Ayo berangkat sama-sama." Sai tersenyum, senyuman simpul yang biasa ia berikan pada Sakura.

"Un!" dijawab dengan anggukan kecil oleh gadis emerald di sampingnya.

Selama perjalanan, tak ada yang membuka obrolan. Seperti lebih nyaman berkutat dengan pikiran mereka masing-masing. Udara masih dingin seperti sebelumnya. Setidaknya sedikit berkurang untuk Sakura, karena hari ini ia mengenakan syal yang cukup hangat.

"Sai?"

"Ya?"

Sebenarnya Sakura sedikit ragu untuk menanyakan hal ini, tapi ia tak bisa menyembunyikan rasa penasaran, apalagi berkaitan dengan 'kejadian' di atap sekolah dua hari yang lalu.

"Um, sebenarnya apa yang terjadi kemarin? Maksudku, kejadian waktu itu terasa sangat mengejutkan," terang Sakura yang terus menatap jalan ke depan.

Tentu saja Sai tahu apa yang dimaksud Sakura. Tapi, ia urungkan untuk langsung menjawab. "Ya, kau lihat sendiri kan Sakura-chan. Perkelahian antara dua remaja yang masih labil," jawab Sai tenang dengan tetap mempertahankan senyumnya.

"Tapi sepertinya ada hal lain, dan aku rasa..." Sakura menatap langit sejenak. "Kau tahu sesuatu."

Sai menoleh sekilas. Namun ini bukanlah haknya untuk menjelaskan pada Sakura. Hingga pada akhirnya ia memilih untuk tetap diam. "Begitu ya." Sai ikut menatap langit. "Biarkan waktu yang menjawab Sakura-chan. Kau hanya perlu menunggu."

"Eh?" Sakura mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

"Aku pun tak tahu pasti, sama sepertimu. Tapi aku yakin, jika waktunya sudah tiba, kau akan mengetahuinya," senyum simpul itu kini berganti dengan senyum tulus.

"Aku masih belum mengerti." Sakura menggembungkan pipinya, ia rasa kalimat Sai terkesan hanya berputar-putar tanpa kejelasan yang pasti untuknya. "Jangan mencubit pipiku!" sergah Sakura cepat saat mengetahui tangan Sai mendekat.

"Yah, dua kali gagal. Padahal sudah lama aku tak melakukan itu," terdengar nada kecewa di sana. Dan Sakura tentunya sudah tahu akan hal itu, akhirnya hanya helaan napas sebagai respon yang ia berikan.

Hening sejenak.

"Sai?" Sakura kembali berbicara.

"Ya?"

"Apa Sasuke dan Gaara sudah tak apa-apa? Aku khawatir pada mereka." Sakura tak tahu, entah mengapa hatinya merasa tak tenang sejak kejadian itu.

Puk.

Dan sekarang ada telapak tangan mendarat di kepalanya. Telapak tangan pemuda pucat itu.

"Kau tak perlu khawatir. Mereka bukan anak kecil lagi."

"Tapi..."

"Selama ada aku, kau akan aman dari dua makhluk itu Sakura-chan," senyum Sai lebih mengembang. "Ayo cepat, sebentar lagi kita sampai!" diraihnya tangan Sakura.

"He-hei! Apa maksudmu Sai?" Sakura benar-benar tak mengerti.

"Itu rahasia!" jawab Sai enteng masih dengan menggandeng tangan Sakura.

.

-You All Special for Me-

.

Bel istirahat berbunyi. Akhirnya tiba juga waktu yang ditunggu para siswa Konoha Gakuen. Tak ketinggalan Sakura, ia akan pergi ke kantin bersama kedua sahabatnya. Sakura berdiri dari bangkunya, mendekati Ino yang duduk tak jauh dari tempatnya.

"Um, Ino..."

"Hinata!" gerakan tiba-tiba Ino memotong ucapan Sakura. Gadis Yamanaka itu menghampiri Hinata. Seperti tak mempedulikan sapaan Sakura.

"Kau tak ada kerjaan kan? Bantu aku ya!" seru Ino sambil menarik hinata.

"Ta-tapi, mau ke mana Ino-chan?" Hinata masih terkejut, ditarik oleh Ino secara sepihak.

"Nanti kau juga tahu. Ayo!" dengan segera keduanya keluar kelas. Juga meninggalkan seseorang yang menatap kepergian mereka dengan pandangan tak mengerti.

"Ino... tak seperti biasanya," gumam Sakura yang kemudian juga ikut keluar kelas, namun dengan tujuan yang berbeda.

Di tempat lain.

Tampak pemuda berambut raven tengah menyandarkan tubuh ke bangku yang ditempatinya. Dengan earphone terpasang di kedua telinga, matanya terpejam, entah musik apa yang ia dengarkan, terlihat tenang sekali. Jika di jam istirahat biasanya ia akan keluar kelas bersama sahabatnya, Naruto. Tapi tidak untuk kali ini, ia memilih untuk tetap diam di bangkunya.

"Woi Teme!" seru suara yang mendekat. Siapa lagi kalau bukan Naruto, yang sekarang duduk di bangku depan Sasuke, dan menghadap ke sahabat dinginnya itu.

"Hn."

"Tumben hari ini kau tak keluar?"

"Hn."

Naruto memang sudah terbiasa dengan sifat Sasuke, tapi kalau terus menerus mau tak mau kadang membuatnya kesal juga.

"Kau menyebalkan Teme. Aku tak selamanya bisa mengartikan arti 'Hn' mu itu!"

"Aku malas."

"Memangnya kenapa? Kau sakit?"

"Tidak."

"Atau... kau ada masalah?"

Tak ada jawaban dari lawannya. Dan ini cukup aneh.

"Jadi benar kau ada masalah Teme? Kalau begitu ceritakan saja padaku, aku pasti akan membantumu!" ucap Naruto antusias, tak biasanya sahabat sejak kecilnya bersikap seperti ini. Dan itu cukup membuatnya khawatir.

"Kau tak mengerti Naruto!" tegas Sasuke sebelum ia meninggalkan bocah Uzumaki itu.

Naruto diam di tempatnya dan terlihat sedang memikirkan sesuatu, tak sadar bungsu Uchiha itu telah pergi.

'Kenapa aku jadi begini?' batin Sasuke. Ya, memang ada yang dipikirkannya. Sejak tadi earphone yang ia gunakan tak mengeluarkan suara sedikitpun, atau dalam artian lain, sebenarnya ia hanya memasang asal. Ada apa denganmu eh Sasuke? Dan jika dirasakan lebih dalam lagi, masih banyak yang mengganjal dalam hatinya. Mengingat 'kejadian' dua hari kemarin kembali membuat hatinya panas. Ia masih tak suka dengan Gaara dan pemuda pucat yang tiba-tiba saja datang. Bukan karena pukulan yang diberikan pemuda itu, melainkan lebih pada apa yang dikatakannya.

"Dengar kalian! Orang kekanak-kanakan seperti kalian, tak pantas bersama Sakura-chan!"

Kalimat itu terngiang kembali di benak Sasuke.

"Jangan hanya meninggikan ego. Dinginkan kepala kalian."

"Arrgh! Sial!" diremasnya rambut raven miliknya itu. Kepandaian Uchiha itu memang tak bisa diremehkan, tapi kali ini sepertinya tak bisa langsung dijawab. Ia tak mengerti, bahkan tak paham apa maksud pemuda itu. Sasuke memang sudah tahu sejak awal Sai adalah murid Konoha Gakuen, karena mereka masuk ke sekolah itu pada waktu yang sama meski tak saling kenal. Tapi ada yang paling mengganjal dalam hatinya, ada hubungan apa antara Sakura dengan Shimura Sai?

.

-You All Special for Me-

.

BRUK.

Tabrakan kecil itu membangunkan Sasuke dari lamunannya.

"Ah! Ma-maaf!" ucap sosok itu sambil menundukkan kepala.

"Sakura?" panggil Sasuke pada sosok tadi.

"Eh?" sosok itu mengangkat kepala. "Sasuke?"

"Kau tak bersama teman-temanmu?" tanya Sasuke, sebenarnya ia tak tahu ingin mengatakan hal apa pada sosok gadis di depan, teman masa kecilnya.

"Um, tidak." Sakura tersenyum, tapi terkesan aneh. Dan itu terlihat jelas di mata Sasuke.

"Ada masalah?" terdengar simpel tapi ada kekhawatiran disana.

"Bukan apa-apa Sasuke." Sakura tetap tersenyum.

'Ada yang disembuyikan. Tak seperti yang biasa,' batin Sasuke.

"Ano, Sasuke… mengenai yang kemarin. Aku tak tahu, tapi... kenapa kalian sampai berkelahi seperti itu, maksudku itu, Sasuke dan Gaara waktu itu…" entahlah, lidah Sakura merasa kelu, bingung mengungkapkan pertanyaan dalam benak yang sedari kemarin tak kunjung ia mengerti. Pandangannya pun acak melihat sekitar, asal tak menatap pemuda di depannya.

Diingatkan pada hal itu, seketika hati Sasuke panas, kembali terbayang wajah pemuda panda memuakkan dan pemuda zombie yang sok jadi pahlawan, membuatnya mengepalkan kedua tangan, tentu tanpa sepengetahuan gadis musim semi itu. Hanya dengusan kesal yang akhirnya keluar sebagai respon.

Sakura yang melihatnya pun hanya bisa menghela napas. "Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu," ia punhendak melangkah pergi, sebelum….

"Tunggu Sakura," terdengar suara baritone mencegahnya. Entah mengapa Sasuke ingin cepat mendapat jawaban dari rasa penasarannya beberapa hari ini.

Gadis itu menoleh sejenak, "Ada apa Sasuke?"

Meski tak kentara, pemuda itu tengah mengambil napas sejenak, "Ada yang ingin kutanyakan ..."

"Sakura-chan!"

Terdengar baritone lain yang menginterupsi dari kejauhan. Dan tampaklah pemuda pucat berjalan mendekat ke arah Sakura.

-Sasuke POV-

Ck. Sial! Ada perlu apa pemuda mayat itu. Mengingatnya saja sudah membuatku muak, apalagi melihatnya secara langsung! Yang pasti, jika diberi kesempatan, ingin sekali kuhajar balik muka pemuda yang sok perhatian pada Sakura. Argh! Maksudku, aku tak ingin terlihat kalah darinya, ya... karena Uchiha tak akan pernah kalah!

Pemuda yang kuketahui bernama Sai itu kini mendekati Sakura. Ingin sekali aku mencegah dan mengusirnya saat itu juga, tapi sepertinya egoku terlalu tinggi untuk berucap. Kuso!

"Sakura-chan, bisa kau ikut denganku?" ia terseyum pada Sakura. Senyuman yang membuatku muak.

Aku mendengus kesal, sebenarnya apa yang kau cari mayat hidup! Mati ditanganku, eh?! Oke, mungkin aku berlebihan, tapi jujur, aku tak suka pemuda ini berdekatan dengan Sakura-ku.

Eh? Apa baru saja aku membatin sesuatu? Saku... apa tadi? Argh! Sepertinya otakku mulai bermasalah. Sial, lupakan!

Sekarang tatapanku terpaut pada satu-satunya gadis di sini. Tampak sekali Sakura sedang berpikir, "Memang ada apa Sai?"

"Sudahlah, sekarang kau ikut saja, mengerti?" ajak mayat hidup itu, atau bisa kusimpulkan sebagai 'paksaan'?

Kulihat Sakura memandangku, beralih ke halaman sekolah, dan kembali menatap Sai, "Tapi, sebentar lagi waktu istirahat akan berakhir, Sai."

Sakura benar. Jam istirahat sekolah ini hanya terbatas 15 menit dalam satu sesi. Sesi kedua pun juga 15 menit, itu untuk jam istirahat siang. Mau apa eh, Sai? Kau tak bisa mengajak Sakura pergi.

"Kau belum tahu ya, setelah istirahat berakhir, hari ini para guru akan mengikuti rapat. Aku tak tahu apa itu, yang pasti setelah ini jam akan kosong, mengerti?"

Sial, jadi begitu eh? Dan sayang sekali, jawaban Sakura setelahnya membuatku panas, "Eh, begitukah? Baiklah,"

"Hei, Uchiha, kau tak ada urusan dengan Sakura-chan kan? Karena dia akan ikut denganku," kulihat ia menyeringai menatapku tajam. Kuso! Ingin sekali kutonjok muka sok-nya itu.

"Ano, kalau begitu, Sasuke... aku pergi dulu ya," kalimat terakhir yang kudengar darinya, sebelum benar-benar menghilang dari jarak pandangku.

Cih! Ingin sekali aku mencegahnya, tapi kenapa mulut ini tak mau mengeluarkan kalimatnya?! Argh! Sial! Sial! Tanganku yang sejak tadi terkepal sepertinya kian mengerat. Hanya satu yang kurasakan sekarang, aku tak tahu. Yang jelas, di bagian dekat dada kiriku terasa sesak, sesak sekali. Aku tak mengerti... perasaan apa ini?

-End Sasuke POV-

.

-You All Special for Me-

.

Pagi yang menjelang siang saat ini tak terlalu cerah, hingga membuat udara begitu sejuk dengan angin kecil yang seolah memainkan surai senada bunga musim semi. Terlihat seorang siswi tengah duduk bersandar pada sebuah pohon peneduh besar di taman sekolah, kedua kaki berselonjor, nyaman dengan posisinya. Ia tak sendiri, buktinya masih ada sosok lain ikut beristirahat di sana. Kalian tahu? Memandang hijaunya pepohonan adalah cara tepat untuk mengembalikan ketenangan hati. Bersyukurlah jika daun itu berklorofil.

"Jadi... apa yang terjadi padamu Sai? Kenapa mengajakku ke sini?" tutur gadis itu.

Sai menghela napas sejenak, "Seharusnya aku yang bertanya padamu. Sejak melihatmu keluar dari kelas, kau tampak murung, kau tahu Sakura-chan? Aku mencemaskanmu," terdengar intonasi cemas dari kalimatnya. "Jika mau, kau bisa bercerita padaku," senyum simpul kini terpatri di wajah pucat sang pemuda.

Tepat, memang ada hal yang mengganjal di benak Sakura. Dari perkelahian antara Sasuke dan Gaara, lalu yang baru saja terjadi, ada yang aneh dengan salah satu sahabatnya, Ino. Ya, tak biasanya Ino mengacuhkan dirinya, bahkan hari ini ia belum bertegur sapa, lebih tepatnya gadis aquamarine itu yang tak membalas sapaannya. Dan hal itu cukup membuat hati Sakura sedikit berdenyut, hatinya tak tenang. Waktu istirahat biasanya ia habiskan bersama para sahabat, Ino dan Hinata. Tapi tidak untuk hari ini. Hal yang cukup membuatnya kosong. Itulah mengapa Sakura murung, meski sebenarnya ia sudah berusaha untuk menutupi. Sayang, Sakura tak pandai bersandiwara. Dan sifat Sai yang peka, terutama pada Sakura, membuat pemuda itu mudah sekali menangkap emosi janggal dari gadis bermata emerald. Hijau zamrud yang biasanya terang pun sekarang meredup.

"Sai, jika kau punya dua sahabat, saat kedua sahabatmu sedang bertengkar atau... jika salah satu sahabatmu mengacuhkanmu tanpa alasan yang jelas, apa yang akan kau lakukan?" Sakura berujar hati-hati.

Sai memandang langit, ia tahu siapa yang dimaksud 'dua sahabat' oleh Sakura. "Akan kubiarkan mereka menilai diri mereka sendiri. Kau tahu Sakura-chan? Tak selamanya kita menjadi anak kecil. Ada kala kita akan lepas dari yang namanya pasif. Terkadang seseorang bisa menjadi dewasa dari pemikirannya sendiri, dimana ia diberi kebebasan memilih, bagaimana ia bisa menempatkan apa yang sebaiknya ia lakukan atau tidak pada suatu kondisi, bukan karena terus-terusan bersikap hanya karena sebuah nasehat," Sai memejamkan mata, ikut bersandar ke pohon. "Dan untuk masalah sahabat yang mengacuhkanku, aku akan bertanya langsung padanya," jujur, untuk yang satu ini Sai tak tahu siapa yang Sakura maksud.

"Eh?" Sakura hanya bisa mengedipkan mata beberapa kali, masih mencoba mencerna deretan kata yang meluncur dari pemuda di sampingnya.

Ketika kedua mata Sai kembali terbuka, pertama yang ia lihat adalah tampang innocent milik Sakura. "Hahaha... kau menggemaskan Sakura-chan!" untuk kali ini 'kebiasaan' Sai sukses.

"Aaaa...! Lhepashkan akhu Shai! (Aaaa...! Lepaskan aku Sai!)" seru Sakura kesusahan karena kedua pipinya tengah dicubit.

"Ahaha... habis, wajahmu itu seperti meminta untuk dicubit!" Sai tertawa hingga matanya menyipit. Kesenagan tersendiri bisa menggoda gadis itu.

Sakura menggembungkan pipi yang kini telah terbebas dari tangan Sai, "Iya, dalam mimpimu, Sai!" sedikit merasa kesal.

"Haha... masih untung cuma kucubit, bagaimana kalau aku melakukan yang lain ya..." Sai mendekat ke arah Sakura, kini senyum yang biasa ia keluarkan terganti oleh seringai.

DUAK!

"AUWW! Sakit Sakura-chan! Kenapa kau melemparku dengan sepatu!" kini Sai tengah sibuk mengusap kepalanya yang sempat menjadi landasan sepatu Sakura.

"Habis kau seperti om-om kurang kerjaan di pasar!" seru Sakura dengan kedua tangan terlipat di dada.

What? Sai tak percaya, ia akan disamakan dengan orang yang benar-benar jauh dari sifat dirinya. Apa tadi Sakura bilang? Om-om kurang kerjaan? Benar-benar ingin diberi pelajaran bocah satu ini.

"Tadi kau bilang apa Sakura-chan?" tanya Sai dengan senyum, senyum aneh lebih tepatnya.

"Om-om kurang kerjaan! Masak tidak dengar, tadi aku cukup keras bicaranya," jawab Sakura tenang, sepertinya ia tak begitu mengetahui 'bahaya' dari anak panah yang ia lepaskan.

"Ooo... benarkah?" Sai mendekat kembali, "Kalau begitu, ini balasan untukmu yang telah menyamakanku se-enak jidat!"

"Ahahaha... sudah...! Hahaha... a-aduh... cukup Sai!" dan ternyata 'balasan' itu berupa gelitikan untuk Sakura.

"Disamakan dengan om-om itu menyakitkan lho Sakura-chan..." ujar Sai masih tetap menggelitiki Sakura.

"Su-sudah cukup... ahahaha... iya, aku minta maaf...," Sakura tak berhenti tertawa hingga membuat perutnya keram, hingga genangan kecil air terlihat di pelupuk mata.

Sepertinya mereka tak menyadari, entah sejak kapan, ada sosok yang mengamati dari balik pohon tak jauh dari posisi mereka. Saat sudah cukup melihat, sosok itu memutar tubuhnya, berniat untuk meninggalkan tempat itu. Sebelum...

KRIEET.

Suara yang cukup terdengar sampai ke telinga Sakura dan Sai. Tak sengaja, dan karena faktor ketidaktahuan, sosok itu ternyata menginjak batang pohon kering.

"Eh?"

.

-You All Special for Me-

.

To be Continued


Balas Review:

Sebelumnya maaf sekali, sudah setahun lebih dan baru update chapter-nya sekarang, yang sepertinya mungkin tidak ada yang mengingat fic ini. Saya mohon maaf sudah menelantarkan fic ini, jadi maaf kalau ada keanehan untuk chap ini. Dan terimakasih untuk readers & reviewers sebelumnya. Yang pasti, sekali saya membuat fic akan saya usahakan menyelesaikannya sampai akhir, apapun yang terjadi.

Kembali ke review:

-miyank : Untuk SaiSaku masih dirahasiakan. Terimakasih banyak RnR-nya, maaf baru update sekarang. ^^

-dwi uchiha : Terimakasih banyak RnR-nya, maaf baru update sekarang. ^^

-Sindi 'Kucing Pink : Hontou ni? Ahaha, itu belum apa-apa. Iya, itu Ino, perangnya sudah mulai dilihat di chap ini. Terimakasih banyak RnR-nya, maaf baru update sekarang. ^^

-Kakaru niachinaha : Ahaha, untuk perasaan Sai ke Sakura yang sebenarnya tunggu di chap depan. Terimakasih banyak RnR-nya, maaf baru update sekarang. ^^

-Gha mika chiiyamada : Penasaran dengan SaiSaku ya, tunggu di chap berikutnya. Untuk InoSai akan terjawab di chap-chap kedepan. Terimakasih banyak RnR-nya, maaf baru update sekarang. ^^

-Lisa : Terimakasih banyak RnR-nya, maaf baru update sekarang. ^^

Sekian, doumo arigatou minna-san. RnR lagi ya. Sekali lagi, mohon bimbingannya Minna-san. ^^