.
Warning : AU, OOC, miss typo, alur berantakan, boring, etc
Genre : Friendship/ Romance
Rate : T
Pairing : SasuSaku GaaSaku SaiSaku
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
You All Special for Me © Sky no Raven
.
.
-You All Special for Me-
.
Sepertinya mereka tak menyadari, entah sejak kapan, ada sosok yang mengamati dari balik pohon tak jauh dari posisi mereka. Saat sudah cukup melihat, sosok itu memutar tubuhnya, berniat untuk meninggalkan tempat itu. Sebelum...
KRIEET.
Suara yang cukup terdengar sampai ke telinga Sakura dan Sai. Tak sengaja, dan karena faktor ketidaktahuan, sosok itu ternyata menginjak batang pohon kering.
"Eh?" keduanya menolehkan kepala.
"Sai, apa kau juga mendengar sesuatu?" masih memperhatikan pepohonan tak jauh dari mereka.
"Ya, aku mendengarnya."
Sakura tampak berpikir, "Apa jangan-jangan ... itu penjahat yang memata-matai kita?" kini wajahnya tampak pucat.
Sai mendengus pelan, "Imajinasimu terlalu absurd, Sakura-chan," ucapnya dengan mencubit hidung gadis itu gemas.
"Auw! Kenapa kau suka sekali mencubitku sih?!"
"Karena aku suka," Sai menyeringai.
.
-You All Special for Me-
.
Tampak siswa-siswi tengah sibuk mengikuti pelajaran di kelas. Membuka buku modul, membacanya, menyalin soal sekaligus mengerjakan dalam buku tulis. Semua terlihat serius, atau lebih tepatnya tegang? Mungkin seorang guru berwajah seperti ular di depan adalah alasannya. Guru Orochimaru, pengajar mata pelajaran Biologi yang terkenal killer, siapa yang tak tahu? Banyak orang berpendapat ia hanya seorang guru psychopath yang hobi memutilasi mahkluk hidup, terutama reptil.
Ya, semua hampir terfokus mengikuti pelajaran. Hampir? Mungkin kata itu tak perlu ditambahkan, jika saja tak ada satu orang yang sejak tadi mengabaikan lembar tugasnya. Pikirannya melayang entah kemana. Yang pasti ia rasakan sekarang adalah, bagian dadanya terasa ditusuk ribuan jarum. Sakit yang tak terlihat.
'Ada hubungan apa ia dengan Sakura?' batinnya tak tenang, sangat.
"Stt, hei?" bisik seseorang.
Sepertinya sosok ini terlalu larut dalam pikirannya sendiri. Beberapa kali dipanggil meski dengan suara kecil, tapi itu bukanlah suara yang tak mungkin tertangkap oleh telinganya.
"Hei? Teme?" kembali sosok blonde itu berbisik memanggil sahabatnya. Kesal tak kunjung mendapat tanggapan, tak kurang akal ia ambil sobekan kertas yang ia dapat di laci meja, diremas hingga berbentuk bulat abstrak, dan dilemparkan pada sosok yang berada di bangku samping.
Dan...
Remasan kertas tepat mengenai kepala sahabat raven-nya. Tapi siswa itu tetap terdiam. Tak ada respon. Jika saja Naruto tak melihat Sasuke yang sejak tadi melamun, membiarkan buku pelajaran begitu saja, ia tak perlu susah-susah mencari perhatian. 'Kau kenapa sih, Teme?' batinnya, Naruto pun ikut gelisah. Hal yang sangat langka untuk seorang Uchiha, menyempatkan diri melamun di saat jam pelajaran berlangsung, apalagi ini jam Guru Orochimaru. Akhirnya Naruto pasrah, 'Nanti saja aku tanya,' helaan napas kecil ia keluarkan sembari duduk dengan posisi semula.
"Uchiha?" terdengar suara dingin dari depan. Tak ada jawaban.
"Uchiha?!" sepertinya suara yang kedua kalinya ini lebih dingin. Semua mata menatap horor pada pemuda yang dipanggil.
Hilang sudah kesabaran guru itu.
PRAK!
Sontak semua kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Ternyata sosok berambut hitam panjang itu melempar penghapus papan tulis ke meja Sasuke. Tepat ke mejanya. Dan apa selanjutnya?
"Hn?" Sasuke mengangkat kepalanya pelan, hanya 'Hn' saja yang terdengar keluar dari mulut pemuda itu, tak merasa bersalah, dan tampang datar seperti biasa.
"Maju ke depan dan kerjakan soal nomer 7!" perintah Guru Orochimaru.
Dengan santai Sasuke bangkit dari kursi dan melangkah, menuju whiteboard di depan. Menulis deretan huruf, setelah selesai ia kembalikan board marker itu ke tempat semula. Guru Orochimaru memandang dengan tatapan mengerikan, sedangkan para siswi kaget tertahan dengan kedua tangan menutup mulut, tak menyangka dengan apa yang dilakukan sang Pangeran sekolah mereka, dan para siswa memandang Sasuke miris. Batin teman-temannya sama, mereka berharap tak ada sesuatu yang melebihi ini.
"Sepertinya kau terlalu pintar untuk mata pelajaranku, Uchiha," seringai dingin tampak di wajah sang guru. "Lari keliling lapangan sekolah 20 kali!" perintahnya.
"Hn?" pemuda itu menatap heran, apa kau tak sadar dengan tindakanmu, Sasuke?
"Kuralat, 30 kali! Lari keliling lapangan sekolah 30 kali, Uchiha! Itu hukuman untukmu yang tak mengikuti pelajaranku hari ini! Aku akan mengawasimu!" seru guru biologi itu dengan penuh penekanan. Sebenarnya ia guru biologi atau olahraga, eh?
"Dan kalian, jangan coba-coba untuk keluar dari kelas! Kerjakan tugasnya! Hyuuga, kumpulkan tugas mereka saat bel terakhir dan bawa ke ruanganku."
"Baik, Guru," jawab pemuda bersurai panjang berwaran cokelat gelap itu, sebelum gurunya benar-benar meninggalkan kelas.
Naruto yang sejak tadi cemas, kini semakin mencemaskan kondisi sahabatnya. Mata sapphire-nya beralih pada whiteboard, memperhatikan soal dan jawaban yang ditulis Sasuke tadi. Sebenarnya itu pertanyaan yang sangat sederhana.
'Apakah sumber utama dari Nitrogen?'
Dan kini pandangannya tertuju pada tulisan lain di sana. Yang membuat Naruto jawdrop seketika dengan dua kata yang jadi jawaban Sasuke.
'Mayat hidup.'
.
-You All Special for Me-
.
Jam yang sama, namun kelas yang berbeda. Semua tampak tenang mendengarkan penjelasan dari Guru Iruka. Guru yang paling mereka sukai, karena kebaikan hatinya, beliau mengajar mata pelajaran Sastra. Semua siswa memperhatikan setiap penuturan beliau. Kecuali satu orang yang sejak tadi pikirannya tak terfokus, sesekali menoleh ke arah bangku yang posisinya berserongan dengan bangku yang ia tempati.
Helaan napas keluar dari mulut gadis cherry itu, 'Ada apa denganmu, Ino?' batin Sakura cemas. Ia benar-benar tak tahu, yang jelas sejak tadi pagi mereka tak mengobrol sedikit pun, lebih tepatnya, Ino yang mengacuhkan Sakura.
Sejenak ia alihkan kedua mata, menatap langit yang tak begitu cerah, juga tak begitu mendung. 'Eh?' pandangannya tanpa sengaja menangkap sesuatu. 'Sa-suke?' ya, tak salah lagi, pemuda yang tengah berlari di lapangan sekolah itu tak lain dan tak bukan adalah salah satu Pangeran Konoha Gakuen.
'Sedang apa Sasuke di situ?' Sakura mencari sosok siswa-siswa lain, barangkali ini adalah jam pelajaran olahraga. 'Eh, kalau jam olahraga, kenapa Sasuke tidak memakai pakaian olahraga? Lalu, di mana teman-temannya?' Sakura termenung dengan batinnya. Baru ia sadari, ia tak melihat siswa-siswa lain selain pemuda onyx itu, bersama ... sosok pria dewasa, yang Sakura tahu merupakan salah satu guru di sekolah.
"Haruno?"
"A-a, ya Guru Iruka?" jawab Sakura gugup, agak terkejut dengan suara sang guru yang tiba-tiba terdengar.
"Apa ada masalah?" tanya guru itu tenang pada Sakura, tetap dengan senyum meneduhkan seperti biasa.
"Ti-tidak, Guru. Gomen ne," ujar gadis itu cepat dengan mengibaskan kedua tangan dan menggelengkan kepala berkali-kali. Beberapa temannya tertawa kecil, melihat tingkah lucu gadis itu. Ya, salah Sakura tidak memperhatikn pelajaran.
"Baiklah. Kita kembali ke pelajaran."
"Hai, Guru Iruka!" seru para siswa serentak.
.
-You All Special for Me-
.
Jam pelajaran telah berakhir. Para murid berhambur keluar kelas. Cuaca siang ini tak panas, angin semilir terasa menyejukkan. Kini hanya tertinggal gadis emerald di dalam kelas. Helaan napas terdengar lagi, entah ini yang keberapa. Saat hendak melangkahkan kaki keluar gerbang, Sakura ingat sesuatu. Dengan segera ia berbalik arah, menuju area lain sekolah, lapangan. Sosok yang ia cari-cari tak terlihat di sana. Tak ingin berhenti, Sakura beranjak dari tempat itu. Pergi ke tempat yang mungkin dikunjungi sosok ini.
Atap sekolah.
Dan, kosong, tak ada siapapun juga di sana. Sakura kembali melangkahkan kaki, dan tujuannya kali ini adalah...
Taman sekolah.
Ya, dan benar saja, kini tampak sosok yang ia kenal, tengah tertidur berbaring dengan kedua tangan sebagai tumpuan kepala, dua kancing kemeja putih ia biarkan terbuka, blazer sekolah telah terlepas dari badan atletis itu. Meskipun keringat melekat ditubuh, tetap saja ketampanan Uchiha tak luntur, entah apa yang terjadi jika fansgirl Sasuke melihatnya dalam kondisi seperti ini, akan berteriak-teriak memanggil nama pemuda itu, nosebleed, atau bahkan pingsan? Coba lihat sekarang, keringat mengucur di wajah putih Sasuke, rambur raven-nya agak basah, begitu juga dengan kemeja itu, pemandangan yang tampak ... hot, eh?
Sakura mendekat dan duduk tepat di samping Sasuke yang berbaring, masih setia dengan mata yang tertutup. Dadanya naik turun perlahan, frekuensi detak jantungnya belum sepenuhnya kembali normal, tentu itu karena apa yang ia lakukan. Berlari keliling lapangan 30 kali? Tak terbayang, bagaimana rasanya di posisi Sasuke, belum lagi dengan sekujur badan yang akan terasa lebih pegal di malam harinya.
"Sasuke?" panggil Sakura lembut.
Hening.
"Sasuke?" panggilnya lagi, kini dengan mengguncang pelan bahu kekar disebelahnya.
Tetap tak ada jawaban.
Sakura mengehela napas, kembali memperhatikan sahabat kecil yang tengah tertidur dengan nyaman, wajahnya terlihat damai. Sakura terkikik kecil. 'Seperti anak kecil saja,' batin Sakura. Tak tega melihat peluh yang membasahi Sasuke, Sakura berinisiatif mengambil sapu tangan biru muda dari ransel. Ia usap perlahan keringat yang berada di wajah sang Uchiha, sangat pelan karena tak ingin membangungkan pemuda itu.
Hei, sepertinya kau tak sadar eh, Sakura? Pemuda yang sejak tadi tidur itu sejatinya tidak benar-benar tertidur. Dan tahukah kau, apa yang sejak tadi kau lakukan, sesungguhnya sudah diketahui oleh Sasuke dari awal kedatanganmu ke taman.
Sasuke merasakan usapan ringan di wajahnya, entah mengapa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, darah berdesir, dan hatinya terasa ... hangat? Sasuke menyukai sensasi ini, sensasi aneh yang membuat dadanya bergejolak. Entah mengapa, hanya dengan sentuhan lembut dari gadis musim semi itu, cukup membuat jiwanya tenang.
Tapi...
Suatu hal berkelebat dan muncul kembali di benaknya. Kejadian saat jam pelajaran kosong tadi, saat ia bertemu Sakura, dan tiba-tiba Sai datang, juga saat ia tanpa sengaja melihat kedekatan keduanya di taman sekolah, dan pergi meninggalkan tempat itu sebelum keberadaannya diketahui, ya, sesaat setelah Sasuke tanpa sengaja menginjak ranting pohon kering. Hatinya mulai kembali panas, ribuan jarum terasa kembali menusuk, tangannya mengepal erat.
Seketika Sasuke membuka mata dan mencengkeram pergelangan tangan Sakura, dan entah secepat apa pergerakannya, kini Sakura terbaring di rerumputan taman sekolah, dengan Sasuke yang berada di atasnya, kedua tangan berada di sisi kepala sang gadis bubblegum, menjadi penyangga agar tak menindih tubuh Sakura.
Deg.
"Sa-Sasuke?" Sakura gugup dan terlalu kaget dengan apa yang terjadi.
Uchiha masih terdiam, onyx menatap intens pada emerald, tersirat kekecewaan sekaligus kebencian di sana. Sakura yang ditatap seperti itu tentu saja merasa takut. Ada yang tak beres dengan sahabatnya itu. Tubuh Sasuke sedikit menurun, Sakura akan benar-benar terhimpit jika saja kedua tanganya tak menahan dada bidang Sasuke.
"Sa-Sasuke? Ba-bangunlah, ini bukan po-posisi yang enak untuk bicara, kan?" Sakura gugup sekaligus takut, jarak wajahnya dengan Sasuke begitu dekat, hingga napas pemuda itu bisa ia rasakan. Sasuke masih memandangnya. Sebelum akhirnya...
"Jauhi mayat hidup dan panda itu," ucap Sasuke datar, namun terdengar sangat dingin.
"Ma-mayat hidup? Panda?" Sakura tak mengerti, mencoba mencerna kalimat yang ia tangkap. "Ma-maksudmu ... Sai dan Gaara?"
"Hn."
Sakura tak mengerti, keningnya berkerut. "Ke-kenapa? Kenapa aku harus menjauhi mereka?"
"Orang menyebalkan tak pantas mendekatimu!" intonasinya mulai meninggi, tetap dingin.
Sakura heran dengan jawaban Sasuke, kenapa seperti itu? Sakura tak terima dengan alasan yang diberikan. "Mereka orang baik! Meski terkadang memang bersikap menyebalkan, tapi ... bukan berarti aku harus menjauhi mereka kan!" seru Sakura, kini tak ada rasa takut dihatinya, keberanian sudah terkumpul, emerald-nya menatap balik sang onyx dengan tajam.
Sasuke menyeringai, "Oh, jadi kau suka bersama banyak laki-laki eh, Sakura? Sudah berapa orang yang kau ajak kencan, hm?" tatapan yang tadinya tajam kini menjadi sinis.
Keterlaluan. Ucapan Sasuke kali ini benar-benar keterlaluan, tak terasa kedua tangan yang menahan dada bidang itu kini mencengkeram erat kemeja putih sang pemuda. "Apa yang kau katakan! Hanya karena aku dekat dengan mereka, dan kau menyimpulkan hal yang tidak-tidak seperti itu! Aku tak serendah itu, Tuan Uchiha!"
"Hn? Bahkan kau berani membentakku eh, Sakura? Siapa yang mengajarimu? Mayat hidup? Atau Panda itu?" Sasuke masih mempertahankan seringainya.
Memang, Sakura yang biasanya polos kontras sekali dengan sifatnya yang saat ini. "Jangan salahkan mereka, mereka tak ada hubungannya! A-aku ... itu, karena yang kau ucapkan barusan sudah sangat keterlaluan, Sasuke!"
Grep.
'Eh?' napas Sakura serasa tertahan. Kini Sasuke semakin menghimpit Sakura, dengan kepala yang mendekat. Gadis itu hanya bisa menutup matanya, perasaan takut kembali muncul. Kepala Sasuke semakin mendekat. Dan kini Sakura merasakan napas hangat yang dekat menggelitik telinganya.
"Kau ingin tahu kenapa?" suara baritone yang lembut memasuki indera pendengaran. "Karena ... aku tak suka," ucapnya lebih dalam.
Deg.
Lagi-lagi detak jatung itu.
Himpitan mulai melonggar, Sasuke bangun, mengambil blazernya, dan meninggalkan Sakura tanpa menoleh sedikitpun. Sakura masih terbaring mematung. Mencerna kembali kejadian yang baru ia alami.
.
-You All Special for Me-
.
Terlihat sosok yang baru saja keluar dari ruang guru, tampak sedang berbincang kecil dengan sosok lain, sebelum akhirnya mereka berpisah, dan tujuannya saat ini adalah pulang ke rumah. Sampai sebelum matanya menangkap sosok bersurai pink tengah terbaring di taman, dan ucapan yang selanjutnya keluar dari sang gadis menarik tubuhnya untuk tetap berada di tempat yang tak jauh dari gadis itu.
"Kenapa jadi begini?! Sasuke tak menyukai Sai dan Gaara. Begitupun sebaliknya, Gaara sepertinya tak bersahabat dengan Sasuke. Sai, aku yakin ia mengetahui sesuatu, tapi kenapa tak mau memberitahuku? Ditambah, Ino, ada apa dengannya? Kenapa sejak tadi pagi ia mengacuhkanku?" ujar Sakura, akhirnya ia mengeluarkan semua hal yang mengganggu hatinya beberapa waktu ini, pandangannya menatap nanar pada dedaunan rimbun yang jadi peneduhnya.
Tanpa sadar, ada sosok yang mendegarkan curahan hati Sakura.
.
-You All Special for Me-
.
To be Continued
Balas Review:
-Love Foam : Hn, maaf ya, untuk chap 7 SasuSaku-nya sedikit. Ne, akan terjawab di chap-chap depan. Doumo arigatou RnR-nya Love Foam-san. ^^
- hanazono yuri : Hn, antara SakuSaiIno sudah saya rencanakan, dan untuk SasuSakuGaa akan saya usahakan. Gomen ne, baru bisa update sekarang. Doumo arigatou RnR-nya hanazono yuri-san. ^^
-Pinky Blossom : Ee? Hontou ni? Doumo arigatou. ^^ . Gomen ne, hubungan SaiSaku yang sebenarnya baru akan terlihat di chap-chap depan, alurnya lambat ya? Untuk InoSaku juga akan terjawab di chap-chap selanjutnya. Doumo arigatou RnR-nya Pinky Blossom-san.^^
-Aquamarine24 : Ne, untuk sosok itu Ino atau bukan sudah saya jawab di chap ini, sekarang sudah tahu kan siapa. Gomen ne, baru update sekarang. Doumo arigatou RnR-nya Aquamarine24-san. ^^
Sekian, doumo arigatou minna-san. Jika berkenan, Read & Review lagi... ^^
