.
Warning : AU, OOC, miss typo, alur berantakan, etc
Genre : Friendship/ Romance
Rate : T
Pairing : SasuSaku GaaSaku
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
You All Special for Me © Sky no Raven
.
.
-You All Special for Me-
[the last & the longest chapter]
.
Hari sudah berganti. Jam penanda istirahat pun baru saja berbunyi. Tapi tidak dengan hubungan kedua sahabat itu. Sejak beberapa hari yang lalu mereka tak saling bercanda seperti bisa. Gadis aquamarine telah meninggalkan kelas, tumben tak mengajak Hinata. Sedangkan gadis bubblegum hanya bisa menatapnya dengan pandangan sendu. Baru ia sadari, Hinata pun juga sudah tak ada di kelas. Sakura menghela napas. 'Mungkin jika ke atap, aku bisa menenangkan diri,' batinnya.
Baru beberapa langkah, terdengan panggilan seseorang menginterupsi.
"Haruno-san!" Sakura pun berbalik, didapatinya guru sastra tengah berdiri membawa beberapa buku tebal.
"Eh, Guru Iruka?" sekarang ia tahu siapa yang memanggilnya.
"Syukurlah. Aku butuh bantuanmu," senyum cerah tercetak di wajah sang guru.
"Eh?" Sakura memiringkan kepala, penasaran dengan bantuan apa yang guru itu perlukan darinya.
.
-You All Special for Me-
.
Tampak di tempat lain, terlihat dua siswa berbeda warna rambut tengah duduk di bawah pohon besar, tepatnya di taman sekolah. Menyenderkan punggung senyaman mungkin pada batang kokoh pohon peneduh itu. Langit hari ini cerah, namun tak panas. Hawanya pun sejuk, nyaman sekali untuk sekedar beristirahat.
"Hei, Gaara. Kau masih kesal, eh?" suara pemuda berkulit pucat menghapus keheningan yang tercipta.
Pemuda bermata jade mendengus. "Jika kau tahu, kenapa bertanya!"
Sai tersenyum seperti biasa, namun senyum itu terlihat menyebalkan bagi Gaara. "Hei, bukankah kau salah satu 'Pangeran Kutub' di sekolah? Ada apa dengan sikapmu?"
"Tak ada hubungannya denganmu!" balas Gaara ketus.
"Tentu saja ada. Hei, kau tak sadar apa, kita sudah berteman sejak sekolah dasar," Sai berhenti sejenak. "Aku melakukan itu karena aku peduli dengannya, aku menyayanginnya, aku hanya ingin melihatnya bahagia, itu saja."
Gaara termenung sejenak, kemudian menyeringai kecil. "Sejak kapan pemuda tak berpigmen ini peduli dengan hal seperti itu?"
"Hm, kurasa memang dari dulu aku seperti ini, bahkan sebelum mengenalmu," Sai tersenyum.
"Cih, hentikan senyum menyebalkanmu!" Gaara mendecih kesal. Kalau saja Sai bukan sahabatnya, mungkin dari dulu ia sudah menonjok muka palsunya itu.
"Oya, kau tahu. Sepertinya sikapku yang seperti itu sekarang bertambah lagi karena sesuatu."
Gaara diam, terlalu malas membalas ucapan pemuda di sampingnya yang menurutnya absurd.
Sai menyeringai. "Dan itu karena ... sahabatku yang dingin ternyata bisa dibutakan oleh hal sederhana bernama cinta. Tak kusangka, hahaha..." tawa Sai tanpa dosa. "Ah, ya, aku jadi lapar sekarang, aku ke kantin dulu. Bye, Gaara!" segera ia meninggalkan pemuda merah itu.
Sepeninggalnya Sai, tampak Gaara mengepalkan tangannya. Segamblang itu sang sahabat menyuarakan isi hatinya. "Sai," pandangnyanya kini berubah tajam. Mukanya bersemu, antara kesal dan malu. Tapi tak bisa dipungkiri, memang benar apa yang diucapkan Sai barusan.
.
-You All Special for Me-
.
Sakura berjalan ke ruang UKS. Ia tak mengerti, mengapa sang guru memintanya datang ke sana. Dan yang membuatnya heran, ia diminta untuk merapikan ruangan itu. 'Bukankah ada petugas khusus untuk hal seperti ini?' tapi mau bagaimana lagi, ia tak enak hati untuk menolak.
Kaki jenjang itu akhirnya sampai pada tempat tujuan. Segera ia masuk ruang itu. Bau khas obat-obatan agak tercium salah satu inderanya.
"Permisi," Sakura memberi salam.
Tampaknya ada seseorang lagi di sana.
"Eh, Ino? Kau di sini rupanya," ucap Sakura kikuk.
"Kau sudah lihat kan, ini aku, bukan Hinata" jawab Ino sarkastis.
Sakura menghela napas. "Aku diminta Guru Iruka untuk merapikan ruang UKS."
"Kalau begitu cepat kerjakan! Aku tak mau berlama-lama di sini," Ino acuh, sibuk merapikan bagian sebelah kiri.
"Baiklah," Sakura segera membantu merapikan di bagian ruangan sebelah kanan.
Hening. Tak ada yang memulai pembicaraan. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Yang satu benci, yang satu cemas. Kalau seperti ini terus tak akan ada selesainya. Tak ada cara lain, salah satu dari mereka harus bertindak.
"Ino?" panggil Sakura.
Yang dipanggil tak bergeming.
Sakura menghela napas kembali. "Ino. Aku tak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi, entah kenapa beberapa hari ini aku merasa ... kau menjauh dariku. Apa aku melakukan kesalahan padamu, Ino? Maaf, jika aku tak menyadarinya."
"Kau menyebalkan, Sakura," ucap Ino dingin.
Sakura terpaku. "A-apa? Aku menyebalkan? Aku benar-benar tak tahu apa masalahmu, karena kau tidak cerita padaku. Beritahu aku, apa salahku," pandangan mata Sakura terlihat sayu.
"Kau ... kau bukan sahabatku lagi, SAKURA!" bentak Ino, sekejap membuat Sakura terlonjak.
"A-apa? Apa yang kau bicarakan?!" tampaknya emosi Sakura ikut terpancing. "Kenapa kau berkata seperti itu?! Kita kan..."
"KARENA KAU SELALU MEREBUT APA YANG AKU HARAPKAN!" seru Ino seketika, cukup membuat nyali gadis cherry itu menciut kembali. "Sejak kedatanganmu ... lebih banyak orang yang menyukaimu daripada aku! Gaara, pangeran dingin itu dekat denganmu, oke, aku tahu karena kalian sahabat sejak kecil. Lalu, Sasuke, seseorang yang aku sukai, tapi akhirnya dengan mudahnya kau mendekatinya. Baiklah hal itu sudah tak aku pikirkan. Tapi ada satu hal yang paling aku benci ... KENAPA KAU JUGA MENGAMBIL SAI! Sudah cukup kau mengambil orang yang kusukai, SAKURA!"
Sakura membeku, masih mencoba mencerna setiap kalimat yang baru saja Ino lontarkan. Dan kini, ia sudah mendapat kesimpulan. "Kau ... cemburu karena aku dekat dengan ... Sai?" tanya Sakura hati-hati.
"Ya! Aku cemburu! Sangat cemburu! Puas!" balas Ino tajam.
Sakura termenung, masih menatap sahabat aquamarine di depannya.
Di sisi lain, mereka tak menyadari ada seseorang yang mengamati. Bukanya sosok itu bermaksud menguping, tapi ia hanya ingin memastikan rencananya berjalan dan berhasil. 'Sakura-chan. Ino-chan. Maaf, aku hanya ingin melihat kalian akur kembali,' batin sosok bermata lavender itu. Ya, ia adalah orang yang meminta bantuan guru sastra untuk membantu rencananya itu, dengan dalih meminta kedua sahabatnya merapikan ruang UKS.
.
-You All Special for Me-
.
Di waktu yang sama dan tempat berbeda. Tampak seorang pemuda bermata onyx tengah bersandar pada sebuah kursi. Matanya terpejam. Naruto mencemaskan pemuda yang sejak beberapa hali lalu tampak lebih dingin, tak jarang ia mendapatinya murung.
"Hei, Teme? Kau itu kenapa, heh? Jangan salahkan aku ya, kalau tiba-tiba kau jadi bisu!" ucap Naruto pura-pura marah.
Tak ada jawaban.
"WOI! TEMEEEEEEEEE...!" teriaknya, Naruto kehilangan kesabaran, kesal juga ia.
DUAK!
"AUW! HEI, KENAPA KAU MALAH MENJITAKKU!" teriak Naruto tak terima, sebenarnya salah siapa di sini? Orang yang tak merespon panggilan orang lain, atau orang yang tak sabar akhirnya berteriak tepat ditelinga orang yang dipanggil?
"Kau, berisik, Dobe!" balas Sasuke tajam.
"Salahmu yang tak meresponku!" Naruto berpindah tempat, duduk dikursi depan Sasuke dan membalikkan badan kebelakang, hingga ia dan Sasuke saling berhadapan. "Sebenarnya, kau ada masalah apa sih? Ceritakan padaku, aku 'kan sahabatmu."
"Hn."
Empat sudut siku-siku muncul di dahi Naruto. "Sasuke. Pangeran yang paling tampan di sekolah, maukah kau berbagi curahan hatimu padaku...?" Naruto memandangnya dengan puppy eyes.
"Kau menjijikan!" ujar Sasuke tajam.
"Habis, kau tak mau menceritankannya padaku. Apa ada masalah dengan keluargamu?"
"Bodoh. Keluargaku baik-baik saja," Sasuke mendengus.
"Apa nilai mata pelajaranmu menurun?"
"Nilai seorang Uchiha menurun? Heh, tak akan!"
"Apa kau punya hutang di kantin, lalu tak bisa membayarnya?"
Sasuke menatap tajam tepat ke mata sapphire Naruto, cukup membuat nyali Naruto turun.
"Ehehe ... aku cuma bercanda," ia tertawa garing, diam sesaat seolah mengingat sesuatu. "Apa ... ada hubungannya dengan seseorang?" Naruto tak enak hati jika langsung mengucapkan nama orang itu, meski kini ia tahu betul mengapa akhir-akhir ini Sasuke bersikap aneh. Naruto pun telah mengenal gadis bersurai merah muda itu, karena pernah bertemu saat Sakura sedang bersama Hinata dan Ino.
Pertanyaan terakhir Naruto sempat membuat raut wajah Sasuke berubah, tapi tak bertahan lama.
Sasuke tetap diam.
Ya, meskipun perubahan itu hanya sebentar. Tapi kepekaan Naruto tak bisa dibohongi. 'Jadi, begitu ya,' dugaannya ternyata tepat.
.
-You All Special for Me-
.
Bel sekolah berbunyi. Tampak para murid yang tengah berada di kelas serentak bersiap dan berhambur keluar. Tak terkecuali gadis ponytail yang tengah memasukkan buku ke dalam tas. Masih termenung, masalah yang selama ini ia pendam soal sahabatnya sudah terselesaikan di ruang UKS. Hatinya merasa sangat lega sekarang. Pandangannya tertuju pada bangku kosong sahabatnya. Hanya beberapa saat setelah bel pulang berbunyi, Sakura dipanggil oleh seseorang, yang Ino tahu murid biasa dari kelas lain. Entah apa yang akan mereka lakukan, karena ia belum pernah melihat Sakura berbicara dengan murid itu sebelumnya.
Tak ambil pusing, Ino melangkah keluar kelas. Baru beberapa langkah, ia pun berhenti.
"Eh, Hinata? Naruto? Kalian belum pulang?" tanyanya pada dua sejoli itu.
"Be-belum, Ino-chan," Hinata tersenyum.
"Hei, Ino. Kau mau lihat pertunjukan gratis tidak?" tanya Naruto dengan cengiran lebarnya.
"Ha? Pertunjukan gratis? Apa maksudmu?" Ino mengerutkan kening pertanda ia tak paham.
Cengiran lebar dan tawa misterius tak henti keluar dari mulut pemuda blonde di depannya. "Hehehe ... kalau kau ingin tahu, ayo ikut kami!" seru Naurto bersemangat.
Dan dengan begitu ketiganya pun meninggalkan koridor sekolah. Diikuti teriakan Ino yang menanyakan tujuan kemana mereka akan pergi.
.
-You All Special for Me-
.
Tadi sesaat setelah bel pulang, Sakura dipanggil oleh siswa yang berbeda kelas dengannya. Sakura tak mengerti, yang jelas, siswa itu meminta Sakura datang ke atap sekolah. Tak enak hati menolak, Sakura pun menuruti permintaan itu.
Sakura membuka pintu atap sekolah, dan ketika kakinya sempurna menginjak di sana, yang ia lihat adalah...
"Sai? Gaara?" ada dua sosok lain tengah berdiri.
"Sakura? Kau belum pulang?" tanya Gaara.
Gadis itu menggeleng. "Tadi ada seorang siswa yang memintaku ke atap sekolah. Kalian sendiri sedang apa di sini?"
"Eh? Kenapa sama? Kami juga dipanggil untuk kemari," ujar Sai.
Belum habis keheranan mereka, pintu atap kembali terbuka. Dan sosok itu...
"Eh? Sasuke?" keheranan Sakura bertambah, tak terkecuali dua pemuda di sampingnya.
'Kenapa dia juga?' batin Sai dan Gaara, menatap tajam, dan sebaliknya, Sasuke pun menatap mereka tak kalah tajam.
"Aku disuruh ke sini," jawabnya datar, seakan membaca batin kedua siswa di hadapannya.
"Ini, aneh sekali. Kenapa kita bisa bersamaan dipanggil?" Sakura mengeluarkan keheranannya.
"Hn," jelas ini respon siapa?
"Aku tak tahu."
"Satu kunci yang bisa menjawab, siapa yang merencanakan ini? Aku rasa guru tak mungkin," ucap Sai.
Keheningan tercipta, tak ada yang bersuara, karena mereka tak tahu harus berkata apa. Setidaknya sampai langkah kaki terdengar mendekat.
"Hei, hei. Maaf membuat kalian menunggu. Jika kalian bertanya, maka akan kujawab," sosok itu berjalan lebih dekat.
"Aku yang merencanakan semua ini," cengiran lebar khas sosok itu terlihat.
Semua arah pandang mata tertuju padanya. Masih dalam posisi terbengong, sebelum kembali ke alam sadar masing-masing.
"Na-Naruto?"
"Dobe?"
"Uzumaki?"
"?"
Benak ke-empat anak dipenuhi tanda tanya.
"Untuk apa kau melakukan ini?" kalimat datar keluar dari Sasuke.
Naruto menghirup udara sejenak dan mengeluarkannya. "Baiklah, langsung saja. Aku tak tahu masalah apa yang kalian hadapi, tapi, aku tak tega melihat seseorang yang seperti kehilangan nyawa," pemuda ini pintar menyindir juga, eh?
'Cih,' batin Sasuke, ia tahu siapa yang Naruto maksud.
"Dan juga, beruntungnya aku mengetahui clue permasalahan yang terjadi di antara kalian berempat. Sepertinya aku harus berterimakasih pada seseorang," ucap Naruto dengan mengarahkan pandangan pada Sakura. "Terimakasih Sakura-chan.Maaf, aku tak bermaksud menguping saat kau sendirian di taman sekolah waktu itu," Naruto tersenyum canggung.
"Eh...?" Sakura mencerna kaliamat yang ia tangkap. "Ja-jadi, ka-kau mendengarnya?"
"Iya, maaf Sakura-chan," pemuda itu menggaruk tengkuk yang tak gatal.
Ketiga pemuda yang lain menatap Sakura penuh tanya.
"Jadi sebenarnya ada apa ini?" Sai tak bisa menutupi keingintahuannya, begitupun Sasuke dan Gaara.
"Aku sengaja mengumpulkan kalian agar masalah cepat selesai, meski aku tak tahu apa masalahnya," Naruto melihat ke arah Sakura. "Sakura-chan, katakan saja apa yang ingin kau utarakan."
Sakura tampak linglung, tapi apa boleh buat. Ia juga ingin masalah diantara mereka teratasi. Sakura melakukan hal yang sama seperti Naruto, menghirup udara dan menghembuskannya,"Jujur, aku sendiri tak tahu. Ada beberapa hal yang tak kumengerti. Sasuke, kenapa kau seperti tak menyukai Sai dan Gaara? Dan sebaliknya, Gaara, kenapa kau tak bersahabat dengan Sasuke?"
"Dan satu hal lagi, Sakura. Kenapa Sai sangat sister complex padamu?" titah Gaara lancar, ia mendengus, terkadang ada sedikit rasa sebal juga melihat Sai dekat dengan Sakura, meski ia sudah mengetahui fakta tentang mereka.
"Sister complex?" Sasuke tak mengerti, keningnya berkerut.
"Ya, perhatiannya sangat berlebihan pada Sakura," akhirnya Gaara mengeluarkan unek-uneknya.
"Hei, kau tahu sendiri, aku masih satu bagian keluarga dengan Sakura. Sakura tak punya saudara lain, begitupun aku, tak ada salahnya kan memperhatikan satu-satunya saudara yang kita punya?"
"Keluaraga? Saudara?" entah kenapa otak encer Sasuke tak begitu bekerja saat ini.
"Ya. Sai adalah sepupuku. Ia anak dari kakak Ibuku, dengan kata lain, Sai anak dari bibiku. Dan kami merupakan saudara sepupu," terang Sakura, sukses membuat sang Uchiha tercengang sesaat. Jadi selama ini?
"Jadi kalian berdua ... sepupu?"
"Yap! Benar sekali!" seru Sakura dengan senyumnya, "Ingat tidak, Sasuke? Jika kau bertanya, siapa yang mewarnai rambutku jadi merah waktu kita masih kecil, Sai adalah jawabannya," dengus Sakura, mendengar penjelasan itu entang mengapa Sasuke merasa lega.
"Hei, aku kan hanya bereksperimen," bantah Sai tanpa dosa.
"Huh!" Sakura membuang muka, pura-pura marah.
"Hei, sepupu yang manis, kalau kau begitu ingin sekali kucubit pipimu," seketika Sakura kembali ke emosi normal, terdengar kikikan dari Sai. Dan yang lain hanya melihat kedua sepupu itu dalam diam.
Nah, inilah juga yang menjadi penyebab Ino menjauhi Sakura, dan saat di ruang UKS tadi, Sakura menjelaskan yang sebenarnya. Sekarang ia tahu, Ino cemburu padanya yang dekat dengan Sai. Sekarang ia tahu satu fakta, Ino menyukai sepupunya.
Sai yang mulai mengerti, kini menyimpulkan, "Jadi, hanya karena salah paham, eh?"
"Apa maksudmu, Sai?" Naruto yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara.
Pemuda pucat itu menyeringai. "Tak jelaskah? Uchiha tak suka setiap kali aku dekat dengan Sakura-chan, apa sebelumnya ia kira kami punya hubungan spesial? Tapi, sekarang jelas 'kan yang sebenarnya."
"Cih," Sasuke membuang muka.
"Baiklah masalah pertama sudah selesai. Sekarang kita kemasalah inti. Aku tahu, kau juga tak suka saat Gaara bersama Sakura-chan, dan sebaliknya, Gaara tak suka ketika Uchiha didekat sepupuku yang manis ini," Sai merangkul Sakura.
"Eh?" Sakura tak paham, memperhatikan Sai, Sasuke dan Gaara secara bergantian, dan terus begitu.
Sai menghela napas, ingin sekali mengacak-acak mahkota soft pink sepupunya, ia pasrah, mau bagaimana lagi, jika sepupunya memang tak mengerti, sepertinya ia yang harus mengatakan. "Sakura, kau ini terlalu polos, tak pekau atau apa sih? Kau tak tahu apa, sebenarnya mere..."
"AKU MENCINTAIMU SAKURA...!"
Sontak semua pasang mata beralih ke sumber suara, termasuk dua sosok yang sejak tadi bersembunyi memperhatikan mereka.
Terlihat dua sosok pemuda tengah menghirup udara sebanyak-banyaknya, dada mereka naik turun dengan cepat, seperti habis berlari jauh.
"Aku tak mengira," bisik Ino pelan, mulutnya terbuka.
"Sa-Sakura-chan," tampak Hinata disebelahnya. Kedua orang inilah yang sejak tadi bersembunyi, namun tetap bisa melihat jelas apa yang sejak tadi terjadi. Inilah 'pertunjukan gratis' yang dimaksud Naruto pada Ino.
Naruto yang berada di sana pun ikut syok, setelah mendengar secara langsung pernyataan cinta, dari dua pangeran dingin Konoha Gakuen pada satu gadis yang sama, mulutnya menganga lebar dan tak mau menutup. Terutama saat mengetahui fakta, sahabatnya Sasuke, yang terkenal tak memiliki perasaan pada wanita, ternyata memendam rasa pada gadis Haruno. Berbeda dengan Sai, ia tampak tenang-tenang saja, hanya memamerkan senyum misteriusnya.
"Eh?" setelah keheningan sebelumnya, dan suara yang keluar dari Sakura hanya itu?
Sai menepuk jidat, benar-benar sepupunya ini, kesabarannya sudah habis, ia yang akan langsung menjelaskan sejelas-jelasnya.
Tapi sebelum mulutnya terbuka, suara lain menginterupsi. "Jadi ... kalian ... mencintaiku?" tanya Sakura perlahan pada dua pemuda di hadapannya. Sai tak menyangka, Sakura mengutarakan hal itu, ia bisa mengelus dada sekarang.
"Apa kurang jelas, heh?" ucap Sasuke ketus, ia membuang muka, wajahnya bersemu, susah payah ia mengeluarkan kalimat itu, dan hanya itu respon Sakura? Sungguh, ego seorang Uchiha.
"Aku tak suka mengulang kalimat," jawab Gaara tak kalah ketus, ia melihat ke sembarang arah, asal bukan Sakura, pipinya menghangat, sejak kecil ia memberikan perhatian khusus pada gadis itu, apa kau tak sadar Sakura? Kasihan sekali.
Sepertinya sekarang tugas Sai menjadi moderator. "Jadi, Sakura. Bagaimana? Siapa yang kau pilih? Gaara? Atau Sasuke?" tanya Sai langsung pada Sakura.
Sakura termenung, dua sahabat kecilnya bersamaan menyatakan cinta padanya. Mana yang kau pilih, Sakura? "Baiklah," Sakura memberi jeda, membuat yang lain tak sabar menunggu. "Aku memilih ..."
"Cepatlah, Sakura..." bisik Ino geregetan, suara yang pasti tak terdengar oleh Sakura.
"Aku memilih ..." lagi, Sakura memberi jeda, semua makin tak sabar. "Aku, aku ... belum bisa memilih diantara kalian berdua, karena aku sendiri belum tahu dengan perasaanku, maaf, hehe..." Sakura tertawa garing, jawaban yang cukup menusuk hati kedua pemuda itu. Dan lihat ekspresi bengong keduanya, sangat tidak ke-Uchiha-an dan tidak ke-Sabaku-an. Miris sekali.
"APA? Sejak tadi kami menunggumu menjawab, dan hanya ini jawabanmu?!" karena terbawa emosi, Ino keluar dari tempat persembunyian, Hinata yang sejak tadi mencoba menenangkan Ino ternyata tak berhasil akhirnya.
"I-Ino?" panggilan Sakura sontak menyadarkan Ino.
Ino kembali ke alam sadar, wajahnya memerah, menyadari betapa memalukan sikapnya tadi. "Ehehe, maaf mengganggu kalian, silahkan kalian lanjutkan," Ino meringis tak enak, merutuki kebodohannya sendiri. Malu? Jangan ditanya, lihat sikapnya yang sekarang salah tingkah ditatap beberapa pasang mata.
"Seharusnya kau tadi sekalian saja ke sini Ino, biar pertunjukannya lebih jelas," cengir Naruto tanpa dosa.
"Eh, jika Naruto yang merencanakan ini. Jadi saat aku dan Ino di UKS itu...?" entah mengapa otak Sakura kali ini mengalami kepekaan.
"Maaf, Sakura-chan, Ino-chan, aku hanya ingin kalian kembali akur," Hinata menundukkan kepala, ia baru saja keluar dari persembunyian.
"Hinata!" seru kedua gadis itu bersamaan merengkuh Hinata dalam pelukan.
"Jangan minta maaf! Aku malah sangat berterimakasih padamu, Hinata," ucap Sakura tulus.
"Kau tahu. Tanpa kau, aku akan murung karena kehilangan satu sahabat," ucap Ino lembut.
"Terimakasih, Hinata," ucap keduanya.
"Te-teman-teman..." tak kuasa, ketiganya menitikan air mata persahabatan.
Saat ketiga gadis itu larut dalam pelukan hangat, ke-empat pemuda memandang mereka dengan kening berkerut. 'Kenapa mereka?' begitulah batin ke-empatnya.
Sakura menghela napas, lega rasanya, ketiganya telah melepas pelukan. Gadis musim semi itu menatap semua sahabatnya satu per satu. "Aku tak tahu, apa yang akan terjadi padaku tanpa kalian semua," semua mata tertuju pada Sakura.
Sakura memandang Sai . "Sai, terimakasih sudah menjadi sepupu yang sangat baik bagiku. Kau selalu ada untukku, menghiburku ketika sedih, menemani ketika aku sendiri. Tapi, benar yang Gaara katakan, sepertinya kau sister complex ya?" cengir Sakura tanpa dosa, Sai hanya memuar bola matanya. "Maka dari itu, cobalah cari pendamping hidupmu sendiri, agar kau punya orang lain yang akan lebih kau perhatikan, hehe..." tawa Sakura polos, ia melirik sekilas gadi ponytail disebelahnya, tampak semburat merah di pipi sang gadis.
'Jangan beritahu Sai!'
'Tenang saja, tidak akan.'
Seolah mengerti batin antara keduanya. Ino menghela napas lega.
Sakura menoleh ke arah kedua sahabatnya. "Ino, Hinata. Aku sangat bersyukur, di hari pertama kepindahan aku telah mendapatkan sahabat yag sangat berarti seperti kalian. Selalu menemaniku, makan bersama, bercanda dan tertawa, bahkan ketika sedih, kalian selalu di sampingku. Terimakasih Ino, Hinata," ucapnya tulus.
Keduanya membalas dengan senyum haru.
Kini arah pandangnya menuju Naruto. "Naruto. Kau tahu, tanpamu, aku tak akan bisa mendapatkan momen berharga ini, mungkin akan sangat sulit berbaikan dengan sahabatku. Karenamu, sekarang semua menjadi ringan. Aku tak tahu harus berkata apalagi selain, terimakasih, Naruto," senyum gadis itu tetap mengembang.
Yang kemudian dibalas oleh cengiran khas Naruto.
Sekarang Sakura melihat ke arah dua pemuda yang sejak tadi diam. "Sasuke, Gaara, terimakasih kalian telah menjadi sahabat kecilku yang baik, bahkan sampai sekarang. Terimakasih untuk perhatian kalian, tanpa kalian hidupku tak akan berwarna, meski jalan pikiran kalian kadang tak bisa kutebak, hehe..." senyum terbaik Sakura pun kini terbias.
"Kami juga sangat beruntung memiliki sahabat sepertimu, Sakura," ucap Ino semangat.
"Benar, Sakura-chan," Hinata membenarkan.
"Kau sepupuku yang paling berharga," Sai mengacak kecil kepala Sakura.
"Aku akan selau mencintaimu, Sakura."
Sontak semua mata memandang ke arah dua pemuda.
"Hei, ternyata kalian pasangan serasi ya, dari tadi mengucapkan hal yang sama. Dan dengar apa itu, dua pangeran kutub mengucapkan kalimat gombal. Wahahahahaha... " tawa Naruto, ia tak kuasa memegangi perutnya yang keram.
"Diam kau, Dobe!" ucap Sasuke tajam, sedangkan Gaara mendecih kesal. Wajah keduanya dihiasi semburat merah.
"Sudahlah. Tak perlu ada yang bertengkar lagi," lerai Sakura.
Benar kata gadis itu, semua terdiam, menatap Sakura. "Hihihi. Bunga sakura tak bisa tumbuh sendiri, ia perlu tanah, air, udara, sinar matahari, dan yang lain. Seperti kalian, karena kalian lah, hidupku jadi lebih berarti dan bermakna," Sakura melihat ke arah semua sahabatnya. "Kalian semua istimewa untukku," senyum Sakura mengembang lepas.
Semua ikut tersenyum. Ya, benar. Semua sahabat itu istimewa, semua sahabat itu spesial. Posisi sahabat tak akan pernah tergantikan. Seketika atap sekolah itu diisi oleh celoteh bahagia dari tiap pasang mata. Kebersamaan dalam persahabatan itu menyenangkan.
"Oya, aku ingat sesuatu!" seruan Sakura mengomando semua untuk diam. Sakura melangkah ke arah Sasuke, semua membisu.
Deg.
Sedangkan Sasuke? Jangan ditanya, jantungnya mulai berdetak cepat.
"Selamat ulang tahun, Sasuke!" seru Sakura sambil merentangkan kedua tangan, saat sudah sampai di depan sang pemuda raven.
Napas Sasuke tertahan sejenak.
"Jangan bilang kau lupa dengan tanggal dan bulan kelahiranmu!" Sakura menggembungkan pipinya.
Ah, ya, ini hari ulang tahunya, tanggal 23 Juli, bahkan dirinya sendiri sudah lupa. Tapi gadis ini masih mengingatnya?
GREP.
Semua mata terbelalak dengan mulut terbuka. Sasuke memeluk Sakura.
"Sa-Sasuke?" panggil Sakura dalam pelukannya.
"Terimakasih, Sakura," ujar pemuda itu lembut, terdengar dekat sekali dengan indera pendengar gadis itu.
Gaara yang tak percaya rasanya ingin menghajar pemuda itu, sayang Sai menahan gerakannya.
"Hei, ternyata hari ini ulang tahunmu, Teme? Selamat ulang tahun ya! Wah, maaf aku tak bawa kado untukmu," cengir Naruto.
Sasuke melepas pelukannya pada Sakura. "Apa sebelumnya kau pernah mengadoku, Dobe?" Sasuke mengerutkan kening.
"Ehehehe ... tidak sih," Naruto menggaruk kepalanya.
"Selamat ulang tahun, Sasuke!" ucap Ino dengan senyumnya.
"Se-selamat ulang tahun, U-Uchiha-san," Hinata memberi hormat.
"Yo, selamat ulang tahun, Uchiha," kini Sai memberikan senyum tulus.
"Selamat ulang tahun, Uchiha," ucap Gaara datar, sangat datar.
"Hn, terimakasih semua," senyum tipis terlihat di wajah tampannya.
"Eh, itu, maaf Sasuke, aku tak sempat membelikanmu hadiah," ucap Sakura pelan, ia meringis.
Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Hn, tak apa. Sebagai gantinya, kau harus menemanimu hari minggu nanti. Anggap saja itu pengganti hadiah darimu untukku," Sasuke menyeringai.
"Eh?"
"Hei, apa-apaan kau, Uchiha?!" Gaara yang tak terima mendekat.
Dan terjadilah perseteruan yang saling melempar ucapan sengit, antara Sasuke dan Gaara, tak ada yang mau mengalah. Sedangkan Sakura? Ia hanya bisa terdiam dengan bergantian menatap Sasuke lalu Gaara, dan terus begitu.
"Hahaha. Aku tak menyangka dua pangeran sekolah memperebutkan satu puteri yang sama," Ino tak habis pikir, sahabatnya itu telah memikat dua pemuda yang tak bisa dibilang biasa.
"Be-benar," Hinata tertawa kecil.
"Kalau kau tertawa, kau makin manis, Hinata-chan," seringai Naruto.
"Na-Naruto-kun," tampak wajah putih itu berubah semerah tomat.
"Hei, kau jangan menggodanya terus!" nasehat Ino.
"Hehehe, aku tahu, kau pasti iri kan? Makanya jangan jadi jomblo terus! Lihat di sampingmu juga ada yang senasib!" ucap Naruto menggoda Ino tanpa dosa.
Sedangkan Ino sudah tak tahan dengan wajahnya yang terasa terbakar, ia pun menundukkan kepala, berharap pemuda di sampingnya tak melihat. 'Awas kau, Naruto!' geramnya dalam hati.
"Begitukah, Naruto?" ucap Sai polos dengan senyum khasnya merespon kalimat Naruto. Apa ia tak sadar dengan ucapannya?Lihatlah, sang gadis Yamanaka semakin menunduk.
Dan kini kita kembali ke arah Sakura, Sasuke dan Gaara.
"Lepaskan tanganmu dari Sakura! Hei, pantat ayam!" seru Gaara yang berlari mengejar Sasuke, ternyata Sasuke menarik Sakura ikut berlari menjauh di atas atap sekolah.
"Apa kau bilang?! Tidak akan, dasar panda!" seru Sasuke.
"Argh! Kalian berdua, jangan menarik tanganku. Sakit tahu!" teriak Sakura.
"Hei! Apa yang kalian lakukan?! Jangan sakiti Sakura-chan! Berani kalian berbuat, akan kubuang kalian ke neraka!" teriak Sai yang kemudian ikut mengejar ketiganya, sepertinya sister complex-nya masih bertahan,eh?
Dan terjadilah kejar-mengejar diantara merak. Ino, Hinata dan Naruto yang melihatnya hanya bisa tertawa. Mereka semua sangat berarti bagi satu sama lain.
.
-You All Special for Me-
.
-FIN-
Balas Review :
-hanazono yuri : Ne, ini sudah update, maaf mengecewakan. Doumo arigatou Yuri-chan untuk RnR-nya... ^^
Yokatta, fanfic pertama saya selesai. Doumo arigatou Minna...!
.
.
