A Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Pairing: H. Sakura & U. Sasuke

Sahabat Jadi Cinta

Author: Biiancast Rodith

Genre : Romance/Frendship

Rated: Teens

Warning : OOC, Typo(s), Misstypo, Abal, Alur kecepetan

Dilarang keras ngeFLAME..

Don't like,don't read…

Don't like,don't read…

Summary: Apa aku salah menganggapmu lebih? Apa aku salah meminta kau hanya melihat dan memperhatikan aku saja? Apa sepasang sahabat cowok dan cewek tidak dapat berteman selamanya dengan adanya 'Cinta' diantara kita?

.

.

.

Enjoy Read

.

.

.

Hari ini aku akan melaksanakan tugas dari Tayuya-senpai yang telah dikerjakan oleh Sasori-nii tadi malam dan aku sudah siap-siap bergegas menuju KJHS untuk memberi surat undangan kepada sekolah tersebut. Pagi ini awal matapelajaran ku memang olahraga. Karena aku tidak begitu suka pelajaran ini, aku minta tolong kepada Tayuya-senpai untuk mengizinkan aku pergi ke KJHS pagi ini dan permohonanku diizinkan oleh Ketua OSIS.

Tapi, diperjalanan hendak menuju sekolah KJHS, aku melihat Sasuke dan Ino berjalan bersama. Aku hanya bisa memperhatikan mereka dari belakang. Ya bisa dibilang kalau aku ini seperti penguntit. Tapi, tidak bisa dibilang penguntit juga karena memang aku tidak sengaja melihat mereka. 'Untuk apa juga aku mengikuti mereka dari belakang? Memangnya aku takut sama mereka, aku'kan tidak mempunyai masalah dengan mereka. ' Innerku dalam hati.

Setelah menimbang-nimbang cukup lama dalam pikiran ku, akhirnya sudah ku putus'kan bahwa aku akan melewati dan tidak akan menyapa mereka.

Aku berjalan cukup cepat, seperti orang yang di kejar-kejar setan. Ya setannya ada dua. Siapa lagi kalau bukan chikenbutt dan Inopig. Tapi aku tidak akan takut dengan ke-dua setan sialan itu.

Saat aku akan melewati mereka, aku mendengar kalau nama kudipanggil seseorang dan aku yakin yang memanggil kubarusan adalah si setan centil, penggoda dan si penghianat. Yang memanggil ku barusan itu pacarnya si chikenbutt.

Karena aku orangnya baik, rajin menabung, tidak sombong, aku tolehkan wajahku menghadap sahabat-sahabatku ini. Eits, hampir saja lupa untuk menambahkan kata 'mantan'.

Dengan senyum yang sangat manis tentunya, sampai-sampai orang yang melihatnya lari terbirit-birit. Intinya aku tersenyum dengan tidak ikhlas atau bias di kata terpaksa.

"Saku-chan, kamu mau kemana? Kenapa terburu-buru sekali? " Tanya Ino kepadaku dengan sok perhatian di depan pacarnya.

Aku hanya bisa memberikan senyum yang tidak ikhlas. Kenapa? Itu karena pertanyaan Ino itu membuat perutku jadi mules. Buat apa dia pura-pura perhatian kepadaku? Biar dibilang baik sama pacarnya? Biar dibilang bahwa dia perhatian kepadaku walau aku sudah tidak dekat lagi dengan mereka? Aaa.. lupakan soal itu. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan itu meski kenyataan emang benar.

"Hei. Kalau seseorang bertanya, harusnya kau menjawab. Bukan'kah mulut diciptakan untuk berbicara atau kau memang sudah bisu. Dan lagi pula bukannya sekolahmu ke arah kanan? Apa kau sudah lupa mana kanan dan kiri?" pertanyaan itu membuat aku mengalihkan pandanganku yang tajam dengan sangat cepat kepada si chikenbutt ini.

Mendengarkan ucapan setan yang satu ini, membuat darah kebencianku terhadap dirinya semakin memuncak. Apa lagi sejak dia mengata-ngataiku yang aneh-aneh.

Hanya karena aku tidak membalas sapaan pacarnya harga diriku di rendahkan. Aku tidak terima.

Sejak mendengar dia berbicara aku sudah melihatnya dengan tatapan yang tajam. Ditambah lagi dengan perkataannya yang sangat pedas membuat aku semakin muak dengan dirinya

"Sasuke-kun, jangan berkata seperti itu."

Pandanganku masih tertuju ke arah Sasuke dan tidak memperdulikan teguran Ino agar aku terharu kepadanya karena dia telah menegur pacarnya.

"Apa kau bilang barusan?" kataku dengan sangat bengis.

Aku memang orang yang sangat ramah. Tapi setelah mendengan omongan tuan sok hebat ini, apa pantas aku beramahtamah kepadanya?

Aku pikir ada saatnya kita beramahtamah dan untuk ini tidak ada lagi kata ramah untuk dia.

"Ternyata kamu ini bukan hanya bisu saja ya, tapi juga TULI" bukannya menjawab perkataanku, Sasuke malah mengatakan sesuatu yang membuat amarahku semakin naik ke ubun-ubun.

Tanpa komando tanganku terkepal erat dan langsung melesat kearah wajahnya yang kata kekasihnya dulu tampan. Bukan hanya kekasihnya saja sih yang bilang kalau Sasuke tampan, tapi semua perempuan yang pernah melihatnya dan salah satunya juga aku. Tapi untuk saat ini, aku sudah tidak perduli lagi.

BUUUGGHHh. . .

" Sasuuuke-kun" Jerit Ino melihat kekasihnya sudah jatuh terduduk di tanah.

Memang benar wajahnya sangat tampan, tapi jika perkataannya buruk aku yakin orang akan berpikir dua kali untuk mengatakan kalau dia itu tampan.

Mungkin yang sependapat dengan aku, hanya orang-orang pintar saja. Bukan seperti kekasihnya.

"Sekali lagi kau bilang aku seperti itu, aku akan meludahi mulut kotormu itu. Untuk apa wajah tampan dan punya otak yang jenius tapi tidak punya sopan santun. Semua itu sama aja NOL di mataku." Kata kepada Sasuke dengan tangan yang masih terkepal.

Selesai berkata seperti, aku langsung meninggal'kan mereka tanpa ada kata pamit atau selamat tinggal. Aku hanya bisa meludah untuk menghilangkan rasa kesalku tadi.

Walau pun aku sudah memukul wajah Sasuke, sejujurnya aku masih memikirkan keadaannya. Sebenarnya tadi, aku tidak tega untuk meninju wajahnya karena memang aku masih saying dengan Sasuke. Tapi kalau di piker-pikir lagi, Sasuke pantas untuk menerima hadiah dariku.

Aku hanya tidak terima Sasuke yang dulu sering berangkat ke sekolah denganku, sekarang dia sudah bersama Ino. Aku cemburu, marah, kesal, dan sedih. Kenapa? Kenapa? Kata 'kenapa' selalu aku ucapkan di dalam hatiku setiap kali aku memikirkan Sasuke.

Aku iri dengan Ino. Dia yang baru hadir di kehidupan kami, kenapa langsung akrab dengan Sasuke-kun? Sedangkan aku? Aku hanya manusia pengganggu dalam hidupnya.

Memikirkan mereka niatku untuk pergi ke KJHS sudah hilang sejak aku bertemu dengan mereka. Aku pun memutuskan untuk pergi ke sekolahku saja dari pada aku harus jumpa mereka lagi di sekolahnya.

oOo

.

.

~#SJC#~~#SJC#~~#SJC#~~

Sekolah Kubokawa

Sejak insiden tadi pagi, moodku jadi tidak enak. Aku hanya bisa duduk sambil menikmati udara yang berhembus dari atap sekolah kami siang ini. Saat ini kami sedang beristihatan di atap sekolah dan makan siang bersama teman-temanku.

Aku tidak berselera untuk menyantap makan siangku saat ini. Padahal, bekalku saat ini merupakan makanan favorite yang sudah ku siapkan dari rumah. Bahkan untuk menyiapkan bekalku, aku bela-belain bangun lebih awal dari biasanya.

Mungkin yang membuat aku tidak berselera makan saat ini adalah perkataan Sasuke "Hei, kalo kau di tanya harusnya kau menjawab. Bukankah mulut di ciptakan untuk berbicara atau kau sudah bisu. Dan lagi pula bukannya sekolahmu ke arah kanan? Apa kau sudah lupa mana kanan dan kiri?"

'Apa salahku kepadamu Sasuke? Selama ini hubungan kita baik-baik saja. Aku tidak pernah menyakitimu bahkan membuat hatimu terluka. Bahkan sejak kau menjalin hubungan dengan Ino, kita sudah tidak pernah berbicara. Bahkan bertemu pun tidak'. Aku berpikir sekeras apa pun, jawabannya sampai sekarang belum juga ketemu.

Bukankah ada perumpamaan seperti ini ya "Banyak jalan menuju Roma" Tapi kemana jalan pikiranku sampai sekarang tidak bisa menemukan jawabannya? Jika aku memang punya salah, harusnya kamu bilang kepadaku Sasuke, agar aku tahu dimana letak kesalahanku. Selalu begini. Berduel dengan hati dan pikiranku.

"Saku.."

" SAKURA-CHAAAAAN " Saat aku memikirkan kenapa Sasuke berubah, aku sangat terkejut mendengan suara petir yang sangat dahsyat(?) itu.

Sampai-sampai aku memukul ke arah asal suara tadi dengan sangat keras.

PLAAAK.

"Ittaai... Sakura-chan kenapa aku di pukul?" Tanya Naruto sambil memanyunkan bibirnya sambil menggosok kepalanya sebagai tempat melampiaskan kekesalanku kepadanya.

"Siapa suruh kamu berteriak sekencang itu? Aku 'kan gak tuli. " kataku kepada Naruto sebagai pembelaan tanpa ada rasa bersalah.

"Sakura-chan memang tuli ko. Buktinya dari tadi di panggili tidak membalas panggilan kami." Aku melihat Naruto dengan wajah seperti binatang buas yang sudah kelaparan.

Entah kerena apa, aku jadi ingin memukul wajah Naruto dengan tinjuku lagi. Apa karena perkataan Naruto barusan sama persis seperti kata-kata Sasuke tadi pagi?

"Ternyata kamu ini bukan hanya bisu saja ya, tapi juga TULI" kata-kata inilah yang masih terngiang-ngiang sejak tadi dan di tambah lagi perkataan Naruto beberapa detik lalu, membuat aku semakin marah.

Aku mengepalkan jari-jari tanganku dan hendak memukul wajah Naruto. Tapi sebelum itu terjadi, Hinata langsung menyadarkanku dengan menepuk pundaku, sehingga mau tidak mau aku arah pandangku sekarang sudah kepada Hinata.

"Sakura-chan, yang di katakan Naruto-kun itu benar. Kami dari tadi memang sudah memanggilmu berulang kali. Tapi Sakrua-chan tidak mendengar panggilan kami " Aku merimang-rimangi perkataan Hinata. Ternyata aku saja dari tadi tidak fokus karena perkataan si chikenbutt tadi pagi kepadaku.

Karena perkataan Hinata tadi, aku pun melepaskan cengkramanku pada kerah baju Naruto.

"Maaf teman-teman." Hanya kata itu saja yang bisa aku kata'kan. Aku melihat raut wajah teman-temanku bingung melihat tingkahku satu harian ini.

"Aku pergi dulu ya teman-teman" kataku pamit dan pergi meninggalkan teman-temanku yang sudah cengok dengan sikapku.

oOo

Sepertinya aku harus memberitahukan kepada Tayuya-senpai kalau surat undangannya belum juga aku serah'kan kepada Ketua OSIS KJHS. Pasti aku kena omel lagi nih ceritanya. Oh iya, akukan ada tugas yang sangat penting bisa-bisa kalau aku minta tolong lagi pasti tidak akan di bantu.

Haaaah~
Kalau tadinya begini, aku kirim inbox saja tadi sama Tayuya-senpai. Agar kami ketemuan di taman atau di kantin sekolah. Kalau begini, jadi aku yang cakep.

Nanti kalau aku ketemu sama Tayuya-senpai, apa ya yang akan aku katakan terlebih dahulu?

Akh lihat nanti sajalah kalau kami ketemu.

Tok… Tok.. Tok...

Begitu aku mendengar ada yang membalas sapaanku dari dalam, aku langkahkan kakiku untuk masuk kedalam kelas Tayuya-senpai.

"Permisi senpai. Apa Tayuya-senpai ada ya?" tanyaku kepada salah seorang kakak kelasku yang sekelas dengan Tayuya-senpai.

"Tayuya tadi lagi pergi ke toilet. sebentar lagi pasti kem…" perkataan kakak itu terputus karena ada yang memanggilku dari arah belakang.

"Sakura-chan " Panggil Tayuya-senpai kepadaku.

Ternyata perkataan teman Tayuya-senpai benar. yang memanggil aku memang Tayuya-senpai. Aku pun menoleh ke belakang dan melihat Tayuya-senpai yang datang mendekat dan menghampiriku.

"Ada apa Saku-chan? Apa tugasmu sudah terlaksana dengan baik.?" Tanyanya dengan senyum lima jari.

Melihat senyum Tayuya-senpai yang begitu lebar, pasti senpai berpikir kalau tugas yang dia berikan kepadaku sudah terlaksana dengan baik.

'Mampus aku. Apa yang harus aku katakana kepada Tayuya-senpai'. Dumelku dalam hati.

Tanpa sadar aku menepuk jidatku yang kata teman-temanku seperti lapangan bola. Tapi berkat itu aku memiliki IQ di atas rata-rata.

"Apa ada masalah Saku-chan?" Tayuya-senpai melihat aku dengan tatapan curiga.

"Anu senpai. Emm~ tugasnya hampir saja selesai. Tapi.. boleh tidak senpai aku minta bantuan sama yang lain?"

"Tentu saja boleh. Memangnya ada salah ya.?"

Mendengar jawaban Tayuya-senpai aku tersenyum sumbrigah.

"Tidak ada masalah ko Tayuya-senpai." Kataku dengan sangat-sangat bahagia.

"Bagus deh kalo begitu." Kata Tayuya-senpai sambil tersenyum ke arahku.

Melihat Tayuya-senpai yang tersenyum seperti itu, membuat pipiku merona merah. Aku yakin jika tadinya di koridor ini ada siswa yang bergender laki-laki, pasti pipinya gak kalah merahnya dengan pipiku emm~ lebih merah lagi mungkin melihat senyum Tayuya-senpai yang begitu manis.

"Kalo begitu terima kasih banyak senpai dan aku permisi dulu" Pamitku

" -sama Sakura"

"Sampai jumpa senpai"

"Sampai jumpai lagi Sakura."

.

.

.

Haaaaaaahh..

Akhirnya bisa juga aku menikmati kasurku yang empuk dan nyaman ini. Aku pikir bakalan lebih lama lagi rapatnya tadi. Ternyata lebih cepat dari yang aku duga.

"Ganti baju dulu baru tiduran Saku."

'Ekh, bukannya tadi pintunya aku kunci ya? Dari mana asal suara itu berada? Tapi terserah ajalah. Mataku sudah sangat mengantuk ' innerku

"Kalau dibilangi jangan bandel. Ayo ganti baju!" Kata suara itu lagi.

'Eh eh eh pipiku kenapa di cubit?'

Karena ulah si pengganggu , aktifitasku pun tertanggu.

"Saso-nii, kenapa aku di ganggu? Aku sudah capek satu harian ini di sekolah nii." Kataku dengan manja.

'Mungkin dengan nada manja seperti ini, niichan bakalan meninggalkanku.' Innerku dengan penuh kemenangan.

Bukannya melepaskan cubitannya, Saso-nii malah mengencangkan cubitannya di pipiku.

"AAKKKhhhhh… Sakit Saso-nii"

"Kamu pikir, aku akan meninggal'kan kamu setelah kamu membuat suara kamu dengan nada manja seperti itu? Oh tidak bisa" Sepertinya Sasori-nii sudah mengenali sikapku. Wajar saja, dia'kan kakakku.

"Iya… iya… aku bangun dan ganti baju sasori-nii."

Setelah aku berkata seperti itu, aku merasakan cubitan di pipiku meregang dan terlepas.

"Kalau begitu ayo buruan ganti baju dan jangan lupa dandan yang cantik ya."

Mendengar perkataan Sasori-nii, aku menggembungkan pipiku sehingga membuat aku kelihatan lebih imut.

"Jangan bertampang seperti itu Saku. Mau aku cubit lagi pipinya?" ancam Sasori-nii yang melihat tingkahku.

"Tidak mau. Itu'kan sakit."

"Jadi tunggu apa lagi? Kamu tidak lupa'kan sama janji kamu kemaren?" Bukannya membatalkan niatnya, Sasori-nii malah mengancam aku.

"Iya. Lagian gimana coba aku ganti baju, kalo nii masih disini?"

"Memang kenapa kalo aku disini? Tubuhmu'kan tidak ada menariknya. Punya dada tapi masih rata tidak jauh beda sama papan tulis" Berkataan Sasori-nii barusan, membuat aku ingin menggigit lengannya dengan sangat kuat. Kalau bisa sampai lengannya berdarah.

Dengan tatapan horror aku mendekati Sasori-nii yang masih mengejek tubuhku.

"Aku yakin pasti tidak ada cowok yang tertarik sama kamu Saku. Dilihat dari sudut mana pun tubuhmu itu tidak ada me..AKKKKHHHHHH"

"Sakiiiiiit Sakura-chaaaaannnn. Lepaskan." Jerit Sasoti-nii saat lengannya aku gigit dengan sangat kuat.

Aku rasa pembalasanku ini sudah dapat melumpuhkan lawanku.

"Kenapa kau menggit lenganku?" Katanya Sasori-nii dengan sangat garang.

Mungkin Sasori-nii tidak terima atas perbuatanku tadi. Peduli apa aku tentang itu. Dia aja tidak perduli dengan perasaanku sampai mengejek tubuhku yang lagi masa pertumbuhan.

"Siapa suruh niichan mengejek tubuhku?"

Bukannya takut, aku malah membalas perkataan Sasori-nii dengan sangat garang.

"Baiklah… baiklah. Aku minta maaf. Sekarang cepat ganti baju kita sudah di tunggu."

"Makanya niichan juga cepat dong keluarnya"

"Iya iya. Dasar bawel."

Akhirnya jurusku ampuh juga.

Tapi mau diajak kemana aku sama Sasori-nii? Urusan itu nanti aja deh. Yang penting janjiku sama nii akan segera lunas,untuk menemin dia kumpul bareng dengan temen-temannya.

.

.

.

.

.

To Be Continue. . .

A/N : Chapter 4 sudah update minna. Maafkan aku ya karna tidak bisa menepati janjiku. Sejujurnya ada niat untuk tidak menjadi author lagi tapi akan menjadi reader saja. Tapi ada teman di Fb yang selalu menangih ficku dan membuat aku menjadi serba salah. Apa lagi aku sempat berfikit kalau ficku tidak sebagus fic yang lainnya. XD Pokoe maafkan aku ya minna. #cipoksatu-satu.

Terima kasih banyak sudah mau mampir dan mau membaca fic saya. Terima kasih juga sudah mau meninggalkan jejak baik itu yang silent readers karna sudah mampir. Pokoknya aku sayang kalian. Tanpa readers mungkin fic saya sudah jadi sampah walau sebenarnya sudah jadi sampah.

Maaf tidak bisa membalas review dari kalian. *ojigi*

.

.

.

Pematangsiantar, 23-07-2013

Biiancast Rodith

R

I

V

I

E

W

Please…