Lelah yang menumpuk pada tubuh Sasuke seakan menguap begitu saja ketika pemuda itu membuka pintu kamar Hinata. Perasaan terkejut menerjangnya terlalu cepat, sampai-sampai Sasuke bisa merasakan debaran jantung nya yang berdetak sangat cepat hingga tulang rusuknya terasa perih.

"Hinata!" Suaranya menggema dengan pilu.

Saat itu Sasuke ingin sekali menangis, menemukan Hinata tersungkur dilantai dengan darah yang berceceran dimana-mana bukanlah pemandangan yang indah.

Dengan perasaan yang terlalu kalut, si Uchiha muda membopong Hinata, mendekapnya dengan erat di dada. Ia berteriak kencang di depan pintu kamar Kurenai dengan berlinangan air mata.

Keterkejutan sama yang sebelumnya tampak diwajah Sasuke berpindah pada wajah Kurenai yang selalu tabah. Wanita itu memandang tidak percaya. Tanpa banyak bicara, Kurenai dengan cepat mengambil ponsel flip yang selalu ia letakkan di bawah bantalnya. Menelephone rumah sakit terdekat untuk segera datang karena keadaan yang terlalu sulit dimengerti.

Lima belas menit kemudian sebuah mobil ambulan datang menjemput Hinata. Sasuke yang merasa sangat kecewa mengomel tanpa henti pada pihak rumah sakit yang terlalu lama datang padahal pasien yang akan dihadapi sedang sekarat.

Sasuke yang terus menangis dalam diam ikut masuk ke dalam ambulan. Sedangkan Kurenai dan Asuma yang merasa terpukul menyusul dengan sedan keluarga yang dibeli dengan harga murah saat pertama kali Sasuke dan Hinata tinggal bersama mereka.

Ketika ambulan telah sampai di rumah sakit, Sasuke terus menemani Hinata, bahkan ketika gadis yang tak sadarkan diri dengan berlumuran darah itu telah masuk ke dalam ruangan ICU, Sasuke terus memaksa masuk. Suster dengan rambut pink cerah yang seakan tidak peduli dengan air mata Sasuke terpaksa menendang kemaluan Sasuke karena pemuda itu terus memaksa masuk.

Sasuke terpaksa harus menerima bahwa ia harus menunggu.

.

.

Semua karakter milik om Masashi^^

OCC, typo, etc. a lot. newbie. Enjoy :)

.

.

Hinata terbangun di ruangan yang dingin dan asing. Suasananya yang aneh membuat gadis itu merasa tak nyaman. Rasa nyeri yang tiba-tiba menjalar di seluruh pembuluh darah nya membuat si Hyuga merasa lemas.

Ketika ia menoleh, Hinata mendapati seluruh tubuhnya dipenuhi dengan selang-selang. Juga bagian hidung hingga mulutnya dilapisi alat bantu pernafasan. Namun Hinata tidak ingat apa yang sebelumnya terjadi. Ia hanya merasa sangat merindukan Sasuke yang sekarang entah berada dimana.

Suara dering telephone menyadarkan lamunannya. Disamping ranjang tempat ia berbaring, Hinata mendapati telephone biru tua yang sedang menyalak minta diangkat. Dengan susah payah, gadis itu mencoba meraih gagang telephone. Namun usaha nya sia-sia ketika dada nya terasa sedikit nyeri.

Hinata meringis, "Ada apa dengan ku?" Ia bertanya, namun tidak satupun jawaban yang ia dapatkan. Bahkan Hinata sendiri tidak mengerti mengapa ia berada disini. Di rumah sakit dengan selang-selang yang menyulitkannya bergerak.

Dering telephone berhenti.

Hinata merasa sedikit menyesal tak dapat mengangkat telephone barusan. Namun rasa menyesalnya langsung menghilang begitu telephone itu kembali menyalak.

Hinata tersenyum, tenggorokannya terasa sangat kering sampai ia harus menelan air liur nya dengan susah payah.

Begitu Hinata berhasil meraih gagang telephone, wajahnya berubah sumringah. "Hallo." Sapa Hinata dengan suara segar.

"Hinata?" Bisikan itu dapat langsung Hinata kenali tanpa perlu bertanya.

"Sasuke!"

"Hey apa kau baik-baik saja?" Sasuke terdengar khawatir.

Hinata tertawa dalam hati, senang Sasuke mengkhawatirkannya. "T-tentu saja aku baik. K-kau dimana S-sasuke-kun?"

"Berbaliklah. Aku ada diseberangmu."

Hinata menurut, ia langsung berbalik tanpa melepas gagang telephone dan mendapati Sasuke yang berdiri di depan kaca besar yang membatasi kamar inap nya dengan dunia luar.

Sasuke berdiri disana, dengan wajah sembab yang tampak tersiksa, memaksakan senyum saat bola mata pekat nya beradu dengan milik Hinata. Ada sebersit rasa sakit yang membuat Hinata ingin sekali menangis saat menatap Sasuke.

"S-sasu-ke, apa yang terjadi dengan ku?" Tanya Hinata penuh selidik, suara nya berubah serak karena udara di ruangan terlalu dingin sampai tenggorokannya kering.

Hinata bisa melihat Sasuke yang kembali tersenyum, namun sekali lagi, senyum itu tampak tersiksa dimata Hinata. "Kau baik saja Hinata. Hanya kelelahan." Sahut Sasuke.

Hinata mendesah, teringat malam-malam dingin di masa kecil nya yang selalu di dominasi senyum menenangkan Sasuke. Mendadak gadis itu merindukannya.

Telephone ditutup ketika akhirnya Sasuke serta kedua orang tua angkatnya diperbolehkan masuk. Beberapa teman SMA nya juga ada yang menjenguk, seperti Rock Lee yang masih setia dengan pakaian serba hijau, dan Ten Ten gadis bercepol dua sahabatnya.

Suasana di ruangan yang serba berkabung membuat Hinata sedih. Semua orang diruangan menatapnya iba, kecuali Rock lee yang terus bersikap tegar.

"Hey Hinata…" Lee angkat bicara. Nada riang yang terdengar membuat Hinata tersenyum, namun sepandai apapun cowok hijau itu menyembunyikan kesedihannya, Hinata tetap tahu segalanya.

Hinata tersenyum hangat, "H-hai Lee-kun."

Lee menyodorkan sepucuk mawar pink cerah yang riang, "Aku memetiknya sendiri. Menyempatkan sejenak waktu ku sebelum datang kesini." Senyum segera terpatri pada wajah Lee.

Cowok berambur mangkok itu meletakkan nya ke dalam vas bunga di sudut ruangan, membuat Hinata tersenyum senang. "T-terima kasih."

Kurenai, Asuma, Ten ten, dan Lee terus memberondong banyak pertanyaan pada hinata. Meyakinkan gadis itu bahwa semuanya akan segera baik-baik saja. Kecuali Sasuke yang duduk meringkuk di atas sofa, matanya yang menerawang jauh tampak lelah dan cekung. Tapi semua orang tahu, Sasuke sedang tidak ingin diganggu.

Jadi setelah mereka puas bertanya pada Hinata, satu persatu memutuskan untuk keluar, mencoba memberikan ruang untuk Sasuke yang berkabung.

.

.

.

Pagi-pagi sekali, ketika udara terasa begitu segar, burung-burung gereja merapat turun, bertengger seperti barisan paduan suara pada kabel-kabel panjang tiang listrik.

Sasuke melompat turun, hamparan bukit di hadapannya membuat senyum si Uchiha muda merekah. Punggung nya terasa sedikit berisi, ia menenteng gitar kayu buatannya yang terasa berat di punggung nya yang kurus. Tapi senyum Hinata membuat nya terus merasa segala hal sedang dalam keadaan baik-baik saja.

Di pagi buta Sasuke memang terbangun dengan sejumput ide gila yang berputar-putar dalam otaknya. Bahkan niatnya membawa Hinata kabur dari rumah sakit benar-benar terlaksana saat ini. Meski hanya berbekal kursi roda untuk menumpu tubuh Hinata yang lemah, Sasuke tidak menyurutkan sedikitpun niatannya. Dan senyum lembut Hinata yang menyambut niat nya, memperbaik keadaan.

Sasuke tertawa dalam hati, mentertawakan dirinya yang tampak konyol. Membawa kabur sang puteri dari kuil ke sebuah hamparan rumput seolah ia Romeo yang sedang berdusta.

Meski ini adalah musim panas, udara pagi di Hokaido tetap terasa menyejukkan. Angin semilir membawa Sasuke dan Hinata pada sebuah bukit yang dipenuhi pepohonan. Ada sebuah danau kecil yang dikelilingi pohon-pohon teduh momiji, dengan air sebening embun. Sasuke mendorong kursi roda, membawa Hinata pada danau yang ia temukan semalam saat merasa putus asa.

"Sudah sampai." Ia bergumam.

Hinata merentangkan lengannya, merenggangkan otot nya yang terasa kaku, lalu menarik nafas dalam-dalam seolah udara pagi memang yang paling terbaik.

Hinata dapat merasakan dada nya yang bergemuruh, "Ini indah Sasuke-kun." Ada sebersit rasa luar biasa yang bergejolak di hati si Hyuga. Bahkan ketika Hinata memutuskan untuk mendongkak dan menemukan wajah damai Sasuke, ia merasa sangat hidup.

Sasuke berbisik, "Ssst, lihat." Telunjuknya terarah pada segumpal awan yang berderak pelan, bentuk nya macam-macam. Namun yang paling menarik adalah cahaya orange ke kuningan yang kemudian tampak perlahan dibalik awan.

Sunrise.

Dalam kumparan waktu sepersekian detik ketika Hinata diam dan memperhatikan, Sasuke menunduk, mengecup bibir pucat Hinata yang terasa dingin. Sebentar, dan lembut.

Sasuke dapat menangkap rona merah yang menjalar disekitar pipi Hinata, membuatnya menyeringai senang. "S-sasu-ke-kun nakal." Hinata mencembik.

"Bahkan dalam keadaan mencembik pun wajah mu imut sekali." Goda Sasuke.

"T-tidak. Enak s-saja."

"Haha."

.

.

.

Sasuke mengayunkan gitar nya kedepan, memposisikan tepat sebelum ia memutuskan untuk memetiknya. Ia duduk diantara dinginnya rumput basah penuh embun, merasakan detak jantung nya yang terasa bergemuruh setiap kali Hinata menatapnya.

"Aku baru saja menciptakan satu lagu." Ujar Sasuke.

Hinata tampak antusias, "B-benarkah?"

"Ya. Tapi belum selesai. Mau membantu?"

"Tentu saja!"

Burung gereja mengamati mereka diatas kabel-kabel panjang, bersuit sesekali ketika angin bersemilir hangat. Ketika Sasuke memulai lagu nya, alam tampak menyambut.

Petikan pertama terasa pelan, "Aku berada diantara hujan, memeluk gerimis yang terasa menyakitkan."

"Tapi aku tidak berhenti sampai disitu, aku tidak ingin menyerah, karena seorang gadis kecil yang sama bodoh nya dengan ku sedang menunggu.

Sasuke menambah genjrengannya, "Menunggu aku yang kepayahan. Senyum nya meyakinkan ku, membawa ku terbang jauh sehangat coklat panas di musim dingin yang beku.

"Dengarkan senandung ku baby, syalala la la dan la la fuf.

"Dubidam dam dam.

"Tralala la la la.

"Hujan ini, yang turun mendadak di musim panas. Oh seandainya aku dapat mencegah nya, gadis itu pasti sudah ku genggam dalam pelukan ku yang hangat.

"Syalalala la dam du bidam"

Genjrengan Sasuke berakhir, dengan sentuhan petikan lembut yang lemah.

"Aku masih tidak mengerti bagaimana kelanjutannya." Sasuke nyengir.

"Bagaimana k-kalau begini, 'namun gadis itu sekuat hujan yang menerpaku, membuat ku tersenyum sepanjang hari seolah dial ah pelangi yang kutunggu' B-bagaimana?"

"Aku tidak tau kalau kau sedang membicarakan dirimu sendiri." Sasuke menjulurkan lidah, tertawa selanjutnya.

"S-sasukeeeeeeee."

Dan Sasuke mencium nya. Mencium Hinata, bukan lagi dengan kecupan singkat di pagi hari. Ciuman hangat di musim panas.

.

.

.

To Be Continued.

.

.

Yak dan saya sebagai author yang tidak bertanggung jawab meminta maaf yang sebesar-besar nya atas ke-ngaretan apdate chap yang kedua. Juga hasil yang belum memuaskan pada readers. Gomen ne, author sedang banyak masalah soalnya :( *plak* gomen saya malah curhat haha.

Oke dehh, ini dia balasan reviews:

Yukori Kazaqi : sudah ne^^

TabiWook : maaf saya ngaret :(

Clara-AVRIL : Hehe maaf ternyata saya ngaret :(

Shinigami ojou-sama : Terima kasihhhhhhhh, ah saya senang sudah sempat berkenalan dengan kamu di facebook. Ini chap dua nya, maaf mengecewakan :( review lagiiii? :)

Fallenmoka : Arigatou, ini sudah lanjut, maaf ngaret :(

Anna : Wahh kamu sampe nangis? Maaf ya bikin kamu nangis, ini chap 2 nya, hope you like it :)

Penelopi : Iya, jahat yaa? :( wahh kalau happy ending saya gabisa janji, lihat imajinasi saya dulu ya bisa sampai mana. Ini chap 2 nya, maaf ngaret :(

.

.

Akhir kata terima kasih, sampai jumpa di chap selanjutnya.

Review?

-ai-