Semua kisah ini berawal dari malam itu. dihari jum'at yang tak kusangka akan membawa kami pada hari minggu yang sangat panjang dan melelahkan
ALIBI 1
Jumat, 19.45
-Kediaman Keluarga Mouri-
"Jadi..." Conan menekan kiri dan kanan berkali-kali pada controlernya untuk menghindari jebakan yang terpasang. "Seminggu ya?"
Tanpa mengalihkan pandangan pada layar televisi, Ai menyiripkan mata dan menyunggingkan senyum yang bisa membuat Conan bergidik meski tak melihatnya. "Mau bagaimana lagi, aku kan 'anak kecil' " Ai menekan lingkaran, x, segitiga dan x lagi untuk memasang jebakan. "Tak mungkin profesor meninggalkan seorang 'anak kecil' sendirian di rumah sementara dia mengikuti seminar para penemu di Osaka".
"Tentu saja..." Conan terkena ranjau darat yang di pasang Ai. "AKH!..."
"Salahmu sendiri berjalan disitu..." Jari Ai menari-nari di atas controler dengan kecepatan cahaya. "Jadi...apakah aku telah mengganggu kedamaian sepasang kekasih di kantor detektif ini?Kalau begitu maaf " suara sinis Ai sama sekali tidak menyiratkan permohonan maaf. Bahkan dengan sadisnya dia membakar karakter game Conan sampai gosong dan tak berbentuk lagi.
"Player Conan, YOU ARE A LOSER!" ejek karakter Ai dalam layar televisi.
Conan benci sekali game ini."Ada paman Kogoro juga. selain itu... Aku dan Ran bukan pasangan kekasih" Conan mendengus kesal dan melemparkan controlernya ke samping. Wajahnya merenggut. "Belum, tepatnya... yah, apa yang bisa kulakukan dengan tubuh anak kecil seperti ini?" ucapan conan terdengar seperti gumaman di telinga Ai.
Senyum tipis tersungging di bibir sang profesor muda, sangat tipis hingga mata sang detektif tak dapat menangkapnya. "Kemenangan dua kali berturut-turut" Ucap Ai ringan, bahkan terdengar riang. "Kau payah dalam game ya, kudo"
"Bahkan game master akan terlihat idiot di hadapanmu" Conan mengangkat kedua tangannya, melemaskan otot-ototnya yang kaku. "Dan panggil aku conan... -"
"Benar..." nuansa kelam telah menggantikan riang dalam suara Ai. "Kita tidak pernah tahu kapan dan dimana mereka ada" Controler terlepas dari tangan Ai.
Conan menoleh, menatap Ai yang matanya dipenuhi kecemasan tepat di sampingnya. "Bukan itu maksudku... tapi a-"
Perkataan Conan tidak berlajut demi suara teriakan yang berasal tepat di bawah ruangan kantor detektif . Teriakan yang sering Conan dengar sebagai Lagu pembuka kasus pembunuhan. "TIDAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKK!!!!!!!!!!"
Ai dan Conan berpandangan. "Paman Kogoro!" seru mereka bersamaan dengan teriakan "Ayah?!" yang terdengar dari dapur.
Ai baru akan berdiri ketika tangan Conan menekan bahunya. "Haibara, kau tunggu disini! Tetap bersama Ran" Dan Ai tak dapat membantah karena Conan sudah melesat ke kantor detektif, tepat ketika Ran keluar dari dapur dengan fry pan di tangannya.
Kudo, maksudmu aku tidak boleh melibatkan pacarmu dalam bahaya kan? Batin Ai tersenyum sinis, dia melangkah cepat menutup pintu yang dibiarkan terbuka oleh conan.
"Ai-chan, kenapa kau berdiri di depan pintu?" nada kesabaran yang lembut tiada dari Suara Ran "Ayah mungkin saja dalam bahaya, aku harus menolongnya!"
"Ta..tapi..." apapun yang terjadi aku tak boleh membiarkannya turun,"Ai-chan, tolong, menyingkir dari pintu!" kecuali kalau...
.
Sementara Itu Conan menyiapkan peluru bius di tangan kirinya sementara kanan tangannya mendorong daun pintu yang setengah terbuka. Dan yang menantinya disana, ketika pintu terbuka lebar, adalah pemandangan yang seumur hidup tidak pernah dia harapkan bahkan dalam mimpi terburuknya.
Berkas-berkas kasus yang sedianya diatas meja kini berjatuhan dilantai, berserak tanpa pola. Pecahan cangkir bertebaran di lantai, dihiasi cairan berwarna kehitaman yang membentuk genangan pekat.
Kogoro terduduk tanpa daya di belakang meja kerjanya. Kedua tangannya lunglai di samping, begitupula kepalanya yang terkulai di sandaran kursi. Matanya yang kosong tanpa kehidupan melihat langit-langit. Dia tak bersuara, dengan wajah berlinangan air mata.
Satu-satunya sumber suara berasal dari TV kecil yang biasa digunakan Kogoro untuk menonton pacuan kuda. "Yoko Okino memilih bungkam ketika wartawan kami mengkonfirmasi langsung ke Hotel Hilton New York tempatnya menginap".
Conan menghela nafas lega. Kantor berantakan adalah ciri khas Kogoro tanpa pekerjaan. Dan dia dapat memastikan bahwa Kogoro masih hidup karena aliran air mata yang sederas sungai Amazon. Well, tidak ada orang mati yang menangis kan? Dan karena genangan pekat itu adalah kopi di dalam cangkir, maka kasus ditutup dengan hasil tidak terjadi sesuatu yang mematikan apalagi berkaitan dengan organisasi.
"Hiks...Hiks... Yoko-chan"sura isak Kogoro setidaknya membuktikan analisis Conan bahwa Detektif Tidur itu masih hidup. Dan alasan kenapa Kogoro Mouri jadi lebih hancur daripada hari biasa diketahui sedetik kemudian dari televisi.
"Pihak manajemen Yoko Okino menjanjikan bahwa Yoko Okino akan langsung melakukan konfrensi pers setibanya di Jepang. Konfrensi pers yang akan membahas mengenai pernikahan Yoko dan mundurnya Yoko dari dunia entertaiment akan diselenggarakan di salah satu hotel dekat Bandara Narita pada hari Minggu pu-TIDAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKK!!!!!" suara berita tertutup oleh pekik tangis Kogoro. "Yokoooo~ kenapa engkau tega meninggalkan akuuuuuuuu?????" Kogoro kembali histeris dan membanjiri kantor detektif dengan air matanya.
Yah, dalam mimpi buruknya, conan tak pernah membayangkan bahwa Kogoro Mouri bisa memeluk televisi sambil menangis seperti bayi dengan mengenakan Jas berpadu boxer.
Conan mengoreksi analisnya... telah terjadi sesuatu yang mematikan bagi kewarasan Kogoro Mouri.
to be continued...
~MeWTh~
