~Chapter 2~

Title : The Gifted Hands

Pairing : Kim Jaejoong, Jung Yunho

Other Cast : Park Yoochun (ntaran nyusul)

Rating : T

Genre : Romance, little angst (maybe)

Type : YAOI, BL

Author : jejetoiunamae

Annyeong. Iseng-iseng aja nulis eh jadilah seperti ini. Nikmati aja ya kalo emang bisa di nikmati, saya cuma minta komentar dari kalian readers yang sudah mau membaca bagaimana ff abal saya ini. Walaupun abal tolong jangan copas sembarangan ff ini, kepedean banget kya ada aja yang mau copas... :)

Ini saya terinspirasi dari filmnya kim bum "The Gifted Hands", pokonya ceritanya agak ngikutin tapi gak full sama kya filmnya. Langsung ajalah. DON'T LIKE DON'T READ! WARNING THIS FANFIC BOYS LOVE. And then typos~~

Mau curcol dulu ni.. Maap bgt yaa updatenya kelamaan, aku lupa password jd kaga bs d buka dah acc nya, d leppie pun uda k log out. Ini baru inget lg T_T

Sebenernya d chap pertama banyak bgt kesalahan penulisan. Uda coba aku edit tp masa gak berubah2 dah.. *gigit yunho*

Sempet males dan kesel gegara merasa gak puas d chap 1.. Ni ngapa ffn bgini yaa..

Maap yaa author baru uda ngecewain nih.. Makasih buat ripunya teman-teman. Semangat deh jadinya. Abis baca yang ini ripiu lg yaa hehe

^^balesan ripiu^^

ichigo song : Cuma ada yoochun duangan.. Junsu sama changmin nya lg sibuk ngemong saya loh (?) Yaa begitulah kejam nyaa.. Liat d next chap ini aje yee hehe... Jeongmal gomawo ripiunya makasih uda mau mampir ^^

JungJaema : Emang babo semuaa itu orang2, klo saya ada jg dsitu saya aja yg jd temennya jaema dah. Kudu wajib yundadd ngerubah jaema moga ajee yee.. Iya ini uda d lanjut pan hehe makasih bgtt ya uda mau mampir dan ripiu ^^

Uri DongBang Sarang : Sipp uda d lanjutin yaa ini hehe Jawabannya ada d chap ini soklah d baca... Arigatou ripiunya makasih uda mau mampir ^^

SHINTA : Uda d lanjut yaa... Thanks yaa uda mau mampir dan ripiu ^^

ndah : Ok uda d lanjut yaa.. Arigatou ripiunya. Makasih jg uda mauu mampir ^^

abilhikmah : Bkn meramal si lebih tepatnya jae kya punya kelebihan gtu.. Jawabannya ada d chap ini ko.. Iyaa kasihan emak saya ituu... Makasih uda mampir and ripiu ^^

Chonurullau40 a.k.a Miss Zhang : Iya uda d lanjut ko ini... Ada d chap ini jawabannya sok d baca hehe.. Thank you uda ripiu dan uda mau mampir ^^

meybi : Iya moga aja yee.. Kasih semangat buat yunpa.. Gomawo ripiunya.. Makasih uda mau mampir ^^

Vivi : Hwaiting! Makasih ya semangatnya hehe.. Uda d lanjut yaa. Ok thanks uda mau mampir and ripiu ^^

irengiovanny : Ho oh kesian, saya ngetik ceritanya juga gak tega sebenernya mah.. Uda d lanjut yee.. Thanks uda ripiu dan uda mau mampir ^^

miss : Jinjja? Hwaa syukurlah klo gtu, seneng klo bs pd cerna dan suka sama cara penulisan sayanya haha.. Tp banyak kesalahan d chap 1 sebenernya itu T_T Uda d lanjut yee. Makasih ripiunya. Makasih jg uda mau mampir..

Summary : Seorang namja cantik bernama Kim Jaejoong memiliki kelainan (penyakit) Psychometry. Yang bisa melihat kisah, kehidupan di masa lalu seseorang atau keadaan di sekelilingnya hanya dengan menyentuhnya. Orang-orang di dekatnya menjauhinya, bahkan ibu kandungnya sendiri pun juga menjauhinya. Kematian ibunya yang dia anggap salah satu kesalahannya membuat perubahan sikap dan perilakunya menjadi sosok yang pendiam juga penyendiri. Diasemakin di anggap gila dan aneh oleh orang-orang di dekatnya. Dan di saat dia merasakan kesepian seperti itu datanglah seorang pangeran penyelamat hidupnya. Siapakah pangerannya itu?

The Gifted Hands

.

.

.

+++++++++++++++++++JAEJOONG POV+++++++++++++++++++

Hari demi hari telah kulewati seperti biasanya, tidak ada yang berbeda sama sekali. Dan semenjak saat itu aku tidak pernah lagi melihat, apalagi bertemu dengan namja bernama Jung Yunho itu. Entahlah, aku rasa Yunho sudah benar-benar membenciku karena kejadian waktu itu.

Geuman. Kenapa Yunho bisa ada di sini juga ya? Apa Yunho juga sekolah di sini? Tapi sebelumnya aku tidak pernah melihatnya di sini. Apa jangan-jangan Yunho murid baru di sekolah ini? Ah. Untuk apa aku memikirkannya.

.

.

Ya, seperti biasa sekarang aku sedang berada di tempat favorit ku "lantai paling atas gedung sekolah". Kenapa tempat ini semakin membuatku merasa nyaman saja? Apa karena di sini hanya ada aku seorang? Berarti aku akan merasa nyaman kalau sendiri, dari dulu sampai kapan pun akan selalu seperti ini. Aku akan selalu sendiri, tidak ada siapa pun yang aku miliki. Karena mereka semua menjauhiku. Ya Tuhan kenapa kau lakukan ini padaku? Apa salahku? Sungguh aku tidak kuat dengan kehidupanku ini.

+++++++++++++++++JAEJOONG POV END+++++++++++++++++

Bel berbunyi tanda sekolah berakhir untuk hari ini dan para murid bergegas pulang ke rumah mereka masing-masing, tapi tidak untuk seorang Jung Yunho. Sudah beberapa hari Yunho tidak masuk sekolah entah karena apa, dari rumah memang berangkat ke sekolah tapi bukannya ke sekolah Yunho malah membolos, hari ini juga sama. Sepertinya ada sesuatu yang di rencanakan Yunho.

#Flash Back#

Di malam derasnya hujan yang membasahi pekarangan rumah megah nan mewah, di salah satu ruangannya terlihat namja bermata musang yang kita tahu seorang Jung Yunho sedang sibuk dengan i-pad nya. Apa yang sedang di lakukannya? Yunho serius sekali memperhatikan layar i-pad nya, Yunho terus membaca dan memahami apa itu Psychometry. Ya, sedari pulang sekolah tadi Yunho langsung buru-buru ke kamarnya dan segera mengambil i-pad nya yang tertinggal di atas meja belajarnya. Lalu Yunho mulai mencoba mencari tahu lewat internet tentang Psychometry. Setelah beberapa menit mencari Yunho menemukan apa itu Psychometry.

"Jadi ini yang di maksud Psychometry. Kau bisa ikut merasakan kalau kau menyentuhnya, kau bisa tahu apa yang sedang terjadi atau yang sedang di alami oleh orang itu" Tampaknya Yunho berbicara sendiri. Meluapkan kenyataan yang ada, yang berhasil di ketahuinya.

"Hah... Itu menyulitkanmu Kim Jaejoong, sama saja kau bisa mati karena penyakit bodoh mu itu. Kau terus melakukannya maka kau akan menyakiti diri mu sendiri. Karena tiap kau melakukannya kau akan terluka. Kenapa Tuhan begitu tidak adil padamu." Yunho jadi ikut merasakan penderitaan yang Jaejoong rasakan selama ini. Sepertinya Jung Yunho telah salah paham pada Kim Jaejoong.

.

.

Benar dugaan Yunho selama ini, Jaejoong bukanlah orang yang aneh, Jaejoong hanya merasa kesepian. Dan karena kesepian itu seorang Kim Jaejoong terlihat aneh, karena di hidupnya tidak ada lagi senyum atau kebahagian. Penyakit itu juga biang dari segalanya, karena penyakit yang di derita Jaejoong, orang-orang menjauhinya bahkan tidak ada yang mau dekat dengannya. Hanya karena kesalah pahaman, Jaejoong sama sekali tidak bermaksud menyakiti mereka, justru mereka lah yang mencoba menyakiti Jaejoong. Kalau mereka bersikap baik pada Jaejoong, penyakit itu tidak akan pernah muncul.

Yunho merasa itu bukan penyakit tapi lebih tepatnya kesialan, kenapa Tuhan harus memberikan cobaan yang sangat berat pada seseorang yang lemah seperti Kim Jaejoong.

Yunho benar-benar merasa bersalah pada Jaejoong karena kejadian beberapa hari yang lalu, Yunho sempat membentak dan memberikan tatapan kebencian pada Jaejoong. Bukan kah itu akan lebih menyakitinya. Mungkin karena terkejut dengan perkataan dan sikap Jaejoong waktu itu, tapi sungguh Yunho tidak bermaksud melakukannya pada Jaejoong. Awalnya Yunho ingin mengenal dan dekat dengan namja cantik bernama Kim Jaejoong itu karena di rasanya Yunho telah jatuh cinta pada pandangan pertama tapi setelah kejadian itu Yunho sempat membenci Jaejoong dan sekarang Yunho tahu yang sebenarnya. Yunho semakin ingin mengenalnya, menjadikan dirinya tumpuan untuk seseorang namja lemah yang bernama lengkap Kim Jaejoong.

#Flash Back End#

Yunho terus berdiri di samping gerbang gedung sekolahnya, terlihat Yunho sedang menunggu seseorang. Siapakah yang Yunho tunggu?

"Kenapa dia lama sekali." Gerutu Yunho sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.

"Aishh.. Sampai kapan aku harus terus menunggunya? Sepertinya sekolah sudah sepi, tapi kenapa dia belum juga lewat sini? Apa jangan-jangan dia tidak lewat sini atau aku tidak sadar kalau dia sudah lewat sini." Yunho terus menggerutu dan tampak pusing karena orang yang sedang di tunggu nya sudah hampir setengah jam yang lalu tidak juga mucul. Dan sesaat sesudahnya orang yang di tunggu Yunho akhirnya lewat di depan Yunho. Yunho buru-buru membalikan badannya mencoba bersembunyi.

Namja cantik berkulit putih pucat itu sedang berjalan sambil menundukan kepalanya melewati namja tampan yang sedari tadi sedang menunggu seseorang ya siapa lagi kalau bukan Jung Yunho. Kim Jaejoong si namja cantik itu tidak sadar sedang berjalan melewati Yunho. Tapi ada bagusnya karena memang ini yang di rencanakan Yunho. Hari ini Yunho akan mengikuti Jaejoong dan mencari tahu dimana tempat tinggal Jaejoong. Yunho terpaksa harus melakukan cara ini, karena kalau langsung bicara pada Jaejoong seperti sebelum-sebelumnya yang ada Jaejoong akan melarikan diri (lagi).

.

.

Setelah beberapa lama mengikuti Jaejoong, akhirnya Yunho sampai di kediaman tempat tinggal Jaejoong. Syukurlah perannya sebagai mata-mata hari ini tidak ketahuan oleh Jaejoong. Yunho terus menatap bangunan tua di hadapannya, menurut Yunho tempat ini seperti tidak layak pakai dan tidak berpenghuni. Ya, begitulah. Bayangkan saja bangunan yang sudah sompel, rusak, agak hancur dan tidak berwarna maksudnya warna cat yang terlihat pudar. Lalu bangunan yang berukuran sangat kecil, bahkan jauh lebih luas dan bagus gudang yang ada di rumah Yunho.

"Benarkah Jaejoong tinggal di sini? Bagaimana bisa Jaejoong tinggal di tempat seperti ini sedangkan Jaejoong bisa bersekolah di sekolah nya yang sekarang." Bingung Yunho.

+++++++++++++++++++++YUNHO POV+++++++++++++++++++

Sekarang aku sudah berdiri di hadapan pintu rumah Jaejoong. Aku agak ragu untuk mengetuknya. Tapi akhirnya aku beranikan diriku mengetuk pintu rumah Jaejoong, semoga saja Jaejoong mau membuka pintunya untukku. Dua kali ketukan aku rasa sudah cukup. Kenapa tidak ada tanda-tanda orang datang membukakan pintu. Apakah mereka yang di dalam tidak mendengarnya? Aku coba mengetuk beberapa kali, tetap saja sama tidak ada orang yang membukakan pintu untukku.

Sejenak aku berpikir apakah aku masuk saja ke dalam? Ani! Bagaimana pun juga aku tamu disini, mana mungkin aku masuk begitu saja ke rumah orang. Tapi apa mereka yang di dalam sengaja tidak membukakan pintu untukku? Sepertinya aku masuk saja ke dalam, iya tidak apa-apa aku niatku baik hanya ingin bertemu dengannya (lagi).

Perlahan aku mencoba memegang gagang pintu dan membukanya, ternyata pintunya tidak di kunci. Sedari tadi aku sampai tidak memikirkan masalah ini, aku rasa Tuhan sedang berada di pihak ku sekarang. Aku langsung berjalan masuk ke dalam rumah Jaejoong, tidak lupa aku menutup kembali pintu rumah Jaejoong secara pelan-pelan agar tidak terdengar bunyi.

Aku terus melangkahkan kaki ku dan sampai lah aku di hadapan sosok indah yang sedang berkutat dengan segala macam perkakas dapurnya itu, walaupun terlihat dari belakang aku tahu sepertinya sosok indah itu sedang memasak. Dia menggunakan apron bunga-bunga, kulit putih pucatnya yang agak terlihat dari bahunya, dia memakai kaos lengan panjang longgar yang transparan yang memperlihatkan kesan sexy pada tubuhnya juga jangan lupakan pinggang rampingnya. Aku terus memperhatikannya dan sesaat dia berbalik, aku benar-benar terkejut ternyata sosok indah itu dia Kim Jaejoong. Aku rasa Jaejoong sama terkejutnya denganku, karena setelah Jaejoong menatapku tanpa sadar Jaejoong menjatuhkan mangkuk makanan yang di bawanya.

"Oh. Mianhae aku mengagetkanmu."

"..." Tidak ada jawaban sama sekali, Jaejoong masih diam dan terus menatapku.

"An-nnyeong Jaejoong~ah..." Ucapku agak ragu sambil perlahan melambaikan tanganku ke arahnya.

"..." Masih sama, tidak ada jawaban dari mulut Jaejoong.

"Tadi aku sudah mencoba mengetuk pintu rumahmu, tapi tidak ada yang membukakannya. Jadi.. Jadi aku masuk saja ke dalam. Mianhae, aku lancang karena seenaknya masuk ke rumah mu." Aku mencoba menjelaskannya pada Jaejoong, semoga saja Jaejoong bisa mengerti.

"Dari mana kau tahu rumah ku?" Akhirnya Jaejoong mau membuka suaranya juga.

"..." Sekarang malah aku yang diam, aku jadi bingung harus menjawab apa. Entahlah, tidak ada kalimat yang bisa aku keluarkan sebagai jawaban. Apa aku harus berkata jujur atau berbohong? Berbohong juga aku bingung.

"Apa kau mengikutiku? Kau mencari tahu dimana tempat tinggalku?" Bingo. Jaejoong tahu. Hah... Aku semakin bingung apa yang harus aku lakukan? Apa aku jujur saja ya kalau aku memang mengikutinya. Jung Yunho berpikirlah, berpikirlah.

"Pergi!" Aku menatapnya kaget. Aku mendengarnya jelas, Jaejoong menyuruhku pergi. Jaejoong berkata sambil menyibukkan dirinya membersihkan pecahan mangkuk yang terjatuh tadi.

"Ne? Jaejoong~ah... Mianhae jeongmal mianhae. Aku datang kesini karena ingin meminta maaf padamu dan ingin berteman denganmu." Akhirnya aku beranikan diri untuk bicara maksud dan tujuan ku datang menemuinya. Aku sedang mencoba meyakinkan seorang Kim Jaejoong, aku harap Jaejoong bisa mengerti.

"..." Jaejoong kembali diam.

"Jaejoong~ah."

"Pergi!" Jaejoong tetap menyuruhku pergi. Tampak sepertinya Jaejoong telah selesai membersihkan pecahan mangkuk yang jatuh tadi dan sekarang Jaejoong membawa pecahan mangkuk itu untuk di buang keluar, lalu selagi Jaejoong berjalan melewatiku...

"Psychometry." Lagi-lagi aku memberanikan diri melontarkan kata ini padanya, mungkin dengan begini Jaejoong tidak akan mengacuhkanku (lagi). Aku melihatnya, Jaejoong menghentikan langkahnya setelah aku mengatakan 'Psychometry'. Aku rasa ini akan berhasil.

"Apa maksudmu?" Jaejoong membalikan badannya dan mengajukan pertanyaan padaku.

"Arra. Jangan mencoba menyembunyikannya dariku." Sesaat aku menjawab pertanyaannya, tapi Jaejoong malah berlari keluar meninggalkanku begitu saja.

"Ya! Jaejoong~ah. Kim Jaejoong..." Aku terus memanggilnya , selagi aku mau mencoba mengejarnya Jaejoong sudah pergi menghilang, cepat sekali.

"Kenapa kau senang sekali tiba-tiba pergi begitu saja! Dan kau meninggalkan ku sendiri di rumah mu! Apa kau tidak takut aku akan membakar rumah mu ini! Aishhh.." Aku benar-benar kesal di buatnya. Harus dengan cara apa agar Jaejoong tidak kabur (?) di saat aku sedang mengajaknya berbicara!

+++++++++++++++++++ YUNHO POV END++++++++++++++++++

Terik matahari di siang hari yang begitu menyilaukan tidak mengurangi aktifitas masyarakat yang tinggal di daerah ini, tepatnya di pinggiran kota myeongdong masih di padati orang-orang yang berlalu lalang. Dan di lain tempat terlihat seorang namja cantik sedang berlari entah kemana arah tujuannya. Namja cantik itu terlihat gelisah.

++++++++++++++++++++JAEJOONG POV+++++++++++++++++++

Aku terus berlari tanpa adanya arah tujuan. Berlari dan berlari, setelah beberapa saat kemudian aku berhenti sejenak mengatur nafasku yang tidak stabil.

"Hooshh.. Hoosshh.. Hosshh... Kenapa kau harus datang lagi? Kenapa kau meminta maaf? Kenapa? Harusnya kau membenciku sama dengan mereka."

Aku sedang memikirkannya, Jung Yunho. Aku tidak mengerti orang seperti apa dia. Apa selama ini Yunho mencari tahu tentang diriku? Namaku? Tempat tinggalku? Dari mana Yunho bisa tahu? Apa Yunho ingin membalas dendam padaku karena kejadian waktu itu. Ya Tuhan cobaan apa lagi yang kau berikan padaku?

.

.

Tidak terasa hari sudah mulai gelap. Aku harus pulang, sepertinya Yunho sudah pergi dari rumahku. Aku meninggalkannya sudah beberapa jam yang lalu jadi tidak mungkin Yunho masih menungguku. Satu jam perjalanan, dan sampai lah aku di rumah.

Baru saja aku mau masuk ke dalam rumahku, tapi aku mendengar suara dengkuran khas orang sedang tidur. Mwoya? Perlahan aku melangkahkan kakiku mencari tahu dari mana suara dengkuran itu. Aku terus berjalan, lalu aku melihat jaket yang tergeletak d pinggiran sofa butut yang membelakangiku. Sesaat aku mengedarkan pandanganku mencari siapa kah dia? Dan saat aku berhadapan dengan sofa butut yang tadi membelakangiku, aku baru menyadari ternyata suara dengkuran itu berasal dari Yunho. Aku tidak percaya ini. Jadi Yunho masih disini? Apa Yunho menungguku? Yunho terlihat sedang tidur dengan mulut yang agak terbuka.

"Eung...Eung..." Sepertinya Yunho akan bangun dari tidurnya. Aaa bagaimana ini? Aku harus sembunyi sebelum Yunho melihatku.

"Ooh Jaejoong~ah.. Kau sudah kembali." Aku terlambat, baru saja aku mau melangkahkan kakiku Yunho sudah lebih dulu melihatku. "Tadinya aku mau pulang, tapi aku tidak bisa begitu saja meninggalkan rumahmu. Dan karena lama menunggumu aku sampai ketiduran di sini." Yunho terus saja berbicara padaku sambil memperlihatkan senyumannya itu.

"Ne gomawo." Setelah aku mengatakan terimakasih, aku langsung beranjak dari hadapannya.

"Jaejoong~ah." Selagi Yunho memanggilku tetap saja aku berjalan tidak mempedulikannya.

"Istirahatlah, besok aku akan kemari lagi. Jalja Jaejoong~ah" Aku kaget dan berbalik tapi Yunho sudah lebih dulu pergi.

MWO? Apa yang barusan Yunho katakan? Besok Yunho mau datang lagi ke sini? Apa yang sedang di lakukannya? Apa Yunho merencanakan sesuatu? Kenapa Yunho bersikap biasa sekali seperti tidak ada masalah apapun di antara kami?

++++++++++++++++++JAEJOONG POV END++++++++++++++++++

Sesuai dengan perkataannya pada Jaejoong semalam, akhirnya hari minggu sore ini Yunho akan datang lagi ke rumah Jaejoong. Mulai saat ini, Yunho akan mencoba mengambil hati Jaejoong dan meyakinkan Jaejoong kalau memang Yunho tulus ingin mengenal dan dekat dengan Jaejoong. Walaupun Jaejoong masih bersikap acuh tak acuh pada Yunho, Yunho akan tetap berusaha sebisa mungkin.

.

.

Selagi berjalan Yunho terus memperlihatkan senyumannya sambil membawa kantong yang berisi berbagai makanan dan buah-buahan yang di belinya tadi di supermarket untuk Jaejoong sebagai hadiah. Dan sampainya Yunho di kediaman tempat tinggal Jaejoong untuk yang kedua kalinya. Jujur Yunho tidak sabar ingin melihat bagaimana reaksi Jaejoong setelah melihat kedatangan Yunho (lagi). Dengan percaya dirinya Yunho mengetuk pintu rumah Jaejoong beberapa kali. Sebenarnya Yunho tidak yakin dengan cara ini, Yunho takut Jaejoong tidak mau membukakan pintunya seperti kemarin.

Sesaat Yunho mulai pasrah, kalau Jaejoong tidak membukakan pintu mungkin Yunho akan pulang dan kembali ke sini lagi lain hari. Benar saja, beberapa lama menunggu sepertinya Jaejoong memang tidak mau membukakan pintunya, selagi Yunho berbalik ingin pulang lalu pintu rumah Jaejoong terbuka. Sontak Yunho terkejut bercampur bingung.

"Masuklah." Tampak kepala Jaejoong menyembul keluar pintu sambil menyuruh Yunho untuk masuk dengan ekspresi datarnya.

"Ooh.. Jaejoong~ah." Yunho langsung merubah raut wajah kecewanya menjadi sebuah senyuman, Yunho tidak menduga sebelumnya akan jadi begini. Baguslah, kali ini sepertinya Jaejoong tidak menolak bertemu dengan Yunho.

Setelah Yunho masuk ke dalam rumah Jaejoong, Yunho di persilahkan duduk lalu Jaejoong pun membuatkan minum untuk Yunho. Selagi Yunho duduk, Yunho memperhatikan sekitarnya seperti sedang mencari sesuatu.

"K-kauu tinggal sendiri?" Yunho mencoba angkat bicara lebih dulu.

"Ne." Hanya jawaban singkat yang terlontar dari mulut Jaejoong.

"Jeongmal? Lalu di mana orang tua mu, keluarga mu?" Tanya Yunho lagi.

"Wae? Apa yang kau rencanakan? Kau ingin balas dendam padaku?" Jaejoong tidak menjawab pertanyaan dari Yunho melainkan memberikan pertanyaan pada Yunho sambil berjalan ke arah Yunho dan memberikan secangkir teh hangat yang baru saja selesai di buatnya.

"Mwo?" Yunho menjadi tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Jaejoong.

"Apa yang kau rencanakan?"

"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti." Yunho semakin bingung.

"Bukankah kau sama seperti mereka. Kau pernah membenciku karena kejadian beberapa hari yang lalu dan kenapa tiba-tiba kau bersikap seperti ini padaku? Apa yang kau rencanakan?"

"Apa aku terlihat sejahat itu? Aku tidak merencanakan apapun dan aku tidak bermaksud mencelakaimu Jaejoong~ah. Sungguh!"

"Tsk. Geotjimmal." Jaejoong memberikan tatapan dinginnya pada Yunho.

"Jaejoong~ah. Orang lain mungkin menggapmu aneh tapi tidak denganku. Mianhae karena sikapku waktu itu padamu gundae aku tulus ingin berteman denganmu." Jelas Yunho.

"Bagaimana kalau aku tidak mau berteman denganmu? Apa yang akan kau lakukan? Ya! Jung Yunho. Kau akan menyesal berteman dengan orang aneh sepertiku."

"Menyesal? Ani. Aku akan terus meyakinkanmu agar kau mau berteman denganku."

"Jangan hanya karena kau kasihan padaku jadi kau ingin berteman denganku."

"Tentu saja tidak begitu. Aku hanya..."

Di saat Yunho masih berbicara, terdengar bunyi yang keras yang berasal dari dinding rumah Jaejoong. Dindingnya sedikit hancur, terlihat ada beberapa orang bertubuh kekar terus memukul dinding itu dengan besi panjang sepertinya ingin menghabisi rumah tua milik Jaejoong. Karena perlakuan orang-orang bertubuh kekar itu sontak Jaejoong mengarahkan pandangannya ke dinding rumahnya yang di hancurkan. Lalu Jaejoong bangun dari duduknya dan langsung lari keluar melihat apa yang terjadi dengan rumahnya.

"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Jaejoong marah sambil menarik tangan beberapa orang bertubuh kekar yang sedang mencoba menghancurkan rumah tuanya.

"Aaaa. Ternyata ada orang di rumah ini, kebetulan sekali. Ini." Datanglah seorang namja yang kelihatannya bos dari orang-orang bertubuh kekar itu. Namja itu juga memberikan map merah yang berisi surat.

"..." Jaejoong hanya diam terpaku setelah melihat isi surat yang ada di dalam map merah itu.

"Sudah selesai membacanya kan. Surat perizinan pembangunan apartemen. Cantik, kami harus segera menghancurkan rumah tua mu ini, kami akan membangun apartemen di sekitar sini dan rumah tua mu masuk ke dalam luas tanah bangunannya. Jadi mau tidak mau kau harus pergi dari rumah ini. Sebagai ganti ruginya kau bisa dapatkan beberapa hari lagi, hubungi saja aku Jin Yihan. Baiklah aku berikan kau waktu untuk membereskan barang-barangmu."

"Aku tidak akan pergi! Tidak akan pernah!" Tegas Jaejoong sambil memperlihatkan tatapan dinginnya.

"Nde?"

Jaejoong berjalan ke arah dinding rumahnya yang sedari tadi dihancurkan mencoba melindungi rumah tuanya dengan cara merentangkan tangannya. Bagaimana pun juga seburuk apapun rumah ini adalah warisan satu-satunya dari Ayah Jaejoong yang Jaejoong miliki.

"Kenapa kau begitu keras kepala? Aku memintanya dengan baik-baik." Terlihat namja bermarga Jin itu sepertinya marah karena ulah Jaejoong.

"Aku tidak akan menyerahkan rumah ini begitu saja pada kalian. Sekalipun kalian akan membayar seberapa banyak jawabannya tetap sama! TIDAK!" Jaejoong menaikkan volume suaranya agak tinggi dan menekankan kata tidak pada namja bermarga Jin itu.

"Baiklah kalau itu maumu. Sekali lagi, apa kau ingin menyerahkan rumah ini lalu pergi atau mati?"

"Kau sedang mengancamku?" Tantang Jaejoong.

"Menurutmu? Ckck... Habisi dia." Setelah selesai berbicara namja bernama Jin Yihan itu pergi.

Lalu orang-orang bertubuh kekar itu menjalankan perintah bosnya, mendekati Jaejoong dan menarik Jaejoong paksa agar Jaejoong pergi dari tempatnya. Beberapa orang bertubuh kekar itu melempar kuat Jaejoong ke lantai. Jaejoong mencoba bangun kembali menghalangi mereka yang masih setia melanjutkan aksi yang tadi sempat tertunda tapi Jaejoong malah mendapatkan pukulan terus-menerus dari mereka.

Yunho yang masih di dalam kelihatan bingung apa yang sebenarnya terjadi di luar dan Jaejoong juga belum masuk ke dalam lagi. Akhirnya Yunho memutuskan untuk melihat keluar. Setelah Yunho melihat keluar, Yunho di kejutkan dengan situasi yang menyulitkan, Yunho melihat Jaejoong sedang di pukuli oleh orang-orang bertubuh kekar yang Yunho tidak tahu siapa mereka.

"Aishhh.. YA! Apa yang kalian lakukan!" Yunho langsung berlari ke arah Jaejoong dan menolongnya. Alhasil perkelahian terjadi antara Yunjae dan beberapa orang bertubuh kekar itu.

.

.

Seiring berjalannya waktu. Pada akhirnya beberapa orang bertubuh kekar itu tumbang alias kalah karena bela diri Yunho dan sedikit bantuan Jaejoong.

"Pergi kalian... Aishhh..." Usir Yunho pada beberapa orang bertubuh kekar itu sambil menendang-nendang udara, karena lelahnya Yunho asal menendang padahal tidak ada lawan di sekitarnya.

Setelah mereka semua pergi, tinggal Jaejoong dan Yunho disini. Yunho benar-benar terlihat kelelahan, tubuhnya agak oleng karena kurangnya keseimbangan dan hampir terus-terusan terjatuh.

"Gwaenchana?" Tanya Jaejoong. Sepertinya Jaejoong terlihat khawatir dengan keadaan Yunho sehabis berkelahi.

"Ooh..Oohh... Gwaenchana.. Aku harus pulang, sampai bertemu besok lagi di sekolah." Yunho menjawab dengan lemasnya sambil mengisyaratkan gerakan tangan ke arah Jaejoong dan baru saja Yunho berbalik ingin melangkah pergi tapi sudah di lanjutkan dengan jatuh terkaparnya Yunho.

"YUNHO~AH..." Teriak Jaejoong dan langsung menumpu tubuh Yunho. "Yunho~ah ireona. Ya! Jung Yunho ireona, ireona Yunho~ah.." Jaejoong terus menepuk-nepuk pelan pipi Yunho, mengguncang pelan tubuh Yunho bermaksud mencoba membangunkan Yunho tapi Yunho tidak juga bangun. Sepertinya Yunho jatuh pingsan.

.

.

Di salah satu ruangan yang minimnya pencahayaan terlihat dua orang namja, yang satu namja tampan berbibir berbentuk hati sedang terbaring di tempat tidur dan yang satunya lagi namja cantik berambut almond sedang duduk di kursi menunggu si namja tampan yang terbaring itu siuman. Ya, sudah lima jam lamanya Jaejoong menunggu Yunho tapi sedari tadi Yunho belum juga siuman. Apa Yunho sengaja tidak mau bangun dan malah keasikan tidur di tempat tidur Jaejoong. Entahlah.

Jaejoong benar-benar masih setia menunggu Yunho siuman, terbukti Jaejoong masih duduk di kursinya dan tidak mau beranjak pergi kemana pun. Jaejoong baru menyadarinya, selama ini Jaejoong merasa sangat bersalah pada Yunho. Pertama kali Jaejoong bertemu Yunho sampai sekarang Yunho selalu menolong Jaejoong tapi Jaejoong malah bersikap dingin dan acuh tak acuh pada Yunho.

++++++++++++++++++++JAEJOONG POV+++++++++++++++++++

Aku masih terus menunggunya siuman, memang lama sekali sampai aku merasakan bosan dan pegal karena hanya duduk tidak bergerak dari kursi ini. Jelas saja, sudah lima jam aku menunggu Yunho seperti ini.

Jujur aku mengkhawatirkannya, aku takut sekali, aku takut Yunho tidak baik-baik saja. Lagi pula Yunho pingsan juga karena menolongku. Dua kali sudah Yunho menolongku. Aku merasa sangat bersalah pada Yunho karena selama ini aku bersikap dingin dan acuh tak acuh padanya. Aku salah menilainya, Yunho orang yang baik, Yunho benar-benar tulus ingin berteman denganku. Sepertinya Yunho tidak sama dengan mereka.

Perlahan aku lebih mendekatkan kursi yang aku duduki ke arah terbaringnya Yunho, aku menatap wajahnya yang penuh dengan luka akibat perkelahian tadi. Aku semakin merasa sangat bersalah pada Yunho.

"Seharusnya tadi kau tidak menolongku, maka kau tidak akan pingsan dan terluka seperti ini."

Aku mencoba menggenggam tangan Yunho dan ikut merasakan apa yang sedang di rasakannya. –Kembali ke empat tahun yang lalu, Yunho baru pulang dari olahraga basketnya dan setelah sampai rumah tidak sengaja Yunho melihat pemandangan yang seharusnya tidak di lihatnya. Perlakuan kasar Ayahnya pada Ibunya. Yunho melihat Ayahnya sedang menampar keras pipi kiri Ibunya. Lalu...-

Aku buru-buru menjauhkan tanganku yang tadi menggenggamnya, aku juga terpaksa menghentikan apa yang sedang aku lakukan karena aku mendengar suara Yunho. Sepertinya Yunho akan siuman. Syukurlah, dan benar saja beberapa saat kemudian Yunho membuka matanya yang sedari tadi terpejam. Tanpa sadar aku sedikit tersenyum lega melihatnya yang sudah membuka matanya.

"Jaejoong~ah.."

"..." Aku hanya diam. Aku tahu Yunho butuh penjelasan, sepertinya Yunho bingung, terlihat dari ekspresinya.

"Apa yang terjadi denganku?" Tanya Yunho.

"Kau jatuh pingsan sehabis berkelahi tadi." Jawabku menjelaskan.

"Ne? Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?" Tanya Yunho lagi.

"Kira-kira sudah lima jam."

"MWO? Waahh.. Selama itu kah?" Yunho tampak terkejut dengan jawabanku.

"Kau terluka, biar aku mengobatimu." Aku mencoba mengalihkan pembicaraannya. Benar kan, wajah Yunho penuh dengan luka maka aku harus cepat mengobatinya agar tidak infeksi.

"Gwaenchana." Aku tidak mempedulikan perkataannya dan langsung melangkah pergi. Tapi langkahku harus terhenti karena suara yang aku tahu berasal dari perut Yunho.

"Apa kau punya ramen? Aku lapar sekali.. Hehe." Yunho bertanya di lanjutkan dengan cengiran lucunya. Lucu? Hah.. Apa yang sedang aku pikirkan.

"Baiklah aku akan buatkan ramen untukmu, setelah itu baru aku mengobati lukamu."

++++++++++++++++++JAEJOONG POV END+++++++++++++++++

Yunho sedang menyantap ramen panasnya yang baru saja siap di buatkan Jaejoong. Yunho terus menikmati ramennya itu tanpa menyadari namja cantik di hadapannya sedang menatapnya dengan tatapan heran, lihatlah Yunho seperti orang yang sudah seminggu tidak makan, Jaejoong tahu Yunho kelaparan tapi lebih kelihatan rakus sekali.

"Sudah berapa lama kau tidak makan?" Jaejoong mencoba menyindir Yunho.

"Ooohh.. Hehehe..." Yunho hanya menatap Jaejoong malu sambil tersenyum kikuk.

"Apa kurang? Mau aku buatkan lagi?" Tanya Jaejoong menawarkan.

"Ani, ani.. Sudah cukup." Benarkah Yunho merasa sudah cukup? Melihat dari cara makan Yunho tadi sepertinya Jaejoong tidak yakin.

"Tunggu sebentar." Jaejoong beranjak dari duduknya, melangkah pergi mengambil kotak obat untuk mengobati luka Yunho.

Tidak lama kemudian Jaejoong kembali ke arah tempat Yunho duduk sambil membawa kotak obat. Dan Jaejoong pun ikut duduk, menggeser kursinya lebih dekat lagi dengan kursi yang Yunho duduki.

"Kemari lah, biar aku obati lukamu." Ucap Jaejoong.

"Kau juga terluka Jaejoong~ah."

"Ini hanya luka kecil sedangkan kau terluka lebih parah dariku, kemari lah."

Tanpa menunggu jawaban dari Yunho dengan telaten Jaejoong mengobati wajah Yunho yang terluka. Sekarang Jaejoong sedang membersihkan darah yang keluar (lagi) dari pelipis dan sudut bibir Yunho. Pelan-pelan Jaejoong melakukannya agar Yunho tidak merasakan sakit.

Tidak tahu kah kau Kim Jaejoong, namja bernama Jung Yunho yang sedang kau obati sekarang malah senyam-senyum sedari tadi. Yunho terlihat senang karena bisa sedekat ini dengan Jaejoong, di tambah kelihatannya Jaejoong peduli sekali pada Yunho.

Jaejoong masih sibuk mengobati luka Yunho, sedangkan Yunho terus menatap wajah cantik Jaejoong tanpa berkedip jangan lupakan senyuman liarnya pada Jaejoong. Perlahan tapi pasti Yunho lebih mendekatkan tubuhnya ke Jaejoong dan mempertemukan bibir berbentuk hatinya dengan bibir cherry milik Jaejoong. Akhirnya bibir keduanya bertemu, dengan lihai tanpa aba-aba Yunho langsung melumat bibir Jaejoong. Bagaimana dengan Jaejoong? Tanpa sadar Jaejoong ikut menikmatinya lalu memejamkan matanya.

T B C

Chapter 2 selesai deh.

TBC nya gak enak ya. Haha..

Tolong ripiunyaa semuaaa.. Biar aku tau gmn reaksi readers yang uda pada baca ^^

Janji update asap deh.. See u next chap.. Sangkyuuu :)

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan~~