Title : The Gifted Hands
Pairing : Kim Jaejoong, Jung Yunho
Other Cast : Park Yoochun (ntaran nyusul)
Rating : M [NC17]
Genre : Romance, little angst (maybe)
Type : YAOI, BL
Author : jejetoiunamae
Annyeong. Iseng-iseng aja nulis eh jadilah seperti ini. Nikmati aja ya kalo emang bisa di nikmati, saya cuma minta komentar dari kalian readers yang sudah mau membaca bagaimana ff abal saya ini. Walaupun abal tolong jangan copas sembarangan ff ini, kepedean banget kya ada aja yang mau copas... :)
Ini saya terinspirasi dari filmnya kim bum "The Gifted Hands", pokonya ceritanya agak ngikutin tapi gak full sama kya filmnya. Langsung ajalah. DON'T LIKE DON'T READ! WARNING THIS FANFIC BOYS LOVE. And then typos~~
^^balesan review^^
ichigo song : yaa bgitulah, jae mau nyobain jg soalnya. #plakkk saya emg gak suka yihan ahjusshi si hehe.. yuchun ada ko, cuma junsu sama changmin yg tumben lg gak ada aja... ho oh yunho getol bgt. bagus dah.. makasih bgt yaa ripiunya. kamu selalu jd yg pertama ripiu deh kyanya. jeongmal gomawo ^^
~Chapter 3~
Summary : Seorang namja cantik bernama Kim Jaejoong memiliki kelainan (penyakit) Psychometry. Yang bisa melihat kisah, kehidupan di masa lalu seseorang atau keadaan di sekelilingnya hanya dengan menyentuhnya. Orang-orang di dekatnya menjauhinya, bahkan ibu kandungnya sendiri pun juga menjauhinya. Kematian ibunya yang dia anggap salah satu kesalahannya membuat perubahan sikap dan perilakunya menjadi sosok yang pendiam juga penyendiri. Diasemakin di anggap gila dan aneh oleh orang-orang di dekatnya. Dan di saat dia merasakan kesepian seperti itu datanglah seorang pangeran penyelamat hidupnya. Siapakah pangerannya itu?
The Gifted Hands
.
.
.
Suhu di ruangan ini berganti menjadi panas seketika, karena ulah dua sejoli yang sedang menyatukan diri di indahnya malam. Kedua pasangan itu terus membagi ciuman hangatnya, Yunho yang semakin ketagihan merasakan manisnya bibir merah menggoda milik Jaejoong, Yunho terus mendesak lidahnya agar bisa masuk ke dalam mulut Jaejoong mengeksplore lidahnya agar bisa bermain di dalamnya. Jaejoong pun ikut menikmati ciuman yang di berikan Yunho.
Perlahan Yunho menuntun Jaejoong agar merebahkan diri ke lantai, keasikan dengan ciuman mereka berdua tidak peduli lagi akan dimana tempat nyaman untuk melakukannya. Tangan nakal Yunho mulai masuk ke dalam kaos putih yang masih di pakai Jaejoong, dengan beraninya Yunho meraba bagian dada Jaejoong, dan menekan dua tonjolan merah muda yang di miliki Jaejoong.
"Aaa..aahh... Yunn...hooo..oo~yaa..." Desah Jaejoong tertahan.
Mendengar desahan Jaejoong, seorang Jung Yunho semakin bernafsu, Yunho terus menurunkan gerakan tangannya dan sekarang Yunho sudah berganti meraba sesuatu yang menyembul di balik celana training Jaejoong. Awalnya Yunho hanya memainkan dan meremas-remas dari luarnya saja, sesaat kemudian tangan nakal Yunho sudah masuk kedalam celana training Jaejoong. Tidak sabaran Yunho mulai melucuti celana training plus underware yang masih Jaejoong pakai. Setelah Yunho melempar sembarangan bawahan yang di pakai Jaejoong tadi terlihatlah alat vital Jaejoong yang sudah tegang dan mengeras. Melihat Jaejoong begini, Yunho seperti ingin menerkamnya habis-habisan, sorot mata musangnya yang seolah mengatakan "Gwaenchana. Aku tidak akan menyakitimu."
.
.
Akhirnya, Yunho bisa merasakan bagaimana mulutnya yang sedang mengulum junior Jaejoong itu. Yunho terus menerus memaju mundurkan kulumannya pada junior Jaejoong.
"Aaahh..aahh.. Yun..." Desah Jaejoong lagi.
Yunho tanpa henti menggerakan tempo maju mundurnya, malah semakin cepat. Jaejoong pun mulai bereaksi, ada sesuatu yang ingin memaksa keluar sebentar lagi dan benar saja.
"Yun..aahh..Aak..ku..Mau..uu.. Kee..luuu..arr..aaaaahhh..aahh.." Teriak Jaejoong setelah orgasme pertamanya.
Cairan putih kental itu mengalir keluar dari ujung junior Jaejoong dan menyembur ke dalam mulut Yunho, Yunho pun menelannya tanpa rasa jijik sama sekali.
"Aaahh.. Jaejoong~ah ini nikmat sekali... Sungguh aku sudah tidak tahan, berbaliklah.." Ucap Yunho di sela menghentikan kulumannya sambil membuka paksa kaos putih Jaejoong.
"Yunn.. hoo..o~yaa..." Tanpa mempedulikan jawaban dari Jaejoong, Yunho langsung membalikan tubuh Jaejoong agar menungging. Dan Yunho mulai sibuk membuka baju lalu celana hitamnya beserta underwarenya. Tidak ada persiapan untuk yang pertama bagi mereka lebih tepatnya bagi Jaejoong. Yunho mencoba memposisikan junior besar nya ke arah pinkhole milik Jaejoong yang kelihatan merekah. Dengan tenang Yunho lebih menekankan junior besarnya agar bisa masuk dan...
.
.
"Yunho~ah." Panggil Jaejoong.
"Yunho~ah. Yunho~ah. Jung Yunho. Yunho~ah.." Sudah berkali-kali Jaejoong memanggil Yunho tapi Yunho masih saja diam menatapnya.
Setelah Jaejoong selesai mengobati wajah Yunho yang terluka. Yang Jaejoong temukan malah keaadaan Yunho yang menatapnya dengan tatapan err yang sulit di artikan. Entah apa yang Yunho pikirkan selagi Jaejoong sibuk mengobati wajahnya.
"Yunho~ah." Panggil Jaejoong untuk kesekian kalinya.
"Ooohh..." Yunho sadar dari lamunannya sambil memberikan ekspresi bingungnya pada Jaejoong.
"Sudah selesai."
"Ooohhh..." Sepertinya Yunho masih kelihatan bingung dan hanya menjawab dengan ekspresi mulutnya yang membentuk lingkaran.
"Gwaenchana?" Tanya Jaejoong.
"Ooohhh.. Aaa.. Gwaenchana.." Yunho menjadi semakin salah tingkah karena lamunannya tadi.
"Apa kau sakit?" Tanya Jaejoong lagi, kali ini pertanyaan yang sepertinya khawatir pada Yunho.
"Ani! Gwa..aae..enchana.." Yunho mencoba meyakinkan Jaejoong dengan jawaban agak terbata lalu berdiri ingin bergegas pergi. "Aku harus pulang." Ucap Yunho tiba-tiba.
"Kau yakin? Dengan kondisimu yang seperti ini? Lagi pula sudah tengah malam. Kalau kau mau kau bisa bermalam disini." Ucap Jaejoong menawarkan.
"Ani Jaejoong~ah. Sebaiknya aku pulang saja. Sampai bertemu besok di sekolah." Yunho melangkah pergi dari hadapan Jaejoong dan mencoba menutupi wajahnya yang terus bercucuran keringat dari pelipisnya. Dan baru beberapa langkah berjalan Yunho berbalik ke arah Jaejoong lagi. "Gomawo Jaejoong~ah."
Jaejoong hanya menatap Yunho sama bingungnya. Lalu Yunho melanjutkan langkahnya (lagi) dan sampainya di pintu Yunho kembali berbalik "Sampai bertemu besok lagi ya."
++++++++++++++++++++YUNHO POV++++++++++++++++++++
Setelah aku sampai di rumah, langsung saja aku buru-buru masuk ke kamarku dan tidak lupa menguncinya, lalu aku mulai melanjutkan sesuatu yang tadi sempat tertunda. Ya, aku harus cepat menolong adik kecilku di bawah sana. Aku rasa adik kecilku sudah semakin membesar dan harus segera di bebaskan.
.
.
Entah apa yang baru saja aku lakukan. Kenapa bisa-bisanya aku membayangkan melakukan hubungan seintim itu dengan Jaejoong? Kenapa aku bisa sampai membayangkan bercinta dengan Jaejoong? Hah.. Salahkan otak mesumku! Di saat Jaejoong begitu peduli dan berbaik hati mengobati aku yang terluka, aku malah berpikir macam-macam.
Dan karena otak mesumku, adik kecilku hampir saja mati. Jelas saja, setelah tadi aku menyadari aku hanya berkhayal, adik kecilku mulai membesar dan mendesak minta di bebaskan. Tapi aku masih di hadapan Jaejoong pada saat itu, untungnya Jaejoong tidak menyadarinya. Lalu aku bermaksud untuk segera pulang, tapi tetap saja aku tidak bisa menyelesaikannya. Aku harus tunggu sampai tiba di rumah baru aku bisa menyelesaikan semuanya. Dan itu benar-benar menyiksaku, bertahan hampir sejam.
Daebak! Aku terangsang hanya karena memikirkannya. Aishhh jinjja... Aku bisa gila karena seorang Kim Jaejoong. Gudae. Berada di dekatanya memang membuatku sangat senang lalu tanpa sadar aku bisa berpikiran seperti tadi. Jaejoong seperti candu untukku.
"Aku memang jatuh cinta padanya. Tapi aku belum berani menyentuhnya, menyatakan bagaimana perasaanku padanya saja aku takut, aku takut Jaejoong akan menolakku."
++++++++++++++++++YUNHO POV END++++++++++++++++++
Pagi harinya, terlihat dua anggota keluarga yang sedang menyibukkan diri dengan sarapannya. Seorang namja berperawakan tinggi tegap dan tampan, juga namja paruh baya yang masih terlihat sehat di umurnya yang sekarang sedang menyantap menu sarapan hari ini di meja makan berukuran persegi panjang, ayah dan anak itu melakukan sesi sarapan dengan tenang tanpa adanya pembicaraan. Setelah sesi sarapan hampir selesai, ayah Yunho teringat sesuatu dan langsung menyerbu putranya Jung Yunho dengan berbagai pertanyaan.
"Semalam kau kemana saja?" Tanya Ayah Yunho sambil memperlihatkan tatapan dinginnya.
"Ke rumah teman." Jawab Yunho sekenanya dengan menatap lekat Ayah nya.
"Apa saja yang kau lakukan di rumah temanmu sampai jam tiga pagi?" Raut wajah Ayah Yunho berubah seketika menjadi kesal.
Jeda sebentar. "Mianhaeyo. Aku ketiduran di rumah temanku." Jawab Yunho lagi sambil menatap takut Ayah nya.
"Jeongmal?" Karena melihat ekspresi Yunho tadi, Ayah Yunho jadi bersikap lembut kembali.
"Abouji, aku tidak berbohong." Tegas Yunho.
"Chingu? Nugu~ya?" Tanya Ayah Yunho penasaran. "Bawa dan kenalkan temanmu pada abouji."
"Nde?" Ucap Yunho agak kaget.
"Sepertinya dia sangat hebat karena bisa membuatmu berteman dengannya. Yang abouji tahu bukankah kau memilih-milih teman?"
"Tidak juga." Jawab Yunho nyengir kuda (?)
++++++++++++++++++++YUNHO POV++++++++++++++++++++
Entah kenapa mulai sekarang aku jadi semangat datang ke sekolah, mungkin karena Kim Jaejoong si malaikat cantikku itu. Aku terus tersenyum sendiri setiap kali mengingatnya di tambah Ayahku yang menyuruhku membawa dan memperkenalkan Jaejoong. Berpikir Jaejoong seperti kekasihku saja. Ya yang aku lihat Jaejoong mulai bisa menerimaku menjadi temannya, tanpa Jaejoong tahu yang sebenarnya aku harapakan yaitu bisa lebih dari teman. Hanya Tuhan yang akan memutuskan bagaimana nantinya, aku tidak akan memaksa jika aku tidak bisa memiliki Jaejoong. Hanya ingin melindunginya dan selalu berada di sisinya walau sebagai teman tidak masalah bagiku.
.
.
Aku sedang berjalan menuju kelas Jaejoong yang aku dapat dari informasi berada di lantai dua gedung sekolah ini. Dan sampainya aku di kelas 3B (kelas Jaejoong), aku mencoba melihat-lihat ke sekeliling mencari seorang namja berparas tampan juga cantik tapi aku tidak menemukannya. Aku rasa bertanya dulu tidak ada salahnya.
"Mianhaeyo. Apa Kim Jaejoong ada di kelas?" Aku mencoba bertanya pada salah satu murid wanita yang sedang lewat di depanku.
"Molla." Jawabnya singkat dan terlihat tak peduli.
Aigooo.. Aku hanya bertanya tapi kenapa jawabannya dingin sekali, pagi-pagi sudah membuatku kesal. Hah... Sepertinya Jaejoong memang tidak ada di kelas. Lalu aku melangkah pergi mencari Jaejoong ke tempat lain. Mungkin saja di toilet, taman, perpustakaan atau tempat lainnya. Selagi aku berjalan, aku melihat keramaian di depan pintu ruang guru. Ada beberapa murid dan guru sedang berkumpul di sana. Aku pun yang penasaran akhirnya mencoba mendekat ke arah keramaian itu.
Aku tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya, sekilas aku mendengar mereka mengatakan kalau ada murid yang terjatuh dari tangga di dorong oleh murid lain. Dan disaat aku mengedarkan pandanganku ke arah lainnya aku beralih ke guru yang cukup dekat denganku "Han Seonsengnim".
"Han Seonsengnim." Panggilku.
"Yunho~ah. Kau disini juga rupanya?"
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
"Begitulah. Tersangka yang sama."
"Nde?"
"Jangan bicarakan di sini. Kajja."
.
.
"MWO?" Tanpa sadar aku menaikkan volume suaraku karena terkejut mendengar cerita sebenarnya dari Han seonsengnim.
"Apa aku harus menjelaskannya lagi padamu?"
"Tidak mungkin! Tidak mungkin Jaejoong yang melakukannya! Aku tahu bagaimana Jaejoong." Ucapku agak keras. Aku sudah tidak peduli walaupun aku sedang berbicara dengan seorang guru, aku benar-benar marah saat ini.
"Tidak mungkin bagimana? Jelas-jelas banyak saksi yang melihatnya. Yunho~ah.. Kau baru mengenalnya, jadi kau tidak tahu orang seperti apa Kim Jaejoong itu." Ucap guruku (lagi).
"Seonsengnim... Aku yakin sekali Jaejoong tidak melakukannya. Kenapa mereka bisa menyimpulkan seperti itu?"
"Ini bukan untuk yang pertama kalinya. Sudah banyak murid yang mengadukan atas tindak kekerasan yang selalu ingin Jaejoong lakukan pada mereka."
"Jika benar Jaejoong yang mendorongnya, apa ada buktinya? Apa selama ini murid-murid yang mengadukan itu pernah memberikan bukti?" Sanggahku.
"..." Han seonsengnim hanya diam tidak menjawab pertanyaanku, memang yang aku katakan benar tidak ada bukti maka dari itu mereka tidak bisa seenaknya menuduh Jaejoong begitu saja.
"Tidak ada kan? Tapi kenapa kalian bisa langsung menyalahkan Jaejoong? Mengatakan kalau Jaejoong tersangkanya eoh?"
"Yunho~ah..." Setelah memberikan tatapan sinisku karena terlalu emosinya belum selesai guruku berbicara aku sudah pergi saja dari hadapannya.
.
.
Aku terus berjalan melewati lorong-lorong sekolah ini, aku tidak tahu akan kemana. 'Hanya ingin menenangkan diri' pikirku. Sedari tadi aku berjalan sambil mencari keberadaan Jaejoong tapi aku belum bisa menemukannya.
"Kira-kira kemana Jaejoong pergi?"
Dan selagi aku melewati tangga, tanpa sengaja aku menemukan Jaejoong sedang berjalan menaiki tangga. Wajahnya yang terlihat pucat, Jaejoong terus-terusan meremas kedua telapak tangannya sambil mengatur napasnya yang kelihatan tidak stabil. Melihatnya seperti itu, kekhawatiranku padanya makin menjadi, langsung saja aku mengikuti langkahnya, sengaja aku tidak mau memanggilnya karena lebih baik aku mengikuti akan kemana Jaejoong pergi.
++++++++++++++++++YUNHO POV END++++++++++++++++++
+++++++++++++++++++JAEJOONG POV+++++++++++++++++++
Rasanya sudah tidak ada tenaga lagi untuk melangkahkan kakiku menaiki tangga ini. Sudah berapa jauh aku berjalan menaiki tangga ini tapi belum sampai juga di tempat yang aku tuju. Aku harus menenangkan diriku, aku butuh sendirian. Aku benar-benar kacau sekarang, bernapas saja sulit seperti ada yang mencekikku.
Tangan ini hampir saja membunuh seseorang lagi. Aku terus-menurus meremas kedua telapak tanganku, jujur aku takut sekali. Aku membenci diriku yang mengerikan ini! Aku membenci tanganku yang selalu ingin membunuh orang-orang yang ada di dekatku! Aku bukan pembunuh! Tuhan apa yang harus aku lakukan?
#Flash Back#
"Ya! Kim Jaejoong, kenapa kau seperti ini? Sebenarnya aku mau saja berteman denganmu tapi ada syaratnya." Namja yang tidak aku kenal itu menghimpitku ke dinding, memegang daguku agar aku mendongak menatapnya.
"Mwo?"
"Yaa aku akui kau memang cantik walaupun kau seorang namja, tapi orang-orang melihatmu aneh karena sikapmu ini. Jadi terbukalah denganku dan kalau kau mau membagi kenikmatan tubuhmu denganku, aku bersedia menjadi temanmu." Aku rasa namja di hadapanku ini gila! Bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu padaku.
"Apa kau gila?"
"Nde?"
Aku mencoba melarikan diri dari hadapannya lalu dengan cepat dia mencengkram pundakku. Seketika itu juga lensa mataku berubah warna kebiruan dan terasa panas. Segera saja aku membalikan diriku ke hadapannya.
"Jangan berani menyentuhku. Bajingan!" Aku berkata tanpa rasa takut sedikit pun, biarlah aku tidak peduli apa yang akan terjadi nanti. Aku merasa terhina dengan perkataannya tadi, seolah aku namja murahan yang mau begitu saja memberikan kenikmatan untuknya.
"Beraninya kau..." Benar saja namja itu tidak terima lalu hendak melayangkan pukulan ke arah wajahku dan dengan cepat aku menahannya. Aku mencengkram lengannya dengan kuat. Aku merasakannya!
"Sudah ada 11 wanita di sekolah ini yang kau tiduri. Setiap sabtu dan minggu kau rajin datang ke pub untuk memuaskan hasrat bejatmu itu. Bahkan kau juga sering bermain sendiri jika tidak ada partner sex. Hahaha" Setelah berbicara, darah segar dari hidungku pun mengalir tapi tidak sederas biasanya. Namja itu langsung menepis cengkramanku sekuat-kuatnya sampai aku terhuyung hampir terjatuh. Dia menatapku ketakutan.
"Dari mana kau bisa tahu?"
"Hahaha... Lucu sekali bukan. Karena tidak setiap saat kau punya uang untuk membayar mereka, kau jadi harus bermain sendirian. Di kamarmu, di toilet sekolah bahkan pernah juga di taman sekolah. Ckckck.. Kalau aku membongkarnya kau tidak akan marah kan? Haha.." Aku kembali berlagak bersikap tenang dan terus mengejeknya.
"Kau lah yang gila. KAU BENAR-BENAR GILA!" Di akhir kalimatnya namja itu berteriak lalu menarik tanganku (lagi) dengan kasar, karena sikapnya yang tiba-tiba aku merubah ekspresi wajahku yang tadinya tenang menjadi takut. "Dari mana kau tahu KIM? Apa kau sengaja mencari tahu agar bisa menjatuhkan reputasiku di sekolah ini eoh?" Tubuhku gemetar karena dia terus bicara berteriak di hadapanku. Sekarang posisi kami sudah di ujung tangga ke bawah bukan lagi di pojokkan dinding seperti tadi. Aku hanya takut dia melemparku ke bawah.
"Lepaskan aku!" Aku mencoba melepaskan cengkramannya tapi hasilnya nihil karena namja itu semakin kuat mencengkramku.
"Bukankah tadi kau mencoba mengancamku kenapa sekarang kau terlihat begitu ketakutan eoh?" Di saat namja itu lebih menarik tanganku lagi, kakinya terpeleset terjungkal ke belakang, lalu karena kaget namja itu malah melepaskan cengkramannya di tanganku. Dan di saat aku mencoba meraih menggenggam tangannya tapi namja itu sudah lebih dulu terjatuh.
Aku melihatnya yang terjatuh tergeletak di bawah sana, walaupun jarak dari atas tangga ke bawah tidak begitu tinggi tapi tetap saja aku panik dengan keadaannya. Buru-buru aku turun melihatnya, lalu beberapa murid mulai datang mengerubungi.
#Flash Back End#
Karena tanganku ini aku hampir membunuhnya. Kalau penyakit ini tidak ada, aku tidak akan berbicara seperti itu padanya. Namja itu terjatuh juga karena kaget dengan perkataanku.
"Ternyata kau disini. Dari tadi aku mencarimu." Tiba-tiba saja aku mendengar suara yang sangat aku kenal, setelah membalikan badanku benar saja itu suara Yunho. Dari mana Yunho bisa tahu aku disini? Pasti Yunho mengikutiku. Yunho mencoba berjalan ke arahku.
"Jangan mendekat."
"Wae?"
"Kau sudah mendengarnya kan? Aku seorang pembunuh. Kau salah jika berteman denganku Yunho~ah."
"Siapa yang mengatakan? Siapa yang berani mengatakan kau seorang pembunuh?" Tanya Yunho agak berteriak padaku.
"Aku memang hampir membunuhnya."
"Jaejoong~ah, mereka hanya menuduhmu, mereka tidak punya bukti. Lagi pula murid itu tidak terluka dia hanya pingsan."
"Aku yang menyebabkan dia terjatuh Yunho~ah. Aku hampir membunuhnya, tangan ini yang melakukannya lagi." Setelah aku menatap ke arah Yunho, aku meremas kedua telapak tanganku dan memindahkan tatapanku ke arah tanganku sendiri. Rasanya saat ini juga aku ingin memusnahkan tanganku saja.
"Ya! Kim Jaejoong. Lihat aku. Penyakitmu tidak akan muncul jika mereka tidak memulainya. Aku percaya padamu, kau bukanlah seorang pembunuh, kau adalah temanku. Dan temanku tidak ada yang seorang pembunuh." Tanpa aku sadari Yunho sudah berdiri di hadapanku lalu dengan lembut memegang kedua lenganku, menyuruhku untuk menatapnya dan setelah itu Yunho memelukku. Aku agak kaget dengan perlakuan Yunho yang tiba-tiba memelukku. Entah apa yang aku pikirkan, aku merasa nyaman berada di pelukan seorang Jung Yunho. Pelukan hangatnya mampu membuatku tenang dan aku merasa Yunho bisa melindungiku.
.
.
"Jadi kau sering menyendiri di tempat ini?" Aku tahu Yunho bertanya sambil terus memperhatikanku.
"Ne." Aku mengangguk mengiyakan lalu menoleh ke arahnya dan benar dugaanku Yunho memang sedang memperhatikanku.
"Ya sekarang aku tahu dimana harus mencarimu jika di sekolah." Ucap Yunho memperlihatkan senyumannya.
"Gomawo Yunho~ah." Aku hanya ingin berterimakasih padanya, kedatangan Yunho juga sangat membantu membuatku merasa lebih tenang.
"Ooh?" Bukan menjawab, aku hanya tersenyum ke arahnya. Aku kembali menatap lurus kedepan mengalihkan pandanganku darinya. "Jaejoong~ah, apa aku boleh tahu tentang Ibumu? Maksudku-"
"Ibuku sudah tiada. Ibuku meninggal beberapa tahun yang lalu. Karena kecelakaan lalu lintas. Saat itu ibuku hampir tertabrak truk yang sedang lewat, di saat aku ingin meraih menggenggam tangannya ibuku menolaknya dan malah mundur menjauhiku. Lalu truk yang lewat itu menabrak ibuku." Aku rasa sudah tidak ada yang perlu lagi aku sembunyikan dari Yunho, sekarang aku akan mulai menerimanya menjadi temanku. Sepertinya tidak buruk, Yunho namja yang baik.
"Mianhae Jaejoong~ah."
"Ani. Gwaenchana."
Diam. Aku bingung harus bagaimana lagi memulainya. Bukan marah karena pertanyaan Yunho tadi hanya agak sedih teringat ibuku lagi.
"Aaaa.. Aku pinjam handphonemu." Yunho berdiri lalu mengadahkan tangannya ke arahku.
"Untuk apa?" Aku sungguh tidak mengerti apa maksud Yunho. Untuk apa Yunho meminjam handphoneku?
"Pinjam saja. Mana?" Yunho semakin menyodorkan telapak tangannya ke arahku. Dan akhirnya aku merogoh kantong celanaku mengambil handphoneku lalu memberikan handphoneku pada Yunho.
Aku melihat Yunho sedang menelfon menggunakan handphoneku.
"Itu nomorku, kalau kau membutuhkan bantuanku hubungi aku saja. Aku harus segera ke kelas, aku lupa belum mengerjakan tugas (PR) Hehehe.. Annyeong Jaejoongie." Dengan senyumannya. Setelah itu Yunho mengembalikan handphoneku lalu bergegas pergi, entah aku salah dengar atau apa tadi Yunho memanggilku dengan panggilan "Jaejoongie". Bukankah itu terdengar manis. Hah.. Apa yang aku pikirkan?
"Yunho~ah."
"Ye?" Karena panggilanku Yunho menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Tentang penyakitku. Tolong kau rahasiakan, aku percaya padamu Yunho~ah."
"Arraso." Yunho tersenyum lalu melangkah pergi dari hadapanku.
+++++++++++++++++JAEJOONG POV END+++++++++++++++++
Malam ini Yunho sedang berdiam diri di balkon rumahnya sambil memandang langit bertabur bintang di atas sana. Kelihatannya Yunho benar-benar merasa bosan, karena sedari tadi Yunho terus menghembus-hembuskan napasnya perlahan.
"Hah.. Kapan kau pulang? Bukan kah tadi di telefon kau bilang akan makan malam di rumah bersamaku." Gerutu Yunho.
Seseorang yang Yunho maksud itu adalah Ayahnya. Ya, sejam yang lalu Ayahnya menelfon menyuruh Yunho untuk di rumah saja karena Ayahnya akan pulang dan mengajak Yunho makan malam bersama. Tapi sampai sekarang pun Ayahnya belum pulang juga. Yunho menjadi kesal, bukan kali pertama Ayahnya mengingkar janji seperti ini, sudah sering sekali sampai tidak bisa terhitung lagi.
Ayah Yunho selalu saja menyibukkan diri dengan bisnisnya yang Yunho tidak ketahui. Padahal selama ini Yunho hanya ingin Ayahnya bisa meluangkan waktu untuknya tapi hampir tidak pernah. Yunho memang punya segalanya, kemewahan yang berlimpah tapi itu semua tidak cukup, Yunho hanya membutuhkan cinta dan kasih sayang dari Ayahnya, karena ibunya telah tiada.
Pada saat Yunho ingin melangkah pergi ke kamarnya. Datang seorang berperawakan bulat (?), wajah yang agak keriput dan rambut yang mulai putih sedang berjalan ke arah Yunho.
"Maaf tuan muda mengganggu. Saya hanya ingin memberitahukan informasi yang tuan muda minta."
Yunho hanya menganggukan kepala sebagai jawaban tanda mengerti.
"Yee. Menurut informasi yang saya dapatkan tuan Kim Jaejoong memang tinggal sendiri di rumah itu dan rumah yang tuan Kim Jaejoong tempati adalah rumah pemberian dari mendiang Ayahnya. Rumah itu warisan dari Ayahnya yang di berikan untuk tuan Kim Jaeoong. Lalu kenapa tuan Kim Jaejoong bisa bersekolah di sekolahnya yang sekarang, karena tuan Kim Jaejoong mendapatkan biaya dari seseorang yang sampai sekarang saya belum menemukan informasi siapa orang itu." Jelasnya.
Beberapa hari yang lalu Yunho memang menyuruh orang di hadapannya itu untuk mencari tahu tentang Kim Jaejoong. Tidak ada maksud tertentu, Yunho hanya ingin tahu dan kalau bisa dengan informasi yang didapatkannya bisa menolong Jaejoong dari penderitaan ini.
"Jadi ada seseorang yang membiayai sekolah Jaejoong?" Selidik Yunho.
"Ye tuan muda, menurut informasi yang saya dapatkan memang begitu. Dan untuk orang-orang yang memaksa mengambil hak milik rumah tuan Kim Jaejoong sudah saya bereskan."
"Siapa orang-orang itu sebenarnya?"
"Mereka hanya orang-orang pesuruh, ada penduduk sekitarnya yang mengatakan kalau luas tanah yang di miliki tuan Kim Jaejoong telah menjadi hak milik orang lain. Akan ada pembangunan berlokasi di dekat rumah tuan Kim Jaejoong dan luas tanahnya mengambil dari luas tanah yang di miliki tuan Kim Jaejoong. Mereka memaksa tuan Kim Jaejoong agar mau menjual tanahnya beserta rumahnya."
"Brengsek!" Ucap Yunho geram. Setelah mendengar informasi yang Yunho dapatkan dari orang di hadapannya entah kenapa Yunho jadi emosi seketika.
"Mengenai meninggalnya Ibu Tuan Kim Jaejoong memang murni kecelakaan. Ini foto-foto yang saya dapatkan dari media kepolisian pada waktu kecelakaan itu terjadi." Orang itu memberikan beberapa lembaran foto yang memperlihatkan bukti atas kecelakaan yang terjadi pada Ibu Jaejoong. "Tuan Kim Jaejoong sudah berusaha menarik tangan ibunya tapi Ibunya menolak dan malah melangkah mundur ke belakang. Saat itulah kecelakaan terjadi."
"Gudae. Tapi kenapa orang lain mengira kalau Jaejoong lah penyebab kematian Ibunya? Jelas-jelas ini murni kecelakaan, Jaejoong tidak membunuhnya."
"Karena banyaknya omongan yang menuduh tuan Kim Jaejoong yang membunuh Ibunya sendiri. Yang mereka tahu seperti itu tapi yang sebenarnya memang murni kecelakaan." Yunho hanya mengganguk mengiyakan.
"Kerjamu bagus." Puji Yunho. "Aaa, Lee Ahjusshi tolong cari tahu lagi siapa seseorang yang sudah membiayai sekolah Jaejoong itu."
"Ne, saya akan mencoba mencari tahu lagi siapa seseorang yang sudah membiayai tuan Kim Jaejoong."
"Baiklah, terimakasih untuk informasinya. Tapi kalau bisa aku minta secepatnya."
"Ye tuan muda. Saya permisi." Lee Ahjusshi menunduk memberi hormat lalu pergi.
Setelah seorang yang di panggil Lee Ahjusshi itu pergi Yunho kembali ke aktifitasnya tadi, berdiam diri sambil menatap langit bertabur bintang. Ya sebenarnya yang Yunho lakukan yaitu menunggu Ayahnya yang tidak kunjung datang. Di tambah informasi yang tadi Yunho dapatkan membuat Yunho malah jadi kepikiran.
+++++++++++++++++++JAEJOONG POV+++++++++++++++++++
Hari ini aku tidak sengaja bertemu lagi dengan Ibuku tapi seperti biasa Ibu selalu menghindariku. Ibu seperti takut ketika berpapasan denganku, seolah-olah aku adalah makhluk terkutuk yang bisa membunuhnya.
"Eomma." Panggilku dengan suara yang begitu pelan, aku tidak mengerti kenapa seperti ini, sulit sekali seperti ada yang menekan pita suaraku.
"..." Ibuku hanya diam, bahkan tidak berani menatapku.
"Eomma dorawa... Jebal dorawo.. Kita jalani hidup ini walaupun hanya berdua tanpa kehadiran Appa. Emm eotte?" Aku mencoba memulainya, aku harap Ibuku bisa menerima ajakanku ini.
"Penyakitmu?" Tanya Ibuku dan langsung menatap lekat ke arahku.
"Ne, aku memiliki penyakit yang sama dengan Appa."
"Jinjja?" Terlihat mata Ibuku yang memerah.
"Jinjja. Aku bisa melihatnya, tangan ini yang melakukannya." Aku menatap ke arah tanganku lalu mengepalkannya (?) dan kembali menatap Ibuku.
"Maldo andwae!" Tegas Ibuku. Tubuhnya menjadi gemetar, Ibuku juga terus melangkah mundur dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba Ibuku bisa jadi seperti ini.
"Eom-mmaa.. Aku tidak akan menyakitimu. Ani, aku tidak akan melakukannya. Jebal dorawa Eomma." Aku berbicara dengan langkah yang berlawanan dari Ibuku. Ingin sekali aku menarik Ibu ke dalam pelukanku. Karena aku tidak mau kalau sampai Ibu pergi lagi.
"Kau hanya akan menambah bebanku saja. Dulu Ayahmu sekarang kau, sampai kapan aku akan terus merasakannya eoh?" Teriak Ibuku. Aku dan Ibu sudah tidak peduli lagi ada dimana kami sekarang, banyak kendaraan dan juga pejalan kaki yang melewati dan melihat sekilas percakapan kami. Jelas saja, saat ini kami berada di pinggiran trotoar jadi wajar banyak yang menonton kami.
"Eomma gajima. Gajima..." Aku berhasil menangkap lengan Ibuku tapi dengan kuat Ibu menepisnya. Di saat Ibuku semakin melangkah mundur ada truk besar yang lewat, buru-buru aku menggenggam tangan Ibuku tapi Ibu menolak malah melepaskan genggamanku.
Truk itu sukses menabrak Ibuku, dengan jelas aku melihat Ibu terpental karena tubrukan dari truk besar itu. Seketika itu juga butiran air mataku mulai bermunculan.
"Eommaaaaaaaaa..."
.
.
"Hoshh.. Hoshhh.. Hoshhh.. Hoshh... Hoshhh..." Aku bangun dari tidurku mencoba mengatur napasku yang tidak stabil. Ternyata yang tadi hanya mimpi, mimpi yang sama. "Mimpi itu lagi." Gumamku.
Aku melihat jam yang ada di meja samping ranjangku, sekarang masih jam empat pagi rupanya. Karena sudah terlanjur terbangun, aku tidak bisa tidur lagi. Akhirnya aku berjalan menuju dapur. Aku mengambil air minum yang ada di kulkas untuk aku minum menyegarkan tenggorokanku yang terasa kering, setelah itu aku ke toilet mencuci muka. Aku pikir ini masih terlalu pagi, jadi aku memutuskan untuk membuat bekal.
Yang praktis saja, aku membuat nasi goreng kimchi untuk menu bekalku hari ini. Langsung saja aku ambil bahan-bahannya dan selagi aku sedang memotong-motong aku teringat akan seseorang. Ya, Jung Yunho. Tiba-tiba aku jadi teringat Yunho, teringat Yunho yang sering menolongku. Tapi aku belum pernah sekalipun membalasnya. Apa aku perlu membuatkan bekal satu lagi untuknya? Tapi apa Yunho akan menyukai masakanku? Aku takut masakanku tidak enak untuknya. Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikannya padaku?
.
.
Akhirnya aku memutuskan membuatkan bekal satu lagi untuk Yunho. Dengan menu yang sama nasi goreng kimchi, hanya bekal yang aku buat untuk Yunho sedikit special. Aku menatanya menyerupai wajah Yunho. Aku benar-benar terlihat seperti bocah yang baru pertama kali mengenal cinta, bocah yang sedang jatuh cinta pada seseorang lalu memberikan hadiah special agar seseorang itu menyukainya. Aishhh... Apa yang aku pikirkan..
+++++++++++++++++JAEJOONG POV END+++++++++++++++++
Bel masuk sekolah telah berbunyi, semua murid berbondong-bondong masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Terlihat dari kejauhan Kim Jaejoong yang sedang berjalan menuju kelasnya tiba-tiba terjatuh karena ulah teman-teman sekelasnya. Jaejoong yang jatuh bukannya di tolong malah di tertawakan oleh murid lainnya.
"Rasakan itu! Pembunuh!" Jaejoong yang mendengar kata 'Pembunuh' langsung menatap orang itu kesal. "Wae? Kau berani padaku eoh?" Tantang murid wanita itu.
Setelah puas menjatuhkan dan menghina Jaejoong murid-murid itu berjalan masuk ke kelasnya. Lalu Jaejoong pun ikut berjalan masuk ke kelas. Setelah Jaejoong sampai di depan pintu kelas, Jaejoong di sambut dengan guyuran jus jeruk yang di lemparkan seorang murid wanita (lagi), yang berhasil membuat baju seragam Jaejoong menjadi kotor karena noda jus.
Ingin sekali Jaejoong marah dan membalas perbuatan mereka, tapi itu sangat tidak mungkin bisa di lakukannya. Jaejoong hanya sendiri sedangkan mereka banyak. Satu lawan banyak, tentu saja Jaejoong akan kalah.
Jaejoong tetap melanjutkan berjalan ke arah tempat duduknya, selagi Jaejoong berjalan matanya melihat banyaknya tulisan di papan tulis yang di tujukan untuk dirinya. Seperti "DASAR PEMBUNUH!", "BITCH! FUCK!", "KIM JAEJOONG PEMBUNUH!, "PEMBUNUH! PEMBUNUH! MATI KAU KIM JAEJOONG!, "PEMBUNUH DILARANG MENGINJAKAN KAKI DISINI!", "PEMBUNUH! KELUAR KAU KIM JAEJOONG DARI SEKOLAH INI!", "KIM JAEJOONG SI NAMJA MURAHAN SEORANG PEMBUNUH!".
Jaejoong hanya merasakan sakit dalam diam. Kalimat-kalimat tadi sangat menyakitinya. Sebegitukah teman-temannya membenci dirinya? Jaejoong bukanlah pembunuh, lagi pula seperti yang Yunho katakan pada waktu itu kalau namja itu tidak mati dia hanya pingsan dan pastinya sekarang sudah sadar. Tapi kenapa teman-temannya dengan mudahnya megatakan kalimat-kalimat itu pada Jaejoong! Kenapa dengan teganya teman-temannya menuduh Jaejoong seorang Pembunuh dan Namja murahan!
++++++++++++++++++++YUNHO POV++++++++++++++++++++
Aku terus mengecek jam tanganku, tapi tetap saja angka jarumnya tidak berubah tetap sama. Hah.. Bagaimana caranya meminta pada Tuhan agar waktu berjalan dengan cepat untuk kali ini saja! Kenapa jam istirahat lama sekali, aku bosan mendengar ocehan guru di hadapanku ini.
Setelah lima menit kemudian, terdengarlah bel istirahat berbunyi. Langsung saja aku bergegas ke kelas Jaejoong. Yup, selain bosan dari tadi aku juga sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Jaejoong. Beberapa jam tidak melihat Jaejoong, aku merasa rindu. Sepertinya semakin aku dekat dengannya maka semakin aku mencintainya.
.
.
Sekarang aku sudah di depan kelas Jaejoong tapi entahlah Jaejoong ada di dalam atau tidak. Aku mencoba masuk ke dalam kelas Jaejoong, terlihat hanya ada seorang namja yang sedang duduk membereskan bungkusan dan orang itu ternyata Jaejoong. Selagi aku menghampiri tempat Jaejoong, aku melihat Jaejoong malah ingin melangkah pergi dari tempatnya.
"Jaejoong~ah." Panggilku.
"Oohh Yunho~ah." Jaejoong berhenti setelah aku memanggilnya.
"Eodiga?"
"Igo." Bukannya menjawab pertanyaanku, Jaejoong malah memberikan sebuah bungkusan padaku.
"Mwoe?" Tanyaku bingung.
"Untukmu. Anggap saja ucapan terima kasih dariku."
"Untukku?" Tanyaku lagi. Aku masih bingung dengan maksud Jaejoong memberikan bungkusan ini padaku.
Jaejoong hanya mengangguk sebagai jawaban.
.
.
"Hwaaaa.. Ini lucu sekali. Apa ini aku?" Setelah aku membuka bungkusan yang di berikan Jaejoong tadi, aku di buat terkejut dengan isinya, ternyata Jaejoong memberikanku bekal dan yang membuatku terkejut karena isi bekal itu yang di buat menyerupai wajah seseorang. Apakah ini aku?
"Ne. Mianhae." Aku kan senang karena bekal yang Jaejoong berikan tapi kenapa Jaejoong malah minta maaf padaku.
"Untuk apa kau minta maaf?"
"Apa kau suka?" Aku rasa Jaejoong berpikir kalau aku tidak akan menyukainya. 'Tidak akan! Apapun yang kau berikan padaku pasti aku menyukainya Jaejoongie', batinku.
"Sangat suka." Jawabku sambil tersenyum. Setelah itu aku menyibukkan diriku lagi bersama bekal yang menyerupai wajahku. "Hwaaaaaaaa.. Nasi goreng kimchi? Kau tahu?"
"Nde?"
"Nasi goreng kimchi makanan kesukaanku, dulu Ibuku sering membuatkannya untukku. Aku makan ya. Jalmoggeseumnida..." Setelah aku merasakannya, jujur ini enak sekali. Bahkan eommoni di kalahkan.
"Eotte?" Dari ekspresinya sepertinya Jaejoong penasaran dengan jawabanku.
"Jinjja masita. Kau yang membuatnya?" Aku yakin Jaejoong yang membuatnya tapi hanya sekedar memastikan saja.
"Ne." Benar dugaanku memang Jaejoong yang membuatnya.
"Bahkan buatanmu lebih enak dari pada buatan Ibuku Jaejoong~ah."
"Jangan berlebihan begitu. Ibumu akan marah di atas sana." Kelihatannya Jaejoong tidak percaya dengan perkataanku.
"Aaa jinjja, masakanmu benar-benar enak Jaejoongie. Apa aku terlihat sedang berbohong?"
"Sudahlah, makan dan habiskan bekalnya." Aku tahu Jaejoong sedang menutupi rona merah di pipinya dengan cara mengalihkan pembicaraan. Seorang Kim Jaejoong malu karena pujianku.
.
.
Di saat aku sedang berjalan ke arah mobilku yang terparkir di samping gerbang sekolah, aku melihat Jaejoong juga sedang berjalan ke arah gerbang sekolah. Kenapa aku tidak mengajak Jaejoong untuk pulang bersamaku saja ya, langsung saja aku berlari ke arah Jaejoong. Ketika aku berlari aku melihat ada seorang murid yang membawa motor mengarahkan lajuannya ke arah Jaejoong berjalan, aku curiga sepertinya murid itu sengaja ingin menabrak Jaejoong dari belakang, buru-buru aku mengencangkan lariku dan menarik Jaejoong. Akhirnya kami pun jatuh tersungkur. Aku yang reflek memeluk Jaejoong tadi langsung mengendurkan pelukanku.
"Jaejoong~ah gwaenchana? Apa ada yang terluka?" Aku benar-benar mengkhawatirkannya, aku takut sekali. Berani-beraninya orang itu, untungnya ada aku kalau tidak bagaimana dengan Jaejoong.
"Gwaenchana. Gomawo Yunho~ah." Suaranya bergetar. Aku tahu kau ketakutan.
"Kajja aku akan mengantarmu pulang." Tanpa penolakan Jaejoong menerima tuntunanku. Aku terus menuntun Jaejoong ke arah mobilku.
Aku tidak akan memaafkan orang itu, orang yang dengan sengaja ingin mencelakai Jaejoong ku. Akan aku berikan pelajaran padanya. Liat saja!
'Tenanglah Jaejoong~ah, aku akan melindungimu. Aku janji', batinku.
+++++++++++++++++YUNHO POV END+++++++++++++++++++
Di tempat lain, tepatnya di depan rumah Jaejoong terlihat seorang namja sedang mondar mandir menunggu kehadiran seseorang yang di tunggunya. Seseorang yang sudah lama tidak di jumpainya. Siapakah yang namja itu tunggu? Apakah saudaranya? Apakah kekasihnya? Ataukah tunangannya?
Tunggu saja di next chapter..
T B C
OK. Chapter 3 cukup sampai disini..
Mina minta review nya yaa~~
Itu NCnya gmn dah? Maksa bgt yee? Maklum baru pertama nyoba buat, jadi berantakan. Itu aja pas bagian NC ketik ulang ketik ulang mulu.. Huehehehe
Hontouni gomen ne. Maap kalau kurang memuaskan.. See u next chapter ^^
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...
