Title : The Gifted Hands

Pairing : Kim Jaejoong, Jung Yunho

Other Cast : Park Yoochun

Rating : T

Genre : Romance, humor (?), little angst (maybe)

Type : YAOI, BL

Author : jejetoiunamae

Annyeong. Iseng-iseng aja nulis eh jadilah seperti ini. Nikmati aja ya kalo emang bisa di nikmati, saya cuma minta komentar dari kalian readers yang sudah mau membaca bagaimana ff abal saya ini. Walaupun abal tolong jangan copas sembarangan ff ini, kepedean banget kya ada aja yang mau copas... :)

Ini saya terinspirasi dari filmnya kim bum "The Gifted Hands", pokonya ceritanya agak ngikutin tapi gak full sama kya filmnya. Langsung ajalah. DON'T LIKE DON'T READ! WARNING THIS FANFIC BOYS LOVE. And then typos~~

~Chapter 4~

Summary : Seorang namja cantik bernama Kim Jaejoong memiliki kelainan (penyakit) Psychometry. Yang bisa melihat kisah, kehidupan di masa lalu seseorang atau keadaan di sekelilingnya hanya dengan menyentuhnya. Orang-orang di dekatnya menjauhinya, bahkan ibu kandungnya sendiri pun juga menjauhinya. Kematian ibunya yang dia anggap salah satu kesalahannya membuat perubahan sikap dan perilakunya menjadi sosok yang pendiam juga penyendiri. Diasemakin di anggap gila dan aneh oleh orang-orang di dekatnya. Dan di saat dia merasakan kesepian seperti itu datanglah seorang pangeran penyelamat hidupnya. Siapakah pangerannya itu?

The Gifted Hands

.

.

.

YUNHO POV

Sekarang aku dan Jaejoong sudah berada di dalam Mobil Audi Hitam ku. Selagi di jalan pulang mengantar Jaejoong, aku terus menatapnya, Jaejoong masih setia menundukkan kepalanya. Melihat Jaejoong yang seperti ini membuatku merasa sakit. Sedari tadi Jaejoong hanya diam, wajahnya juga sedikit pucat.

"Jaejoong~ah..."

"Nde?" Jaejoong langsung menoleh ke arahku.

"Gwaenchana? Apa kau sakit? Bagaimana kalau kita ke rumah sakit?" Sungguh aku mengkhawatirkannya. Apa yang Jaejoong pikirkan? Kenapa Jaejoong tidak mau menceritakannya padaku?

"Ani Yunho~ah. Gwaenchana. Geunyang..." Jaejoong malah menggantung kalimatnya begitu saja. Sepertinya Jaejoong masih memikirkan kejadian tadi yang baru saja menimpanya.

Aku mencoba lebih mendekatkan diriku padanya. Lalu tanpa komando dari siapapun aku mulai mendekapnya ke dalam pelukanku dan dengan lembut megelus rambut hitam sebahunya.

"Aku takut." Aku merasakan tubuhnya agak bergetar, aku juga merasakan isakan keluar dari mulutnya. Benar saja! Setelah aku mengendurkan pelukanku lalu menatapnya. Jaejoong menangis, butiran bening itu berhasil lolos keluar dari mata bulat indahnya.

"Ulgo?" Dengan segera aku menghapus air matanya. "Uljima, uljima Jaejoong~ah." Aku membawanya lagi ke dalam pelukanku lalu lebih erat memeluknya. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain memberikan "TEMPAT" untuknya, kalau aku bisa aku ingin sekali menghapus semua bebannya atau memindahkan semua bebannya padaku saja. "Uljima. Mulai saat ini aku tidak akan membiarkanmu terluka apalagi menangis seperti ini. Aku berjanji, aku akan melindungimu Kim Jaejoong!"

"Yunho~ah..." Gumam Jaejoong dengan suara parawnya.

.

.

Sampainya di rumah Jaejoong, aku di kejutkan dengan kehadiran seorang namja yang sedang duduk di sofa tepat depan rumah Jaejoong. Sepertinya aku baru melihat namja itu. Kira-kira siapa ya? Aaaa.. Apa pesuruh yang sama seperti waktu itu? Bukankah Lee Ahjusshi mengatakan sudah membereskannya.

"Jaejoong hyung." Panggil namja asing itu ke arah Jaejoong. Jadi namja itu kenal Jaejoong? Apa namja itu memang menunggu Jaejoong?

"..." Aku mengarahkan pandanganku ke Jaejoong, terlihat Jaejoong hanya diam tampak bingung dengan namja asing yang memanggilnya tadi.

"Apa kau tidak mengenaliku? Nan Park Yoochun!" Kata namja asing itu.

"Yooc-chun~ah..." Jaejoong membuka suaranya agak ragu.

"Ne hyung. Wahh beberapa tahun tidak bertemu kau tidak berubah, malah semakin cantik saja." Namja asing itu berbicara sambil berjalan ke arahku dan Jaejoong dengan senyumannya yang menurutku sangat buruk. Aigooo.. Apa aku tidak salah dengar? Dia mengatakan Jaejoong cantik? Hanya aku yang boleh mengatakan Jaejoong cantik tidak untuk orang lain! Entah kenapa aku merasa marah dan cemburu pada namja asing di hadapanku ini.

"Benarkah kau Park Yoochun?" Aku tidak mengerti sebenarnya siapa namja asing itu, apakah dia benar-benar mengenal Jaejoong? Tapi kelihatannya Jaejoong tidak mengenalnya.

"Geurom. Apa sebegitu berubahnya aku sampai kau tidak mengenaliku hyung?"

Aku menatap Jaejoong yang perlahan memperlihatkan senyumannya. "Kau kembali?"

"Ooh.. Aku kembali untukmu hyung. Bogoshippeo Jaejoong hyung." Aku pikir namja asing dihapanku ini benar-benar cari mati! Apa dia tidak melihat ada orang lain di samping Jaejoong? Aishhh jinjja.. Aku seperti hantu yang tidak bisa terlihat kasat mata saja.

YUNHO POV END

Setelah Yunho dan juga Yoochun di ajak Jaejoong masuk ke dalam rumah. Yoochun mulai bercerita maksud kedatangannya menemui Jaejoong. Dan saat ini mereka berdua (Yunho dan Yoochun) sedang duduk berhadapan, tatapan keduanya sama-sama tajam tapi lebih mendominasi ketajaman yang di berikan Yunho pada Yoochun. Jaejoong yang melihatnya langsung mencoba mencairkan suasana dengan cara mengenalkan Yunho pada Yoochun lalu sebaliknya.

"Park Yoochun imnida. Bangapda hyung. Gomawo karena sudah menjaga Jaejoong hyung selama aku tidak ada." Ucap Yoochun sambil tersenyum.

"Yoochun~ah. Aku juga baru mengenal Yunho." Sergah Jaejoong. "Oiya tunggu sebentar aku buatkan minum dulu untuk kalian." Jaejoong berjalan ke arah dapur yang tidak jauh dari mereka duduk.

"Apa Yunho hyung ini kekasih Jaejoong hyung?" Tanya Yoochun pada Yunho.

"Mwo?" Yunho tampak terkejut dengan pertanyaan yang dengan mudah di lontarkan Yoochun padanya.

Ketika mendengar ucapan Yoochun tadi buru-buru Jaejoong menoleh. "Aniya. Yunho hanya temanku." Jawab Jaejoong.

"Jinjjaro?" Yoochun seperti tidak percaya dengan jawaban yang di berikan Jaejoong, karena yang Yoochun lihat sekarang Jaejoong hyung nya dan Yunho hyung memang dekat tapi bukan kedekatan yang biasa.

"Sebaiknya aku pulang saja. Sepertinya aku mengganggu waktu kalian berdua." Raut wajah Yunho berubah seketika menjadi kecewa. Entahlah, apakah Jaejoong dan Yoochun menyadarinya atau tidak. Yunho merasa sakit setelah mendengar jawaban-jawaban dari Jaejoong. Jaejoong yang mengatakan baru mengenalnya, Jaejoong juga hanya menggapnya teman tidak lebih dari itu. Memang benar yang Jaejoong katakan tapi lebih baik Yunho tidak mendengarnya secara langsung seperti ini, karena ini sangat menyakitkan untuknya.

"Yunho~ah, kau mau pulang?" Jaejoong berbicara sambil berjalan membawa teh yang baru saja di buatnya.

"Ne. Kalian sudah lama tidak bertemu, jadi butuh banyak waktu untuk mengobrol berdua. Aku pulang ya." Ujar Yunho kemudian. Sungguh Yunho memang ingin cepat pergi dari sana, Yunho merasa hanya menjadi pengganggu bagi mereka berdua.

"Kau yakin hyung? Apa kedatanganku yang sudah mengganggu kalian?" Tanya Yoochun dengan memperlihatkan ekspresi bersalahnya.

"Ani Yoochun~ah. Lagipula supirku menunggu di luar." Bohong! Alasan supirnya menunggu di luar hanya akal-akalan Yunho saja, bisa kan Yunho menyuruh supirnya untuk pulang duluan dan menjemputnya lagi nanti.

"Baiklah Yunho~ah sampai bertemu lagi nanti di sekolah." Ternyata Jaejoong tidak menahan Yunho melainkan membiarkan Yunho pergi.

"Ne Jaejoong~ah." Ucap Yunho dengan memaksakan senyumannya.

Setelah Yunho pamit pulang, tinggalah Jaejoong dan Yoochun di rumah ini. Tidak ada yang berbicara, Jaejoong maupun Yoochun hanya duduk diam membisu. Yoochun yang tadinya memiliki segudang cerita, tiba-tiba hilang begitu saja. Sampai pada akhirnya Yoochun mencoba memulai pertanyaan yang seketika muncul di otaknya.

"Hyung. Apa Yunho hyung itu kekasihmu?" Selidik Yoochun.

"Sudah kukatakan Yunho hanya temanku!" Jawab Jaejoong sinis.

"Tapi kenapa aku merasa tatapannya seperti tidak suka padaku ya. Kelihatannya Yunho hyung cemburu. Apa jangan-jangan Yunho hyung menyukaimu hyung." Papar Yoochun sambil memicingkan mata ke arah Jaejoong hyung nya.

"YA! Park Yoochun! Gumanhae!" Kata Jaejoong agak membentak.

"Arraso arraso..."

YOOCHUN POV

Aku terus memperhatikan Jaejoong hyung yang sedang duduk berhadapan denganku. Sudah beberapa tahun lamanya tidak bertemu, Jaejoong hyung terlihat kurus sekali tapi tetap dari kecil hingga sekarang kecantikannya tidak pernah pudar.

"Kapan kau datang? Apa sudah lama tadi kau menungguku di luar?" Jaejoong hyung membuka suaranya lebih dulu.

"Tadi pagi. Setelah sampai di seoul aku langsung ingin menemuimu hyung."

"Jeongmal?"

"Ne. Neomu bogoshippeo hyung. Apa kau tidak merindukanku?"

Aku melihat Jaejoong hyung menyunggingkan senyumannya. "Nado. Nado bogoshippeo Yoochun~ah."

"Mianhae hyung." Aku meminta maaf karena merasa bersalah terlalu lama meninggalkan Jaejoong hyung sendirian di sini.

"Untuk apa?" Tanya Jaejoong hyung tidak mengerti.

"Karena baru sekarang aku kembali. Harusnya aku bisa selalu ada untukmu hyung. Mianhae." Jelasku.

"Kau terlalu berlebihan."

"Ani! Memang benar kan."

"Sudah lupakan. Kau benar-benar berlebihan Park Yoochun." Jaejoong hyung tampak kesal dengan ucapanku tadi lalu membuang muka ke arah lain.

Dari dulu kau memang tidak pernah bisa menyembunyikan apapun dariku, aku tahu yang kau rasakan hyung. Tapi syukurlah selama aku tidak ada bersamamu, ada Yunho hyung yang bisa melindungimu. Sepertinya Yunho hyung namja yang baik dan aku merestui kalian hyung. 'Apa yang barusan aku katakan? Apa aku sedang berpikir menjodohkan Jaejoong hyung dengan Yunho hyung?' batinku ragu.

.

.

Rumah ini terasa berbeda dari yang dulu. Ya, sekarang aku sudah berada di rumah lamaku. Rumah lamaku ini sangat berdekatan dengan rumah Jaejoong hyung, hanya selisih dua rumah saja. Sudah dari kecil aku dan Jaejoong hyung bertetangga. Tapi lima tahun yang lalu aku dan keluargaku harus pindah ke Virginia karena Ayahku di tugaskan di sana. Semenjak saat itu aku dan Jaejoong hyung tidak pernah bertemu.

Tadinya sebelum Ayah Jaejoong hyung meninggal dunia, Ayah Jaejoong hyung sempat berpesan menitipkan anak semata wayangnya (Kim Jaejoong) pada keluargaku. Pada saat itu keluargaku sudah menawarkan agar Jaejoong hyung mau ikut bersamaku dan keluargaku untuk menetap di Virginia, tapi Jaejoong hyung menolaknya dengan alasan tidak mau merepotkan keluargaku dan tidak mau meninggalkan rumah warisan dari Ayahnya itu. Bahkan awalnya Jaejoong hyung juga sempat menolak biaya yang di berikan keluargaku lalu karena paksaan dari keluargaku lama kelamaan akhirnya Jaejoong hyung mau menerimanya juga.

Aku tahu selama ini Jaejoong hyung hanya bersikap sok kuat di depan semua orang, sebenarnya Jaejoong hyung itu sosok yang sangat rapuh. Aku juga tahu penyakit Jaejoong hyung, penyakit yang sama seperti yang di derita Ayah Jaejoong hyung. Bahkan beliau (Ayahnya Jaejoong) bunuh diri prustasi karena penyakit yang di rasanya aib bagi keluarganya juga karena istrinya selaku Ibu Jaejoong hyung bukannya memberi kekuatan dan dukungan untuk Ayah Jaejoong hyung malah meninggalkannya bahkan membencinya.

YOOCHUN POV END

Di dalam Mobil Audi Hitam terlihatlah seorang namja pemilik bibir berbentuk hati sedang menatap kesal keluar jendela. Ya, Jung Yunho masih memikirkan perkataan Jaejoong tadi yang menurutnya sangat menyakitkan. Di tambah lagi kedatangan namja asing yang sepertinya berniat merebut perhatian Jaejoong darinya.

"Ma-aaf tuan muda, tapi apa sebaiknya saya mengantar tuan muda pulang saja ke rumah dari pada harus berkeliling tanpa tujuan seperti ini."

"Ne Lee Ahjusshi kita pulang." Ucap Yunho dengan suara lemasnya (?)

"Baik tuan muda."

.

.

Setelah Mobil Audi Hitam itu berhenti tepat di pintu utama rumah megah bak istana, Lee Ahjusshi mencoba membuka mulutnya menyampaikan informasi terbaru kepada tuan muda Jung Yunho nya.

"Tuan muda, saya sudah mendapatkan informasi siapa seseorang yang membiayai sekolah tuan Kim Jaejoong. Dan orang itu bukan hanya membiayai sekolah tuan Kim Jaejoong saja melainkan kehidupan finansial tuan Kim Jaejoong juga di tanggung olehnya." Jelasnya.

"Mwo! Siapa orang itu?" Yunho sungguh terkejut dengan penuturan Lee Ahjusshi barusan.

"Keluarga Park. Yang sangat di kenal yaitu Putra pertamanya. Dia seorang namja, umurnya satu tahun di bawah tuan muda. Sudah lima tahun yang lalu dia beserta keluarganya pindah menetap di Virginia. Namanya Park Yoochun." Jelas Lee Ahjusshi menambahkan.

"Park Yoochun?" Yunho mengenal nama itu, nama namja asing yang tadi menemui Jaejoong. Sekarang Yunho bukan lagi terkejut tapi tidak mengerti apa maksud Yoochun dan keluarganya melakukan ini pada Jaejoong. Membiayai Jaejoong untuk maksud apa? Kenapa bisa keluarga Yoochun membiayai kehidupan finansial Jaejoong? Yunho benar-benar bingung, rasanya banyak sekali pertanyaan yang ingin di lontarkannya tapi entah kepada siapa.

"Yee tuan muda."

JAEJOONG POV

Waktu sudah menunjukan pukul 1 pagi, tapi aku belum bisa memejamkan mataku untuk tidur. Tiba-tiba aku memikirkan perkataan Yoochun tadi sore. ["Tapi kenapa aku merasa tatapannya seperti tidak suka padaku ya. Kelihatannya Yunho hyung cemburu. Apa jangan-jangan Yunho hyung menyukaimu hyung."]

Benarkah Yunho menyukaiku? Apa selama ini Yunho mendekatiku dan ingin sekali menjadi temanku karena Yunho menyukaiku? Mungkinkah Yunho ingin melindungiku? Atau jangan-jangan Yunho hanya merasa kasihan pada diriku yang aneh ini?

Hah.. Aku saja yang terlalu percaya diri mengira Yunho akan menyukaiku. Dari mana Yunho menyukaiku eoh? Tidak ada bagusnya dari diriku ini, bahkan semua orang menjauhiku. Tapi jujur saja aku mulai merasa nyaman ketika bersamanya. Selain Yoochun hanya Yunho yang mau menerima diriku yang seperti ini.

.

.

Syukurlah hari ini aku libur sekolah, aku masih takut karena kejadian mengerikan kemarin. Dengan beraninya ada seseorang yang hampir saja ingin menabrakku dengan sepeda motornya. Ah.. Sudah lah lupakan kejadian kemarin Kim Jaejoong!

Saat ini aku sedang memasak sarapan untukku seorang. Selagi aku membalikan omlet yang hampir matang, terdengar bunyi panggilan dari handphoneku yang berada di kamar, buru-buru aku mematikan kompor lalu berjalan ke kamar. Aku segera mengambil handphoneku, sebelum mengangkatnya aku melihat nama siapa yang tertera di layar handphoneku. Dan ternyata panggilan itu dari Yunho, seseorang yang membuatku susah memejamkan mata semalaman. Seketika itu juga terukir sebuah senyuman dari bibirku.

"Yeoboseyo.."

"..."

"Aaa.. Yunho~ah."

"..."

"Jigeum?"

"..."

"Nde? 15 menit lagi kau sampai?"

"..."

"N-neee Yunho~ah."

Ingin mengajakku ke suatu tempat? Eodiga? Entahlah, aku tidak tahu apa yang sedang di rencanakan Yunho hari ini. Setelah meletakkan handphoneku di tempatnya semula, aku langsung menyerbu omlet yang sudah siap tadi lalu dengan cepat aku memakannya. Buru-buru saja aku habiskan omlet yang sedang aku makan ini, karena aku tidak ingin membuat Yunho nanti menungguku.

Selesai menghabiskan omlet yang aku buat sebagai menu sarapanku pagi ini, aku bergegas ke kamar mengganti pakaian. Dan di saat aku menyibukkan diriku yang sedang memilih pakaian yang akan aku kenakan, terdengar lah suara ketukan pintu. Aku rasa Yunho sudah sampai.

JAEJOONG POV END

YUNHO POV

Semalam Ayahku menyuruhku lagi agar membawa Jaejoong ke rumah, sepertinya Ayahku sangat penasaran dengan Jaejoong. Ayahku mengundang Jaejoong untuk makan malam di rumah kami malam ini.

Aku sengaja berangkat pagi dari rumah, terbesit keinginanku mengajak Jaejoong berkencan dulu sebelum memenuhi undangan makan malam bersama Ayahku malam ini. Padahal aku sempat kesal dengan kejadian kemarin tapi entah kenapa seketika kekesalanku memudar begitu saja, Kim Jaejoong memang mudah memikatku kembali.

Dan selagi dalam perjalanan aku mencoba menghubungi Jaejoong.

"..."

"Jaejoongie. Ini aku Yunho.."

"..."

"Kau ada di rumah kan. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.."

"..."

"Ne. Aku sudah di jalan ke rumahmu, kira-kira 15 menit lagi sampai."

"..."

"Tunggu aku yaa Jaejoongie."

"..."

.

.

Sekarang aku sudah berada di depan pintu rumah Jaejoong. Aku mencoba beberapa kali mengetuk pintu di hadapanku ini, lalu menunggu Jaejoong membukakan pintu untukku. Dan beberapa saat kemudian pintu di hadapanku pun terbuka, tampaklah sosok indah nan cantik yang sangat aku kenal.

"Yunho~ah.." Sapa Jaejoong setelah membukakan pintu.

"Annyeong Jaejoongie." Aku mencoba memberi salam ke arahnya sambil tersenyum.

"Kita berangkat sekarang?" Tanya Jaejoong.

"Oohh ne. Kajja.." Ajakku.

.

.

Aku dan Jaejoong duduk bersebelahan di kursi belakang mobilku. Tanpa Jaejoong sadari aku mencuri-curi pandang ke arahnya, aku akui penampilannya kali ini terlihat berbeda dari biasanya. Jaejoong yang terlihat lebih bersinar dengan kemeja kotak-kotak berwana pink berbalut hitam dan celana jeans biru dongkernya.

"Yunho~ah. Sebenarnya kau mau mengajakku kemana?" Jaejoong tiba-tiba menoleh ke arahku dan bertanya.

"Aaa.. Itu.. Molla.. Hehe..." Dengan gugup sambil tertawa tidak jelas aku menjawabnya. Aku yang kaget karena tertangkap basah menatapnya sampai lupa tujuan awalku mengajak Jaejoong sepagi ini.

"Bukankah di telefon tadi kau bilang mau mengajakku ke suatu tempat?" Tanya Jaejoong lagi.

"Ah ne. Aku akan membawamu ke tempat yang aku jamin kau pasti akan menyukainya Jaejoong~ah." Jawabku sambil tersenyum.

"Eodiga?"

Dan bukannya menjawab aku malah menyunggingkan sebuah senyuman lagi ke arah Jaejoong.

YUNHO POV END

Di salah satu taman kota terlihat pasangan yang sedang menikmati segarnya udara pagi sambil mengayuh sepeda masing-masing. Yunho dan Jaejoong tampak senang sekali sepertinya, apa lagi Yunho yang selalu menunjukkan senyumannya pada Jaejoong. Dua sejoli itu mengayuh sepedanya secara perlahan dan bersebelahan.

"Kenapa kau tidak bilang akan mengajakku kesini?" Jaejoong bertanya sambil mengatur keseimbangannya yang sedang mengayuh sepeda.

"Kalau aku bilang namanya bukan surprise lagi." Jawab Yunho.

"Sudah lama sekali aku tidak pernah merasakan bersepeda di taman seperti ini, mungkin terakhir kali di saat umurku sembilan tahun." Papar Jaejoong.

Yunho memang sengaja memberi kejutan mengajak Jaejoong ke tempat ini. Dari pada mengajak Jaejoong bersenang-senang dengan berbelanja, nonton film, atau sebagainya lebih baik Yunho mengajak Jaejoong berbaur dengan lingkungan sekitarnya mungkin dengan cara bersepeda di taman seperti ini akan membuat Jaejoong mulai terbiasa dengan kehidupannya. Dan benar saja sedari tadi Yunho melihat Jaejoong yang terus tersenyum. Yunho tahu selama ini kehidupan Jaejoong sangat kelam. Sulit sekali mendapatkan senyuman apa lagi tawa dari seorang Kim Jaejoong.

Yunho dan Jaejoong terus mengayuh sepedanya mengelilingi luas taman itu. Yunho maupun Jaejoong benar-benar merasa tempat ini hanya milik mereka berdua. Ya, senyuman yang mengembang dari pemilik bibir berbentuk hati dan bibir cherry itu tidak pernah pudar sedikit pun.

Ketika melewati counter es krim, tiba-tiba Yunho menghentikan lajuan sepedanya.

"Jaejoong~ah. Kau mau es krim?" Tanya Yunho menawarkan.

"Boleh." Dengan senyuman Jaejoong menjawab.

"Ahjumma. Tolong berikan dua es krim untuk kami." Pinta Yunho pada Ahjumma penjual es krim itu.

"Ah yee. Tunggu sebentar." Kata Ahjumma itu dan langsung saja menuangkan es krim ke dalam dua cup seperti pesanan Yunho tadi. "Ini dua es krim nya." Si Ahjumma memberikan dua cup es krim pada Yunho.

"Gamsahamnida." Ucap Yunho sambil memberikan uang pada Ahjumma penjual es krim itu.

"Igo." Yunho memberikan satu cup es krim nya untuk Jaejoong.

.

.

Sekarang Yunho dan Jaejoong sedang beristirahat di salah satu kursi kayu panjang di bawah pohon yang ada di taman ini. Di saat Jaejoong sibuk dengan es krim nya, Yunho menatap lekat Jaejoong. Yunho sungguh mengagumi sosok indah yang ada di hadapannya ini. Posisi Yunho yang duduk menyamping menekuk kedua kakinya sampai dada dan menopang kedua tangannya di atas lutut. Sepertinya Yunho lebih memilih menatap Jaejoong nya dibanding menghabiskan es krim nya yang sudah mencair itu.

"Wae? Kenapa kau terus menatapku begitu, apa ada yang salah dengan diriku?" Jaejoong bertanya karena merasa aneh dengan sikap Yunho yang sedari tadi terus menatapnya.

"Ani. Kau terlihat cantik Jaejoong~ah." Yunho bukan sedang menggoda Jaejoong melainkan berkata jujur. Memang benar kan, Kim Jaejoong terlihat begitu mempesona, jadi wajar saja kalau Yunho mengatakan Jaejoong cantik.

"Nde?" Tanya Jaejoong kaget.

"Sebenarnya Ayahku mengundangmu untuk makan malam di rumahku malam ini." Jelas Yunho. Kelihatannya Yunho malah mengalihkan pembicaraannya, tanpa sadar Jaejoong yang menunduk mencoba menutupi rona merah di pipinya karena ulah Yunho barusan.

"Nde? Mengundangku makan malam?" Tanya Jaejoong sambil menoleh ke arah Yunho lagi. Jaejoong benar-benar terkejut, karena tidak pernah terpikirkan sebelumnya Ayah Yunho akan mengundang Jaejoong makan malam di rumahnya.

"Ne Jaejoong~ah." Yunho menjawab sambil menganggukan kepalanya.

"Kenapa baru mengatakannya? Aku tidak ada persiapan sama sekali." Omel Jaejoong.

"Persiapan untuk apa?"

"Aku kan harus membawakan sesuatu untuk Ayahmu."

"Ayahku tidak butuh itu. Yang penting kau datang malam ini."

"Gundae Yunho~ah..."

"Sudahlah jangan di pikirkan lagi. Sebentar lagi kita cari makan ya, aku sudah lap-" Di saat Yunho masih berbicara, terdengar bunyi panggilan dari handphone Jaejoong. Buru-buru Jaejoong merogoh saku celana jeansnya, sebelum mengangkatnya Jaejoong melihat nama Yoochun yang tercetak di layar handphone nya.

"Ne Yoochun~ah."

"..."

"Aku? Aku sedang di luar bersama Yunho. Wae?

"..."

"Ani! Kau tidak mengganggu kami ko. Waeirae?"

"..."

"Kau menelfonku hanya karena itu? Ne arraso."

"..."

Setelah mengetahui siapa seseorang yang menelfon Jaejoong tadi, dengan segera Yunho merubah raut wajahnya menjadi kesal. Sepertinya Yunho cemburu (lagi). Mendengar Jaejoong menyebutkan namanya di telfon tadi saja membuat Yunho geram. Yunho benar-benar tidak menyukai namja bernama Park Yoochun itu, di tambah semenjak Yunho tahu keluarga Yoochun lah yang selama ini telah membiayai kehidupan finansial Jaejoong.

"Park Yoochun yang menelfonmu?" Selidik Yunho dengan sinisnya. Yunho pun sudah merubah posisi duduknya dengan biasa tidak sama seperti sebelumnya.

"Yee.." Jawab Jaejoong yang agak bingung dengan ekpresi Yunho yang tiba-tiba berubah menjadi dingin.

"Jaejoong~ah. Boleh aku tahu apa hubungannya Park Yoochun itu denganmu?"

"Yoochun~ah? Dia tetanggaku, sahabatku, saudaraku. Gudae, aku sudah menganggapnya seperti adik kandungku sendiri. Wae?"

"Apa dia juga kekasihmu?"

"Nde?"

"Apa Park Yoochun kekasihmu?"

"Tentu saja bukan. Sama halnya denganku, Yoochun juga sudah menganggapku hyung nya sendiri. Karena bagi dirinya aku seperti pengganti Ibunya di saat dia tidak sedang bersama Ibunya. Yoochun pernah mengatakan, masakanku, perhatianku, kasih sayang dan cinta dariku hampir sama seperti yang di berikan Ibunya. Selama ini Yoochun selalu melindungiku, hanya Yoochun lah satu-satunya orang yang mau menerimaku sebagai teman." Tegas Jaejoong.

"Tapi kenapa dia bisa meninggalkanmu?"

"Ooh... Itu karena.. Karena lima tahun yang lalu Ayah Yoochun di tugaskan di Virginia, jadi semenjak itu aku tidak pernah bertemu Yoochun. Sebelum mereka pindah menetap di Virginia, Ayahku meninggal dunia, Ayahku sempat menitipkanku ke keluarga Yoochun. Mereka menawarkanku agar ikut bersama mereka tapi aku menolaknya. Karena aku merasa telah banyak merepotkan keluarga Yoochun, juga aku tidak bisa meninggalkan rumah tua yang sekarang aku tempati. Akhirnya mereka pindah menetap disana tanpa diriku. Tapi setelah kepindahan mereka tetap saja aku kembali merepotkan. Tanpa persetujuan dariku setiap setahun sekali ada orang suruhan mereka yang mengantar sejumlah uang untukku. Awalnya aku menolak lagi tawaran yang di berikan mereka tapi karena paksaan mereka akhirnya aku menerimanya, lagi pula aku mencoba mencari uang sendiri dengan cara bekerja juga tidak ada satu pun pekerjaan yang mau menerimaku. Mungkin karena diriku yang menakutkan seperti ini." Jelas Jaejoong dengan menunjukan senyum simpulnya.

"..." Yunho hanya diam dengan raut wajah yang datar.

"Yunho~ah. Bukankah tadi kau bilang kau lapar. Kajja kita cari makan." Jaejoong mencoba beranjak dari duduknya melupakan kesedihan yang sempat dirasanya tadi lalu melangkah lebih dulu dari Yunho. Tapi tiba-tiba sebelum Jaejoong pergi Yunho menahan lengannya dan memeluknya.

"Yunho~ah.." Gumam Jaejoong di dalam pelukan Yunho.

"Biarkan seperti ini. Hanya sebentar saja." Kata Yunho yang semakin mengeratkan pelukannya.

Suasana yang sangat cocok saat ini, angin yang bertiup dan dedaunan yang berguguran serta tidak ada satupun orang yang melewati jalan dimana Yunho dan Jaejoong sedang berpelukan seperti ini. Yunho masih setia memeluk Jaejoong bahkan semakin mengeratkan pelukannya pada Jaejoong tepat di bawah pohon, kala takut Jaejoong akan pergi meninggalkannya.

YUNHO POV

"Ahjusshi bawa kami ke restaurant tempat biasa aku makan bersama Abouji ya." Perintahku.

"Baik tuan muda." Ucap Lee Ahjusshi mengangguk. Lalu mulai melajukan mobil ke restaurant yang aku maksud.

.

.

"Semua ini untuk kita? Banyak sekali memesannya." Sepertinya Jaejoong terkejut karena ulahku yang memesan banyaknya makanan yang sekarang tersaji di meja bundar ini.

"Igo. Manhi mogo." Aku mengambil beberapa potong daging asap dan sup brokoli jagung (?) ke dalam mangkuk nasinya. Padahal Jaejoong sudah mengambil beberapa lauk di mangkuknya tapi aku sengaja menambahkannya lagi.

"Aku bisa sendiri Yunho~ah." Sergah Jaejoong mencoba menahan tangan Yunho.

"Kau terlihat kurus sekali, bagaimana jadinya nanti ketika bertemu Ayahku?" Aku seolah sedang marah pada Jejoong karena badannya yang terlihat kurus.

"Akhir-akhir ini memang napsu makanku agak berkurang." Ujar Jaejoong menjelaskan.

"Mulai sekarang aku yang akan mengatur pola makanmu. Aku ingin melihatmu lebih berisi dari ini." Tegasku.

"Jadi kau mau aku gendut?" Tanya Jaejoong dengan ekspresi yang menurutku lucu. Mata bulatnya yang melotot menatapku sungguh menggemaskan.

"Tidak begitu juga, maksudku lebih sedikit berisi dari ini Jaejoongie." Paparku sambil menahan tawa.

.

.

Ketika di jalan pulang ke rumahku, aku menyuruh Lee Ahjusshi untuk berhenti sebentar di toko buah. Aku ingin membelikan Ayahku buah apel kesukaannya sebagai hadiah yang akan di bawakan Jaejoong untuk di berikan pada Ayahku nanti.

Setelah membeli buah, kami melanjutkan lagi perjalanan pulang. Melihat langit sudah mulai senja. 'Aku harus cepat sampai di rumah karena tidak mau membuat Abouji menunggu lama.' pikirku. Sepertinya ke rumahku akan memakan waktu sekitar setengah jam.

"Kenapa jadi kau yang membelikan ini Yunho~ah?" Tanya Jaejoong.

"Tadi kebetulan saja ada toko buah." Jawabku sekenanya. Sebenarnya aku sengaja membelinya untuk bawaan Jaejoong menemui Abouji nanti.

"Harusnya kau mengatakannya lebih dulu padaku. Kan aku bisa saja membuatkan makanan kesukaan Ayahmu." Kesal Jaejoong sambil mempoutkan bibirnya. Aigooo boo kau manis sekali jika memanyunkan bibirmu seperti itu, rasanya aku benar-benar ingin mencobanya.

"Ne.. Ne.. Jaejoongie mianhae. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Kataku sambil memperlihatkan ekpresi berpura-pura sedih.

YUNHO POV END

Sampainya di rumah Yunho yang mewah nan megah bak istana, Yunho mempersilahkan Jaejoong masuk dan duduk. Lalu Yunho beranjak memanggil Ayahnya untuk keluar menemui Jaejoong.

Di saat Jaejoong di tinggal duduk sendirian, Jaejoong menatap ke sekelilingnya. Jaejoong yang terlihat begitu takjub dengan bangunan besar dan mewah milik keluarga Jung ini. Sebelumnya Jaejoong sudah menyadari kalau Yunho memang putra dari keluarga yang kaya raya, hanya tidak pernah Jaejoong berpikir Yunho memiliki rumah yang seperti ini. Rumah gaya eropa tiga lantai yang memiliki banyak pintu di setiap sudutnya, juga jangan lupakan berbagai pajangan dan hiasan yang menyilaukan karena sepertinya benda-benda ini terbuat dari emas sungguhan.

"Jaejoong~ah." Panggil Yunho.

Di saat Jaejoong sibuk dengan sekelilingnya, setelah mendengar suara Yunho yang memanggilnya Jaejoong langsung menoleh ke asal suara. "Ne."

"Jadi kau yang bernama Kim Jaejoong?" Terlihat namja paruh baya yang merupakan Ayah Yunho sedang berjalan ke arah Jaejoong dengan setelan kemeja lengan pendek santai dan celana panjang hitam pekat.

"Ne Ahjusshi." Jawab Jaejoong agak gugup.

"Gomapda untuk buah apelnya. Pasti Yunho yang memberi tahumu tentang buah kesukaanku ya?" Ujar Ayah Yunho masih dengan ekspresi datarnya.

"Ye Abouji. Aaa.. Jaejoong~ah ini naeAbouji. Dan Abouji ini Kim Jaejoong teman yang aku ceritakan padamu." Jelas Yunho.

"Annyeonghaseumnika. Kim Jaejoong imnida." Jaejoong memperkenalkan diri sambil membungkukan badannya memberi hormat.

.

.

"Dengan cara apa kau bisa membuat Yunho berteman denganmu?" Tanya Ayah Yunho dengan sinisnya.

"Ye?" Jaejoong langsung menoleh bingung ke arah kursi yang sedang di duduki Ayah Yunho.

"Abouji.."

"Kau pasti belum tahu kan? Yunho itu memilih-milih jika berteman, kau hebat karena bisa membuatnya berteman denganmu. Ah.. Apa jangan-jangan kau melakukan sesuatu agar Yunho mau menjadi temanmu?" Sepertinya Ayah Yunho memperlakukan Jaejoong tidak terlalu baik disini. Mungkinkah Ayah Yunho tidak suka pada Kim Jaejoong? Wae?

"Abouji. Bagaimana kalau kita langsung saja makan malam. Waktu terus berjalan, nanti tidak terasa sudah larut malam saja." Ajak Yunho agak memaksa untuk berpindah ke ruang makan, mencoba mengalihkan pembicaraan sepertinya.

Yunho berjalan lebih dulu dari Jaejoong maupun Ayahnya. Dan tanpa Yunho ketahui Ayah Jaejoong menarik kasar lengan Jaejoong sambil tersenyum sinis pada Jaejoong. Entah kenapa Jaejoong merasakan hal aneh ketika Ayah Yunho menarik kasar lengannya. Jaejoong tidak sedang menyentuh Ayah Yunho tapi Jaejoong seperti melihat semua yang ada dalam pikiran Ayah Yunho. Hanya saja masih agak gelap, mungkin karena Jaejoong tidak menyentuhnya. 'Apa yang sebenarnya terjadi?' batin Jaejoong bingung.

"Sebaiknya kau jauhkan putraku Jung Yunho!" Bisik Ayah Yunho penuh penekanan lalu melangkah meninggalkan Jaejoong yang masih diam terpaku di tempatnya.

.

.

Jaejoong tidak focus dengan makanan yang ada di hadapannya ini. Karena perkataan Ayah Yunho tadi di tambah Jaejoong bingung kenapa bisa dirinya ikut merasakan tanpa menyentuh Ayah Yunho. Jaejoong juga masih memikirkan kalimat penolakan yang di berikan Ayah Yunho pada dirinya. Jaejoong sudah menduga dirinya akan di tolak Ayah Yunho, dan benar saja dengan perkataan Ayah Yunho yang menyuruh Jaejoong menjauhkan Yunho, itu berarti Ayah Yunho tidak menyukai jika putranya Jung Yunho berteman dengannya.

"Jaejoong~ah.." Yunho mencoba menyadarkan Jaejoong dari lamunannya. Sedari tadi yang Yunho liat Jaejoong hanya mengaduk-ngaduk makanannya tapi sama sekali belum memakannya.

"Nde?" Jaejoong langsung menoleh ketika mendengar panggilan dari Yunho.

"Kenapa kau hanya mengaduk-ngaduk steak nya? Apa kau tidak suka dengan menunya?" Tanya Yunho khawatir.

"Ah aniyo Yunho~ah." Jawab Jaejoong dengan memaksakan senyumannya.

"Mungkin saja Jaejoong sudah kenyang, ya kan?" Sanggah Ayah Yunho dengan senyuman yang di buat-buat (?).

"Aniyo Ahjusshi. Aku akan memakannya." Dengan takut-takut Jaejoong menjawab lalu menunduk memulai memakan steak yang sedari tadi hanya di aduk-aduknya.

.

.

Sehabisnya jamuan makan malam tadi di rumah Yunho, Jaejoong berpamitan pulang pada Ayah Yunho. Sekarang Yunho kembali mengantar Jaejoong pulang dengan membawa Mobil Audi Putih nya sendiri tanpa di kawal sang supir Lee Ahjusshi. Dan setengah jam perjalanan akhirnya sampai juga di rumah Jaejoong.

"Gomawo Yunho~ah." Setelah berterimakasih Jaejoong pun bermaksud keluar dari mobil Yunho.

"Jaejoong~ah." Yunho mencoba menahan lengan Jaejoong yang akan membuka pintu mobil.

"Nde?" Karena panggilan Yunho, Jaejoong pun berbalik kembali.

"Mianhae atas sikap Ayahku tadi. Sebenarnya Ayahku bukan orang yang seperti itu, sungguh. Mungkin karena banyak masalah yang sedang di alaminya. Kau tidak akan membenci Ayahku kan?

"Arra. Gwaenchana Yunho~ah." Ujar Jaejoong sambil tersenyum. "Yunho~ah, kau tidak ingin mampir dulu?" Tanya Jaejoong menawarkan.

"Lain kali saja, ini sudah larut malam." Tolak Yunho sambil tersenyum.

"Baiklah kalau begitu. Gomawo. Dan hati-hati Yunho~ah." Setelah berbicara Jaejoong membuka pintu mobil Yunho lalu keluar dari mobil Yunho.

Setelah Yunho mengantar Jaejoong pulang, Yunho melajukan mobilnya lagi. Dan di jalan Yunho melihat Yoochun sedang berjalan ke arah yang berlawanan dengannya. Arah ke rumah Jaejoong tadi. Apakah Yoochun mau ke rumah Jaejoong? Untuk apa malam-malam begini Yoochun menemui Jaejoong? Buru-buru Yunho menepikan mobilnya lalu keluar dari mobilnya.

"YA! PARK YOOCHUN!" Teriak Yunho memanggil namja bernama lengkap Park Yoochun itu.

"Yunho hyung.." Kaget Yoochun setelah membalikan badannya.

"Eodiga?" Tanya Yunho curiga.

"Mau ke rumah Jaejoong hyung menagih kimchi jjigae buatannya yang tadi aku pesan lewat telefon. Wae hyung? Apa kau mau menemui Jaejoong hyung juga?" Sepertinya Yunho begitu mencerna perkataan Yoochun barusan terlihat dari ekpresi tidak sukanya yang seketika muncul.

"Pulanglah. Sepertinya Jaejoong melupakan pesananmu, karena aku baru saja mengantarnya pulang." Ujar Yunho dengan sinisnya.

"Ah jinjja? Aishhh bagaimana Jaejoong hyung itu.." Kesal Yoochun.

"Jangan menyalahkannya! Jaejoong terlambat pulang juga karena aku." Bela Yunho.

"Yasudah kalau begitu aku mau menginap saja di rumah Jaejoong hyung." Ucap Yoochun asal.

"Baiklah.. MWO?" Seketika Yunho membulatkan matanya yang dasarnya sipit itu, Yunho benar-benar di buat terkejut dengan ucapan dari seorang Park Yoochun. Serius kah Yoochun ingin menginap di rumah Jaejoong? Sepertinya Yunho tidak akan mengizinkannya.

T B C

Minta review nya yaa teman-teman ^o^

Eotte? Moga pada suka sama chap ini dan gak mengecewakan dah. Seberapa pun yang memberi review makasih banyak buat semua readerdeul yang uda mau mampir dan review. Itu semua benar-benar menambah semangat saya untuk melanjutkan ff ini. Lopyuuuu all~~^^ *tebar lopelope*

Btw yang bagian pas yunjae di taman itu bayanginnya adegan yang di protect the boss ajee, yang bagian Jaejoong di taman sama cewe, di balikin gtu cewenya Jaejoong terus Jaejoong nya Yunho XD

Di chap ini kyanya lebih menonjol ke yunjae nya ya, terus manjanya yuno ke jae sama kecemburuan yuno akan bang uchun. Buntu gak tau lagi mau ngetik apa, uda gtu gak berasa page nya uda kebanyakan dari perkiraan. Oiya disini saya buatnya jaechun soulmate yee bkn chunjae loh. Saya buat Yoochun nya tuh uda nganggep Jaejoong kya hyung nya sendiri, begitupun sebaliknya Jaejoong. Tapi si yunnie bear Jung Yunho itu yang dikit-dikit cemburu sama kedekatan uchun ke jae, takut bgt di embat jae nya hadeuuhh =_=

Kebanyakan bgt ni cuap-cuapnya.. Ok, see u next chap... Jangan lupa ripiuuuu.. Sangkyuuuuuuuu~~ ^o^

^^balesan reviews^^

YunHolic : Iya ni lg beruntung yuno haha.. Thanks yaa uda ripiuuu ^^

Guest : Hehe makasih. Masa si baru nemu? Uda lama jg aku posting dan baru sempet lanjut lg ni.. Iya khayalannya si bear aja. Nanggung? Haha.. Ok semangat bear, noh d kasih semangat buat yunnie bear.. Tunangannya aja dah apa suaminya kkkk Iya sodaranya "si jidat" #plakkk Uda lanjut ni yaa moga suka deh sama lanjutannya gak ngecewain. Aduh jangan author, saya merasa blm pantas menjadi penulis. Arigatou ripiunyaa ^^

adindapranatha : Yee.. Thanks review nya ^^

runashine88 : Haha gakppa ko.. Lah emang sama ya ama twalight? Yang keberapa dah? Yang bagian mana? Uda d lanjut ni moga suka deh sama lanjutannya.. Belum kamu culik jg jj uda sama saya ko kkkk.. Thanks review nya yaa ^^

abilhikmah : Ho oh kasian yaa.. Siapa ya? Jawabannya uda pan d chap ini hehe.. Gomawo ripiunyaa ^^

riska0122 : Just ff.. Saya jg sedih sebenernya buat jj menderita bgt dsini tp bodo dah pan tuntutan ff jg hehe.. Ya moga aja yunpa bs ngelindungi jaema dah. Uda d jawab yaa d chap ini. Arigatou review nyaa ^^

yoon HyunWoon : Done. Thanks review nya ^^

Vivi : Iya mau d gusur gegara ahjusshi itu noh *tunjuk yihan* Yaa begitulah. Ho oh kesian ni jj.. Hwaiting. Gomawooo ripiunyaa ^^

ichigo song : Iya ni kamu lg gak jd yg pertama haha.. Emang noh yunpa mesum bgt otaknya #plakkk Sabar sabar. Aku aja pas ngetiknya emosi jg samaan.. Tega bgt yaa org2 d sekolah jae aigooo.. Yang nyelakai jaema siapa ya? Kyanya gak saya kasih tau dah kkkk.. Hayoo siapa? Ko kamu tau si bang uchun yang lg nunggu aihh pinter deh. Gomawooo yaa ripiunyaa ^^

astutiimoet : Annyeong. Iya gakppa hehe.. Betul cuma khayalan duangan, maklumin bapak saya -Jung Yunho- yaa kkkkk.. Selalu d tanya begitu, d pesbuk jg ada yang nanya. Uda mikir cepet aje yee haha.. Engga ko, jaema pan ngerasainnya kalo nyentuh org itu di saat org itu yang memulai (maksudnya yang ngebuat jaema harus melakukan) kalo engga bs jg si terjadi karena paksaan. Nah pan kalo NC mah gak ada paksaan kecuali si yunpa merkosa jaema mungkin jaema bs ngeliat dan merasakan. Uda ke jawab yaa d chap ini siapa noh yang lg mondar mandir macam setrikaan. Uda aku lanjut jg yaa. Gomawo ripiunyaa ^^

Kim Eun Seob : Iya begitulah. Dari film yang saya tonton psychometry jenis penyakit yang bisa melukai dirinya sendiri, selagi dy menyentuh org itu dgn tangannya trus gak mau ngelepasin bisa berakibat fatal. Bisa menyebabkan kematian. Karena semakin dy merasakan dan melihat semakin dy terluka. Contohnya pas dy mencengkram tangan org itu tetiba darah keluar dari hidungnya macem mimisan gtu lah, biasanya kalo bener2 lg ngerasain dan ngeliat cengkramannya makin kuat nah makin parah itu, darah yang keluar bkn cuma dr hidung aja tp dari mulut jg kya muntah darah gtu. Makanya ngeliatnya kesian, pas nnton jg saya gak tega liatnya. Kyanya sakit bgt. Org2 pan pd gak tau, ya taunya jj aneh aja jd d salahin mulu dah d jauhin pula. Iya moga aja jaema bs satu ama yunpa dah biar gak kesepian lg. Jae itu noona ku tau, eh hyung deh kkkk.. Siapa ya? Uda ke jawab d chap ini yaa. Aku usahakan tak ada org ketiga yang jd perusak ko paling penghambat aja haha. Thanks review nyaaa ^^

kaguya734 : Annyeong reader~sshi.. Aduh jgn panggil author lah saya merasa blm bs di katakan sebagai penulis haha.. Gak tau ya. Saya pan cuma ikutan filmya aja, terinspirasi dr film maksudnya kkkk.. Karena kamu nanya itu saya langsung nge line noona saya yang dokter, tunggu balesan dy dulu dah apa jawabannya.. Ho oh kesian, gak ada berentinya yaa. Uda d lanjut yaa. Ok semangattt. Thanks review nyaaa ^^

Lady Ze : Omona! Lg puasa bacanya mah pas buka aja atuh haha.. Iya itu khayalan tingkat dewanya si yunpa aja. Iya betul yoochun, ih kamu pinter deh. Sangat amat menyakitkan, buat saya kim bum kesiksa bgt d filmnya itu. sumveh kesian liatnya gak tega dah perannya ngapa gtu bgt. D ff ini mah gak bgitu kesiksa lebih kesiksaan d filmnya, saya gak tega nyiksa jaema lebih dr ini soalnya. Gak tega jaema nya d pukulin mulu huehehe.. Aduh sayang bgt kamu gak nnton pas d blitz, aku nnton d blitz dan aku beli dvdnya jg. Tp pas aku nnton dvdnya itu ngaco bgt transletannya masa. Ngaur bener2 ngaur. Kebetulan rada inget transletan pas nnton d blitz jd pas nnton ulang d dvd engeh deh. Lah jadi curhat sayanya... Arigatou ripiunyaaa ^^

Chonurullau40 a.k.a Miss Zhang : Uda d lanjut yaa. Yang nunggu ayah yunho? Yakin? Hehe.. Thanks review nyaaa ^^

KJhwang : Lagi di pinang yaa jae ama yun haha Iya dah moga yunpa ngelindungin jaema noh. Iya ya misterius emg haha Aduh jangan panggil author~sshi lah merasa belum pantas menjadi penulis kkkk.. Iya dah selagi ada kesempatan bikin penasaran d manfaatkan lah (?) Uda d lanjut yaa moga suka sama lanjutannya dan tak mengecewakan. Arigatou reviewnyaaa ^^

My beauty jeje : Haha gakppa ko. Maap bkn drama tp film *nyengir* Iya makasih bgt yaa. Uda d lanjut, moga deh suka sama lanjutannya gak ngecewaiin.. Thanks yaa review nyaaa ^^

giaoneesan : Haha knp emg? Jd berantakan gtu ya, aku jg pas ngecek lg baru sadar. Klo pas d posting d pesbuk si rapih tp pas d ffn jd berantakan. Makasih bgt sarannya, mulai chap ini uda saya rubah ko. Uda bawaan yuno itu mah kalo urusan mesum (?) Iya pd akhirnya hanya khayalan semata aja. Merinding knp? Haha.. Iya pgnnya mencoba menyesuaikan kya karakter aslinya yuno tp tau dah bs kaga. Nee semangat. Oiya abis ini yunjae nya maen tembak2an *abaikan* Arigatouuu reviewnyaa ^^

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...