Title : The Gifted Hands
Pairing : Kim Jaejoong, Jung Yunho
Other Cast : Park Yoochun
Rating : T
Genre : Romance, humor (?), little angst (maybe)
Type : YAOI, BL
Author : jejetoiunamae
Annyeong. Iseng-iseng aja nulis eh jadilah seperti ini. Nikmati aja ya kalo emang bisa di nikmati, saya cuma minta komentar dari kalian readers yang sudah mau membaca bagaimana ff abal saya ini. Walaupun abal tolong jangan copas sembarangan ff ini, kepedean banget kya ada aja yang mau copas... :)
Ini saya terinspirasi dari filmnya kim bum "The Gifted Hands", pokonya ceritanya agak ngikutin tapi gak full sama kya filmnya. Langsung ajalah. DON'T LIKE DON'T READ! WARNING THIS FANFIC BOYS LOVE. And then typos~~
Mina. Hontouni arigatou.. Welcome to new reader. Makasih banyak buat ripiunyaa yaa teman-teman semuaaa. Maap kali ini gak bs bales satusatu kya biasa.. Makasih juga yg uda ngasih semangat buat saya. Pokonya review dan semangat dari kalian membuat saya senang dan getol pengen ngelanjutin epep ini ampe kelar. Makasih dah semuanyaaa.. :)
Sekedar info. Waktu itu pernah ada yg nanya penyakit Psychometry itu bener2 ada apa engga? Dan setelah saya tanya ke noona saya yg dokter katanya "ada". Sebenernya bkn penyakit si lebih tepatnya kya kelebihan gtu dan gak semua org punya kelebihan macem itu. Bisa juga di bilang kemampuan supernatural. Nah Psychometry itu bahasa medisnya. Sekian sekilas info hehe
~Chapter 5~
Summary : Seorang namja cantik bernama Kim Jaejoong memiliki kelainan (penyakit) Psychometry. Yang bisa melihat kisah, kehidupan di masa lalu seseorang atau keadaan di sekelilingnya hanya dengan menyentuhnya. Orang-orang di dekatnya menjauhinya, bahkan ibu kandungnya sendiri pun juga menjauhinya. Kematian ibunya yang dia anggap salah satu kesalahannya membuat perubahan sikap dan perilakunya menjadi sosok yang pendiam juga penyendiri. Diasemakin di anggap gila dan aneh oleh orang-orang di dekatnya. Dan di saat dia merasakan kesepian seperti itu datanglah seorang pangeran penyelamat hidupnya. Siapakah pangerannya itu?
The Gifted Hands
.
.
.
"Yasudah kalau begitu aku mau menginap saja di rumah Jaejoong hyung." Ucap Yoochun asal.
"Baiklah.. MWO?" Seketika Yunho membulatkan matanya yang dasarnya sipit itu, Yunho benar-benar di buat terkejut dengan ucapan dari seorang Park Yoochun. Serius kah Yoochun ingin menginap di rumah Jaejoong? Sepertinya Yunho tidak akan mengizinkannya.
"Wae hyung?" Tanya Yoochun bingung.
"Apa aku tidak salah dengar? Kau mau menginap di rumah Jaejoong?" Bukan menjawab, Yunho malah balik bertanya pada Yoochun.
"Ne! Wae?"
"ANDWAE!" Dengan sigap Yunho membentak Yoochun.
"YA! Hyung kenapa kau membentakku!" Omel Yoochun.
"Park Yoochun! Aku tidak mengizinkanmu menginap di rumah Jaejoong!" Tegas Yunho dengan sinisnya.
"MWO!" Kaget Yoochun.
"Pulanglah! Kau seperti tidak punya rumah saja." Cerca Yunho.
"YA! Hyung..." Kesal Yoochun tapi setelahnya Yoochun baru menyadari arti dari kemarahan Yunho ini padanya. Tiba-tiba raut wajah kesalnya berubah menjadi raut wajah nakal. 'Apa Yunho hyung sedang cemburu?', pikir Yoochun.
"Kenapa kau malah diam? Pulang sana!" Usir Yunho sambil mengarahkan dagunya ke arah jalan Yoochun sebelumnya.
"Hyung apa kau sedang cemburu?" Tanya Yoochun curiga.
"N-nde? Ani! Lagi pula cemburu untuk apa!" Jawab Yunho gugup.
"Kau cemburu karena aku ingin menginap di rumah Jaejoong Hyung iya kan?" Tanya Yoochun semakin memojokkan.
"Ani!" Sergah Yunho yang masih terlihat gugup.
"Lalu kenapa kau tidak mengizinkanku menginap di rumah Jaejoong hyung? Memangnya siapa dirimu? Kekasih Jaejoong hyung?" Akhirnya Yoochun mencoba memojokkan Yunho kembali dengan berbagai pertanyaan.
"Bu-bukan itu. Maksudkuuu-" Ujar Yunho terputus.
"Kau memang sedang cemburu hyung. Arra!" Ungkap Yoochun memotong pembicaraan.
"Ani! Maksudku tidak mengizinkanmu karena sepertinya... Sepertinya Jaejoong kelelahan seharian ini. Jadi kau jangan menggangunya." Jelas Yunho kemudian. Setelah tidak begitu lama berpikir akhirnya Yunho menemukan alasan yang menurutnya tepat.
"Aku tidak akan mengganggunya! Aku hanya ingin bermalam disana tanpa mengganggu Jaejoong hyung! Sudahlah, aku ingin segera istirahat. Sampai jumpa Yunho hyung!" Ujar Yoochun sambil melangkah pergi begitu saja meninggalkan Yunho. Sebenarnya Yoochun sengaja mengelabui Yunho. Yoochun semakin yakin kalau Yunho hyung memang menyukai Jaejoong hyung nya tapi masih saja mengelak.
"Y-YA! PARK YOOCHUN! EODIGA?" Teriak Yunho sambil berlari menyusul Yoochun yang entah akan pergi kemana.
JAEJOONG POV
Hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Di mana pada hari ini Yunho mengajakku berkencan, mengayuh sepeda bersama di taman kota. Selalu saja Yunho melakukannya dengan tiba-tiba. Aku merasa semenjak aku mengenal Yunho aku mulai merasakan hidup yang sebenarnya. Mudah tersenyum karena ulahnya. Tapi... Tapi kenapa di saat aku mulai nyaman bersama seseorang ada saja hambatannya. Aku sempat sedih karena penolakan Ayah Yunho padaku tadi. Kenapa Ayah Yunho bisa tidak menyukaiku?
.
.
Aku mulai membuka satu persatu pakaian yang aku kenakan. Lalu menyalakan shower mengguyur seluruh tubuh telanjangku. Setelah sampai rumah tadi aku ingin segera membasuh tubuhku yang lengket karena keringat seharian ini. Aku terus menggosok-gosokkan tubuhku dengar air yang keluar dari shower. Rasanya segar sekali mandi malam seperti ini. Dan di saat aku sibuk dengan dunia mandiku (?) aku mendengar ada seseorang di luar sana yang memanggil namaku.
"Apa aku salah dengar ya..."
Tidak aku pedulikan suara yang aku dengar itu. Aku tetap melanjutkan mandiku sampai kira-kira setengah jam berlalu. Selesainya aku mandi, aku beranjak ke lemari pakaian mengambil beberapa potong pakaian untuk aku pakai sambil mengeringkan rambutku yang basah. Tiba-tiba aku mendengar suara itu lagi. Semakin lama suaranya semakin keras memanggilku.
"Nuguya? Geuman. Suara itu seperti suara Yoochun. Apa Yoochun ada disini?"
JAEJOONG POV END
"Beri bocah itu pelajaran agar dia menjauhi Yunho!" Perintah sang atasan.
"Ye tuan besar." Ucap si bawahan.
"Kau boleh keluar." Ucap atasannya kemudian.
"Ye. Saya permisi." Setelah membungkukan badannya si bawahan pun melangkah pergi dari hadapan atasannya itu.
#Flash Back#
Tampak beberapa lembaran foto berceceran di atas meja kaca. Terlihat seorang namja paruh baya yang merupakan kepala keluarga Jung itu sibuk memperhatikan foto-foto yang sedang di pegangnya. Foto-foto yang tuan Jung dapatkan dengan mudah dari bawahannya. Tuan Jung terus memperhatikan foto-foto itu tanpa melongkapnya (?) sambil menatap meremehkan obyek yang ada di dalam foto itu.
"Tsk.. Miskin! Apa bocah ini hanya ingin memanfaatkan putraku! Aku tidak akan membiarkan Yunho dekat dengan siapapun!"
Setelah Yunho menceritakan ada seseorang bernama Kim Jaejoong yang sedang dekat dengannya, tuan Jung yang di kenal sebagai Ayah Yunho dengan segera menyuruh bawahannya untuk mencari tahu tentang siapa Kim Jaejoong. Dan setelah mengetahuinya apa yang di duga tuan Jung benar adanya. Jaejoong bukanlah orang yang sederajat dengan Yunho dan lagi dari informasi yang di dapatkan bawahannya kalau seorang Kim Jaejoong itu terlihat seperti orang gila yang menakutkan.
"Kenapa bisa-bisanya Yunho dekat dengan orang seperti ini?"
Walaupun tuan Jung tidak menyukai Kim Jaejoong, terbesit rasa penasaran akan sosok seorang Kim Jaejoong. Bagaimana bisa putranya Yunho dekat dengan Jaejoong? Lalu bagaimana caranya Jaejoong merubah Yunho menjadi seperti sekarang? Tuan Jung merasa putranya Yunho memang masih sama dengan yang sebelumnya tapi Yunho yang sekarang terlihat lebih ceria dan banyak bicara. Sungguh tuan Jung tidak suka dengan perubahan Yunho yang sekarang.
#Flash Back End#
.
.
Sudah hampir satu jam lamanya dua namja tampan itu masih menunggu kedatangan si tuan rumah yang tak kunjung keluar. Pada saat tadi Yoochun bergegas pergi ke rumah Jaejoong, meninggalkan Yunho begitu saja. Tapi Yunho tidak tinggal diam melainkan mengikuti Yoochun pergi. Dan sekarang mereka berdua sudah berada di dalam rumah kecil Jaejoong ini.
"Yunho~ah, Yoochun~ah..." Panggil Jaejoong. Setelah keluar dari kamarnya, Jaejoong di kejutkan dengan kehadiran dua namja tampan yang sudah ada di dalam rumahnya.
"Ooh hyung/Jaejoongie..." Ujar 2u (YunhoYoochun) serempak.
"Kenapa kalian bisa di sini?" Tanya Jaejoong bingung.
"Mianhae hyung tadi pintunya tidak di kunci maka dari itu kami langsung masuk saja. Hehe." Jawab Yoochun sambil tertawa kecil tanpa dosa (?)
"Mianhae Jaejoongie, kami mengganggumu. Park Yoochun kajja.." Ucap Yunho pada Jaejoong, lalu berpaling memaksa Yoochun pergi dengan menarik ujung sweaternya.
"Ya! Hyung kalau kau mau pulang ya pulang saja sendiri tidak usah mengajakku!" Omel Yoochun sambil menapik tangan Yunho.
"Sebenarnya ada apa ini?" Tanya Jaejoong lagi. Terlihat Jaejoong kebingungan dengan tingkah laku dua namja tampan di hadapannya ini.
"Tidak ada apa-apa Jaejoongie." Jawab Yunho sambil tersenyum kikuk. "YA! Jidat!" Geram Yunho menatap Yoochun.
"Mwo? Kau memanggilku apa hyung?" Marah Yoochun.
"Kajja~~" Paksa Yunho (lagi) sambil mencoba merangkul Yoochun.
"SHIRRO!" Bentak Yoochun dan lebih dulu menangkis tangan Yunho yang akan merangkulnya. "Hyung, aku menginap di sini ya." Ungkap Yoochun akhirnya pada Jaejoong.
"Andwae!" Sergah Yunho. Tepat di saat Yunho berbicara Jaejoong dan Yoochun menoleh bersamaan menatap heran ke arah Yunho.
"Hyung, dari tadi Yunho hyung terus saja melarangku yang mau menginap di sini." Adu Yoochun pada Jaejoong.
"Bu-bukan begitu Jaejoongie. Kau pasti lelah seharian ini jadi wajar saja aku melarangnya." Jelas Yunho memberi alasan.
"Tumben sekali kau mau menginap di sini Yoochun~ah?"
"Aku mau menagih kimchi jjigae ku hyung." Ujar Yoochun sambil menadahkan tangannya ke arah Jaejoong.
"Aaa matta. Aku melupakannya Yoochun~ah. Mianhae. Bagaimana kalau besok pagi aku buatkan, aku janji." Ucap Jaejoong kemudian tak lupa sambil memperlihatkan ekpresi bersalahnya karena sampai lupa membuatkan pesanan Yoochun di telefon tadi.
"Hah.. Baiklah. Hyung aku mau tidur duluan yaa. Kau saja yang urus beruang pencemburu ini!" Ujar Yoochun lalu melangkah pergi ke arah kamar Jaejoong. Dan tanpa Yunjae ketahui selagi berjalan Yoochun tersenyum sangat puas. Sepertinya Yoochun penasaran apa yang akan di lakukan Yunho selanjutnya.
"Aishhh.. Apa kau bilang? Beruang?" Gerutu Yunho pada Yoochun yang sudah lebih dulu masuk kamar. "Kau membiarkan Yoochun menginap di sini?" Yunho menoleh ke arah Jaejoong dan bertanya tanda tidak terima.
"Wae?" Tanya Jaejoong balik.
"Lupakan." Jawab Yunho pasrah sambil melirik ke arah lain.
"Mungkin Yoochun sedang merindukan Ibunya yang tinggal di Virginia." Sanggah Jaejoong.
"Dari mana kau bisa tahu?" Tanya Yunho sambil kembali menatap Jaejoong.
"Karena Yoochun menyuruhku membuatkan kimchi jjigae kesukaannya yang sering Ibunya buatkan untuknya." Jawab Jaejoong menjelaskan.
"Aaa.. Begitu." Yunho mengangguk mengiyakan.
"Oiya kau mau minum apa?" Tanya Jaejoong menawarkan.
"Tidak usah. Jaejoongie bolehkah aku bermalam di sini juga?"
"Nde?"
.
.
Di dalam kamar yang sempit ini hanya ada satu kasur lantai tipis yang menemani ketiga namja yang sedang berbaring. Yoochun, Yunho dan Jaejoong begitulah posisi tidur mereka sekarang. Yunho yang berada di tengah-tengah Yoochun dan juga Jaejoong.
Dari pertama masuk ke dalam kamar Jaejoong, Yunho langsung mengambil posisi di tengah alias di samping Yoochun agar Jaejoong tidak mengambil posisi itu sepertinya. Tanpa di ketahui Yunho, Jaejoong menahan tawa melihat tingkah laku Yunho yang menurutnya seperti bocah itu. Yoochun? Yoochun sudah lebih dulu pergi ke alam mimpi meninggalkan Yunjae.
"Jaejoongie. Apa kau sudah tidur?" Ucap Yunho agak berbisik.
"Ajig."
"Jaejoongie-"
"Mianhae."
"Ooh? Untuk apa?"
"Seperti ini lah keadaanku. Di rumahmu kau bisa tidur di ranjang yang super besar dan empuk sedangkan di sini kau hanya bisa tidur di kasur lantai tipis yang kusam."
"Tidak juga. Lagi pula aku yang mau bermalam di sini. Justru aku yang harusnya minta maaf padamu karena telah merepotkanmu Jaejoongie."
Jaejoong menoleh dan menatap lekat Yunho, lalu mereka berdua pun akhirnya saling menatap satu sama lain. Tatapan yang di berikan Jaejoong pada Yunho seolah mengunci pergerakan Yunho. Yunho merasa terhisap akan pesona mata bulat Jaejoong yang indah. Di saat Yunho ingin menyentuh wajah Jaejoong dengan tiba-tiba Yoochun menepuk kepala Yunho. Reflek Yunho pun berbalik menghadap Yoochun dan ternyata yang Yunho dapatkan Yoochun masih tertidur dengan damainya. Sepertinya tadi Yoochun hanya tidak sengaja melakukan gerakan tidur yang berakhir menepuk kepala Yunho.
"Yunho~ah, aku tidur duluan. Jalja." Kata Jaejoong membuyarkan suasana dan langsung membalikan badan membelakangi Yunho.
"Jalja Jaejoongie." Ujar Yunho sambil tersenyum. 'Mimpi yang indah boo', tambah Yunho dalam hati.
YUNHO POV
Syukurlah sekarang aku sedang menyetir sendiri, kalau bersama Lee Ahjusshi pasti dia sudah menertawakanku yang senyam-senyum seperti orang gila. Sedari tadi aku tidak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku ini. Sepulangnya aku dari rumah Jaejoong aku terus tersenyum mengingat kejadian semalam. Aku rasa ini berkat Park Yoochun juga. Tidak pernah menyangka secepat itukah aku bisa tidur bersama dengan Jaejoong, dalam satu alas, walaupun tidak berdua si. Harusnya semalaman aku jangan tidur, aku pandangi saja terus wajahnya yang sedang terlelap itu.
.
.
Selesainya aku mandi membersihkan tubuhku, aku mendengar handphone ku yang ada di atas ranjang berdering. Aku berjalan menuju ranjang lalu mengangkatnya. Tapi sebelum itu aku lihat nama siapa yang tercetak di layar handphone ku. Ternyata hanya nomor tanpa nama. Nomor yang tidak aku kenal. Pada akhirnya aku sengaja tidak mengangkatnya. Aku paling tidak mau menerima panggilan dari nomor yang tidak aku kenal.
Dan tidak lama kemudian handphone ku berhenti berdering, sepertinya si penelfon sudah mematikan sambungannya. Beberapa menit kemudian terdengar dering pesan masuk dari handphone ku, aku langsung meraih handphone ku lalu membaca isi pesan itu.
"Yunho hyung. Sombong sekali tidak mau menerima panggilanku. Aku Yoochun, Park Yoochun. Hyung, bisakah kita bertemu sore ini?"
Ternyata nomor yang barusan itu nomor Yoochun. Tapi dari mana Yoochun bisa tahu nomor ku? Ya setelah tahu itu Yoochun langsung saja aku membalas pesannya.
"Bisa saja. Baiklah, aku tunggu di cafe 9095. Kau tahu kan?"
Beberapa menit kemudian Yoochun membalasnya lagi.
"Ye arraso. Cafe 9095 jam 5 sore hyung."
Lalu aku segera mengirim balasan lagi untuknya.
"Ok."
YUNHO POV END
Di tempat lain tuan jung masih saja berkutat dengan berkas-berkas yang dirasanya palsu. Baru saja sejam yang lalu tuan Jung bernego tentang kerjasamanya itu pada seseorang yang akan menjadi penyumbang dana atau pemodal untuknya.
Karena kali ini barangnya lebih banyak dari biasanya maka dari itu tuan Jung membutuhkan uang yang lebih banyak lagi. Tapi setelah mendapatkan kabar buruk dari bawahannya kalau berkas-berkas yang di berikan itu palsu berarti modal yang seharusnya di dapatkannya juga akan lenyap. Pikiran tuan Jung pun campur aduk menjadi satu antara marah dan bingung. Ya bingung bagaimana caranya mencari solusi yang tepat.
Rasanya kali pertama seorang Mafia besar seperti tuan Jung kesulitan. Memang dalam berbisnis pasti ada kegagalan atau kerugian tapi ini pertama kalinya ada orang yang berani menipunya, bahkan sangat berani dan hebat. Selagi pusing memikirkan jalan keluar yang tepat terdengar suara handphone berdering yang berasal dari tuan Jung sendiri.
"Wae?"
"..."
"MWO? Tertangkap? Kenapa bisa? Harusnya kalian bisa lebih berhati-hati! Dasar bodoh!"
"..."
"Segera pindahkan barang ke markas lalu sebagian kirim ke Bangkok sebelum polisi mengetahuinya. Aku akan segera kesana!"
Sepertinya masalah yang pertama belum dapat di selesaikan, muncul lah masalah baru lagi.
.
.
Sebelum pergi menemui Yoochun, Yunho mencoba mengecek satu persatu ruangan yang sering di tempati Ayah nya jika sedang di rumah tapi Yunho tidak dapat menemukan Ayah nya juga.
"Abouji eodiya?" Tanya Yunho pada salah satu maid.
"Tuan besar sudah pergi dari jam 4 pagi tadi tuan muda." Jawab maid itu dengan sopan.
Setelah mendengar jawaban dari maid itu Yunho pun langsung bergegas pergi untuk bertemu Yoochun jam 5 sore ini.
YOOCHUN POV
Sekarang aku sudah berada di cafe 9095 sesuai dengan apa yang di katakan Yunho hyung di pesannya tadi. Aku kira Yunho hyung yang akan sampai lebih dulu ternyata aku salah. Aku melihat jam tanganku 20 menit sudah aku menunggu Yunho hyung, sambil menunggunya aku menyesap merasakan secangkir moccalatte yang barusan aku pesan. Dan selagi aku menoleh ke arah pintu masuk dengan kebetulan aku menangkap sesosok namja berwajah kecil yang aku tunggu sedari tadi.
"Yunho hyung." Panggilku sambil melambaikan tangan memberi kode. Setelah Yunho hyung menyadari kehadiranku, Yunho hyung langsung berjalan ke arah tempat yang aku duduki.
"Mian aku terlambat. Kau sudah lama menunggu?" Ujar Yunho hyung tanpa basa basi.
"Lumayan! Duduklah hyung." Pintaku. Lalu Yunho hyung mengambil posisi duduk di hadapanku.
"Ada apa kau ingin bertemu denganku? Dan dari mana kau bisa tahu nomor ku?"
"Santai hyung. Pesan dulu." Sanggahku.
.
.
Setelah tadi berhasil mendapatkan nomor Yunho hyung dari Jaejoong hyung, aku langsung saja menghubunginya. Dan hari ini dengan tiba-tiba aku mengajak Yunho hyung bertemu, karena ada yang ingin aku sampaikan padanya, sebenarnya ini tentang Jaejoong hyung juga. Aku tahu Yunho hyung marah karena kedekatanku dengan Jaejoong hyung dan aku tahu Yunho hyung cemburu. Tapi sungguh aku tidak memiliki perasaan lebih pada Jaejoong hyung, aku sudah merasa nyaman menganggap Jaejoong hyung seperti hyung ku sendiri. Jadi tidak mungkin aku mencoba menjadi rival Yunho hyung. Memang hanya kesalah pahaman yang di rasakan seorang Jung Yunho. 'Si beruang pencemburu ini kenapa tidak mengakui saja kalau menyukai Jaejoong hyung!' batinku.
"Hyung, ada yang ingin aku sampaikan padamu." Jelasku.
"Mworago?"
"Hubunganku dan Jaejoong hyung hanya sebatas hyung dan dongsaeng! Hanya itu tidak lebih!" Tegasku.
"Untuk apa kau membahas ini padaku?" Tanya Yunho hyung tidak mengerti.
"Sudahlah hyung jangan menyembunyikannya lagi dariku. Aku tahu kau menyukai Jaejoong hyung iya kan?" Sergahku sambil memicingkan mata mencurigai.
"Y-ya! Park Yoochun!" Kesal Yunho hyung terbata.
"Mwo?"
"Aishhh.. Neo!"
"Masih saja mengelak. Ckckck.. Jangan-jangan kau juga tidak menyadarinya kalau Jaejoong hyung juga menyukaimu hyung!" Bukannya aku berbohong tapi memang seperti yang aku lihat tatapan Jaejoong hyung berbeda sekali selagi bersama Yunho hyung. Dan setiap kali aku dan Jaejoong hyung membahas tentang Yunho hyung, Jaejoong hyung pasti menjadi salah tingkah.
"A-apa yang sebenarnya kau bicarakan? Jadi kau mengajakku bertemu hanya ingin membahas ini eoh? Sudahlah aku sibuk!" Yunho hyung mencoba bangun dari duduknya dan beranjak pergi dari tempatnya. Kelihatannya Yunho hyung malu karena pernyataanku tadi.
Selagi Yunho hyung ingin melangkah pergi dari hadapanku. Buru-buru aku membuka suara. "Lindungilah Jaejoong hyung!" Kali ini aku serius berbicara dengan Yunho hyung.
"Tanpa kau suruh pun aku sudah melindunginya!" Yunho hyung berbalik ke arahku dan berbicara menegaskan.
"Aku tahu kau memang selalu ada untuk Jaejoong hyung. Aku percaya padamu hyung. Jangan menyakitinya apa lagi sampai meninggalkannya."
"Tidak akan. Aku tidak akan pernah melakukannya!" Tegas Yunho hyung sambil memberikan tatapan tajamnya bak mata musang.
"Karena aku tidak ingin Jaejoong hyung senasib dengan Ayahnya." Ucapku menambahkan.
"Nde?" Yunho hyung agak kaget dengan ucapanku barusan. Dan menggeser kursi yang tadi di dudukinya lalu kembali duduk berhadapan denganku.
"Gudae. Hyung sudah mengetahui tentang penyakit Jaejoong hyung bukan? Dulu Ayah Jaejoong hyung menderita penyakit yang sama seperti Jaejoong hyung dan di saat Ayah Jaejoong hyung membutuhkan dukungan agar bisa bertahan hidup, istrinya selaku Ibu Jaejoong hyung malah pergi meninggalkannya. Pada akhirnya Ayah Jaejoong hyung mati bunuh diri. Selama ini aku tahu Jaejoong hyung sangat sakit dan menderita karena penyakitnya. Tapi Jaejoong hyung selalu menyembunyikannya dariku, di depan semua orang Jaejoong hyung bersikap sok kuat seolah-olah tidak ada yang terjadi. Ya, walaupun aku yakin Jaejoong hyung tidak mungkin melakukan perbuatan nekat seperti yang dilakukan Ayahnya dulu tapi wajar kan ada perasaan takut dalam diriku akan Jaejoong hyung." Aku mencoba mengeluarkan uneg-uneg ku agar Yunho hyung pun bisa mengerti bagaimana keadaan Jaejoong hyung selama ini.
"Kau terlalu berlebihan Yoochun~ah. Jaejoong tidak mungkin melakukannya. Aku tahu bagaimana Jaejoong, aku yakin Jaejoong bisa menghadapi semua ini. Kau tenang saja aku akan melindunginya." Lagi dan lagi Yunho hyung memberikan jawaban yang membuatku merasa puas.
"Ne hyung."
"Dan lagi sepertinya Jaejoong tipikal orang yang tidak mau di kasihani. Ya, aku akui selama ini aku mendekatinya karena aku menyukainya, ah aniya aku mencintainya. Jadi aku akan melindungi Jaejoong dengan caraku sendiri!" Inilah jawaban yang aku tunggu-tunggu. Akhirnya Yunho hyung mengakui kalau dirinya mencintai Jaejoong hyung. Aku memang tidak pernah salah menduga perasaan orang lain.
YOOCHUN POV END
Sepulangnya Jaejoong dari supermarket yang ada di dekat rumahnya, setelah membuka pintu dan masuk Jaejoong menemukan keadaan rumahnya yang hancur berantakan. Kursi dan meja yang terbalik juga perkakas rumah yang berjatuhan dan pecah. Entah siapa yang tega melakukan ini pada uri Jaejoongie yang malang.
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?" Gumam Jaejoong hampir tidak terdengar seperti bisikan.
Selagi Jaejoong membereskan keadaan rumahnya yang hancur berantakan datanglah segerombolan orang berjas hitam yang secara tiba-tiba masuk begitu saja ke dalam rumah Jaejoong. Sontak Jaejoong pun kaget dengan kedatangan orang-orang yang tidak di kenalnya itu.
"N-nuguseyo?" Tanya Jaejoong takut.
"Ini perintah langsung dari tuan besar Jung. Jauhi putra tuan besar Jung yang bernama Jung Yunho! Jika kau masih berani mendekatinya, kau bukan hanya akan kehilangan rumahmu saja tapi nyawamu juga akan hilang! Camkan itu!" Ancam salah satu dari mereka (segerombolan orang berjas hitam).
Segerombolan orang berjas hitam itu akhirnya pergi setelah berhasil mengancam Jaejoong. Ternyata mereka lah yang melakukannya atas dasar perintah dari atasan mereka siapa lagi kalau bukan tuan Jung Ayah dari Jung Yunho temannya. Jaejoong yang mendengarnya hanya diam tidak percaya. Ayah Yunho bukan hanya tidak menyukai Jaejoong tapi dengan beraninya mengancam Jaejoong juga. Salahkah Jaejoong dekat dan berteman dengan putranya Jung Yunho?
JAEJOONG POV
Karena kejadian kemarin aku jadi terus memikirkannya. Haruskah aku menjauhi Yunho? Untuk apa aku takut dengan ancaman yang di berikan Ayah Yunho padaku? Apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar bingung!
Saat ini jam belajar sekolah sedang berlangsung, aku pun mencoba tetap focus memperhatikan Seonsengnim yang sedang menjelaskan di depan. Sesekali aku menghirup nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Sebenarnya dari awal datang ke sekolah aku sudah tidak enak badan, tapi aku memaksakan diriku untuk sekolah hari ini, karena sudah beberapa hari ini aku membolos. Aku benar-benar ingin cepat pulang dan istirahat, mungkin pengaruh kurangnya tidur semalaman kepalaku agak terasa pusing.
.
.
Akhirnya 1 jam berlalu suara bel pulang terdengar juga. Langsung saja aku memasukkan semua peralatan tulisku ke dalam tas lalu bergegas pulang. Tapi sampainya di depan pintu kelas aku di kejutkan dengan kehadiran sesosok namja yang aku kenal. Namja yang waktu itu hampir mati karena perbuatanku, ya karena tanganku ini. Namja itu kembali. Kembali menemuiku. Kali ini apa yang akan di lakukannya padaku?
"Ya! Kim Jaejoong! Kemana saja kau selama ini? Menghindariku?" Namja itu semakin melangkah mendekatiku.
"..." Aku hanya diam. Jujur aku takut dengannya. Apa dia akan membalasku? Kenapa tuhan membiarkan aku bertemu lagi dengannya, kenapa?
"Jangan coba melarikan diri KIM! Kali ini aku benar-benar akan membalasmu!" Kecamnya. Tatapannya begitu tajam dan menakutkan.
"..." Aku masih diam mencoba melangkah mundur menjauhinya.
Walaupun sudah tidak ada satupun murid di kelasku ini tapi di sekitarku masih ada beberapa murid yang berkeliaran, tapi mereka seolah sama sekali tidak mempedulikannya. Rasanya aku ingin berteriak meminta tolong tapi apa adakah orang yang mau menolongku?
"Mau apa kau?" Tiba-tiba aku di kejutkan dengan kedatangan namja berperawakan tinggi, tegap dan kekar (?) yang membelakangiku. Namja yang memberikan tempat untukku bersembunyi di belakang tubuh tegapnya. Yunho~ah..
"Tsk.. Jadi sekarang Kim Jaejoong sudah memiliki pengawal rupanya." Sepertinya namja yang ada di hadapan Yunho kesal karena kedatangan Yunho yang tiba-tiba itu.
"Jika kau berani menyentuhnya aku tidak akan segan membunuhmu!" Apa yang barusan Yunho katakan? Apa kau akan melakukannya Yunho~ah? Aku terus menatap tubuh tegapnya yang membelakangiku, aku sungguh tidak percaya apa yang barusan dikatakan Yunho. Apa semarah itu kah Yunho hanya karena aku?
"Wow.. Apa kau sedang mengancamku Jung Yunho~sshi?"
"Kajja.." Yunho tidak mempedulikan ucapan namja di hadapannya melainkan berbalik lalu menggandeng tanganku dengan erat dan mengajakku pergi meninggalkan namja itu.
Sekarang aku dan Yunho sedang berada di salah satu kelas kosong di lantai bawah gedung sekolah. Kami masih diam, tidak ada salah satu dari kami yang mencoba membuka suara lebih dulu.
Dengan segera aku bangun dari dudukku, sebaiknya aku pulang saja dari pada terus di sini bersama Yunho. Lagi pula bukankah Ayah Yunho sudah mengatakannya padaku agar aku menjauhi Yunho.
"Gomawo Yunho~ah. Aku harus pulang." Ucapku lalu mencoba melangkah pergi meninggalkan Yunho.
"Jaejoong~ah." Secepat kilat Yunho menahan lenganku. Tapi aku pun menapiknya.
"M-mianhae." Aku sungguh tidak ingin melakukannya. Tapi aku harus melakukannya Yunho~ah.
"Wae?" Aku hanya menunduk, aku tidak berani menatap Yunho yang sedang bicara padaku.
"Aku harus pulang." Ucapku kemudian masih menunduk dan melangkah pergi meninggalkannya (lagi).
"Tunggu Jaejoong~ah. Ada apa denganmu? Apa kau marah padaku?" Yunho mencoba menahanku dengan pertanyaannya.
"Ani Yunho~ah. Aku harus pulang." Aku menghentikan langkahku karena mendengar pertanyaan yang di lontarkan Yunho barusan, aku hanya sekilas menjawabnya tanpa berbalik ke arahnya dan tetap melangkah pergi darinya tapi lagi-lagi Yunho menahan lenganku, kali ini aku tidak menapiknya seperti tadi.
"Apa yang kau sembunyikan dariku Jaejoong~ah? Kau masih tidak ingin menceritakannya padaku?" Suaranya.. Aku mendengarnya.. Apakah kau mengkhawatirkanku? Kenapa kau begitu baik padaku Yunho~ah?
"..." Aku masih setia diam menunduk.
"Namja sialan itu! Apa yang dia lakukan padamu? Katakan?"
"Ani. Dia tidak melakukan apapun." Dengan cepat aku menggelengkan kepalaku sebagai jawaban.
"Jeongmal?"
"Yunho~ah gumanhae!" Akhirnya aku beranikan diri menatapnya. Aku tidak sanggup dengan semua ocehannya yang seolah mempedulikanku.
"Waegurae?"
"Yunho~ah lupakan aku! Jebal.. Aku hanya benalu untukmu, aku hanya masalah untukmu." Pada saat aku berbicara seketika itu juga cairan bening yang menggenang dari pelupuk mataku yang sedari tadi aku tahan pun tumpah keluar.
"Apa yang kau bicarakan Jaejoong~ah? Apa dia melakukan sesuatu sebelum aku datang tadi? Apa dia berani mengancam mu?" Berhenti lah berbicara Jung Yunho! Karena itu membuatku semakin sakit. Kau begitu baik padaku itu sangat menyakitkan untukku Yunho~ah.
"GUMANHAE!" Bentakku sambil mencoba mengatur nafasku karena tangisanku ini.
"Jaejoong~ah.."
"Jika dia akan membalasku..hiks..hikss..aku menerimanya. Aku memang hampir membunuhnya..hikss..tapi.. hikss..syukurlah saat itu Tuhan masih melindunginya dariku. Kalau saat itu..hiksss..Tuhan tidak melindunginya..hikss...mungkin nasibnya akan sama seperti Ibuku..hikss.." Aku berbicara sambil terus terisak karena tangisanku yang tidak kunjung berhenti.
"Ya! Kim Jaejoong apa yang kau katakan? Kenapa omonganmu jadi melantur seperti itu?" Yunho menghadapkan tubuhku ke arahnya dan memegang lembut kedua bahuku.
"A-aku memang pembunuh...hiksss..Yunho~ah. Ibuku mati k-karena aku dan...hikss..namja itu hampir mati karena aku." Aku terus menangis menyalahkan diriku. Cairan bening ini pun malah mengalir semakin deras saja.
"Jaejoong~ah dengarkan aku. Kau tidak membunuhnya dan kau bukan pembunuh. Itu semua hanya kecelakaan. Kala itu Tuhan memang harus mengambil Ibumu, memang sudah kehendak yang kuasa bukan karena kau yang membunuhnya."
"Ani Yunho~ah...hiksss... Aku yang membunuh Ibuku..hikss..aku yang membunuh Ibuku." Aku terisak tanpa menatap Yunho, aku masih menunduk meratapi kehidupanku yang pahit ini.
"Kau tidak melakukannya Jaejoongie. Bukankah kau sudah berusaha menggenggam tangan Ibumu. Itu murni kecelakaan. Itu bukan salahmu."
"Aku yang membunuhnya, aku yang membunuhnyaaa..hikss..AKU MEMBUNUH IBUKU..HIKSSS...HIKSSS...HIKSS..."
"Jaejoongie lihat aku tatap mataku. Bukan kau yang melakukannya. Jadi berhenti lah menyalahkan dirimu, jangan seperti ini.. Karena ini.. ini membuatku sakit Jaejoongie..." Aku melihat kesedihan terukir di wajah kecil Yunho. Aku hanya ingin kau melupakanku dan pergi meninggalkanku Yunho~ah.
"Aku yang membunuhnya Yunho~ah..hiksss.. Aku yang hikss—" Aku terus menatap Yunho mencoba mencari ketenangan akan tatapan mata Yunho padaku. Dan seketika itu juga kesadaranku mulai hilang kemudian kegelapan memenuhi penglihatanku.
JAEJOONG POV END
Karena jatuh pingsannya Jaejoong di sekolah tadi, dengan segera Yunho membawa Jaejoong ke rumahnya. Dan selagi di jalan Yunho pun menyuruh (menghubungi) maid yang ada di rumahnya agar menghubungi dokter pribadi keluarga Jung. Setelah sampai di rumah, Yunho membopong (bridal style) Jaejoong menuju kamarnya. Selang beberapa menit kemudian muncul lah sang dokter lalu dengan sigap dokter bermarga Shin itu memeriksa kondisi Jaejoong.
"Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" Terdengar nada kekhawatiran dari seorang Jung Yunho.
"Jangan khawatir Yunho~sshi, dia hanya kelelahan. Dengan istirahat yang cukup pasti dia akan sehat kembali. Aku akan memberikan resep obat untuknya." Ungkap sang dokter menjelaskan.
Setelah kepergian dokter Shin. Yunho mengambil posisi duduk di samping Jaejoong yang terbaring, lalu Yunho pun menggenggam jemari Jaejoong dengan lembut.
"Kenapa kau seperti ini lagi boo? Apa yang terjadi? Ceritakan padaku jangan menyembunyikannya sendiri." Yunho berbicara sambil menggenggam jemari Jaejoong mengelusnya lembut dan mencium punggung tangan Jaejoong.
Perlahan Yunho memberanikan diri mendekatkan bibir kissablenya untuk mengecup kening Jaejoong lalu Yunho membetulkan letak selimut yang di pakai Jaejoong dan Yunho pun pergi keluar kamar meninggalkan Jaejoong yang terlelap dalam tidurnya. 'Biarlah uri Jaejoongie istirahat', pikirnya.
.
.
Siang sudah berganti malam, tidak terasa sudah cukup lama Jaejoong terbaring di sana. Dan pada akhirnya dengan perlahan Jaejoong pun membuka matanya yang sedari tadi terpejam. Setelah sepenuhnya sadar Jaejoong merasakan pusing di kepalanya. Jaejoong mencoba mengurut pelipisnya lalu melirik ke sekelilingnya. Pada saat itu Jaejoong baru menyadari dirinya ada di tempat lain.
Setelah Jaejoong tahu di mana dia sekarang, Jaejoong mencoba kabur sebelum Yunho mengetahui dirinya sudah siuman dari pingsannya. Tapi selagi Jaejoong berjalan mencari pintu keluar, Jaejoong menemukan tuan Jung yang berdiri di hadapannya sambil menatapnya penuh kebencian.
"Sedang apa kau di sini!" Ucap tuan Jung sambil memberikan tatapan sinisnya.
"Ah-ahjusshi.." Jaejoong benar-benar takut dengan keadaannya sekarang. Apa yang akan tuan Jung lakukan padanya?
"Beraninya kau menginjakan kaki kemari untuk yang kedua kalinya!" Marah tuan Jung lalu menapakkan kakinya mendekat ke arah Jaejoong.
"A-aku..." Ucap Jaejoong terbata. Rasanya sulit sekali bagi Jaejoong untuk mengeluarkan suara saat ini.
"Apa kau masih mencoba merayu putraku Jung Yunho eoh!" Bentak tuan Jung masih dengan tatapan tidak sukanya.
"Ah-Ahjusshi. Aniyo.. A-aku—" Kali ini ucapan Jaejoong terputus karena tuan Jung memotongnya sambil terus menatap seolah ingin membunuh Jaejoong.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Yunho eoh? Apa yang kau berikan padanya?" Sekarang tuan Jung sudah tepat berada sangat dekat dengan Jaejoong.
"Aku tidak..." Jaejoong semakin ketakutan sambil menggelengkan kepalanya dan Jaejoong pun mencoba melangkah agak menjauh (lagi) dari tuan Jung.
"YA! KIM JAEJOONG!" Dengan cepat tuan Jung mencengkram kuat tangan Jaejoong meluapkan seluruh emosinya tapi dengan kuat dan berani Jaejoong menepis cengkraman tuan Jung, lalu Jaejoong pun balik mencengkram kuat tangan tuan Jung bahkan lebih kuat dari cengkraman tuan Jung tadi padanya. Seketika Jaejoong merubah keadaan yang tadinya Jaejoong terlihat ketakutan, sekarang menjadi menakutkan. Sepertinya karena cengkraman yang di berikan tuan Jung tadi yang mampu merubah Jaejoong.
–Seorang yeoja paruh baya yang masih terlihat segar dengan setelan pakaian berwarna merah mawar itu sedang meminum sesuatu di dalam gelas yang di pegangnya. Dan setelah meminumnya seketika yeoja itu bergerak kesakitan memegang lehernya dengan kedua tangannya mencoba menekannya seperti mencekik. Lalu sesudahnya tubuh yeoja itu pun jatuh terkapar, busa berwarna putih pekat keluar mengalir dari sela mulutnya yang sedikit terbuka. Beberapa saat kemudian datanglah seorang namja berperawakan tinggi dan rambut yang mulai memutih menghampiri yeoja yang tadi jatuh terkapar, namja itu memegang mencoba memeriksa kondisi si yeoja dengan cara menyentuhkan jari-jarinya ke arah leher sebeleh kiri si yeoja. Setelah mendapatkan jawabannya namja itu tersenyum puas dan beranjak pergi meninggalkan yeoja itu sendirian.–
"YA! KIM JAEJOONG APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU? KENAPA KAU SEPERTI INI!" Jaejoong sama sekali tidak mempedulikan bentakan dari tuan Jung melainkan malah semakin kuat mencengkram tangan tuan Jung. Tubuh Jaejoong bergetar menahan efek yang sedang di rasakannya dan cairan merah dengan derasnya terus keluar dari hidungnya.
–Namja itu berjalan ke salah satu ruangan lalu membuka sebuah berangkas memasukkan botol hitam kecil ke dalam sana, mungkin untuk menghilangkan jejak. –
"YA! KIM JAEJO—" Ucapan tuan Jung terputus karena kaget melihat keadaan Jaejoong yang begitu parah. Cairan merah yang di sebut darah itu sekarang bukan hanya keluar dari hidung Jaejoong saja tapi dari mulutnya juga.
–Banyak sekali orang-orang yang berkumpul di tempat itu. Ada beberapa dari mereka sedang melakukan transaksi, seperti menukar uang dengan sejumlah koper. Entahlah ada apa di balik koper itu. Tapi sepertinya koper itu sangat menguntungkan bagi mereka.–
YUNHO POV
Aku terus berjalan ke arah kamarku sambil membawa nampan yang berisi bubur, air mineral dan obat untuk Jaejoong. Selagi menunggu Jaejoong siuman tadi aku membantu maid memasak bubur untuk Jaejoong. Aku rasa perutnya lebih baik di isi dengan makanan yang lembek dan panas seperti bubur ini. Semoga saja Jaejoong sudah siuman. Agar Jaejoong bisa langsung mencoba bubur buatanku. Entah bagaimana rasanya yang penting aku sudah berusaha membuatkan untuknya.
Sampainya di kamarku, aku tidak melihat sosok cantik itu. Aku tidak melihat Jaejoongie di ranjang tempatnya terbaring tadi. Lalu aku mencoba berjalan ke arah kamar mandi tapi tetap tidak menemukannya juga.
"Kemana Jaejoongie? Apa mungkin Jaejoongie keluar mencariku?"
Aku pun keluar dari kamarku mencari Jaejoong. Aku sudah berkeliling rumah ini tapi belum juga menemukan sosok cantiknya. Akhirnya aku memutuskan untuk naik ke lantai atas, mungkin Jaejoong di atas. Tapi baru saja aku mau melangkahkan kakiku ke anak tangga aku mendengar suara teriakkan yang memanggil nama Jaejoong dari lantai paling bawah dan suara itu...
"Bukankah itu suara Abouji." Tiba-tiba saja perasaanku menjadi kalut. Dengan segera aku berlari mencari suara itu.
.
.
"JAEJOONG~AH..." Aku menemukannya. Aku melihat Jaejoong yang sedang mencengkram tangan Abouji. Entah apa yang terjadi. Langsung saja aku berlari ke arah mereka berdua.
"YA! DASAR GILA! LEPASKAN TANGANMU DARIKU!" Aku melihat Abouji yang berteriak sambil mencoba melepaskan cengkraman dari Jaejoong.
"Abouji apa yang terjadi?"
"LEPASKAN DIA!" Perintah Abouji padaku.
"Jaejoong~ah.. Jaejoong~ah lepaskan..." Aku mendekati Jaejoong lalu memegang tangannya yang sedang mencengkram tangan Abouji. Ada apa sebenarnya dengan Jaejoong? Kenapa aku malah menemukan Jaejoong dalam keadaan seperti ini? Darah yang ada dimana-mana.
"..." Jaejoong hanya diam. Tubuhnya masih bergerak-gerak kesana kemari dan bergetar. Pasti ini sangat menyakitkan. Jaejoong~ah bertahanlah...
"Jaejoong~ah.. Jaejoong~ah lihat aku! Jaejoong~ah..." Aku masih terus memanggil namanya dan mencoba menarik tangannya agar mau melepaskan cengkramannya pada Abouji.
"Kau membunuhnya! Kau yang memberikan racun ke dalam minuman itu! Kau membunuhnya!" Akhirnya Jaejoong agak tenang, aku merasa cengkramannya sedikit longgar. Tapi apa yang di katakannya? Apa maksudnya? Dan kenapa selagi Jaejoong berbicara tatapannya mengarah ke Abouji?
"MWO?" Jelas Abouji kaget dengan ucapan Jaejoong tadi. Aku pun juga kaget di buatnya.
"Jaejoong~ah lepaskan.. Lepaskan..." Aku masih memanggilnya dan menarik tangannya agar berhenti mencengkram. Dan akhirnya Jaejoong mau melepaskan cengkramannya pada Abouji. Tapi keadaanya masih sama Jaejoong masih terlihat kesakitan.
"Aishhh.. Bagaimana bisa kau mengenal orang aneh seperti dia eoh?" Marah Abouji sambil berjalan meninggalkan aku dan Jaejoong.
"Jaejoong~ah.. Jaejoong~ah gwaenchana?" Aku tidak menggubris kepergian Abouji. Saat ini aku hanya memikirkan keadaan Jaejoong. Aku benar-benar mengkhawatirkannya.
"..." Jaejoong kembali tidak membuka mulutnya untuk bicara. Jaejoong masih terus bergerak gerak tidak nyaman menolak kehadiranku.
"Jaejoong~ah, tenang aku di sini. Tenang lah.. Tenang lah Jaejoong~ah.." Aku menggenggam tangannya lalu perlahan membawanya ke dalam pelukanku. Mencoba memberikan ketenangan untuknya.
Kali ini aku membawa Jaejoong ke rumah sakit. Karena aku tidak ingin Jaejoong bertemu dulu dengan Abouji. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi tadi. Kenapa aku bisa menemukan Jaejoong dalam keadaan seperti itu. Keadaannya lebih parah dari sebelumnya, aku menemukan banyaknya darah yang keluar bukan hanya dari hidungnya saja tapi dari mulutnya juga. Kenapa penyakit itu bisa muncul lagi? Dan kenapa harus Abouji?
["Kau membunuhnya! Kau yang memberikan racun ke dalam minuman itu! kau membunuhnya!"]
"Apa maksud Jaejoong mengatakan itu?"
YUNHO PO END
"Tuan muda. Tuan Kim Jaejoong hilang." Ujar Lee Ahjusshi menjelaskan.
"MWO?" Kaget Yunho.
"Perawat mengatakan selagi ingin memeriksa kondisi tuan Kim Jaejoong, tuan Kim Jaejoong sudah tidak ada di ruangannya." Jelas Lee Ahjusshi menambahkan.
Di tempat lain, di jalan yang masih ramai oleh lalu lalang orang-orang membuat namja cantik yang bernama Kim Jaejoong itu semakin ketakutan. Jaejoong berjalan gontai dengan masih memakai pakaian rumah sakit dan tanpa menggunakan alas kaki. Jaejoong terus berjalan sambil mengeratkan kedua tangannya sejajar dengan dadanya mencoba melindungi tubuhnya dari orang-orang di sekitarnya. Tubuhnya bergetar hebat, wajahnya juga pucat pasi ketakutan.
.
.
Entah bagaimana caranya semalam Jaejoong bisa sampai di rumahnya dengan selamat. Dan karena kelelahan berjalan jauh semalaman, sampainya di rumah Jaejoong langsung terbaring di lantai ruang tengah di rumahnya.
"Eungg.." Jaejoong mencoba membuka matanya, menyambut sinar matahari yang memantul dari lubang kaca jendelanya.
Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Jaejoong berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum. Lalu selagi Jaejoong meneguk beberapa gelas terdengar bunyi ketukan dari arah pintu rumahnya. Buru-buru Jaejoong berjalan membukakan pintu.
"Apa anda yang bernama Kim Jaejoong?" Tanya salah satu orang yang ada di hadapan Jaejoong.
"Ye." Jaejoong menjawab masih dengan wajah yang kebingungan. Jaejoong benar-benar tidak mengenal dua orang yang ada di hadapannya itu tapi kenapa orang itu bisa tahu namanya.
"Kami dari kepolisian. Saudara Kim Jaejoong kami tahan atas tuduhan tindak kekerasan yang dilakukan oleh tuan Jung." Ujar salah satu orang itu yang katanya polisi dan tidak lupa sambil menunjukkan kartu identitas kepolisian (?)
"Mwo?"
T B C
Chap 5 selesai~~
Eotte? Makin ngaur ya ceritanya? Makin gak jelas kah? Moga gak ngecewain dah di chap ini..
Minta review nya yaa teman-teman semuaaaaa..
Oiya makasih buat yg uda ngoreksi cara penulisan saya kemarin.. Iya harusnya "jauhi" bkn "jauhkan" haha *ngumpet di bulket yuno*
Pada bertanya2 ya knp appa jung kya gtu k jaemom? Knp gak suka sama jaemom? Uda d jawab ya d chap ini. Itu yg kmaren blm ketauan, nah yg ini baru ada flash back nya. XD
Yg nanya untuk cast tambahan kyanya gak ada deh tp gak tau tp kyanya gak ada.. #plakkk
Saya bingung klo nambain changmin ama junsu mau d sisipin dmn, trus mau d jadiin sape. Saya uda memperkirakan brp chap ff ini gak bnyk ko bentar lg end antara 1 ato 2 chap lg uda end.. Pan uda keliatan klimaks nya noh. Maap yaa maap bgt gak bs ngasih changmin ama junsu dsini, janji laen kali deh d ff selanjutnya... *nyengir*
Trus yg nanya konflik kyanya masih bakal ada lg konflik selanjutnya.
Saya jelaskan sekali lg uchun hanya menganggap jae itu uda kya hyung nya sendiri begitu juga sebaliknya jae hanya menganggap uchun itu dongsaeng nya. Tenang ajee uchun gak punya perasaan apa2 ko ke jaemom..
Ada yg nanya klo bkn author panggilnya siapa? Yaude panggil saya KIM aja ya ato JEJE pan uda liat uname saya noh "jejetoiunamae". JEJE ya jgn JJ, klo JJ mah JaeJoong.. Gegara saya cinta bgt ama JJ sebagai hyung saya jd ada sebagian temen yg julukin manggil saya JEJE. Kalo author jangan deh, saya merasa blm pantas di panggil author. -ajang curhat-
Mina. Jangan lupa yaa tinggalkan review. See u next chapter~~
Sangkyuuuuuuuu ^^
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.
