Title : The Gifted Hands

Pairing : Kim Jaejoong, Jung Yunho

Other Cast : Park Yoochun, Shim Changmin

Rating : T

Genre : Romance, little angst (maybe)

Type : YAOI, BL

Author : jejetoiunamae

Annyeong. Iseng-iseng aja nulis eh jadilah seperti ini. Nikmati aja ya kalo emang bisa di nikmati, saya cuma minta komentar dari kalian readers yang sudah mau membaca bagaimana ff abal saya ini. Walaupun abal tolong jangan copas sembarangan ff ini, kepedean banget kya ada aja yang mau copas... :)

Ini saya terinspirasi dari filmnya kim bum "The Gifted Hands", pokonya ceritanya agak ngikutin tapi gak full sama kya filmnya. Langsung ajalah. DON'T LIKE DON'T READ! WARNING THIS FANFIC BOYS LOVE. And then typos~~

Mina. Hontouni arigatou. Welcome to new reader. Makasih banyak yaa favs, follows and review nyaaa. Makasih juga buat semangatnya, maap banget gak bisa lagi bales review kalian. Pokonya karena kalian saya jadi pengen cepet ngelarin ff ini, big thanks to readerdeul... :)

~Chapter 6~

Summary : Seorang namja cantik bernama Kim Jaejoong memiliki kelainan (penyakit) Psychometry. Yang bisa melihat kisah, kehidupan di masa lalu seseorang atau keadaan di sekelilingnya hanya dengan menyentuhnya. Orang-orang di dekatnya menjauhinya, bahkan ibu kandungnya sendiri pun juga menjauhinya. Kematian ibunya yang dia anggap salah satu kesalahannya membuat perubahan sikap dan perilakunya menjadi sosok yang pendiam juga penyendiri. Diasemakin di anggap gila dan aneh oleh orang-orang di dekatnya. Dan di saat dia merasakan kesepian seperti itu datanglah seorang pangeran penyelamat hidupnya. Siapakah pangerannya itu?

The Gifted Hands

.

.

.

Back To The Night Before

Di dinginnya udara malam ini tidak menyurutkan semangat namja bermata tajam bak musang itu terus berjalan mengitari pusat kota mencari sosok namja cantik yang berhasil mengisi kekosongan di hatinya. Sudah sekian lamanya si namja bermata musang yang bernama Yunho itu mencari Jaejoong si namja cantik yang hilang, tapi sampai saat ini belum juga berhasil menemukannya.

Setelah beristirahat sebentar duduk di kursi yang ada di pinggiran jalan Yunho memutuskan untuk kembali mengambil mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempatnya sekarang.

"Tuan muda." Ucap Lee ahjusshi sambil berjalan mendekati Yunho.

"Bagaimana? Kau menemukan Jaejoong?" Tanya Yunho.

"Maaf tuan muda saya belum menemukan tuan Jaejoong." Jawabnya dengan raut wajah sedihnya.

"..." Yunho hanya diam sambil menatap lemas ke arah Lee ahjusshi.

"Tuan muda, tadi tuan besar menghubungi saya agar tuan muda cepat pulang. Tuan besar sakit dan membutuhkan tuan muda."

"Jeongmal? Kenapa Abeoji tidak menghubungiku?" Tanya Yunho memperlihatkan ekspresi bingungnya. Karena sedari tadi Ayahnya sama sekali tidak ada menghubunginya tapi kenapa tiba-tiba Yunho mendapat kabar kalau Ayahnya sakit dan membutuhkannya. Kenapa Ayah Yunho malah menghubungi orang lain yang notabenenya tangan kanan Yunho?

"Sebelumnya tuan besar mencoba menghubungi tuan muda tapi sepertinya handphone tuan muda tertinggal di dalam mobil. Saya takut lancang mengangkatnya." Jelasnya lagi menambahkan.

"Bagaimana ini, aku masih harus mencari Jaejoong tapi aku juga tidak bisa menolak Abeoji yang membutuhkanku." Ujar Yunho bimbang.

"Apa tuan muda ingin saya menyuruh orang untuk mencari tuan Jaejoong?" Usul Lee ahjusshi.

Yunho sedang mencoba mengingat seseorang yang sepertinya bisa membantunya. Dan agak lama berpikir akhirnya Yunho tahu siapa orang yang bisa membantunya untuk kali ini. "Ah tidak usah. Aku tahu orang yang bisa membantuku."

Yunho langsung mengambil handphonenya yang tertinggal di dalam mobilnya lalu mendial nomor Yoochun

"Yoochun~ah. Aku butuh bantuanmu."

"..."

"Jaejoong hilang di rumah sakit. Aku sudah mencarinya di mana pun tapi belum juga menemukannya. Setengah jam yang lalu aku dari rumah Jaejoong dan Jaejoong tidak ada di rumahnya. Bantu aku mencari Jaejoong, jika kau menemukannya segera kabari aku. Arraseo!"

"..."

.

.

"Yunho~ah apa kau sudah tidak lagi menyayangiku sebagai Ayahmu eoh?" Tanya Ayah Yunho dengan tatapan lirihnya.

Yunho semakin menggenggam lembut tangan Ayahnya karena terkejut mendengar kalimat yang di lontarkan Ayahnya untuknya. "Abeoji aniya.." Jawab Yunho sambil menggelengkan kepalanya. Yunho jadi merasa bersalah karena sikapnya akhir-akhir ini yang seperti tidak peduli pada Ayahnya sendiri.

"Kau lebih mempedulikannya!"

"Abeoji aniya.. Tadi aku sedang mencoba mencari Jaejoong yang tiba-tiba hilang di rumah sakit." Sergah Yunho menjelaskan.

"Untuk apa kau mempedulikan orang yang hampir membuat Ayahmu mati ketakutan! Dia hampir saja membunuhku dengan tangannya itu Yunho~ah!" Ungkap Ayah Yunho kesal.

"Abeoji.. Jaejoong tidak seperti itu, Jaejoong namja yang baik. Percayalah padaku." Jelas Yunho mencoba meyakinkan Ayahnya.

"Apa kau menyukainya? Kau mencintainya?" Tanya Ayah Yunho penuh penekanan.

"..." Yunho menunduk diam dan tidak berani menjawabnya. Jujur saja Yunho ingin menjawab "iya". Yunho memang mencintai Jaejoong tapi Yunho takut Ayahnya tidak dapat menerimanya.

"Perlu kau tahu. Aku membencinya! Sangat membencinya! Sampai kapan pun aku tidak akan merustui kalian!" Tegas Ayah Yunho. Yunho langsung kembali menoleh ke arah Ayahnya. Ternyata benar dugaan Yunho.

"A-Abeoji.."

"Seharusnya kau berpikir saat ini hanya aku satu-satunya keluarga yang kau miliki. Aku orang tuamu, aku Ayahmu." Imbuh Ayah Yunho kembali menegaskan. Yunho sakit melihat Ayahnya yang seperti ini, tapi di sisi lain Yunho juga sakit akan penolakan Ayahnya tentang perasaannya pada Jaejoong.

"Ye Abeoji."

"Gajima Yunho~ah.. Tetap disini merawatku." Pinta Ayah Yunho sambil membalas genggaman hangat Yunho.

"Ye.. Aku tidak akan pergi." Jawab Yunho mantap. Untuk kali ini saja biarkan Yunho lebih lama bersama dengan Ayahnya, biarkan Yunho merawat Ayahnya. Walaupun kekhawatiran masih menderanya tapi Yunho mencoba yakin dan percaya pada Yoochun yang bisa membantunya menemukan Jaejoong.

"Anakku.. Kenapa kau jadi berubah seperti ini!"

"Abeoji bicara apa? Aku masih Jung Yunho anakmu yang dulu. Tenanglah, aku akan disini merawatmu." Yunho lebih mengeratkan selimut yang membalut tubuh Ayahnya dengan tangan kirinya yang bebas.

Y

U

N

J

A

E

Di dalam ruangan yang redup itu terlihat dua orang namja yang sedang duduk berhadapan. Namja berperawakan tinggi dan tampan itu terus memperhatikan namja cantik di hadapannya yang masih diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Kepala polisi bernama Shim Changmin itu berusaha sabar menunggu si namja cantik membuka suaranya.

Ya, sudah dari 3 jam yang lalu Jaejoong di bawa ke dalam ruangan interogasi untuk memberikan keterangan. Tapi dari awal masuk ke ruangan itu Jaejoong sama sekali belum membuka suaranya. Akhirnya beberapa menit yang lalu Changmin turun tangan menghadapi tingkah laku Jaejoong yang terus diam.

"Kim Jaejoong. Sampai kapan kau akan terus diam seperti ini!"

"..."

"Kau bisa saja bebas. Asalkan kau membuka suaramu memberikan pernyataan yang sebenarnya. Karena Tuan Jung memberikan tuduhan ini padamu tanpa bukti, menurut bawahanku tuan Jung hanya memperlihatkan bukti luka kecil di tangannya seperti cengkraman atau cakaran."

YUNHO POV

Aku masih mengendarai mobilku dengan pikiran yang bercabang entah kemana. Aku terus memikirkannya, setelah mandi tadi aku mendapatkan kabar buruk yang lagi-lagi menimpanya. Seketika semua organ tubuhku seperti tak lagi berfungsi, bukan hanya sulit untuk bernafas, tubuhku juga terasa lemas. Sungguh aku mengkhawatirkannya, aku takut terjadi sesuatu di saat aku tidak bersama dengannya.

'Jaejoong~ah jangan khawatir, aku akan segera menolongmu. Aku akan berusaha membebaskanmu dari tempat laknat itu!' batinku.

.

.

Sesampainya aku di depan pintu utama kantor polisi. Aku lekas berlari masuk ke dalam sambil mengatur nafasku yang tidak stabil, aku sudah tidak peduli lagi akan sekitarku bahkan mobil yang aku gunakan tadi aku parkir sembarangan begitu saja. Biarlah! Aku benar-benar ingin segera bertemu dengan Jaejoong, aku ingin tahu bagaimana kondisinya. Aku sangat mengkhawatirkannya.

Setelah memasuki belokan lorong pertama aku melihat sosok namja berdahi lebar yang aku kenal sedang duduk menunduk seorang diri. Lalu aku mencoba berjalan menghampirinya.

"Yoochun~ah.."

Yoochun langsung mengadahkan kepalanya ke arahku karena panggilanku tadi.

"Jaejoongie eodiya? Aku ingin bertemu dengannya." Ujarku masih dengan kekhawatiran yang luar biasa.

"Hyung. Kenapa kau melakukannya?" Yoochun berdiri dan bertanya padaku. Kali ini tatapannya sangat berbeda dari biasanya, terlihat tidak bersahabat.

"Nde?" Sungguh aku tidak mengerti apa maksud Yoochun yang tiba-tiba bicara seperti itu.

"Kenapa kau biarkan Ayahmu menuntut Jaejoong hyung?" Yoochun bertanya kembali sambil menatapku kesal.

"M-mwo?" Aku kaget mendengarnya. Abeoji? Benarkah?

"..." Yoochun hanya diam menatapku dengan tatapan dinginnya.

"Yoochun~ah.. A-apa yang barusan kau katakan? Ayahku? Ayahku yang menuntut Jaejoong? Jadi maksudmu Jaejoong di tahan karena Ayahku? Begitu, eoh?" Berbagai pertanyaan aku lontarkan pada Yoochun. Rasanya mustahil jika memang benar Abeoji yang melakukannya. Aku tahu Abeoji pernah menunjukan ketidak sukaannya pada Jaejoong tapi aku tidak percaya kalau sampai Abeoji berani melakukannya.

"..." Yoochun masih diam menatapku.

"Ddaddapae?" Ucapku sambil membalas tatapan Yoochun.

"..." Yoochun tetap saja diam. Aku penasaran, aku benar-benar membutuhkan jawaban darinya. Aku masih tidak percaya Abeoji yang melakukannya.

"YA! PARK YOOCHUN! DDADDAPAE!" Emosiku tidak bisa di bendung lagi tanpa sadar aku berteriak sambil menarik dan meremas kasar kerah kemeja hitam Yoochun.

"Ne! Karena Ayahmu!" Imbuh Yoochun datar.

"Mworago?" Seketika remasan (?) tanganku pada kemeja Yoochun tadi melemas dengan sendirinya, tatapanku kosong dan kedua tanganku menjuntai begitu saja.

"Hyung! Sebaiknya kau tanyakan langsung pada pihak kepolisian. Dimana letak kesalahan Jaejoong hyung, kenapa bisa Jaejoong hyung sampai di tahan seperti itu."

"Aku tidak akan tinggal diam! Aku akan berusaha membebaskannya!" Tegasku lalu melangkah pergi meninggalkan Yoochun.

YUNHO POV END

#Flash Back#

Karena panggilan bantuan dari Yunho, sudah dari semalaman namja cassanova berparas playboy (?) itu mencari Jaejoong dan pagi ini namja cassanova yang bernama lengkap Park Yoochun itu mencoba mencari ke rumah Jaejoong. Barang kali Jaejoong sudah kembali ke rumahnya, tapi tetap saja nihil Jaejoong masih tidak ada di rumahnya. Dan sepeninggalan Yoochun dari rumah Jaejoong, samar-samar Yoochun mendengar pembicaraan warga yang sedang merumpi di depan rumah mereka.

Yoochun langsung terduduk lemas karena pernyataan yang di dengar dari salah satu warga yang tinggal dekat dengannya dan Jaejoong. Yoochun terus merutuki dirinya yang merasa telah gagal melindungi hyung tercintanya. Yoochun mendengarnya, walaupun samar Yoochun masih bisa mendengarnya. Baru saja Jaejoong hyung nya di tangkap polisi. Yoochun terlambat, harusnya Yoochun datang lebih cepat dari ini.

Dengan segera Yoochun menghubungi Yunho memberi kabar tentang Jaejoong lalu setelah itu Yoochun langsung melesat pergi dengan mengendarai mobilnya, buru-buru Yoochun menancap pedal gasnya dengan tujuan kantor polisi dari informasi yang tadi di dengarnya.

.

.

"Hyung gwaenchana?" Tanya Yoochun sedih sambil menatap lurus ke depan kaca pembatas yang menghalangi pembicaraan antara Yoochun dan Jaejoong. Ya karena Jaejoong sedang di tahan di kantor polisi, maka hanya dengan cara ini saja Yoochun dapat bertemu dengan Jaejoong.

"Gwaenchana." Jawab Jaejoong dengan senyuman yang di paksakan.

"Mianhae." Ungkap Yoochun masih tetap menatap lurus ke arah kaca pembatas yang menampakan sosok indah hyung nya.

"Ani Yoochun~ah. Ini bukan salahmu."

"Jika Abeoji, Eommoni dan Yoohwan tahu hyung ada di sini mereka pasti akan sedih dan sangat marah padaku. Mianhae hyung aku telah gagal melindungimu." Yoochun benar-benar merasa bersalah pada Jaejoong. Yoochun sungguh merasa tidak berguna karena membiarkan Jaejoong bisa ada di tempat seperti ini.

"Kau terlalu berlebihan! Jangan khawatir, nan gwaenchana." Sergah Jaejoong menjelaskan.

"Tempat ini tidak layak untukmu! Aku berjanji akan berusaha membebaskanmu hyung!" Tegas Yoochun.

"Ne gomawo.." Ucap Jaejoong tersenyum.

"Kenapa bisa tuan Jung Ayah dari Yunho hyung yang melakukannya! Apa Yunho hyung juga sengaja merencanakan semua ini! Berpura-pura mengkhawatirkanmu tapi nyatanya sampai sekarang Yunho hyung belum menemuimu." Oceh Yoochun tidak terima.

"..." Jaejoong hanya diam tanpa meladeni ocehan Yoochun. Tatapan Jaejoong pun terlihat kosong.

"Aku baru mendengarnya dari pihak kepolisian bahwa hyung di tahan karena tuntutan yang di berikan tuan Jung!" Ungkap Yoochun kesal.

"..." Jaejoong masih saja diam. Jaejoong juga tidak mengerti kenapa bisa tuan Jung melakukannya. Jaejoong tahu sepertinya tuan Jung memang membencinya tapi bagaimana dengan Yunho? Apa Yunho ikut merencanakannya? Karena sedari tadi Jaejoong belum melihat sosok tampan itu menemuinya.

"Hyung, apa tuan Jung menuduhmu?" Tanya Yoochun sedikit mendekatkan tubuhnya ke arah kaca pembatas.

"..." Jaejoong tidak menjawabnya melainkan hanya menatap Yoochun dalam diam.

"Aku yakin kau tidak melakukan apapun! Aku percaya padamu hyung!"

"Yoochun~ah. Bisakah kau membantuku?"

"Nde?" Yoochun agak tersentak dengan perkataan Jaejoong barusan. Yoochun tidak mengerti apa maksud membantu hyung cantiknya itu.

"Aku tahu bagaimana caranya agar aku bebas. Sebelumnya, aku melihat suatu keganjalan dari tuan Jung. Aku melihatnya Yoochun~ah."

"Mwondae?"

"Coba kau cari tahu tentang tuan Jung. Entah benar atau tidak, aku belum yakin. Sepertinya bandar narkoba terbesar yang sedang menjadi buronan selama ini adalah... Tuan Jung." Jelas Jaejoong. Tidak seperti sebelumnya, kali ini suara Jaejoong lebih terdengar seperti bisikan.

"Mwo?" Kaget Yoochun tidak percaya. Tentu saja, Yoochun tidak mengerti jalan pikiran Jaejoong saat ini. Tapi pastinya Yoochun akan membantu membebaskan Jaejoong dari tempat ini. Yoochun akan melakukan apapun agar hyung nya bisa bebas!

"Aku belum yakin. Maka dari itu aku meminta bantuanmu untuk mencari tahu tentang tuan Jung. Jika sudah mendapatkan bukti yang akurat mungkin kau bisa memberikannya pada pihak polisi." Jelas Jaejoong lagi, suaranya pun masih terdengar seperti bisikan.

"Ah ne hyung. Baiklah, aku akan mencobanya."

#Flash Back End#

JAEJOONG POV

Setelah dari ruangan interogasi tadi, aku di antar masuk kembali ke ruang tahanan (penjara) ini. Sekarang aku sedang duduk sambil memeluk kedua lututku menyendiri di pojokkan, karena aku takut untuk berbaur dengan yang lainnya. Di dalam ruang tahanan sementara ini hanya terisi lima orang, aku dan juga keempat orang yang tidak aku kenal. Dari pertama aku menginjakan kaki di tempat ini mereka berempat terus saja menatapku dengan tatapan menyeramkan.

Polisi yang membawaku tadi mengatakan, ini hanya ruang tahanan sementara saja. Jika aku benar-benar di nyatakan bersalah aku akan di pindahkan ke ruang tahanan lain yang terletak di pelosok kota terpencil. Jujur aku tidak tahan terus berada di sini, apa lagi di saat hari pemindahanku nanti.

Aku ingin bebas. Tapi entah bagaimana caranya aku tidak tahu. Sulit sekali membuka suaraku untuk memberikan pernyataan yang sebenarnya agar aku bisa bebas. Di dalam pikiranku hanya ada rasa takut akan tuan Jung. Bukankah aku juga bersalah karena telah melukai tuan Jung, tapi tuan Jung pun lebih bersalah atas tindakannya selama ini. Aku hanya berharap Yoochun bisa membantuku.

Kenapa dengan kejamnya tuan Jung menuduhku! Dan kenapa sampai sekarang Yunho belum juga menemuiku!

"Saudara Kim Jaejoong. Ada tamu untuk anda." Karena panggilan polisi tadi, aku tersadar dari lamunanku dan langsung menolehkan kepalaku. Aku melihat polisi itu sedang sibuk membuka gembok pintu. Dengan perlahan aku mencoba beranjak berdiri, setelah pintu baja itu terbuka lalu aku segera keluar menemui seseorang yang katanya tamu untukku.

Aku berjalan sambil di tuntun seorang polisi dengan keadaan tanganku yang di borgol. Tiba-tiba aku berpikir siapa lagi tamuku? Yoochun? Apa Yoochun sudah menemukan bukti dan ingin memberitahukannya padaku? Tapi kenapa cepat sekali sudah kembali?

Dan sampainya aku di ruang besuk, aku di kagetkan sesosok namja tampan yang sedang duduk sambil memperlihatkan seyuman gigi putihnya (?) ke arahku. Akhirnya aku ikut duduk berhadapan dengan namja tampan pemilik mata musang itu, polisi yang tadi menuntunku pun melangkah pergi dari ruang besuk. Walaupun ada kaca pembatas yang menghalangi kami tapi dengan jelas aku bisa melihat raut wajah letihnya. 'Apa kau benar-benar mencariku? Apa kau sedang mengkhawatirkanku?' batinku ragu.

"Jaejoongie." Yunho memanggilku masih dengan senyumannya yang merekah.

"..." Tapi aku tidak menyautinya, aku hanya diam menatapnya.

"Gwaenchana?"

Aku hanya menganggukan kepalaku sebagai jawaban.

"Mianhae.." Seketika raut wajah Yunho berubah sedih lalu Yunho menghela nafas panjangnya. "Aaa.. Apa kau sudah makan?" Aku tahu Yunho memaksakan senyumannya padaku. Sungguh aku tidak mengerti apa yang sedang Yunho pikirkan saat ini. Aku melihat Yunho begitu menyedihkan. Penampilan yang terlihat kusam, rambut yang sedikit berantakan, wajah yang kelelahan seperti kurang tidur.

"Ne aku sudah makan."

"Mianhae Jaejoongie. Karena kebodohanku, aku sampai terlambat mengetahui kabar ini." Ujar Yunho menyalahkan dirinya sendiri. Aku menatap lekat Yunho, aku sadar Yunho sedang mencoba menahan air matanya yang sedah menggenang di pelupuk matanya. Apa Yunho akan menangis?

"Ani Yunho~ah." Ucapku sambil menggelengkan kepalaku. Ini pertama kalinya aku melihat Yunho begitu rapuh.

"Kau tahu betapa khawatirnya aku setelah kau hilang di rumah sakit! Aku terus mencarimu tapi aku tidak menemukanmu di mana pun. Aku sungguh takut terjadi sesuatu padamu."

"..." Ternyata dugaanku sebelumnya salah. Yunho memang benar-benar mencariku. Lagi-lagi aku membuat Yunho mengkhawatirkanku.

"Tidak seharusnya kau ada di tempat ini! Aku akan bicara pada Ayahku agar mencabut tuntutannya padamu!"

"Aku akan bebas!" Sanggahku dengan penuh percaya diri.

"Nde?"

"Mianhae Yunho~ah. Karena waktu itu aku sempat kabur selagi di rumah sakit. Jal meotthaeso." Ucapku dengan suara agak serak.

Yunho menggelengkan kepalanya tanda berkata tidak. "Jaejoongie berjanji lah untuk tidak pernah meninggalkanku lagi eoh!" Ujar Yunho memohon padaku.

"..." Aku tidak bisa benjanji padamu Yunho~ah. Ayahmu memang serius mengancamku dengan perkataannya. Karena ini sudah membuktikannya. Aku takut! Aku takut akan kehilanganmu Yunho~ah!

"Aku berjanji akan segera membebaskanmu!" Tegas Yunho.

"Mungkin kah ini peringatan dari Ayahmu." Tanpa sadar dengan beraninya aku berbicara seperti ini pada Yunho. Bukankah sama saja aku sedang berpikiran buruk tentang Ayah Yunho.

"Nde?" Jelas Yunho terkejut dengan perkataanku barusan.

"Bukankah Ayahmu seperti tidak menyukaiku. Mungkin dengan cara ini beliau ingin menjauhkan kita."

"Jaejoongie.. A-apa se-sekarang kau sedang berpikir buruk tentang Ayahku?"

"Yunho~ah. Aku sudah menemukannya. Orang yang telah membunuh Ibumu!" Tanpa menjawabnya, dengan cepat aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Mwo?"

"Periksa lah setiap ruangan yang ada di rumahmu. Kau akan menemukan sebuah botol hitam kecil yang ada di dalam berangkas."

"..." Yunho hanya terdiam sambil menatapku bingung.

"Jangan mengatakan apa pun pada Ayahmu! Karena aku yakin aku akan bebas tanpa bantuanmu!" Seusai berbicara aku pun langsung melangkah pergi meninggalkan Yunho begitu saja.

"Jae-Jaejoongie.. Jaejoongie... Jaejoong~ah..." Yunho terus memanggilku, tapi aku tidak menggubrisnya sama sekali dan tetap berjalan meninggalkannya.

JAEJOONG POV END

Namja tampan berdahi lebar itu sedang menunggu seseorang yang akan ikut serta membantunya dalam mencari alamat yang telah berhasil di dapatkannya dari orang suruhannya kemarin. Namja berdahi lebar yang lebih tepatnya bernama Yoochun itu sedang menunggu sambil memperhatikan sekelilingnya. Yoochun mencoba tenang dan berpura-pura seolah dirinya memang bagian dari kelompok mereka. Mereka? Ya, Yoochun sedang menyamar menjadi pemodal sekaligus menyelidiki markas mereka. Orang yang sedang Yoochun tunggu itu adalah orang yang akan membantunya memperkenalkan Yoochun pada atasan atau boss mereka.

Beberapa hari yang lalu sepulang dari kantor polisi membesuk Jaejoong. Yoochun langsung mencari orang yang bisa membantunya dalam hal menyulitkan ini. Tentu saja menyulitkan. Karena tidak sembarangan orang bisa masuk dan bergabung ke daerah terlarang tersebut. Sebelumnya Yoochun pernah tahu mengenai transaksi narkoba yang sering di lakukan di beberapa negara. Yang lebih di kenal antara Korea dan Thailand, karena pemasukan kedua negara itu sangat tinggi, selebihnya Yoochun kurang paham.

Syukurlah orang suruhan Yoochun kemarin benar-benar membantunya. Orang itu berhasil mencari tahu tentang siapa tuan Jung. Dan yang Jaejoong katakan benar adanya. Tuan Jung memang bandar narkoba yang sedang menjadi buronan polisi selama ini. Tinggal bukti yang harus di dapatkan Yoochun. Agar Yoochun bisa memberikan bukti itu pada pihak kepolisian lalu menyuruh polisi segera menangkap tuan Jung. Orang itu juga yang menyarankan Yoochun untuk melakukan rencana ini. Menyamar dan berpura-pura, sekaligus menyelidiki sambil mencari bukti.

.

.

Karena mengikuti saran Jaejoong sewaktu di kantor polisi, sudah dari beberapa hari yang lalu Yunho terus sibuk memeriksa semua ruangan yang ada di rumah besarnya itu. Hanya satu yang Yunho cari "Botol hitam kecil yang ada di dalam berangkas". Dan dengan bodohnya Yunho baru mengingatnya sekarang, satu-satunya berangkas di rumah ini hanya ada di kamar Ayahnya. Buru-buru Yunho masuk ke kamar Ayahnya. Setelah menemukannya, Yunho mencari cara membuka berangkas itu dengan menghancurkannya, Yunho di kejutkan dengan tersimpannya botol hitam kecil di sana.

"Bagaimana bisa? Botol itu? Untuk apa Abeoji menyimpan botol itu? Dan kenapa yang Jaejoong katakan-" Yunho tidak sanggup melanjutkan pertanyaannya karena keterkejutan yang melandanya.

YUNHO POV

Aku menjabak dan mengacak kasar rambutku sambil terus menangis. Mungkin orang yang melihatku akan beranggapan bahwa keadaanku sedang tidak baik saat ini. Aku sungguh tidak percaya dengan semua ini!

"Benarkah dia yang membunuh Eommoni! Benarkah naeAbeoji yang membunuh Eommoni! Kenapa dengan mudahnya Abeoji membunuh Eommoni begitu saja!" Aku mencoba meluapkan emosiku dengan tangisanku.

Dengan sangat jelas aku melihat tulisan yang ada di botol itu, racun mematikan, racun yang berhasil membunuh Eommoni. Seketika deretan peristiwa menyedihkan itu kembali terngiang di benakku.

"Aku tidak bisa menerimanya! Aku membenci dirinya! Kenapa selama ini aku tidak menyadarinya kalau Abeoji yang telah membunuh Eommoni! Apa alasan Abeoji? Kenapa Abeoji membunuh Eommoni?"

"WAE ABEOJI? WAE? WAEEEE?" Aku berteriak dan semakin menjambak serta mengacak kasar rambutku.

.

.

Dengan pikiran yang masih berantakan (?) karena kejadian tadi, aku berjalan tergopoh-gopoh memasuki kantor polisi. Aku terus berjalan mencari ruangan kepala kepolisian. Aku hanya ingin bicara bertatap muka dengan kepala kepolisian meminta agar Jaejoong bisa segera di bebaskan. Dan setelah aku menemukan ruangannya aku langsung masuk begitu saja tanpa mengetuknya.

"Aku minta kalian bebaskan Jaejoong!" Marahku menatap kedua polisi yang ada di hadapanku.

"..." Kedua polisi itu hanya diam membalas tatapanku tampak bingung. Sepertinya kedua polisi itu belum mencerna dengan baik perkataanku.

"Jaejoong tidak bersalah! Tuan Jung lah yang bersalah!" Aku masih terus berbicara dengan kesalnya tanpa mempedulikan kedua polisi yang menatapku semakin bingung.

"Apa maksudmu?" Salah satu polisi itu bertanya tidak mengerti.

"Kalian hanya salah menangkap orang. Aku mohon bebaskan Jaejoong."

Polisi yang tadi bertanya padaku terus memperhatikanku. "Kau kelihatan tidak baik. Sebaiknya kau pulang saja istirahat." Usir polisi itu sambil mengarahkan tangannya ke pintu agar aku cepat keluar.

"Aku mohon bebaskan Jaejoong!" Ucapku masih tetap berdiri menatap kedua polisi itu.

"YA! Apa kau tidak sadar sedang berada dimana eoh?" Polisi itu membentakku sambil menatapku marah. Akhirnya kesabaran polisi itu sirna karena ulah ketidak sopananku.

"Aku mohon.. Aku mohon bebaskan Kim Jaejoong.."

"Bawa dia keluar!" Ujar polisi itu pada polisi satunya lagi. Polisi yang di perintah tadi pun langsung mencoba menarikku kasar ke luar tapi baru saja polisi itu memegangi lenganku buru-buru aku menepisnya.

"Aku mohon bebaskan Jaejoong! Jaejoong tidak bersalah! Tuduhan itu palsu! Aku berani menjaminnya!" Tegasku sambil berjalan mendekati sang kepala. Ya sepertinya polisi yang berada di hadapanku sekarang adalah kepala kepolisian. Terlihat dari semua pangkat yang bertengger (?) di daerah sekitar seragamnya.

"Ya! Ya! Dari mana kau bisa menjaminnya? Apa kau punya bukti?" Sergah kepala polisi.

"Jaejoong tidak melakukannya! Tuduhan itu palsu! Aku mohon bebaskan Jaejoong!"

"Kami minta bukti darimu! Apa kau punya bukti agar Kim Jaejoong bisa kami bebaskan!" Kepala polisi itu semakin menekanku dengan perkataannya.

"Apa tuan Jung juga memberikan bukti pada kalian atas tuduhannya pada Jaejoong?"

"..." Aku terus menatapnya. Kepala polisi itu hanya diam, lebih tepatnya seperti sedang berpikir apa yang akan di keluarkannya sebagai jawaban.

"Gudae. Tuan Jung juga tidak memberikan bukti."

"Walaupun tuan Jung hanya memperlihatkan luka kecil di tangannya itu bisa menjadikan bukti. Lagi pula kami sudah mencoba menginterogasi Kim Jaejoong tapi jawabannya nihil Jaejoong hanya diam tanpa mau membuka suaranya. Dan itu semua bisa lebih memperjelas bahwa Kim Jaejoong memang bersalah." Sanggah kepala polisi itu menjelaskan. Aku tidak bisa merimanya jika Jaejoong di nyatakan bersalah. Ini hanya kesalah pahaman semata, Jaejoong korban bukan tersangka.

"Jaejoong tidak melakukannya! Semua terjadi karena penyakitnya!" Marahku tidak terima.

"Mwo?"

"..." Aku baru menyadari apa yang barusan aku katakan. Aku telah membongkarnya. Karena emosi yang tak terbendung lagi tanpa sadar aku mengatakannya. Tidak seharusnya aku mengatakannya. Apakah kedua polisi itu akan bertanya lebih lanjut lagi padaku?

"Penyakit?"

Aku hampir saja melupakan tujuanku datang ke kantor polisi. Ya, bukan hanya untuk membebaskan Jaejoong saja tapi aku ingin memberikan bukti pada polisi. "Tuan Jung adalah Ayahku dan Ayahku itu adalah seorang pembunuh. Ayahku yang membunuh Ibuku beberapa tahun yang lalu. Harusnya kalian menangkap pembunuh itu bukan Jaejoong!" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan agar kedua polisi itu tidak lagi bertanya tentang penyakit yang aku maksud tadi.

"Ya! Kami sungguh tidak mengerti maksudmu itu!"

"Igo." Aku meletakkan botol hitam kecil itu di atas meja di dekat kami berdiri sekarang. "Aku menemukannya di berangkas kamar Ayahku, tolong kalian selidiki apa arti dari botol itu. Aku merasa botol itu sengaja di sembunyikan untuk menghilangkan jejak." Ungkapku menjelaskan.

Kepala polisi itu mengambil botol hitam kecil yang aku letakkan di meja tadi lalu memperhatikannya sekilas setelah itu meletakannya kembali.

"Jadi aku mohon bebaskan Jaejoong! Aku berani menjaminnya bahwa Jaejoong tidak bersalah!" Ujarku meyakinkan kedua polisi itu.

"Baiklah! Kami harus memeriksa bukti ini terlebih dahulu, jika memang benar yang kau katakan kemungkinan Kim Jaejoong bisa di bebaskan. Gundae.. Apa maksudmu tadi?"

"..." Aku hanya diam tanpa ada niat menjawabnya. Dan sang kepala polisi terus menatapku curiga.

"Penyakit? Apa maksudmu? Jaejoong melakukannya karena penyakitnya?"

YUNHO POV END

Tampak dua namja sedang duduk berhadapan sambil bertatapan satu sama lain. Kedua namja itu sedang berada di ruang interogasi yang sangat tertutup dan redupnya akan penerangan.

"Yunho~ah. Kenapa kau-" Suara namja cantik itu harus terputus karena ucapan namja tampan di hadapannya.

"Mianhae.." Ucap Yunho sambil menatap lembut Jaejoong. Tersirat rasa bersalah dari mata musang milik Yunho.

"..." Jaejoong hanya diam membalas tatapan Yunho tidak mengerti.

"Jaejoong~ah pegang tanganku." Yunho mencoba mendekatkan tangannya agar menyentuh tangan Jaejoong yang sedang bertumpu di atas meja.

"M-mwo?" Jaejoong di buat semakin tidak mengerti. Ya, Jaejoong tidak mengerti apa yang akan Yunho lakukan padanya.

"Perlihatkan pada mereka jika kau melakukannya karena penyakitmu itu!"

"Yunho~ah.." Seketika Jaejoong menjauhkan tangannya dari tangan Yunho dan menatap tidak percaya akan yang di katakan Yunho barusan.

"Hanya cara ini yang bisa membebaskanmu Jaejoong~ah. Ini akan membuktikan bahwa kau tidak bersalah." Jelas Yunho mencoba lebih mendekatkan tubuhnya pada Jaejoong walaupun sebenarnya tidak bisa karena ada meja yang menghalangi di tengah-tengah mereka.

"Kau tidak menepati janjimu!" Ujar Jaejoong dengan tatapan kesalnya.

"Mianhae. Aku terpaksa melakukannya. Aku hanya ingin kau bisa bebas." Imbuh Yunho kembali menjelaskan.

"Tapi tidak dengan cara ini! Bukankah aku sudah mengatakannya aku yakin aku bisa bebas tanpa bantuanmu!" Marah Jaejoong agak berteriak.

Yunho menatap sekilas ke arah kaca besar di samping kanannya, terlihat kepala polisi tampan bernama Shim Changmin dan kedua bawahannya sedang memantau gerak gerik dirinya dan juga Jaejoong yang berada di dalam ruangan ini. "Lakukan saja Jaejoong~ah. Mereka terus memperhatikan kita." Ujar Yunho lembut membujuk Jaejoong.

"Apa yang kau bicarakan? Apa yang harus aku lakukan eoh?" Tanya Jaejoong berpura-pura sambil menatap sinis Yunho.

"Jaejoong~ah!"

"Aku tidak mengerti maksudmu!" Jaejoong masih berpura-pura tidak tahu akan maksud Yunho padanya.

"Kim Jaejoong!" Yunho agak berteriak melafalkan nama namja cantik yang ada di hadapannya itu.

"Mwo?" Jaejoong menatap Yunho sengit dan semakin kesal.

"Kau harus melakukannya! Mereka mengatakan padaku akan membebaskanmu jika memang benar kau melakukannya karena penyakitmu. Tuduhan itu akan di anggap palsu." Yunho mencoba membujuk Jaejoong untuk kesekian kalinya. Yunho hanya ingin Jaejoong cepat melakukannya bukan malah berpura-pura berbohong.

"..." Jaejoong diam masih menatap Yunho dengan amarahnya.

"Pegang tanganku!" Yunho agak menggeser tangannya yang ada di atas meja mencoba lebih mendekatkannya ke arah Jaejoong.

"..." Jaejoong masih saja diam tanpa melepaskan tatapannya dari Yunho.

"Pegang tanganku. Jebal!" Ujar Yunho dengan tatapan sedihnya.

"Sudahlah Yunho~ah tidak ada gunanya kita terus berada di sini." Ucap Jaejoong sambil berpaling menoleh ke arah kaca besar di sebelah kirinya.

"Ya! Kim Jaejoong!" Teriak Yunho mencoba menyadarkan kepura-puraan namja cantiknya itu.

Sontak Jaejoong menoleh lagi menatap Yunho. "Gudae! Aku yang melakukannya! Yang Ayahmu katakan memang benar!" Sergah Jaejoong emosi.

"Jaejoong~ah.."

"Lebih baik aku mati di penjara dari pada harus di bebaskan oleh pengkhinat seperti dirimu!" Marah Jaejoong.

"Jae—" Ucap Yunho terputus.

"Aku membencimu Jung Yunho! Kau sama saja seperti mereka!" Jaejoong hanya ingin meluapkan segala amarahnya pada sosok namja tampan di hadapannya itu. Dan tanpa sadar Jaejoong berbicara semena-mena tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya.

"A-ani Jaejoong~ah.."

"Kau mau aku melakukan ini! Memegang tanganmu! Baiklah!" Dengan segera Jaejoong memegang tangan Yunho yang ada di dekatnya dan Jaejoong pun mulai merasakan apa yang ada dalam pikiran Yunho.

-Seorang namja pemilik mata musang itu masih berdiri sambil menangisi peti mati yang berada tepat di hadapannya. Dan...-

"JAEJOONG~AH.. JAEJOONG~AH.. JAEJOONG~AH..." Yunho terus berteriak dan memegangi tangan Jaejoong agar mau melepaskannya. Entah sejak kapan Yunho sudah beranjak dari duduknya lalu mengambil posisi berlutut di samping Jaejoong. Sungguh Yunho merasa iba melihat Jaejoong nya yang harus kesakitan lagi seperti itu.

"..." Jaejoong terus mengguncangkan badannya dan semakin gemetaran.

"YA! KIM JAEJOONG! Jaejoong~ah. Katakan yang sebenarnya!" Yunho masih mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Jaejoong sambil membujuk Jaejoong agar mau mengatakannya tapi sepertinya itu tidak mungkin Jaejoong lakukan di saat kondisi seperti ini.

"..." Tubuh Jaejoong semakin berguncang hebat bahkan Jaejoong terjatuh dari duduknya. Dan seperti biasanya tiba-tiba banyak darah yang keluar dari hidung Jaejoong.

Ketiga polisi yang memantau dari luar kaca besar itu pun ikut panik dan segera masuk ke dalam ruangan interogasi.

"YA! Apa yang kau lakukan?" Tanya Changmin panik sambil membantu Yunho dan bawahannya mencoba melepaskan cengkraman tangan Jaejoong agar terlepas.

"Jaejoong~ah gumanhae.. Jebal gumanhae... Katakan yang sebenarnya.. Jebal.." Ujar Yunho mengambil alih tubuh Jaejoong lalu membawa Jaejoong ke dalam dekapan hangatnya.

JAEJOONG POV

Setelah kejadian beberapa jam yang lalu di ruangan interogasi tadi, polisi menyatakan bahwa aku memang bersalah karena ucapanku tadi menunjukan bukti aku lah tersangkanya. Akhirnya pihak polisi bermaksud memindahkanku ke ruang tahanan (penjara) yang berada di pelosok kota terpencil. Aku terus berjalan sambil di tuntun kedua polisi yang ada di kanan dan kiri memegangi lenganku. Mereka terus membawaku sampai masuk ke dalam mobil.

Di dalam mobil lagi-lagi aku hanya diam. Sebenarnya sedari tadi aku terus memikirkan bagaimana keadaan Yunho setelah di usir dari kantor polisi. Jujur perasaanku bercampur aduk sekarang antara benci, kesal, marah dan juga mengkhawatirkannya. Aku tahu maksud Yunho baik ingin membantu membebaskanku tapi aku merasa sakit karena pengkhianatannya. Bukankah Yunho sudah berjanji tidak akan memberi tahukannya pada siapa pun tentang penyakitku. Yunho tidak menepati janjinya dan itu yang membuatku membencinya.

JAEJOONG POV END

Namja berparas manly (?) itu terus mengencangkan lajuaannya mencoba membanting setir mobilnya ke arah belokan di sudut jalan menunggu mobil polisi yang sedari tadi di ikutinya lewat, setelah mobil polisi itu terlihat melewati arah belokan di sudut jalan namja itu berusaha menabrak mobil polisi itu. Dan pada akhirnya mobilnya berhasil menabrak keras sisi kanan mobil polisi itu. Sepertinya ada yang sedang di rencanakannya saat ini. Benar saja. Namja itu langsung keluar dari mobilnya sambil memegangi pelipisnya yang sakit dan sedikit mengeluarkan darah akibat benturan sesaat yang di rasakannya tadi lalu menghampiri mobil polisi yang agak bergeser dari posisi jalan karena tabrakannya tadi yang cukup keras.

Tampaknya bukan hanya daerah luar mobil saja yang hancur, mungkin orang-orang yang ada di dalam mobil polisi itu juga hancur maksudnya terluka. Karena terlihat seperti tidak ada kehidupan di dalam mobil polisi itu. Mungkin saja mereka yang ada di dalam mobil pingsan karena tabrakan yang di lakukan namja itu. Dan dengan sangat kebetulannya, jalanan ini sepi dari keramaian pengendara yang lainnya. Tuhan memang benar-benar sedang berpihak pada Jung Yunho.

"Jaejoong~ah.." Yunho mencoba membuka pintu mobil polisi di depannya.

"..." Jaejoong keluar sambil mengarahkan pistolnya ke Yunho. Sepertinya Jaejoong bermaksud membunuh Yunho atau hanya mengancam Yunho saja?

"Jaejoong~ah.. Apa yang kau lakukan!" Teriak Yunho sambil melangkah mundur menjauhi sosok cantik di hadapanya itu.

"Pergi lah! Pengkhianat!" Jaejoong menghentikan langkahnya dan masih menatap kesal ke arah Yunho.

"Jaejoong~ah.." Ucap Yunho berusaha melangkah mendekati Jaejoong.

"Jangan mendekat! Aku bisa saja membunuhmu Jung Yunho!" Marah Jaejoong dengan air mata yang mulai tumpah membasahi pipi putihnya. Jaejoong pun masih mengarahkan pistolnya ke Yunho.

"Ani! Aku percaya padamu Jaejoongie!" Yunho mencoba melangkah (lagi) berusaha mendekati Jaejoong.

"SUDAH AKU KATAKAN JANGAN MENDEKAT!" Teriak Jaejoong kesal.

DORRRRRRRR...

Jaejoong mencoba mengancam Yunho dengan menembakan pistolnya ke atas.

"..." Yunho hanya bisa diam terkejut dengan apa yang baru saja Jaejoong lakukan. Tiba-tiba terbesit rasa takut akan kenekatan seorang Kim Jaejoong.

"Semua terjadi karena tangan ini! Aku akan memusnahkannya!" Kesal Jaejoong sambil mengarahkan pistolnya tepat di telapak tangannya. Dan bulir air mata terus keluar dari mata bulat indahnya.

Baru saja Jaejoong ingin menekan pelatuknya dengan cepat Yunho menahannya. Akhirnya terjadi tarik menarik pistol antara Yunho dan Jaejoong. Dengan sekuat tenaga Yunho sedang berusaha menjauhkan benda mengerikan itu dari tangan Jaejoong nya.

DORRRRR...

Karena ulah nekat Jaejoong tadi Yunho pun harus mendapatkan luka kecil di bahunya bekas tembakan Jaejoong.

"YA! Apa yang kau lakukan eoh!" Bentak Yunho lalu membuang pistol yang di pegang Jaejoong tadi.

"Untuk apa! Untuk apa kau masih mempedulikanku! Kau pembohong Yunho~ah! Aku membencimu!" Jaejoong pun membentak Yunho sambil memberontak. Mata Jaejoong pun terlihat memerah karena tangisannya.

"Jaejoong~ah-" Ucap Yunho terputus karena teriakan Jaejoong.

"LEPASKAN AKU! LEPASKAN AKU!" Teriak Jaejoong masih memberontak.

"Jaejoong~ah. Dengarkan ak—" Perkataan Yunho lagi-lagi harus terputus. Yunho masih setia menekan dengan lembut kedua bahu Jaejoong.

"LEPASKAN!"

"YA! KIM JAEJOONG! Dengarkan aku. Berikan aku kesempatan kedua. Jebal.." Kata Yunho sambil menatap Jaejoong seolah memberi ketenangan dari kontak matanya.

"..." Jaejoong berhenti memberontak dan membalas tatapan Yunho.

"Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku mohon berikan aku kesempatan kedua. Jebal.. Jebal Jaejoong~ah..." Yunho menatap sedih Jaejoong, memohon agar Jaejoong mau memberikan kesempatan kedua untuknya. Tapi Jaejoong hanya diam dan menangis menatap Yunho.

.

.

"Gwaenchana?" Tanya Jaejoong menoleh ke arah Yunho yang sedang menyetir di sampingnya.

"Gwaenchana.." Jawab Yunho tersenyum lembut sambil mengeratkan potongan pakaian yang tadi di robeknya untuk membalut luka tembakannya, mencegah agar darahnya tidak terus keluar.

"Jeongmal mianhae Yunho~ah." Imbuh Jaejoong menyesal.

"Aku tahu kau tidak sengaja melakukannya." Ucap Yunho masih dengan senyumannya.

"Mianhae."

"..." Yunho mencoba tidak mendengarkan penyesalan Jaejoong melainkan menyibukan diri menatap lurus ke arah jalan.

"E-eotte?"

"Sebaiknya kita harus bersembunyi dulu untuk sementara. Aku akan mencari tempat tinggal sementara untuk kita sampai masalah ini selesai." Jelas Yunho menoleh sekilas ke arah Jaejoong.

"Yunho~ah-" Ucap Jaejoong terputus.

"Gajima.. Aku akan melindungimu! Aku tidak akan mengecewakanmu lagi untuk yang kedua kalinya!" Ungkap Yunho penuh penekanan.

.

.

Siang sudah berganti malam. Sekarang Jaejoong sedang menunggu Yunho di luar supermarket kecil yang ada di sebuah gang sambil berdiri di samping mobil yang di naiki dirinya dan Yunho tadi. Baru saja Yunho masuk ke supermarket bermaksud membeli air mineral dan cemilan untuk menu makan malam hari ini. Karena Yunho maupun Jaejoong tidak membawa uang sama sekali akhirnaya dengan terpaksa mereka harus mau makan seadanya. Yunho hanya memiliki uang yang tersisa di saku celananya saja, syukurlah handphonenya selalu ada di saku jaketnya. Beberapa jam yang lalu Yunho sudah mencoba menghubungi Yoochun dan janjian bertemu di dekat sini.

Jaejoong menoleh ke arah pintu supermarket kecil itu, melihat bayangan Yunho yang sedang mengambili barang yang akan di bayar ke kasir. Dan selagi sibuk memperhatikan Yunho tiba-tiba Jaejoong merasa pusing akan aroma menyengat yang di rasakannya dari indera penciumannya. Ada seseorang yang berusaha membekapnya dengan sapu tangan, Jaejoong pun berusaha memberontak tapi akhirnya Jaejoong tidak kuat menahan aroma dari sapu tangan yang membekapnya itu lalu Jaejoong pun jatuh pingsan.

T B C

Eotte?

Akhirnya selesai juga chapter ini! Masih punya utang 1 chapter lagi yaa. Haha

Maap kalau ada kesalahan di chap ini, saya langsung publish tanpa di edit lagi...

Jujur, dari semua chapter, chapter ini yang paling susah.

Maap updatenya kelamaan. Saya juga butuh liburan. Dan pas liburan gak bawa2 lappie :)

Ini aja di sempetin banget ngelanjutin demi readerdeul.

Uda di penghujung euyy. Chapter depan end.

Oiya ada Changmin di chap ini. Chap depan kyanya bakal ada junsu tapi gak janji, kalo dapet peran si junsu saya masukin (?)

Tapi maap ya klo changmin ama junsu cuma sekilas aja pan yang penting ada wkwkwk

Untuk ff yang satunya lagi "Kim Jaejoong & Kim Youngwoong" lanjutannya saya usahakan publish besok dah..

Bocoran dikit buat chapter depan.

Jaejoong sama Yunho bakal terluka parah kena tusukan atau tembakan. Kira-kira saya bikin selamet apa salah satu dari mereka mati?

Makasih untuk semuanyaaaa. Tolong ripiunyaaa yaaa :)

Sangkyuuuu ^^