Sebuah mobil hitam mewah meluncur mulus membelah jalanan malam hari St. Maria. Sang pengemudi yang tidak lain adalah seorang pemuda berambut sehitam jelaga mendengus tidak suka saat memori kejadian tadi siang berkelebat di dalam otaknya.
Sungguh, ia Rivaille― putra tunggal Dot Pixis bukan tipe orang yang bertindak tanpa pikir panjang. Namun apa yang terjadi tadi siang benar-benar membuatnya pening. Dengan pikiran campur aduk, Rivaille menginjak pedal gasnya sehingga ia bisa sampai di rumahnya lebih cepat.
Ia membuka pintu mobilnya dengan cepat dan membantingnya dengan kesal, sebelum melangkahkan kakinya masuk ke bangunan berarsitektur Eropa megah di depannya. Baru saja ia membuka daun pintu mahoni rumahnya, sebuah suara kembali menyapa indra pendengaran sang raven― sebuah suara yang paling ia tidak ingin ia dengar sekarang.
"Sudah puas 'berkencan' dengan kekasihmu, Rivaille?", sebuah suara baritone yang khas dan penuh wibawa. Namun hanya ditanggapi dengan datar oleh Rivaille.
"Lumayanlah..", jawab Rivaille enteng.
"Hmm.. begitu ya? Seharian ini ayah sudah berfikir Rivaille, ternyata hubungan kita sebagai ayah dan anak kurang begitu akrab.", ujar Pixis sembari menuruni anak tangga. Langkah kaki pria berusia senja itu elegan namun mantab, seperti langkah singa yang memantau buruannya.
"Sampai-sampai aku tidak menyadari preferensi-mu yang cukup menarik.."
Pixis sengaja mengulur kalimatnya, mencoba memantau perubahan emosi di wajah putra semata wayangnya, yang sayangnya tidak menunjukkan perubahan berarti. Pria itupun kembali melanjutkan kalimatnya.
"Karena itu aku ingin mengenal pemuda yang kau pilih― Eren Jaeger kalau tidak salah, dalam sebuah jamuan makan malam. Tentu saja kalian bisa bercerita lebih banyak tentang kalian."
Pria yang lebih tua itupun mengulum senyum yang sekilas nampak ramah, namun Rivaille lebih tahu daripada itu. Ayahnya merencanakan sesuatu.
"Tentu saja, aku akan dengan senang hati mengajak Eren."
Rivaille balik menyeringai, tidak ingin kalah gertak. Pixis menganggukkan kepalanya sembari tersenyum simpul.
"Bagus, kalau begitu kau bisa membawanya besok."
Rivaille mebulatkan matanya sedikit.
Besok?! Yang benar saja.. dalam waktu sesingkat itu..
Namun bukan Rivaille namanya apabila ia tidak bisa mengendalikan emosinya, ia hanya mengangguk kecil meskipun dalam hati sebenarnya ia cukup panik.
"Baiklah, ayah."
.
.
Falling for a Pretend
.
Presented by: Winter Cocoa
Pairing: Rivaille/Levi x Eren Jaeger
Genre: Romance & Drama
Disclaimer: I don't own Shingeki no Kyojin, and not gaining any profit from this Fanfiction. All the similarities are purely coincides.
Warnings: BoyxBoy, eventually RiEre.
Anyway please enjoy!
Special Thanks:
huangangelin, kuronekos, yuu, UzumakiKagari, Shigure Haruki, Azure'czar, Persephone, sonoyuki rizuki, Fujoshi Ren, Ayuni Yukinojo, Yami-chan Kagami. Frozen Ice Cream, Nai-sama, Rye Yureka, Kim Arlein
and all the silent readers and the one that add this story into their favourite/follow list. I love you all!
.
Chapter 2: Action Speak Louder Than Words
.
.
Pagi yang indah di Shigashina dimana sang surya telah tebangun dari peraduannya, memberikan cahaya hangat kepada makhluk hidup. Memberikan semangat baru bagi setiap insan, terkecuali seorang pemuda berambut coklat bernama Eren Jaeger yang masih termenung sambil menatap gelas susu di genggamannya. Omlete rice didepannya ia biarkan hingga mendingin dan hanya tersentuh sedikit.
"Eren, kau baik-baik saja?", Tanya MIkasa cemas setelah melihat Eren hampir setengah jam hanya duduk dan memandangi gelas berisi susu di depannya.
"Hmmm…"
Dan hanya dibalas sebuah gumaman tidak jelas dari Eren yang hanya terisi separuh jiwa. Mikasa semakin bingung dengan reaksi Eren yang tidak biasa, namun memutuskan untuk diam karena tampaknya Eren belum ingin membicarakan masalahnya dengan Mikasa.
"Selesaikan dulu sarapanmu, Eren."
.
.
Eren melangkahkan kakinya ragu di sepanjang koridor universitas. Jangan sebut ia pengecut dulu kawan― aku yakin banyak orang akan melakukan hal yang sama dengan yang Eren lakukan saat ini. Bagaimana tidak? Sepanjang ia berjalan, berpasang-pasang mata mengawasi perkerakannya seakan-akan ia adalah seekor rusa diantara para hyena.
'Mereka nggak pernah lihat orang gay apa?'
Bukan seperti Eren mengakui dirinya 'menyimpang' dari jalan yang benar sih, karena dia memang tidak― tapi tetap saja. Pandangan mereka itu seperti melihat Eren tumbuh kepala kedua.
Mein Gott.
Rupanya pertunjukkan 'kecil' Rivaille kemarin member dampak sampai sebesar ini. Eren sangat bersyukur karena Mikasa Ackerman―salah satu sahabat karibnya sejak kecil, menimba ilmu di univeritas yang berbeda dengan dirinya. Eren mulai merinding membayangkan seandainya Mikasa ikut menyaksikan 'drama kecil' kemarin.
Hancur sudah impiannya untuk punya istri cantik dan kedua anak yang mewarisi paras dirinya dan istrinya. Bayangan itu terganti dengan sosok Rivaille mini yang memanggilnya 'ayah' di mimpinya kemarin. Astaga, mimpinya semalam horror sekali.
Oke, tampaknya ia mulai kehilangan kewarasan.
Ingin rasanya ia menggali lubang dan mengubur dirinya sekarang juga. Perjalanan panjang― yang sebenarnya hanya lima menit berjalan kaki menuju ruang kelas itupun berakhir.
Namun sepertinya nasib masih belum puas bercanda dengan sang Jaeger muda.
"Wah, itu dia sang damsel in distress kita datang!"
"Bagaimana pengalamanmu dengan senior Rivaille kemarin Eren?"
"Eren, aku minta foto-fotomu berdua saja bersama senior Rivaille ya?"
Eren hanya bisa kicep ditempat.
Ia membuka dan menutup kembali mulutnya macam ikan koi yang baru diangkat dari habitatnya saat ia melihat reaksi autis teman-temannya.
"Apa maksud kalian damsel in distress?!", geram Eren kesal sambil mencak-mencak di depan pintu kelas. Yang tentu saja membuat beberapa siswa dari jurusan lain menoleh kearahnya dengan tatapan heran. Sudah, Eren sudah tidak peduli lagi.
"Habis kemarin kau seperti tokoh utama wanita di sinetron sih!", Jean Kirschtein― rival sekaligus teman sekelas Eren tergelak sambil memegangi perutnya. Wajah Eren memanas seketika.
"Tunggu, aku ini bukan―"
Kata-kata Eren terputus saat ia melihat Connie yang menatap dirinya dari atas ke bawah dengan tatapan intens. Eren menelan ludahnya ketika makhluk minim rambut di kepala itu berjalan mendekat kearahnya. Connie meletakkan tanggannya di bawah dagu, pose klasik seseorang yang sedang berpikir dan mulai berjalan mengitari dirinya, seakan mencari sesuatu.
"Connie, kau sedang ap―"
"Kok tidak ada ya?", Connie mendekatkan wajahnya ke leher Eren, kemudian menarik pergelangan tangan Eren dan mengamatinya. Ia membolak-balik telapak tangan dan pergelangan tangan Eren.
"Apanya?"
"Kiss mark.", jawab sang Springer muda seakan hal itu adalah sebuah hal paling jelas di dunia. Wajah Eren memerah seketika ketika otak polosnya memproses apa yang dikatakan Connie.
"APA MAKSUDMU?!", Eren tanpa sadar berteriak dan menunjuk Connie tepat di wajah.
Yang ditunjuk hanya tersenyum miring.
"Eh, itu sudah jelas kan? Kemarin tiba-tiba senior Rivaille menarikmu entah ke mana setelah mempertunjukkan adegan ciuman mesra seperti itu, kelanjutannya sudah pasti 'ini' kan?"
Connie menunjukkan beberapa gestur dengan jarinya dan menaikkan alisnya dengan sugestif sambil menyeringai. Sungguh sebuah jawaban kampret dari orang yang sama kampretnya.
Eren tidak pernah seingin ini menggantung dan menjadikan kepala Connie menjadi sebuah hiasan di kamarnya. Dan sebagai balasannya, sebuah kepalan tinju mendarat di kepala licin itu―courtesy of Eren Jaeger.
"Hahahaha.. Jangan bilang kau yang ada di 'atas' Jaeger? Habis secara penampilan kau sangat tidak meyakinkan.", cibir Jean.
Entah mengapa Eren merasa sangat tersinggung sekaligus frustasi. Wajah Eren sudah memerah dan mulai berasap, seseorang tolong dia sekarang.
"Hei, aku ini bukan seorang ga―"
"Sudahlah teman-teman, jangan ganggu Eren!"
Sebuah suara manis nan merdu terdengar bagaikan bisikan seorang malaikat di telinga sang Jaeger muda. Ia menolehkan kepala dan mendapati sosok Armin Arlert― sahabat baiknya.
"Armin.."
Eren hendak menitikkan air mata haru. Ternyata Tuhan masih kasihan dengannya. Sungguh sahabatnya ini adalah seorang malai―
"Tolong jangan mengejek preferensi sexual Eren!"
Eh?
Dan harapan itupun sirna seketika.
Oh ha ha ha.. Cukup sudah.
Namun seakan tidak menangkap jeritan hati Eren, Armin menggenggam kedua tangan Eren. Kedua mata sewarna batu safir itu berkilat penuh determinasi dan kepercayaan penuh.
"Eren, aku menghargai dirimu sebagaimana adanya, dan tidak akan memandangmu berbeda dari sebelumnya. Karena itu, jangan ragu untuk menjalani hubunganmu dengan senior Rivaille.", ujarnya mantab.
Saat ini Eren tidak yakin lagi, apakah sahabatnya ini bersikap terlalu suportif ataukah sebenarnya pemuda bersurai keemasan di depannya ini berpotensi sebagai seorang calon fudanshi.
.
.
Setelah lelah berhadapan dengan makhluk-makluk kurang jelas― aka. teman-teman sekelasnya dan tugas membuat publikasi bertema 'ancient history' di kertas A3 dari Mr. Keith Shadis, Eren masih berusaha menjelaskan kepada teman-teman terdekatnya. Setelah beberapa jam berlalu, barulah mereka mulai mengerti kondisi Eren, dan memasang tampang nyaris simpati― atau nyaris tertawa terpingkal-pingkal pada sang Jaeger muda di depan mereka.
Cih.
Sungguh teman-teman yang sangat setia kawan.
Eren benar-benar meragukan dirinya saat ini, apakah tampangnya itu begitu kurang meyakinkan sebagai seorang pemuda yang straight, sampai- sampai untuk meyakinkan teman - temannya saja butuh waktu selama ini?
Saat ini Eren, Connie, Jean, Armin, Reinner dan Bertholdt sedang berkumpul di rumah Armin karena Eren ingin meluruskan duduk perkara.
PING!
Eren menghentikan penjelasan desperate-nya untuk mengecek handphone yang ada di sakunya.
.
From: Unknown Number
Subject: None
Jaeger, aku tunggu kau di depan universitas jam 4 tepat. Berbusanalah dengan pantas, ayahku ingin bertemu dengamu.
.
Eren sweatdrop ditempat, sungguh penggunaan kata-kata yang sangat irit. Persis seperti emosi dan ekspresi yang ditampakkan wajah sang empunya. Tanpa diberi nama pun Eren sudah tahu pasti siapa pengirim SMS itu. Eren bertanya-tanya dalam hati, darimana Rivaille tahu nomornya?
Ah.. Eren merasa bodoh mempertanyakan apa yang tidak bisa dilakukan Sang Maha Kuasa Rivaille.
Sebenarnya Eren ingin berkelit dari SMS tersebut dan mengatakan bahwa ia ada shift kerja sampingan, namun ia sadar bahwa ini adalah hari sabtu yang artinya ia sedang off.
Dengan setengah hati Eren menyimpan nomor senior yang sepertinya akan banyak berhubungan dengannya itu. Dalam hal yang menguntungkannya atau tidak, Eren masih sangsi.
Ok, dia mulai menyesal untuk setuju dengan penawaran Rivaille.
"Cieee, cieee! Ajakan untuk bertemu dengan ayah mertua nih~", goda Connie iseng sambil mengintip dari balik pundak Eren. Sekali- dua kali menunjuk pipi Eren sambil menyeringai.
Dasar bola lampu sial.
"Gerak cepat juga ternyata senior Rivaille.", Reinner berdecak kagum. Entah apa yang membuatnya kagum, batin Eren sewot. Serahkan pada teman-temannya untuk membuat komentar-komentar absurd di saat seperti ini.
Terkadang Eren menyesal, kenapa ia mau-maunya punya teman-teman seperti mereka.
Sungguh Eren ingin mengutuk teman-temannya yang entah sejak kapan menjadi sangat kepo tentang masalahnya itu. Eren hanya bisa menghela nafas lelah, tidak peduli berapa kalipun ia menjelaskan bahwa ia masih lurus ― selurus anak panah, rupanya hal itu tidak menyurutkan hasrat mereka untuk iseng. Meskipun mereka sebenarnya tahu duduk perkaranya.
"Dengan busana pantas itu maksudnya yang bagaimana?", Bertholdt bergumam pelan namun menarik perhatian lima orang lain di ruangan itu.
'Benar juga, sebenarnya berpakaian pantas menurut Rivaille itu yang seperti apa?'
Mereka semua nampak berfikir sebelum salah satu dari mereka buka suara.
"Heh, aku akan membantumu Eren.", tawaran bantuan itu keluar dari bibir orang yang paling tidak disangka-sangka, terutama oleh Eren Jaeger sendiri yakni dari mulut sang bocah Perancis―Jean Kirschtein.
Eren menatap Jean dengan curiga, takut-takut kalau ada udang di balik batu.
"Apaan tatapan matamu itu?", ketus sang pemuda Perancis yang hanya dijawab gendikan acuh Eren.
"Aku tidak percaya padamu, itu saja."
Agaknya Jean cukup tersinggung dengan pernyataan itu dan berusaha menendang Eren, kalau saja ia tidak ditahan oleh Armin di belakangnya. Armin berusaha mempersuasi sang darah Perancis untuk menenangkan diri, yang hasilnya lebih dari cukup untuk mengembalikan mood si pemuda berambut kelabu-kecoklatan― entah karena alasan apa.
"Nah ayo kita mulai, Eren.", ujar Jean dengan senyum mencurigakan― yang lagi-lagi harus membuat Eren menelan ludah.
.
.
"Dan darimana kau dapatkan semua err… barang-barang ini Jean?", Tanya Armin setengah sangsi melihat barang-barang yang tergeletak di depannya.
"There's a will, there's a way~"
Dan jawaban tidak nyambung itu membuat penghuni lain di ruangan itu semakin mempertanyakan pemuda Perancis di depan mereka yang sedang tersenyum nista.
Setelah Jean membuat janji dengan Eren, pemuda bersurai kelabu-kecoklatan itu melesat keluar dari kediaman keluarga Arlert untuk pergi entah kemana, kemudian kembali untuk membawa perlengkapan yang menurutnya diperlukan Eren.
Melihat frienemy― friend but enemy abadinya begitu niat mempersiapkan semua ini, Eren semakin mempertanyakan niat dibalik tindakan sang Kirschtein muda.
"Nah, Eren. Sekarang pergi ke kamar mandi dan gantilah dengan ini."
Jean menyerahkan pakaian dan accessories ke pemuda Jerman di depannya, dan mendorong pemuda itu masuk ke kamar mandi.
"Haruskah? Apa nggak bisa aku pakai pakaian biasa saja?", Eren memasang tampang memelas dan desperate andalannya― Erenbelajar dari pengalaman, kalau teknik ini hampir selalu berhasil pada Mikasa. Dan benar saja, Jean hampir saja luluh namun ia kembali mendorong pemuda berambut coklat itu.
"Sudah masuk sana!", geram Jean.
Setelah beberapa menit, terdengar suara Eren dari dalam kamar mandi.
"Err.. teman-teman apa kalian yakin aku memakai baju ini?", ujar Eren ragu-ragu.
"Tentu saja!", jawab Jean dengan percaya diri.
Eren keluar dari kamar mandi sambil memmbawa baju yang ia tadi kenakan. Eren mengenakan sebuah kaus V-neck berwarna beige dan sebuah celana jeans skin tight berwarna coklat tua. Bertholdt, Reinner, Connie dan Jean nyaris tertawa terpingkal-pingkal sebelum mereka mengeluarkan barang lain.
"Nah, Eren sekarang kau pakai ini!"
Connie dengan bersemangat menyodorkan sebuah scarf berwarna pink dan sebuah sun glasses yang sangat out of place kepada Eren. Mata Eren melebar karena rasa shock bercampur horror.
"Oh Mein Gott, sampai mati aku tidak akan mengenakan itu!"
"Eren, real man can pull out pink colour!", Jean memberikan thumb-up.
Apa banget coba.
Eren terus berusaha menahan teman-temannya dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat, bukan hanya scarf itu sangat aneh digunakan di musim panas namun juga karena warnanya yang errr.. spektakuler.
"Oh, ayolah Eren! Kau tidak ingin kebohonganmu terbongkar kan? Kami ini hanya ingin membantumu." , Reinner menepuk pundak Eren sambil menatap kedua manik tosca Eren dengan serius.
"Kami melakukan ini sebagai temanmu, Eren.", Bertholdt menambahkan sentuhan akhir dengan senyumnya yang menyejukkan.
Otak polos Eren mulai tersentuh dengan perhatian (mencurigakan) yang diberikan teman-temannya, tanpa ia tahu ada serigala di balik domba. Armin yang daritadi hanya melihat dari pojok ruangan, menghela nafas atas sikap sahabatnya yang begitu mudah percaya.
"Begitu ya.. "
"Ya, makanya serahkan saja pada kami!"
Eren mengangguk, hilang sudah keraguan dalam hatinya akan niat (nista) teman-temannya.
Oh.. Little did he know..
.
.
Rivaille menatap makhluk didepannya dengan tatapan tajam, yang ditatap hanya sebisa mungkin mengalihkan pandangannya dari manik sewarna batu onyx itu. Entah kenapa trotoar menjadi pemandangan yang lebih menarik baginya sekarang.
"Eren Jaeger.."
Rivaille memulai dengan sebuah geraman yang membuat Eren tambah gugup. Oh..ternyata ide mempercayai teman-temannya memang buruk.
"Y-Yes, sir.. Maksudku Rivaille."
Sang Jaeger muda berdiri tegak dan menghindari tatapan menusuk Rivaille. Eren mulai merapal doa-doa dalam hati, yang terhenti ketika Rivaille melanjutkan.
"Kau tahu kita ini berpura-pura menjadi― gay kan?"
Ada sebuah jeda di kata-kata Rivaille, yang Eren tahu disebabkan karena Rivaille begitu enggan menyebutkan kata tersebut. Rivaille berjalan mendekati Eren lalu menarik scarf yang melilit di leher Eren.
"Tapi aku tidak pernah ingat kalau menjadi gay akan membuatmu jadi seperti banci. Eren Jaeger."
"Tapi, Connie bilang biasanya para kaum gay suka warna merah muda."
Alis Rivaille berkedut.
"Lalu mereka juga menggunakan V-Neck dan cincin di jari tengah mereka."
Sang Jaeger muda kembali meluncurkan pembelaan dirinya. Hei, setidaknya ia sudah berusaha kan?
"Aku curiga ada yang tidak beres dengan kepala teman-temanmu. Ikut aku. Sekarang!"
Dan dengan itu Rivaille menyeret Eren masuk ke mobilnya dan melesat entah kemana.
.
.
Setelah dibawa―coret itu, diseret Rivaille ke butik yang menjual setelan resmi dengan harga yang amit-amit mahalnya. (Eren menangis melihat harga yang setara dengan uang makannya sebulan)
Rivaille menggumam puas setelah melihat Eren dengan setelan suit resmi. Dress shirt putih dan dasi hitam, ditambah blazer berwarna cokelat muda yang terasa sangat baik dipadukan dengan warna rambut Eren, dan juga celana panjang. Setelah itu Rivaille menyeret Eren ke dalam sebuah café untuk membicarakan 'rencana' mereka.
"Em.. Rivaille apa menurutmu ayahmu akan percaya dengan cerita sesederhana itu?"
Eren menatap Rivaille sambil sesekali memainkan sedotan di gelas jus alpukatnya. Alis Rivaille menukik tajam dengan argumen itu.
"Kau punya ide yang lebih baik, Jaeger? Jangan bilang kau ingin 'pertemuan pertama' kita penuh dengan pita dan renda..", ucap Rivaille sarkastis.
Rivaille menghujamkan manik hitamnya pada manik Eren, menantang pemuda yang lebih muda untuk berargumen lebih jauh.
"Hei, aku korban disini ingat?! Dan jangan memandangku seakan itu hal wajar jika aku membayangkan setting ala komik cewek!" , Eren menyilangkan tangannya dengan kesal. Dan mengguman pelan.
"Dasar pendek, kecambah 160 sentimeter.."
Yang sialnya tidak cukup pelan, sehingga mendapat hadiah tendangan di tulang kering dari bawah meja. Membuat Eren mengaduh kesakitan dan mengelus kakinya yang teraniaya.
"Sekarang dengarkan aku sekali lagi, Jaeger. Tanamkan dalam otakmu bahwa ini adalah 'pertemuan pertama' kita yang harus diketahui ayahku."
"Umm... baiklah, tapi aku bisa minta satu hal?"
Rivaille hanya diam, dan itu menjadi pertanda bagi Eren untuk melanjutkan kalimatnya.
"Tolong jangan panggil aku 'Jaeger', entah mengapa dipanggil dengan nama keluarga membuatku risih."
Rivaille mengangguk sekali.
"Ok, Eren kalau begitu."
Dan dengan itu Rivaille menceritakan pertemuan pertama mereka sekali lagi pada Eren.
.
.
Eren berdiri sambil menatap rumah―tidak ini pasti mansion, milik keluarga Rivaille dengan wajah shock. Dasar kaum burjois.
Rumah itu bergaya arsitektur Eropa dengan langit-langit tinggi dan tiang-tiang penyangga yang berpilin. Dua buah daun pintu mahogany berdiri megah untuk menyambut tamu. Di sisi kanan dan kiri rumah tersebut terdapat taman dan flower bed berhiaskan bunga azalea.
Jangan salahkan kalangan menengah kebawah sepertinya jika reaksinya terbilang berlebihan.
"Jaeger, kau tunggu apa lagi? Ayo masuk."
Dan babak kedua pertunjukan drama mereka baru akan dimulai.
.
.
A/N:
Maafkan saya kalau ada yang tersinggung dengan penjelasan saya diatas. Soal baju V-neck dan cincin di jari, itu informasi dari teman saya. Masa iya sih? Kalau begitu Orihara Izaya dari fandom sebelah itu.. #ditusuk flip blade
Saya juga mau minta maaf atas keterlambatan update, real life can be a bother sometimes. Karena jadi Mahasiswa Baru itu nggak enak.. #curcol
Yosh, seperti biasa jika ada yang berkenan memberikan masukan silahkan tekan tombol unyu dibawah.
Your Crazy Fangirl
.
-Cocoa-
