Bulir cahaya itu semakin terang.
Meleburkan sosok seorang Cho Kyuhyun.
Menyisakan cahaya Sang Malaikat.
"Terima kasih… Selamat tinggal…"
...
...
Cahaya biru itu pudar. Menyisakan Siwon seorang diri di kamarnya. Langit gelap menandakan berakhirnya kisah sang malaikat bersayap biru langit.
Hening diruangan itu. Angin malam yang berhembus seolah menyadarkan Siwon dari kebekuannya.
Tangannya perlahan terangkat, menyapu cairan bening yang berhasil lolos dari manik hitamnya.
Ia menatap heran telapak tangan yang berlapis airmatanya. "Kenapa aku menangis?"
.
.
Siwon melangkah keluar dari gereja. Beberapa hari ini dia seperti kehilangan semangat hidup. Biasanya selesai berdoa dia akan sedikit lebih baik. Tapi ini tidak berefek sama sekali.
"Ahjussi…" seseorang menepuk pundaknya.
Ahjussi? Apa dia sudah begitu tua? Siwon menoleh. Ia mendapati seorang pemuda berambut cokelat caramel tengah tersenyum tipis padanya. Pemuda itu menyodorkan sebuah kunci.
"Ahjussi meninggalkan ini di dalam."
Ah… Bahkan dia sampai menjatuhkan kunci mobilnya. "Gomawo." Balasnya.
"Annyeong." Pemuda itu sedikit membungkukkan tubuhnya, lalu permisi dari hadapan Siwon.
Pria itu hanya menatap punggung kecil yang semakin menjauh. Ada rasa rindu yang menyusup kedalam hati tanpa sepengetahuannya.
.
.
.
Siwon berkali-kali menghela nafas. Entahlah, sejak tiga bulan yang lalu dia merasa tidak bersemangat. Seperti ada sesuatu dari dirinya yang hilang.
Tiba-tiba pikirannya tertuju pada seseorang yang beberapa waktu lalu dia temui. Bibirnya perlahan mengulas senyum saat wajah manis itu memenuhi pikirannya.
Dalam hati ia terus bertanya, kapan bisa bertemu dengannya lagi?
.
.
.
"Ya, tumben sekali Tuan Muda sepertimu kemari. Apa kau ada masalah?" seorang pria kurus langsung duduk disamping Siwon dan merangkul pundaknya.
Siwon hanya melirik sekilas kesamping, lalu meneguk habis minuman beralkohol digelasnya. "Belakangan aku merasa aneh."
Disandarkan punggungnya pada sofa. Suasana kemerlip lampu membuat kepalanya sedikit pusing.
"Masih memikirkan Jessica?"
"Ani. Aku justru tidak sudi mengingatnya lagi. Setahun berada di Amerika, setelah kembali ke Korea dia langsung menikah dengan pria pilihan ayahnya." Siwon memijit pelipisnya yang berdenyut.
"Ingin 'bersenang-senang'?" sebuah seringai menghias bibir pria kurus di samping Siwon.
"Huh?"
Pria itu menepuk pahu Siwon. "Kau tunggu saja di kamar. Aku jamin kau akan merasa lebih baik nanti."
.
.
.
"Jo-joseumnida Tuan Lee. Kami tidak bisa melakukannya…" Seorang pria bertubuh gembul dengan kacamata bertengger di hidungnya membungkuk takut.
"Aish! Apa kau tidak tahu, yang akan menyewanya adalah Choi Siwon!" desis Lee Donghae.
"M-Mwo?"
"Kau bisa membayangkan dia akan membayar mahal untuk ini."
"Ta-tapi Tuan Lee… dia keponakan Kim Heechul-sshi. Kami tidak berani berbuat macam-macam dengannya. Dia diizinkan bekerja sebagai bartender, tapi tidak di izinkan 'melayani', Tuan…"
Pria kurus itu mengeluarkan dompetnya, mengambil lembaran uang yang tidak sedikit. "Kau bisa menyuruhnya untuk mengantar minuman. Yang jelas, pastikan hanya dia. Arraseo?"
.
.
.
Seorang pemuda berambut ikal caramel menyenandungkan lagu. Menyusuri tiap pintu kamar yang tertutup rapat. Sesekali telinganya menangkap suara desahan ataupun erangan. Dia sudah terbiasa.
Ketika berada di sebuah pintu bernomor 407, pemuda itu langsung masuk.
"Annyeong. Aku ingin mengantar minuman." Ucapnya sedikit lebih lantang. Sepertinya pemilik kamar sedang mandi karena dia mendengar suara air.
Ia putuskan untuk meletakkan nampan yang dibawanya. Memindahkan sebotol vodka, es batu dan satu gelas berukuran kecil diatas nakas samping tempat tidur.
Tepat dia selesai dengan kegiatannya, ia mendengar suara pintu terbuka. Segera ia balikkan tubuhnya.
Sepasang caramel mengungkung emerald bening.
Keduanya masih terdiam. Sekilas, Siwon seperti melihat sepasang caramel itu serupa shappire. Rindu itu kembali menyusup dalam hatinya tanpa ia sadari.
Siwon masih terperangah. sebuah kenyataan seolah menampar kuat dirinya. Pemuda yang pernah ia temui di gereja, yang sempat mengisi kekosongan hatinya, yang berhasil mengembalikan senyum di bibirnya, adalah seorang... pelacur.
"A-aku mengantar minuman." Ucap pemuda itu, sedikit tergagap.
"A-ah… bisa kau tuang sekalian minumannya?" Siwon berjelan mendekat. Duduk di kasur. Pandangannya tidak lepas dari seseorang yang sedang menuangkan cairan bening kedalam gelasnya.
Matanya menyusuri tiap lekuk tubuh pemuda itu. Entah kenapa, dia seakan pernah mengenal tubuh itu. "Siapa namamu?"
Pemuda itu sedikit terkaget dengan ucapan Siwon yang tiba-tiba. Diserahkan gelas yang sudah penuh dengan kepala yang terus menunduk. "Kyuhyun. Kim Kyuhyun."
Siwon meneguk habis vodka-nya dalam sekali tegukan. Matanya tidak lepas dari pemuda didepannya yang sedikit kikuk. Rasa manis menyusuri keronkongannya.
Manis? Sepertinya hanya ketika memandang Kyuhyun, Siwon merasa vodka-nya semanis madu.
"Berapa umurmu?"
"Li-lima belas tahun."
Siwon berdiri. Kyuhyun meremas kuat jemari tangannya. Dia takut. Dia sering mengalami situasi seperti ini. Dan semuanya selalu gagal karena Heechul tidak membiarkan siapapun menyentuhnya. Tapi sekarang, Heechul sedang berada di China.
Tangan kanan Siwon mengangkat dagu pemuda di depannya. Menatap lekat wajah manis yang selama tiga bulan menghiasi pikirannya.
Ia memikirkan orang yang salah, batinnya.
"Sayang sekali… Di usia semuda ini dan memiliki wajah yang manis, kau malah menjualnya."
Kening Kyuhyun mengkerut.
Tangan kiri Siwon melepas tali bathrope, membiarkan kain itu merosot dari tubuhnya. "Tak kusangka, kau seorang pelacur."
Kyuhyun langsung melotot tidak percaya. Hatinya perih. Terlebih ucapan itu keliar dari mulut Siwon.
"Puaskan aku malam ini!"
Kyuhyun memejamkan matanya erat ketika bibirnya dilumat ganas. Kini, dia merasakan ketakutan yang luar biasa.
.
.
.
Seorang pria cantik dengan rambut hitam sebahu melangkah cepat menyusuri pintu hotel club-nya. Di ikuti beberapa bodyguard di belakangnya.
Ketika berada di China, dia mendapat kabar dari salah satu bawahannya yang sengaja dia suruh untuk mengawasi Kyuhyun. Kabar bahwa keponakannya itu telah di jual oleh menejer club-nya sendiri.
Hal itu langsung membuatnya murka dan mengambil penerbangan ke Korea saat itu juga.
Ditendangnya kasar pintu bernomor 407. Emosinya kian memuncak saat mendapati seseorang yang tergeletak tak berdaya diatas kasur. Dengan keadaan yang menggenaskan.
Tubuh polos yang semula putih pucat sudah dipenuhi garis merah seperti bekas cambukan dan beberapa bercak kecil lainnya. Sudut bibir pucat itu dihiasi darah yang sudah mengering. Wajahnya dihiasi lebam biru. Ditambah bagian bawah yang penuh dengan darah.
Pria cantik itu langsung menyelimuti tubuh keponakannya dengan selimut. "Bawa dia kerumah sakit!"
Dengan segera salah satu dari tiga bodyguard-nya membopong tubuh ringkih Kyuhyun.
"Panggilkan menejer Kang segera! Kukirim dia keneraka!"
.
.
.
"Ampuni saya, Heechul-sshi…"
Tampak seorang pria gendut tengah bersujud pada pria cantik yang duduk menyilangkan kakinya dengan angkuh. Kedua tangannya terlipat di depan dada.
"Aku pernah katakan apa padamu?! Jangan biarkan satu seranggapun menyentuh Kyuhyun-ku!" ucapnya dingin.
Heechul ambil pistol kecil yang selalu dibawanya. "Sampai bertemu dineraka!"
Tubuh pria tua di depannya terjatuh dengan darah segar mengalir dari titik yang bolong pada tengkorak kepalanya.
Heechul tiup pistol kecilnya yang mengepulkan asap tipis. Tembakan tak bersuara. Itu ciri khasnya sebagai kekasih seorang mafia China. Dia tidak mengampuni siapapun yang berkhianat dan menentang perintahnya.
Pria cantik itu mulai berdiri. "Bereskan!"
Dia melangkahi mayat yang baru saja di tembaknya dengan santai. Anak buah yang sedari tadi melihat langsung menuruti perintah Heechul. Mereka tidak ingin bernasib sama dengan pria tua itu.
Keluar dari ruangan tadi, Heechul langsung bersandar pada dinding. Tatapannya penuh penyesalan. "Mianhae, Jaejoong-ah… Aku tidak bisa menjaga Kyuhyun-mu…" desisnya.
Ingatan lima belas tahun lalu kembali terputar layaknya sebuah kaset dalam kepalanya.
.
.
.
#
"Kau tidak menghubungi Yunho?" Heechul duduk di samping adik lelakinya.
Lelaki yang tengah mengelus perut buncitnya menggeleng pelan. Sebentar lagi dia akan melahirkan bayinya yang lucu. "Aku sengaja tidak memberitahunya, Hyung."
"Kau bodoh!"
Jaejoong hanya tersenyum menanggapi ucapan kakaknya.
"Jika aku bertemu dengannya, kupatahkan lehernya nanti!"
"Aku tidak ingin Kyuhyun mendapati bahwa pamannya adalah lelaki yang sudah membunuh Appa-nya, Hyung. Tolong jaga dia untukku."
Heechul berdecih ringan. "Apa yang kau katakan? Kau harus hidup, Jae. Tidak ada yang bisa menjaganya sebaik dirimu."
Itulah percakapan terakhir Heechul dan adiknya sebelum tubuh Jaejoong digiring keruang operasi.
Sekuat apapun Heechul ingin mengingkari, dia tetap tidak bisa membantah jika Jaejoong tidak akan bertahan saat operasi. Tubuh kecil adiknya tidak akan bertahan lama dengan beban yang ditanggung seorang diri.
Adiknya baru menginjak usia 16 tahun saat itu. Ketika seorang pria Jung hadir dalam hidupnya dan mengambil yang berharga milik Jaejoong.
Lalu memberi satu kehidupan pada rahim Jaejoong.
Adiknya seorang laki-laki, terlebih usianya masih begitu muda. Rahim yang di milikinya juga sangat lemah. Terlebih, sejak awal Jaejoong sudah menyerah untuk bertahan demi Jung Yunho. Selama sembilan bulan dia hanya bertahan demi Kyuhyun-nya.
Kyuhyun.
Satu nama yang diberikan dari Yunho untuknya. Itu sudah cukup membuat Jaejoong bahagia. Setidaknya Yunho mengakui janin dalam perutnya adalah miliknya, meski tidak menikahinya.
#
.
.
.
.Next(?).
Ndak jadi End karna banyak yg minta lanjut =w=a *labilON
anggep aja chap satu itu Prolog, ne~ *seenak jidat XD
menanggapi review-an MyDecember, Siwon bukan kehipnotis, tapi sebenarnya di sudah nerima AngelKyu dlm hidupnya. disini udah bisa dipahami kan? ^^v
saya ndak janji cepet update~ karena hutang sequel saya masih numpuk~ lama-cepatnya ni fic update tergantung review :3
So, berkenan REVIEW? ^^v
