.
.
.
Perlahan kelopak mata yang sudah cukup lama tertutup itu terbuka. Sesekali mengerjap kecil, membiasakan retina matanya menyentuh cahaya.
Pemandangan yang pertama dilihatnya hanya hamparan putih.
"Kau sudah bangun?"
Kyuhyun sedikit menolehkan kepalanya saat mendengar suara Heechul. Tubuhnya terasa sangat kaku dan nyeri. "H-hyung…" bahkan suaranya begitu parau dan pelan.
Heechul tersenyum. "Jangan bergerak dulu. Tubuhmu masih lemah."
Kyuhyun kembali memejamkan matanya. Tapi yang terlihat hanya bayangan seorang pria yang menyetubuhinya tanpa peduli teriak kesakitan yang lolos dari bibir plumnya. Kening Kyuhyun berkerut. Rasa sakit mulai menjalar kembali keseluruh tubuhnya.
"A-aargh! Hagh!" nafasnya kembali keluar masuk tidak beraturan saat rekaman itu terputar tanpa jeda dalam kepalanya.
Bagaimana pria itu melumat kasar bibirnya. Bagaimana pria itu merobek semua pakaian yang di kenakannya. Bagaimana milik pria itu merasukinya tanpa perduli dia yang sudah diambang batas kesadaran.
Semuanya terlihat begitu jelas di pelupuk mata Kyuhyun.
"Haagghh! Kkh!"
Heechul panic melihat Kyuhyun yang mengejang. Segera ia beranjak mencari dokter yang sudah menangani keadaan keponakannya.
.
.
.
Setelah diberi suntikan berisi obat penenang, Kyuhyun kembali terlelap. Nafas yang sejak tadi memburu telah teratur. Heechul dengan telaten menyeka tiap keringat yang membasahi wajah keponakannya.
"Apa yang terjadi padanya?"
Dokter itu menghela. "Dia mengalami syok hebat. Luka ditubuhnya mungkin akan cepat sembuh, tapi aku ragu dengan mentalnya."
"Mwo?"
"Kyuhyun masih begitu muda, Heechul-ah. Perlakuan kasar yang diterimanya berdampak buruk untuk kejiwaannya."
Pria cantik itu terduduk lesu. "Aku gagal, Jungsoo-ya… aku sudah gagal… Jaejoong-ah, mianhae…" Kini pria itu tampak frustasi. Ia menjambak kuat rambut hitamnya.
Sang dokter menghela nafas berat. Sudah dua kali dia melihat sahabatnya frustasi berat seperti itu. Pertama ketika tahu adik lelakinya mengandung. Kedua, keponakannya disetubuhi dengan tidak lazim.
Ia tersenyum, berjalan mengjampiri Heechul. "Kita bisa melakukan terapi untuknya. Mungkin akan memakan waktu yang tidak sebentar untuk menstabilkan kondisi mentalnya seperti semula, tapi kita akan melakukan yang terbaik untuk Kyuhyun." Jungsoo menepuk pelan pundak Heechul.
Pria cantik itu hanya melirik sekilas sahabatnya sejak masa sekolah dulu. Kemudian pandangannya beralih pada wajah keponakannya. Wajah polos bak malaikat itu… telah mengalami penderitaan yang seharusnya tidak ia tahu.
Harusnya saat itu Heechul menunda penerbangannya ke China. Pasti Kyuhyun masih bisa menikmati hidupnya tanpa menyentuh 'dunia hitam'. Sepertinya cukup bagi Heechul melihat Jaejoong dulu. Semoga sesuatu yang ia takutkan tidak terjadi pada Kyuhyun, putra adiknya.
Ia tidak akan memaafkan siapapun yang sudah membuat kondisi Kyuhyun menjadi seperti ini. Ia akan mengejar orang itu meski keneraka sekalipun!.
.
.
.
.
Tampak seorang pria tengah bersandar pada kursi direkturnya. Ia memijat keningnya yang terasa sedikit pusing. Sungguh penat jika tiap harinya harus berhadapan dengan ribuan dokumen-dokumen perusahaan.
Pikirannya beralih pada memori yang sebenarnya sudah cukup lama. Sebulan bukan waktu yang sangat singkat, tapi memori itu masih sangat jelas dan nyata dalam kepalanya.
Memori ketika ia menyetubuhi seorang bocah yang sebenarnya sudah berhasil merenggut separuh jiwanya.
.
.
.
#
"Jeb-jebhal… S-stop it… hah…" rintih kesakitan itu justru membuat tatapan Siwon semakin nyalang.
Di jauhkan lidah terlatihnya dari selangkangan bocah yang tengah terbaring pasrah. Bibir plumnya tampak bengkak dan merah. Bahkan sudut bibirnya pecah, mengeluarkan sedikit darah.
"Stop, huh?" emosinya meningkat. Ia ayunkan dengan kuat tangannya, menghantam pipi bocah itu. Disambarnya kemeja milik Kyuhyun yang tergeletak di atas ranjang, mengikat kuat tangan pemuda itu. Ia tidak peduli dengan airmata yang terus keluar dari sepasang karamelnya.
Dia tidak peduli!
"A-aarggh! Hagh! Ap-Appoh… hagh…". Tubuh Kyuhyun mengejang saat merasakan sesuatu yang perlahan menerobos tubuhnya. Tidak ada yang bisa ia pikirkan kecuali sakit yang teramat sangat. Tubuhnya perlahan melemah.
"Urgh…" Siwon memejamkan matanya. Ini sungguh nikmat. Tubuh pemuda itu sangat nikmat baginya. Ia sudah begitu lama merindukan sensasi ini. Ia semakin memajukan tubuhnya. Menulikan pendengarannya dari teriakan yang menyakitkan.
Tanpa mengizinkan Kyuhyun bernafas sejenak, Siwon bergerak kasar. Sayang sekali jika kenikmatan seperti ini ia sia-siakan.
"hiks… je-jebh-al… hiks…" Kyuhyun tidak tahu lagi harus berbuat apa. Tubuhnya sangat nyeri. Bahkan untuk menggerakkan bibirnya saja terasa begitu perih. Yang berhasil lolos hanya isakan lirihnya. Ia biarkan tubuh yang lebih besar diatasnya bergerak sesukanya. Toh, untuk melawan pun percuma. Tubuhnya sudah begitu lelah.
Dia hanya bisa melihat tubuh diatasnya bergerak dengan pandangan kosong. Airmatanya mengalir, seolah mengisyaratkan kesakitan luar biasa. Tubuh maupun hatinya. Sakit.
Entah iblis dari neraka mana yang merasuki dirinya saat itu, gerakan Siwon justru bertambah cepat. Menghentak kuat tubuh ringkih di bawahnya. Ia mengeram seperti hewan buas ketika rasa nikmat itu kembali menjalar keseluruh tubuhnya..
Ketika satu pemikiran terlintas di kepalanya.
Sudah berapa banyak orang yang menikmati tubuh ini?
Itu yang membuat Siwon seperti kerasukan. Bergerak tidak terkendali. Emosi menguasai dirinya penuh.
Tangannya meraba sekitar. Ketika berhasil menyentuh sesuatu, ia menyeringai seram. Sabuk itu melayang kuat. Menampik kasar tubuh tak berdaya dibawahnya. Ia marah. Ia kecewa. Dan ia… cemburu.
Mengingat begitu banyak yang bisa mencumbu tubuh pucat itu, ia seperti ingin menangis.
Bahkan sesungguhnya ia tidak sadar. Ketika emerald beningnya bertatapan dengan bola mata kosong di bawahnya, Siwon sudah menangis. Cairan itu meleleh dari sudut matanya tanpa ia ketahui.
Tepat Siwon mencapai puncak, Kyuhyun menemui kegelapan.
#.
.
.
.
Memori itu sepertinya menjadi 'nina bobo' tersendiri untuk Siwon. Karena ia merasakan kantuk mulai menyerangnya.
Ia nyamankan posisi duduknya. Sedikit merebahkan kursi yang di duduki.
Diambilnya gagang telepon, memerintahkan sekertarisnya untuk tidak mengganggunya nanti.
Tanpa tahu, Malaikat-nya tengah memandang lembut.
.
.
.Angel.
.
.
"Apa yang kau lakukan?"
Sosok pemilik sayap biru itu menoleh. Melihat seseorang serupa dirinya dengan sayap abu-abu. Wajah yang sangat datar semakin mendekatinya. Ia hanya tersenyum lembut.
"Apa aku pernah mengatakan bahwa kau ini bodoh?" ujar sosok datar itu, dingin.
Malaikat bersayap biru hanya mengangguk kecil. Lalu pandangannya kembali pada sesuatu seperti cermin. Menampilkan seorang pria tampan yang tengah memejamkan matanya.
"Kau mencintai yang salah. Dia manusia yang serakah. Dunia tidak akan cukup untuknya."
Malaikat itu masih menatap lembut 'cermin' di depannya.
Malaikat lain yang melihat hanya menghela ringan. "Tuhan hanya mencabut suara indahmu, berhentilah melakukan tindakan bodoh. Sekali lagi kau bertindak sesuka hati, bisa di pastikan sayapmu akan hangus."
Malaikat itu justru meraba sesuatu yang bergerak ringan di belakang tubuhnya. Sepasang sayap yang indah dengan warna yang serupa langit cerah.
KRAK!
Malaikat itu menggigit bibir bawahnya. Menahan sakit yang diterima punggungnya. Sayap kirinya ia patahkan.
Tubuhnya kembali membiaskan cahaya terang.
KRAK!
Kali ini sayap kanannya. Helaian sayap itu menyebar. Dia tersenyum.
"Kau sungguh malaikat yang bodoh!" ujar malaikat pemilik sayap abu-abu ketika melihat cahaya biru di depannya semakin pudar.
'Selamat tinggal.'
.
.
.
Kyuhyun kembali membuka matanya. Keningnya mengkerut saat melihat pemandangan di sekitarnya. Di putar tubuhnya beberapa kali untuk memastikan hal yang dilihatnya.
Matanya terbuka dan menutup untuk meyakinkan dirinya jika ia sedang tidak bermimpi.
Tangannya bahkan menampar pipi chubby-nya hanya untuk menyadarkan dirinya. Lagi, dia merasa heran.
Keadaannya sekarang membuatnya sangat bingung. Bukankah seharunya ia masih terbaring lemah dirumah sakit?
Kenapa ia berada di sebuah tempat asing, yang sepanjang mata memandang hanya ada hamparan putih tak berujung?
Ditambah lagi, ia berdiri, dan tubuhnya terasa sangat ringan. Ia bahkan tidak merasakan secuil sakitpun dari tubuhnya.
Kepalanya merunduk kebawah, melihat dirinya sendiri dari ujung kaki. Ia mengenakan pakaian serba putih. Tangannya meraba tubuhnya.
Ini nyata! Tapi, dimana ia?
Ketika Kyuhyun mengangkat kepalanya, bola mata karamelnya membulat tidak percaya. Seolah bercermin, ia melihat seseorang yang begitu mirip dengannya, tengah tersenyum lembut.
Sosok itu perlahan berjalan mendekatinya.
"Y-ya! Nu-nuguya?" Kyuhyun ingin mundur, tapi badannya justru terasa membeku. Dia tidak bisa menggerakkan kakinya sama sekali.
Ketika sudah berada di depan Kyuhyun, sosok itu memeluk bahunya lembut. Sungguh pelukan yang sangat nyaman. Terasa hangat, lembut, tidak terkesan menakutkan.
"Aku malaikat yang berdosa. Telah menentang Pencipta-ku, dan membuatmu menderita. Tapi kumohon, jaga dia untukku." Sosok itu meraba perut rata Kyuhyun.
"Aku ingin ia lahir, dan tumbuh dengan baik. Aku mencintainya. Gantikan aku untuk menyayanginya…" Suara lembut itu perlahan semakin menjauh.
"Kutitipkan bayiku… juga cintaku… padamu…"
Rangkulan itu terlepas. Membuat Kyuhyun bisa melihat jelas sepasang shappire yang indah milik sosok yang semakin pudar.
Sang malaikat menangkup kedua pipi Kyuhyun, mengantukkan keningnya pada pemuda di depannya. "Aku telah egois dan tidak pantas menjadi Malaikat. Tapi aku bersyukur, bisa hadir dalam hidupnya meski sebentar."
Malaikat itu kembali tersenyum, "Terima kasih telah lahir kedunia ini, Kyuhyun."
Sebelum benar-benar menghilang, Kyuhyun bisa merasakan sentuhan lembut dan manis pada bibirnya. Perlahan, ia kembali menutup mata. Airmatanya perlahan meleleh.
Tetesan terakhir yang jatuh menandakan leburnya sang malaikat kembali menjadi cahaya. Kembali pada sesuatu yang menjadi dasarnya.
Cahaya yang hangat dan indah, pikir Kyuhyun.
.
.
.Next(?).
.
.
Update dan... TYPOS!
Omonaa~ chap sebelumnya banyak typos yg saya loloskan!
sepertinya saya harus teliti lagi...
baiklah~ chap kali ini menjawab sebagian kebingungan readers... jangan terburu2, bacalah dengan perlahan, biar lebih meresapi *digaplok XD
MyDecember, bukan M untuk Membosankan? :D saya suka review-anmu ^^v
Well, kalian pasti bosen bacain curcolan sayah~
So, berkenan REVIEW? ^^V
