.

.

.

Kyuhyun bangun dengan lesu. Entah kenapa, sejak ia keluar dari rumah sakit, perutnya sering terasa mual. Badannya juga terasa sangat lemas. Dan sejak dua hari yang lalu, setiap makanan yang ia makan, akan berakhir di westafel.

Ia muntahkan semuanya tanpa sisa.

Tangannya bertumpu pada dinding kamar, sedikit membantunya berjalan ke kamar mandi dengan langkah yang tertatih. Ketika sampai, di lihat wajahnya pada cermin lebar di depannya sedangkan tangannya bertumpu di tepi westafel.

Pucat.

Jika Heechul melihatnya seperti ini, pasti sangat khawatir.

Setelah menyegarkan badannya, Kyuhyun putuskan untuk menuju meja makan. Bagaimanapun ia merasa sangat lapar karena tidak ada yang bisa di cerna perutnya sejak dua hari yang lalu.

Dia melihat Heechul sedang menikmati sarapannya dengan beberapa kertas yang sedang di bacanya. Kepalanya terangkat saat melihat Kyuhyun menarik kursi di depannya. Pria cantik itu sedikit mengulas senyum.

"Bagaimana keadaanmu hari ini?"

Kyuhyun mengangguk sambil tersenyum tipis. Menandakan ia baik-baik saja di depan Heechul.

Sejak kejadian itu, Kyuhyun jadi sedikit tertutup dan jarang bicara. Tapi setidaknya lebih baik dari saat pertama kali Kyuhyun sadar dulu.

Pemuda manis itu hanya menatap lurus. Pandangan matanya kosong. Tidak ada apa-apa dalam penglihatannya. Mulutnya pun terkatup rapat. Tidak ada sepatah katapun yang keluar.

Barulah seminggu yang lalu, Kyuhyun mulai merespon ucapan Heechul atau Jungsoo setelah menjalani terapi yang di sarankan setiap minggunya.

Meski hanya anggukan atau gelengan, setidaknya Heechul bersyukur. Ia akan mengembalikan Kyuhyun seperti dulu.

Seorang bocah yang sedikit aktif dan suka menjahili orang terdekatnya.

"Hukh…" Baru dua suapan, Kyuhyun kembali merasa mual. Ia mencengkram kemeja hijaunya dengan kuat.

"Wae, Kyu?" Tanya Heechul, sedikit khawatir ketika melihat wajah pucat Kyuhyun.

"Huukkhh…" Kyuhyun segera beranjak dan berlari menuju waktafel yang berada di dapur. Memuntahkan lagi makanan yang baru masuk.

Heechul yang melihatnya hanya bisa tercengang. Tangannya mengepal erat. Entah kenapa, punggung kecil Kyuhyun terlihat seperti Jaejoong dulu.

Bruk!

Tubuh Kyuhyun terjatuh.

"Ya, Kyuhyun-ah!" Heechul langsung menghampiri keponakannya.

.

.

.

"Bagaimana keadaannya? Katakan tidak ada apa-apa pada tubuhnya, Jungsoo-ya!"

"Kau lihat sendiri hasil laporannya." Jungsoo melempar amplop cokelat berisi pemeriksaan kesehatan Kyuhyun keatas meja. Ia terlihat mengurut keningnya.

Heechul langsung mengambil amplop cokelat itu dan membukanya. Mata hitamnya melebar tidak percaya.

Kenapa… harus terjadi… lagi?

Tubuhnya melemas. Bahkan Kyuhyun baru saja merayakan usianya yang kelima belas tahun. Bagaimana ini bisa terjadi pada keponakannya? Bagaimana hal serupa yang dialami adiknya dulu harus terulang kembali pada Kyuhyun?

Rasanya Heechul ingin menangis. Bagaimana dengan kondisi Kyuhyun nanti? Mentalnya baru saja pulih, meski sedikit. Ditambah dia harus menanggung satu kehidupan lagi dalam tubuhnya.

"I-ini… tidak mungkin… Apa kau sedang bercanda denganku, Park Jungsoo?"

Jungsoo menatap Heechul. "Apa kau tidak percaya dengan matamu sendiri, huh?"

Tenggorokannya seakan tercekat. Dan satu bulir air mata lolos dari sudut mata kanannya. Kenapa harus terulang kembali?

.

.

.

Kyuhyun sadar dari pingsannya. Dia menghela nafas. Dirinya kembali terdampar di ranjang rumah sakit dengan infuse yang melekat di punggung tangannya. Mengalirkan cairan kedalam tubuhnya yang kekurangan asupan gizi.

Ia melihat kesamping, dan Heechul ada di sana. Sedang menatap luar jendela kamar rumah sakit. Tampak sedang memikirkan sesuatu.

"Hyung…" Panggil Kyuhyun dengan suara yang seperti sebuah bisikan.

Heechul menoleh dan tersenyum tipis. Ia menarik kursinya kesamping ranjang Kyuhyun.

"Ada apa denganku, Hyung?"

"Tidak ada apa-apa, Kyu. Imun-mu menurun, tekanan darahmu juga rendah. Tenanglah… setelah dirawat beberapa hari, kau sudah boleh pulang." Heechul menepuk punggung tangan Kyuhyun pelan.

Bocah manis itu tahu, Heechul sedang berbohong. Kedua matanya tampak merah. Heechul habis menangis.

.

.

.

.

.

Sebuah mobil hitam memasuki pekarangan Kediaman Kim yang tampak seperti taman-taman Jepang.

Keluarlah seorang pria tinggi dengan kemeja hitam yang sedikit memperlihatkan otot tubuhnya. Kacamata hitam yang bertengger dihidung mancungnya di lepas, menampilkan sepasang mata bak musang. Dengan tatapan lurus dan tajam.

Bibir tebalnya mengulas senyum. Ia mengedarkan matanya keseluruh taman rumah yang sudah lama tidak ia datangi. "Sudah lima belas tahun… tidak ada yang berubah…" ucapnya.

Dilangkahkan kaki jenjangnya menuju pintu cokelat. Ia menekan beberapa kali bel rumah mewah yang bergaya rumah Jepang klasik.

Cklek!

Pintu terbuka. Mata serupa kucing itu menangkap kepala seorang bocah dengan rambut ikal menyembul, sebagian tubuhnya bersembunyi dibalik pintu. Ia tersenyum dan sedikit membungkukkan tubuhnya.

"Nu-nuguseyo?"

"Apa ini Kediaman Kim Heechul?" tanyanya ramah. Sepertinya pemuda di balik pintu itu sedikit takut.

"N-nde…" pemuda itu menganggukkan kepalanya dengan kaku.

Senyum di bibir tebal itu sedikit melebar ketika ia yakin tidak salah alamat. "Apa dia sedang dirumah?"

"A-animnida… Heechul Hyung sedang di luar… ma-masuklah…" Kyuhyun semakin melebarkan pintu, mempersilahkan pria tampan itu masuk.

Sesampainya di dalam, pria itu kembali mengabsen tiap sudut rumah mewah sahabatnya dulu. Ia menghampiri sebuah nakas yang berisi beberapa figura sang pemilik rumah.

Bibirnya masih tersenyum, tapi mata tajamnya kembali sendu ketika menatap figura seorang pemuda berambut hitam lurus. Dia tengah tertawa lebar. Cantik sekaligus manis. Polos sekaligus menggoda.

Ia mengelus figura itu dengam pelan, seorah sedang membelai wajah aslinya.

Kyuhyun langsung mengambil gagang telepon yang berada diatas lemari kecil dekat tangga, menghubungi Heechul yang sedang berada di club-nya.

"Yeobosseo?"

"H-Hyung…"

"Wae, Kyu?"

"A-ada yang mencarimu…"

"Nugu?"

"A-aku… tidak tahu… se-sepertinya ada urusan denganmu…"

"Arra. Aku akan segera pulang. Tekan tombol merah di dekat dapur, ne…"

Kyuhyun mengangguk. "Um!"

Pik!

Sambungan terlepon telah terputus. Kyuhyun segera menuju dapur, mengikuti intruksi Heechul. Ditekannya tombol merah di dekat lemari yang berisi peralatan masak.

Di ruangan club-nya, Heechul memandang layar computer didepannya. Layar itu memperlihatkan kotak-kotak kecil yang menampilkan tiap sudut rumahnya. Dia memang sengaja memasang kamera.

Takut jika terjadi sesuatu.

Sampai saat mata hitamnya melihat siluet seorang pria yang semakin jelas. Pria itu sedang berkeliling di ruang tamu.

"Mwo?! Haish! Apa yang dia lakukan dirumahku?!"

Heechul kembali menyambar ponsel touchscreen-nya, mendial nomor rumah.

"Yeobosseo?"

"Kyu, apa dia menanyakan namamu?" Tanya Heechul dengan nada resah.

"Ani. Waeyo, Hyung?"

"Apapun yang terjadi jangan sebutkan namamu, Arraseo?"

"Err… A-arraseo…"

Pik!

Telepon itu terputus tiba-tiba.

Heechul langsung mengambil kunci mobilnya dan berlari kecil. Sudah sekian lama menghilang kenapa dia tiba-tiba datang? Pria cantik itu terus mengumpat pelan selama perjalanan menuju rumahnya.

"Si brengsek itu…" Heechul meremas setir mobil dengan gigi yang gemeretak menahan marah.

.

.

.

"Tu-tuan…" panggil Kyuhyun sedikit ragu.

"Nde?" pria bermata musang itu menoleh.

"A-apa anda ingin sesuatu?"

"Kurasa secangkir kopi tidak buruk." Jawabnya ramah. Dalam hati ia terus bertanya, apa wajahnya terlihat seram, sampai-sampai bocah manis itu menunduk takut jika berhadapan dengannya?

Kyuhyun segera kembali kedapur. Ia meremas jemarinya, takut. Bagaimanapun kenangan dua bulan yang lalu tidak bisa lepas begitu saja dari otaknya.

Ia menggelengkan kepalanya kuat. "Se-sepertinya dia baik… Gwenchana, Kyu… gwenchana…" ujarnya pada diri sendiri.

Kyuhyun mengambil peratalan untuk membuat kopi. Tapi keringat dingin masih setia merembes dari pori-pori tubuhnya. Tangannya bahkan bergetar saat ingin menuangkan bubuk kopi kedalam cangkir, membuat sebagian butiran hitam itu tercecer di meja makan.

Setelah selesai dengan kopinya, Kyuhyun sekali lagi menguatkan hatinya. Jika pria itu teman Heechul, pasti tidak akan menyakitinya.

"Tu-tuan… Si-silahkan…" pemuda manis itu meletakkan secangkir kopi di atas meja.

"Oh… Gomawo…" pria tampan itu perlahan duduk di sofa berwarna merah hati. Ia mengambil cangkir kopinya, sedikit meniup-niup agar tidak terlalu panas. Mata musangnya terus memandang Kyuhyun, membuat pemuda itu terkikuk sendiri. Matanya bahkan menoleh kesana-kemari sembari meremas nampan bulat di pangkuannya.

Di letakkannya cangkir kopinya. "Apa wajahku begitu seram sampai-sampai kau kelihatan begitu takut?" tanyanya dengan nada biasa dan santai.

"A-ani…"

Bibir tebalnya kembali tersenyum. "Jika Kyuhyun masih hidup, mungkin dia seusia pemuda ini…" Gumamnya teramat pelan.

Brak!

Sepertinya pintu itu memang sudah harus diganti.

Heechul menendangnya sekuat tenaga. Amarah tidak mengizinkannya memutar knop pintu. Ia menatap sadis pria yang tengah tersenyum padanya.

Kyuhyun mengelus dadanya yang sedikit terkejut. Dia memang sudah biasa melihat Heechul murka, tapi bukan berarti jantungnya terbiasa dengan bunyi kuat dan tiba-tiba seperti itu.

"Keluar kau!"

"Apa itu sapaan untuk sahabat lamamu yang baru saja pulang dari Jerman?"

"Sudah kukatakan untuk tidak menemuiku, brengsek!" teriak Heechul.

Kyuhyun sepertinya harus pergi. Dia tahu pembicaraan ini sangat serius. Ia meletakkan nampan di meja makan.

Seekor kucing berbulu kelabu memutari kakinya dan sesekali mengeong.

Kyuhyun menjongkokkan tubuhnya, menggendong kucing itu.

"Sepertinya Heecul Hyung sedang sibuk, Heebum. Kita main di taman belakang saja, ne…"

Dengan langkah ringan, Kyuhyun meninggalkan rumahnya. Membuka sebuah pintu yang memperlihatkan taman dengan kolam ikan di tengahnya.

.

.

.

Setelah lelah berteriak, marah-marah dan menyumpah-serapahi pria di depannya, Heechul terduduk angkuh dengan menyilang kaki. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Dagunya terangkat, menatap sengit pria tampan itu.

"Apa yang kau inginkan, Jung?" desis tajam pria cantik itu.

"Apa salah mengunjungi sahabat lama sekaligus kakakku, heum?" pria itu, Jung Yunho, tersenyum maklum menghadapi sikap Heechul.

Heechul berdecih. "Sudah kukatakan padamu untuk melupakannya!"

"Mianhae, aku tidak bisa. Aku mencintai Jaejoong sungguh-sungguh, Heechul-ah." Balas Yunho dengan nada kalem.

Heechul kembali berdecak. Amarah yang dulu terkubur seolah bangkit kembali. Ingin rasanya Heechul menusuk jantung pria Jung itu, jika saja ia tidak mengingat bahwa Jaejoong sangat mencintainya. Bahwa dia adalah ayah Kyuhyun.

"Katakan apa maumu dan segeralah pergi!"

"Tidak bolehkah aku berdiam sebentar disini? Setidaknya aku ingin kekamar Jaejoong." Lirihnya. Sungguh, ia terlalu lemah jika berurusan dengan Kim Jaejoong.

Heechul beranjak dari duduknya. "Cepat selesaikan urusanmu dan pergilah!"

Yunho tersenyum. "Gomawo, Heechul-ah."

.

.

.

Yunho mulai memasuki kamar bernuansa biru laut. Bahkan pernak-pernik laut seperti hiasan kerang atau bintang laut masih tertempel di dinding kamar. Heechul sengaja tidak mengubah apapun dari kamar itu sejak kepergian Jaejoong.

Bibirnya mengulas senyum. Wangi lembut citrus mulai menyapa indra penciumannya. Ia menarik nafas dalam-dalam, membiarkan citrus yang lembut itu memenuhi relung paru-parunya. Yunho benar-benar rindu aroma ini.

Pria Jung itu melangkahkan kakinya, mengabsen tiap detil kamar milik Jaejoong. Sudah lima belas tahun rasanya, tapi semuanya tidak ada yang berubah. Seolah Jaejoong masih ada.

Dia ingat dengan jelas, ketika pertama jatuh cinta pada pemuda Kim itu. Ketika akhirnya penyatuan keduanya membuktikan, bahwa cinta diantara mereka bukan omong kosong. Ketika telinganya terus mendengar Jaejoong mendesahkan lembut namanya. Ketika jemari itu mengusap peluh diwajahnya.

Lima belas tahun tidak menghapus apapun dari hati Yunho. Setelah lelah berputar, Yunho mulai merebahkan tubuhnya pada single bed dengan seprei warna putih. Matanya menutup. Membayangkan seseorang.

"Annyeong, Boojae…"

"Annyeong, Yunnie-ya…"

Kelopak mata itu terbuka. Dimiringkan kepalanya kesamping, melihat sosok cantik yang masih bertahan di sudut hatinya. Ia ikut memiringkan tubuhnya, sehingga bisa melihat dengan jelas wajah yang dicintainya.

Tangannya teerjulur, mengelus lembut rambut hitam Jaejoong yang tertidur menyamping.

"Kau pasti bahagia, ne… bagaimana keadaan Kyuhyun? Apa dia sudah tumbuh besar? Dia tampan atau cantik sepertimu, hm?"

Jaejoong tersenyum lembut. "Sekarang Kyuhyun sudah dewasa. Umm… dia tidak tampan, tapi tidak cantik juga… Kyuhyun tumbuh jadi pemuda yang manis…"

"Jinjja?"

"Ungh!" Jaejoong menganggukkan kepalanya lucu. Bibir merahnya mengerucut sedikit.

Yunho majukan wajahnya untuk mengecup bibir semerah cherry itu. Yunho menghela nafas sebentar. "Bogoshippeo, Jae…"

Sosok itu mulai memejamkan matanya, meresapi tiap sentuham halus Yunho di tepi wajahnya. "Nado bogoshippo…"

"Aku sangat merindukanmu dan Kyuhyun…"

Jaejoong hanya tersenyum membalas ucapan Yunho.

"Aku kesepian, Jae… kalian pergi meninggalkanku sendirian seperti ini…" bibir bawah Yunho sedikit majut. Berpura-pura kesal.

Jaejoong terkekeh ringan melihat pria yang selisih usia lima tahun darinya. Terlihat seperti anak kecil di usianya yang ke-36 tahun."Bukankah kami selalu dihatimu, heum?"

Kali ini balas tangan putih Jaejoong yang mengelus wajah tegas Yunho.

Yunho menarik kedua sudut bibirnya, "Ne, kalian berdua… kau dan Kyuhyun… selalu dihatiku…"

Perlahan, Yunho tidak bisa menolak rasa kantuk yang menyerangnya, matanya terasa begitu berat.

"Tidurlah… Aku akan menjagamu…" Jaejoong melumat sekilas bibir tebal Yunho. Membiarkan pria yang dia cintai terlelap. Membiarkan mimpi indah masalalu menjadi teman.

Jaejoong masih disana. Masih menatap wajah polos Yunho ketika tidur. Tangannya mengelus pelan rambut pria itu, hal yang disukai Yunho karena dia akan tidur dengan nyaman.

Malam masih panjang, dan Jaejoong masih ingin melampiaskan rindunya pada pria musang itu. Tapi perlahan buliran bening membuat jejak di pipinya. Jaejoong menangis dalam diam, tidak ingin menganggu Yunho yang sudah nyenyak.

"Dia membutuhkanmu, Yun… Kyuhyun sangat membutuhkanmu…"

.

.

.

.Next(?).

.

.

.


Update~ :3

ah, saya mo menanggapi beberapa review.

MyKyubee, Kim Kyuhyun dan Cho Kyuhyun orang yg beda tapi wujudnya sama (ngerti gak? :3). pas malaikat turun, Kim Kyuhyun sudah lahir. BINGO! ingatan siwon ttg Cho Kyuhyun dihapus, tapi krna siwon sebenernya udah mencintai si malaikat, jadi perasaannya yg tetep bertahan. makanya pas ditemukan lagi dgn Kim kyuhyun, perasaannya yg mulai bergerak walo siwon gak mau ngakuin.

Fuyu no Sakura, terima kasih lagunya ^^ saya udah denger dan saya suka.

Baiklah~ chap selanjutnya pasti bakal ngebosenin~

So, berkenan REVIEW? ^^v


*eh iya, adakah yg pengen nyiksa Won? saya tampung segala saran penyiksaan dri kalian *evillaugh XD~