TVXQ : How Can I…?

.

.

.

"Noona, Annyeong…"

Seorang wanita yang sedang menyusun beberapa kotak obat menoleh. Ia tersenyum dan menghampiri Kyuhyun.

"Ne?"

"Aku ingin membeli obat ini." Kyuhyun menyodorkan bungkus tablet obatnya yang sudah habis. Sepertinya Heechul lupa membeli lagi karena belakangan pamannya itu sangat sibuk.

Wanita penjaga apotek itu memperhatikan bungkus obat di tangannya, lalu ia tersenyum lebih lebar.

"Kau pasti sangat senang, ne…"

"Mwo?" Kyuhyun belum mengerti pembicaraan wanita yang sedang mengambil obatnya.

"Pasti sangat menyenangkan bisa bermain dengan aegya yang lucu…" wanita itu meletakkan obat di atas etalase kaca.

Kyuhyun memiringkan kepalanya, bingung.

"Katakan pada ibumu, jangan terlalu sering meminumnya karena tidak baik untuk uri aegya. Memang bisa mengurangi rasa mual, tapi harus dengan dosis yang rendah…"

.

.

.

Kyuhyun berjalan gontai. Sejak dari apotek tadi, dia merasa benar-benar kosong. Langkah kakinya berhenti. Perlahan, tangannya memegang perutnya sendiri.

"Ti-tidak mungkin…" desisnya.

.

.

.

Sesampainya dirumah, Kyuhyun langsung menuju ruangan Heechul. Dia sadar kalau dia tidak pernah melihat hasil kesehatannya.

Kyuhyun tidak perduli jika Heechul nanti akan marah padanya karena sudah mengobrak-abrik ruangannya, tapi ia ingin memastikan sesuatu. Semoga hal yang dipikirkannya bertentangan dengan laporan kesehatannya.

Kyuhyun mulai mengacak lemari yang berisi begitu banyak buku dan map. Sampai ketika sepasang karamelnya menangkap kertas yang berserakan diatas meja.

Kyuhyun mulai mengambil satu per satu kertas-kertas itu. Ia menatap tidak percaya dengan mulut yang sedikit terbuka.

"A-ani…hiks… U-ummaottokhae?"

Pemuda manis itu langsung menangis ketika melihat lembar demi lembar yang berisikan kondisi kandungannya. Bahkan janin itu sudah berusia sebulan dalam perutnya. Dan kondisinya sangat lemah dikarenakan mentalnya sedang masa terpuruk.

Tubuhnya melemas dan perlahan merosot. Ia bersimpuh. Tidak percaya. Barkali-kali ia memanggil Umma-nya karena bagaimanapun dia masih terlalu kecil untuk melalui ini sendirian.

"Jae Umma… hiks… O-ottokhae?" Kyuhyun meremas perutnya.

Tanpa tahu seseorang yang begitu cantik tengah memeluk punggungnya lembut. Menatap sendu bayi manisnya, "Mianhae, Kyu… Mianhae…"

.

.

.

Setelah lelah menangis, Kyuhyun melihat kertas lain yang berisi data tentang seseorang yang sangat ingin ia lupakan. Choi Siwon.

Dan disinilah dia sekarang. Memandang gedung pencakar langit dari luar. Kyuhyun tahu, Heechul pasti akan membunuh pria itu jika berhasil ditemukan, tapi ada sisi lain dari hatinya yang tidak mengizinkan hal itu terjadi.

Mungkin jika pria itu mau bertanggung jawab, dia bisa selamat dari amukan Heechul.

Kyuhyun mulai memantapkan hatinya. Tapi sayang sekali, tubuhnya tidak begitu saja melupakan kejadian mengerikan dalam hidupnya. Tubuh kurus itu bergetar dan mulai mengeluarkan keringat dingin.

Dan berkali-kali pula hatinya terus menguatkannya. Semoga semuanya baik-baik saja. Semoga…

.

.

.

Kyuhyun akhirnya sampai di lantai tiga belas.

Saat bertanya pada resepsionis, ia disuruh menaiki lift sampai lantai 13 dan menemui sekertaris direktur.

"A-annyeong hasimnikka…"

Seorang pria manis mendongakkan kepalanya. Ia tersenyum ramah. "Ye?"

"A-apa Choi Siwon ada?"

"Choi Sajangnim sedang rapat. Apa anda sudah membuat janji untuk bertemu?"

"Be-belum…" Kyuhyun menggeleng pelan. Ia menundukkan wajahnya. Sedangkan tangannya sibuk meremas kemeja baby blue yang sedang dikenakannya.

"Choi Siwon Sajangnim…" pria manis itu membungkukkan tubuhnya saat melihat atasannya tengah berjalan menghampirinya.

Tatapan pria tampan itu beralih pada Kyuhyun yang menatap takut dirinya.

"Lee Sungmin-sshi, Jika ada yang ingin menemuiku, katakan aku sedang sibuk. Dan kau, masuklah." Siwon langsung membuka pintu ruangannya.

Pria manis itu, Lee Sungmin, membungkuk hormat. "Arrasimnida, Sajangnim."

Kyuhyun mengikuti langkah Siwon dari belakang. Jantungnya berdegup sangat kencang sampai-sampai nafasnya terasa sesak. Sebenarnya dia ingin sekali tidak menemui pria itu, pria yang sudah memberikan rasa trauma, takut dan kenangan mengerikan pada tubuh dan hatinya. Tapi jika mengingat 'Sesuatu' yang tengah hidup dalam tubuhnya, Kyuhyun berusaha untuk kuat, meski sepertinya gagal.

"Katakan apa maumu?" Siwon duduk dikursinya, membuka kembali laporan-laporan perusahaannya. Tanpa melihat Kyuhyun yang menunduk dalam.

Sesaat, tenggorokan Kyuhyun tercekat mendengar nada sedingin es keluar dari mulut Siwon.

"A-aku… hamil…"

Meski suara Kyuhyun sangat kecil, tapi Siwon masih bisa mendengarnya. Gerakan tangannya sempat terhenti. Lalu dia kembali membuka dokumen lainnya. Tidak memperdulikan Kyuhyun yang sedang berdiri.

"Lalu?"

Nyut!

"Kau ingin aku bertanggung jawab?"

Sakit!

"Sudah berapa lelaki yang kau layani malam itu?"

Hatinya tiba-tiba seperti dihujam sesuatu. Sangat menyakitkan. Tidakkah pria itu melihat wajah Kyuhyun sekarang. Bahkan air mata sudah mengenang penuh di pelupuk matanya. Sekedip saja sudah bisa meloloskan buliran bening itu.

Siwon mengatakan hal kejam seperti itu bahkan tanpa melihat Kyuhyun selirik pun. Seolah dokumen membosankan itu lebih menarik dari sesosok pemuda ringkih di depan mejanya.

Kyuhyun menangis. Pemuda manis itu meremas kuat kemeja bagian perutnya. Seolah sang janin bisa merasakan sakit yang Kyuhyun rasakan.

"A-aku… mengerti… A-annyeong…" Kyuhyun membungkukkan tubuhnya, lalu berbalik meninggalkan ruangan luas itu.

Sejak awal Kyuhyun harusnya tahu, tidak segampang itu membuat Siwon percaya janin dalam perutnya itu miliknya.

Yang ada selama ini adalah, Kyuhyun seorang pelacur. Setelah dua bulan tidak bertatap muka, tiba-tiba datang dan mengatakan dirinya sedang mengandung. Mengandung anaknya?

Siwon bahkan sempat terkekeh dalam diamnya mengingat hal itu.

.

.

.

Kau tidak tahu, Choi Siwon, bahwa Tuhan tengah menyiapkan karma untukmu nanti.

Karma, karena kau sudah menyakiti dua hati yang tulus mencintaimu.

.

.

.

Kyuhyun memeluk lututnya.

Seperginya ia dari kantor Siwon, entah kenapa Kyuhyun ingin duduk di kursi taman yang bersebelahan dengan gereja yang sering ia datangi untuk mendoakan ketenangan ibunya. Dan didepannya terdapat taman kanak-kanak. Dia juga sering membantu dan bermain bersama anak-anak yang bersekolah disitu.

Pemuda manis itu menatap begitu banyak anak kecil yang sedang berkejar-kejaran. Tampak sangat menggemaskan.

Tangan kanannya mengelus lembut perutnya yang masih rata. Bibir pink pucatnya perlahan mengulas senyum tipis. Ia merunduk. Menatap perutnya. Menatap bayi mungilnya.

"Annyeong, aegyaGomawo, ne… kau tidak ingin membiarkan Umma sendirian, um? Makanya kau hadir dalam hidup Umma?" Kyuhyun mulai bermonolog.

"Apa kau sudah tahu Appa-mu tidak bisa bersama Umma? Kau ingin menemani Umma menggantikan Appa-mu, heum? Kau sayang Umma? Umma juga menyayangimu…"

"Umma akan menjagamu… kau harus jadi bayi yang sehat, ne…" Kyuhyun semakin tersenyum lebar dan terus mengelus perutnya sayang.

Dia sudah memutuskan untuk mempertahankan bayinya. Seperti inikah perasaan ibunya dulu?

Kyuhyun mendongakkan kepalanya. Menatap langit siang itu.

"Umma, gomawo… karena Umma sudah menyayangi dan menjagaku selama sembilan bulan…"

"Kau harus jadi Umma yang kuat, Kyunnie… Umma sangat menyayangimu… Appa juga menyayangimu… kami berdua sangat mencintaimu…"

Sosok cantik itu, Jaejoong, tersenyum melihat bayi kecilnya sudah tumbuh semakin dewasa. Ia tahu Kyuhyun masih terlalu kecil untuk ini, tapi dia tahu, Kyuhyun akan kuat menghadapinya.

Karena bayi kecilnya telah bertahan selama sembilan bulan dalam perutnya. Bukankah Kyuhyun bayi yang kuat ketika kondisi Jaejoong sempat memburuk?

Jaejoong mengusap lembut surai madu putranya. Dan memalui angin, Kyuhyun bisa merasakan usapan lembut itu.

Pemuda manis itu menutup kedua matanya. Meresapi tiap sentuhan kasih sayang Jaejoong. Meski ia tidak melihatnya, tapi Kyuhyun tahu, Jaejoong sedang merangkul pundaknya.

"Gomawo, Umma…"

.

.

.

.

.

Kyuhyun putuskan untuk berhenti berharap pada sesuatu yang absurd. Sesuatu yang semu.

Kini dia seorang ibu. Dia akan membesarkan bayinya tanpa Siwon. Siwon bahkan sudah menolak sebelum bayi itu lahir.

Bayi itu akan menemani hari-harinya kelak. Dan Kyuhyun mulai merencanakan masa depannya dan bayinya. Hanya masa depan mereka berdua.

Tidak ada Siwon dalam rencana masa depannya. Tidak akan pernah ada…

.

.

.

.

.

"Aku ingin ramen…" gumamnya tiba-tiba. Dia merasa sangat bosan dirumahnya. Meski ada beberapa Maid, dia tetap tidak bisa mengajak mereka mengobrol.

Kyuhyun melirik jam dinding kamarnya. Sudah jam sembilan malam. Bibirnya mengerucut, "Aku mau makan ramen…" gumamnya terus.

Akhirnya ia putuskan untuk pergi keluar. Seingatnya, di dekat apotek ada kedai ramen.

Mungkin akan sulit untuk keluar, mengingat Heechul sudah menyewa begitu banyak pengawal di rumahnya.

.

.

.

Kyuhyun berjalan dengan riang saat bisa mengelabui pengawal berbadan kekar itu dengan mudah. Meski dia mengalami trauma, sepertinya otak 'Evil' Kyuhyun masih utuh. Ck~

Jalanan sudah mulai sepi. Kyuhyun semakin merapatkan jaketnya, agar aegya dalam perutnya tidak kedinginan. Aegya itu pasti sudah sangat lapar.

Kyuhyun tidak takut berjalan malam-malam sendiri. Ia tahu, Heechul juga menyewa mata-mata untuk mengawasinya jika ia sedang berada diluar.

Mata-mata itu tidak akan menganggu Kyuhyun. Karena tugasnya hanya melaporkan apa saja yang diperbuat pemuda manis itu.

Jika ada yang berniat menyakitinya, barulah mata-mata itu bergerak melindungi Kyuhyun.

Tin! Tin!

Kyuhyun tersentak saat mendengar klakson mobil mengangetkannya. Dia menoleh, dan kaca mobil yang sudah disampingnya terbuka.

Wajah tampan itu tersenyum. Kyuhyun kenal wajah itu. Ia mengangguk kecil. Sekedar formalitas karena pria itu pernah menginap dirumahnya.

Heechul tidak pernah membiarkan orang asing seenaknya tidur di kediaman Kim. Apapun yang terjadi pasti dia akan menendang orang itu keluar. Tapi pria itu, Jung Yunho, sempat menginap semalam. Itu artinya dia sudah Heechul anggap sebagai keluarga, meski sifatnya sedikit kasar.

"Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini?" Tanya Yunho, ramah. Ia keluar dari mobilnya dan menghampiri Kyuhyun.

Bibir pemuda manis itu kembali mengerucut saat menyadari perutnya sudah mulai menendang-nendang. Sungguh bayi yang tidak sabaran. Ckck~

"Aku ingin ramen…"

Yunho tersenyum melihat pemuda di depannya. Entah kenapa, pemuda itu terlihat seperti Jaejoong dulu. Ia ingat dengan jelas saat pertama Jaejoong memasuki masa ngidam. Tengah malam tiba-tiba menariknya untuk membelikan ramen dengan bibir yang mengerucut imut.

"Jinjja? Aku juga ingin makan ramen, dan di dekat sini ada kedai ramen langgananku. Kajja, masuk kemobilku."

Kyuhyun tersenyum sumringah. Sepertinya Kyuhyun lupa dengan traumanya jika berhadapan dengan Yunho. Dia bahkan bersikap seolah tidak pernah ada kejadian itu dalam hidupnya.

.

.

.

Kyuhyun tersenyum lebar saat ramen pesanannya datang. Ditarik nafasnya kuat-kuat, aroma ramen itu mebuatnya semakin lapar. Dia segera mengambil sumpitnya dan meniup-niup agar tidak terlalu panas.

Yunho hanya menatap Kyuhyun dengan lembut. Benar-benar mirip Jaejoong, pikirnya.

"Uhnngg… mashita…" gumam Kyuhyun ketika ramen itu mendarat diperutnya. Makannya semakin lahap.

Tatapan Yunho kembali sendu. Sosok Kyuhyun sama dengan sosok Jaejoong dulu. Sangat sama.

...

"Ya, kenapa kau tidak memakan ramennya?" Jaejoong yang merasa diperhatikan, mengangkat kepalanya.

"Aku sudah kenyang hanya melihatmu, BooJae…"

"Cih! Dasar penggombal. Kalau kau tidak mau, boleh kumakan?" Jaejoong menatap Yunho dengan puppy eyes-nya.

"Mwo? Kau bahkan sudah menghabiskan dua mangkuk, Boo. Bagaimana kalau nanti perutmu sakit?"

"Aish! Aku sangat kelaparan Yunnie-ya… Aegya-mu yang ingin… huhuhu… baby, lihatlah, Appa tidak mau memberikan ramennya untuk Umma…" Jaejoong mengelus perutnya dengan bibir yang mengerucut. Dia mulai mengadu dengan bayi dalam perutnya.

"Kau harus memarahi Appa-mu… dia jahat, baby…"

"Haish! Jangan katakan hal-hal aneh pada Kyuhyun. Arra… Arra… kau boleh memakan ramenku."

Sungguh Umma dan bayi yang merepotkan, eh?

...

"Tuan?"

"Ah, ne?" Yunho kembali sadar dari lamunannya.

Kyuhyun sedikit malu untuk mengatakannya. "A-aku masih lapar…"

Yunho terkekeh kecil. "Kau boleh makan ramenku." Dia menyodorkan mangkuk ramennya yang sudah hangat.

Kyuhyun langsung mengambil mangkuk yang disodorkan padanya.

"Aku pernah mendengar kalau Heechul memiliki adik angkat… kukira usianya sudah 20-an, ternyata masih begitu muda…"

Kyuhyun mulai resah. Heechul sudah berkali-kali memintanya untuk tidak mengungkapkan jati dirinya pada pria di depannya. Dia belum tahu alasannya, karena tiap ditanya, Heechul langung pergi.

Kyuhyun tersenyum kikuk.

"Jung Yunho imnida…"

"Kyu-Lee Donghae imnida…" Kyuhyun meralat cepat ucapannya. Adik angkat Heechul hanya Lee Donghae, seingatnya.

"Apa anda tidak makan? Bukankah tadi bilang ingin makan ramen?" Tanya Kyuhyun.

"Ah… entah kenapa aku merasa sangat kenyang. Segeralah makan ramennya, tidak enak jika sudah dingin."

Kyuhyun kembali melahap mi dalam mangkuk Yunho.

Pria musang itu menopang dagu dengan kedua tangannya. Tatapannya tidak lepas dari Kyuhyun. Perlahan, tangannya terjulur kedepan. Menyingkap poni Kyuhyun. Membuat pemuda itu sedikit kaget.

"Nanti bisa masuk kemata dan membuat matamu perih…" ucapnya santai.

'Bagaimana dia bisa sangat mirip dengamu, BooJae?', batin pria itu.

.

.

.

...

Setelah kenyang menyantap ramen, Jaejoong putuskan untuk pulang dengan membawa dua bungkus ramen untuk Hyung-nya dan Hangeng, kekasih Heechul.

Keduanya berjalan dengan bergandengan tangan. Dengan sedikit mengobrol ringan.

Segerombol orang tidak dikenal tiba-tiba menghadang langkah Yunho dan Jaejoong.

"Selamat malam, Tuan-tuan…"

"Omo… lihat, dia cantik sekali…" salah satu preman menghampiri Jaejoong yang semakin mengeratkan pegangan tangannya pada Yunho.

Yunho langsung berdiri di depan Jaejoong. Melindungi pemuda cantik itu. "Apa yang kalian inginkan?"

"Hoho… ternyata Tuan ini sangat mengerti. Serahkan dompet kalian…"

Beberapa pria seram sudah mengeluarkan belati kecil.

Yunho sadar kalau dia tidak membawa dompetnya. Dia hanya membawa beberapa lembar uang dan meninggalkan dompetnya di kamar Jaejoong.

"Aku tidak membawa dompet…" jawab Yunho. Dia semakin menggeser tubuh Jaejoong agar bersembunyi dibalik punggungnya.

"Mwo? Tidak membawa dompet?"

Para preman itu tertawa keras. Membuat Jaejoong risih dan kesal.

"Maaf Tuan, kami bukan orang bodoh!"

Pria yang sejak tadi menatap lapar Jaejoong langsung menarik tangan pemuda itu.

"Ya! Apa yang kau lakukan?!" Jaejoong meronta. Dia tidak sudi tangan kasar itu menyentuhnya.

"Hei, cantik… bagaimana kalau kita bermain sebentar, heum?"

"Lepaskan tanganmu!" Yunho ingin memukul pria itu tapi temannya yang lain sudah bertindak memukulnya.

Jaejoong berdecak. "Kau membuatku marah!" desis Jaejoong.

Dan detik betikutnya, pria itu sudah terjungkal ketanah. Jaejoong sepertinya belajar teknik ber-judo selama di Jepang.

Yunho menatap kaget Jaejoong yang baru membanting pria yang bahkan lebih besar darinya.

Ah… sepertinya Yunho melupakan fakta bahwa Jaejoong seorang cucu dari Yakuza yang paling di takuti di Jepang. Apalagi sejak kecil pemuda itu dibesarkan disana.

Jaejoong segera mengambil pisau lipat yang selalu dibawanya. Ia menancapkan ketanah, tepat disamping leher pria itu. Luka sayatan berhasil diterima lehernya.

"Pergilah!" perintahnya dingin.

Seketika, sekawanan preman yang sudah berkelahi dengan Yunho langsung menarik teman mereka dan pergi terbirit-birit.

Jaejoong menghampiri Yunho. "Kau tidak apa-apa?". Pemuda itu memeriksa wajah Yunho, takut pria yang dicintainya terluka.

"Harusnya aku yang bertanya. Aku sangat mencemaskanmu!" Yunho langsung memeluk erat tubuh yang lebih kecil darinya.

Jaejoong terkekeh. "Kau pikir aku laki-laki lemah, eh? Apa kau lupa, aku adik dari Kim Heechul, hum?"

Yunho melepaskan pelukannya. Bibir bawahnya sedikit maju, "Kalau kau sekuat ini, bagaimana aku bisa melindungimu?"

Pemuda Kim itu terkekeh. Ia sedikit menjinjitkan kakinya, mengecup bibir bawah Yunho. "Kalau begitu, jadilah lebih kuat dariku… lindungi aku dan Kyuhyun…" ucapnya sambil berlalu.

Yunho langsung mengejar Jaejoong yang sudah berjalan lebih dulu. Ia mensejajarkan langkahnya. "Kau bisa melukai Kyunnie, Boo… Kyunnie baby, apa Umma menyakitimu?" pria berusia 21 tahun itu mengelus perut Jaejoong yang sedikit membuncit.

"Aku hanya membantingnya pelan, Yun~"

"Lihat, Umma-mu yang nakal ini… dia merajuk pada Appa…"

Jaejoong mulai mengumpat kecil. Bagaimanapun dia masih remaja berusia 16 tahun. Wajar jika suasana hatinya sulit dikontrol. Ditambah dia sedang mengandung.

Yunho tertawa kecil. Ia memeluk bahu Jaejoong, semakin merapatkan tubuh keduanya.

Jaejoong tersenyum senang. Dia balas memeluk pinggang Yunho.

Alangkah bahagianya ia jika saat seperti ini bisa dinikmati selamanya…

...

.

.

.

Setelah mengantar Kyuhyun pulang, Yunho langsung kembali kerumahnya yang ditempati seorang diri. Rumah yang seharusnya ia tempati bersama Jaejoong.

Sampai di kamarnya, Yunho langsung menghempas punggungnya pada ranjang empuknya. Tangannya meraba nakas, mengambil sebuah bingkai foto Jaejoong yang sedang menggendong seekor kucing berbulu agak gelap. Jaejoong sedang tersenyum manis.

"Aku memang lemah Jae... Wajar jika kau dan Kyuhyun pergi..."

Jemarinya mengelus foto itu.

"Kau lebih suka melihat fotoku ketimbang wajah asliku?"

Sebuah suara membuat Yunho tersenyum. Ia menoleh, melihat Jaejoong sedang duduk di pinggir ranjang. Dia menarik tangan mungil Jaejoong, membuat pemuda cantik itu terjatuh diatas tubuhnya. Tangannya melingkar dipinggang rampingnya.

"Apa kau tahu, Jae, tadi aku bertemu dengan seseorang yang sangat mirip denganmu…"

"Nugu? Apa kau mulai selingkuh, heum? Nappeun Appa! Akan kuadukan pada Kyuhyun nanti." Jaejoong mencubit kedua pipi Yunho.

"Dia adik angkat Heechul. Entah kenapa, setiap melihatnya, aku seperti melihatmu…"

Jaejoong merebahkan kepalanya diatas dada bidang Yunho. Ia tidak ingin Yunho melihat raut wajahnya yang ingin menangis.

"Apa dia lebih cantik dariku?" Jaejoong berusaha agar suaranya tidak bergetar.

"Humm… dia tidak cantik… menurutku dia pemuda yang manis… saaangat manis…"

Jaejoong pura-pura memukul dada Yunho. "Kau mulai berpaling dariku, eh?!"

Yunho tertawa. "Jangan cemburu, BooJae. Aku hanya milikmu. Dan kau hanya milikku."

Perlahan, telinga Jaejoong menangkap dengkuran halus dari tubuh dibawahnya. Yunho sudah tertidur.

"Mianhae Yun… aku tidak bisa mengubah apapun… hiks… dia Kyuhyun, Yunnie-ya… hiks… Tuhan melarangku mengubah takdir… Mianhae…"

.

.

.

.Next(?).

.

.

.


Update~

saya ngebut negrjain ini chap... Mian klo byk YunJae moment-nya =="a saya ketik apapun yg ada diotak saya hari ini dgn edit yg seadanya. belakangan saya juga byk ngelolosin TYPOS.

saya sibuk nyari duid... saya mau COSPLAY! huwaaaa~ mana kostum saya belon jadi~ hiksu~ T^T


MyDecember, kalo Yun gak mau tanggung jawab, dy gak bakal berani muncul didepan Heechul. Kyu blm ada rasa suka dgn Won? jinjja? :D *Plak!* Kyu dan Won sebenernya udh sering ketemu di gereja. kyu dtg doain Jae, dan Won dtg cuma sekedar pengakuan, trs pulang tnpa lirik kanan-kiri. Chullie udh tahu, mkanya dy ngmpulin data ttg Won.

rev ke-2, pemikiranmu sama nih~ :3 eh, ada fb? kyknya asik ngbrol sma kamu... :D

yg ke-3, BINGO! Gift dan Baby emang seq Gyeoul :D makanya saya tulis "WonKyu after married". rencananya setelah dua drabble itu, saya mau buat yg versi chaptered, yaahh~ kisah ny ndak beda dgn sinetron lah ya... dan kmungkinan bakal saya posting di FB

Song Hye Hoon, SiscaMinstalove, Mian, ini kesalahan saya sampe kalian mikir begitu *jedukin kepala kekeyboard*

Maksud saya, pas AngelKyu turun kebumi, KimKyu udh ada. singkatnya, pas chap awal, AngelKyu 15 thn, Won 25 thn, KimKyu 14thn. pas mulai masuk chap 2, Won 26thn, KimKyu 15thn. Maapkan kesalahan saya ^^"a

MyKyubee, nanti bakal kejawab satu2 XD

I was a Dreamer, Terima kasih sdh suka ff saya :). ntu won udh ketemu kyu. hmm... arwah? gimana ya? sejak awal ini ff udah masuk fantasy kan ya... singkatnya, tubuh Jae emang udh mati, tapi jiwanya ttp idup. tp Jae gak boleh bilang apa2 sma Yun. anggep aja bayaran krna msh boleh didunia...


Mianhae~ saya gak bales review yg lain. brhubung saya cuma bisa login sebentar, saya pake cuma buat update.

Oh iya, mungkin ada yg heran kenapa diatas saya tulis How can i...?-TVXQ. selama seharian saya ngetik, cuma lagu itu yg saya dengerin. entah kenapa dpt feel dari lagu itu.

Baiklah~ mulai membosankan kah?

So, Berkenan REVIEW? ^^V