Siwon berjalan santai menuju lantai atas sebuah club. Tidak dihiraukannya para wanita berpakaian kelewat minim yang menatapnya penuh nafsu.

Bagaimana tidak?

Dia menggenakan setelan berwarna hitam yang begitu pas ditubuhnya. Membuat otot badannya nampak meski pakaian hitam itu menutupi. Ditambah rambutnya yang sedikit ikal dan tidak tersisir dengan rapi, membuat kesan seksi pada pria berusia 26 tahun itu.

Siwon sedang bahagia sekarang. Karena dia berhasil melakukan kontrak dengan Jung Group. Salah satu keluarga terkaya di Korea Selatan yang berhasil menggerakkan perekonomian Seoul baik di 'Dunia depan' atau 'Dunia belakang'. Membuat keluarga itu sangat disegani sekaligus ditakuti. Ini keuntungan yang besar untuk keluarganya.

Siwon menghampiri sofa tempat sepasang pria asik bercumbu. Dia berdecak pelan. Sahabatnya itu sungguh tidak tahu tempat. Tanpa berniat mengganggu, dia duduk di sofa yang kosong. Menuang wine pada gelas ketiga yang masih bersih.

"Tidak bisakah kalian pindah kekamar?" Akhirnya Siwon jengah melihat sepasang kekasih yang sedang bercumbu itu mulai hilang kendali.

Pria dengan tattoo salib di leher kanannya menoleh. Donghae tersenyum sambil mengelap sekitar bibirnya yang basah. Dia juga mulai membenahi kemeja biru dongker yang sudah terbuka.

"Sejak kapan kau disini?"

Siwon meletakkan gelas berisi wine yang masih sisa setengah kemeja. Dia menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa berwarna merah hati itu. "Baru saja."

Donghae memperhatikan wajah sahabatnya. "Ya, apa ada yang membuatmu senang? Kau tidak ingin berbagi dengan sahabat baikmu ini?"

Pria disebelah Donghae kembali menuang wine pada gelasnya dan gelas Donghae.

"Setelah sekian lama berurusan dengan Jung Group, akhirnya kami memilih jalan damai dan Jung Yunho bersedia menanamkan sahamnya pada perusahaan Ayahku."

Donghae menatap tidak percaya pria Choi yang sedang menegak wine-nya. "Jinjjayo? Sudah berapa lama kalian berselisih? Sepuluh tahun? Itu bukan waktu yang singkat, Siwon-ah. Dan tiba-tiba mereka 'melembut'? Itu sulit dipercaya."

"Sepertinya setelah pulang dari Jerman, kepala Jung Yunho itu sedikit lebih baik. Sikapnya juga tidak sedingin dulu."

Pria bermata seperti kucing di sebelah Donghae sedikit terkekeh. Dia menyandarkan tubuhnya di dada Donghae. "Jung dan Choi? Sungguh kombinasi yang mengerikan."

Siwon berdiri.

"Ingin bersenang-senang, huh?"

Siwon hanya tersenyum menanggapi seringaian sahabatnya.

"Carilah apa yang kau suka. Biar nanti kuurus mereka untukmu."

Siwon segera beranjak turun melewati lantai dansa. Wanita yang sedari tadi menyimpan hasrat pada Siwon mulai mendekati pria gagah itu. Namun sayang, Siwon tidak berminat untuk bermain bersama mereka.

Ia merindukan seseorang.

Ya. Meski ingin memungkiri berkali-kali, tetap saja rindu itu semakin berkembang jelas dalam hati Siwon.

Ia sangat merindukan semuanya. Sepasang caramel-nya. Tubuh pucatnya. Suara indahnya.

Dia sangat menginginkan itu semua sekarang.

Siwon sepertinya lupa, bahwa beberapa hari yang lalu, dia menolak seorang pemuda ringkih yang sedang menanggung beban perbuatannya kala dulu.

.

.

.

Heechul memijit tengkuknya. Setidaknya hal itu bisa membuat otot-otot lehernya rileks karena pekerjaannya makin bertambah saja. Belum lagi tiap ia berhadapan dengan Yunho, otot-otot lehernya kembali menegang karena emosi yang tertahan selama 15 tahun.

Ketika sampai di lantai utama club-nya, keningnya mengkerut melihat menejer barunya sedang berhadapan dengan seseorang yang belum pernah dilihatnya.

Sepertinya orang baru, batin Heechul.

Dia putuskan untuk menghampiri mereka. Mungkin dirinya bisa membantu apa yang di inginkan si pelanggan barunya.

"Sudah saya katakan, Tuan. Dia tidak bekerja disini." Sang menejer baru membungkuk kembali untuk yang kesekian kalinya sejak berhadapan dengan Siwon.

Pria itu berdecak. "Seperti inikah layanan club yang sudah begitu tersohor? Aku benar-benar kecewa." Desahnya kemudian.

"Apa ada yang bisa kubantu?"

Pria dengan setelan jas itu membungkuk hormat pada Heechul.

Pria cantik itu melihat Siwon. "Aku baru melihatmu. Sepertinya kau baru disini. Apa ada yang kau butuhkan?"

"Kau siapa?" Tanya Siwon, bingung. Pria cantik itu tiba-tiba muncul dalam percakapannya.

"Ah, aku lupa memperkenalkan diri. Kim Heechul. Pemilik club ini."

"Kau pemiliknya? Aku ingin bertanya, bukankah disini menyediakan 'Pelayanan'?"

"Nde. Apa ada yang ingin kau 'Pesan'? Silahkan katakan."

"Kalau begitu, bisa kau bawa Kim Kyuhyun kekamarku? Aku ingin dia yang melayaniku."

Ctik!

Mendengar nama keponakannya disebut membuat Heechul menyadari satu hal. Wajah itu!

Pantas saja dia seperti pernah melihatnya. Dari tadi wajah itu tidak begitu jelas karena lampu club yang temaram.

"Kau…" Heechul mengepal kuat tangannya.

Detik berikutnya, terdengar dentuman di dinding yang teredam oleh musik yang terputar keras.

.

.

.

"MWO?!"

Donghae mengelus telinganya. Hyukjae, kekasihnya berucap keras di dekat telinganya. Mereka berada dilantai tiga yang dipasang peredam suara, jadi musik sekencang apapun dilantai bawah hanya akan terdengar sayup-sayup.

Donghae baru saja bercerita pada Hyukjae bahwa ia mengirim seorang bartender untuk Siwon.

"Tidak bisakah kau kecilkan suaramu? Telingaku sedikit berdenging…"

Lee Hyukjae langsung memukul kuat kepala Donghae. "YA! Apa kau cari mati, hah?! Menejer Kang mati karena hal itu, Pabbo!"

"Memangnya ada apa?"

"Kau tahu siapa bartender baru itu yang sebenarnya?!"

Donghae menggeleng dengan wajah polos.

"Haish! Kau benar-benar dalam masalah! Semoga saja temanmu itu tidak bertemu dengan Kim Heechul. Kujelaskan padamu, Kyuhyun putra dari Kim Jaejoong!" Hyukjae memberi penekanan ditiap kata-katanya.

Kali ini giliran Donghae yang berharap telinganya benar-benar tuli. Dia langsung berlari kelantai satu. Dan betapa kagetnya ia saat melihat Siwon meringkuk dengan Heechul menginjak bagian dadanya.

Dia mengacak rambutnya. Masalah!

Heechul tidak pernah main-main dengan tindakannya!

"H-hyung!" Donghae segera berlari menghampiri tempat Heechul berdiri.

Pria cantik itu menoleh. Wajahnya begitu dingin dan datar. "Mwo?"

"Di-dia… temanku…"

Heechul segera menembak paha kiri adik angkatnya itu dengan wajah dingin. Dilangkahkan kakinya menghampiri Donghae yang meringis sakit, menahan pahanya yang mengalirkan darah segar.

Heechul menjambak rambut pria itu, membuat wajah keduanya hanya berjarak beberapa senti. "Jika saja bukan karena mendiang Ayahmu yang sudah membesarkanku, kupastikan peluruku bersarang di sini!" desis Heechul, seraya menyentuh dada bagian kiri Donghae dengan pistol kecilnya.

"Mi-mianhae, Hyung… ukh… Ak-aku… tidak tahu…"

Heechul berdecih. Sungguh, dia ingin sekali membunuh adik angkatnya itu. Hanya saja dia masih merasa memiliki hutang budi pada keluarga Lee. Itu juga yang membuat Donghae sedikit berkuasa melakukan apapun di club miliknya ini.

Heechul menghempas kuat kepala Donghae, bahkan beberapa helai hitam tersisa ditangannya, saking kuatnya jambakan Heechul. Dia kembali menghampiri Siwon yang terbatuk.

Dia baru saja di tendang sekuat tenaga kedinding. Lalu Heechul dengan wajah dingin menginjak dadanya, membuat nafasnya putus-putus.

"Dan kau… kukatakan satu hal padamu. Kyuhyun, keponakanku, bukan seorang pelacur seperti kau kira! Dan kau tahu apa lagi? Di dalam tubuhnya menanggung nyawa lain. Darahmu yang menjijikkan justru tercampur disana!"

Heechul berdiri. "Mati terlalu indah untukmu, Tuan. Akan kubuat kau merasakan apa yang keponakanku rasakaan saat itu. Bawa dia keruanganku."

Dengan sigap, kedua bodyguard yang berdiri tak jauh dari insiden itu langsung mengangkat tubuh Siwon yang sudah tidak sanggup berjalan.

.

.

.

Kelopak mata itu perlahan terbuka. Sedikit mengerjap kecil untuk membiasakan retinanya menerima bias cahaya. Setelah bisa melihat sempurna, dia hanya menghela nafas ringan. Layar putih yang dilihat adalah langit-langit kamar di salah satu rumah sakit rupanya.

"Oh, kau sudah bangun."

Suara itu dia kenal.

"Aku tidak menyangka kau bisa 'dihabisi' Kim Heechul. Yang lebih membuatku terkejut adalah kondisimu sekarang. Kau terlibat urusan seperti apa dengannya?"

Suara baritone itu itu terdengar sangat tenang. Siwon memejamkan matanya sebentar, lalu membukanya kembali.

"Kau mengenal Kim Heechul, Yunho-sshi?" Tanyanya dengan suara parau.

Pria yang sedang duduk tak jauh dariranjang tempat Siwon berbaring hanya tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari buku ditangannya. Kacamata baca yang sedari tadi bertengger dihidung mancungnya membuat senyum itu tertutup.

"Dia sahabat lamaku."

Setelah Yunho menjawab, pintu bercat putih kamar inap Siwon terbuka. Wanita paruh baya itu tidak menyangka ketika melihat keadaan putra semata wayangnya begitu menggenaskan.

Hampir seluruh tubuh bagian dada sampaiperut terbalut perban layaknya mummy. Wajah yang biasanya gagah sekarang terlihat membengkak dengan hiasan warna biru.

"O-omoo~ Ya! Apa yang terjadi padamu, Wonnie?!" Wanita itu segera menghampiri putranya.

Siwon menggeram perih saat tangan sang Ibu menyentuh pipinya yang lebam.

"Umma, appo…". Desisnya.

"Yunho-sshi, apa kau tahu siapa yang melakukan hal ini pada putraku?" wanita itu memandang Yunho.

Pria itu diam sejenak. "Aku tidak tahu. Tiba-tiba ada seseorang yang menghubungiku dan menyuruhku untuk kerumah sakit. Aku tidak kenal orang itu." Yunho menutup buku dan berdiri.

"Kalau begitu tugasku sudah selesai. Annyeong." Yunho sedikit menundukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.

Nyonya Choi balas membungkuk pada pria Jung yang berjalan menuju pintu. Kemudian menghela nafas, kembali melihat kondisi putranya.

"Haish! Apa yang sebenarnya terjadi, Wonnie?" Nyonya Choi menduduki kursi yang tadi diduduki Yunho.

Siwon masih diam. Dia lebih memilih memejamkan matanya karena merasa sudah melakukan sesuatu yang teramat salah.

"Aku menghamili seseorang…" desisnya lagi.

"Mwo?" Nyonya Choi melotot tidak percaya. "Ya! Apa Umma dan Appa mendidikmu untuk melakukan hal seperti itu?! Siapa perempuan itu? Umma akan menemuinya."

"Dia seorang pemuda…"

"Mwoya?! K-kau!" wanita itu memukul lengan Siwon yang terbalut perban.

"Sshh… Umma… Appo…" Siwon meringis.

"Umma tidak pernah mengajarimu hal seperti itu, Choi Siwon! Lari dari tanggung jawab bukanlah yang dilakukan Keluarga Choi! Haish, jika Appa tahu, dia pasti akan membunuhmu juga!" Emosi Nyonya Choi mulai tersulut.

"Jangan beritahu Appa jika begitu…" Siwon meletakkan punggung tangannya menutupi sepasang matanya.

Nyonya Choi menatap tidak percaya putra kesayangannya. Dia benar-benar tidak percaya dengan diri Siwon yang sekarang.

Dulu dia adalah pria baik-baik. Menjalankan tiap tanggung jawabnya tanpa mengeluh. Menghormati tiap orang yang bahkan baru ditemuinya. Tapi sekarang?

Pria itu menghamili seorang laki-laki? Siwon kini terlihat begitu asing dimatanya.

"Ck~ semoga Tuhan tidak menghukummu." Nyonya Choi mulai mengambil sebuah apel dan mengupasnya. Mungkin hal itu bisa mengurangi sedikit emosinya.

Siwon mulai memejamkan matanya. Ada perasaan aneh yang mengganjal. Dia merasa seperti mengalami de javu. Rasanya sudah lama dia mengalami hal ini.

Ada terselip rasa bahagia di sudut hatinya saat tahu pemuda itu tidak menggugurkan kandungannya. Rasa itu lebih tertuju pada sang bayi.

Aneh, batin Siwon.

.

.

.

Yunho menyusuri lorong sebuah bangunan mewah. Dia tahu jadwal Heechul dengan baik karena keluarga Jung dan Kim sudah bekerja sama sejak dulu. Satu hal yang tak pernah ia tahu.

Ia membuka pintu hitam itu dan masuk tanpa canggung. Bahkan ketika mata tajam itu seolah menusuk, dia bahkan tersenyum manis.

"Bagaimana kabarmu malam ini?"

Heechul berdecih kesal. "Katakan apa tujuanmu?" Heechul kembali menyusun kertas yang berserakan diatas meja. Kertas yang berisi data-data korbannya.

Yunho menghela, kemudian duduk di hadapan Heechul. "Aku tidak menyangka kau bisa bertindak begitu brutal. Seperti bukan dirimu."

Pria cantik itu menatap Yunho sekilas. "Tahu apa kau tentang aku?" Tanyanya malas.

"Tidak banyak. Yang kutahu, kau adalah seorang Hyung yang begitu menyayangi adiknya."

"Cepat katakan urusanmu dan segeralah pergi. Aku mulai sibuk!"

"Choi Siwon. Aku rasa kau mengenal nama itu. Aku menemukannya di bangsal rumah sakit dengan keadaan yang tidak seharusnya. Itu bukan dirimu, Chullie… Aku tahu kau pembosan. Mana mungkin mengulur waktu hanya untuk menyiksa satu orang."

Heechul mulai beranjak dari duduknya tanpa melihat Yunho. Tanpa pria musang itu sadari, cairan bening tengah mengenang disepasang manik hitamnya.

"Bersenang-senanglah sesukamu."

Blam!

Yunho hanya bisa menatap pintu yang sudah tertutup. Sepertinya memang ada yang disembunyikan pria Kim itu. Heechul lebih kalem dari biasanya.

Ia menghela nafas panjang. Sampai sebuah rangkulan hangat dia rasakan.

"Apa yang terjadi, heum? Kalian bertengkar lagi?"

Yunho menyandarkan punggungnya kebelakang. Tepatnya pada dada di belakangnya. "Ani… kami hanya bicara ringan, BooJae…" Yunho mengelus sepasang tangan kecil yang sedang merangkul lehernya.

"Apa kau tahu, Yunnie-ya, Hyungie tidak pernah berubah. Dia akan menjaga miliknya dengan baik. Akan selalu seperti itu…" Desis Jaejoong tepat di telinga kanan Yunho.

"Ne, BooJae… Gomawo…" Yunho menoleh, membuatnya bisa mengecup pipi pucat kekasihnya.

Yunho tidak sadar, jika mata hitam Jaejoong menyendu dengan senyum sedih di bibir merahnya. Dia semakin mengeratkan rangkulannya pada leher Yunho. Menumpukan dagunya diatas pundak kokoh pria itu.

Keduanya saling memejamkan mata. Menikmati friksi yang selalu mereka rindukan.

Jaejoong ingin menikmati ini lebih lama. Dengan hati yang terus memohon, agar pagi terlambat datang.

.

.

.

Heechul menyandarkan punggungnya pada dinding. Dia bisa mendengar dengan jelas Yunho berbicara sendiri. Dia belum beranjak selangkahpun sejak keluar dari ruangannya.

Ah, dia lupa kalau Yunho tidak sendirian. Ia tahu, adiknya ada disana.

Selalu menjadi penenang jika ia dan Yunho berselisih paham.

Satu bulir airmata akhirnya menyusuri pipi pria bermarga Kim itu.

"Jika saja kau tahu alasanku, Yunho-ya… Jika saja kau tahu kenyataan yang sesungguhnya, mungkin aku tidak akan menjadi paman yang gagal. Mianhae… Aku tidak bisa menjaga Kyuhyun-mu dengan baik… Mianhae…"

.

.

.

Next(?)

Mianhae~ T^T

saya ngaret bgt ya? huweeee~

mood saya ilang timbul~

Maap, suda mngecewakan kalian... *deepbow