Special thanks to:
Viviandra Phanthom, Aristy, Phoenix Emperor NippleJae, tomoyo to yaroo, KirikaNoKarin,
yunaucii, Uzumaki Prince Dobe-Nii, GerhardGeMi, kkhukhukhukhudattebayo, Mel,
Couphie, Aki-Ame Kyuuran, Akira Fly, Ryanachan, Vipris,
Malachan12, Mii Soshiru, Pembantunya Tao, 989seohye, Makice Blow Zeyt,
yuki amano, Guest, dan Nia Yuuki.
Arigato gozaimasu, minna-san!
Title : Outside of the Dream
Disclaimer : NARUTO belongs to Masashi Kishimoto
Rate : M
Genre : Romance, crime, yaoi, gender-bender
Warning : AU, miss typos, Don't Like Don't Read!
Summary : Di balik gemerlapnya kota besar ada tempat yang gelap bahkan lebih gelap dari kegelapan itu sendiri, tempat kotor dan hina. Sebuah tempat ilegal dengan sebutan penjualan manusia. Menunjukkan wajah asli di balik topeng mereka. Hasrat yang terpendam. Di sana semua manusia bukanlah manusia.
2st Dream : Illusion in Reality
Dua tangan putih menyambar tirai merah marun yang terpasang di belakang seorang pemuda pirang yang tak sadarkan diri. Dengan sigap pemuda bertopi fedora itu menutupi tubuh si pemuda pirang dengan tirai di tangannya. Keadaan ruangan yang gelap membuat wajah pemuda itu tak begitu jelas terlihat. Hanya siluet keberadaannya yang terlihat di sana. Lalu dia menoleh ke arah sang pembawa acara.
"Hei, kau," panggil sang pemuda. "Cepat lepas borgolnya. Jika tidak, aku tidak segan-segan memporak-porandakan tempat kerjamu ini."
DEG!
Sang pembawa acara terdiam mendengarnya.
"Ba, baik. Kami akan segera membuka borgolnya. Maafkan kami," ucap sang pembawa acara sedikit takut.
"Hn," sahut sang pemuda singkat. Tangan kirinya dimasukannya ke dalam saku celana hitamnya. "Bawa dia," perintahnya pada seorang pria muda yang setia berdiri tak jauh dari tempatnya berada.
"Baik, Tuan Muda," jawab pria muda berperawakan tinggi tegap itu.
Seorang pria bermasker hitam yang hampir menutupi seluruh wajahnya itu perlahan melangkah menuju tempat pemuda pirang itu jatuh terkuai di atas lantai. Dengan hati-hati digendongnya tubuh mungil itu bridal style. Pemuda bertopi fedora mulai melangkah menuju pintu keluar tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Sementara sang pelayan setia mengikutinya dari belakang dengan seorang pemuda berambut pirang berada di kedua tangannya.
Ruang gelap beraroma wine itu terasa sunyi. Para tamu masih menatap dua sosok yang melangkah menuju pintu keluar itu. Lalu mulai terdengar suara bisikan-bisikan mereka membicarakan pemuda tak dikenal itu. Mereka kagum sekaligus iri dan juga marah karena seorang pemuda ingusan telah merebut mangsa mereka.
"Maaf atas ketidaknyamanannya. Acara kami belum berakhir!" seru sang pembawa acara mencoba meramaikan suasana pesta.
Di saat yang sama pemuda bertopi fedora dan pelayannya telah sampai di tepi jalan dimana mobil hitam mereka terparkir. Udara malam berhembus ke arah mereka. Hawa dinginnya begitu menusuk kulit tapi pemuda itu justru menyeringai kecil.
"Kita pulang," perintah sang pemuda seraya memasuki bangku di samping jok kemudi.
"Baik, Tuan Muda," sahut sang pelayan lalu membaringkan pemuda pirang itu di atas jok belakang mobil.
.
.
.
"Uuung..."
Terdengar suara erangan seseorang dari salah satu kamar di suatu mansion. Di atas sebuah tempat tidur king size berwarna putih terlihat seorang pemuda pirang terbaring lemah tak sadarkan diri. Kulitnya tan dan parasnya tampan. Tiba-tiba tangan kanannya bergerak memegangi kepalanya yang terasa nyeri. Perlahan-lahan kedua kelopak matanya terbuka. Silau. Cahaya dalam kamar itu telalu terang untuknya. Diapun mengerjap-kerjapkan kedua matanya berulang kali untuk menyesuaikan diri dengan intensitas cahaya.
Tiba-tiba kedua mata biru sapphire-nya membulat sempurna. Disikapnya selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Dan diapun menghela nafas lega.
Yokatta… Aku tidak telanjang lagi.
Tubuhnya kini terbalut dengan piyama putih.
Pandangan matanya tertuju ke segala arah. Meniti setiap inchi ruangan tempat dia berada saat ini. Kamar itu luas, lebih luas dari kamarnya sendiri, dan perabotannya serba putih. Mulutnya sedikit terbuka melihat betapa mewahnya tempat itu. Pemuda itu takjub. Tapi di saat yang sama dia juga bingung dengan keberadaannya saat ini.
Terakhir kali dia ingat dia menjadi barang lelang di tempat ilegal itu. Dia ingat siluet hitam yang berdiri di depannya sebelum pingsan. Tapi…siapa yang membelinya? Berbagai macam pertanyaan terpikir olehnya.
Clek!
Tiba-tiba pintu putih kamar itu terbuka. Pemuda pirang itu reflek menoleh ke arah pintu.
Seorang pemuda bersetelan hitam dengan topi fedora menghiasi kepalanya masuk ke dalam kamar itu. Sepasang iris hijau dibalik kacamata bingkai hitamnya itu menatap sosok pemuda pirang itu dengan tajam.
"Kau sudah sadar?" tanyanya datar dengan kesan dingin di dalamnya.
Dengan ragu-ragu pemuda pirang itu mengangguk sebagai jawaban. Digenggamnya erat selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya. Mengamati setiap gerak-gerik pemuda asing itu dengan waspada.
Pemuda bertopi fedora itu tersenyum kecil. "Tidak perlu takut, aku bukan orang jahat. Setidaknya selama kau tidak membuatku kesal aku tidak akan menyakitimu," ujarnya seraya berjalan menghampiri pemuda pirang itu.
Pemuda berambut pirang itu mulai bersikap tenang. Diperhatikannya paras tampan pemuda yang ada di hadapannya saat ini. Sesuatu berwarna merah mencuat dari balik topi fedora yang dikenakannya.
Ternyata dia berambut merah, pikir pemuda pirang itu.
Tiba-tiba pemuda itu memegang kening pemuda pirang, memeriksa suhu badannya dengan punggung tangan kanannya sebentar. Lalu mengangkat dagu pemuda berambut pirang menghadap ke arah wajahnya. Kedua mata mereka bertemu.
Hijau bertemu biru.
Pemuda pirang itu terdiam begitu melihat iris hijau emerald di hadapannya. Warna hijau yang indah bagaikan padang rumput yang luas.
"Kau manis juga, blonde," puji sang pemuda disertai senyuman menawan pada paras tampannya.
"A, arigato," ucap pamuda pirang itu tergagap.
Ibu jari tangan alabaster itu mengusap lembut bibir bawah pemuda pirang itu. Bibir pemuda itu terasa lembut seperti kapas ketika pemuda berambut merah itu memegangnya. Entah kenapa berbeda dengan semua gadis ataupun pemuda yang pernah ditemuinya.
"Go, gomen nasai. Ada dimana aku sekarang ini?" tanya pemuda blonde itu ragu.
"Mansionku. Kau aman di sini," jawab pemuda itu seraya melepas tangannya dari wajah pemuda di depannya.
Jadi dia yang sudah membeliku.
Pemuda yang telah membelinya dengan penawaran tertinggi itu kini telah berdiri di hadapannya. Untuk dirinya yang hina itu, 1 milyar Yen adalah harga yang terlampau mahal. Apa tujuan pemuda ini membelinya? Apakah nasibnya akan berakhir sama seperti sebelumnya? Akan dijual kembali seperti barang. Ataukah..akan berakhir lebih buruk dari itu?
"Terima kasih sudah menyelamatkanku dari tempat itu."
"Mengeluarkan 1 milyar Yen bukan masalah bagiku. Uang? Aku punya banyak uang."
Naruto terdiam mendengarnya.
Sebegitu kayakah dia sampai meremehkan uang?
Benar, uang bukan segalanya di muka bumi ini. Tapi setidaknya tidak seharusnya dia menghamburkan uang demi hal-hal semacam itu. Bukan berarti pemuda pirang itu tidak ingin diselamatkan. Tidak. Dia ingin diselamatkan dan dia sangat berterimakasih keinginannya terwujud. Tapi, sikap pemuda berambut merah di hadapannya itulah yang membuatnya beranggapan dia adalah orang yang suka berfoya-foya.
"Namaku Sasuke. Siapa namamu?" tanya pemuda berambut merah itu tiba-tiba.
"Namaku Namikaze Naruto. Yoroshiku, Sasuke-san."
"Hm.. Naruto ya? Nama yang indah seindah orangnya."
Naruto sedikit merona mendengar pujian dari pemuda yang mengaku bernama Sasuke itu. Apalagi sudah dua kali pemuda itu memujinya padahal mereka baru pertama kali ini bertemu. Sasuke tersenyum tipis ke arah Naruto lalu dia duduk di kursi di samping tempat tidur.
"Naruto, itu kan salah satu makanan olahan ikan dalam ramen." Sasuke menghentikan ucapannya sejenak, memberi jeda waktu. "Hm... Aku jadi penasaran, apakah 'rasa'mu juga sama seperti ramen? Aku ingin mencobanya," ujar Sasuke sembari meraih tangan kanan Naruto dan menariknya.
Tubuh Naruto tertarik ke arah pemuda berambut merah itu. Diapun jatuh dalam pelukan Sasuke. Tiba-tiba jantungnya berdegup dengan kencang. Wajahnya memerah ketika menyadari begitu dekatnya jarak di antara mereka saat ini.
Tapi dadanya bergemuruh. Dia merasakan firasat buruk akan terjadi padanya. Sementara Sasuke terus menatap Naruto dengan intens. Tangan putih Sasuke menggiring tubuh Naruto dalam posisi duduk di pangkuannya. Membuat jarak wajah mereka berdua hanya beberapa senti saja.
"Sa, Sasuke-san?" panggil Naruto ragu. "A-apa yang...?"
"Aku ingin mencoba rasa Naruto-mu," potong Sasuke cepat.
Sasuke mendekatkan wajahnya pada Naruto. Tiba-tiba Naruto merasakan ada sesuatu yang basah dan dingin menyerang daerah lehernya. Sasuke menjilat lehern Naruto dengan lembut dan sukses membuat sang pemuda blonde itu mendesah.
"Aaah..."
"Kau memiliki rasa yang manis," ucap Sasuke seraya tangan kirinya meraba-raba punggung Naruto.
"Sa, Sasuke-san...," panggil Naruto dengan wajah merona.
Naruto mencoba menjauhkan tangan Sasuke dari tubuhnya. Setampan apapun pemuda di depannya itu, dia tidak mungkin jatuh cinta atau bahkan rela memberikan kesuciannya padanya. Sekalipun pemuda itu yang telah menyelamatkannya dari tempat aneh itu. Naruto masih normal. Dia masih suka wanita. Dan dia tidak ingin menjadi korban dari pelecehan seksual.
Tidak. Jangan…
Uang yang dikeluarkan Sasuke memang tidak bisa dibilang sedikit. Naruto tahu itu dan dia juga menyadari posisinya saat ini. Dia berhutang budi pada pemuda itu. Tapi apakah ini cara yang diinginkan Sasuke? Apakah Naruto harus memberikan—menjual—tubuhnya pada pemuda yang baru dikenalnya itu? Ataukah Sasuke yang akan memintanya?
"Tubuhmu terasa panas kan, Naruto?"
Naruto mengangguk singkat.
"Itu karena mereka telah memberimu obat perangsang. Yah…walau hanya dosis kecil. Tapi jika tidak kulakukan, kau akan menderita."
Tangan kiri Sasuke memegang leher Naruto. Diapun mendekatkan wajahnya pada telinga pemuda di pangkuannya itu. Meniup lembut telinganya. Membuat Naruto merinding seketika. Bisa Sasuke rasakan tubuh Naruto sedikit mengeliat dan bergetar sebagai reaksi dari tindakannya. Sasuke tersenyum kecil. Dijilatnya bibir ranum Naruto. Ah...rasa orange yang begitu menggoda bisa dirasakan nikmat oleh lidahnya.
"Aku ingin tahu. Apakah...yang di bawah sini juga manis?" tanya Sasuke tiba-tiba.
Kedua mata Naruto terbelalak. Dugaannya yang paling buruk menjadi kenyataan. Sasuke menginginkan tubuhnya.
"A, apa maksudmu, Sasuke-san?" tanya Naruto balik.
Dia tahu itu hanyalah pertanyaan bodoh. Dia sudah tahu apa maksud Sasuke, tapi tidak mungkin dia dengan terang-terangan menolak kemauannya. Tidak. Tubuh maupun nyawanya bisa dalam bahaya jika dia langsung menolak. Kedua mata Sasuke masih menatap lekat-lekat Naruto, membuat pemuda pirang itu merasa sedikit tidak nyaman.
"Sudah kubilang kan? Obat perangsang itu membuat tubuhmu berkata sebaliknya, Naruto," jawab Sasuke sembari meraba-raba dada bidang Naruto dengan erotis.
"Mmmh…"
Jemari tangannya meluncur seolah sedang menari pada dada bidang Naruto. Walau dia mengenakan piyama tapi Naruto masih bisa merasakan sentuhan-sentuhan itu. Entah kenapa darah Naruto berdesir, tapi sekuat tenaga dia berusaha bersikap biasa. Sayangnya Sasuke bisa membaca apa tindakan Naruto. Tangan kanannya terus meluncur ke bawah melewati batas pinggang Naruto. Naruto bisa melihat jelas pemuda itu menyeringai kecil ketika dia melirik ke arahnya.
Tangan kanan Sasuke sampai di tempat terlarang itu. Organ vital Naruto. Tangan putih seputih salju itu menyentuh ujung kejantanan Naruto yang ada di balik celana piyama abu-abu itu. Naruto sedikit tersentak. Wajahnya sedikit merona. Sasuke melihat benda yang menonjol dari balik piyama Naruto itu. Menyentuhnya lagi dengan perlahan-lahan.
"Ja-jangan. Tolong ja-jangan disentuh, Sasuke-san," pinta Naruto seraya memalingkan wajahnya.
"Ho... Jadi aku tidak boleh menyentuhnya?" ulang Sasuke.
Naruto mengangguk singkat.
"Kalau begitu...aku tidak akan menyentuhnya." Naruto menghela nafas lega. Siapa sangka pemuda itu bersedia mendengar ucapannya. "Tapi..aku akan seperti ini...," lanjut Sasuke.
Di luar dugaan Naruto! Tiba-tiba saja tangan putih Sasuke menyusup ke dalam celana piyama Naruto. Bukan menyentuhnya, tapi Sasuke meremas kejantanan Naruto dengan perlahan. Pemuda pirang itu merasakan hal aneh dalam dirinya. Wajahnya langsung memerah seketika. Dia berusaha menyingkirkan tangan Sasuke dari organ vitalnya itu. Tapi setiap kali dia berusaha melakukannya Sasuke meremas-remas kejantanannya itu dengan gerakan yang perlahan dan erotis.
"Aah...Sa-Sasukee..san..aaahh..."
Naruto mendesah. Pertahanannya mau tak mau telah hancur di tangan Sasuke. Tubuhnya terasa kehilangan tenaga setiap kali Sasuke meremas kejantanannya. Tubuhnya terasa begitu panas seperti orang sedang demam tinggi. Dan dia merasa celana yang dipakainya terasa lebih sempit. Tapi Naruto tahu pasti tubuhnya memang mengatakan hal yang berlawanan dengan kata hatinya.
Nikmat.
Itulah yang dirasakan Naruto. Tapi dia enggan mengakuinya.
"Hn? Kenapa Naruto? Kau tidak suka?" bisik Sasuke ke telinga Naruto.
"Aaah...a-aku memintamu ti-ti..aah~ dak meh..sentuh.. AAH..nya kan?"
"Ya, aku tidak menyentuhnya. Tapi aku meremasnya."
Desahan erotis Naruto mewarnai kamar serba putih itu. Sasuke masih meremas-remas kejantanan Naruto lagi seperti saat meremas tepung adonan kue. Tangannya memijat-pijatnya dengan sangat ahli hingga membuat kejantanan Naruto mengeras.
Ternyata mereka tidak bohong. Pemuda ini masih fresh. Pikir Sasuke.
"Mmmm...aaah...tolong h-henti...kaan...," pinta Naruto dengan kedua tangan meremas bahu Sasuke.
Wajah Naruto semakin memerah. Kejantanan Naruto semakin mengeras. Tapi Sasuke tidak peduli. Dia terus melanjutkan aktivitasnya berulang kali, bahkan mengusap-usap lembut ujung kejantanan Naruto. Sementara itu Naruto mati-matian menahan diri untuk tidak mendesah hingga membuatya menitikkan air mata. Terlalu lama dia menahan diri untuk tidak orgasme. Jika dia tidak bisa bertahan, dia kalah telak.
Aku sudah tidak kuat lagi, batin Naruto.
"Sepertinya kau sudah mencapai 'batasnya' ya," tebak Sasuke tepat sasaran.
Naruto memalingkan wajahnya dari Sasuke. "Ti, tidak. Aah~ Kau sa-salah. Mmmh...," timpal Naruto.
"Keluarkan saja. Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri jika terus menahannya."
Akhirnya Sasuke meremas kejantanan Naruto dengan sedikit lebih keras.
"AAH..~! Hen-henti..AAAH~!"
Sasuke menyeringai.
CROOOT...!
Akhirnya cairan-cairan putih itu membanjiri kejantanan Naruto. Terasa lengket. Cukup banyak juga sampai-sampai tak hanya membasahi tangan Sasuke tapi juga sampai celana piyama Naruto. Sasuke menyeringai puas dengan kemenangannya. Tapi dia masih merasa tidak cukup puas. Pemuda itu tak menghentikan gerakannya. Tangan putihnya masih saja meremas-remas kejantanan Naruto dengan erotis. Seolah dia tahu Naruto bisa mengeluarkan cairan sperma yang lebih banyak dari yang ini.
"Aaaah...mmmmhh...aah..."
Dia tidak menyadari wajah Naruto yang penuh semburat merah dan air mata yang mengalir membasahi kedua pipinya.
"Berhentilah main-main, Sakura," ujar seorang pemuda yang tiba-tiba saja sudah bersandar di samping pintu kamar.
DEG!
Satu kalimat itu menginterupsi gerakan tangan Sasuke yang sedang meremas kejantanan Naruto. Dia mengenali pemilik suara itu.
Sasuke dan Naruto menoleh ke belakang. Di dinding di samping pintu masuk terlihat seorang pemuda berambut merah yang mengenakan setelan hitam yang sama dengan yang dikenakan Sasuke. Wajahnya terlihat imut, menggemaskan, dan masih terlihat remaja. Kulitnya putih seputih salju. Jika diperhatikan dengan teliti, raut wajah pemuda itu mirip dengan raut wajah Sasuke. Hanya beda warna mata saja. Pemuda itu memiliki warna mata coklat.
Cih, dia lagi. Pikir Sasuke mendengus kesal.
Walau mungkin pemuda beriris coklat itu tidak mendengarnya tapi Naruto mendengar dengusan Sasuke dengan jelas.
Pemuda beriris coklat hazel itu terus menatap ke arah Sasuke dan Naruto. Membuat tatapan tajam menusuk yang mengintimidasi. Seolah mengerti arti tatapan itu, Sasuke melepas kejantanan Naruto dan menjauhkan pemuda itu dari tubuhnya. Naruto berdiri dari pangkuan Sasuke. Terlihat jelas tangan kanan Sasuke penuh dengan cairan putih yang lengket. Diapun beranjak dari kursi yang didudukinya.
"Kau mengganggu, Sasori," ujar Sasuke dingin ketika melewati pemuda berambut merah itu. Dia berjalan keluar meninggalkan kamar itu tanpa menoleh sedikitpun. Meninggalkan Sasori dan Naruto hanya berdua saja di kamar itu.
Sikap Sasuke membuat pemuda yang dipanggil Sasori itu menyeringai kecil. Dia berhasil membuat pemuda itu kesal. Pemuda yang dipanggil "Sasori" itu berjalan ke tempat Naruto berada. Dia tersenyum ramah padanya.
"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Sasori ramah.
Naruto hanya mengangguk seraya memasang sikap waspada. Siapa tahu Sasori juga akan menyerangnya seperti yang dilakukan Sasuke tadi. Tapi yang lebih penting dari itu, kepergian Sasuke menyisakan satu tanda tanya besar pada Naruto. Dia tidak mengerti pembicaraan dua pemuda itu.
Kenapa tadi Sasori-san memanggil Sasuke-san dengan nama 'Sakura'? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Aku berbeda dengannya, aku tidak akan melakukan apa-apa padamu," ucap Sasori seolah tahu apa yang dipikirkan Naruto. "Oya, maaf soal yang tadi. Sasu... ah bukan, maksudku Sakura memang suka seperti itu."
"Sakura? Siapa?" tanya Naruto tidak mengerti.
"Pemuda berambut merah yang tadi itu namanya Sakura, dia adik perempuanku."
"EEEH..? Ta, tapi..."
"Dia lebih suka berpenampilan seperti laki-laki dan Sasuke adalah nama samarannya."
"Ternyata begitu..."
Wajah Naruto kembali merona begitu teringat dengan kejadian yang terjadi padanya beberapa menit yang lalu. Pemuda tampan yang menyerangnya tadi ternyata seorang gadis, suatu kenyataan yang sedikit membuatnya terkejut. Dimana-mana biasanya kaum prialah yang menyerang kaum wanita tapi kali ini justru Naruto—yang notabene seorang pria—diserang Sasuke alias Sakura—yang seorang wanita.
Melihat reaksi terkejut Naruto, Sasori hanya tersenyum simpul. Dia melirik bekas cairan sperma yang sedikit menodai kursi. Dia tahu kalau hal seperti ini akan terjadi. Yah, bukan hal yang mengejutkan lagi baginya mengingat Sakura sering melakukan hal semacam itu pada setiap pemuda—berspesies uke—yang sesuai dengan tipenya. Dan Sasori-lah yang harus membereskan kekacauan yang dibuat sang adik tercinta. Memang susah memiliki adik kembar yang merepotkan seperti itu.
Dasar fujoshi, sindir Sasori dalam hati.
"Istirahatlah," perintah Sasori dengan lembut. "Piyama gantimu ada di lemari."
"Ah! I, iya. Arigato..."
"Sasori. Panggil saja aku Sasori."
"Arigato Sasori-san."
Sasori mengedarkan pandangannnya ke segala penjuru kamar itu. Melirik Naruto sekilas lalu melangkah meninggalkan kamar mewah yang sekarang menjadi kamar Naruto itu. Di mansionnya yang besar ini kamar mewah seperti yang dipakai Naruto hanyalah satu berbanding seribu. Masih banyak kamar lainnya dan dia tidak keberatan dengan keberadaan Naruto di sana.
Begitu sampai di luar kamar Sasori merasakan ada tatapan dingin mengawasinya yang sedang menutup pintu kamar.
"Lebih baik kau tidak membuat keributan. Kau tidak mau mengganggu Naruto-kun tidur kan?" ujar Sasori tanpa menoleh ke arah seseorang yang tengah berdiri di tengah koridor.
Tatapan tajam itu masih tertuju padanya. Sasori tersenyum tipis lalu menoleh ke arah orang itu.
"Kau mengetahui namanya. Kau menguping pembicaraan kami," ujar Sakura datar.
Bukan pertanyaan yang dia ajukan, melainan suatu pernyataan. Sakura hafal tabiat sang kakak yang akan mengawasi setiap gerak-geriknya baik di dalam mansion ataupun di luar sana. Entah sampai kapan Sasori akan bersikap over protective padanya. Padahal dia selalu ditemani bodyguard yang hebat. Apa yang perlu dikhawatirkan?
"Ya. Kuakui itu. Lalu...apa yang akan kau lakukan Sasuke? Ah bukan, Sakura-kun?"
"Stop calling me like that!" bentak Sakura tiba-tiba.
BRUAKK!
Sakura menghantam dinding di sampingnya dengan tangan kirinya. Dalam sekejap dinding itu retak. Sisa-sisa retakannya jatuh berserakan di lantai koridor. Terdapat sebuah lubang besar di sana. Aura hitam menguar dari tubuh gadis itu. Kedua iris hijau emerald Sakura menatap Sasori tajam. Terlihat jelas kilatan amarah pada tatapan itu. Dia tidak suka Sasori memanggilnya "Sakura-kun". Sasori sendiri sudah mengetahuinya, tapi dengan sengaja dia justru memanggilnya seperti itu. Sengaja memancing emosinya.
"Kau menganggu Naruto-kun tidur dengan suara pukulanmu itu, Sakura."
"I've already told you! Stop calling me that damn name!"
Sasori tersenyum kecil, "Bagaimanapun juga kau adik perempuanku."
"Adik perempuan? Adik perempuanmu yang lemah itu sudah lama mati. Yang ada sekarang ini hanyalah aku, Haruno Sasuke, adik laki-lakimu."
"Sejak kapan kau bernama Sasuke, huh?"
"Sejak kecelakaan dua bulan yang lalu."
"Lebih tepatnya...50 hari yang lalu."
"Terserah..."
Sakura berbalik sembari memasukan kedua tangannya pada kedua saku celananya. Setelah dua atau tiga langkah Sakura menghentikan langkah kakinya. Dia menoleh sejenak ke arah sang kakak.
"Jangan panggil aku dengan nama itu lagi. Aku tidak suka. Kau mengerti itu kan, Aniki?"
Sasori hanya diam dan menyeringai mendengarnya. Sementara itu Sakura kembali melanjutkan jalannya menyusuri koridor mansion mereka. Kedua iris hazel Sasori masih menatap punggung sang adik yang semakin jauh. Terlintas bayangan Sakura ketika masih kecil dulu ketika berjalan memunggunginya. Lalu bayangan itu berubah kembali menjadi sosok Sakura yang sekarang.
Kemana perginya sosokmu yang dulu?
Sasori membuang nafas lelah.
"Ya, baiklah Otouto."
.
.
.
Pagi telah menjelang. Sang mentari menyingkirkan kegelapan dengan cahaya yang cemerlang. Cahayanya menyusup kamar melalui celah-celah tirai yang tertutup. Membelai kulit tan sang pemuda berambut pirang, Namikaze Naruto. Tapi pemuda itu masih terlelap dalam buaian mimpi sampai-sampai tidak sadar ketika pintu kamarnya terbuka.
Seorang pria muda berpakaian selayaknya butler melangkah masuk ke dalam kamar itu. Pria berambut perak itu berjalan menuju jendela yang berada tepat di samping tempat tidur king size. Melirik ke arah Naruto sebentar. Lalu perlahan-lahan kedua tangan putihnya membuka tirai putih yang menghalangi cahaya matahari masuk ke dalam kamar itu.
"Hoooaamm..."
Terdengar suara Naruto menguap lebar. Pria itu menoleh ke belakang. Kedua matanya menatap sosok Naruto yang keadaannya terlihat berantakan. Rambut pirang berantakan itu terlihat lebih berantakan seperti tidak pernah disisir sebelumnya, bahkan air liur masih berbekas di sudut bibirnya. Dan piyama putih yang kebesaran di tubuhnya itu sedikit turun. Sedikit memperlihatkan bahu mulusnya. Pria itu hanya tersenyum kecil di balik maskernya.
"Ohayou gozaimasu, Namikaze-kun," sapa pria itu sopan.
"Eh? Ohayou gozaimasu," sapa balik Naruto sedikit canggung. Dia baru menyadari keberadaan pria itu di kamarnya.
"Perkenalkan, nama saya Hatake Kakashi. Saya adalah bodyguard sekaligus butler Sakura-sama."
Naruto memperhatikan sosok di depannya itu dengan seksama. Kulitnya putih alabaster. Parasnya tertutupi sebuah kain hitam yang menutupi setengah dari wajahnya. Membuatnya tidak tahu seperti apa wajah di balik masker hitam itu. Tubuhnya tinggi tegap sekitar 181 cm. Dilihat dari postur tubuhnya, sepertinya Kakashi seorang ahli bela diri yang hebat. Kedua matanya sedikit unik, mata sebelah kanan berwarna hitam sedangkan mata sebelah kiri berwarna merah.
"Kau cukup memanggilku Naruto, Kakashi-san."
"Baik, saya mengerti."
Tiba-tiba Kakashi melangkah mendekat menuju tempat Naruto yang masih terduduk di atas tempat tidur. Naruto sedikit bersiaga kalau-kalau pria inipun akan menyerangnya. Kakashi berdiri di samping tempat tidur Naruto. Tangan putihnya terulur ke arah wajah pemuda blonde itu. Menyentuh dagunya dan mengusap lembut bekas air liur yang ada di sana. Menghapusnya.
Kakashi tersenyum ramah, "Ada bekas air liur. Maafkan saya tidak sopan tiba-tiba membersihkannya."
"Ti, tidak apa-apa. Justru akulah yang seharusnya minta maaf. Kakashi-san tidak perlu melakukannya untukku," sahut Naruto malu-malu. Muncul semburat merah jambu pada wajah pemuda pirang itu.
"Sarapan pagi sudah siap, saya mendapat perintah dari Sakura-sama untuk menjemput Anda," ucap Kakashi tiba-tiba.
"Eh? Ah, iya."
"Ataukah... Naruto-kun ingin sarapan di kamar saja?"
"Tidak, tidak apa-apa. Aku akan segera bersiap." Naruto segera beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.
"Baik. Saya akan menyiapkan pakaian ganti."
Pemuda pirang itu tersenyum tipis. Kedua kaki jenjangnya mengantarnya sampai di depan pintu kamar mandi. Yang dibutuhkannya saat ini adalah mandi. Dengan cepat Naruto masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam. Jangan sampai Kakashi masuk ke dalam kamar mandi dan melihatnya sedang telanjang. Dia tidak akan membiarkan kejadian semacam itu terjadi lagi padanya.
Naruto berdiri menatap shower di depannya. Perlahan dia melepas celana piayamanya, membiarkannya jatuh begitu saja ke lantai kamar mandi yang dingin. Kedua tangannya membuka satu per satu kancing piyamanya. Menanggalkan piyama putihnya, kemudian meggantungnya pada gantungan baju yang tertancap pada dinding marmer kamar mandi. Tangan kanannya memutar keran air hangat. Pilihan yang bagus untuk pagi yang dingin ini.
ZRAAAS...
Air mengalir ke bawah dari shower di atas kepalanya. Tubuh tan yang mulus tanpa cacat ataupun luka itu tersiram guyuran air hangat. Air membasahi kulitnya. Perlahan-lahan air mengalir membentuk sungai-sungai kecil pada kulitnya yang halus itu. Menelusuri perlahan dari tubuhnya bagian atas meluncur ke tubuhnya bagian bawah. Naruto menutup kedua matanya. Mendongak ke atas dan menikmati setiap tetesan-tetesan air yang jatuh mengenainya.
Hangat... Dan terasa begitu nyaman...
Sementara itu di luar kamar mandi Kakashi tengah sibuk merapikan tempat tidur Naruto yang berantakan. Dia heran bagaimana cara pemuda itu tidur sampai-sampai sarung bantalnya terlepas dari bantalnya, bahkan gulingnya sampai terlempar ke lantai jauh dari tempat tidur. Apa Naruto mimpi buruk sampai seperti ini? Tidak, tadi jelas-jelas dia melihat pemuda itu tidur dengan nyenyak. Kakashi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Selesai dengan tempat tidur, dia berjalan menuju lemari pakaian yang diletakkan tak jauh dari tempat tidur.
Lemari itu berisi beberapa setelan jas dan celana hitam dan putih serta beberapa potong piyama, tersedia khusus untuk para tamu. Tapi sekarang ini tersedia khusus untuk Naruto yang mulai sekarang menggunakan kamar itu. Kakashi mengambil setelan jas dan celana putih. Menurutnya warna putih cocok untuk Naruto yang secerah sang mentari.
Clek.
Naruto keluar dari kamar mandi dengan handuk putih terlilit pada pinggangnya. Menyadari hal itu Kakashi segera meletakkan setelan putih tadi di atas tempat tidur. Diapun berjalan menuju jendela. Memunggungi Naruto.
"Saya akan menghadap keluar, Anda tidak perlu takut, saya tidak akan mengintip," ujar Kakashi.
"Arigato, Kakashi-san."
Naruto melepas handuk putihnya. Membiarkannya jatuh terkuai di atas lantai. Dengan cepat dia memakai pakaian yang telah disiapkan untuknya. Tak lupa sepatu pantofel putih yang ada di samping tempat tidur. Tapi, Naruto tidak tahu kalau sebenarnya Kakashi masih bisa menatap sosoknya yang sedang berganti baju tadi melalui pantulan kaca jendela. Dan pria berambut perak itu berusaha menahan diri ketika melihatnya.
Setelah Naruto siap, Kakashi menggiring Naruto meninggalkan kamar itu.
Di sepanjang koridor mereka disambut dengan berbagai lukisan indah yang terpajang di dinding dan perabotan antik yang menghiasi mansion. Mulut Naruto tercengang ketika sampai di bagian ruang dalam mansion itu. Kedua matanya takjub dengan keindahan mansion itu. Bahkan ada sebuah kolam air mancur yang berada di tengah ruangan. Bunga-bunga teratai yang berwarna pink menghiasi kolam kecil itu. Cahaya lampu gantung di atasnya mengenai air kolam. Membuat air mancur terlihat berkilauan.
Seperti berada dalam istana di cerita dongeng. Seperti ilusi yang menjadi kenyataan.
Setelah beberapa menit berjalan dua orang itu sampai di tempat tujuan. Ruang makan itu besar, dengan meja dan kursi kayu yang terukir indah. Terlihat beberapa orang tak dikenal yang telah duduk di kursi mereka masing-masing. Di antara mereka ada Sasori dan Sakura yang duduk berhadap-hadapan. Beberapa maid datang dan pergi mengantar makanan di atas meja persegi panjang itu. Seluruh mata menatap ke arah Naruto. Membuat pemuda itu merasa canggung, sebab bukan hanya menjadi pusat perhatian tapi dia juga orang terakhir yang sampai di sana.
"O, ohayou gozaimasu," sapa Naruto sambil membungkukkan badan. Tapi tak ada yang menjawab salamnya.
"Naruto, duduk di sampingku," perintah Sakura seraya menepuk kursi di samping kanannya yang masih kosong.
"Mau duduk dimana, itu kan suka-suka Naruto-kun," timpal Sasori tiba-tiba.
"Jangan ikut campur, Aniki."
"Aku hanya memberi pendapat."
Naruto tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak tahu harus bagaimana dalam situasi ini. Dia hanya menurut dan berjalan menghampiri kursi yang dimaksud Sakura. Duduk di sana dan menundukkan kepalanya. Mengamati piring putih di depannya seolah itu adalah hal yang sangat menarik. Dia tak menyadari sepasang mata hijau jade yang menatap ke arahnya.
"Tadi pagi kulihat ada yang menghancurkan dinding di kodidor. Haruno bersaudara, jangan katakan kalau semalam kalian bertengkar lagi," ucap seorang pemuda berambut merah marun itu tiba-tiba.
Naruto mengalihkan pandangannya ke arah depan. Di hadapannya duduk seorang pemuda berambut merah marun, dengan tato "Ai" pada dahinya sebelah kiri itu memiliki wajah tampan tanpa ekspresi. Seolah menyiratkan sikap dinginnya.
"Jangan khawatir, Gaara. Hanya ada sedikit salah paham," timpal Sasori sambil memakan spaghettinya.
"Hanya mengajari akasuna no baka (pasir merah bodoh)," sahut Sakura dengan santainya.
"Hanya mengingatkan nadeshiko no tomboy (pinky tomboy)," timpal Sasori tidak mau kalah.
"Kalau kalian masih saja seperti itu akan kulaporkan pada nenek," ancam pemuda bernama Gaara itu datar. Membuat Sasori dan Sakura langsung terdiam mendengarnya. "Sepertinya kalian mengerti maksudku," ujar pemuda itu datar.
"Hei, hei, sudahlah... Jangan bertengkar terus," sahut seorang gadis berambut merah panjang yang duduk di samping kanan Naruto.
Naruto menoleh ke arah gadis di sampingnya. Gadis cantik itu memiliki sepasang mata merah ruby yang indah di balik kacamata bingkai hitamnya. Dia mengenakan kemeja putih di balik jas hitamnya yang dipadu dengan rok pendek di atas lutut, dan sepasang sepatu boot hitam. Merasa diperhatikan, gadis itu tersenyum ramah pada Naruto.
"Benar apa kata Karin. Lebih baik kalian berhenti bersikap kekanak-kanakan. Sekarang saatnya sarapan," tambah seorang pemuda lain yang juga berambut merah dengan poni sedikit menutupi mata kanannya.
.
.
.
TBC
Ciaossu!
Sepertinya mengecewakan ya? "Sasuke" di chapter ini memang bukan Sasuke yang sebenarnya. Tapi Sasuke yang asli bakal tetap muncul kok. Mungkin chapter selanjutnya.
Ada yang tanya kenapa aku republish dan rewrite fanfic ini. Alasannya adalah aku merasa kurang puas dengan yang sebelumnya. Itu aja.
Buat para readers sekalian, jangan lupa review ya.
Jaa...
22/09/2013
