...TVXQ - Don't Say Goodbye...
.
.
.
Yunho memasuki ruang kerjanya diikuti seorang pria tinggi yang masih terlihat muda. Pria itu menyodorkan beberapa dokumen yang dibawanya keatas meja atasannya.
"Changmin-sshi, kau boleh istirahat sekarang. Jika ada yang ingin bertemu, katakan aku sedang sibuk." Yunho sedikit mengendurkan dasi hitam yang melilit lehernya. Benar-benar menyekik lehernya selama seharian ini.
"Algeseumnida." Pria tinggi itu membungkuk kemudian berbalik meninggalkan ruangan Yunho.
Hening yang begitu lama karena Yunho terlalu fokus dengan dokumen-dokumen perusahaannya.
Kepalanya bergerak kesamping, memandang keluar kaca ruangannya, melihat lampu-lampu kota dan langit senja mulai pudar. Semakin gelap.
Ternyata sudah lima jam dia disibukkan dengan pekerjaan. Tangan kirinya sedikit terangkat, dan Yunho melihat jarum jam menunjukkan pukul enam.
Dia menyandarkan punggungnya sembari menghela nafas panjang. Hanya sekedar melepas lelah.
Pikirannya mulai tertuju pada malam yang lalu. Tepatnya ketika ia mengantar pulang Kyuhyun. Bibirnya membentuk senyum saat kenangan itu kembali menghiasi kepalanya.
…
###
"Euhm... Gomapta sudah mentraktir dan mengantarku pulang, Yunho-sshi." Kyuhyun sedikit menundukkan kepalanya ketika ia sampai di depan pintu rumah.
"Gwenchana. Aku juga sedang tidak sibuk." Tangan Yunho terjulur, mengelus pelan rambut ikal pemuda manis didepannya.
Kyuhyun semakin menundukkan kepalanya karena merasa malu. Yunho orang kedua yang mengelus kepalanya sayang setelah Heechul, pamannya.
Ada rasa hangat yang hadir dalam hatinya saat merasakan sentuhan Yunho barusan. Entah kenapa mirip dengan sentuhan kasat mata Umma-nya. Begitu nyaman dan menenangkan.
"Mungkin dalam waktu dekat aku akan kemari, apa ada sesuatu yang kau inginkan?"
Kepala Kyuhyun miring kekiri dan wajahnya terlihat seperti sedang berfikir. Tak lama kemudian ada hasrat lain yang muncul dari perutnya. "Mungkin sushi tidak buruk." Gumamnya pelan.
Yunho tersenyum. "Kalau begitu aku akan membawakanmu sushi terenak."
Sontak sepasang karamel Kyuhyun membesar. Rasanya tadi dia hanya bergumam ringan dan teramat pelan, bagaimana mungkin Yunho bisa mendengarnya?
" A- ani... ti-tidak usah, Yunho-sshi. Itu akan merepotkanmu." Sergah kyuhyun cepat. Kedua telapak tangannya juga ikut bergerak berlawanan. Membuat yunho merasa gemas dengan reaksi Kyuhyun.
"Hanya sushi. bukan merepotkanku. Sudah larut, sebaiknya aku pulang agar kau bisa istirahat."
Yunho perlahan maju beberapa langkah, membuat jaraknya dan Kyuhyun begitu dekat. Lalu tangannya menangkup pipi gembul pemuda di depannya.
Chup!
Satu ciuman lembut diterima kening kyuhyun.
" Semoga tidurmu nyenyak."
Yunho mundur lalu menghampiri mobil hitamnya.
Setelah Yunho meninggalkan kediaman Kim, Kyuhyun menyentuh dadanya.
"Hangat..." ucapnya sambil tersenyum manis.
.
.
.
Yunho mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya kepada kasir.
"Kembaliannya ambil saja". Yunho langsung membawa dua kantong berisi sushi pesanannya.
Rencananya hari ini dia akan menjenguk Siwon yang masih menginap dirumah sakit.
Setelah itu dia ingin menemui Heechul, atau mungkin tepatnya ingin segera menemui Kyuhyun.
.
.
.
"Ah, Annyeong hasseyo." Hyukjae yang melihat Yunho mendekat langsung tersenyum.
Pria Jung itu membalas sapaan Hyukjae.
"Habis menjenguk Siwon?"
"Ne. Kau sendiri, apa yang kau lakukan dirumah sakit?"
"Aku ingin menjenguk Donghae."
Mata musang Yunho nampak terkejut. "Apa yang terjadi padanya?"
Alis Hyukjae mengkerut ketika mendengar pertanyaan penuh nada khawatir yang keluar dari mulutYunho. "Anda mengenal Donghae?"
"Aku pernah bertemu beberapa kali dengannya. Dan hari ini aku berniat kerumah Heechul untuk menemuinya. Ada apa dengan Donghae ?"
Mereka berdua menyusuri lorong rumah sakit.
"Heechul menembak paha kirinya. Ah, ini kamarnya."
Hyukjae membuka pintu bercat putih itu.
"Hyukkie, bogoshippo~" Donghae langsung memekik manja ketika melihat kekasihnya datang.
"Ya! Aku baru meninggalkanmu beberapa menit yang lalu, pabbo! Dan jangan merengek seperti itu, kau membuatku mual."
Yunho menatap heran sosok pria yang sedang duduk diatas ranjang.
Donghae yang merasa asing dengan pria yang berdiri di pintu menatap kekasihnya. "Siapa dia?"
"Mwo? Bukankah kalian pernah bertemu sebelumnya?"
"Hyukjae-sshi, bukankah kau ingin menjenguk Donghae?"
Kali ini Hyukjae dan Donghae saling berpandangan bingung.
"Aku Donghae. Dan kau siapa?"
"Jangan bermain denganku. Dua hari yang lalu aku mengantarnya kerumah Heechul. Dan dia bukan pria ini."
Donghae merengut bingung.
"Apa yang kau maksud itu Kyuhyun?" Tanya Hyukjae akhirnya.
"Kyu... Siapa?"
"Bukankah kau sahabat Heechul Hyung? Aneh sekali jika kau tidak mengenal Kyuhyun."
Kepala Yunho seperti dihantam batu karang. Mata serupa musang itu bergerak kekanan dan kekiri. Apa yang dia dengar barusan?!
"K-Kyu... hyun?"
"Nde. Kim Kyuhyun, keponakan Heechul Hyung. Putra dari Kim Jaejoong." Jawab Hyukjae.
.
.
.
Yunho memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya benar-benar sedang kacau. Sebuah kenyataan yang selama ini selalu ia harapkan ternyata disembunyikan dengan begitu apiknya.
Dan bodohnya, ia percaya!
Percaya dengan semua ilusi ciptaan Heechul. Orang yang justru paling bisa dipercayai sepanjang hidupnya.
Sampai di Kediaman Kim, Yunho memarkir mobilnya sembarangan. Lalu bergegas turun. Jangan heran dengan para penjaga yang mengizinkan Yunho masuk dengan mudah.
Semua sudah tahu siapa Yunho bagi Keluarga Kim.
Ditekannya bel rumah dengan tidak sabar. Tubuhnya pun bergerak gelisah.
Benarkah apa yang didengarnya tadi?
Kyuhyun masih hidup? Kyuhyun-nya dan Jaejoong masih bernafas hingga detik ini?
Ketika mendengar pintu terbuka, Yunho langsung menerobos masuk.
"Dimana Kyuhyun?!"
"Joseumnida, Tuan Muda sedang tidak ada, Tuan." Jawab seorang maid yang tadi membuka pintu.
"Heechul! Dimana Heechul?!"
"Heechul Sajangnim juga tidak ada, Tuan."
Yunho berdecak kesal.
.
.
.
Mobil merah mulai terparkir di halaman rumah.
Sang pemilik keluar dan memandang heran mobil yan terparkir tidak beraturan.
Perlahan dia memilih masuk sambil memijit tengkuknya yang sangat pegal.
Tepat dia sampai pintu, Yunho keluar.
Mata musang itu menatap Heechul lama.
Tajam.
Tiba-tiba kerah jaket yang dikenakan Heechul tertarik oleh kedua tangan Yunho. Membuat otot lehernya semakin sakit.
"Dimana Kyuhyun?!"
"Mwo? Apa yang terjadi padamu? Tentu saja Kyuhyun su-"
"Ani! Kau berbohong padaku! Dia masih hidup! Kyuhyun-ku masih hidup!" Potong Yunho cepat. "Katakan, dimana putraku, Kim Heechul!"
Yunho berteriak tepat didepan wajahnya. Membuat urat dipelipisnya berkedut.
Dia melepas cengkraman Yunho, kasar. "Dasar Jung tidak tahu sopan santun! Apa seperti ini caramu bertamu?!" Desis Heechul.
Pria Kim itu masuk sambil menabrak bahu Yunho.
Airmata mulai mengalir dari mata serupa musang milik Yunho.
"Heechullie, kumohon... Katakan dimana Kyuhyun kami? Aku begitu merindukannya... Aku mohon..." Yunho bersimpuh.
"Cih! Dimana harga dirimu, Jung? Lihatlah sekarang, kau bersimpuh layaknya pengemis yang begitu menyedihkan."
Dia tidak perduli. Yunho tidak akan pernah perduli dengan seluruh harga dirinya jika ini menyangkut keluarga kecilnya.
Jaejoong dan Kyuhyun.
Dua orang yang paling berharga dalam hidupnya.
"Chullie... Aku ingin memeluknya... Ak-aku..." Yunho tercekat. Rasa rindu yang membuncah membuatnya benar-benar sesak.
"Sudah kukatakan, Kyuhyun dan Jaejoong tidak selamat saat operasi. Jadi, pulanglah." kaki Jenjang Heechul perlahan menaiki anak tangga. Mengacuhkan pria yang tengah bersimpuh di ruang tamu rumahnya.
Emosi yang tadi turun mulai naik kembali.
Yunho berdiri. Berlari. Membalik tubuh Heechul dan memukul tulang pipinya sekuat tenaga. Membuat Heechul terjatuh di pertengahan anak tangga.
Yunho kembali mencengkram kerah jaket Heechul. "Kau tahu siapa aku, Kim Heechul." Desisnya penuh penekanan.
Dengan tenaga yang tersisa, Heechul menendang dada Yunho sehingga pria itu terguling dari tangga sampai lantai dasar.
Yunho bisa merasakan pelipisnya basah. Begitu pula dengan sudut bibirnya yang koyak.
Kini Heechul yang Berdiri angkuh di depan Yunho yang terbatuk kecil.
"Kau juga tahu siapa aku, Jung Yunho! Kyuhyun-mu sudah mati lima belas tahun yang lalu. Yang pernah kau temui adalah Kim Kyuhyun, keponakanku. Seorang bayi yang lahir dari rahim adikku, Kim Jaejoong."
Yunho tidak tahu harus berkata apa lagi. Sejak awal semuanya memang berawal darinya.
Mungkin jika sejak awal dia menikahi Jaejoong, kesalahan seperti ini tidak akan pernah terjadi. Hanya saja, dulu ia terlalu bodoh membiarkan Jaejoong bersama Umma-nya yang jelas-jelas menentang hubungannya.
Heechul menghela nafas. Dia merasa benar-benar lelah dengan masalah ini. Tapi entah sejak kapan rasa lega yang tersembunyi di relung hatinya muncul.
Sebuah kebohongan memang ta akan bertahan lama.
Dia tahu itu.
Sudah saatnya dia akhiri sandiwaranya.
.
.
.
Bagaimanapun kenyataan bahwa Yunho adalah Ayah biologis Kyuhyun tidak bisa dibantah begitu saja.
Pria itu melirik maid yang tertunduk disudut ruangan.
"Bawakan kotak obat kemari dan air dingin."
Maid itu mendongak. Lalu mengangguk kaku dan pergi dengan tubuh yang sedikit bergetar.
Dia segera mengambil kotak obat yang tersimpan di lemari dekat dapur lalu mengambil baskom. Mengisinya dengan air dingin dan meletakkan dua handuk kecil.
"I-ini, Sajangnim."
"Kau bisa kembali kekamarmu."
"Y-ye."
Heechul lempar beberapa gulungan kapas, botol antiseptik, dan beberapa plester.
Heechul duduk disofa sambil membersihkan darah yang mengalir dari bibirnya yang sobek. Begitu juga dengan Yunho.
Setidaknya Heechul sudah menepati janjinya dengan Jaejoong untuk tidak mematahkan leher Pria Jung didepannya.
"Kyuhyun berada di rumah sahabatku. Sudah malam, lebih baik besok saja." Ucap Heechul yang sedang mengompres pipinya yang terlihat lebam.
Yunho menatap Heechul. "Kenapa kau berbohong padaku?"
Heechul berdecak kecil. "Lalu membiarkan Umma-mu tahu? Membiarkan wanita tua itu menyakiti keponakanku? Tcih! Tidak akan pernah kubiarkan hal itu terjadi. Cukup Jaejoong yang menanggungnya."
Kening Yunho mengkerut. "Apa maksudmu?"
Heechul tertawa hambar. "Kuberi tahu hal yang disembunyikan wanita tua itu. Umma -mu pernah meracuni Jaejoong, membuat keadaannya kritis dan mengalami koma selama seminggu. Lalu apa kau tahu hal menggelikan lainnya?"
Yunho hanya bisa bungkam mendengar hal yang tidak pernah ia tahu.
Heechul kembali melanjutkan cerita kecilnya. "Wanita tua itu menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Jaejoong. Bukankah itu lucu, Jung? Menyewa pembunuh untuk membunuh cucu seorang Yakuza?" Terdengar nada mengejek dari bibir Heechul.
"Umma-mu benar-benar pintar bergurau denganku."
Perlahan dia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. "Tuan Jung memintaku untuk merahasiakan hal ini dari kakekku, dengan imbalan merahasiakan hal ini darimu."
"I-itu... Tidak mungkin..." gumam Yunho tidak percaya.
Heechul menatap datar pria didepannya yang bersimpuh dengan kepala yang tertunduk. "Aku lelah. Selamat tidur."
.
.
.
Pagi-pagi sekali, Yunho dan Heechul meninggalkan kediaman Kim. Menuju rumah Jungsoo.
Heechul sengaja menitipkan keponakannya pada pria itu karena tiga hari yang lalu dia berangkat ke Jepang.
Mengingat kondisi Kyuhyun yang sedang mengandung dan masih dalam terapi, lebih aman jika Jungsoo yang mengontrolnya.
Mereka berdua sampai di sebuah bangunan .
Dengan tidak sabar Yunho segera turun dan berlari kearah pintu. Memencet bel dengan tidak sabar.
Dia sudah ingin memeluk putranya. Dia ingin mengelus kepala Kyuhyun layaknya seorang ayah pada umumnya. Ia ingin mencubit pipi gembul putranya. Ia ingin…
Cklek!
Pintu perlahan terbuka. Menampakkan seorang pemuda yang tengah mengucek kelopak matanya. Wajar saja dia masih mengantuk karena ini masih subuh dan semalam dia membantu Jungsoo mengurus cafe kecil dokter itu. Rambut ikal karamelnya saja sangat berantakan dan ditubuhnya masih melekat piyama biru muda.
"Hung?"
"Kyunnie baby..." Dengan tiba-tiba Yunho memeluk tubuh Kyuhyun, membuatnya sedikit mundur karena serangan memdadak seperti itu.
Kyuhyun langsung melotot. Tubuhnya seketika menegang karena pelukan Yunho terlalu kencang.
Hei, Kyuhyun masih dalam masa terapi traumanya. Sentuhan intim tentu membuatnya takut. Tubuhnya tiba-tiba membeku.
Heechul yang sadar dengan keadaan Kyuhyun langsung menarik bahu Yunho untuk mundur.
"Kau terlalu kuat memeluknya." ia menghampiri Kyuhyun, dan memeluknya pelan. "Gwenchana, Kyu..." diusapnya pelan pinggung Kyuhyun.
"H-Hyung..."
"Ne. Kau tak perlu takut..."
Pelukannya terlepas. Ia menangkup pipi Kyuhyun yang semakin berisi.
"Ada yang ingin bertemu denganmu."
"Nu-nugu?"
Heechul sedikit menggeser tubuhnya agar Yunho bisa kembali melihat putranya.
"O-omoo... K-kau... Sudah sebesar ini? Bayi kecilku..." Yunho tidak bisa menutupi kebahagiaannya ketika melihat Kyuhyun. Yunho kembali memeluk tubuh Kyuhyun, namun kali ini lebih lembut. Air hangat mulai merembes dari mata musangnya.
"Appa merindukanmu, baby...Jeongmal bogoshippoyo…"
Alis Kyuhyun mengkerut karena belum mengerti. Appa? Maksudnya?
Yunho menangkup pipi Kyuhyun, meraba tiap inci wajah manis didepannya. Sungguh. Yunho tidak tahu apa yang harua dia lakukan untuk mengartikan kebahagiaannya sekarang.
Kyuhyun-nya benar-benar masih hidup. Buah cintanya dan Jaejoong.
"Hei, Apa kau tidak rindu Appa, baby?"
"Ap...pa..."
Yunho tersenyum mendengar suara Kyuhyun. Jemarinya mengusap tiap sisi wajah Kyuhyun yang basah.
Kyuhyun menangis. tak pernah sekalipun dia mengucapkan panggilan itu. Entah sebesar apa rindunya pada panggilan itu.
"Nde... Ini Appa, baby... Ini Appa..."
"hiks... Appa... Huhuhu... Ap..pha..." Kyuhyun menangis histeris. Ia juga rindu. Sangat. Rasa hangat langsung menyergap memenuhi tiap sudut hatinya. Sentuhan Yunho begitu hangat.
.
.
.
"Hei, makannya pelan-pelan, Kyunnie baby..."
"Umng~" Kyuhyun bergumam tidak jelas. Wajar saja karena mulutnya penuh oleh shusi. Dengan cekatan Yunho mengelap bibir bawah Kyuhyun yang tertempel nasi.
Yunho benar-benar paham sekarang. Kenapa dia seperti melihat Jaejoong jika berhadapan dengan Kyuhyun. Kenapa rindunya semakin bertambah jika mendengar suara Kyuhyun.
Kyuhyun putranya. Putranya dan Jaejoong. Putra kecil yang begitu mereka cintai.
Bahkan bibirnya tidak henti menyungging senyum lebar.
-Gomawo BooJae...-
.
.
.
Sebuket lily putih diletakkan Yunho diatas nisan Jaejoong.
Ini pertama kalinya dia mengunjungi makam Jaejoong sejak kepergian kekasihnya.
"Annyeong, BooJae."
-"Annyeong, Yunnie-ya"-
Yunho tersenyum saat sepasang tangan kecil melingkar didadanya. Memeluknya dari belakang. Digenggamnya punggung tangan putih itu.
"Kyuhyun sangat manis... Dia mirip denganmu..."
Jaejoong semakin merapatkan pelukannya. Dibenamkan wajahnya pada punggung hangat didepannya. -"Jinjja?"-
"Gomawo, sudah bertahan untuknya, Jae. Gomawo, karena kau telah menjadikan aku seorang Appa... Gomawo untuk semuanya.."
Jaejoong melepas pelukannya. Dia berpindah kehadapan Yunho. Melingkarkan tangangan mungilnya di leher jenjang sang kekasih. Kakinya sedikit berjinjit karena perbedaan tinggi tubuhnya dan Yunho.
Lima belas tahun telah berlalu. Telah mengubah banyak hal.
Tapi bagi Yunho,tidak ada yang berubah diantara dirinya dan Jaejoong. Cintanya tetap sama. Jaejoong-nya pun tetap tak berubah. Masih seorang pemuda cantik yang telah menawan hatinya terlalu kuat, sehingga ia tidak bisa bergerak.
Sebuah ketetapan yang selalu Yunho pertahankan selama sekian lama.
-"Cheonmaneyo, Appa..."-
Yunho melingkarkan tangannya di pinggang Jaejoong. Dia menundukkan kepalanya agar bisa melihat rupa cantik Jaejoong. Digesekkan hidungnya pada hidung bangir Jaejoong.
-"Yun..."-
"Hng?"
-"Saranghae."-
"Nado, BooJae..."
-"Saranghae, Yunnie..."-
Mata bening Jaejoong mulai berselaput airmata. Waktunya sudah habis. Tugasnya menemani Yunho sudah selesai. Hatinya berdenyut perih ketika mengatakan itu.
-"Saranghae..."-
"Wae, Jae?"
Jaejoong tersenyum lemah, -"Aku takut kau lupa dengan cintaku, Yun..."-
"Mwo?"
-"Tuhan tidak mengizinkanku berlama-lama disini, Yunnie-ya"-
Bulir beningpun akhirnya lolos. Menyusuri pipi putih Jaejoong dengam perlahan. Kontras dengan bibir mungil nan merah yang melukiskan senyum lembut. Senyum terindah bagi Yunho.
"Apa yang kau katakan, Jae? Kau tak akan kemanapun... Tempatmu hanya disisiku, Arraseo?!"
"Ne... Aku akan selalu disisimu... Aku tidak akan kemanapun... Saranghae..."
Yunho sudah tahu arti perkataan Jaejoong. Hanya saja dia tidak siap jika BooJae-nya pergi. Dan Yunho tidak akan pernah siap akan hal itu.
-"Saranghae... Saranghae, Yunnie-ya... Saranghae... Younghwonhi..."-
Mata musang itu tertutup rapat ketika sapuan terakhir yang ia rasakan telah membawa Jaejoong pergi. Air mata mulai merembes saat ia merasa yang dipeluknya hanyalah udara kosong.
Bibirnya perlahan tersenyum tipis. "Nado saranghae, BooJae… Saranghanikka, Joongie-ya… Saranghae… Jeongmal saranghaeyo…"
Tangisnya pecah seketika.
.
.
.
Next(?)
.
.
.
Maa saya lama update.
komputer saya masuk "rumah sakit" T^Tv
