Special thanks to:
Viviandra Phanthom, Aristy, Uzumaki Prince Dobe-Nii, Couphie, Nia Yuuki,
yunaucii, Mel, Mii Soshiru, ainun anissa 9, BlacknightSkyeye Yue- Hime,
nay, yuki amano, LemonTea07, Namikaze Lin Chan, kkhukhukhukhudattebayo,
deviluk shin ryu, hanazawa kay, 7D, dan tsunayoshi yuzuru.
Arigato gozaimasu, minna-san!
Title : Outside of the Dream
Disclaimer : NARUTO belongs to Masashi Kishimoto
Rate : M
Genre : Romance, crime, yaoi, gender-bender
Warning : AU, miss typos, Don't Like Don't Read!
Summary : Di balik gemerlapnya kota besar ada tempat yang gelap bahkan lebih gelap dari kegelapan itu sendiri, tempat kotor dan hina. Sebuah tempat ilegal dengan sebutan penjualan manusia. Menunjukkan wajah asli di balik topeng mereka. Hasrat yang terpendam. Di sana semua manusia bukanlah manusia.
3rd Dream : Memories in the Heart
Aroma lezat tercium di udara yang memenuhi ruang makan di mansion megah itu, berasal dari berbagai hidangan sarapan pagi yang tersaji di atas sebuah meja persegi panjang berbalut taplak meja berwarna putih dengan corak kelopak bunga moonflower. Di sekeliling meja terdapat beberapa kursi. Terlihat beberapa remaja tengah duduk menikmati pagi mereka—5 remaja berambut merah dan 1 remaja berambut kuning. Tak jauh dari mereka berdiri seorang butler berambut perak yang setia menunggu majikannya. Terdengar suara argumen dari arah meja makan, tapi sang butler hanya tersenyum dari balik masker hitamnya.
"Jangan khawatir, Gaara. Hanya ada sedikit salah paham."
"Hanya mengajari akasuna no baka (pasir merah bodoh)," sahut Sakura dengan santainya.
"Hanya mengingatkan nadeshiko no tomboy (pinky tomboy)," timpal Sasori tidak mau kalah.
"Kalau kalian masih saja seperti itu akan kulaporkan pada nenek."
Terdengar sebuah ancaman dari seorang pemuda berambut merah yang bernama Gaara. Ancaman itu membuat Sasori dan Sakura terdiam, enggan melanjutkan pertengkaran mereka. Dua Haruno bersaudara itu hanya menatap tajam sosok Gaara dari tempat duduk mereka dalam diam. Betapa kesalnya mereka sayangnya mereka tak mampu berkutik dengan ancaman itu.
"Sepertinya kalian mengerti maksudku," lanjut Gaara datar sambil menikmati makanannya kembali.
"Hei, hei, sudahlah... Jangan bertengkar terus," sahut seorang gadis berambut merah panjang. Dia menoleh ke arah Naruto dan tersenyum ramah padanya.
Pemuda pirang itu membalas senyum ramah Karin dengan sebuah anggukan kecil. Dia mengerti gadis di samping kanannya itu berusaha bersikap baik, mungkin juga pertanda ucapan selamat datang untuknya. Menyingkirkan hipotesis dalam kepalanya, dia kembali menatap ke arah Sakura dan Sasori was-was. Apa boleh buat, objek awal penyebab mereka beradu argumen adalah dirinya sendiri. Secara tidak langsung Naruto merasa dialah yang harus bertanggungjawab.
"Benar apa kata Karin. Lebih baik kalian berhenti bersikap kekanak-kanakan," tambah seorang pemuda lain yang juga berambut merah dengan poni sedikit menutupi mata kanannya. "Sekarang saatnya sarapan."
Pemuda itu mulai mengambil ayam panggang yang terhidang di depannya dengan sebuah senyum menghiasi wajah tampannya. Dia tidak menyadari, atau lebih seperti tidak mengacuhkan tatapan Sasori padanya. Tapi setidaknya tindakannya mencegah pertengkaran itu sedikit berhasil, dengan Gaara dan Karin terlihat mulai memakan kembali makanan mereka. Sedangkan Naruto masih bingung akan memakan apa. Terlalu banyak jenis makanan yang tersedia, mulai dari yang dikenalnya sampai yang tak dikenalnya. Bervariasi.
"Memangnya siapa yang kekanak-kanakan? Siapapun itu, yang pasti bukan aku," ucap Sasori sembari melirik Sakura melalui ekor matanya.
"Salahkan Aniki yang jauh lebih dewasa tapi tidak kunjung dewasa," sahut Sakura menyeringai.
Kedua mata Sakura menatap sosok sang kakak tercinta dengan tatapan penuh arti. Jika Sasori menganggapnya kekanak-kanakan, dia tidak akan tinggal diam. Sedangkan Sasori berganti menatap tajam sang adik. Dia tahu pasti apa maksud di balik ucapannya itu. Apalagi kalau bukan menyinggung soal wajahnya yang masih terlihat imut-imut dan tubuhnya yang kurang tinggi jika dibanding dengan pemuda lain seusianya. Jika Sakura menantangnya, dia tidak akan mau mengalah.
Menurutku mereka berdua sama-sama kekanak-kanakan. Pikir Gaara.
Sasori menanggapi tantangan Sakura dengan menyeringai tipis. "Setidaknya aku tidak ber-crossdressing seperti seorang anak aneh yang ada di sini," ucapnya tanpa menatap sang lawan.
BRAK!
Tiba-tiba gadis tomboy itu berdiri dan menggebrak keras meja makan dengan kedua tangannya. Suara gebrakannya cukup keras hingga mengejutkan semua orang, termasuk Kakashi yang berdiri di dekat jendela. Untungnya tak ada kerusakan pada meja bernasib malang itu—hanya sedikit membuat piring, gelas, serta makanan di atasnya terlonjak kecil. Enam pasang mata memusatkan perhatian mereka ke arah Sakura. Mendadak suhu ruangan itu terasa menurun drastis. Dapat mereka rasakan aura-aura hitam menguar dari tubuh gadis itu. Sakura mengepal kedua tangannya kuat-kuat dengan kedua mata emerald-nya menatap tajam menusuk ke arah Sasori.
"Apa masalahmu, Aniki!?" bentak Sakura merasa tersinggung dengan ucapan sang kakak.
"Apa masalahmu, Otouto!?" bentak Sasori seraya berdiri dari kursinya.
Mereka saling melempar death glare.
"Hentikan! Apa masalah kalian berdua?" tanya Gaara menengahi. "Pagi-pagi sudah bertengkar."
"Dia yang mulai!" seru Sasori dan Sakura hampir bersamaan dengan kedua jari telunjuk mereka saling menunjuk ke arah satu sama lain. Wajah mereka terlihat sebal. Entah kenapa mereka terlihat seperti dua anak kecil yang saling menyalahkan temannya atas kejahatan kecil yang mereka lakukan. Tak ada yang mau mengalah.
"Apa ini? Sekarang kita kembali ke masa TK?" tanya Karin menimpali.
Gaara hanya menghela nafas lelah. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya menghadapi dua orang itu—tidak tahu harus bagaimana lagi. Tiba-tiba kedua telinganya mendengar suara tawa kecil. Dia melirik ke arah pemuda yang duduk di samping kirinya. Kedua matanya mendelik tajam pada orang yang bersangkutan. Tapi sepertinya dia tak menyadarinya dan masih saja tertawa kecil. Ketika dia melihat ke arah Naruto, pemuda pirang itu menatap Sasori dan Sakura dengan mulut sedikit terbuka—melupakan pasta di depannya.
Aku tidak tahu harus berkomentar apa. Mansion mereka megah, pakaian mereka terlihat begitu elite, tapi siapa sangka kelakuan mereka seperti ini? Pikir Naruto sambil ber-sweatdrop dalam hati.
Haah... Sekarang aku mengerti kenapa Fuka memutuskan tinggal bersama Sara. Batin Karin lalu melanjutkan acara sarapannya dengan tenang tanpa merasa terganggu dengan keadaan di sekitarnya.
Sasori dan Sakura mendengus kesal sembari kembali duduk di kursi mereka masing-masing. Suasanapun tenang kembali. Hanya ada suara sendok, garpu, dan pisau yang saling bergesekan dengan piring yang mengisi ketenangan. Namun ruang makan yang seharusnya hangat itu terasa dingin penuh kesunyian—padahal AC di sana tidak dinyalakan.
Bagaimana tidak? Duo Haruno yang duduk berhadapan itu sama-sama mengeluarkan aura membunuh satu sama lain—meski mereka tidak melanjutkan acara pertengkaran mereka. Sunyi, karena Gaara yang memang tidak banyak bicara hanya menikmati makan paginya dalam ketenangan. Sedangkan Karin yang tidak terlalu peduli dengan teman-temannya hanya bersikap selayaknya tidak terjadi apa-apa. Begitu pula dengan pemuda berambut merah di samping kiri Gaara. Meninggalkan Naruto sendirian dalam perasaan tidak enak, terlebih lagi dia duduk di samping Sakura.
.
.
.
Helaan nafas panjang—dengan kesan lelah yang begitu terlihat—terdengar dari arah sebuah bangku kecil di halaman belakang sebuah mansion yang begitu megah. Di bawah pohon terlihat seorang pemuda pirang dengan setelan lengkap serba putih. Di samping kanan dan kirinya terlihat semak-semak bunga moonflower yang berwarna putih, tumbuh subur bersama dengan pohon-pohon cemara dan tanaman hias lainnya yang dibuat simetris. Indah tapi tidak cukup untuk menarik perhatian pemuda itu. Pemuda bernama Naruto itu justru memandang langit dan awan-awan putih yang bergerak di sana. Wajahnya terlihat bosan, sedih, dan sirat kebingungan. Pikirannya melayang jauh pada acara makan pagi yang diadakan sekitar 30 menit yang lalu.
"Haah... Apa yang harus kulakukan...?" gumam pemuda itu disertai helaan nafas panjang.
Masih teringat jelas dalam otaknya bagaimana pagi yang cerah itu berubah 180 derajat hanya karena dua manusia berambut merah. Seharusnya di pagi yang cerah tak berawan itu mereka menikmatinya dengan ketenangan. Tapi tidak, mereka justru mengawalinya dengan saling beradu argumen—kalau tidak mau dikatakan sebagai sebuah pertengkaran—layaknya anak kecil.
Pemuda itu tak menyadari sebuah siluet manusia perlahan berjalan mendekat ke arahnya.
"Mooflower, bunga putih yang indah kan?"
"Eh?" Naruto tersentak. Dia menoleh ke arah samping kirinya begitu tersadar dari lamunannya. Pemuda blonde itu melihat sepasang mata dengan pola melingkar-lingkar—yang menurutnya aneh dan tak biasa— tengah menatapnya.
"Hai," sapa seorang pemuda berambut merah berponi yang tiba-tiba muncul.
"H-hai," sapa balik Naruto. Kedua matanya meniti sosok pemuda yang jauh lebih tua beberapa tahun darinya itu. Wajahnya tampan dengan kulit putih pucat dan bertubuh cukup tinggi. Pemuda itu mengenakan setelan hitam lengkap selayaknya Sasori dan Gaara.
"Apa kau tahu? Nama bunga ini moonflower, bunga yang biasa disebut sebagai bahan ramuan cinta," lanjut pemuda itu sembari membelai beberapa kelopak bunga moonflower yang ada di sampingnya. "Ah, apa aku mengganggumu?" tanya pemuda itu yang dibalas gelengan dari Naruto. "Maaf soal kelakuan Sasori dan Sakura tadi ya. Mereka memang sering bertengkar. Jadi harap dimaklumi," ucapnya memulai pembicaraan.
"Ah, tidak apa-apa. Aku...hanya merasa sedikit canggung saja," papar Naruto menunduk malu.
"Namaku Nagato, siapa namamu?"
"Namikaze Naruto. Tapi panggil saja aku Naruto, Nagato-san."
"Selamat datang di Haruno Mansion, Namikaze Naruto."
"Um!" Naruto mengangguk mantap.
Nagato mendudukan diri di samping Naruto. Lalu pemuda itu menatap lekat ke arah Naruto. "Sakura...belum bercerita apa-apa padamu kan?"
Naruto mengangguk singkat.
"Tempat kau berada saat ini adalah mansion kami, Haruno Mansion. Mungkin kau menyadari kalau kami semua memiliki warna rambut yang sama, yaitu merah. Ah, kecuali Sakura yang sebenarnya rambutnya berwarna pink—hanya saja dia justru mengecatnya menjadi merah. Tapi kami semua yang tinggal di sini bukan benar-benar bersaudara seperti yang terlihat."
"Eh? Maksudnya?"
"Contohnya saja aku. Aku berasal dari keluarga Uzumaki. Suatu malam terjadi penyerangan pada keluarga kami. Muncul orang-orang berpakaian serba hitam yang masuk ke dalam rumah kami dan mulai menembaki keluarga kami dengan membabi-buta. Saat itu aku masih berusia 10 tahun, tidak bisa melakukan apa-apa saat Ayah, Ibu, dan seluruh keluargaku tewas. Tapi aku yang terluka parah berhasil melarikan diri. Sesaat sebelum tak sadarkan diri aku bertemu dengan seorang nenek. Beliau menolongku dan mengangkatku sebagai cucunya. Sejak saat itulah aku tinggal di sini," jelas Nagato panjang-lebar.
"Aku turut prihatin atas apa yang terjadi pada keluargamu, Nagato-san."
"Tidak apa-apa. Karena aku tinggal di sinilah aku bisa bertemu dengan saudara jauhku, Karin."
"Lalu bagaimana dengan Gaara-san?"
"Dia sepupu Sasori dan Sakura. Nama lengkapnya Sabaku no Gaara. Lalu bagaimana denganmu sendiri, Naruto-kun?"
Kedua mata Naruto melebar mendengar pertanyaan itu. Dia mengalihkan pandangannya ke arah rerumputan. Detak jantungnya berpacu dengan cepat. Dapat dia rasakan keringat dingin mulai mengalir dari pelipisnya. Tubuhnya sedikit bergetar. Apa yang harus dia lakukan? Apa yang harus dia katakan? Dia ragu harus menceritakan soal malam itu pada Nagato. Dia tidak bisa, bukan, dia tidak yakin. Karena peristiwa itu sedikit membawa trauma padanya.
Lama Nagato menunggu jawaban dari Naruto. Hingga suasana begitu terasa sunyi dengan hanya gemerisik suara daun-daun pohon cemara yang terdengar. Pemuda itu menghela nafas lelah. Dia tahu dia tidak akan mendapat jawabannya semudah itu. Mungkin dia perlu bertanya langsung pada Sakura atau Sasori tentang Naruto. Bukan ide yang buruk.
"Kalau kau tidak mau cerita tidak apa-apa kok..."
"A-aku... uum... Aku diselamatkan o-oleh Sasuke-san," jawab Naruto sedikit terbata. "Aku diculik dan dibawa ke sebuah tempat pelelangan manusia." Semburat merah menghiasi wajahnya yang manis itu, membuatnya terlihat semakin manis.
"I see. Jadi begitu ceritanya. Tidak heran mereka bertengkar."
"Eh?" Naruto menautkan kedua alisnya.
Nagato tak menjawab kebingungan Naruto. Dia menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil. Dia tidak akan mengatakan hal yang tidak perlu, atau setidaknya tidak perlu diketahui oleh pemuda blonde itu. Belum saatnya.
"Oya, kau sudah tahu kan kalau Sasuke itu Sakura?" tanya Nagato mengalihkan pembicaraan.
"Ya, aku sudah mendengarnya dari Sasori-san."
"Kenapa kau masih memanggilnya 'Sasuke-san'?"
Naruto menunduk. Dia sendiri tidak yakin kenapa dia memanggil gadis tomboy itu dengan nama samarannya. Perlahan Naruto menatap ke depan, ke arah semak-semak moonflower yang berjarak sekitar 7 meter dari bangku tempatnya duduk.
"Mungkin... Mungkin karena aku tahu itu yang Sakura-san mau. Aku hanya ingin menghormati keinginannya," jawab Naruto ragu.
Ah, sekarang dia mengerti kenapa Sakura tertarik dengan pemuda yang satu ini. Nagato baru menyadarinya kalau pemuda di sampingnya itu sangat menarik. Dia memiliki hati yang baik dan bisa mengerti perasaan orang lain. Tanpa sadar tangan kanannya bergerak ke arah puncak pirang Naruto. Mengacaknya pelan seperti perlakuan seorang kakak pada adiknya.
Entah berapa lama waktu telah berlalu, dua pemuda itu tampak asyik berbincang-bincang berbagai macam hal. Saling berbagi cerita, pengalaman, dan juga kenangan. Tersenyum dan tertawa bersama. Menikmati angin semilir yang berhembus menerbangkan helaian rambut mereka di antara cahaya sang mentari yang cerah. Mereka baru saling mengenal namun dalam waktu singkat mereka telah akrab.
Tiba-tiba muncul sosok seorang gadis bertopi fedora di samping mereka. Kedua tangan gadis berambut merah itu tersimpan di dalam saku celananya. Haruno Sakura masih berpakaian setelan hitam lengkap yang membuatnya terlihat selayaknya seorang pemuda. Dia melirik ke arah Nagato lalu menatap Naruto penuh arti.
"Naruto, ayo kita pergi," ajak Sakura tiba-tiba dengan senyum menawannya.
"Eh? Kemana Sasuke-san?" tanya Naruto penasaran.
"Shopping."
.
.
.
Sebuah mobil BMW hitam melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan kota Konoha yang padat dengan banyak kendaraan berlalu-lalang. Menyalip mobil-mobil lain yang lebih lambat darinya. Berbelok ke arah pusat kota dimana pusat perbelanjaan terbesar di sana berdiri dengan gedung-gedung bertingkat yang saling menjulang menggapai langit. Mobil hitam itu memperlambat lajunya sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah café dengan papan bertuliskan "Konohagakure Café" yang penuh dengan para pelanggan. Musik classic terdengar mengalun dari bagian dalam café.
Pintu mobil bagian belakang terbuka. Seorang pemuda berambut merah dengan topi fedora menghiasi kepalanya keluar bersama dengan seorang pemuda blonde berkulit tan eksotis, diikuti seorang pria muda berambut perak keluar dari pintu bagian kemudi. Kedatangan mereka sedikit mencuri perhatian para pelanggan café dengan pesona yang mereka miliki. Terdengar bisikan kata 'keren', 'tampan', ataupun 'wow' dari mereka. Tapi ketiga orang itu bersikap acuh tak acuh pada tatapan dan bisikan di sekitar mereka.
Ramai. Itulah kata pertama yang mampu Naruto deskripsikan pada keadaan di pusat perbelanjaan itu. Mengamati sekelilingnya kedua matanya melihat sebuah restoran ramen Ichiraku di samping kanan Konohagakure Café dan sebuah gedung Konoha Theater di sebelah kirinya. Ada beberapa butik dan toko pakaian di sepanjang jalan di seberang sana. Lalu dia melihat sebuah Mall berdiri beberapa meter dari tempatnya berada. Dan di trotoar banyak orang yang berlalu-lalang entah itu sendirian, dengan teman, ataupun pacar mereka—disertai barang belanjaan di tangan mereka.
"Naruto, iku yo (ayo)," ajak Sakura sembari berjalan ke arah Konoha Mall.
"Ano, Sasuke-san...kenapa kita datang ke sini?" tanya Naruto tiba-tiba sambil menyamakan langkahnya dengan Sakura.
"Aku kan sudah bilang kita akan berbelanja. Kau butuh baju ganti, Naruto. Tidak mungkin kau memakai setelan jas terus-menerus. Aku yakin kau tidak terbiasa dengan hal itu."
Memang sih...
"Tapi aku tidak punya, Sasuke-san."
"Jangan khawatir, aku yang akan membayarnya."
Dua remaja itu berjalan memasuki gedung Konoha Mall dengan Kakashi mengikuti mereka santai dari belakang. Lampu-lampu yang terpasang di Mall itu bersinar terang ke seluruh penjuru. Berbagai macam toko menyambut kedatangan mereka dengan berbagai macam produk yang ditawarkan di etalase toko, dengan para pelanggan keluar-masuk di sana-sini. Tampak ramai. Tapi hal itu tak menyurutkan langkah tiga orang itu untuk menyusuri jalanan Mall. Dan setiap langkah yang mereka ambil membawa perhatian pada para gadis dan beberapa pemuda ke arah mereka.
Di lantai dasar terlihat sebuah lapangan luncur skatting yang penuh dengan anak-anak kecil dan beberapa remaja yang meluncur dengan indah. Terdengar alunan musik dari beberapa tempat secara bersamaan, saling bertautan satu sama lain. Kebisingan yang melebur dalam derap langah kaki para manusia yang menapaki lantai Mall dengan suara canda-tawa mereka dan juga obrolan tak berarti mereka.
Tak ingin berlama-lama dalam keramaian ini, tiba-tiba Sakura menarik tangan Naruto ke arah tangga eskalator yang ditarik-tarik hanya diam saja mengikuti langkah Sakura di belakangnya. Kedua matanya masih mengamati sekelilingnya dengan takjub. Maklum saja, baru pertama kali ini Naruto datang ke Mall semegah ini. Di kota Uzushi tempat tinggal asalnya dulu hanyalah sebuah kota kecil, tak banyak gedung bertingkat apalagi Mall seperti ini. Walau dia mengalami musibah penculikan tapi sekarang dia merasa sedikit bahagia karena mendapat pengalaman baru, sejak dia bertemu dengan Sakura.
"Sasuke-san, kita mau kemana?" tanya Naruto di sela-sela larinya.
"Clothes section di lantai tiga. Ada butik langgananku di sana," jawab Sakura.
Dua remaja itu tak sadar kalau langkah mereka lebih cepat—hampir berlari—jika dibanding dengan yang tadi. Mereka melewati berbagai macam toko, mulai dari toko buku, toko mainan, toko olahraga, dan juga toko sayuran. Kedua mata emerald Sakura menangkap sebuah butik yang dimaksud hanya beberapa meter dari tempatnya berada. Tersenyum kecil, gadis itu mengajak Naruto masuk ke dalam toko itu. Di etalase toko terlihat beberapa mode pakaian terbaru dari berbagai macam style.
Kakashi yang mengikuti mereka dari belakang harus mempercepat langkahnya sambil menghindari pelanggan lainnya untuk mengejar mereka.
Ini sih bukan mengawal, lebih tepat seperti mengasuh. Keluh Kakashi dalam hati.
"Irasshaimase...(selamat datang)," ucap seorang wanita muda penjaga butik itu.
"Hn," sahut Sakura singkat.
Tiba-tiba gadis berpakaian seperti laki-laki itu berjalan menghampiri deretan pakaian laki-laki yang tergantung berjajar. Sakura langsung memilih-pilih pakaian di sana, meninggalkan Naruto yang masih berdiri mematung. Tanpa pikir panjang Sakura mengambil berbagai macam style pakaian, lalu menyodorkannya pada Naruto. Dengan santai dia duduk di atas sofa merah di depan kamar pas. Tangan kanannya memberi isyarat pada pemuda blonde itu untuk segera berganti di dalam sana.
"Eh?"
Naruto menghela nafas lelah sembari berjalan masuk ke dalam kamar pas. Menaruh pakaian-pakaian yang menumpuk di kedua tangannya di atas keranjang kecil yang tersedia di sana. Perlahan dia mulai membuka setelan putih yang dikenakannya. Pemuda itu mengambil sepotong T-shirt hitam, celana hitam, dan jaket oranye cerah. Memakainya lalu keluar dari dalam kamar pas.
"Bagaimana?" tanya Naruto pada Sakura.
"Boleh juga, tapi terlalu sederhana. Kurasa Harajuku Style lebih cocok untukmu," saran Sakura singkat.
Naruto melangkah kembali ke dalam kamar pas. Membuka pakaiannya lagi dan mencoba pakaian dengan style lainnya. Kali ini dia memakai T-shirt bergaris-garis hitam-kuning dipadu dengan celana jeans hitam dengan beberapa ikatan di sana-sini. Lalu ditambah sebuah jaket hitam berbulu pada hoodie-nya. Dan entah kenapa Naruto merasa pakaian yang dikenakannya lebih seperti kostum. Tanpa menunggu lebih lama lagi, pemuda itu melangkah keluar dari kamar pas.
Sakura tersenyum, "Ini lebih cocok."
Pipipip... Tititit... Pipipip... Tititit...
Handphone Sakura berbunyi. Gadis itu meraih handphone merah di saku celananya. 'Karin calling...' tertera pada layarnya. Sakura menaikkan sebelah alisnya heran. Tidak biasanya gadis berambut merah panjang itu menghubunginya. Biasanya kalau memang ada keperluan dia akan menghubungi Kakashi sebagai perantara.
"Kakashi, bantu Naruto berbelanja. Dan jangan lupa jaga dia. Aku mau keluar sebentar," perintah Sakura pada sang butler.
"Baik, Sasuke-sama," jawab Kakashi.
"Hn."
Sakura melirik sejenak ke arah Naruto lalu melangkah keluar dari toko itu dengan tergesa-gesa. Gadis itu berlari-lari kecil meninggalkan gedung Mall.
.
.
.
Tap... Tap... Tap...
Sepasang pantofel hitam menghasilkan langkah kaki yang terdengar pelan, hampir tak terdengar. Cahaya mentari menghiasi koridor putih di sekelilingnya, membuat seolah-olah dinding-dinding itu bercahaya. Setelah jas hitam—lengkap dengan dasi warna senada—dan celana hitam mahal miliknya terlihat rapi. Begitu juga rambut hitamnya yang tersisir rapi. Pemuda berparas tampan itu menyunggingkan sebuah senyuman pada seorang perawat yang berpapasan dengannya. Dan perawat itu membalas senyuman sang pemuda dengan ramah.
Tak lama kemudian pemuda itu berhenti di depan sebuah kamar dengan papan bernomor 801. Tangan berkulit putih pucat itu membuka pintu di depannya dengan hati-hati. Lalu berjalan masuk. Kedua mata hitamnya menangkap sebuah siluet berdiri di depan jendela. Siluet itu berbalik menghadapnya. Diapun mendapat sambutan oleh sepasang mata onyx menatapnya tajam.
"Apa kabar, Pangeran?" sapa pemuda itu dengan senyum tak perah lepas dari wajahnya. Senyum yang menawan tapi terlihat penuh kepalsuan.
PRAANG!
Sebuah vas kaca terlempar dengan kecepatan tinggi. Melayang di udara sebelum akhirnya jatuh menghantam dinding kamar dengan keras. Hancur, menjadi butiran kristal kecil yang berceceran di lantai. Vas itu hampir saja mengenai seorang pemuda yang berdiri di depan pintu—hanya beberapa inchi saja dari kepalanya. Nyawanya nyaris dalam bahaya, tapi pemuda itu masih saja tersenyum dan bersikap tenang.
Temperamental seperti biasanya, eh?
"Sai, mau apa kau ke sini? Pulanglah," potong pemuda lain—sang pangeran—yang ada di sana.
Pemuda itu tak lagi mengenakan baju pasien rumah sakit yang biasa dikenakannya. Kini dia telah berganti dengan setelan jas hitam yang sesuai dengan rambut hitam kebiruannya. Kulit putih porselennya membuatnya terlihat pucat seolah dia masih belum sembuh dari sakitnya. Dua mata onyx-nya masih menatap sosok Sai yang berdiri di sana.
Sai itu membungkukkan badan, "Maafkan saya, saya datang menjemput Anda atas perintah Tuan Besar."
"Terserah," ucap pemuda itu sambil berlalu menuju pintu keluar. "Tapi jangan kau tunjukkan senyum palsumu itu di depan kedua mataku."
"Baik, Sasuke-sama," ucap Sai mengekor di belakang tuannya, menghiraukan vas yang berserakan di bawahnya.
Sang pangeran memasukkan kedua tanganya ke dalam saku celananya. Berjalan santai namun terlihat angkuh pada saat yang sama. Tak peduli dengan tatapan-tatapan orang yang tertuju padanya. Beberapa perawat yang berjalan melewati mereka berdecak kagum dengan ketampanan dua pemuda itu. Berbeda dengan tuannya, Sai justru memberi senyuman ramah pada orang yang menatap ke arahanya, walau sekedar senyum palsu. Dua pemuda sama-sama berkulit putih pucat itu menyusuri lorong rumah sakit yang sepi. Mungkin mereka akan disangka vampire dengan kulit pucat yang mereka miliki itu.
Sekitar lima menit kemudian dua pemuda itu telah sampai meninggalkan gedung rumah sakit. Sai segera melangkah menuju tempat parkir dimana dia memarkirkan mobilnya tadi. Sementara sang tuan muda bernama lengkap Uchiha Sasuke itu menunggu di depan rumah sakit. Terdengar helaan nafas panjang dari Sasuke. Kedua mata hitamnya mengamati langit cerah yang terlihat begitu biru.
Rasanya waktu berputar begitu cepat dan aku hanya terombang-ambing dalam lautan takdir.
Sasuke menutup kedua matanya, perlahan menghirup nafas sedalam-dalamnya. Menikmati aroma khas kota Konoha, udara segar luar rumah sakit yang begitu dirindukannya. Dia baru membuka matanya ketika menyadari sebuah mobil sedan hitam telah berhenti di depannya. Pemuda itu masuk ke dalam mobil dengan cepat. Duduk santai di kursi belakang dan menikmati alunan musik classic yang mengalun di dalam mobilnya.
"Sai, antarkan aku ke Kagemane Office," perintah Sasuke tiba-tiba.
Kedua mata Sai melebar mendengar nama tempat itu, langsung mengerti kemana jalan pikiran Tuan Mudanya itu.
"Maafkan saya jika saya lancang, tapi apa Sasuke-sama masih ingin mencari dia?" tanya Sai.
"Hn. Aku tidak akan menyerah sampai aku tahu dimana dia berada."
"Baik, saya mengerti."
Sai mengemudikan mobil sedan hitam itu menuju daerah terpadat kota Konoha. Terbukti dengan mobilnya yang kini bersebelahan, saling berlomba, saling mendahului dengan mobil dan kendaraan lain di sekitarnya. Sesekali Sai mengintip keadaan majikannya melalui kaca di atas kepalanya. Dapat dilihatnya sang Tuan Muda Uchiha itu tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri sembari menatap pemandangan kota melalui jendela di sampingnya. Keping-keping ingatan masa lalu perlahan menyusup ke dalam otak si Uchiha muda. Kenangan manis dan pahit menyatu tak terpisahkan.
Sai tersenyum tipis. Mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan pemuda raven itu.
Tak beberapa lama kemudian mobil itu telah berada di depan sebuah bangunan berwarna hijau muda bertuliskan "Kagemane Office" di temboknya. Mereka telah sampai di tempat tujuan mereka. Sasuke segera melangkah keluar dari mobilnya meninggalkan Sai menunggu di dalam mobil. Pemuda itu hanya mendengus kecil melihat beberapa gadis menoleh ke arahnya. Tak peduli.
Aku benci keramaian.
Kedua mata hitam itu mendelik kesal melihat begitu banyak orang yang berlalu-lalang di sekitarnya. Sebenarnya dia merasa tak nyaman berada di sana dengan suara bising dari musik yang mengalun dari café-café, orang-orang berbicara, dan juga langkah kaki mereka. Wajar saja, Kagemane Office berada di pusat perbelanjaan kota Konoha yang begitu padat, tak begitu jauh dari Konoha Mall.
"Hn. Ada apa?" Terdengar ucapan seorang pemuda dengan topi fedora menghiasi kepalanya tengah berbicara dengan seseorang melalui handphone-nya. "Urusan itu serahkan pada Aniki, jangan aku. Tidak ada hubungannya denganku," lanjut pemuda itu sambil berlalu.
Sasuke mendengus lalu membuka pintu kayu sebelum akhirnya memasuki bangunan di hadapannya.
"Irasshaimase," ucap seorang wanita cantik berambut pirang yang diikat empat bagian tersenyum menyambut kedatangan calon client barunya. Tapi wajah wanita itu berubah begitu melihat pemuda raven itu di sana. "Rupanya kau Uchiha. Mau apa lagi datang kemari?" tanya wanita itu dengan sikap tidak suka yang begitu terlihat.
"Aku tidak ada urusan denganmu Temari. Shikamaru ada kan?" tanya Sasuke to-the-point.
"Tidak. Dia sedang keluar."
"Ho. Benarkah? Lalu kenapa aku melihatnya berdiri di belakangmu?"
Kedua mata wanita bernama Temari itu terbelalak mendengarnya. Dia berbalik dan mendapati wajah seorang pemuda dengan wajah mengantuk di belakangnya. Rambut hitamnya diikat tinggi seperti bentuk nanas. Kemeja putih yang dipakainya terlihat lusuh dan dasi hijau tuanya dalam keadaan berantakan.
"Shikamaru, kau tidur lagi? Padahal sudah kubilang jangan tidur. Kasus dari Yamanaka-san waktu itu belum selesai kan?" protes Temari bertubi-tubi.
"Aku tahu. Nanti juga selesai," sahut pemuda bernama Nara Shikamaru itu sambil menguap. "Ada apa lagi Sasuke? Kudengar kau masuk rumah sakit," tanyanya santai tanpa adanya sopan santun yang diberikannya pada calon client-nya ini.
"Aku ingin kau mencari dia," jawab Sasuke singkat.
"Tidak bias. Sudah kukatakan padamu berulang kali, aku tidak bisa melakukannya."
"Kau tahu aku tidak suka dibantah, Shikamaru."
"Aku tidak suka jika harus berusan dengan kakekmu itu, Sasuke."
.
.
.
Setelah cukup lama—sekitar 3 jam—berada di dalam Kagemane Office akhirnya seorang pemuda raven melangkah keluar dari gedung itu dengan sebuah seringaian menghiasi paras tampannya. Rasa puas menghiasi benaknya setelah berhasil meyakinkan temannya itu—Nara Shikamaru—untuk menyelesaikan kasusnya. Dengan sedikit ancaman tentunya. Tapi untuk saat ini dia ingin segera pulang dan istirahat. Tubuhnya terasa lelah.
Sasuke melihat ke kanan dan ke kiri, mencari dimana mobil sedan miliknya terparkir di antara banyaknya kendaraan di sekitar sana. Apalagi tak ada tanda-tanda keberadaan Sai dimanapun di antara banyak manusia yang berlalu-lalang. Pemuda itu berdecak kesal lalu mengambil handphone-nya di balik jas yang dikenakannya. Mau tak mau dia harus menghubungi pemuda berkulit pucat itu.
"...Suke...! Sasuke...!"
Samar-samar terdengar teriakan seseorang dari arah kiri. Entah kenapa suara teriakan itu terasa familiar di telinganya, membuat gerakan Sasuke terhenti dan melihat ke arah sana. Kedua mata onyx-nya terbelalak. Tubuhnya terdiam, terasa kaku seketika. Dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Beberapa meter darinya terlihat seorang pemuda berjaket hitam hoodie bulu tengah berlari ke arahnya dengan wajah ceria.
"Naru...," gumam Sasuke lirih.
"Sasuke...!"
.
.
.
TBC
Ciaossu!
Maaf lama update-nya. Jadi terlambat dari jadwal seharusnya.
Sasuke yang muncul di chapter ini adalah Uchiha Sasuke yang asli. Setelah ini dia akan lebih sering muncul.
Buat para readers sekalian, jangan lupa review ya.
Jaa...
12/10/2013
