.

.

.

"Kyu, tolong antarkan pesanan kemeja nomor tujuh." Teriak seorang pria bertubuh mungil yang sedang sibuk dengan masakannya.

"Ne, Hyung."

Selama tinggal bersama Jungsoo, Kyuhyun mulai memberanikan diri untuk kembali bersosialisasi dengan orang lain. Heechul juga tidak keberatan Kyuhyun menjadi pelayan café karena ini juga bisa mengembalikan mentar Kyuhyun secara perlahan.

Mungkin tidak bisa seperti semula, karena Kyuhyun masih merasa takut jika ada pelanggan yang tiba-tiba melakukan kontak fisik dengannya karena merasa gemas. Tapi Kyuhyun akan membiasakan hal itu.

Pemuda manis itu semakin mempercepat langkahnya saat melihat meja nomor tujuh tujuannya. Kyuhyun tersenyum tipis.

"Ini pesanan anda, Ahjussi." Kyuhyun meletakkan pesanan pria berusia 40 tahun yang sedang memandanginya dengan tatapan yang sulit Kyuhyun artikan.

"Kyuhyun-ah, kau harus menemaniku makan kali ini, ne. aku sudah memesan banyak untuk kita."

Gerakan tangan Kyuhyun terhenti ketika ingin meletakkan piring berisi ttaebokki. "Mi-mianhae, Ahjussi, aku masih dalam jam kerja."

"Sebentar saja, ne…"

"A-aniyo… a-aku… harus kembali… bekerja…"

"Aish! Aku sudah menunggumu, Kyuhyun-ah…"

Ahjussi itu tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya dengan kuat ketika Kyuhyun akan beranjak dari tempatnya berdiri. Dia berdiri menghampiri Kyuhyun dengan tatapan penuh nafsu.

"A-ani! Lep-phas!"

Mendengar suara Kyuhyun justru membuat hasratnya semakin tinggi. Nafasnya mulai terdengar memburu. Pria tua itu bahkan sudah begitu lama berfantasi mendengar suara merdu Kyuhyun mendesah sebegitu erotisnya. Ia sungguh tidak bisa bersabar lagi untuk menikmati tubuh pucat yang pastinya akan terasa nikmat.

"Ayolah, Kyu!"

Duagh!

Kyuhyun langsung mundur ketika seorang pria berjas hitam tiba-tiba datang dan menendang pria berusia 40 tahun itu.

Tubuh Ahjussi itu kembali ditariknya keluar dari café dan melemparnya dengan kasar ketanah.

"Ku peringatkan padamu, jika kau berani menyentuhnya lagi, kupastikan kau akan berakhir dibangsal rumah sakit untuk waktu yang sangat lama!"

Tubuh Ahjussi itu bergidik mendengar ancaman yang keluar dari pria berjas hitam. Ia langsung berlari pergi.

Pria tinggi itu membenarkan jas hitamnya agar kembali rapi. Dia masuk lagi kedalam café dan menghampiri Kyuhyun yang menunduk dengan tubuh yang gemetar.

"Gwenchanayo?" Tanyanya lembut.

Kyuhyun tidak merespon. Dia semakin erat memeluk nampan bulat di depan dadanya. Pria itu tersenyum. Tak lama kemudian Kyuhyun bisa merasakan punggungnya diselimuti sesuatu.

Ia mulai berani mengangkat kepalanya dengan kaku untuk melihat apa yang pria itu lakukan. Kyuhyun bisa melihat dada bidang pria yang sedang menyelimuti punggungnya dengan jas hitam miliknya.

"Boleh aku memanggilmu, Kyuhyun?"

Kali ini anggukan yang di dapat pria itu sebagai respon.

"Shim Changmin imnida. Kau tak perlu takut, Yunho Sajangnim yang memintaku untuk menjagamu."

Pria tinggi bernama Shim Changmin itu perlahan mengambil nampan yang sedari tadi dipeluk Kyuhyun. Kemudian berjalan kesisi belakang untuk melepas pengait tali pada apron yang Kyuhyun kenakan.

Changmin menuju dapur untuk meletakkan nampan dan apron. Dia juga meminta pada orang-orang yang melihat kejadian tadi untuk tutup mulut. Dia kembali menghampiri Kyuhyun, dan senyumnya semakin terkembang jelas. Tangannya bergerak menyeka peluh yang membasahi wajah didepannya.

"Sepertinya kau butuh libur hari ini. Aku akan menghubungi Park Jungsoo nanti. Aku akan mengantarmu kekediaman Yunho Sajangnim."

Lagi, Kyuhyun hanya mengangguk sebagai respon.

Changmin dengan sabar menuntuk Kyuhyun untuk masuk kemobilnya. Selama perjalanan, matanya sesekali melirik Kyuhyun yang duduk di sampingnya. Pemuda itu masih menunduk dengan tubuh yang bergetar. Bahkan sekarang jas hitam miliknya menutup rapat tubuh Kyuhyun.

Changmin tidak tahu jika Kyuhyun tengah terisak.

.

.

.

Kyuhyun menatap kosong luar jendela kamarnya. Sesekali nafasnya berhembus pelan. Sudah seminggu dia menginap dirumah Yunho, dan dia merasa begitu bosan. Tidak ada apapun yang bisa di kerjakannya dirumah sebesar itu.

Kembali ia menghela nafas. Setelah berfikir cukup lama sambil memainkan ponselnya, akhirnya Kyuhyun putuskan untuk menghubungi Yunho.

"Yeobosseo?"

"Appa, aku bosan~"

Diruangannya, Yunho tertawa mendengar nada manja putranya. Benar-benar duplikat Jaejoong.

"Changmin akan menjemput dan mengantarmu kekantor. Bersiap-siaplah."

.

.

.

Kyuhyun berjalan sambil menundukkam kepala dan meremas jemari tangannya yang terasa dingin. Tiap orang yang berpapasan selalu membungkukkan tubuhnya.

Sebenarnya tidak masalah jika Kyuhyun dalam keadaan baik, namun keadaannya mulai memburuk dengan adanya kejadian beberapa hari yang lalu, dan itu membuatnya kembali takut jika bertatapan dengan orang asing.

Changmin menolehkan kepalanya kebelakang. Kyuhyun berjarak cukup jauh darinya. Dia menghela sebentar, menghampiri Kyuhyun lalu menepuk pundak Kyuhyun.

Pemuda berusia lima belas tahun itu sontak kaget dan menatap Changmin.

Changmin kembali tersenyum, tangannya mengangkat dagu Kyuhyun lebih tinggi, "Jangan tundukkan kepalamu seperti itu, Kyuhyun-ah. Yunho Sajangnim ingin semua orang tahu jika ia memiliki seorang putra yang begitu manis. Jadi, angkat sedikit wajahmu, arra?"

"U-um!"

Changmin menggenggam tangan Kyuhyun dengan dirinya berjalan didepan. Senyumnya semakin lebar saat merasakan Kyuhyun membalas genggaman tangannya.

.

.

.

"Hmpt!" Kyuhyun mengerucutkan bibir dan mengembungkan pipi bulatnya. Sudah sejam lebih dia menunggu Yunho diruangan Presdir. Rencananya dia ingin mengajak sang ayah ketoko ice cream. Ditambah sesuatu dalam perutnya sudah menendang dinding perutnya dengan tidak sabar.

Kyuhyun melirik jam yang berada diatas meja kerja Yunho. Bibirnya semakin maju. Dia benar-benanr ingin makan ice cream vanilla sekarang dan Yunho rapat terlalu lama.

Akhirnya Kyuhyun putuskan untuk membelinya sendiri bersama Changmin.

"Aish! Appa menyebalkan!" Umpat Kyuhyun sebelum akhirnya dia keluar dari ruangan Yunho dengan langkah yang sedikit menghentak.

.

.

.

Saat hampir sampai lift, sepasang karamelnya menangkap siluet seseorang yang pernah ia kenal. Matanya seketika membulat saat siluet itu semakin jelas berjalan kearahnya.

Choi Siwon.

Kyuhyun segera bersembunyi dibalik tembok, melihat sosok pria yang sedang memfokuskan diri pada berkas-berkas ditangannya.

Perlahan bibir plumnya mengulas senyum tipis. Sosok Siwon begitu tampan. Ditambah kemeja putih yang dikenakannya membuatnya semakin terlihat gagah.

Kyuhyun mengelus perutnya yang sudah terasa lebih besar dan keras. Perutnya tidak ditendang seperti tadi. Sepertinya sang bayi merasa senang melihat sosok Ayahnya.

"Baby, apa kau melihatnya? Uri Appa sangat tampan, ani? Kau merindukan Appa?" Kyuhyun berbisik pelan.

Tangannya merogoh saku, mengambil ponsel hitamnya, kemudian mengarahkannya pada sosok Siwon yang sedang berdiri di depan lift.

Ckrek!

Bunyi kamera membuat Kyuhyun sedikit kaget. Dia lupa mematikannya. Aish, pabbo! Kyuhyun memukul pelan kepalanya.

Tubuhnya semakin bersembunyi ketika Siwon menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan.

Kyuhyun mengelus lembut refleksi Siwon yang langsung ia jadikan wallpaper ponselnya. Matanya kembali menatap Siwon.

Seorang wanita tiba-tiba datang dan melingkarkan tangannya pada lengan Siwon, bergelayut manja pada pria tampan itu.

"Kau mengangetkanku."

Wanita cantik itu terkekeh. "Bukankah hari ini kau berjanji untuk mengenalkanku pada kedua orang tuamu, Wonnie?"

Siwon tersenyum manis, "Tentu. Setelah rapat terakhir, kita akan menemui Appa dan Umma."

Wanita itu tersenyum senang. Ia menjinjitkan kakinya, mendaratkan satu kecupan mesra dibibir pria Choi itu.

Kyuhyun langsung menunduk. Dia tersenyum getir, tidak seharusnya ia disini. Melihat Siwon bersama wanita-nya. Bukankah Siwon sudah menolak keberadaannya sejak awal?

Pemuda manis itu perlahan melangkah mundur. Ia mulai merasa pipinya hangat. Kyuhyun kembali menangis. Tenggorokannya bahkan terasa sulit menelan ludahnya sendiri. Dia mencengkram hoodie longgar yang dipakainya.

Sesampainya di depan lift yang lain, Kyuhyun segera masuk. Tubuhnya merosot dengan air mata yang semakin deras.

.

.

.

"Kajja, Wonnie."

Siwon menoleh kekiri sekali lagi. Dari tadi entah kenapa dia merasa seperti diperhatikan.

Ah, mungkin hanya perasaan numpang lewat, pikirnya.

Ia masuk kedalam lift bersama kekasihnya.

.

.

.

Yunho membantu Kyuhyun menggunakan kemeja putihnya. Sejak awal dia merasa aneh dengan tubuh putranya, terutama bagian perut. Tapi Kyuhyun selalu berdalih lain ataupun mengalihkan pembicaraan.

"Appa…"

"Hm?"

"Apa… aku harus ikut?"

Yunho tersenyum. "Kau tahu, sudah lima belas tahun aku ingin memperkenalkan putraku pada dunia, Kyu."

Kyuhyun tidak lagi berbicara. Tak lama kemudian mereka menghampiri Changmin yang sudah siap disamping mobilnya. Pria tinggi itu langsung membukakan pintu dan Yunho segera masuk kemobil.

Changmin menatap Kyuhyun yang ingin masuk kemobil, lalu tersenyum, "Kau manis, Kyuhyun-ah." Ucapnya.

Kyuhyun hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Changmin barusan.

Yunho berdehem saat melihat adegan barusan. "Changmin-sshi, kita bisa terlambat."

"Y-ye, Sajangnim."

Yunho hanysa bisa menahan tawanya melihat bawahannya terlihat kikuk dan salah tingkah. Apalagi sesekali matanya menangkap Changmin yang memperhatikan Kyuhyun melalui kaca kemudi.

Aigoo~ Padahal selama ini bawahannya itu memiliki pengagum wanita yang lumayan banyak. Justru terjebak dalam pesona seorang Jung Kyuhyun.

.

.

.

Kyuhyun menatap tidak percaya seluruh ruangan yang dilihatnya. Begitu banyak orang asing dan itu membuatnya mulai berkeringat dingin.

Tubuh Kyuhyun langsung menegang saat seseorang menepuk pundaknya.

"Apa Yunho yang memaksamu kesini?"

Pemuda Jung itu langsung menoleh kebelakang dan tersenyum, "Hyung…". Dipeluknya tubuh Heechul. Dia sudah sangat merindukan Pamannya meski beberapa minggu tidak bertemu.

Heechul terkekeh pelan. Ia mengusap lembut punggung keponakannya. "Kau tidak ingin masuk kedalam?"

"A-ani… aku… tidak suka…" desisnya.

Keduanya melepas pelukan masing-masing. "Ingin cocktail? Akan ku ambilkan untukmu. Tunggulah disini." Pria cantik itu menepuk lengan Kyuhyun lalu kembali masuk kedalam.

Kyuhyun kembali menghela nafas dan memandang langit malam itu. Tanpa ia sadari, seorang pria berjalan menuju teras dan berdiri disampingnya.

"Tak kusangka kau bisa hadir disini. Hebat sekali…"

Kyuhyun langsung membulatkan matanya dengan tubuh yang membeku. Nada sedingin es yang tak pernah ia sukai kenapa harus kembali terdengar?

Dengan ragu matanya menoleh kesamping, melihat sosok yang begitu banyak menorehkan luka pada tubuh dan hatinya. Suaranya bahkan terkecat, membuat tenggorokannya begitu sakit.

Siwon menoleh, lalu tersenyum merendahkan. Ia menghela nafas ringan dan menghadap Kyuhyun. "Tak kusangka kau bisa menjerat seorang Jung. Padahal beberapa hari yang lalu kau datang kekantorku, mengaku hamil. Cih!" Siwon terlihat tertawa kecil.

Sejak awal kedatangan Kyuhyun, Siwon mulai merasa panas dan sesak didadanya. Ditambah Yunho yang dengan santainya merangkul pundak Kyuhyun. Tak pernah dia sangka jika pria terhormat seperti Jung Yunho bisa melirik seorang pelacur.

Sedangkan Kyuhyun secara perlahan berjalan mundur dengan tangan yang mencengkram terali besi pinggir teras.

"Wae? Kenapa menghindariku? Takut kedokmu terbongkar? Kau tidur dengannya, lalu mengaku hamil juga?" Siwon justru semakin memajukan langkahnya mengikuti langkah Kyuhyun.

"Bitch!"

Langkah Kyuhyun berhenti. Tatapan matanya kembali kosong saat Siwon mengatakan sesuatu yang begitu menyakitinya. Tanpa Kyuhyun sadari, cairan bening tengah mengaliri pipi chubby-nya.

"Kau menangis, Kyuhyun? Wae? Katakan padaku, kenapa kau menangis, hm?"

Siwon menyeringai melihat Kyuhyun yang hanya diam. Dijilatnya sudut mata Kyuhyun yang mengaliri cairan asin, kemudian lidah hangatnya menjilat daun telinga Kyuhyun, membuat tubuh pemuda dalam dekapannya semakin bergetar takut.

Nafas Siwon semakin memburu tidak terkendali, ternyata menyentuh sedikit saja bagian tubuh pemuda itu mampu membuat libidonya meningkat. "Katakan padaku… apa yang sudah kau lakukan bersama Yunho…hm?" Wajahnya semakin menunduk, menyusup diantara rambut kecokelatan Kyuhyun, dan mengecup tengkuknya, membuat Kyuhyun tiba-tiba histeris mendorong kuat tubuh Siwon.

"An-andwae… JebalAn-andwae… hiks…" Kyuhyun terperosot dengan tangan menyilang di depan dadanya. Ia memeluk tubuhnya yang bergetar hebat.

"Mwo?" Siwon kembali berdiri dan menyergap Kyuhyun, menangkup kedua pipi gembulnya dengan kasar. "Bukankah kau menyukai ini, Kyuhyun?" sedetik kemudian, bibirnya memagut bibir plum didepannya dengan brutal, tidak mengizinkan Kyuhyun bernafas barang sejenak.

Pria Choi itu seolah lupa dimana dirinya berada. Karena yang menguasainya kini adalah rindu yang teramat sangat.

.

.

.

"Hyung…"

Pelipis Heechul kembali berkedut ketika melihat wajah polos Yunho yang tersenyum lebar kearahnya. Membuatnya ingin muntah.

"Berhenti memanggilku seperti itu, Jung!" desis pria Kim itu saat sudah bersebelahan dengan Yunho. "Kenapa kau membawa Kyuhyun kesini, huh?" jemari lentiknya mengambil cocktail yang sudah tersedia di atas meja dibelakang Yunho.

"Tentu saja untuk kuperkenalkan pada semua rekan bisnisku"

Rasanya ingin sekali Heechul melempar gelas ditangannya saat mendengar jawaban ringan dari Yunho. Ditambah pria itu dengan santainya meneguk red wine-nya.

"Terserah kau sajalah, Jung. Jika terjadi sesuatu dengan keponakanku, kepalamu yang pertama kali kupenggal."

Heechul lebih memilih mengantar cocktail untuk keponakannya ketimbang meladeni sikap Yunho. Sedangkan Yunho sudah kembali terlibat dengan beberapa pebisnis lainnya.

Langkah Heechul langsung berhenti ketika mendengar jeritan Kyuhyun. Mata bagai kucingnya berkilat dengan nafas yang keluar-masuk tak beraturan. Dengan sekuat tenaga, Heechul menendang tubuh Siwon yang menatapnya tidak percaya. Dicengkramnya lagi kerah Siwon, "Brengsek!"

"Ka-kau!"

"Sudah kuperingatkan padamu untuk tidak menyentuh keponakanku!" Lagi, Heechul mendaratkan pukulan keras kepelipis Siwon. Pria Kim itu langsung merogoh ponselnya, menyuruh salah satu bawahannya untuk membawa Kyuhyun segera kerumah sakit.

"Akan kupastikan hidupmu terasa seperti dineraka, Choi!" Heechul menghempas tubuh Siwon dan langsung menuju mobil yang membawa Kyuhyun.

Sedangkan Siwon masih membeku disana. Diusapnya bibirnya yang pecah, merabanya dengan perlahan tanpa perduli dengan rasa sakitnya.

"Ap-apa yang… kulakukan barusan?" Tanyanya entah pada siapa.

.

.

.

Yunho berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Dia langsung beranjak meninggalkan pesta ketika Changmin memberitahu bahwa Heechul membawa Kyuhyun pergi dengan keadaan yang tidak biasa.

Yunho mendapati kamar Kyuhyun, dan matanya menatap tidak percaya putranya tengah terbaring dengan selang infuse yang melekat dipunggung tangan kanannya dan wajah pucat. Dia menatap Heechul yang duduk sambil memegang tangan Kyuhyun.

"Apa yang terjadi?" Tanyanya dengan nafas yang masih tersengal dan terasa berat. Tidak menjawab apapun dari Heechul membuat Yunho benar-benar geram. Dihampirinya Heechul, menarik kerah jas yang dipakainya. "Katakan padaku, apa yang terjadi pada putraku, Kim?!"

Detik berikutnya, Heechul biarkan yunho memukuli wajahnya karena dia sendiri sadar, sejak awal, dirinyalah yang salah. Bermaksud ingin melindungi keponakannya, namun dia sendirilah yang membuat keadaan Kyuhyun hancur.

Mungkin jika sejak awal Heechul menyerahkan Kyuhyun pada Yunho, tidak terjadi hal seperti ini. Kyuhyun pasti bisa menjalani hidup layaknya pemuda normal tanpa harus dihantui trauma yang dideritanya.

Mungkin Kyuhyun akan bersekolah seperti remaja normal. Memiliki banyak teman, bahkan mungkin bisa juga memiliki kekasih.

Heechul tersenyum perih. Bodohnya dia…

"Ya! Apa yang kau lakukan, Tuan Jung?! Ini rumah sakit!" Jungsoo yang baru datang langsung menarik tubuh Yunho agar tidak menghajar lagi sahabatnya.

.

.

.

Merasa emosinya sudah redam, Yunho kembali menatap Jungsoo dan Heechul bergantian. "Apa yang kalian sembunyikan tentang Kyuhyun?"

Dokter bermarga Park itu menoleh Heechul, tapi yang dilihat Heechul hanya menundukkan kepalanya dalam. Dia kembali menghela nafas. Memang percuma menyembunyikan sesuatu sepintar apapun. Karena pada akhirnya akan terbongkar.

"Sejak kecil, Kyuhyun ada masalah dengan daya tahan tubuhnya yang rendah. Ditambah kejadian yang menimpanya, membuat imun-nya sering mengalami penurunan drastis. Ini sangat membahayakan Kyuhyun dan…". Jungsoo masih ragu untuk meneruskannya karena dia tahu resiko yang akan terjadi selanjutnya.

"Dan apa?"

"Kyuhyun tengah mengandung, Jung-sshi. Usia kandungannya yang baru dua bulan sangat rentan mengalami keguguran, dan itu juga berpengaruh pada tubuh Kyuhyun."

Yunho menatap tidak percaya putranya. Pandangannya segera beralih pada Heechul yang bersebrangan darinya. "Mwo? Mengandung? Apa yang…" Yunho langsung berlari, berniat mendengar ucapan langsung dari kakak Jaejoong itu, namun Jungsoo langsung menahan tubuhnya.

"YA! APA YANG KAU PERBUAT PADA PUTRAKU, KIM?!"

"Apa pendengaranmu bermasalah, Jung? Kau sudah dengar sendiri…"

"Kau!"

Buagh! Drak!

Kaki Yunho yang bebas menendang kursi yang diduduki Heechul, membuat tubuh pria cantik itu terjerembab membentur nakas disamping ranjang Kyuhyun tidur. "Brengsek!"

Awalnya Heechul tidak ingin melawan karena merasa ini salahnya, namun perlakuan Yunho lama-kelamaan membuat emosinya meningkat drastis. Dia berdiri dan menatap Yunho garang. Kini ia benar-benar ingin menembak kepala pria Jung didepannya ketika kenangan lima belas tahun yang lalu kembali teringat di kepalanya.

Saat dimana Jaejoong menangis sambil memeluknya kuat. Mengatakan jika ia mencintai Yunho dan rela membuang apapun demi pria itu. Dia rela menanggung nyawa Kyuhyun sendirian ketika Nyonya Jung meracuninya bahkan sampai menyewa pembunuh untuk menghilangkan keberadaan Jaejoong dan bayinya.

"Kau menyalahkanku?! Bagaimana denganmu? Kau merasakannya bukan? Perasaan ketika mendengar adik lelakiku dihamili oleh rekan sendiri. Bukankah ini impas, huh?!"

"Jika ingin berkelahi silahkan diluar! Bersikaplah layaknya orang dewasa! Ini masih dirumah sakit! Apa yang kalian lakukan juga menganggu Kyuhyun!"

Yunho dan Heechul terdiam mendengar nada tinggi Jungsoo. Pasalnya keduanya selalu mengenal pria itu orang yang tenang dan jarang memperlihatkan emosinya.

"Siapa?"

"Huh?"

"Siapa yang melakukannya, Chullie?"

Heechul terdiam sejenak, lalu melempar pandangannya keluar jendela kamar rumah sakit. Menatap kosong gedung-gedung yang kemerlip lampu malam itu.

"Kau tahu siapa dia, Yunho-ya."

.

.

.

Next (?)

.

.

.

Maap saya lama update *deepbow

Dan lagi sekali update malah begini =_=a

Disini banyak adegan tonjok2an, macam sinetron. Kira2 ada yang bosen gak? Ceritanya makin ngelantur begini. Saya bosen loh~ *ditonjok readers rame2 XDD~

Yah sudahlah…

Yang berkenan, silahkan isi kotak REVIEW ne~ ^^v