"Halmeoni… Halmeoni…" Seorang bocah laki-laki berlari kecil keluar dari gereja, mengejar seorang wanita paruh baya yang terus berjalan kearah taman kanak-kanak.

Wanita tua itu merasa mendengar sesuatu, lalu menoleh. Ia seperti melihat putranya ketika kecil dulu, berlari kearahnya. Sampai didepannya, bocah laki-laki itu menumpukan tangan pada kedua lututnya, berusaha mengatur deru nafas yang tidak stabil keluar-masuk paru-parunya.

"O-omo!"

Bocah itu mengangkat tubuhnya lalu tersenyum lebar, "Halmeoni meninggalkan dompet ini digereja."

"A-ah… Gomawo, ne…" Wanita tua itu berjongkok, hingga tubuhnya dan tubuh bocah itu setara. Dielusnya pipi bulat dan rambut hitamnya. Benar-benar seperti duplikat putra kecilnya dulu.

"Hyunnie…"

Panggilan itu menginterupsi keduanya.

"Umma!" melihat sang Umma mendekat, dia langsung berlari dan menubruk, memeluk pinggang Umma-nya.

"Apa yang kau lakukan disini, heum? Sudah Umma katakan untuk menunggu digereja, ani?" merasa gemas, orang itu mencubit pipi gembul putranya.

Bocah tampan itu justru terkekek geli karena Sang Umma malah menggelitiki lehernya. "Hyunnie Cuma mengembalikan dompet Halmeoni, Umma…"

Sang Umma melihat wanita paruh baya yang berdiri tak jauh dari putranya. Ia mengangguk singkat, "Annyeong, Presdir Hwang…"

Wanita tua itu menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Kyuhyun-sshi? A-apakah dia… putramu?" Tanya wanita tua itu pada orang yang baru saja melamar menjadi guru ditaman kanak-kanak miliknya.

Laki-laki itu tersenyum manis, "Ye. Dia putraku, Jung Wonhyun."

"Kau… sudah menikah? Diusia semuda ini?"

Kyuhyun hanya tersenyum menanggapi pertanyaan wanita yang kini menjadi atasannya.

"Aigoo~ Aku tidak menyangka… Sungguh Kyuhyun-sshi…" wanita itu masih tidak percaya melihat Wonhyun yang sedang sibuk mengemut lollipop pemberiannya.

"Ah! Changmin-jusshi~!" Wonhyun segera berlari cepat ketika melihat Changmin keluar dari mobil sambil merentangkan tangannya lebar, siap menangkap tubuh gempal bocah itu.

"Ah, sepertinya saya sudah dijemput. Presdir Hwang, saya permisi…" Kyuhyun sekali menganggukkan kepalanya kemudian menyusul putranya yang sedang digendong tinggi oleh Changmin.

Wanita tua itu menatap ketiganya dari kejauhan. "Beruntung sekali memiliki keluarga bahagia seperti itu…". Entah kenapa, bibirnya membentuk senyum sedih.

.

.

.

"Kau melamar menjadi guru di taman kanak-kanak?" Tanya Changmin yang mengemudikan mobilnya. Ia menatap wajah Kyuhyun yang duduk dikursi belakang bersama Wonhyun yang masih sibuk mengunyah cemilan pemberian atasan baru Kyuhyun melalui kaca kemudi.

Kyuhyun mengangguk pelan. Ia menyingkap rambut hitam putranya.

"Apa Sajangnim mengizinkanmu?"

"Aku bisa mati bosan jika terus berada dirumah sebesar itu tanpa ada hal yang bisa kulakukan."

"Lalu sekarang kau ingin kemana?"

"Aku ingin menemui Jungsoo Hyung. Dia sangat ingin melihat Wonhyun selain dari foto yang kukirim selama ini."

Changmin tiba-tiba terkekeh melihat bungkus cemilan yang berserakan disekitar Kyuhyun dan putranya. Sungguh bocah dengan nafsu makan yang luar biasa.

.

.

.

Mobil hitam berhenti tepat di depan wanita paruh baya pemilik taman kanak-kanak itu, disambut dengan decakan sebal. Terlebih ketika melihat putra tunggalnya keluar dengan senyum lebar.

"Untuk apa kau kemari?"

"Umma yang memintaku menjemput." Siwon mendekati Umma-nya, mengambil tangan yang sudah tampak keriput dan menggenggamnya.

"Kau mengacaukan khayalan Umma, Wonnie pabbo." Wanita itu menoyor kepala Siwon pelan.

Sejak hancurnya bisnis keluarga dan meninggalnya kepala keluarga Choi, Nyonya Choi kembali pada keluarganya dulu dan menjabat lagi posisi Presdir di perusahaannya yang sempat ia abaikan karena menikah dengan Choi Seunghyun, Ayah Siwon.

"Umma cantikku ini mengkhayal apa pagi-pagi seperti ini, heum?" Siwon berjalan menuju mobilnya sambil menuntun Umma-nya pelan-pelan.

"Tadi Umma bertemu dengan seorang anak kecil yang mirip sekali denganmu ketika kecil, Wonnie. Haahh… harusnya diusia Umma yang sudah renta ini bisa bermain dengan cucu-cucu Umma… bukannya malah mengasuh bayi besar ini…" Nyonya Choi mencubit lengan putranya meski tidak terlalu kuat.

Siwon membuka pintu mobil untuk Umma-nya masuk. Kemudian dia kembali beralih kekursi kemudi. Perlahan menjalankan mobil yng didapat dengan jerih payahnya selama ini.

"Umma selalu menolak wanita yang kubawa." Balas Siwon meski fokusnya masih pada jalan dihadapannya.

Nyonya Choi mencibir. "Menerima wanita pesolek sebagai menantuku? Heh, bermimpi saja. Membayangkan seberapa tebal dan menornya dandanan mereka saja sudah membuat Umma ingin mencakar wajahnya."

Siwon hanya tertawa menanggapi ucapan Umma-nya. Wanita tua itu mengoceh seolah mengesampingkan usianya yang sudah setengah abad lebih.

"Harusnya Umma bisa bermain dengan cucu Umma sekarang, Wonnie…" tiba-tiba Nyonya Choi berujar dengan suara parau.

Tawa Siwon berhenti. Ia menghela nafas sejenak. Dari dulu dia tidak nyaman jika ibunya mulai mengungkit lagi dosanya dimasa lalu. "Umma… Sudah lima tahun berlalu… Aku juga sudah mencarinya keseluruh Korea Selatan. Tapi aku tidak menemukannya, Umma…"

Nyonya Choi hanya menatap jalanan perkotaan yang mulai ramai. Ia hanya seorang wanita tua yang ditinggal suaminya. Ia sendiri sekarang. Mungkin dulu ia masih berharap Siwon bisa menemukan orang yang sudah dihamilinya. Tapi itu empat tahun yang lalu. Cahaya harapannya kian memudar dan menyisakan serpihan abu. Menghasilkan kenihilan memuakkan.

Apa dimasa tuanya pun dia tidak akan pernah tahu cucu kandungnya? Cucu yang selama ini ia idamkan. Cucu yang begitu ingin ia manjakan. Cucu yang selalu ia khayalkan untuk menemani masa tuanya

.

.

.

"Kau mengajar di taman kanak-kanak?" Jungsoo mengelus puncak kepala Wonhyun yang duduk dipangkuannya sambil menyantap ice cream strawberry.

Kyuhyun mengangguk pelan. Ia sibuk mengaduk mushroom soup-nya yang masih panas agar lebih hangat.

"Yunho dan Heechul tahu?"

Gerakan tangan Kyuhyun berhenti. "Awalnya Chullie Hyung menolak dan Appa tidak mempersalahkan hal itu."

Jungsoo mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Perhatiannya kembali beralih pada seorang pria tinggi yang sedang memesan menu makanan. "Apa kalian sudah ada kemajuan?"

"Huh?" Kyuhyun mendongak, menatap bingung Jungsoo, lalu mengikuti arah pandang mantan dokter itu. Ia menatap punggung Changmin dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku seperti mempermainkannya, Hyung…" desahnya kemudian.

Jungsoo mengelus punggung tangan Kyuhyun sambil tersenyum lembut, "Kau tak perlu terburu-buru untuk mengartikan kebahagiaanmu, Kyuhyun-ah… Tuhan memiliki rencana sendiri…"

.

.

.

.OoooO.

.

.

.

"Annyeong, Kyuhyun-sshi…"

Sapaan sopan dan ramah mengawali tiap hari Kyuhyun semenjak ia bekerja sebulan yang lalu. Wanita yang menurutnya begitu tegar ketika ia mendengar kisah keluarganya yang hancur. Kyuhyun menghormati wanita paruh baya itu.

"Annyeong, Halmeoni~" Wonhyun memeluk lutut Presdir Hwang yang langsung dibalas dengan cubitan gemas pada kedua pipi gembulnya. Ia mengeluarkan sekantung cemilan dari tasnya dan menyerahkannya pada Wonhyun.

"Gomawoyo, Halmeoni~" bocah kecil itu langsung mengecup pipi wanita tua itu. Ia langsung berlari menghampiri sekumpulan bocah yang sedang asik berkejaran. Mereka semua tampak begitu akrab meski Wonhyun baru sebulan dikenal.

"Presdir Hwang… Aku… tidak tahu harus membalas dengan apa atas perhatian anda untuk putraku…" Kyuhyun membungkuk.

Wanita tua itu tertawa kecil. "Aku menyukai anak-anak, Kyuhyun-sshi. Melihat Wonhyun membuatku seperti mengalami nostalgia dengan putra tunggalku ketika ia masih sebaya Wonhyun."

Kini keduanya berjalan menuju kantor. Dilihat sudah ada beberapa guru sekaligus pengasuh sedang bersiap untuk mengajar ketika jam menunjukkan pukul tujuh.

"Ah, aku melupakan urusakanku di perusahaan. Tidak apa jika kutinggal?" Nyonya Hwang berhenti sejenak.

Kyuhyun mengangguk kecil pada pemilik yayasan sebelum akhirnya ia membereskan kertas origami yang akan ia ajarkan nantinya kepada anak-anak asuhnya di kelas nanti.

.

.

.

Siwon melangkah santai menuju ruang guru di Taman kanak-kanak milik sang Ibu karena sudah menjadi rutinitas hariannya meluangkan sedikit waktu untuk menemani Umma-nya ditengah kesibukannya sendiri mengurus sebuah supermarket. Mengingat dirinya yang menjabat sebagai General Manager atas sedikit bantuan dari Hwang Group.

Pria Choi itu masuk dan melihat punggung seorang pengajar yang menyusun buku bacaan pada rak baca.

"Annyeong hasimnikka…" Sapanya ramah.

"Nde?"

"Apa kau tahu dimana Umma… ah, Presdir Hwang maksudku…"

Sosok itu berbalik dan seketika keduanya merasa dunia berhenti berputar. Kedua pasang bola mata yang saling memerangkap satu sama lain menatap tidak percaya tiap bayangan yang terefleksi.

Gratak!

"Kyu…"

Sosok itu mundur tiba-tiba, membuat kursi dibelakangnya terjungkir kasar. Tubuhnya seolah kaku dan kelu. Dengan tangan yang bergetar, perlahan memeluk tubuhnya sendiri saat merasakan sekelilingnya tiba-tiba terasa dingin.

"Per-pergi…" desisnya.

"K-Kyu…Hyun?"

"PERGI! JANGAN MENDEKAT!"

Siwon berhenti. Dadanya sesak melihat keadaan Kyuhyun yang meringkuk dengan kedua tangan yang memeluk tubuhnya sendiri. Ia bisa melihat tubuh kurusnya bergetar hebat.

"Je-jebal… Ja-jangan… mendekat…" Kyuhyun terus memundurkan tubuhnya sampai punggungnya menabrak dinding. Keringat dingin tidak berhenti keluar dari pori-pori tubuhnya yang kembali mengingat kenangan bertahun silam.

Pria didepan Kyuhyun menangis. Siwon tidak pernah menyangka jika perbuatannya dulu membuat psikis Kyuhyun memburuk seperti sekarang. Entah seperti apa hari-hari yang dijalani Kyuhyun selama ini dengan kondisi mental yang seperti itu.

"Kyu-hyun-sshi…" perlahan Siwon mendekati Kyuhyun yang semakin meringkuk takut. "Kyu…Hyun-sshiMi-mianhae…"

"KKA! Ja-jangan… hiks… kumohon… pergi… jangan kemari… hiks… jangan…" Kyuhyun mulai meracau tidak jelas.

Sedangkan Siwon terjatuh duduk didepan Kyuhyun. Kedua kakinya seolah lemas dan tak mampu menopang tubuh kekarnya untuk terus berdiri. "A-aku…"

"Umma~" teriakan riang itu seolah mampu memecah atmosfir menyesakkan antara Kyuhyun dan Siwon.

Keduanya menatap arah pintu, dimana seorang bocah tengah berdiri dengan senyum riangnya. Mata Siwon seketika membulat. Sosok bocah didepannya… sunguh mirip dengan sosoknya ketika kecil dulu…

Alis Wonhyun menyatu melihat keadaan sang Ibu. Ia berlari memeluk Kyuhyun dengan erat. "Umma, Gwenchanayo?" Tanyanya ketika Kyuhyun mengapit tubuhnya dalam sebuah pelukan kencang.

Siwon yang masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya kembali meneteskan air mata. Bocah itu… mungkinkah…

Kyuhyun semakin erat memeluk tubuh kecil Wonhyun ketika melihat tangan Siwon yang mulai terjulur kearah mereka. "K-Kka! Jangan sentuh!" teriak Kyuhyun.

"O-omo! Apa yang terjadi?" Nyonya Choi yang barusan datang bersama Changmin langsung terperangah melihat keadaan tiga orang didalam ruang guru.

"Kyu!" Changmin segera menghampiri Kyuhyun yang masih memeluk tubuh putranya. Ia melirik tajam kearah Siwon. Dia sudah mengetahui semua masa lalu yang disembunyikan Kyuhyun tiga tahun yang lalu, ketika pernah ia mencoba untuk memeluk Kyuhyun. Pemuda itu langsung berteriak histeris, sampai akhirnya Yunho menjelaskan trauma yang dialami Kyuhyun.

"Kyu, apa kau bisa berdiri?" Tanya Changmin.

Kyuhyun mengangguk cepat. Ia sudah benar-benar ingin pergi dari tempatnya sekarang. Menjauh sejauh mungkin dari hadapan seorang Choi yang bersimpuh didepannya.

Changmin membantu Kyuhyun berdiri, membuat Siwon menatap tidak suka ketika melihat Changmin merangkul pundak Kyuhyun dan berjalan keluar ruangan setelah memberi salam kepada Nyonya Choi.

Wanita paruh baya itu menatap Siwon bingung. "Sebenarnya apa yang terjadi, Wonnie?"

Siwon menoleh kearah Umma-nya dengan mata yang berlinang cairan asin. "U-Umma…"

.

.

.

.Angel.

.

.

.

Kerjapan kecil yang perlahan membuka sepasang emerald utuh terbuka. Menatap sekeliling dengan pandangan aneh.

Apakah ia sedang bermimpi?

Kenapa dia berada dihamparan putih ini?

Bukankah tadinya ia sedang tidur setelah akhirnya bisa menenangkan diri?

"Kau kemari."

Sebuah pelukan lembut dari belakang menyentak tubuh Siwon pelan. Dirabanya sepasang tangan pucat yang melingkar didadanya. Sosok putih dibelakang Siwon tersenyum.

"Masih mengingatku, Siwon?"

Pria tampan itu mulai memejamkan matanya, dan mulai mengeja satu nama yang terpatri dengan sangat jelas dikepalanya saat itu. "Cho… Kyu-hyun…"

Sosok putih itu melepas pelukannya, beralih kesamping Siwon. "Lama sekali tak melihatmu… aku rindu senyumanmu yang dulu, Siwon…" tangan halusnya membelai pipi pria disampingnya.

"Mian…"

"Untuk apa?"

"Aku… sudah melupakanmu…"

Sang malaikat tersenyum. Entah sejak kapan kaki-kaki mereka berjalan tanpa tujuan. Tidak merasakan lelah meski telah berjalan lama sekalipun.

"Tapi kau mampu mengingatku kembali."

"Aku… bukan Siwon-mu yang dulu. Aku… sudah menjadi seorang Siwon lain yang jahat…"

"Tapi kau tetaplah seorang Choi Siwon yang sama."

Hening diantara keduanya. Siwon tidak tahu harus mengatakan apa ketika ia bertemu kembali dengan seorang malaikat yang 'mampir' dalam hidupnya. Kakinya melangkah tanpa arah yang jelas. Seolah hamparan putih itu juga tidak memiliki ujung yang pasti.

"Kau… sudah banyak melukainya…"

Siwon menoleh, meski memiliki wajah yang sama, tapi dia sadar, sosok disampingnya dan sosok yang lain itu berbeda. Berwujud sama namun beda. Pria itu tersenyum miris, "Terlalu banyak malah…"

"Perbaikilah…"

Langkah Siwon terhenti. Ia menatap punggung kecil didepannya. "Aku tidak pantas."

Sang malaikat yang menyadari perubahan suasana hati Siwon menoleh tanpa menghilangkan senyum manis diwajahnya. "Kau tahu, bahkan Tuhan masih mengampuni malaikat durhaka sepertiku." Balasnya lembut. Kini ia melangkah mendekati Siwon. Menatap lekat manusia yang dicintainya selama ini. "Ketuklah pintu hatinya yang terkunci rapat. Kembalikan cahayanya, Siwon."

Pria tampan itu menundukkan wajahnya. Ia mulai memikirkan banyak hal. "Jika… aku kembali padanya… bagaimana denganmu?" Tanya Siwon akhirnya. "Aku akan menyakitimu untuk yang kedua kalinya, Kyuhyun…"

Sang malaikat menggelengkan kepalanya pelan. "Ini hukumanku, Siwon. Aku tidak ingin menentang lagi "Kekasih"ku. Aku hanya merelakanmu padanya, jangan sia-siakan semua yang kulakukan untukmu."

Tubuh kecil didepan Siwon kembali membiaskan cahaya biru. "Boleh kuminta? Untuk yang terakhir…"

Siwon yang mengerti mulai memejamkan matanya, membiarkan semuanya terjadi begitu saja. Menikmati tiap sentuhan lembut cahaya malaikat yang sempat merasakan cintanya dulu.

Ciuman tanpa hasrat apapun yang menjadi pelepas rindu yang sesungguhnya. Rasa asin yang tercampur mendominasi ciuman yang seharusnya terasa manis. Tidak ada yang mampu menghalau cairan bening itu mengalir ditiap celah mata. Keduanya sama-sama tahu, betapa besar rindu yang bersarang dan tiba-tiba menyeruak bebas.

"Bahagiakan dia, itu permintaan terakhirku. Aku mencintaimu… Selamat tinggal, Choi Siwon, kekasihku…"

Cahaya Sang malaikat melebur menjadi satu dengan hamparan putih disekitarnya. Sekali lagi mengucap selamat tinggal… Untuk selamanya…

.

.Angel.

.

.

.

.Next.

.

.

.

Mian~ jeongmal mianhae~ T^T

Udah berapa abad saya gak update? *halay ah!

Saya mulai sibuk ngurusin Real Life karna harus ngegantiin kerjaan Aboji saya yg lg pergi keluar kota T_T

Ditambah penyakit ehemmalasehem saya kumat XD *digoreng rame2

Saya gak mau janji cepet update deh, krna mood jg yg paling kuat mempengaruhi tulisan saya. Gak mood ya saya gak nulis krna saya gak mau jg nulis asal-asalan.

Saya tau chap ini gaje pake banget malah. Tp mo gimana lg, diotak saya Cuma ada segitu. Pendek pula.

Saya jg tau, readers pasti kecewa dengan Author pemalas ini *pundung

Ah iya, adakah yg punya Line? Line saya lg sepi nih T^T *promosi!

Search : Suha Camui ato ID : 02049319 ^O^/

Dan map, saya belom bisa bales review kalian… tp saya bacain semua kok. Buat nae dongsaeng, Ebby (yg rajin sms), buat MyDecember Oennie (yg rajin ngewall fb), jg buat Readers-sshi, Siders-sshi, yg ngeluangin waktu berharganya hanya sekedar membaca FF membosankan dari seorang Author amatir sseperti saya…

Jeongmal Kamsahamnida~~~ ^O^