.
…
Angel
…
.
Wonhyun melempar keatas, lalu menangkapnya lagi bola miliknya yang merupakan pemberian Sang Haraboeji ketika ia berulang tahun yang kelima beberapa bulan yang lalu.
Sekarang ia sedang duduk disebuah ayunan yang tergantung rantai besi disisi kiri dan kanannya. Terkadang kaki pendeknya menggerakkan pelan ayunan itu maju-mundur. Ia menunggu Umma-nya selesai bekerja dan Changmin menjemput mereka.
Sampai tiba-tiba rangkulan hangat melingkupi tubuh kecil bocah Jung itu. Ia mendongak keatas dan tersenyum lebar mendapati wajah Umma-nya.
Sosok itu langsung beranjak dan bersimpuh didepan Wonhyun, memegang tangan mungil putranya. Ia tersenyum sambil menyingkirkan poni yang menggantung. Dia ingin melihat wajah putra kecilnya dengan jelas.
"Wonhyun, berjanjilah, kau harus menjadi anak yang kuat…" suara merdu yang mengalun indah seperti hembusan angin.
Wonhyun mengangguk. "Uhm! Hyunnie juga sudah berjanji pada Haraboeji, Umma…"
"Benarkah?"
"Haraboeji bilang Hyunnie tidak boleh merepotkan Umma…"
"Umma menyayangimu. Sangat…" sosok itu lalu memeluk tubuh Wonhyun dengan lembut.
"Hyunnie juga sayang Umma." Bocah imut nan manis itu balas memeluk 'Umma'-nya. Membuat sosok berwujud Kyuhyun itu tersenyum bahagia dengan buliran bening yang menyusuri pipinya. Bertubi-tubi ia mengecupi puncak kepala Wonhyun.
Ia sungguh berterima kasih pada seorang manusia yang bersedia mempertahankan bayinya. Melahirkan kemudian membesarkannya hingga sekarang. Bayi mungilnya yang lucu, yang dulu belum sempat ia lihat, kini telah besar dan menggemaskan.
"Terima kasih, Kyuhyun… Terima kasih…"
.
…
Angel
…
.
Siwon menghela nafas berat. Ini sudah hari ketujuh ia menunggu Kyuhyun didepan gerbang taman kanak-kanak, tapi tetap saja dia tidak bertemu dengan laki-laki manis itu. Terkadang sang Umma menemaninya, tapi Siwon tidak ingin kesehatan Ibunya memburuk karena menemaninya seharian menunggu. Tak jarang Siwon sampai pulang terlalu larut. Sudah tiga hari ia tidak masuk kerja.
Sekali lagi dia menghela nafas sembari menatap langit senja yang perlahan tersingkir langit kelam.
"Apa… Sudah tidak ada kesempatan untukku, Kyuhyun-sshi?" Tanyanya entah pada siapa.
Hanya sedesir angin yang menjawabnya ketika itu. Menggesekkan dedaunan rimbun pepohonan. Menggugurkan beribu dedaunan kering sebagai latar saat Siwon meninggalkan gerbang taman kanak-kanak.
.
.
.
Heechul meletakkan sekantung kue mochi sakura yang dibawanya dari Jepang sebagai oleh-oleh untuk Wonhyun. Sepertinya membawakan begitu banyak makanan sudah menjadi rutinitas barunya setiap kali mengunjungi Kyuhyun. Tentu saja itu karena keponakan barunya yang memiliki selera makan yang cukup mengerikan.
Heechul tidak keberatan sebenarnya, mengingat ketika masa mengidam Kyuhyun dulu, yang dipintanya hanya masakan khas dari berbagai penjuru dunia. Membuatnya, Yunho dan Changmin sibuk kesana-kemari hanya karena mencari makanan pesanan Kyuhyun.
Setelah memindahkan kue mochi yang dibawanya kesebuah piring berukuran besar, Heechul langsung menuju tempat dimana Kyuhyun dan putranya yang sedang sibuk bermain tangkap bola.
Menyadari pergerakan asing, Wonhyun menoleh kearah pintu. Seketika tatapan matanya dipenuhi binar bintang melihat apa yang dibawa Heechul.
"Mochiiii~!"
Pria Kim itu tersenyum saat melihat bocah bertubuh gempal berlari dengan semangat kearahnya. "Aigoo~ Apa kau sudah tidak sabar, Hyunnie?"
"Hyunnie lapar, Chullie Samcheon…" Tangan bocah itu menggapai-gapai keatas ketika Heechul dengan isengnya mengangkat piring ditangannya. Tubuhnya bahkan berjinjit sampai melompat-lompat kecil karena tidak sampai.
Heechul terkekeh ringan, "Lapar? Bukankah kau barusan makan, heum?"
"Tapi Hyunnie mau mochi-nya…"
Kyuhyun mengulas senyum tipis melihat tingkah lucu putranya yang sedang diisengi Heechul, sungguh kontras dengan matanya yang tiba-tiba menyendu. Semakin lama, sosok Wonhyun justru semakin mirip dengan Siwon.
Matanya. Senyumnya. Lesung dikedua pipinya.
Kalau boleh jujur, Kyuhyun juga merindukan pria Choi itu. Tapi sayang, tubuhnya seperti memiliki pemikiran sendiri. Rasa takut yang sering menghantui tidurnya membuat tubuhnya bergerak sendiri.
Ketika bertemu Siwon seminggu lalu ia bahagia. Malah sangat. Tapi rasa takut yang mendominasi mengalahkan perasaan bahagianya.
Lama dengan pemikirannya sendiri, Kyuhyun tidak sadar jika Heechul sudah duduk disampingnya dan Wonhyun sedang asyik dengan setumpuk mochi favoritnya.
"Kudengar dari Changmin, kau bertemu dengannya lagi…"
Kyuhyun tersentak lalu menoleh kekiri. "Ne." jawabnya lirih.
"Gwenchana?"
Kyuhyun terdiam, dan Heechul sudah tahu jawabannya. Ia senderkan punggungnya pada sandaran kursi. "Tapi kau mencintainya, ani?"
Sontak Kyuhyun melihat Heechul dengan pandangan tidak percaya. Pria cantik itu tersenyum membalas reaksi keponakannya.
"Mian, aku bertanya banyak dengan Jungsoo. Hanya saja, aku juga ikut bertanggung jawab dengan keadaan kalian. Kau dan dia… harusnya bisa memulai semuanya dengan indah. Bukan dengan kesalahpahaman seperti ini…"
"Ini bukan salahmu, Chullie Hyung…" desis Kyuhyun.
"Salahku karena tidak seharusnya aku memisahkanmu dengan Yunho." Heechul tiba-tiba tertawa kecil. "Rasanya aku sedang dihukum…"
"Hyung…"
"Kyu, kau belum menjawabku. Kau mencintainya, kan?" potong Heechul cepat.
Lagi, Kyuhyun hanya bisa diam. Rasa tulus dihatinya masih sama. Tetap. Belum berubah sama sekali. Tapi untuk mengakuinya, lidah Kyuhyun selalu kelu.
Heechul menatap Kyuhyun sambil tersenyum miris, 'Kau mencintainya, Kyu… Aku janji, kesalahan ini akan segera kuperbaiki… Maafkan aku yang tidak bisa melindungimu dengan baik…'
…
…
…
Yunho berjalan menyusuri koridor kantornya, sambil sesekali memijit tengkuknya yang terasa pegal karena seharian ini dia sudah menghadiri sepuluh rapat yang hanya berjeda beberapa menit.
Wanita cantik ber-name tag Kwon Boa, yang menjabat sebagai salah satu sekertarisnya masih sibuk menjelaskan isi beberapa dokumen yang harus ia urus. Sampai di pintu ruangannya, Sekertaris Park langsung berdiri dan membungkuk hormat.
"Sajangnim, ada seseorang yang sudah menunggu anda di dalam."
Yunho mengerutkan keningnya. Dia merasa tidak memiliki janji bertemu dengan siapapun hari ini. Sekertaris Park langsung membuka pintu, membuat Yunho bisa melihat punggung tegap seorang pria dengan kepala yang tertunduk.
Yunho berdecak dalam hati. Dia mengambil berkas dari Sekertaris Kwon, kemudian masuk dan langsung duduk di kursi Presdirnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Yunho dengan ekspresi datar. Bahkan ia tidak ingin melihat wajah Siwon saat itu.
"Yunho-sshi, izinkan aku bertemu Kyuhyun."
Pria bermarga Jung didepan Siwon menaikkan alisnya. Berharap Siwon meneruskan kalimatnya. Setidaknya memberikan sedikit rasa yakin. Dia sendiri tidak bisa mendeskripsikan dengan jelas, namun melihat sosok Siwon didepannya sekarang membuatnya ingat dengan dirinya dulu.
Sungguh menyedihkan… dan penuh dengan penyesalan…
"Sebentar saja. Setelah itu, aku tidak akan mengganggu hidupnya lagi." Siwon menatap lurus kearah mata musang didepannya. Tidak bermaksud menantang, tapi ia berharap Yunho bisa melihat kesungguhan darinya.
Yunho membuka jas hitamnya, melampirkan pada sandaran kursi, lalu melipat lengan kemeja berwarna hijau lumutnya sampai batas siku, kemudian melonggarkan ikatan dasi yang mencekik lehernya. Ia berjalan kehadapan Siwon dengan tatapan elangnya.
"Jika kau bisa menang dariku, izin itu akan kau dapat. Tapi jika kau kalah, tidak akan kubiarkan batang hidungmu dilihat putraku."
Seketika Siwon membulatkan matanya. Melawan Yunho? Yang benar saja. Ia bukan orang bodoh yang ingin mati seketika ditangan pria Jung didepannya. Sudah bukan hal baru baginya setiap mendengar Yunho bisa membunuh orang hanya dengan satu pukulan.
Pria itu bahkan menguasai teknik beladiri dari Jepang dan China.
Siwon menutup matanya sejenak, lalu membukanya kembali setelah menetapkan hatinya.
Inilah satu-satunya kesempatan yang bisa ia dapat untuk bertemu Kyuhyun.
Menyia-nyiakan dan lari layaknya pengecut?
Itu jauh lebih bodoh ketimbang mati konyol di tangan Yunho.
Jika ia akan mati detik ini, maka senyum Kyuhyun adalah hal terakhir yang dipintanya pada Tuhan.
.
.
.
Kyuhyun segera berlari kearah kamar putranya setelah merasakan firasat tidak enak. Dihidupkannya lampu kamar bernuansa hijau, dan mata karamelnya membulat melihat Wonhyun tengah meringkuk disudut kasurnya dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
Kyuhyun menghampiri Wonhyun dengan tatapan panic saat mendengar putranya terisak. "Hyunnie baby, gwenchana?" Perlahan tangannya menarik selimut dan melihat tangan putranya meremas piyama putih yang dikenakannya.
Entah kenapa dadanya berdenyut perih melihat kondisi Wonhyun seperti sekarang. Ini untuk pertama kali Wonhyun seperti ini. Tangannya menyeka tiap peluh yang keluar dari pori-pori Wonhyun, menghapus airmata yang entah sejak kapan membasahi pipi chubby-nya.
Kyuhyun berkedip cepat, membuat airmatanya ikut mengalir, ia juga merasakan yang tengah dirasakan putranya. "Waeyo, Hyunnie?" Dirangkulnya tubuh mungil yang masih meringkuk. Mengelus punggungnya yang bergetar tanpa alasan. Mengecupi puncak kepala Wonhyun dengan pelan.
"A-appoyo, Umma…"
"Hm?" Kyuhyun memandang wajah Wonhyun yang justru seperti ketakutan. "Katakan pada Umma, bagian mana yang sakit?"
"Mo-molla, Umma… hiks… tu-tubuh Hyunnie… sakit… Hy-Hyunnie takut, Umma…"
"Sstt… uljima, baby… uljima… ada Umma disini… Umma akan melindungi Hyunnie… gwenchana ne…" tanpa Kyuhyun mengerti, airmatanya masih betah mengalir.
Ada rasa nyeri didadanya yang muncul tiba-tiba sejak tadi. Bahkan sebelum ia melihat keadaan putranya yang menyiratkan rasa takut dan sakit bersamaan. Jantungnya saja terus berdetak cepat. Berdebar-debar tanpa alasan yang jelas.
Kyuhyun pun tidak bisa menyembunyikan perasaannya sekarang. Ia merasakan ketakutan yang luar biasa. Bahkan melebihi ketika Siwon memperkosanya dulu.
'Siwon-sshi… Semoga kau baik-baik saja…'
.
.
.
Nyonya Choi keluar dari ruang guru dan sepasang matanya menangkap pemandangan yang cukup membuatnya merasakan rindu.
Ditaman kanak-kanak yang sudah sepi karena menjelang sore, ia melihat Kyuhyun sedang bermain dengan seorang pria tinggi yang selama ini ia kira suami Kyuhyun. Wajah ketiganya memperlihatkan kebahagiaan karena bisa tertawa lepas.
Tiba-tiba pandangannya mengabur dengan perlahan merasakan hangat dan basah dipipinya. Dihapusnya cepat airmata dan tersenyum aneh. "Haish… apa yang kulakukan?" gumamnya.
Jujur saja, ia ingat masa-masa dulu. Ketika pertama kali Siwon masuk bangku TK, putra tunggalnya merasa ketakutan karena harus berkumpul dengan anak-anak yang tidak dikenalinya. Setiap hari, wanita itu selalu menamani Siwon hingga sekolah selesai, lantas pulang setelah sang Ayah menjemput.
Bahkan tak jarang mereka bermain bertiga ataupun berjalan-jalan sebentar kepusat perbelanjaan. Hanya untuk memuaskan Siwon dengan mainan-mainan pilihannya.
Lama dengan lamunannya, Nyonya Choi tersadar kealam nyata saat ponselnya berdering didalam tas. Alisnya mengrenyit karena nomor tak dikenal mengirimi pesan.
Seketika mata kecilnya membulat tidak percaya ketika membaca pesan dilayar ponselnya. Ti-tidak mungkin…
Kyuhyun menolehkan kepalanya ke kiri, melihat wanita pemilik yayasan tiba-tiba terduduk sambil membekap mulutnya. Dadanya khawatir seketika, tanpa menghiraukan Wonhyun dan Changmin, pemuda manis itu segera menghampiri Nyonya Choi.
"Presdir Hwang, Gwenchana?" ia bersimpuh didepan wanita tua yang tengah menahan isak tangisnya.
"Put-putraku… hiks… andwae…"
"W-waegeruraeyo, Presdir?"
"Je-jebal… antarkan aku kerumah sakit… putraku sekarat, Kyuhyun-sshi…"
"M-mwo?" mata Kyuhyun membulat tidak percaya melihat atasannya menangis histeris. Entah kenapa, dia merasakan dadanya berdenyut nyeri. Rasanya sama seperti semalam ia melihat kondisi Wonhyun yang cukup mencengangkan.
"A-arraseoyo…" Kyuhyun mencoba membantu Nyonya Choi berdiri, lalu menghampiri Changmin yang sedang melempar bola kearah Wonhyun agar ditendangnya.
"Changmin-ah, bisakah kau mengantar kerumah sakit?"
Changmin menoleh kearah Kyuhyun yang sedang memapah wanita paruh baya yang sedang terisak kecil. "Waeyo, Kyu?" ia segera menghampiri dan ikut memapah wanita itu disisi lainnya.
"Je-jebal… ru-rumah sakit…"
Changmin sedikit bingung dengan penuturan wanita disampingnya. Kyuhyun yang menyadari langsung menjawab, "Putranya sedang sekarat dirumah sakit pusat kota, Min. Ku mohon, antarkan kesana…"
Changmin tampak ragu. Sebab ia tahu, siapa putra dari wanita yang sedang dipapahnya menuju mobil. Bimbang sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk tidak rela melihat wajah memohon Kyuhyun.
Sampai di dekat mobil, Changmin langsung membuka pintu dan mendudukkan Nyonya Choi dikursi belakang dengan Kyuhyun disisi kirinya. Berusaha untuk menenangkan wanita itu.
"Halmeoni, gwenchana?" Tanya Wonhyun yang sekarang sudah duduk disisi kanan wanita tua itu.
Melihat wajah polos Wonhyun yang begitu mirip Siwon, mau tidak mau ia tersenyum tipis. Perasaan yang seolah membuatnya sesak nafas itu perlahan mengabur entah kemana. Ia usap rambut ikal kehitaman bocah berusia lima tahun disampingnya.
Bisa-bisanya ia menangis sejadi-jadinya tadi ketika mendapat pesan putranya tengah terbaring dibangsal ruang ICU. Ternyata ia sudah mencemaskan banyak orang. Diliriknya Kyuhyun yang terus menggenggam tangan keriputnya, mengisyaratkan untuk terus kuat.
"Gwenchana, Kyuhyun-sshi…" ucap wanita itu sembari berusaha mengulas senyum lemah. Kyuhyun balas tersenyum lega melihat wanita disampingnya sudah berangsur membaik.
Lama mereka melintasi jalan-jalan kota Seoul, dengan Changmin yang sesekali melirik kebelakang melalui kaca kemudi. Ada sedikit rasa berat baginya untuk mengantar kerumah sakit, karena hal ini pasti akan membuat Kyuhyun bertemu dengan seseorang yang sudah membuatnya memiliki trauma tersendiri dengan sentuhan asing.
Setelah sampai, Nyonya Choi sudah tidak sabar untuk turun dan melihat kondisi putra semata wayangnya. Ditemani Kyuhyun dan Wonhyun, mereka menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang memiliki bau khas yang cukup menyengat indra penciuman. Sedangkan Changmin langsung menuju basement untuk memakirkan mobilnya, kemudian segera menyusul.
Sampai pada kamar yang sudah diberi tahu, Nyonya Choi segera memasuki pintu putih pada ruang inap putranya. Seketika ia menangis keras melihat kondisi Siwon yang jauh dari kata baik.
Hampir disekujur tubuhnya terpasang perban. Ditambah alat yang terpasang dihidung untuk membantu bernafas, juga selang infuse yang tertempel dipunggung tangan untuk mengalirkan cairan.
"A-aniya… Siwonnie!" wanita itu berteriak, langsung memeluk tubuh putranya yang mungkin serupa dengan wujud mumi. Dia bisa melihat dengan jelas lebam dihampir seluruh wajahnya yang membengkak.
Ia tidak habis pikir, kesalahan apa yang dilakukan putranya selama ini. Kenapa Siwon mengalami hal yang sama seperti lima tahun lalu, namun dengan kondisi yang jauh lebih parah.
"Wonnie… ireona… chagiya…" desis Nyonya Choi ditengah isak tangisnya. Mengelus lembut dan penuh hati-hati wajah tampan putranya yang biru bahkan balu.
Diluar ruangan, di depan pintu kamar rumah sakit, Kyuhyun tiba-tiba mematung dengan mata yang membulat tidak percaya.
Siwonnie?
Siwon?
Choi… Siwon?
Apakah yang dimaksud wanita itu Choi Siwon? Seseorang yang sudah mengukir luka dan cinta dalam hatinya. Benarkah… didalam sana seorang Choi Siwon tengah terbaring?
Tubuhnya mendadak limbung. Namun tepat bagi Changmin yang langsung menangkap tubuh Kyuhyun yang tiba-tiba terasa lemas.
"Umma, waeyo?" Wonhyun langsung memeluk kuat lengan Kyuhyun.
"Chang-Changmin… di- didalam… benarkah…"
"Ne."
Satu balasan dari Changmin langsung membuat airmata Kyuhyun kembali mengalir. Ia semakin terisak kuat kala sang putra juga menangis. Inikah… Inikah alasan ia dan Wonhyun merasakan kecemasan luar biasa semalam?
Wonhyun bisa merasakan sakit yang didapat Siwon, Ayah kandungnya karena ikatan batin diantara mereka, meski dari lahir bocah manis itu belum melihat bagaimana rupa Sang Appa. Kyuhyun pun merasakan kecemasan aneh yang tiba-tiba datang.
Apakah karena rasa cinta dalam hatinya belum pudar sedikitpun, ia mampu merasakan sesuatu yang buruk menimpa pria Choi itu?
Tubuh Kyuhyun terasa semakin lemas, dan perlahan kesadarannya hilang setelah batinnya terasa berat dan nafasnya terasa sesak. Pemuda bermarga Jung itu pingsan dengan airmata yang masih mengalir, membuat Changmin dan juga Wonhyun cemas seketika.
Pria Shim itu langsung membopong tubuh Kyuhyun dan memindahkannya pada ruangan kosong yang sudah disediakan seorang suster yang melihat mereka. Suster itu segera keluar dan memanggil seorang dokter.
Tak berapa lama, seorang pria berjas putih masuk kekamar Kyuhyun dan segera memeriksa keadaan pasiennya. Selesai dengan tugasnya, ia menghela nafas sebentar.
"Keadaannya cukup baik. Hanya saja mentalnya yang sangat lemah. Mengalami sedikit saja tekanan berat, imun-nya bisa langsung menurun drastic. Apakah dia mengalami masalah seperti trauma, atau kejiwaannya pernah terguncang hebat?" Tanya sang dokter.
"Ye, dia memiliki trauma karena sesuatu dan sejak kecil, dia memiliki masalah dengan daya tahan tubuhnya." Jawab Changmin.
"Kalau bisa jangan biarkan dia mengalami tekanan batin. Jangan terlalu banyak pikiran. Usahakan untuk tidak menyinggung sesuatu yang bisa membuatnya merasa tertekan. Saya akan memberikan resep untuk masalah daya tahan tubuhnya. Permisi."
"Kamsahamnida, Uisanim…" Changmin membungkuk ringan.
Dokter itu berlalu keluar dari ruangan Kyuhyun.
"Min-jusshi… Umma tidak apa-apa, ne?" Tanya Wonhyun dengan tatapan polosnya menatap Changmin.
Pria tinggi itu mengelus rambut Wonhyun, lalu tersenyum untuk tidak membuat anak laki-laki itu bertambah cemas.
"Umma baik-baik saja, Hyunnie. Jaga Umma sebentar ne, Ahjusshi mau mengambil obat buat Umma."
Wonhyun mengangguk, kemudian merebahkan kepalanya ditepi ranjang tempat Kyuhyun terbaring. Ia mengelus tangan Ibunya dengan sayang. Bukan sekali duakali dia melihat Sang Umma melemah seperti ini.
"Umma, Hyunnie janji akan menjaga Umma. Hyunnie akan menjadi kuat seperti yang Umma harapkan. Hyunnie sayang Umma…"
Celoteh terakhir bocah itu, sebelum akhirnya ia merasakan kantuk menyerang dan membuat matanya terasa sangat berat. Ia tertidur sambil memegang tangan Kyuhyun, berharap semoga ketika ia bangun nanti, ia melihat senyum manis Umma-nya.
Tak lama Wonhyun terlelap, sebuah sentuhan lembut mendarat dikepala bocah yang sebenarnya mewarisi darah Choi itu. Kemudian sebuah selimut yang entah dari mana terlampir dipunggung Wonhyun.
Desiran angina senja kala itu kembali membawa sosok itu pergi. Menyisakan Kyuhyun dan putranya yang saling tertidur. Lelah.
Bibir mungil Wonhyun tersenyum tipis dalam tidurnya. Ia sejenak merasakan tangan halus Sang Ibu mengelusnya dengan sayang.
…
…
Next(?)
…
…
Tepar~
Niatnya ini FF mau tamat di chap 10, biar saya bisa cepet hiatus. Tapi ternyata semakin kesini pikiran saya kemana-mana dan merasa kalau benar tamat dichap itu, bisa membuat readers bingung karena masalah tiba-tiba selesai tanpa penyelesaian(?)
Hiatus yg kembali tertunda~ *ketawa miris sambil natap langit bareng AngelKyu
Huft~
Readers. SiDers, Followers, Favoriters(?), Terima kasih sudah menemani saya selama ini. Angel adalah ff terpanjang dan terlama yang pernah saya buat, dan kalian sungguh baik karena meluangkan waktu berharganya untuk menanti lanjutan ff membosankan dari seorang author amatiran seperti saya ^^ *deepbow
Saya perkirakan 2chap akan tamat deh :D *digebukin rame2
Well, berkenan REVIEW? ^^v
