…
…
…
"O-omo! Apa yang terjadi?" Nyonya Choi yang barusan datang bersama Changmin langsung terperangah melihat keadaan tiga orang didalam ruang guru.
"Kyu!" Changmin segera menghampiri Kyuhyun yang masih memeluk tubuh putranya. Ia melirik tajam kearah Siwon. Dia sudah mengetahui semua masa lalu yang disembunyikan Kyuhyun tiga tahun yang lalu, ketika pernah ia mencoba untuk memeluk Kyuhyun. Pemuda itu langsung berteriak histeris, sampai akhirnya Yunho menjelaskan trauma yang dialami Kyuhyun.
"Kyu, apa kau bisa berdiri?" Tanya Changmin.
Kyuhyun mengangguk cepat. Ia sudah benar-benar ingin pergi dari tempatnya sekarang. Menjauh sejauh mungkin dari hadapan seorang Choi yang bersimpuh didepannya.
Changmin membantu Kyuhyun berdiri, membuat Siwon menatap tidak suka ketika melihat Changmin merangkul pundak Kyuhyun dan berjalan keluar ruangan setelah memberi salam kepada Nyonya Choi.
Wanita paruh baya itu menatap Siwon bingung. "Sebenarnya apa yang terjadi, Wonnie?"
Siwon menoleh kearah Umma-nya dengan mata yang berlinang cairan asin. "U-Umma…"
"Wae?"
"Di-dia, Umma… dia… Kyuhyun… pemuda yang dulu pernah kutiduri…"
"Mwo?"
Pengakuan Siwon barusan membuatnya membulatkan mata tidak percaya. Dipeluknya Siwon yang masih menangis dan mengelus punggung putranya. Siwon sekarang sungguh rapuh dimatanya. Tidak memandang seperti apa fisiknya, toh Siwon tetaplah seorang manusia yang keadaannya tidak seperti dulu.
Dia sekarang hanya seorang pria yang lemah. Tuhan sudah begitu banyak mengujinya dulu, jadi wajar saja jika sekarang dia seolah kaca yang siap pecah.
"Dia… takut padaku, Umma…"
Nyonya Choi tersenyum, "Kalau begitu perbaiki kesalahanmu, Wonnie. Tuhan sudah mempertemukan kalian kembali, agar kau bisa menebus perbuatanmu dulu." Nyonya Choi melepas pelukannya, menghapus sisa airmata dikedua pipi Siwon. "Ya, kemana jagoan Umma, heum? Kau tidak selemah ini, Wonnie. Siwon-ku pasti bisa menyelesaikan kesalahpahaman ini dengan baik, ani?"
Siwon hanya menatap sendu sang Ibu. Ia sungguh berterima kasih karena Tuhan masih mengizinkan wanita itu tetap berada di sampingnya. Dipeluknya lagi tubuh Umma-nya. Sungguh ia rindu bermanja-manja seperti dulu.
"Umma, jeongmal gomawoyo…"
…
…
…
Nyonya Choi masuk kesalah satu ruang kelas dimana Kyuhyun sedang membereskan mainan yang berserakan karena anak-anak asuhnya sedang bermain diluar ruangan. Menyadari kedatangan wanita bermarga Choi itu, membuat Kyuhyun menoleh dan tersenyum tipis.
Entah kenapa ada perasaan canggung yang aneh ketika ia tahu siapa sesungguhnya wanita yang kini berada disampingnya, yang juga ikut memunguti mainan dan memasukkannya kedalam kotak yang sudah disediakan.
"Kyuhyun-sshi, bagaimana keadaanmu? Kudengar kau sempat sakit kemarin…"
"Aku sudah tidak apa-apa, Presdir Hwang. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku." Kyuhyun menganggukkan kepalanya pada wanita tua itu.
Kyuhyun beranjak untuk meletakkan kotak yang berisi mainan yang sudah penuh kedalam lemari, kemudian menyusun lagi buku bergambar yang berantakan.
"Kyuhyun-sshi…"
"Nde?" Kyuhyun menoleh sebentar sebelum melanjutkan pekerjaannya.
"Aku… boleh meminta tolong padamu?"
Kali ini Kyuhyun tidak berbalik namun bibirnya masih mengulas senyum, "Jika aku bisa membantu, katakan saja…".
Selesai dengan rutinitas biasanya di taman kanak-kanak sebagai pengajar sekaligus pengasuh, Kyuhyun menghampiri Nyonya Choi, lalu ikut duduk didepannya.
"Kau tahu, aku belakangan sangat sibuk, dan putraku sedang terbaring dirumah sakit. Selama ini, setiap Siwon sakit, aku selalu merawatnya. Tapi kali ini aku benar-benar tidak bisa." Nyonya Choi memberi sedikit jeda pada kalimatnya. Menarik nafas kemudian menghembuskannya dengan pelan. "Maukah kau menggantikanku menjaga putraku, Kyuhyun-sshi?"
Laki-laki berusia dua puluh tahun itu mulai meremas jemari tangannya.
Menjaga Siwon?
Tentu saja sebenarnya ia mau. Tapi mengingat ia memiliki rasa takut tersendiri pada pria Choi itu, membuat Kyuhyun sedikit kalut. Terbukti dengan bola mata yang bergerak gelisah kekanan dan kekiri.
Nyonya Choi tersenyum tipis ketika Kyuhyun sama sekali tidak memberikan jawaban. "Jika kau keberatan tidak apa, Kyuhyun-sshi…"
"A-ani. A-aku m-mau, Presdir…"
"Dan bisakah kau berhenti memanggilku 'Presdir'? Rasanya sungguh tidak nyaman sekali."
"Lalu, aku harus memanggil apa?" Tanya Kyuhyun dengan raut tidak mengerti.
"Mulai sekarang, kau bisa memanggilku 'Umma'…"
"Eh?"
Nyonya Choi tersenyum lembut melihat reaksi yang didapat laki-laki didepannya.
…
…
…
Sepulangnya sejak itu, Kyuhyun rutin tiap hari menjenguk dan menunggui Siwon yang masih belum menunjukkan tanda-tanda sadar.
Sama seperti sekarang, sepulang bekerja, Kyuhyun akan langsung kerumah sakit bersama Wonhyun. Kyuhyun memangku putranya dengan buku bergambar yang terbuka lebar dihadapannya, sibuk menceritakan dongeng anak-anak.
Sampai sebuah suara membuat Kyuhyun menahan tawa dan Wonhyun menggerang malu. Perut bocah itu ternyata sudah mengeluarkan alarm lapar.
"Kau tunggu sebentar disini, Umma akan membelikanmu makanan dulu. Jaga Ap-Ahjusshi, nde." Kyuhyun segera meralat ucapannya. Hampir saja ia keceplosan mengucap "Appa" kepada Wonhyun.
Bocah berusia lima tahun itu mengangguk sekali.
Dia beranjak keluar dari ruangan Siwon menuju kantin rumah sakit, meninggalkan Wonhyun yang duduk disamping ranjang Siwon dengan kaki yang menggantung dikursi, bergerak maju-mundur bergantian. Bocah imut itu menggumamkan lagu anak-anak yang sebenarnya tidak begitu ia hapal, tapi sering dinyanyikan Kyuhyun sebagai nina bobo untuknya setiap malam.
Dibukanya lagi buku dongeng pemberian Nyonya Choi karena melihat Wonhyun yang sepertinya suka sekali membaca.
Perlahan, tangan yang tergeletak lemah itu menggerakkan jari-jarinya. Kelopak mata yang sudah tiga hari tertutup itu juga mulai mengerjap kecil, sampai bisa membiasakan retinanya menerima cahaya.
Ditatapnya sekeliling sampai akhirnya ia sadar dimana dia sekarang. Ruang disalah satu rumah sakit. Sadar dengan kondisi tubuhnya yang terasa lemas, Siwon menghela nafas ringan.
"Hmm… hmm…"
Siwon menolehkan kepalanya mencari sumber gumaman barusan dan dia melihat seorang bocah yang begitu mirip dengannya saat dia berusia lima tahun. Bocah itu… putranyakah?
Digerakkan tangannya dengan susah payah kearah kepala bocah yang sedang sibuk membaca buku dongengnya. Sampai telapak tangannya terjatuh tepat diatas kepala anak laki-laki yang sontak menolehkan wajahnya kearah Siwon.
Kedua mata mereka bertemu, dan Siwon benar-benar yakin. Anak laki-laki yang tengah memandangnya itu memang putranya. Putra yang awalnya ia tolak mentah-mentah. Ia tersenyum lemah, meski bibirnya sedikit ngilu mengingat Yunho benar-benar habis menghajarnya.
"Ahjusshi sadar…" mata bocah Jung itu membulat. Tepat setelahnya Kyuhyun masuk dengan kantong yang berisi makanan untuk Wonhyun.
"Aaaa~ Umma, Ahjussi sudah sadar…"
Kyuhyun membatu sejenak, kemudian kembali keluar. Beberapa saat dia pergi, masuk seorang dokter dan seorang suster untuk mengecek keadaan Siwon.
Kyuhyun berdiri memojok pada dinding sambil memeluk tubuh Wonhyun yang berdiri didepannya. Membiarkan dokter dan suster melakukan pekerjaannya, sampai dokter itu menghela nafas lega.
"Apa anda keluarganya?"
"A-aa… Ye…" jawab Kyuhyun kaku.
"Keadaannya mulai normal dan sudah tidak semengkhawartikan seperti sebelumnya. Hemoglobinnya juga sudah mulai stabil. Setelah ini dia masih harus meminum obat dan perbanyak memakan buah-buahan untuk menstabilkan kembali imun-nya yang sempat lemah. Saya permisi."
"Kamsahamnida, Uisa…"
Setelah memberikan penjelasan, dokter itu permisi dari hadapan Kyuhyun, diikuti suster yang sudah mengganti botol infuse dan mengatur lajur cairan itu agar tidak secepat sebelumnya.
Hening seketika diruangan yang cukup luas.
Siwon mengulas senyum tipis kala melihat Kyuhyun yang mengalihkan pandangannya dengan gugup, tapi dia bisa melihat dengan jelas rona tipis dipipi pucat itu. Wonhyun memutuskan untuk kembali duduk diposisi awalnya tadi.
"Ahjusshi… Ahjusshi… Appo nde?" Tanya Wonhyun dengan wajah tak berdosanya. Mata bulatnya mengerjap polos.
Siwon menggeleng ringan, "A…ni…"
"Hung? Ani?" Wonhyun langsung menusuk pinggang Siwon yang kebetulan tepat didepannya. Mendapat reaksi berupa erangan justru membuat Wonhyun tambah semangat menyentuh tubuh Siwon yang terbalut perban.
"Y-Ya, Wonhyunnie, tidak boleh…" Kyuhyun menarik tangan mungil putranya yang sibuk mengerjai tubuh Siwon. Putranya itu justru tertawa senang seperti baru saja mendapat mainan baru yang mengasyikkan. Evil Wonhyun, eh?
Sedangkan pria Choi itu menatap dalam Kyuhyun yang sibuk melarang Wonhyun. Dalam hati ia sungguh bersyukur diberi kesempatan sekali lagi untuk melihat paras manis itu.
Ternyata, bocah kecil yang dulunya ia temui digereja telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang lebih dewasa. Pemuda yang dulu ia hancurkan hidupnya karena kesalah pahaman bodohnya.
Disudut hatinya yang terdalam Siwon berjanji untuk memperbaikinya. Memulai semuanya dari awal kembali. Tuhan sudah menunjukkan jalan kepadanya, tinggal dirinyalah yang berusaha mengurai kembali benang takdir yang sempat kusut.
…
…
…
Diluar ruangan kamar inap Siwon, Changmin mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia merasa cemburu dan marah. Sangat marah.
Siapa yang tidak marah jika tahu orang yang selama ini kau sukai selama lima tahun justru tak menyediakan ruang dalam hatinya.
Ternyata, sekuat apapun dia menopang tubuh lemah Kyuhyun, atau sesering apapun ia menemani pemuda itu, tetap tidak bisa menghapus rasa cintanya pada seorang Choi Siwon, yang justru telah membuat hidupnya berubah dari remaja kebanyakan.
Changmin tersenyum miris, "Apakah benar-benar tidak ada ruang dihatimu yang kau sisakan untukku, Kyuhyun-ah?"
…
…
…
.
…
…
…
.
Heechul memasuki kamar Yunho dan mendapati pria Jung itu tengah menatap luar jendela sambil terbaring. Dia tersenyum lalu berjalan kearah ranjang adiknya.
Adik?
Ya, Heechul sudah memaafkan pria musang itu bahkan sejak lama, sejak Jaejoong meminta sesuatu sebagai permohonan terakhir.
"Tubuhmu semakin kurus saja…"
Heechul meletakkan sekeranjang buah-buahan keatas nakas, lalu mengambil jeruk dan mengupasnya.
Sudah seminggu Yunho terbaring lemah seperti sekarang. Tepatnya sejak Heechul mendapati kondisi dua orang dalam satu ruangan yang porak poranda.
Saat itu, Sekertaris Park yang merasakan keganjalan menuju ruang monitor dimana seluruh sudut kantor terekam dalam CCTV. Dan betapa terkejutnya melihat dua manusia dalam keadaan babak belur terbaring tidak berdaya didalam ruangan atasannya.
Dengan segera dia men-dial nomor Heechul, meminta pria cantik itu untuk cepat datang.
Heechul jugalah yang membawa Siwon kerumah sakit dan mengirim pesan pada Nyonya Choi.
Sedangkan Yunho langsung dibawa kesebuah villa kecilnya disebuah desa yang masih sepi penduduk setelah mendapat perawatan intesif dirumah sakit.
Empat hari setelahnya Yunho sadar dan menceritakan semuanya pada kakak dari orang yang dicintainya itu.
Awalnya Heechul terkejut mengingat sejak kepergian Jaejoong, Yunho tidak pernah berkelahi atau terlibat kekerasan macam apapun. Tapi dia mengerti arti dibalik tindakan brutal pria Jung itu.
Yunho tidak ingin kejadian yang dialami Jaejoong kembali menimpa putranya. Ia ingin membuktikan sebuah pembenaran untuknya, bahwa Siwon tidak sedang mempermainkan Kyuhyun.
"Apa Kyuhyun menanyakan keberadaanku?" Tanya Yunho akhirnya setelah diam sebelumnya menyelimuti. Posisinya masih sama seperti awal Heechul masuk kekamar. Pria itu masih terbaring dengan wajah yang mengarah kepintu kamarnya yang terbuka. Membuat angin sejuk pagi itu menerbangkan gorden putih tipis yang terpasang dibalik pintu.
"Aku mengatakan bahwa kau sedang berada di Jepang. Seperti permintaanmu, Yun…" Heechul meletakkan jeruk yang sudah bersih dikupasnya, kemudian kembali mengambil apel.
Terdengar Yunho menghela nafas berat. "Pada akhirnya aku tetap terlihat menyedihkan, Chullie-ya… Kyuhyun maupun Jaejoong… tetap tidak kembali kesisiku. Pada akhirnya, aku tetaplah seorang pria hancur yang ditinggal kekasih dan anaknya…"
Heechul menitikkan air mata kala mendengar nada miris keluar dari bibir Yunho. Bagaimanapun dia mengenal Yunho sejak dua puluh lima tahun yang lalu. Dulu ia mengenal Yunho sebagai pemuda brutal yang keras kepala, tapi sejak dia bertemu dengan Jaejoong, perlahan sikapnya melunak dan membaik.
Pria itu mulai menjadi seseorang yang bertanggung jawab dan sikapnya melembut. Kehadian Jaejoong benar-benar merubah pribadi Yunho, begitupun setelah Jaejoong pergi, Yunho tampak begitu frustasi meski dihadapan khalayak ramai dia terkenal dengan wajah stoic-nya.
…
…
…
Kyuhyun menemui Changmin yang sedang melihat danau kecil dikediaman Jung.
"Min…"
Panggilan Kyuhyun membuat Changmin memutar tubuhnya dan tersenyum. "Mau berjalan-jalan sore sebentar denganku?"
Kyuhyun yang masih belum mengerti tujuan Changmin pun hanya bisa menurut dan berjalan menunduk dibelakang pria tinggi itu.
"Kyu…"
Pemuda manis itu segera mengangkat kepalanya ketika namanya dipanggil. "Nde?"
"Apa kau… mencintainya? Benar-benar mencintainya, sampai tidak ada lagi sisa tempat untukku?"
"M-mwo?"
Changmin berbalik, hal itu membuat Kyuhyun merasa sangat bersalah. Dia tahu arah pembicaraan ini, dan jujur saja Kyuhyun tidak pernah siap jika harus menyakiti hati Changmin yang selama ini selalu disisinya.
"Jangan sungkan padaku. Jawab saja, Kyu…"
Kyuhyun semakin menunduk dalam. Dia tahu Changmin memaksakan senyumnya sekarang. "Nde."
"Aahh~ begitu…" Changmin kembali berbalik dan berjalan dengan tangan dibelakang. Membiarkan Kyuhyun yang masih diam ditempat
Grep!
"E-eh?!" Kyuhyun sontak kaget karena Changmin tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat. Bisa dirasakannya bahunya basah. Entah kenapa Kyuhyun merasakan sakit yang sama.
"Apa benar-benar sudah tidak ada tempat untukku, Kyuhyun-ah? Apa sebesar itu rasa cintamu pada Choi Siwon yang bahkan telah menghancurkan hidupmu? Apa aku tidak berarti apapun untukmu?"
"Mi-mianhae, Changmin-ah…" Kyuhyun menangis ketika Changmin semakin mengeratkan pelukannya. Dilingkarkan tangannya memeluk punggung kokoh yang sekarang bergetar hebat.
Changmin memang tidak terisak sama sekali, tapi bisa Kyuhyun rasakan bahunya semakin basah dan lingkup pelukan Changmin masih begitu erat. Diangkat wajahnya sampai menumpu bahu Changmin yang sedikit tinggi dari tubuhnya.
Sekuat apapun Kyuhyun ingin menyangkal, cinta yang dititipkan kepadanya sudah terukir abadi. Mencoba untuk melupakan justru membuatnya begitu tersiksa. Tidak hentinya Kyuhyun mengucap maaf, walau ia tahu sesakit apa Changmin sekarang.
"Changmin-ah, kumohon… jangan menangis untukku… hiks… ak-ku tidak pantas mendapatkannya…"
Mendengar Kyuhyun yang terisak, pria bermarga Shim itu sedikit membuat jarak dari tubuh Kyuhyun. Ditangkupnya kedua pipi bulat Kyuhyun dan menghapus bulir bening yang betah mengalir. Ia kecup kening laki-laki manis didepannya dengan penuh kelembutan.
"Aku selalu gagal untuk tidak menyukaimu, Kyuhyun-ah…". Ia berusaha untuk menarik kedua sudut bibirnya, berusaha untuk menciptakan senyum meski dengan bibir yang bergetar.
Kyuhyun menggeleng pelan.
"Apakah… hanya dia yang bisa membuatmu bahagia, Kyu?"
Kyuhyun makin terisak sambil menunduk.
"Pada akhirnya aku memang tidak bisa menjadi "Appa" untuk Wonhyun, ne…"
"Changmin-ah."
Kali ini Changmin tersenyum apa adanya, tanpa paksaan lagi, terlihat begitu tulus meski hati disudut sana begitu perih. "Gwenchana."
"K-kau… pasti akan mendapatkan yang lebih baik, Changmin-ah… A-aku… tidak pantas untukmu… A-aku… sudah sangat jahat padamu…"
"Terima kasih sudah menghiburku, Kyu. Boleh aku memelukmu lagi? Aku janji, ini akan jadi yang terakhir…"
Kyuhyun hanya bisa mengangguk lemah sembari menghapus airmatanya, meski pada akhirnya cairan bening itu tetap membasahi pipi pucatnya.
Kali ini Changmin mendekap Kyuhyun lebih lembut. "Nanti kau harus bahagia, ne…"
Kyuhyun merebahkan kepalanya dibahu pria yang lebih tua lima tahun darinya. Ia berusaha menyamankan diri dipelukan Changmin. Bagaimanapun, ia nantinya pasti akan merindukan pelukan hangat ini.
"Kalau Siwon menyakitimu, katakan padanya bahwa aku tidak akan segan merebutmu lagi…"
Kyuhyun mulai tersenyum dan memejamkan matanya. "Ne."
"Heum… katakan padanya untuk tidak membuat Wonhyun kelaparan. Anak itu akan jadi sangat menyebalkan setelahnya…"
Pemuda manis dipelukan Changmin mulai tertawa kecil mendengar celotehan asal yang keluar dari bibir pria Shim itu.
Disepanjang sore, mereka habiskan hanya dengan berpelukan, diselingi dengan ocehan Changmin agar bisa mendengar suara Kyuhyun.
Karena setelahnya, jalan yang akan mereka jalani sudah tidak sama. Kini mereka sudah berada dipersimpangan takdir, mulai menentukan jalan yang akan dilalui kedepannya. Dan mereka akan selalu berdoa untuk mengharapkan sebuah kisah dengan akhir yang bahagia. Untuk diri mereka sendiri maupun untuk orang lain.
Mereka tidak berfikir tentang kemunafikan. Hanya saja, ketika kau hidup, ketika itu pula kau tidak sendirian didunia ini. Mereka hanya sedang belajar untuk berbagi doa, bukan hanya sekedar memuaskan keegoisan. Karena meski akhirnya kita terkubur sendiri, ketika kita hidup, manusia lainnya akan selalu ada disekeliling. Hanya sekedar menyapa, tersenyum, menggenggam tangan, memeluk, dan berjalan beriringan.
.
…
…
…
.
Annyeong, readerdeul~ ^o^/
Sampai jumpa di chap terakhir~
Arigato gozaimashu~ ^^v
