.
.
"Kyuhyun-ah, bisa kau berikan bubur ini untuk Siwon? Sekalian suruh dia meminum obatnya. Dan mungkin ini agak merepotkanmu, bisakah kau sekalian menungguinya selesai menghabiskan buburnya? Anak bodoh itu sulit sekali jika sedang sakit. Mungkin kau akan kerepotan karena sifat manjanya nanti keluar. Aku ada sedikit urusan, setelah selesai, aku akan segera pulang. Maaf aku sudah banyak sekali merepotkanmu karena harus ikut-ikutan menurusi Si Bodoh itu."
...ooOOo...
...ooOOoo...
...ooOOoo...
Last Chapter of "Angel"
...ooOOoo...
...ooOOoo...
...ooOOoo...
Itulah sepenggal pesan yang ditinggalkan Nyonya Choi padanya pagi itu. Membuat Kyuhyun pagi-pagi sekali kelabakan dikediaman Hwang karena dirumah mewah itu hanya ada beberapa maid yang bekerja. Itupun hanya maid yang memiliki tugas khusus, bukan maid yang mengurusi segala keperluan rumah tangga.
Untung saja Nyonya Choi sudah membuatkan bubur yang cukup untuk sampai siang nanti, karena selama ini dia sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan peralatan masak untuk keperluan yang semestinya. Yunho maupun Heechul sungguh memanjakannya untuk semua pekerjaan seperti itu.
Tentu saja, untuk apa keduanya membayar mahal begitu banyak maid jika Kyuhyun pun harus ikut bekerja dalam urusan rumah tangga.
Pemuda yang baru berusia dua puluh tahun itu berjalan melewati ruang-ruang di kediaman Hwang, menuju taman, dimana Siwon dan Wonhyun sedang bermain bersama.
Dia berjalan gugup kearah Siwon yang sedang duduk dikursi roda, sedang sibuk menangkap bola yang dilempar Wonhyun.
Siwon tidak menoleh sedikitpun, dan sebenarnya ia sengaja. Ia ingin tahu, sejauh mana reaksi Kyuhyun yang sekarang. Siwon justru sengaja tidak menangkap bola yang ditendang bocah kecil yang berjarak lumayan dekat, membuat bola yang ditendang menghantam dada Siwon.
"Ouch..."
Mata Kyuhyun membulat ketika melihat Siwon langsung meringkuk. Segera dia letakkan nampan yang dibawanya, dan menghampiri Siwon. "Si-Siwon-sshi, gwenchanayo?". Kyuhyun bersujud didepan Siwon yang tengah meringkuk, berpura-pura kesakitan.
Siwon sedikit mengulas senyum kala mengetahui reaksi Kyuhyun. Ia semakin yakin, jika Kyuhyun masih menyimpan sesuatu untuknya. Perlahan ia angkat wajahnya dan entah kenapa, jantungnya berdetak lebih kuat ketika melihat raut cemas Kyuhyun yang berjarak cukup dekat dari wajahnya.
Siwon bahkan bisa melihat wajahnya yang terpantul jelas disepasang iris cokelat Kyuhyun. Ia baru tahu, jika dilihat dari dekat, sepasang manik didepannya sangat indah.
"Umma... Mianhae..." Wonhyun berjalan dengan wajah yang menunduk, sambil memeluk bola kaki kesayangannya.
Kyuhyun sedikit tersentak kemudian berbalik. Dia tersenyum lembut dan mengusap rambut putranya. Tangannya mengangkat dagu Wonhyun, membuat bocah laki-laki itu melihat wajah Umma-nya yang tengah tersenyum.
"Gwenchana, Hyunnie... humm~ Hyunnie main dengan Lee ahjussi, otte?"
"Hu-um!"
"Minta maaf dulu sama Siwon Ahjussi."
Wonhyun begerak kehadan Siwon, kemudian membungkukkan tubuhnya, "Mianhae, Won-jussi".
Kyuhyun mengelus rambut hitam ikal putranya yang langsung pergi untuk menemui supir keluarga Hwang yang sudah sering ditemuinya selama ia bekerja ditaman kanak-kanak.
Pemuda itu menghela nafas sejenak, lalu bediri, lebih tepatnya kebelakang Siwon, kemudian mendorong kursi roda yang sedang diduduki pria Choi itu.
"Presdir Hwang sudah menyiapkan semua ini, Siwon-sshi."
Kyuhyun mengambil mangkok yang terbuat dari keramik dengan ukiran abstrak berwarna biru. Membuka tutupnya, membuat asap tipis mengepul keudara.
"Aaaa~"
Kyuhyun menatap heran Siwon yang membuka mulutnya cukup lebar.
"Mwo?" tanyanya dengan mata yang membulat lucu.
"Umma-ku selalu menyuapiku kalau aku sakit."
Kyuhyun terdiam sejenak, terlihat sedang memikirkan sesuatu. Merasa tidak sabar akibat reaksi yang Kyuhyun berikan, Siwon mengamit tangan Kyuhyun, sengaja menyendokkan bubur dan menyuapkan kemulutnya sendiri.
Kaget dengan tindakan Siwon barusan, pemuda manis itu segera melepaskan tangannya dari genggaman tangan besar Siwon, membuat sendok yang juga berbahan keramik berwarna putih gading terpelanting cukup jauh karena sentakan Kyuhyun.
"Mi-mianhae... A-aku ambil... ya-yang baru..."
Selesai berucap, Kyuhyun beranjak dari tempatnya kembali masuk kedalam rumah megah milik keluarga Hwang.
Sementara itu, Siwon meremas rambutnya sendiri menandakan ia cukup frustasi dengan reaksi yang Kyuhyun berikan barusan. Bukankah itu akan sangat sulit baginya untuk lebih mendekati Kyuhyun karena pemuda itu bahkan enggan melakukan kontak fisik dengannya.
"Haish! Siwon pabbo!" rutuknya sendiri.
...
...
...
Siangnya sesuai janji, Nyonya Choi langsung pulang kerumah dengan beberapa belanjaan berupa makanan ringan untuk Wonhyun. Lagipula, dia tidak bisa membiarkan Kyuhyun dan Siwon bersama untuk waktu yang lama karena ia masih ingat bahwa Kyuhyun memiliki trauma tersendiri pada Siwon.
Dia sudah begitu banyak merepotkan pemuda itu. Sesampainya di dalam rumah, wanita tua itu bisa melihat Siwon yang sedang berhadapan dengan laptop-nya. Ia juga melihat mangkuk bubur yang sudah kosong dan sobekan beberapa bungkus pil.
Nyonya Choi tersenyum, sepertinya Kyuhyun merawat Siwon dengan baik. Setidaknya ia cukup lega akan hal itu. Urusan yang lain bisa diselesaikan secara perlahan.
"Dimana Kyuhyun dan Wonhyun, Wonnie?"
Siwon mengangkat mukanya, tersenyum ringan lalu melepas kacamatanya. "Kyuhyun sedang memandikan Wonhyun, Umma..."
Nyonya Choi memposisikan dirinya disamping putranya, dia bisa merasakan aura disekeliling Siwon mulai berubah. Putranya seolah sudah kembali seperti Choi Siwon yang dikenalnya dulu.
"Kau bahagia, Wonnie?"
Siwon semakin melebarkan senyumnya, "Menurut Umma, sebahagia apa aku sekarang?"
"Humm~ Kau terlihat seperti sedang kasmaran saja. Ingat berapa umurmu ini..." goda wanita tua itu. Dia mencubit pelan pinggang putranya yang hanya dibalas dengan kekehan ringan.
"Aku masih sangat muda, Umma..."
"Tsk! Sudah kepala tiga... Muda apanya?" Sindir Nyonya Choi.
Selang beberapa menit, Wonhyun dan Kyuhyun menuruni tangga.
"Halmeoniii~"
Dengan semangat, bocah aktif itu berlari menuruni tangga dengan tidak sabar. Tentu saja sebenarnya yang diincar bocah manis itu adalah kantong yang ada diatas meja. Modus, eh?
"Omo! Kau tampan sekali~ Sini, Halmeoni ingin menciummu~"
Wonhyun segera menghambur kepelukan wanita paruh baya itu, membuat Wonhyun mendapat serangan ciuman dipipi gempalnya.
"Hiihhihi~ Halmeoni, geli~"
Tanpa keduanya sadari, baik Kyuhyun maupun Siwon mengulas senyum tipis diam-diam ketika melihat adegan nenek dan cucu tersebut.
"Ah! Hyunnie, Halmeoni membawakan kau kue." Nyonya Choi mengambil bungkusan diatas meja, lalu memperlihatkan isinya pada Wonhyun. "Joahae?"
"Whooaaa~" Mata hitam bulat itu terlihat berbinar, belum lagi mulut yang menganga lebar melihat isi kantong yang dibawa Nyonya Choi.
"Ayo kita kedapur..."
Nenek-cucu itu langsung meninggalkan Kyuhyun dan Siwon begitu saja berdua. Membuat suasana kembali canggung karena insiden yang sebelumnya terjadi membuat Kyuhyun maupun Siwon merasa tidak enak hati.
"Kejadian tadi... Maaf... Aku tiak berniat membuatmu takut..." Siwon membenahi posisi duduknya.
Sedangkan Kyuhyun hanya bisa mngangguk pelan, seolah mengatakan "Tidak apa-apa".
Suasana kembali canggung. Entah kenapa, atau ini hanya perasaan keduanya, Kyuhyun dan Siwon merasa waktu seolah melambat. Gerak dan bunyi detik jarum jam terasa sangat pelan dan halus. Belum lagi sunyi yang kembali mendominasi.
Keduanya juga mulai bisa saling merasakan, detak jantung dan bunyi detik jam mulai tidak seirama lagi. Debaran halus yang semakin kuat membuat keduanya mematungkan diri. Berusaha agar bunyi asing yang tengah bergemuruh itu tidak terdengar ketelinga.
...
...
...
Bibir pemuda bermarga Jung itu mengerucut kecil saat melihat obat-obatan yang dikonsumsi Siwon sudah habis. Dia lupa memberi tahu Nyonya Choi untuk membeli obat lagi sebelum wanita itu pergi ke Jepang karena ada sedikit urusan perusahaan. Pemuda itu kembali menghembuskan nafas, membuat bibir yang semula mengerucut imut kembali kebentuk normal.
Sepertinya dialah yang harus menebus lagi obat itu. Nyonya Choi sudah sangat baik padanya, terutama pada Wonhyun, yang notabene memang cucunya sendiri. Meskipun Kyuhyun masih belum mau, atau belum terbiasa memanggil "Umma" pada wanita paruh baya itu.
Arah matanya tertuju pada jendela, tepatnya melihat Wonhyun dan Siwon sedang asyik berkejaran ditaman yang cukup luas itu.
Setelah menimang pergi atau tidak, akhirnya Kyuhyun putuskan untuk pergi sendiri, toh jarak apotek tidak terlalu jauh jika menggunakan kendaraan. Sepertinya tidak masalah kalau dia meninggalkan Wonhyun sebentar, mengingat dia dan putranya tidak pernah terpisah sejak bayi kecilnya itu lahir.
...
...
Setelah memberikan uang pada supir taxi, Kyuhyun keluar dan bergegas memasuki apotek yang cukup ramai dan segera menuju apoteker yang sedang melayani beberapa orang.
"Annyeong hasimnikka. Ada yang bisa kubantu?" Seorang apoteker wanita dengan rambut yang dikuncir menghampirinya.
"Ah, ye. Aku ingin menebus obat ini." Kyuhyun menyerahkan kertas berupa resep obat Siwon.
Wanita itu melihat sejenak, "Mohon tunggu sebentar."
Kyuhyun tersenyum tipis dan mengangguk ringan kala melihat wanita itu masuk kesebuah ruangan. Jemarinya mengetuk etalase didepannya yang hanya setara dengan dadanya.
"Uisa, apa obat yang kuminta sudah siap?"
Alis Kyuhyun tertaut saat mendengar suara yang dia kenal. Kepalanya menoleh dan matanya membulat ketika memastikan si pemilik suara memang orang yang dia kenal.
"Hyung?"
Raut pria disampingnya juga tidak kalah kaget dengan dirinya. "Kyu..."
Mata cokelat Kyuhyun langsung menoleh kearah bungkusan kecil ditangan Heechul. "Obat milik siapa yang kau tebus, Hyung?"
"A-ah... O-obat salah satu pesuruhku..."
Keningnya kembali mengerenyit saat menyadari nada ganjil yang keluar dari mulut Heechul. Pesuruh? Sejak kapan Heechul peduli pada bawahannya yang terluka? Mati dalam tugas pun Heechul tidak pernah peduli. Bahkan pamannya itu akan menembak mati bawahan yang tidak patuh padanya.
Sayangnya Kyuhyun yang memiliki IQ tinggi tidak begitu mudah menerima jawaban Heechul. "Kau tidak pintar berbohong padaku, Hyung..."
"Y-ya! Apa urusannya denganmu, bocah nakal. Kau sendiri, apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau sedang bekerja di taman kanak-kanak, huh?" mata yang serupa kucing itu bergerak gelisah saat keponakannya itu memandangnya dengan sorot menyelidik.
"Kau terluka, Hyung?"
"Te-tentu saja! Kau pikir pekerjaan seperti apa yang kumiliki?"
Kyuhyun mulai yakin kalau Heechul sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Jelas-jelas Heechul terlihat segar-bugar tanpa cacat segorespun. Dia tahu, meski Heechul orang yang keras, tapi pamannya itu tidak pandai dalam urusan berbohong.
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku, Hyung..." ucapnya kemudian.
Bingo!
Tebakan pemuda Jung itu tepat saat melihat mata Heechul yang langsung membulat dan tubuhnya yang tiba-tiba menegang. Karena rasa penasaran dan tidak sabar, Kyuhyun segera menarik bungkusan obat dari tangan Heechul, setidaknya ia ingin tahu, siapa manusia yang bisa membuat seorang Kim Heechul menjadi peduli.
Kali ini, mata cokelat itu yang membulat penuh saat mengeja berulang kali nama pasien yang tertera pada kertas obat.
Jung Yunho.
Ayahnya sendiri.
"H-hyung..."
"Haish! Kau sungguh membuatku repot!" segera Heechul rampas langsung obat dari tangan Kyuhyun dan berlari keluar menuju mobilnya.
"Ya! Heechul Hyung!"
Kyuhyun kejar pamannya yang menuju mobil berwarna merah, dan... hap! Dia berhasil menarik tangan Heechul, membuat pria itu hampir tersungkur kebelakang.
"Jelaskan padaku, apa yang terjadi?! Apa... apa Appa sedang terluka?"
Pria cantik itu bungkam. Gerak matanya yang seolah gelisah membuat Kyuhyun sedikit marah.
"Katakan padaku, Hyung... apa Appa-ku sedang sakit?" matanya tiba-tiba memanas.
Hei! Siapa yang tidak khawatir saat tahu satu-satunya orang tua yang kau miliki sedang terbaring tidak berdaya, sedangkan dulu, ketika Kyuhyun sakit, Yunho akan selalu berada disisinya.
"Chullie Hyung..." suara rapuh Kyuhyun membuat pertahanan Heechul runtuh.
"Haish! Ikutlah!"
Heechul langsung masuk kedalam mobil diikuti Kyuhyun. Dalam hati ia terus mengumpat, Ayah dan anak sama-sama keras kepala!
...
...
...
Dan kini, didepan Kyuhyun, dia bisa melihat seorang pria yang tengah berbaring diatas ranjang king size-nya dengan raut yang tenang. Dilangkahkan kakinya secara perlahan menghampiri Ayahnya yang sedang tertidur.
Cairan bening perlahan menetes dari celah matanya. Bisa ia lihat, luka lebam disekitar wajah tampan itu, juga beberapa perban yang masih melilit bagian tubuh lainnya. Pasti itu sangat menyakitkan, pikirnya.
Tubuh yang tengah tertidur itu menggeliat saat merasakan tetesan air dan suara isakan putranya.
Aaahhh~ bahkan dalam tidurnya pun dia merasa ada Kyuhyun didekatnya.
Lama-kelamaan, suara isakan itu menjadi kuat dan keningnya mengkerut. Tetesan air yang dirasakan tangannya pun seperti nyata.
Dengan pelan, Yunho membuka sepasang mata musangnya setelah tertidur beberapa menit karena membaca buku.
Sontak matanya terbuka sempurna ketika melihat putranya sedang berdiri disisi ranjang tempatnya tidur dengan uraian air mata.
"K-Kyu..."
"Pa-pabbo! Hiks! Pab-pabboya Appa! Huwaaa~"
Yunho langsung terduduk melihat Kyuhyun yang semakin kuat menangis. Dia melirik kebelakang, melihat Heechul sedang berdiri sambil melipat tangannya, bersandar pada kusen pintu dengan sorot mata yang seolah-olah berkata "Diamkan anakmu, Beruang bodoh!"
"K-Kyunnie-ya... baby... uljima, nde..."
...
...
Selama hampir sejam Kyuhyun menangis, akhirnya Yunho bisa bernafas lega saat putranya mulai tenang karena merasa lelah menangis.
Seharian ini juga bibirnya tidak berhenti tersenyum karena Kyuhyun menyerbunya dengan berbagai pertanyaan, peringatan, dan juga ancaman untuk tidak terlibat dalam perkelahian lagi.
Sang ayah itu juga tidak bosan mendengar ceramah tajam dari putranya karena tidak ingin Wonhyun tahu jika kakek yang selama ini menjadi panutan adalah seseorang yang dulunya selalu terlibat perkelahian. Kyuhyun ingin putranya itu bisa menjalani kehidupan seperti warga normal lainnya.
Melihat Kyuhyun yang mengomel dengan wajah merah dan bibir yang maju membuatnya justru terlihat sangat menggemaskan.
Akhirnya ocehan pemuda berambut kecokelatan itu terhenti dan meminta pulang saat melihat langit sudah gelap dan dia lupa sudah meninggalkan Wonhyun di kediaman orang lain selama seharian ini akibat sibuk menasehati Ayahnya.
Tangannya secara perlahan mengelus figura orang yang paling dicintainya, Kim Jaejoong.
Otaknya kembali memilah salah satu rekaman usang dimasalalu dalam rak memorinya. Dia menemukannya dan bibirnya mengulas senyum. Sepasang mata musangnya kembali terpejam disaat kaset kenangan itu terputar.
Dibalik pelupuk matanya, dia bisa melihat seorang pemuda berusia enam belas tahun berambut hitam lurus sedang menangis dengan memeluk boneka gajah berwarna abu-abu, mirip sekali dengan Kyuhyun barusan.
...
...
.
"Beruang bodoh! Harus berapa kali... hiks... kukatakan... jangan berkelahi dengan gangster lagi... huwaaa~"
"B-BooJae-ya... aku tidak apa-apa... berhentilah menangis dengan suara kencang seperti itu..."
Mata Jaejoong langsung menajam meskipun airmatanya masih mengalir pelan. "Diam kau, Beruang jelek! Huwaaa~ Kyunnie baby... lihat, wajah Appa-mu jelek sekali..."
Heechul dan Hangeng yang sedang duduk disofa ruang inap Yunho hanya bisa menghela nafas dan menatap bosan pertengkaran tidak penting dari sepasang kekasih dihadapan mereka.
Heechul sekali lagi mencibir, konyol sekali!
.
...
...
Saat mobil merah itu berhenti, Kyuhyun langsung berlari masuk kedalam rumah mewah tanpa memberi salam pada Heechul terlebih dulu.
Pikirannya sudah terlalu kalut karena hampir seharian ini dia meninggalkan Wonhyun.
"A-ah, Seoyeon-sshi... dimanah... hah... Wonhyun?" pemuda Jung itu langsung menghampiri pelayan kepercayaan Nyonya Choi yang baru saja turun dari tangga dengan membawa baskom berisi air.
"Kyuhyun-sshi... Anda dari mana?"
"Itu tidak penting! Sekarang dimana putraku?!" Tanya Kyuhyun dengan tidak sabar.
"Seoyeon, cepat ganti airnya!"
Sebuah teriakan membuat keduanya terkejut dan langsung melihat kearah puncak tangga. Siwon sedang berdiri disana dengan tatapan tajam yang menusuk.
Pelayan wanita itu langsung permisi untuk mengganti air yang dibawanya.
"Darimana saja kau?!"
"Siwon-sshi, dimana Wonhyun?" Kyuhyun justru tidak berminat untuk menjawab pertanyaan Siwon karena rasa cemas pada putranya jauh lebih besar.
"Ibu macam apa yang tega meninggalkan anaknya, huh?!"
Kyuhyun berdecak kesal karena Siwon tidak mengatakan dimana putranya. Dia berinisiatif menghampiri Siwon, membuat pria itu langsung menghalangi Kyuhyun untuk masuk keruangan dibelakangnya.
"Aku ingin menemui putraku, Siwon-sshi..."
"Ani! Lebih baik kau pulang."
"Aku tidak akan pergi tanpa membawa Wonhyun!"
Pemuda itu nekat menerobos tubuh Siwon yang jelas lebih besar darinya. Bahkan dia lupa dengan rasa takutnya pada Siwon.
Kyuhyun segera menghampiri Wonhyun yang seperti sulit bernafas tengah berbaring. Digenggamnya tangan sang putra yang terasa panas. Wonhyun demam.
"Hyunnie-ya... Mianhae... U-Umma sudah meninggalkanmu... jebal... Umma tidak akan pergi lagi... ireona jebal... kau tidak sayang Umma?" berkali-kali Kyuhyun kecup punggung tangan mungil putranya.
"Dia terus mencarimu sejak siang tadi dan tidak berhenti menangis. Dia juga tidak mau makan apapun sampai dia tertidur dan suhu tubuhnya tiba-tiba naik." Jelas Siwon yang berjalan menghampiri Kyuhyun.
"U-Umma?"
"Nde! Ini Umma, Hyunnie-ya..."
Bocah manis itu tersenyum melihat Sang Ibu, lalu beringsut mendekati Kyuhyun. "Peluukk~"
Kedua tangan bocah itu terjulur kearah Kyuhyun yang langsung disambut laki-laki yang baru berusia dua puluh tahun.
"Nde~" Kyuhyun tersenyum dan mengelus punggung Wonhyu yang terasa hangat.
Siwon yang melihat adegan didepannya entah kenapa merasa hampa. Sejak siang tadi, dia sudah berusaha untuk menenangkan bocah imut itu, lalu memaksanya makan, tapi tetap saja hasilnya nihil. Wonhyun justru terus memanggil Sang Ibu sambil terus menangis kuat.
Lihatlah! Kini didepan matanya, bocah itu kembali tersenyum dan mau memakan dengan lahap semangkuk besar bubur yang sudah sengaja ia buatkan.
Siwon tersenyum kecut saat menyadari kembali kesalahan yang dulu ia perbuat.
Dimasalalu, dirinya menolak bayi yang bahkan masih dalam kandungan. Dimasa sekarang, bayi yang sudah tumbuh besar itu justru seolah menolak keberadaan dirinya.
Lagi-lagi dia harus mengingat kembali, betapa menyedihkannya ia sekarang.
...
...
...
Siwon langsung berdiri saat melihat Kyuhyun keluar dari kamar tamu pagi-pagi sekali dengan menggendong Wonhyun yang terlihat sedang tertidur pulas.
"Ya, mau kemana?"
"Euhm... aku harus pulang, Siwon-sshi..."
"Menginaplah untuk beberapa hari sampai Umma-ku kembali."
"Ta-tapi..."
"Apa kau ingin dianggap tidak bertanggung jawab karena tiba-tiba pulang padahal kau diminta untuk menjagaku? Lagipula, Wonhyun sedang sakit seperti itu."
Kyuhyun menunduk pasrah karena tidak ingin dicap buruk oleh Nyonya Choi. Tapi harus tinggal bersama Siwon sampai pemilik yayasan tempatnya bekerja itu pulang tiga hari lagi... Sepertinya itu akan sedikit menyulitkan baginya.
"Aku... tidak membawa baju ganti, Siwon-sshi..."
"Kau bisa menggunakan bajuku."
...
...
...
Siwon lempar baju yang untuk kesekian kalinya terlihat besar, padahal baju-baju itu sudah sangat lama sekali menghuni lemari pakaiannya. Sekali lagi dia menghela nafas.
Isi lemari pakaiannya sudah setengah dia keluarkan, tapi tetap tidak menemukan baju dengan ukuran Kyuhyun.
Pria Choi itu berbalik dan melihat kamarnya seperti kapal pecah dengan baju dan celana yang berserakan diatas kasur dan dilantai. Akhirnya ia putuskan untuk kembali memilih diantara tumpukan baju-baju yang sudah dia bongkar. Semoga saja masih ada kemejanya yang sudah kekecilan ditubuhnya.
.
...
...
.
Sudah tiga kali Siwon mengetuk kamar tamu yang sekarang digunakan Kyuhyun, tapi tetap tidak ada sahutan apapun. Dia putuskan untuk masuk dan telinganya seperti mendengar gemercik air dari arah kamar mandi.
Pantas saja tidak ada jawaban, pikirnya.
Siwon meletakkan beberapa potong baju dan celana yang menurutnya pas ditubuh Kyuhyun keatas kasur. Bibir tipisnya mengulas senyum saat melihat Wonhyun masih tertidur dengan memeluk boneka beruang.
Dipandangnya wajah lucu putranya yang baru berusia lima tahun itu seraya tangan yang mengelus pelan rambut ikal kehitaman, berusaha agar tidak mengganggu tidur anak kecil itu.
Lima tahun.
Selama itukah dia melewatkan untuk melihat wajah malaikat kecil dihadapannya? Selama lima tahun ini, dia terus bermimpi bisa menyentuh putra kandungnya. Rasa hangat yang mengalir ini begitu menyenangkan, seolah ingin memberi tahu Siwon, seberapa besar rindu yang bersarang didalam dadanya.
Cklek!
Suara pintu terbuka membuat Siwon reflek membalikkan tubuhnya. Seketika nafasnya tercekat dan dia kesulitan menelan ludahnya sendiri disaat sepasang mata itu memantulkan Kyuhyun yang baru keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrope yang hanya selutut, belum lagi bagian dada yang longgar karena Kyuhyun tidak mengikat talinya dengan kencang. Ditambah lagi tetes demi tetes yang turun dari rambut ikalnya semakin mengaliri telinga, leher, dan menghilang dibalik baju mandi.
Sekali lagi Siwon menelan ludahnya dengan susah payah saat pikirannya kembali berfantasy erotis pada tubuh dibalik baju mandi berwarna soft pink itu.
Pemuda yang menjadi objek belum menyadari karena sibuk mengeringkan rambut yang menutupi matanya. Kepalanya mendongak dan seketika tubuhnya terlonjak kaget saat Siwon sudah berada didepannya.
Kedua tangan kekar itu sukses mengukung tubuh Kyuhyun, membuat pemuda itu seketika membeku.
Bisa Siwon rasakan dinginnya tubuh Kyuhyun saat kedua tubuh mereka perlahan merapat. Siwon suka sensasi ini. Ketika panas tubuhnya semakin meningkat dan bibirnya hendak meraup plum segar didepannya...
"Heungg~ Ummaaa~"
Kesadaran Siwon seperti terhempas dengan kasar ketika menyadari posisinya yang siap menyerang Kyuhyun. Segera dia mundur menjauh dari pemuda yang masih mematung itu, "Mi-mianhae..."
Pintu kamar itu tertutup langsung oleh Siwon yang pergi keluar kamar.
Perlahan tubuh Kyuhyun merosot dengan tangan yang meremas baju bagian dadanya dengan sangat kuat. Nafasnya tersengal-sengal. Degup jantungnya yang bergemuruh hebat itu membuat ia sulit menarik nafas.
Wajahnya pun terlihat merah saat pemuda itu merasakan hawa panas yang sempat menempel ditubuhnya. Membuat hasrat yang sempat ia lupakan kembali lagi.
Dia ingat sentuhan itu. Masih sangat jelas tertinggal ditiap lekuk tubuhnya. Bahkan Kyuhyun tidak sadar bahwa sekarang tangannya tengah bergerak sendiri, menjamah tiap bagian tubuhnya yang dulu disentuh Siwon, membuat rasa panas kembali bergejolak tidak beraturan.
...
...
...
"Wonnie-jussi~"
Kepala Siwon terangkat dan bibirnya mengulas senyum ketika melihat kepala Wonhyun tersembul dari balik pintu ruang kerjanya. "Waeyo, Hyunnie-ya?"
"Temani Hyunnie main, ne..."
Siwon mengangkat tubuh kecil Wonhyun yang sedang memeluk bola dan menempatkan pada pangkuannya. "Dimana Umma?"
Bibir mungil bocah itu mengerucut dan pipinya mengembung imut. "Umma bilang ngantuk... Hyunnie main sendirian, Wonnie –jussi..."
Siwon yang gemas dengan wajah lucu dipangkuannya langsung mencium pipi gembung bocah yang berstatus asli putra kandungnya itu. Dia berdiri dan menggendong Wonhyun menuju taman, lalu memanggil supir keluarganya yang sering menemani bocah itu bermain.
"Hyunnie main dengan Lee-jussi, nde. Ahjussi mau melihat Umma dulu... oette?"
"Uhm!"
Siwon mengusap gemas rambut ikal Wonhyun sebelum kembali masuk kerumah dan menuju kamar Kyuhyun.
Sampai didepan pintu, pria tampan itu menarik nafas berulang kali untuk meredakan rasa gugupnya karena dia kembali mengingat kejadian tidak terduganya tadi pagi. Setelah hatinya merasa mantap, dia putar knop pintu dan sebelah alisnya naik melihat gelungan diatas kasur.
"Kyuhyun-sshi?"
Gelungan itu bergerak sedikit, terlihat semakin bulat, membuat Siwon ingin tertawa dengan sikap Kyuhyun yang seperti anak-anak.
"Ya, apa yang sedang kau lakukan?" Siwon menepuk pelan selimut yang digunakan Kyuhyun, tapi pemuda itu sama sekali tidak membukanya.
"Ya, apa kau tahu, Wonhyun ingin bermain denganmu. Jadi, keluarlah..."
Lagi-lagi Kyuhyun hanya bergerak dalam selimutnya dan lama-kelamaan membuat Siwon kesal. Ditariknya beberapa kali selimut berwarna biru itu.
"Ya! Kalau tidak mau, aku akan menarik paksa selimutmu, Kyuhyun-sshi!"
Tetap masih tidak ada jawaban apapun dari Kyuhyun.
Awalnya Siwon tarik dengan pelan, dan sepertinya Kyuhyun menahan dari dalam. Rasa kesalnya berganti ingin menjahili pemuda manis itu. Jadilah keduanya saling tarik-tahan selimut.
Kali ini Siwon berniat menarik selimut lebih kuat dan... Sret!
Darahnya seketika berdesir deras dalam tubuhnya ketika melihat Kyuhyun meringkuk yang hanya menggunakan kemeja warna hitam kebesaran, sangat kontras dengan kulitnya yang putih susu. Bahkan kemeja itu hanya menutupi sebagian paha dan tangannya tergelung beberapa lipat.
Siwon kembali menulan ludahnya saat Kyuhyun menatapnya sayu, belum lagi wajahnya yang basah, karena sejak tadi dia terus dalam selimut.
Apa Tuhan sedang menguji seberapa besar imannya sampai-sampai sejak pagi dia terus disuguhi pemandangan indah?
"Mi-mianhae... Ba-bajumu kebesaran... se-semua, Siwon-sshi..."
Aish! Persetan dengan itu semua. Kali ini sisi liarnya ia izinkan untuk kembali. Jangan salahkan dirinya karena sejak tadi dia terus bertahan, tapi nyatanya, melihat sebagian tubuh telanjang Kyuhyun saja imannya sudah goyah.
Tubuh kekarnya menghimpit Kyuhyun, membuat pemuda itu sontak mundur pada kepala ranjang dengan tubuh yang bergetar halus.
"Apa kau tahu, selama ini aku terus mencarimu, Jung Kyuhyun."
Pemuda itu menggeleng. Kepalanya mundur karena Siwon terus mendesak maju.
"Hei, tatap aku..."
Dengan sedikit keberanian, Kyuhyun membuka mata dan melihat Siwon melalui celah poninya yang basah.
"Kyuhyun-sshi... Saranghae..."
Pemuda manis itu bergidik geli karena Siwon berbisik disekitaran lehernya yang sensitif. Bisa dia rasakan sekarang seluruh tubuhnya kembali memanas, sama seperti tadi pagi. Hasrat itu kembali menguasai pikirannya, membuatnya tanpa sadar justru seolah meminta.
Siwon yang mengerti maksud Kyuhyun langsung meraup plum segar yang selama ini dia impikan. Menyesap rasa manisnya setelah sekian lama.
Keduanya saling memberi tahu, betapa besar rindu yang selama ini bertahan ditiap masing hati melalui sebuah kecupan yang berlanjut pada lumatan menuntut. Mereka berdua setidaknya ingin saling dimengerti, bahwa keinginan yang terpendam itu butuh terpuaskan.
Siang itu, matahari terlihat malu-malu dan bersembunyi pada gumpalan awan. Dirinya menyadari jika cahayanya tidak akan mampu menembus dua pasang mata yang tengah melepas rindu.
Ya, karena hanya ada Jung Kyuhyun disepasang emerald Siwon, dan hanya ada seorang Choi Siwon di sepasang iris madu Kyuhyun.
Hanya dengan kalimat "Aku mencintaimu" yang keluar dengan tulus, mampu menghancurkan rasa takut yang selama ini membentengi Kyuhyun. Dan Siwon tidak membutuhkan balasan "Aku juga mencintaimu", karena dia sudah mendapatkannya. Sesuatu yang jauh lebih bermakna ketimbang kata-kata.
Untuk pertama kalinya Kyuhyun tersenyum kembali. Senyum salah tingkah yang begitu manis, ketika dia pertama kali berjumpa dengan seorang pria disebuah gereja, dihari menjelang siang, sepuluh tahun yang lalu.
"Nado saranghae, Siwon-sshi..."
...:::...
...:::...
...:::...
...END...
...:::...
...:::...
...:::...
Annyeong hasseo~ ^o^
Saya bener2 minta maaf karena update yg ngaret...
Terima kasih sudah menemani dalam 13 chapter ini ^^
Saya sayang kalian semua~ ^^~
