Survivors in the Snowstorm
Oiik!! The second episode of SitS is here!! Makasih berat buat semua orang yang udah ngereview, especially buat ambudaff-san!! Saya bener-bener nggak nyangka bakal dapet review dari author fanfic kawakan seperti ambu-san!! (Sujud syukur, terus meneriakkan hamdalah berulang kali).
Oia, Fire Flamer-san belom ngeripiu fic ini ya? ayo dong, TFF-san, ripiu. Saia nungguin loh.
Disclaimer: Naruto still belongs to Kishimoto-sensei, and some lyrics here belong to Avril Lavigne and Paramore.
Episode #2. The Accident
Hari keberangkatan Minato dan Kushina ke New York. Di sebuah tempat yang gelap dan tersembunyi, dua sosok bertemu. Muka mereka tertutup oleh kegelapan. Sosok pertama bertubuh tinggi kurus, dan sosok kedua bertubuh cukup tinggi dengan badan sintal. Suara mereka bergaung di tempat kosong tersebut.
"Sudah kaulakukan?" tanya sosok pertama, seorang pria.
"Sudah, Tuan," jawab sosok kedua, yang ternyata perempuan.
Sosok pertama menyeringai.
"Bagus. Hampir bisa dipastikan, mereka tidak akan bisa selamat… khukhukhukhu…"
SurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstorm
"One! Two! Three! Four!!"
Intro lagu Misery Bussiness dari Paramore memenuhi studio pribadi milik keluarga Uchiha. Suara seorang gadis menyambut intro tersebut.
I'm in the business of misery, let's take it from the top
She's got a body like an hourglass that's tickin like a clock
It's a matter of time before we all run out
When I thought he was mine she caught him by the mouth
I waited eight long months
She finally set him free
I told him I can't lie he was the only one for me
Two weeks and we had caught on fire
She's got it out for me
But I wear the biggest smile
Naruto mengatur nafasnya selama jeda sebentar, lalu menyanyikan bagian chorus lagu tersebut sambil melompat.
Whoa... I never meant to brag
But I got him where I want him now
Whoa... it was never my intention to brag
To steal it all away from you now
But god it feels so good
Cause I got him where I want him now
And if you could then you know you would
Cause god it just feels so...
It just feels so good
Ya, seperti yang bisa kalian ketahui, Crossover Bonds sedang latihan di studio pribadi milik keluarga Uchiha. Latihan kali ini cukup ramai, karena mereka ditonton oleh kru Akatsuki and the Black Suits Company, yang sedari tadi ikut bernyanyi dan berjingkrak-jingkrak bersama Crossover Bonds.
"Naru, un, keren banget, un!" seru Deidara di tengah lagu. Yang lain mengiyakan. Naru nyengir, lalu menyanyikan bagian bridge Misery Bussiness.
I watched his wildest dreams come true
Not one of them involving you
Just watch my wildest dreams come true
Not one of them involving
Naruto melompat, lalu headbanging gila-gilaan sambil loncat-loncatan. Sasuke dan Lee menggeber gitar mereka. Para penonton bersorak riuh. Latihan malah jadi mirip konser. Namun, itulah yang membuat Crossover Bonds makin bersemangat latihan ; euphoria penonton yang juga mereka rasakan.
Akhirnya, lagu Misery Bussiness berakhir. Naruto yang ngos-ngosan karena bernyanyi sambil belingsatan kesana kemari nyengir lebar.
"Hayo, kakak-kakak Akatsuki mau rikues lagu apa nih?" tanyanya penuh semangat.
"Evanescence dong! Yang Going Under!" seru Kisame.
"Paramore lagi! That's What You Get!!" seru Itachi.
"Fergie, un! Big Girls Don't Cry, un!" seru Deidara.
"My Chemical Romance dong… Disenchanted!" pinta Hidan.
"Simple Plan aja, yang Perfect!" tukas Kakuzu.
"Alanis Morissette deh! Yang mana aja!" pinta Sasori.
"Kelly Clarkson! Since U Been Gone! Tobi kan suka sama lagu itu!" seru Tobi.
"Vanessa Carlton yang Nolita Fairytale aja!" seru Konan.
"Avril Lavigne! Runaway!!" seru Pein.
Naruto dkk tersenyum melihat tingkah kru Akatsuki itu.
"Ya udah, gini aja…," Sasuke mencoba menengahi.
"Kita nyanyiin lagunya Avril yang Forgotten yang aja…," usul Gaara, tiba-tiba. Naruto mengangguk senang. Yang lain kelihatannya setuju, kecuali kru Akatsuki.
"Katanya boleh rikues, un…," protes Deidara. Naruto tertawa.
"Sori Kak Dei, tapi kita pusing milih lagu diantara rikues kalian yang banyak itu. Jadinya kita pilih lagu Forgotten aja deh," jelas Naruto.
"Naru, ayo!" panggil Lee, yang sudah bersiap-siap. Naruto mengangguk, berlari ke upright piano yang ada di sebelah Sasuke, lalu memainkan intro Forgotten.
I'm giving up of everything because you mess me up
Don't know how much you screwed it up
You never listened that's just too bad
Because I'm moving on
I won't forget
You were the one that what's wrong
I know I need to step up and be strong
Don't patronize me yeah yeah yeah yeah yeah
Jeda sebentar sebelum chorus. Naruto berdiri, lalu berjalan menuju mikrofon yang ada di antara Sasuke dan Lee. Naruto mengangguk, musik masuk, lalu Naruto menyanyikan chorus lagu itu.
Have you forgotten
Everything that I wanted
Do you forget it now
You'll never got it
Do you get it now
Yeah yeah yeah yeah yeah
Naruto yang sudah berada di samping piano memainkan post chorus-nya, lalu bernyanyi lagi.
Gotta get away
There's no point in thinking about yesterday
It's too late now
It won't ever be the same
We're so different now yeah yeah yeah yeah yeah
Chorus lagi. Para penonton ikut bernyanyi bersama Naruto yang lagi-lagi jejingkrakan sambil menyanyi. Lagu dengan level rock setinggi ini, siapa sih yang tidak tahan untuk menyanyikannya sambil loncat-loncat?
I know I wanna run away
I know I wanna run away
Run away
If only I could run away
If only I could run away
Run away
I told you what I wanted
I told you what I wanted
What I wanted
But I was forgotten
I won't be forgotten
Never again
Para penonton menjerit-jerit sampai lagu berakhir. Naruto sampai sesak nafas karena keasyikan melompat-lompat dan teriak-teriak.
"Ouch!!" seru Naruto tiba-tiba sambil melompat, menjauh dari mikrofon.
"Kenapa, Naru?" tanya Sasuke cepat sambil menghampiri Naruto.
"Gue kesetrum mic…," jawab Naruto sambil memegangi tangannya.
Degg. Sebuah firasat tak enak mendadak di benak Naruto.
"Kok, perasaan gue nggak enak ya…," gumam Naru resah. Sasuke yang mendengar hal itu mengerutkan alisnya.
"Firasat...," gumam Sasuke. Mic itu nggak pa-pa waktu tadi dipake Akatsuki. Kok sekarang jadi nyetrum? Itu kan mic bagus! Ini pasti ada apa-apanya! Batin Sasuke. Mendadak, suasana menjadi sunyi.
"Oke, break dulu ya!" seru Neji memecahkan keheningan. Yang lain mengiyakan. Semua orang keluar dari studio, lalu berpencar.
Naruto tepar di sofa ruang keluarga. Di dekatnya, Deidara, Sasori, Tobi, Kisame, dan Hidan sedang menonton televisi.
"Makasih…," kata Naru sambil mengambil minuman yang dibawa pembantu Sasuke.
"Capek?" tanya Sasuke yang duduk di sebelah Naruto.
"Capek lah… orang tadi gue jejingkrakan gitu," jawab Naruto sambil nyengir. Sasuke terdiam sambil memperhatikan Naruto.
"Kenapa, Sas? Kok ngeliatin gue terus?" tanya Naruto, agak sal-ting.
"Nggak," jawab Sasuke singkat.
"Oi semua! Ada breaking news nih!!" seru Hidan tiba-tiba. Semua orang langsung berkerumun di depan TV.
"Selamat siang, pemirsa. Saya Hoshino Aya membawakan breaking news terbaru." Seorang pembaca berita muncul di layar TV.
"Pesawat Boeing 747-400 rute Konoha-New York milik maskapai penerbangan Konoha Airlines jatuh di tengah Samudera Pasifik. Pesawat diperkirakan jatuh di sekitar koordinat…"
Deg. Jantung Naruto seakan berhenti berdetak. Rasanya ia mengetahui siapa dua orang penumpang diantara ratusan penumpang pesawat itu.
"Ayah… Bunda…," desis Naruto cemas. Sasuke melirik sahabatnya.
Jangan-jangan… ah, tidak mungkin! Batin Sasuke tak kalah cemas.
"Pesawat tersebut membawa 121 penumpang, dua diantaranya adalah Perdana Menteri Namikaze Minato, dan istrinya, Namikaze Kushina. Mereka berdua…"
Naruto terkesiap mendengar berita ini, begitupun orang-orang lainnya. Wajahnya pucat. Badannya gemetaran. Ia benar-benar takut, orangtuanya tidak akan selamat dalam kecelakaan itu.
"Anterin gue pulang," katanya pelan. Yang lain hanya memberikan tatapan cemas.
"Anterin gue pulang! SEKARANG!" raung Naruto. Air mata telah mengalir di pipinya. Perasaannya kalut. Itachi langsung menyiapkan mobil VW Combi-nya. Begitupun Hidan.
"Naru… sabar…," bisik Sakura sambil memeluk sahabatnya itu. Naruto mengambil handphonenya, lalu menelepon kakaknya.
"Assalamu'alaikum, Kak Kiba…," katanya lemah.
"'Kumsalam! Naru! Kamu dimana? Udah liat breaking news tadi?" seru Kiba kalut di seberang sana.
"Udah, kak. Ini Naru mau pulang."
"Buruan ya!"
Klek. Sambungan diputuskan. Naruto lalu menelepon adiknya.
"Assalamu'alaikum, Konohamaru…," sapa Naruto lemah.
"Kak... Ayah... Bunda..."
Konohamaru kedengarannya terguncang sekali. Ia bahkan tidak menjawab salam kakaknya.
"Tunggu kakak ya... kamu di rumah kan? Ini kakak mau pulang."
"Cepetan, Kak. Konohamaru takut...," bisik Konohamaru, lalu menutup teleponnya.
Suasana hening. Sakura, Hinata, Ino, dan Tenten (yang kebetulan sedang ada di situ karena ingin menonton latihan Crossover Bonds) memeluk Naruto. Keheningan itu dipecahkan oleh suara Itachi.
"Naru, semuanya, mobil kita udah siap. Yuk, jalan," kata Itachi. Yang lain mengangguk, mengambil barang-barangnya, lalu berjalan menuju pintu depan.
Naru diam seribu bahasa selama perjalanan. Ia hanya menatap ke luar jendela dengan tatapan hampa. Air matanya terus mengalir. Yang lain hanya bisa meliriknya dengan tatapan cemas.
Lima belas menit kemudian, mereka sampai di kediaman keluarga Namikaze. Mereka disambut oleh Kiba yang panik dan Konohamaru yang shock.
"Naru!" seru Kiba saat Naruto menghambur ke dalam pelukannya. Itachi tersenyum kepada Kiba. Mereka seangkatan.
"Itachi, Hidan, makasih ya, udah nganterin Naru," kata Kiba. Itachi dan Hidan memberikan senyum simpati.
"Nggak pa-pa, kok, Kib. Naru kan temen kita juga," jawab Itachi.
"Oh iya, Naru, Oma sama Opa lagi dalam perjalanan ke sini. Setelah mereka nyampe, kita disuruh ke Istana Merdeka Konoha. Opa Sarutobi bilang, kita nungguin berita tentang Ayah dan Bunda di sana aja," kata Kiba. Naruto hanya mengangguk, sudah tidak mampu berpikir lagi.
"Kak Kiba… kita boleh nemenin Naru sampai Oma dan Opa dateng?" tanya Hinata sopan. Kiba tersenyum.
"Ya boleh dong, masa' nggak boleh. Mungkin kehadiran kalian bisa bikin Naru semangat lagi. Kenapa nggak?" jawab Kiba.
Mereka semua menunggu kedatangan Oma dan Opa Naru di ruang keluarga dalam suasana hening yang menyakitkan. Naru memainkan mug tehnya, pandangannya terlihat hampa. Konohamaru tidak jauh berbeda. Kiba terlihat masih panik, sesekali mencuri pandang ke arah televisi yang masih menyiarkan tentang kecelakaan tersebut. Terlihat bahwa Tim SAR masih mencari letak jatuh, penyebab, dan keadaan korban kecelakaan tersebut.
Sekitar setengah jam kemudian, terdengar suara Suzuki APV berhenti di halaman rumah. Tak lama setelah itu, sepasang kakek nenek menghambur masuk ke dalam rumah.
"Kiba! Naruto! Konohamaru!" seru seorang wanita berambut pirang, berwajah muda dan cantik, dan berwajah sembab saat memasuki ruang keluarga.
"Oma!!" isak Naru, lalu menghambur ke pelukan Namikaze Tsunade, neneknya. Sementara itu, seorang kakek berambut putih memasuki rumah dengan langkah gontai.
"Opa…," kata Kiba, lalu mendekap pria itu. Pria itu membalas dekapannya tanpa kata-kata. Namikaze Jiraiya nampaknya tegar, tapi di dalam hatinya ia sangat panik dan sedih.
"Sepertinya, sudah tidak ada harapan ya, untuk mereka…," kata Jiraiya lambat. Kiba langsung melepaskan dekapannya.
"Opa, jangan pesimistis dulu. Mau bagaimanapun, kita harus tetap berpikir positif dulu, kan…," bantah Kiba.
"Kau persis ayahmu, selalu mengambil sisi positif dalam segala hal…"
Sebuah suara dari arah pintu masuk mengagetkan mereka. Di sana, berdiri orang nomor wahid di Negara Hi, sang presiden, Sarutobi.
Anak-anak Akatsuki megap-megap melihat kedatangan sang presiden. Yang lain sih, biasa saja.
"Ah… Pak Sarutobi." Jiraiya mengampiri Sarutobi, lalu menyalaminya. Mau bagaimanapun, mereka adalah teman lama.
"Kiba, Naruto, Konohamaru… bagaimana keadaan kalian?" tanya Sarutobi ramah. Kiba mencoba tersenyum sopan.
"Beginilah, Opa…," jawabnya klise.
Naruto mengelap matanya dengan tissue yang ada di atas meja. Sarutobi menghampirinya, lalu duduk di sebelahnya.
"Naru jangan nangis dong. Masa' taekwondoin terkuat KIHS nangis sih," canda Sarutobi. Naruto tersenyum kecil.
"Naah, gitu dong. Jangan nangis ya," kata Sarutobi sambil menepuk-nepuk punggung Naruto.
"Ya udah, sekarang kita semua ke Istana Merdeka Konoha yuk, kita nunggu berita terbaru di sana aja. Kita semua, termasuk Akatsuki and the Black Suits Company dan teman-teman Naru," kata Sarutobi sambil tersenyum hangat. Anak-anak Akatsuki kaget bukan kepalang.
"Ba… bagaimana Bapak bisa tau kalau kita ini Akatsuki?" tanya Sasori di tengah kekagetannya. Sarutobi melebarkan senyumnya.
"Kalian pasti belum tahu, saya kan salah satu fans berat kalian."
Semua orang melongo. Satu fakta lagi yang tanpa sengaja mereka dapatkan dari sang presiden nyentrik ini.
"Ayo, semua. Mobil kepresidenan sudah menunggu kita."
SurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstorm
Pukul delapan malam, Istana Merdeka Konoha. Sarutobi menjamu semua tamunya dengan makan malam yang cukup 'wah', sementara ia sendiri tidak ikut dalam perjamuan itu karena masih sibuk dengan kecelakaan tersebut. Beberapa anak Akatsuki yang berasal dari keluarga menengah ke bawah jadi terlihat agak katrok.
"Un… ini apaan, un?" tanya Deidara.
"Itu sop hisit. Sop sirip hiu," jawab Sasuke singkat.
"Hi… hi… hiu?" Kisame terlihat kaget, sedih, dan mual.
"Maaf, saya permisi ke kamar mandi sebentar," katanya sambil berdiri dan berlari ke kamar mandi. Konan cekikikan sendiri.
"Kenapa, Kak Konan?" tanya Tenten heran. Konan nyengir lebar, lalu menjawab pertanyaan Tenten.
"Kamu tau kan, Kisame itu punya penyakit obsesif kompulsif sama hiu?" tanya Konan. Tenten mengangguk.
"Makanya, dia nggak tahan ngeliat hiu dimasak. Apalagi, tadi dia makan sop itu…"
"Oooooh… hahahahaha…"
Sulit dipercaya, di tengah masa sulit begini mereka masih bisa tertawa. Bahkan Naruto, Kiba, dan Konohamaru ikut tertawa mendengar penjelasan Konan tadi.
"Makan yang banyak ya, jangan malu-malu," kata Sarutobi yang melintas di ruang makan.
"Sip, Pak Presiden!!" jawab semua sambil tertawa-tawa.
SurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstorm
Keesokan paginya, pukul delapan pagi. Naruto, Kiba, dan Konohamaru yang izin dari sekolah dan kuliah mereka menatap sarapan mereka dengan tatapan hampa. Sampai saat itu, belum ada berita lebih lanjut tentang orangtua mereka.
Asuma, putra Sarutobi yang menemani mereka dalam sarapan itu, menyadari sikap ketiga anak ini.
"Naru, Konohamaru, Kiba, sarapannya dimakan dong, jangan diliatin aja. Ntar sakit lagi," kata Asuma. Naruto, Konohamaru, dan Kiba tersentak, lalu mulai memakan sarapan mereka.
Tiba-tiba, seorang ajudan memasuki ruang makan dengan tergesa-gesa.
"Maaf mengganggu. Pak Presiden memanggil Anda semua. Kata beliau, ada berita terbaru soal Pak Namikaze," katanya. Naruto, Kiba, dan Konohamaru langsung bangkit dari kursinya. Asuma berdiri sambil menyalakan rokoknya.
Mereka berempat mengikuti sang ajudan tanpa banyak bicara. Wajah Naruto, Kiba, dan Konohamaru tampak cemas sekaligus berharap. Walaupun sebenarnya mereka tahu, harapan itu kemungkinan besar hanyalah harapan kosong belaka.
Mereka sampai di depan pintu ruangan kerja Presiden. Sang ajudan men-scan kornea matanya pada alat yang ada di sebelah pintu. Lalu pintu terbuka secara otomatis. Sang ajudan mempersilahkan Naruto, Kiba, Konohamaru, dan Asuma untuk masuk.
Wajah Sarutobi nampak resah, sedih, dan panik. Oh, dan juga bersalah. Entah kenapa.
"Opa…," lirih Naru. Sarutobi menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak, complicated.
"Ayah… sama Bunda… mereka selamat kan?" Kali ini Konohamaru yang angkat bicara. Sarutobi bangkit dari kursinya, lalu berdiri di hadapan ketiga anak itu.
"Kalian mau yang mana dulu: berita baik atau berita buruk?" tanyanya.
"Terserah Opa," jawab Kiba dengan wajah galau.
"Mungkin sebaiknya berita bagus dulu. Begini, kedua orangtua mereka sudah ditemukan oleh Tim SAR. Berita buruknya…," gantung Sarutobi. Mata Naruto, Kiba, dan Konohamaru melebar.
"Mereka… ditemukan dalam keadaan sudah meninggal…"
Air mata ketiga anak itu sudah tidak bisa dibendung lagi. Mereka berpelukan, dan tenggelam dalam isakan.
"Ayah… Bunda…," lirih Naruto. Air matanya mengucur deras.
"AYAH!! BUNDA!!" raungnya keras, lalu tiba-tiba limbung dan terjatuh.
"Astaghfirullah!" pekik Kiba sambil memegangi adiknya itu. Agaknya, karena shock dan kesedihan yang terlewat besar, Naruto tidak tahan dan akhirnya pingsan.
"Panggilkan ambulans!" seru Sarutobi. Ajudannya langsung mengambil walky-talky-nya dan memanggilkan ambulans.
"Kak Naru!!" pekik Konohamaru cemas. Raut ketakutan di wajahnya jadi tambah terlihat.
Atmosfir duka di ruangan itu semakin bertambah. Sungguh tragis peristiwa yang menimpa keluarga itu. Dalam sekejap, mereka kehilangan dua orang yang sangat disayangi dan dikasihi. Suasana riang gembira dalam hati Naruto, Kiba, dan Konohamaru berubah drastis hanya dalam waktu dua puluh empat jam. Menyedihkan.
TBC...
SurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstorm
HYEAH!! KONFLIK PERTAMA MUNCUL!! HYEEEEEEEAAAAAAAH!! – digeplak –
Oia, minna, saia mau minta maaf yang sebesar-besarnya soal fanfic-fanfic saia yang dulu-dulu, yang CrushCrushCrush, Kumon Konoha, dan And Love Will Never Go. Sepertinya... fic-fic itu terancam tidak akan pernah dilanjutkan lagi... untuk selamanya TTTT. Jadi saia minta maap yang segede-gedenya buat semua orang yang menunggu kelanjutan fic-fic itu. Saia bener-bener stuck untuk ngelanjutin fic-fic itu. Sebaliknya, saia memutuskan untuk konsisten melanjutkan fic ini dulu.
Oia, minna, banyak scene di fic ini yang diambil dari kehidupan nyata saia lho(contoh: teriakan 'aus' yang biasa diteriakkan setelah menendang target taekwon pada hitungan kesepuluh). Sifat-sifatnya Naru juga, beberapa diambil dari sifat saia (bandel, suka tidur di kelas, suka teriak-teriak) XD. Trus, sifat slebornya Kakashi sebagai seorang sabeum itu diambil dari slebornya Sabeum saia, hehe – dilempar sampe ke Arktik sama Sabeum –.
Yasudd, minna-san, ripiu tetep ditunggu lho! Chapter berikutnya insya allah saia apdet kira-kira minggu depan. Keep read and review, ok!!
Ingat, ripiu anda sangat mempengaruhi semangat saia dalam melanjutkan cerita ini. okeiihh??
Pis, lop, en gambreng,
PuTiLiciOUs.
