Survivors in the Snowstorm
Aloha, minna-san!! The third episode of SitS is hereeee!! Again, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya buat semua orang yang membaca dan mereview fanfic ini. Arigatou gozaimatsu!!
Disclaimer: Naruto - Kishimoto-sensei, and lyrics here - Avril Lavigne, White Shoes and the Couples Company.
Episode #3. Their Sadness
Hari itu adalah hari yang kelam. Sangat kelam. Awan hitam menggantung di troposfer, menghalangi sinar mentari untuk sampai di litosfer. Sama seperti kesedihan yang menghalangi kebahagiaan seluruh penghuni Negara Hi.
Seluruh stasiun televisi menyiarkan berita itu. Selalu berita itu. Diulang-ulang. Terus menerus. Begitupun dengan seluruh stasiun radio, bahkan radio-radio anak muda, yang memutarkan lagu-lagu mellow, deep, dark, gloomy, untuk menghormati kepergian mereka. Kepergian sepasang suami istri yang sangat berpengaruh di Negara Hi. Suami istri Namikaze.
Pagi ini, jenazah mereka sampai di Negara Hi, dan diusahakan untuk dimakamkan secepatnya. Ajaibnya, jenazah mereka, meskipun diperkirakan sudah berada di tengah samudera selama semalam, tetap utuh dan bagus seperti jenazah orang yang meninggal di darat, bukan di tengah samudera.
Rakyat dan para petinggi negara boleh merasa sedih, namun tak ada orang yang bisa menandingi kesedihan di dalam hati ketiga buah hati kedua suami istri itu. Kiba, meskipun matanya sudah tidak meneteskan air mata lagi, merasakan perasaan yang bercampur aduk di dalam benaknya, yang terdiri atas kesedihan, kemarahan, dan ketakutan. Kesedihan, kita semua tahu apa sebabnya. Tidak mudah untuk tidak menangisi kepergian orang yang sangat kita sayangi, bukan? Kemarahan, karena Kiba menganggap Tuhan mengambil kedua orangtuanya terlalu cepat. Ia marah, menganggap Tuhan tidak adil kepadanya. Ketakutan, karena ia merasa ia belum sanggup untuk diserahi jabatan kepala keluarga, sang pemimpin keluarga Namikaze yang harus bertanggung jawab atas kedua adiknya.
Naruto, yang masih di atas kursi roda karena kondisinya yang drop hanya dalam semalam, hanya menatap kosong ke depan. Entah memikirkan apa, tiada yang tahu. Kedua matanya nampak sembab. Wajahnya pucat. Rambutnya kusut masai.
Nampaknya baru Konohamaru yang benar-benar bisa merelakan kepergian kedua orangtuanya. Wajahnya sudah nampak tenang lagi, tidak sekacau tampang kedua kakaknya. Persis dengan pembawaan Minato yang mampu mengontrol perasaannya.
Jiraiya dan Tsunade, dua Namikaze senior, sama seperti Konohamaru, sudah bisa merelakan kepergian putra putri mereka. Mereka hanya masih resah dengan kondisi psikis kedua cucu mereka. Yang paling mereka khawatirkan, tentu saja, Naruto.
Sarutobi, seperti Jiraiya dan Tsunade, juga mengkhawatirkan kondisi psikis Naruto dan Kiba. Berulang kali ia berusaha menghibur Kiba dan Naruto. Kiba mungkin masih bisa tersenyum, tetapi Naruto hanya bisa memberikan tatapan yang sarat dengan kesedihan.
Semua sahabat Naruto berkumpul di Istana Merdeka Konoha, dengan izin khusus dari Sarutobi. Mereka duduk di dekat Naruto, dan sama seperti Sarutobi, mereka berusaha keras untuk menghibur Naruto. Agaknya, usaha mereka itu sia-sia.
Pukul sembilan pagi, mereka berangkat menuju rumah duka yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Istana Merdeka Konoha. Gerimis mulai turun.
Kiba turut membantu memandikan jenazah kedua orangtuanya. Di benaknya, terbayang semua kenangan indah bersama mereka. Mulai dari saat ia kecil, sampai sekarang. Naruto dan Konohamaru, bersama para pelayat, sedang mengaji.
Tangan Naruto sedikit bergetar saat ia membaca setiap ayat yang ada di mushaf Qur'an miliknya. Mushaf bersampul putih, berukuran kecil (muat masuk kantong baju), dan asli dari Saudi Arabia itu adalah kado ulang tahunnya yang ketiga belas, yang kebetulan terjadi saat mereka sekeluarga sedang umrah di kota suci Mekah. Minato dan Kushina memberikan mushaf itu, dengan harapan bahwa Naruto akan selalu ingat agama dalam situasi apapun.
Setengah jam kemudian, jenazah Minato dan Kushina yang sudah selesai dimandikan dan dikafani dibawa ke ruang tengah rumah duka, tempat orang-orang mengaji tadi.
Naruto dan Konohamaru gemetaran melihat jenazah kedua orangtua mereka terbujur kaku di hadapan mereka. Meskipun begitu, mereka berusaha keras untuk tidak menangis.
Damai. Sangat damai. Itulah kesan yang Naruto tangkap dari wajah kedua orangtuanya. Ekspresi wajah mereka sangat tenang, sehingga mereka bisa disangka sedang tertidur, bukannya sudah tiada lagi. Naruto tersenyum pahit menatap jenazah kedua orangtuanya.
Ayah, Bunda, benar ya… batas antara kehidupan dan kematian itu dekat… sekali… batin Naruto.
Baru dua hari yang lalu kita sarapan sambil tertawa-tawa, bercanda ria. Rasanya sangat normal. Tapi sekarang… Ayah dan Bunda sudah beda dunia sama Naru. Cepat sekali… batin Naruto lagi.
Naruto tersentak. Ia baru ingat, sebelum orangtuanya pergi ke bandara, mereka berpesan kepada ia, Kiba, dan Konohamaru.
Flashback
"Baik-baiklah kalian di sini. Jangan lupa shalat lima waktu. Makan yang teratur. Belajar yang rajin, supaya kalian bisa mengejar mimpi-mimpi kalian. Bertemanlah dengan orang yang bisa menjadikan diri kalian semakin baik, bukan semakin buruk. Berbaktilah kepada Opa dan Oma. Jaga kesehatan, makan yang teratur, jangan lupa olah raga," pesan Minato.
"Tumben Yah, pesannya panjang banget," komentar Naruto. Minato tersenyum.
"Soalnya, ini kan dinas Ayah yang terakhir," kata Minato. Naruto menatap Minato dengan tatapan tidak mengerti.
"Ini juga terakhir kalinya Bunda nemenin Ayah dinas loh. Oh iya, kalian harus selalu ingat kalimat yang dikatakan Arai di buku Edensor ini: bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu. Bunda tahu kalian punya banyak mimpi. Berusahalah merealisasikan mimpi-mimpi itu, oke!" tambah Kushina.
"Ayah sama Bunda kenapa sih, ngomongnya kayak udah mau pergi jauh aja…," kata Konohamaru.
"Soalnya, kami emang mau pergi jauh."
End of Flashback
Naruto tersentak lagi. Seharusnya ia sudah menyadari arti ucapan Minato dan Kushina. Apalagi sewaktu ia kesetrum mic di rumah Sasuke. Seharusnya ia sudah tahu bahwa kedua orangtuanya akan meninggalkannya.
"Ya ampun, bahkan Ayah dan Bunda sendiri sudah tahu…," lirih Naruto. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku bodoh sekali, batinnya.
"Naru…," panggil Kiba. Naruto tersentak.
"Kenapa, Kak?"
"Shalat jenazah... mau ikut nggak?" tanya Kiba. Naruto mengangguk. Hinata mendorong kursi roda Naruto menuju masjid. Sampai di masjid, Naruto – dibantu Hinata dan Sakura – mengambil air wudhu, lalu memakai mukena putihnya.
Karena masih belum bisa berdiri dengan stabil, maka Naruto shalat di atas kursi rodanya.
Imam shalat jenazah itu, ulama muda terkenal Konoha, Ustadz Shiranui Genma (asli nggak ada ide lagi), memulai shalat jenazah.
Bagi Naruto, rasanya empat takbir dalam shalat jenazah itu tidaklah cukup untuk kedua orangtuanya. Mereka orang yang benar-benar hebat. Rasanya Naru ingin memberikan jutaan takbir untuk mereka. Naru pernah membaca, ada seorang sahabat Rasulullah SAW yang ketika meninggal diberikan lebih dari empat takbir oleh Rasulullah SAW. Naru ingin orangtuanya seperti itu juga. Namun, apa daya. Naru hanyalah seorang manusia biasa, yang tidak memiliki kuasa untuk melakukan hal tersebut.
Gerimis masih belum berhenti. Alam seakan menangisi kepergian Minato dan Kushina. Jiraiya dan Tsunade berkeras ingin memakamkan putra putrinya sekarang juga, jadilah pemakaman itu dilaksanakan.
Rencananya, Minato dan Kushina akan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Konohagakure. TPU tersebut adalah TPU yang berisi makam rakyat biasa, bukan makam kaum 'atas'. Ini permintaan Minato sendiri. Agaknya, ia ingin tetap dekat dengan rakyat, bahkan sampai di peristirahatan terakhirnya.
TPU Konohagakure berada tidak terlalu jauh dari rumah duka tersebut. Rombongan berjalan ke sana.
(Backsound: My Chemical Romance – Ghost of You)
Naruto – yang kursi rodanya didorongkan oleh Hinata, dipayungi oleh Ino, dan didampingi oleh Sakura dan Tenten – berada di urutan paling depan. Di pangkuannya, nampak sebuah pigura berisikan foto Minato dan Kushina. Wajahnya sudah terlihat lebih kuat dan tegar.
Kiba, Sasuke, Itachi, dan Sasori memanggul keranda Minato, sementara Kisame, Neji, Lee, dan Kankurou memanggul keranda Kushina. Tubuh mereka dibasahi hujan, namun mereka nampak ikhlas.
Ustadz Genma kembali memimpin pemakaman. Beliau membacakan do'a untuk Minato dan Kushina. Kiba, Naruto, dan Konohamaru mendengarkan dengan khusyuk. Sesekali Naruto mengelap ujung matanya dengan ujung jilbab hitamnya. Namun, wajahnya nampak jauh lebih ikhlas.
Doa selesai. Jenazah diturunkan ke liang lahat. Kiba turut membantu, ikut turun ke liang lahat. Jenazah ditutupi dengan papan. Para pengubur naik ke atas. Tanah diurug. Nisan ditancapkan.
Ayah, Bunda, selamat tidur… semoga kalian terhindar dari siksa kubur, amin..., batin Naruto.
Seiring dengan melebatnya hujan, jumlah orang-orang di TPU makin berkurang, termasuk para wartawan yang meliput sejak tadi. Akhirnya, yang tersisa hanyalah Naruto, Kiba, Konohamaru, Tsunade, dan Jiraiya. Mereka menaburkan bunga di kuburan Minato dan Kushina. Naruto turun dari kursi rodanya, dan perlahan berlutut di depan nisan kedua orangtuanya sambil meletakkan dua buah karangan bunga matahari dan mawar.
"Ayah pernah bilang, bunga favorit ayah itu bunga matahari. Soalnya, bunga matahari itu indah, tinggi, besar, dan bermanfaat. Bijinya kan bisa dimakan. Sementara itu, Bunda suka bunga mawar. Indah, tetapi tangguh karena duri-durinya," kata Naruto perlahan.
Ayah, Bunda, semoga kalian bisa menjawab semua pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir, ya… semoga selamat di alam kubur sana… batin Naruto.
"Rabbigfirlī waliwālidayya warhamhumā kamā rabbayāni sagīra… rabbanā ātinā fiddunyā hasanah, wafil ākhiratī hasanah, waqinā adzābannār…," Kiba, Naruto, dan Konohamaru bersama-sama mengucapkan doa untuk orangtua.
"Amin," sahut mereka semua.
"Yuk. Hujannya udah deras," ajak Jiraiya. Yang lain mengangguk, lalu mengikuti langkahnya. Naruto menolak memakai kursi roda. Ia sudah cukup kuat untuk berjalan. Ia berada di urutan paling akhir.
Satu…
Dua…
Tiga…
Empat…
Lima…
Enam…
Tujuh…
Good luck, Mom, Dad. Have a nice dream…, batin Naru3.
SurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstorm
Tiga hari setelah pemakaman Minato dan Kushina. Studio pribadi milik keluarga Uchiha. Namikaze bersaudara, Crossover Bonds, Akatsuki, dan 'pernak-pernik'-nya sedang berkumpul di sana. Niatnya sih, Crossover Bonds mau latihan.
"Jadi, Naru…," suara Neji memecah keheningan, "Kita latihan?"
Naruto mengangguk.
"The show must go on," katanya. Yang lain mengangguk setuju. Sakura tersenyum. Dalam tiga hari ini, Naruto berhasil bangkit dari keterpurukan. Semangat hidupnya lebih terasa.
Anak-anak Crossover Bonds mengambil posisi masing-masing. Naruto bersiap di upright piano hitam milik keluarga Uchiha.
"Avril Lavigne ya. Slipped Away," pinta Naru. Yang lain mengangguk, menyetujui.
Jemari Naruto bergerak, memainkan intro Slipped Away. Suasana sendu langsung terasa, padahal baru intro yang dimainkan.
"Dedicated to our beloved parents… hope you're well there, Mom, Dad…," ucap Naru sambil terus memainkan intro Slipped Away. Naru lalu menyanyikan bait pertama.
I miss you
Miss you so bad
I won't forget you
Oh it's so sad
Masuk ke pre-chorus, suasana jadi semakin senyap, sendu, dan syahdu.
I hope you can hear me
Cause I remember it clearly
Masuk chorus. Konan tidak bisa menahan air matanya. Ia menangis di bahu Pein.
The day you slipped away
Was the day I found it won't be the same
Oh
Kiba menunduk, mengenang kedua orangtuanya. Semua kenangan manis dan pahit yang mereka alami bersama. Di saat-saat kedua orantuanya bertengkar, dan akhirnya damai lagi.
I didn't get around to kiss you
Good bye on the hand
I wish that I could see you again
I know that I can't
Oh
Konohamaru menangis lagi. Hinata yang penyabar membelai-belai punggungnya.
I hope you can hear me
Cause I remember it clearly
The day you slipped away
Was the day I found it won't be the same
Oh
Tanpa disadari, air mata Naruto mengalir. Namun, suaranya sama sekali tak terganggu.
I had my wake up
Won't you wake up
I keep asking why
And I can't take it
It wasn't fake
It happened you passed by
Now you're gone, now you're gone
There you go, there you go
Somewhere I can't bring you back
Now you're gone, now you're gone
There you go, there you go
Somewhere you're not coming back
Suara Naruto tetap mulus saat berada di nada tinggi. Mengagumkan.
The day you slipped away
Was the day I found it won't be the same
The day you slipped away
Was the day I found it won't be the same
Oh…
Air mata Naru, Kiba, Konohamaru, dan Konan membanjir. Untung lagu sebentar lagi berakhir.
I miss you...
Applaus meriah diberikan oleh para penonton. Naruto mengelap air matanya.
"Sial. Gue nangis. Siaaal. Gue kan udah janji nggak bakal nangis lagi," ujarnya sambil menenangkan diri. Konan, yang sudah dapat menenangkan dirinya, berdiri.
"Akatsuki mau sumbang satu lagu buat Naruto, Kiba, dan Konohamaru. Boleh kan?" tanyanya pada Naruto. Naruto tersenyum, lalu mengangguk.
"Ayo, guys. Kita hibur ketiga anak ini," ajak Konan. Anak-anak Akatsuki langsung bangkit, dan mengambil posisi.
Intro sebuah lagu terdengar. Senandung Maaf.
Senandungkan
lagu ini
Atas rindu di hati
Berlutut di lantai bumi
Bersedih
menyepi
Toreh kisah, senandung kasih
Maafkan tuan, aku berjanji
Tak mau menuai murka
Untukmu, oh kawan
Berbisik di dalam hati
Kumohon maafkan
Berbagi peluh menuju cita
Daku membasuh keringat duka
Merpati di atas dahan
Menyusun sarangnya
Kukembalikan hatimu
Seperti semula
Menghapus kelabu, langit jingga
Meniti lagu, menyemat suka
Anak-anak Akatsuki menunjukkan kepiawaian bermusik mereka dalam lagu indah ini. Konan sesekali melempar senyum dan pandangan berarti ke arah Naru dan yang lain.
Gelombang nestapa
Gelombang nestapa
Gelombang nestapa kuharap sirna
Oh…
Gelombang nestapa
Gelombang nestapa
Gelombang nestapa kuharap sirna
"Yah, dengan berakhirnya lagu ini… kami harap kesedihan dan nestapa Naru, Kiba, dan Konohamaru juga sirna dan berakhir…," ucap Konan, diiringi oleh outro lagu tersebut. Yang lain mengamini. Naruto tersenyum.
"Insyaallah, Kak Konan. Insyaallah."
TBC…
SurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstorm
Minna, jangan cemas… konflik di fic ini nggak cuma satu… kukukukuku…
Jujur aja saia bingung mau bilang apa. Lagi eror, sih. Ehehehe.
Pesan khusus buat Fire Flamer-san: thanks berat buat sarannya. Tolong setiap chap baru fic ini diripiu ya. saia pengen tau perkembangan menulis saia menurut anda. Cheers.
Yang lain, seperti biasa, ripiu ditunggu. Okeyyh!!
Cheers,
PuTiLiciOUs.
SurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstorm
KETERANGAN
3. Maksudnya si Naru ngitung langkahnya gini lho… katanya, saat pengantar jenazah terakhir meninggalkan kuburan sebanyak tujuh langkah, maka jenazah akan ditanyai oleh malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur. Orang yang mampu menjawab pertanyaan itu adalah orang yang amalnya baik. Dalilnya sih ada, tapi saia lupa, hehehe. Ada yang mau Bantu kasitau?
