Survivors in the Snowstorm

Survivors in the Snowstorm

Hola Minna… sebelumnya saia minta maaf gara-gara ngapdetnya lama, gara-gara sibuk ngurusin rumah en sekolah.

Disclaimer: Naruto masih punya Kishimoto-sensei, lagu Rehab punya Amy Winehouse, Pressure punya Paramore.

Episode #5. Rehab and Revenge

Awalnya sulit bagi Naruto untuk mempercayai hal ini, meskipun ia telah mencurigai hal ini akan terjadi. Namun saat ia melihat hal ini dengan kedua bola matanya sendiri, mau tak mau ia harus mengakui hal ini terjadi.

Kakaknya memakai narkoba. Kecurigaannya selama ini terbukti. Kakaknya yang dulu alim dan jauh dari narkoba sekarang justru jadi berandalan dan memakai narkoba. Naruto yakin, kedua orangtuanya pasti juga sedang menangis di alam sana.

Naruto benar-benar kecewa. Ia kecewa pada kakaknya, dan pada dirinya sendiri. Ya, dirinya sendiri. Naruto menganggap dirinya gagal mencegah Kiba untuk tidak menyentuh dunia gelap itu. Naruto menghabiskan malam itu untuk menangis dan mengutuki diri sendiri, sementara di sebelahnya ada Kiba yang tertidur lelap, mungkin salah satu efek narkoba yang dipakainya. Efek heroin selalu berbeda-beda, tergantung kepada kandungannya. Adik, kakek, dan neneknya mungkin juga sedang menangis di kamar masing-masing.

Naruto melirik jam. Pukul satu pagi. Dua jam sudah ia menangis di sini. Naruto beringsut meninggalkan Kiba, lalu berjingkat menuju mushalla. Ia lalu mengambil air wudhu. Sekembalinya dari mengambil air wudhu, ternyata ia tak sendiri.

"Lho, Naru, belum tidur," sapa Jiraiya parau. Naruto menggeleng.

"Naru pengen shalat tahajud, Opa," sahutnya.

"Berjamaah sama Opa aja. Opa juga mau shalat tahajud," ajak Jiraiya. Naruto mengangguk. Jiraiya lalu mengambil air wudhu, sementara Naruto memakai mukenanya.

Tanpa banyak bicara, Jiraiya memulai shalat tahajud dua rakaat. Lalu dilanjutkan dengan shalat witir tiga rakaat. Setelah shalat, mereka berdua berdoa dalam hati, memanjatkan doa yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Kira-kira pukul tiga Naruto menyudahi doa dan zikirnya. Ia melepas mukenanya, melipatnya, menyalami kakeknya, lalu naik lagi ke lantai dua. Semua ia lakukan tanpa bicara.

Ketika akan masuk kamar, langkah Naruto terhenti. Ia melirik ke kamar Kiba. Kiba masih tertidur pulas dengan posisi yang sama. Naruto lalu menutup pintu kamarnya, dan masuk ke kamar Kiba. Tanpa suara ia membereskan kamar Kiba yang sangat berantakan. Botol-botol heroin kosong, suntikan-suntikan bekas, dan beberapa kertas alumunium – mungkin bekas shabu atau kokain – yang berserakan dimasukkannya ke dalam tempat sampah. Kain yang melilit tangan kiri Kiba ia lepaskan, dan suntikan yang ada di tangan kanan Kiba ia buang.

Naruto beringsut menuju kasur Kiba, dan mengambil selimut. Ia duduk di samping Kiba, menyelimuti Kiba dan dirinya sendiri.

Naruto bersandar di bahu kakaknya itu sampai tertidur. Tanpa sadar, kepala Kiba terkulai lemas, dan bersandar di kepala Naru. Jika kau melihat pemandangan ini, aku yakin kau pasti akan tersentuh melihatnya.

SurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstorm

Kelopak mata Kiba perlahan-lahan terbuka. Perlahan-lahan, sambil mengumpulkan nyawanya ia mengangkat kepalanya. Ia terkejut saat melihat sosok pirang di sebelahnya.

"Naru…," bisik Kiba. Mata Kiba langsung mencari-cari botol heroin dan suntikan yang tadi dipegangnya. Nampak oleh matanya, tempat sampah yang ada di pojok kamarnya penuh. Naruto pasti sudah membuang benda-benda itu.

Sial. Naru pasti udah tau kalau gue make, batin Kiba geram. Ia berusaha menyingkirkan kepala Naruto dari bahunya, namun karena ia masih agak lemah, menyingkirkan kepala gadis itu rasanya sulit sekali. Akhirnya Kiba menyerah dan membiarkan Naruto bersandar di bahunya.

Kiba menggigil. Mungkin karena ia belum memakai heroin sejak terbangun. Lagi-lagi, ia berusaha menyingkirkan kepala Naruto dari bahunya. Kali ini ia berhasil mengangkat kepala Naruto. Namun, tindakannya itu membuat Naruto terbangun.

"Nnnn… Kakak…," gumam Naruto sambil perlahan membuka matanya. Kiba mendengus.

"Ngapain lo masuk-masuk kamar gue? Pake acara tidur di sini lagi! Sana, keluar!" bentak Kiba kasar. Naruto terperanjat. Matanya langsung terbuka lebar.

"Shit. Elo ternyata emang udah gak waras," umpat Naruto. Tanpa banyak cincong, ia langsung menyeret Kiba ke kamar mandi pribadi Kiba dengan tenaga kudanya.

"Hei! Hei! Gue mau dibawa kemana??" seru Kiba memberontak. Naruto tidak menjawab pertanyaannya, dan terus menyeretnya ke kamar mandi.

"NIH! BIAR MATA LO KEBUKA!" raung Naruto sambil menyiram Kiba dengan seember air dingin. Byuur! Seluruh tubuh Kiba basah kuyup. Kiba menggigil hebat.

"APA-APAAN SIH LO?" raung Kiba. Naruto menatapnya dengan tatapan dingin, lalu menyiramnya lagi dengan seember air dingin.

Plakk! Tangan Naruto menampar pipi Kiba. Kiba tidak melawan, mungkin karena masih gelagapan setelah disiram Naruto.

"DASAR IDIOT! NGAPAIN LO PAKE ACARA MAKE NARKOBA, HAH?" Naruto muntab. Kiba menggigil hebat, kedinginan. Disiram dengan air yang sudah semalam didiamkan di ember pada pukul empat pagi rasanya memang seperti diguyur air es.

Jiraiya, Tsunade, dan Konohamaru tergopoh-gopoh memasuki kamar Kiba. Mereka tercengang melihat Naruto mengamuk dan Kiba menggigil basah kuyup.

"Sudah, sudah… Naru, sudah…," Jiraiya mencoba meredakan suasana.

Plakk! Naruto menampar Kiba lagi. Mata birunya dipenuhi dengan kemarahan.

"Untung gue masih sayang sama lo, kalau nggak… mungkin elo udah nggak napas lagi sekarang," desis Naruto marah, lalu beranjak meninggalkan kamar mandi tanpa memperdulikan kakek, nenek, dan adiknya.

SurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstorm

Tsunade perlahan mengetuk pintu kamar Naruto. Sejak dua jam yang lalu, Naruto belum keluar dari kamarnya.

"Naru… boleh Oma masuk?" tanya Tsunade.

"Masuk aja, Oma," balas Naruto dari dalam kamar. Suaranya terdengar biasa saja, seperti tidak ada yang terjadi. Tsunade menghampiri Naruto yang sedang mengutak-atik komputernya.

"Lagi ngapain, Naru?" tanya Tsunade sambil duduk di kursi di samping Naruto.

"Ini Oma, lagi nyari tempat rehab yang bagus," jawab Naruto tanpa melepaskan pandangannya dari layar monitor komputer.

"Rehab?" tanya Tsunade heran.

"Iya, rehab. Buat Kak Kiba," jawab Naruto lagi, masih tidak melepaskan pandangannya dari layar monitor. Tatapan mata dan nada suaranya serius sekali. Tsunade memutuskan untuk tidak menanyai Naruto lagi.

"Nah," kata Naruto setengah jam kemudian. Tsunade yang sudah setengah tertidur terbangun.

"Kenapa, Naru?" tanya Tsunade.

"Ini, udah ketemu tempat rehab yang pas buat Kak Kiba, di Pusat Rehabilitasi The Better Life. Letaknya nggak jauh dari sini, masih di Konoha juga. Setahu Naru, beberapa artis pemakai yang masuk sini keluarnya udah nggak ketergantungan sama narkoba lagi. orang-orang udah mengakui kalau tempat rehab ini bintang lima buat ukuran sebuah tempat rehab," jelas Naruto panjang lebar. Tsunade tersenyum tipis.

"Biar Oma panggil Opa dulu," kata Tsunade sambil beranjak pergi. Naruto hanya mengangguk, lalu meneruskan kegiatannya.

"Gimana, Naru? Apa rencanamu?" tanya Jiraiya sambil duduk di kursi di sebelah Naruto.

"Gini Opa, Kak Kiba kita masukin ke rehab aja. Naru udah nemuin tempat yang pas buat Kak Kiba, di The Better Life." Naruto menjelaskan seluruh rencananya kepada kakeknya. Jiraiya senang mendengar rencana Naruto, namun dahinya berkerut.

"Anu, Naru… di tempat rehab ini ada pendidikan agamanya nggak?" tanya Jiraiya.

"Ada, Opa. Pendidikan agamanya disesuaikan sama agama pasien," jawab Naruto. Jiraiya tersenyum.

"Tunggu apa lagi? Ayo bawa Kiba ke sana!"

SurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstorm

Naruto menghubungi pihak The Better Life. Naruto menjelaskan duduk perkaranya, dan yang paling utama, mempertanyakan apakah keberadaan Kiba di tempat rehab itu bisa dirahasiakan.

Dan ternyata bisa. Masalah seperti ini sudah biasa dihadapi pihak The Better Life. Banyak orang yang ternyata pernah 'menginap' di tempat rehab tersebut.

Masalah dengan pihak The Better Life beres. Tinggal masalah dengan Kiba. Saat dihampiri oleh Naruto, Kiba menatapnya dengan marah dan berteriak sengit, "Gue mau diapain, hah?"

"Dibenerin. Mulai hari ini, elo gue titipin di tempat Rehab," sahut Naruto singkat, padat, dan jelas.

"WHAT?? REHAB??"

They tried to make me go to rehab, but I said 'no, no, no'

Yes I've been black but when I come back you'll know, know, know

I ain't got the time and if my daddy thinks I'm fine

He's tried to make me go to rehab but I won't go go go

"NGGAK MAU!!" raung Kiba histeris. Naruto jengkel lagi atas kelakuan Kiba.

"ELO HARUS MASUK REHAB! TITIK!" bentak Naruto.

I'd rather be at home with Ray

I ain't got seventy days

Cause there's nothing

There's nothing you can teach me

That I can't learn from Mr. Hathaway

Kiba bangkit, memelototi adiknya. Naruto balas memelototi kakaknya. Yak, adu melotot dimulai.

"Gue mau di rumah aja," kata Kiba tegas.

"Di rumah? Elo pikir gue percaya, lo bisa bebas dari narkoba kalau elo di rumah aja, tanpa ada orang yang ngawasin lo? Bisa aja lo masih ngumpetin barang haram itu di sini!" bantah Naruto tajam.

"Nggak percayaan banget sih!"

"Elo sendiri yang bikin gue jadi nggak percayaan! Siapa suruh pake narkoba?!"

"Aaaargh! Cerewet!! Mulut lo tuh, harus diblokir!"

"Eh, mulut lo yang harusnya diblokir!"

"Udah! Udah! Naru! Kiba! Jangan berantem dong!" lerai Jiraiya tegas. Naruto membuka mulutnya, hendak membantah, namun kemudian mengurungkan niatnya. Wajahnya merah padam. Kiba yang mulai sakaw menggigil lagi sambil mendelik ke arah Naruto.

"Kita antar Kiba secepatnya. Kelihatannya dia mulai sakaw. Naruto, mandi. Lakukan apa yang sudah kita siapkan tadi. Kiba, kamu mandi juga. Opa akan mengawasi kamu, jadi jangan pernah coba-coba kabur," tegas Jiraiya. Naruto menurut, lalu kembali ke kamarnya.

Jiraiya memelototi Kiba, yang langsung memutar bola matanya.

"Iya… Kiba nurut juga deh…"

SurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstorm

Naruto menutup pintu mobil Sedan Charade tua milik ayahnya. Ia melirik ke arah sopirnya, lalu menengok ke belakang dimana Kiba dan Jiraiya berada.

"All set, Grandpa?" tanyanya.

"Yes, Lady Namikaze," jawab Jiraiya sambil meledek Naruto. Naruto terkekeh, lalu memberikan instruksi pada sopirnya.

"Jalan, Pak."

Siang itu, sekitar pukul dua siang, Naruto dan Jiraiya mengantar Kiba ke The Better Life. Mereka sengaja menggunakan mobil tua agar tidak dikenali oleh masyarakat. Naruto sendiri merubah habis-habisan penampilannya.

Rambut pirang panjangnya disemprot dengan cat rambut semprot warna hitam, lalu ia memakai soft lens warna hijau. Rambut hitam itu lalu dikepang dua. Naruto memakai kaus bernuansa girly berwarna pink, rok panjang warna cokelat muda, flat shoes pink, dan juga sebuah kacamata berbingkai kotak sebagai pelengkap. Ia terlihat benar-benar berbeda. Gayanya yang sebelumnya tomboy, sekarang menjadi nerdy. Ini dilakukan karena penampilan Naruto benar-benar mencolok dengan rambut pirang menyala dan mata biru langit yang atraktif.

Jiraiya juga menyamar. Rambut putih panjangnya disembunyikan di balik wig warna hitam yang dihiasi sedikit warna putih. Coretan merah di wajahnya dihapus.

Kiba, sang objek utama, juga sedikit disamarkan. Rambut cokelatnya disemprot hitam juga. Gambar taring di pipinya juga dihapus. Kiba tidak terlalu disamarkan karena ia tidak terlalu dikenal banyak orang. Yang paling dikenal tentu saja Naruto.

Di perjalanan, semua orang diam seribu bahasa. Naruto menyetel CD Paramore, All We Know is Falling.

Naruto memejamkan mata saat lagu 'Pressure' diputar. Setiap kata dihayati dalam hatinya.

I can feel the pressure

It's getting closer now

We're better off without you

I can feel the pressure

It's getting closer now

We're better off without you

Tekanan yang ia rasakan belakangan ini, semenjak kedua orangtuanya meninggal memang semakin memuncak. Tekanan utama karena kesedihan dan shock, ditambah dengan tekanan karena media terus-menerus mengejarnya untuk mengorek fakta dari bibirnya, plus tekanan karena masalah Kiba nyaris meruntuhkan tembok pertahanan dirinya.

Tadi pagi setelah mengamuk di kamar Kiba, Naruto mengurung dirinya di kamar. Saat matanya menatap cutter yang tergeletak di atas meja belajarnya, Naruto tergoda untuk mengambil benda itu, lalu menggoreskannya di pergelangan tangannya, membelah arteri dan vena-nya. Membayangkan darahnya mengalir keluar bersama masalah yang menghadangnya memang menyenangkan, sekaligus mengerikan. Untunglah Naruto berhasil menahan dirinya bunuh diri.

Suigetsu dan Karin.

Entah mengapa, kedua nama itu mendadak melintas di benak Naruto. Kemarahannya kembali bangkit, namun ia berusaha keras agar tidak meledak marah.

Suigetsu dan Karin. Dua orang yang telah menghancurkan hidup kakaknya dan hubungan kakaknya dengan hampir semua orang. Dua orang yang brengsek. Dua orang yang ingin Naruto hajar sampai mati. Dan Naruto sudah menyusun rencana untuk mereka berdua.

"Naru, udah sampai," panggil Jiraiya, menyadarkan Naruto dari lamunannya.

"Oh, iya, Opa," balas Naruto.

Resepsionis The Better Life adalah seorang wanita yang sangat ramah. Ia langsung menyapa Naruto saat Naruto menghampirinya.

"Siang, Mbak. Selamat datang di The Better Life. Ada yang bisa saya bantu?" sapanya ramah. Naruto tersenyum.

"Ini Mbak, tadi saya udah booking satu tempat di sini, atas nama…," Naruto merendahkan suaranya, "Namikaze Kiba. Apa semuanya udah disiapkan?"

Sang Resepsionis tersenyum ramah, sekaligus kasihan.

"Mbak pasti Naruto," tebaknya dengan suara peralahan. Naruto nyengir, salah tingkah. "Semua sudah saya siapkan, kok. Mas Kiba nanti akan diterapi secara rutin oleh Dokter Shizune," sambung Sang Resepsionis.

"Tunggu… Dokter Shizune, Uchiha Shizune?" tanya Naruto terkejut. Sang Resepsionis mengangguk.

"Mbak kenal sama Dokter Shizune?" tanya Si Resepsionis.

"Kenal lah… kan keponakannya, Uchiha Sasuke, sahabat saya…," jawab Naruto.

Kira-kira sepuluh menit kemudian, seorang wanita cantik berumur tigapuluhan, berambut dan bermata hitam, menghampiri mereka.

"Siang," sapa wanita itu. "Perkenalkan, saya Dokter Uchiha Shizune. Orang yang akan mengurus Kiba selama beberapa waktu kedepan," ujarnya sambil menjabat tangan Naruto dan Jiraiya. Nampaknya, ia tidak sadar bahwa ia sedang berhadapan dengan orang yang sangat ia kenal.

"Tante Shizune… nggak sadar ya?" panggil Naruto geli, pelan. Shizune menengok ke arah Naruto, memperhatikan wajahnya, lalu terlonjak kaget.

"Aaargh! Naru!! Tante kira siapa!!" bisik Shizune kaget. Naruto nyengir lebar. Shizune menengok ke arah Jiraiya. "Kalau gitu… ini pasti Pak Jiraiya!" bisiknya lagi. Seperti cucunya, Jiraiya juga nyengir lebar.

Setelah berbincang-bincang sesaat, Naruto dan Jiraiya meninggalkan Kiba di The Better Life. Mulai saat itu, Kiba memulai masa rehabilitasinya.

"Be good, son…," pesan Jiraiya.

"Jangan pernah kabur…," desis Naruto.

SurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstorm

"Opa," panggil Naruto.

"Iya, Naru?" jawab Jiraiya.

"Naru tau siapa yang bikin Kakak jadi begini. Mereka temen kuliah kakak. Naru udah punya rencana buat mereka," ujar Naruto, to the point.

"Hmmm… mereka mau Naru apakan?" tanya Jiraiya.

"Ini…"

SurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstorm

"Eh? Suigetsu sama Karin?" tanya Temari heran.

Dua hari setelah mulainya masa rehabilitasi Kiba, rumah Gaara, sepulang sekolah. Naruto sedang mencari info sebanyak-banyaknya tentang Suigetsu dan Karin. Karena Naruto tidak mengetahui nama belakang mereka, ia jadi tidak bisa mencari data mereka di situs resmi UHC. Jalan lainnya adalah menanyai orang-orang, seperti ini.

"Yang Kakak tau ya… Suigetsu itu anak jurusan Ekonomi, dan Karin jurusan Psikologi. Mereka itu terkenal bandel di UHC. Terancam dropout. Sering bolos. Suka menggencet junior. Hobi pesta. Dan gosipnya, make narkoba…," jelas Temari. Naruto mencatat fakta-fakta itu di diary-nya.

"Emangnya ada apaan sih, Naru?" tanya Kankurou. Wajah Naruto mendadak menegang.

"Masalah pribadi Naru," jawab Gaara klise. Bibirnya sedikit tertekuk ke atas. Naruto balas nyengir.

"Kak Temari tau apa lagi?" tanya Naruto. Temari berpikir keras.

"Wah, maaf ya Naru, Kakak nggak tau apa-apa lagi," jawab Temari. Naruto tersenyum sopan.

"Ya udah, makasih banyak ya Kak, maaf ngerepotin…," kata Naruto sambil bangkit dari tempat duduknya.

"Emang abis ini mau kemana?" tanya Kankurou.

"Mau ke rumah Sasuke. Akatsuki lagi ngumpul, mungkin Naru bisa dapet info dari mereka," jawab Naruto. Ia pamit, lalu langsung meluncur ke kediaman keluarga Uchiha.

Kediaman Uchiha ramai, keadaan yang selalu terjadi saat Akatsuki sedang berkumpul seperti ini.

"Naaaaaruuuuuu, un!!" panggil Deidara. Naruto hanya nyengir, lalu menghampiri Deidara.

"Sehat, un? Baik-baik aja, kan, un?" tanya Deidara ramah.

"Alhamdulillah, baik," jawab Naruto sekenanya.

Naruto lalu duduk di tengah-tengah para anggota Akatsuki yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Kakuzu dan Sasori ribut soal pembelian peralatan baru. Hidan asyik main Uno dengan Tobi, Pein, dan Konan. Deidara menonton TV bersama Zetsu dan Kisame.

"Eh, Naru!" sapa Itachi, lalu duduk di sebelah Naruto. "Tumben main. Ada apaan nih?"

"Ini Kak… Naru boleh minta tolong nggak, sama Kakak? Kalau bisa sih, sama anggota Akatsuki yang lain juga," jawab Naruto. Seorang pelayan meletakkan dua buah gelas di meja yang ada di depan mereka.

"Diminum dulu, Naru. Boleh aja sih. Minta tolong apaan?" tanya Itachi.

"Ini… soal dua orang bernama Suigetsu dan Karin, yang kuliah di Ekonomi dan Psikologi UHC," jawab Naruto. Itachi dan yang lain tersentak mendengar nama kedua orang itu disebut.

"Suigetsu dan Karin… artinya masalah," ujar Hidan. Sasori mengiyakan.

"Terjebak dengan mereka, kans untuk keluar hanya sekitar duapuluh persen," sambungnya.

"Mereka bengal," komentar Kisame.

"Junkies," tambah Konan.

"Preman UHC," sambung Pein muram.

"Pasangan yang hobi banget pesta semalam suntuk sampe hangover 3 hari berturut-turut," tambah Zetsu.

Naruto menatap mereka dengan tatapan horror.

"Emang ada apa sih, Naru?" tanya Tobi. Naruto menunduk, menatap lantai dengan tatapan nanar.

"Kak Kiba... akhir-akhir ini temenan sama mereka, dan kemaren kepergok lagi make heroin...," jawabnya pelan.

"Ya ampun!" pekik anak-anak Akatsuki kaget. Kiba, yang anak baik, bergaul dengan Karin dan Suigetsu, dan kepergok sedang memakai ekstasi? Rasanya sangat tidak mungkin, namun pada kenyataannya, itulah yang terjadi.

"Trus Naru apain mereka bertiga?" tanya Sasori. Kelihatannya ia yang paling marah saat mendengar berita ini.

"Kiba udah di rehab. Tapi Suigetsu sama Karin masih bebas," jawab Naruto.

"Ini nggak bisa dibiarin. Mereka itu jelas-jelas orang yang ngasih narkoba ke Kiba. Nggak gue sangka mereka bisa sampai gitu. Padahal dulu mereka anak baik...," gumam Sasori. Mata biru langit Naruto menatap mata merah Sasori.

"Kak Sasori tau banyak tentang mereka?" tanya Naruto.

"Gimana nggak... dulu gue satu SMA sama mereka. Waktu awal kuliah pun gue masih deket sama mereka...," gumam Sasori gusar.

"Tolong bantu Naru, Kak. Naru pengen menjebloskan mereka ke penjara. Mereka udah merusak Kak Kiba. Kakak bisa kasih tau segala keterangan tentang mereka?" pinta Naruto. Sasori menghela nafas.

"Oke. Kakak bantu Naru. Demi kebaikan, apapun deh..."

SurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstorm

Cliffhanger... cliffie... hehehe...

Saia masih minta maap atas lambatnya apdet chapter ini... bener-bener maap...

Makasih semua, buat review di chapter kemarin. Tanpa review, seorang author sungguh bukan apa-apa… -geleng-geleng sok dramatis-

Oia, ngiklan dikit… nantikan collabfic pertama dari lima author keren yang tergabung dalam Laskar Fujoshi Tankrank!! SEGERA!!

BTW, udah nonton Laskar Pelangi? Aduuuh, saia udah nonton tapi pengen bgt nonton lagi… mungkin nunggu VCD-nya keluar aja kali ya. hehe. Ngantri jam setengah tiga buat film jam 5… gila… tapi worthed sih… orang filmnya keren bgt. Ada yang naksir si Syahdan tak? SAIA NAKSIR BERAT SAMA DIA!! IMUUT!! –OOT parah-

Review senantiasa ditunggu ya Mbak, Mas…

Thx a lot…

PuTiLiciOus.