Survivors in the Snowstorm
Minnaaa… can't tell how much I miss FFn. Lama meninggalkan dengan banyak utang apdet, kini saya kembali!!! Wakakaka… mohon maaf banget, akhir-akhir ini saya asik RPG-an dibanding bikin fanfic :P Well, after a long anticipation, please welcome; the sixth chapter of SitS!!! Yaaaaay!!!
Special note for Seyren Windsor: Ini, kutepati janjiku kepadamu waktu di telpon itu, Boi. Gak molor kelamaan kan? :P Sekarang giliranmu yang apdet penpik. Nyahahaha… :))
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto, the song 'Are You Gonna Be My Girl' © Jet, dengan beberapa perubahan pada liriknya. And, the song 'Gotta Find You' © Jonas Brothers. Btw, Joe Jonas ganteng ya :P
Episode #6. Gotta Find You
Di sebuah apartemen di tengah kota Konoha…
Dua remaja sedang duduk di dekat meja. Di atas meja yang berantakan itu, teronggok tumpukan serbuk berwarna putih. Masing-masing remaja itu menghadapi satu onggokan. Hidung mereka didekatkan ke arah onggokan serbuk putih itu, lalu mereka menghisap serbuk itu dengan hidung mereka. Mereka nampaknya menikmati benda yang mereka hisap itu.
"Yang terbaik. Kubeli dari Richards, si bandar asal negeri Paman Sam itu," kata si remaja pria. Si remaja perempuan terbatuk pelan, lalu terkekeh. Kekehan itu menyeramkan, campuran dari kekeh puas dan kekeh sok anggun.
"Pantas… efeknya… oh Nirwana… aku melayaaaaang…," gumam si remaja perempuan puas, tak jelas. Kedua tangannya direntangkan, tandanya ia sangat puas dengan serbuk putih itu. Senyum aneh mengambang di wajahnya. Ia trans. Mabuk dalam sensasi yang diciptakan serbuk haram itu. Pikirannya merasuki surga kokain. O, kokain! Dashyat!
Mereka tenggelam dalam kenikmatan dosa. Tenggelam dalam sensasi aneh yang menyenangkan sekaligus mematikan. Begitu tenggelam, sehingga mereka tak mendengar pintu apartemen mereka didobrak dengan kencang oleh beberapa orang berseragam cokelat yang membawa AK-47.
Mereka baru sadar ketika tangan mereka dipasung borgol, tubuh mereka digiring menuju kantor polisi. Semuanya dilakukan dalam kepasrahan, tak ada perlawanan. Mereka seakan dengan senang hati melakukan segalanya. Kokain mempengaruhi otak mereka, membuat mereka berpikir bahwa ditangkapnya mereka hanyalah sebuah vakansi kecil-kecilan ke sebuah hotel. Ya, hotel prodeo.
Jeritan marah mereka baru terdengar ketika mereka sadar, tiga jam setelah mereka ditahan. Mereka menyadari, ini bukan vakansi. Ini bui. Mereka kesal kepada diri mereka, kepada kokain, kepada polisi, kepada kokain…
Dan tak ada yang mampu menyelamatkan mereka. Mereka tertangkap basah sedang berpesta kokain.
Hari ini, Suigetsu dan Karin, dua berandalan University of Hi Country, resmi ditahan oleh Polda Metro Konoha.
SurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstorm
Naruto tersenyum lebar. Senyum kemenangan, tentu saja. Dua orang yang menghancurkan hidup kakaknya telah masuk bui, menunggu untuk disidang. Penelusurannya membuahkan hasil yang manis sekali. Dewi Fortuna tentu sedang tersenyum lebar kepadanya, sehingga ia beruntung bisa menangkap dua junkies itu.
Di samping Naruto, berdiri seorang anak lelaki seumurannya. Sasuke, tentu saja. Wajah anak itu memang datar, namun jangan kira hatinya datar juga. Hatinya justru sedang melonjak-lonjak senang. Senang karena dua begundal itu sudah ditangkap, dan senang karena…
Ehm, ini rahasia Sasuke. Jangan bilang siapa-siapa ya.
Sasuke senang karena melihat Naruto senang. Oke, oke, aku tahu apa yang sedang dipikirkanmu. Sasuke. Naksir. Naruto. Puas? Puas? Puas? Wajar saja sih, mereka memang dekat banget. Sudah sahabatan semenjak kelas satu SD, tepatnya semenjak mereka bertengkar rebutan tempat duduk di hari pertama sekolah, mereka begitu dekat, namun bagaikan Yin dan Yang, memiliki banyak perbedaan. Yah, lihat saja, Naruto atraktif, Sasuke dingin. Hot and cold, baby.
Segala perbedaan itulah yang membuat Sasuke naksir Naruto. Oh ya, naksirnya sudah cukup lama lho, sejak dua tahun yang lalu. Naruto tidak pernah tahu perasaan Sasuke padanya karena Sasuke terlalu pengecut untuk mengatakannya. Sasuke takut ditolak, lalu dihapus dari daftar sahabat Naruto. Seandainya hal itu terjadi, maka Sasuke akan langsung bunuh diri. Serius lho.
Ketar-ketir, Sasuke deg-degan. Ingin mengajak Naruto jalan, tapi takut. Ia juga sudah memiliki sebuah rencana khusus untuk si pirang cantik ini. Berulang kali ia mondar-mandir, bingung, perutnya mulas. Ia teguhkan hatinya, ia bulatkan tekadnya. Ia hampiri sang wanita pujaan.
"Eh, Naru," panggilnya pelan, agak ragu. Naruto langsung berbalik, mata safirnya menghujam ke mata obsidian Sasuke. Membuat jantung Sasuke melewatkan satu degupan. Dua degupan.
"Ha… habis ini, mau jalan sama gue, nggak?" tanya Sasuke gugup, matanya memohon supaya permintaannya dikabulkan. Naruto tersenyum polos, mata dan bibirnya tersenyum, sedikit menggoda Sasuke.
"Ke mana? Hayuk. Gue bosan nih," Naruto mengiyakan. Hati Sasuke bersorak riang, gembira ria tralala. Senyum kecil terbentuk di bibirnya. Tangannya langsung merenggut tangan Naruto, menyeretnya menuju mobil Itachi. Naruto menjerit kaget, tubuhnya terhentak, terseret tenaga kuat milik Sasuke.
Let's go!
Mobil dinyalakan, Itachi dengan senang hati mengantar adiknya tercinta menuju sebuah tempat. Itachi tahu, kalau orang sedang jatuh cinta, tak ada yang bisa menghentikan maunya. Toh Itachi sudah mengetahui rencana adiknya. Ia juga ikut merencanakannnya. Naruto ribut bertanya-tanya mengenai destinasi mereka. Sasuke hanya menjawab, "Sudah, diam saja, Usuratonkachi, nanti juga kau tahu." Terus begitu dan selalu begitu. Meski begitu, Naruto terus berkicau. Baru bisa diam setelah mulutnya disumbat Sasuke pakai tisu.
I said 1, 2, 3
Take my hand and come with me
Cause you look so fine
That I really wanna make you mine
Mobil terus melaju menuju pinggiran kota Konoha. Naruto bernyanyi-nyanyi riang, Itachi ber-beatbox ria, mengiringi nyanyian Naruto. Sementara itu, Sasuke diam seribu bahasa, namun matanya tak bisa lepas dari sosok pirang itu, seakan-akan sudah dilem dengan lem super nomor satu. Matanya mengikuti semua pergerakan Naruto, mulai dari gerakan tangannya sampai gerakan ujung rambutnya.
Mobil terus melaju. Di depan, terbentang gapura besar bertuliskan 'SELAMAT JALAN'. Artinya, mereka sudah meninggalkan Konoha. Terus, terus melaju. Naruto berkicau lagi, kembali bertanya-tanya. Satu timpukan bantal dari Sasuke sukses membungkam mulutnya. Lagi.
Big white sneakers,
Long blonde hair,
She's so sweet
With her get back stare
Suasana di dalam mobil menjadi benar-benar berisik, campuran antara hentakan musik yang disetel Itachi, teriakan-teriakan Naruto, dan sorakan Itachi. Namun telinga Sasuke seakan-akan sedang menyalakan mode mute; tak ada satupun suara yang memasuki otaknya. Yang ada di otaknya kini hanyalah Naruto, Naruto, dan Naruto.
Di otak Sasuke, segalanya kini terasa begitu indah. Suara bising berubah menjadi nyanyian sejuta malaikat. Teriakan-teriakan Naruto berubah menjadi bisikan lembut bernada menggoda. Baju kaus dan celana jeans yang dipakainya berubah menjadi gaun berkerah trapeze warna putih bersih, di punggungnya terdapat sayap malaikat. Sepatu sneakers putih yang dipakainya berubah menjadi sepatu hak tinggi berbentuk wedges warna putih. Bando hitam yang bertengger di puncak kepalanya bertransformasi menjadi tiara perak berhias mutiara. Itachi, kini berubah mejadi malaikat pemetik dawai harpa, senyumnya semanis air tebu, mendentingkan nada-nada indah penuh romansa. Asmara, oh, asmara. Mampu merubah segalanya jadi indah.
Otak Sasuke begitu macet, ia terjebak dalam surga yang ia ciptakan sendiri di dalam kepalanya. Tak sadar-sadar, dan baru bisa dikembalikan ke Bumi ketika Itachi melempar mukanya dengan bantal.
"A*insert some dirty words here*T!!!" makinya keras, kaget setengah modar oleh tingkah kakaknya itu. Makian dengan cantiknya mengalir deras, bagaikan aliran Sungai Ciliwung di bagian hilirnya. Kotor dan mematikan. Itachi dan Naruto ngakak lebar. Wajah Sasuke memerah bagaikan buah tomat, salah tingkah akan kelakuannya sendiri.
Setelah dapat menguasai diri lagi, tanpa banyak cincong, Sasuke mendadak menutup mata Naruto dengan kain hitam yang sudah dipersiapkannya sejak tadi. Ia tuntun gadis pujaannya itu keluar mobil, berjalan menuju lokasi yang sudah diincarnya sejak tadi. Untung bagi Sasuke, lokasi yang dituju kini sedang sepi, tak ada seorangpun di sana. Yang ada hanya beberapa jenis unggas yang sedang bertengger di pohon, dan beberapa jenis mamalia dan reptil yang tak terlihat.
"Ini di mana, Sas?" tanya Naruto. Matanya masih ditutupi kain. Kedengarannya gadis itu penasaran sekali dengan tempat ia berada sekarang. Ia bisa mendengar suara deburan air, kicau burung, dan gemerisik dedaunan. Ia bisa merasakan semilirnya tiupan angin sejuk. Tangannya meraba-raba, mencoba menebak-nebak.
Sasuke perlahan membukakan kain hitam yang menutupi mata Naruto. "Sekarang, kamu bisa lihat…," bisiknya pelan. Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba memfokuskan pandangannya. Sejurus kemudian, gadis itu terperangah.
"I… ini… ya ampun, pemandangannya cantik banget, Sas!" pekik Naruto girang. Sudah lama ia tak melihat pemandangan ini; air terjun setinggi kurang lebih lima puluh meter, megah, cantik, menakjubkan. Di sekelilingnya terdapat pohon-pohon rindang, menambah suasana alami yang tercipta. Burung-burung yang bertengger di dahan-dahan pohon-pohon itu berkicau riang, menyambut kedatangan sang putri cantik di tempat ini.
Naruto terperangah. Wajahnya girang sekali. Ia lalu berlari ke arah kolam yang terbentuk di bawah air terjun tersebut, lalu dengan ekstra hati-hati berjongkok di samping kolam itu. Membuka sepatunya, gadis itu lalu merendam kaki-kakinya di dalam kolam. Sesekali cekikikan karena kakinya digigiti ikan.
"Puas, Naru?" tanya Sasuke yang mendadak sudah duduk di sebelah Naruto. Kakinya juga direndam di dalam kolam. Naruto tersenyum manis. Manis sekali, sampai Sasuke rasanya terkena serangan jantung ketika melihatnya.
"Puas banget… lo selalu tahu apa yang gue suka, Sas. Makasih banyak," jawab Naruto lembut. Senyumannya mampu membangkitkan keberanian yang tertidur di dalam diri Sasuke, memberikan semangat baru dalam diri Sasuke. Semangat untuk menyatakan cintanya. Yeah! Go Sasuke!
"Aeeeh… Naru," panggil Sasuke malu-malu kucing. Tangan Sasuke mengambil tangan Naruto pelan, lalu menggenggam tangan halus itu di dadanya. Sasuke berdeham pelan, lalu membuka mulutnya. Mengalirlah lirik-lirik nan romantis, disertai dengan melodi yang indah. Membuat siapa saja mabuk kepayang jika mendengarnya. Melodi pernyataan perasaan nan indah tak terperi.
You're the voice I hear inside my head
The reason that I'm singing
I need to find you
I gotta find you
You're the missing piece I need
The song inside of me
I need to find you
I gotta find you
Naruto terlonjak, kaget bukan main. Lagu itu… lirik itu… Ya Tuhan. "Ma… maksudnya, Sas?" tanyanya lambat-lambat. Sebenarnya, ia mengerti apa maksud Sasuke, namun ia ingin menegaskannya saja.
I know we ain't got much to say
Before let you get away, yeah!
I said, are you gonna be my girl?
Sasuke menahan euforia yang meledak-ledak di dalam dadanya, mencoba menjawab pertanyaan Naruto. "Ma… ma… maksudnya…"
Jeda sebentar. Ambil nafas, buang. Jangan gugup.
"Kamu mau kan, jadi pacar aku?"
Uh, be my girl
Be my girl!
Are you gonna be my girl, yeah!
Naruto terperangah, lalu tersenyum manis. Manis sekali. Inilah senyum termanis yang pernah ia keluarkan. Kini ia mengerti, mengapa Sasuke mendadak membawanya ke tempat nan indah ini. Mengapa Sasuke begitu malu-malu kucing akhir-akhir ini. Semuanya kini masuk akal, bisa ditangkap oleh logika dan akal sehat. Cinta, Boi! Tak ada yang bisa mengalahkan cinta!
Mata obsidian Sasuke mengebor mata safir Naruto, dalam. Memohon, meminta jawaban yang ikhlas, pasti, lugas, dan jelas. Melihat mata itu, Naruto rasanya tidak sedang bersama seorang Uchiha Sasuke yang berumur enam belas tahun, melainkan bersama dengan seorang Uchiha Sasuke yang berumur enam tahun, yang sedang memohon meminta Naruto pindah dari tempat duduk yang sedari tadi sudah diincarnya.
"Sasuke…," bisik Naruto lembut. Sinar matanya teduh, memperlihatkan cinta dan kasih sayang yang begitu besar. Jantung Sasuke berdegup kencang. Nyaris semaput, andai saja tak bisa mempertahankan dirinya.
"You said that you gotta find me…"
"Yeah… I did say that…"
"Now, you've found me, Dear. Yes, I wanna be your girl."
SurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstorm
Sementara itu, di ruang tahanan Polda Metro Konoha, beberapa puluh kilometer dari tempat dua sejoli itu berada.
"Kalian bodoh!!!"
Semburan kasar itu dilontarkan dari bibir seorang wanita bertubuh sintal yang berdiri di depan sepasang remaja yang menunduk penuh penyesalan. Mereka nampaknya kesal, namun tak dapat membalas perkataan si wanita.
"Kalian ini, ditangkap tapi kok tidak melawan???!!! Bodoh! Kuulangi, BODOH!!!" semprot si wanita lagi. Kali ini, sepertinya sang remaja perempuan tak tahan lagi. Gadis itu mengangkat kepalanya, lalu membalas salakan si wanita.
"Kami sedang mabuk waktu itu! Jangan salahkan kami jika kami tak melawan!"
Plak!! Tamparan keras mendarat di pipi si remaja wanita. "Kalian ini, tidak efisien! Mabuk kokain saja bisanya!" raung si wanita. Si remaja pria kali ini mencoba membela dirinya.
"Tapi kami sudah berhasil mempengaruhi si anak tertua! Ia pemakai sekarang!" seru si remaja pria, nada panik terdengar jelas dalam ucapannya. Si wanita mendengus.
"Tapi sekarang ia sudah di dalam rehab… ah, sudahlah. Tuan masih punya banyak rencana untuk mereka," balas si wanita. Tanpa pamit, ia melangkah pergi, meninggalkan kedua remaja itu. Namun, di pintu, ia berhenti, lalu berbalik.
"Omong-omong, Tuan belum mengetahui hal ini. Tunggu saja sampai ia tahu. Kalian pasti habis babak belur."
To. Be. Continued.
SurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstorm
Yaiiy. Cliffie. Cliffie. Cliffie. Ai lap cliffie. –ditabok-
Yoshaaa… khusus untuk chap ini, saya memberi Anda sentuhan romansa. Maklum, kebawa mood :" lagi berbunga-bunga nih. Ahahaha…
Aha, mengenai selipan lirik 'Gotta Find You', ini gara-gara saya baru nonton Camp Rock beberapa hari yang lalu… iya, tau, ketinggalan jaman banget. Namanya juga enggak pasang tv kabel. Ini aja nontonnya di tipi tante. Tapi saya suka banget Joe Jonas XD ganteng gila XD
Ah, meracau lagi saya. -.-'
Yasud, apapun chapternya, yang penting review… ihihihi…
Salam cihui,
PuTiLiciOUs the Crazy Hufflepuff.
