Me, Jewelry and a cup of Coffee

By: the autumn evening

Pairing: Sasuke/Sakura

Rating: T

Disclaimer: me no own. I don't even own the computer I'm typing this on.

Warning: AU. Typos. OOC

summary:

Sakura seorang mahasiswa design jewelry terobsesi pada 'a perfect propose from a perfect man' merasa diikuti oleh seorang pemuda tampan. /"Aku tak menguntitmu, Haruno."/Kepala Sakura mendongak menatap wajah pemilik suara baritone yang seksi. Surga. Jika suaranya sama seksinya dengan Kyuhyun Super Junior, maka wajahnya adalah surga./Byuur/ 'Oh tidak! Aku. Tercebur. Ke dalam. Kolam. Di depan. Pemuda. Surga.'

iThanks to:

Gin Kazaha, Pink uchiha, calla, LeeLiput, mako-chan, badass, Grengas- Snap, Obsinyx Virderald, BoysLoveMe, akasuna no ei-chan

.

.

Chapter 2:

Higgledy-Piggledy Day

.

Read and Review

.

.

Aku terjebak. Di dalam kelas. Pada akhir pekan. Dengan dua puluh sembilan mahasiswa lain. Hanya karena pertemuan sebelumnya dua mahasiswa terlambat datang, aku dan mahasiswa lain yang tidak bersalah harus ikut menanggung hukuman. Mengikuti kelas akhir pekan.

Lima menit tersisa sebelum pelajaran selesai, tak membuat perasaanku lebih baik.

.

Rencanaku menonton drama sambil bersantai di hari sabtu yang beku gagal.

Kubayangkan Ino dan Sai yang mungkin sekarang tengah bersantai menonton opera sabun di bawah naungan atap kamar apartemenku, menikmati penghangat ruangan yang baru saja ditambahkan menjadi anggota kamarku pagi tadi. Sambil memakan cemilanku tanpa rasa bersalah. Mengingat Ino tak pernah membeli cemilannya sendiri dengan alasan 'cemilan menggagalkan diet'.

Bukan masalah buatku jika Ino tak mau membeli cemilan karena takut dietnya gagal, tapi masalahnya Ino dan Sai selalu makan cemilanku!

.

Tunggu.

.

.

Apa barusan?

.

.

Ino dan Sai sekarang tengah memakan cemilanku?

.

.

Cemilan yang kemarin aku beli dengan mengorbankan coat baru milikku menerjang hujan?Hingga mengabaikan kemungkinan aku akan jatuh sakit atau aku jatuh terpeleset. Jika aku terpeleset, kemudian bagaimana jika punggungku patah.?

Kemudian tak ada pria tampan yang mau mendekatiku. Kemudian aku jadi perawan tua, tak sempat memakai gaun pernikahan indah.

Kemudian tak sempat memakai diamond ring yang sempurna.

"Kemudian aku akan membunuh merekaaa!"

.

.

Siii-ng

.

.

Kemudian kelas hening.

Siapa yang berteriak di tengah ceramah Tsunade –sensei?

Siapapun itu, dia pasti sudah bosan hidup tenang sebagai seorang mahasiswa. Tapi jika diidentifikasi dari suaranya, yang barusan berteriak adalah seorang gadis. Dan suaranya sangat dekat. Seperti berasal dari kepalaku.

.

Apa?

.

Seperti berasal dari kepalaku?

.

Jangan bilang aku-lah 'gadis yang bosan hidup tenang' dan baru saja meneriakkan isi kepalaku terlalu keras?

.

.

"Haruno. Ke ruanganku. Seusai kelas."

Dan hari ini tak bisa lebih buruk lagi.

.

.

Ku teguk cairan berwarna jingga dalam botol bertulisan vitamin water yang aku beli dari cafeteria setelah berhasil keluar dari ruangan Tsunade –sensei. Ku pikirkan kembali detensi yang harus aku jalani karena perbuatanku hari ini sambil melangkahkan kaki menjauhi bangunan kampusku.

Tak seperti detensi yang sudah aku bayangkan; aku akan mengepel koridor atau membersihkan toilet, detensiku adalah aku harus berhasil mewawancarai seorang Designer Jewelry ternama Jepang, Mikoto Uchiha. Memikirkanya membuatku merinding dan merasakan sensasi meledak yang aneh -excited.

Kapan lagi aku mendapat kesempatan bercakap langsung dengan secara langsung?

Detensi dari Tsunade –sama memang tak pernah sesuatu yang tak berguna dan hanya menghabiskan waktu, mereka selalu berguna bagi si-penerima detensi. Walaupun enggan mengatakannya, kelas akhir pekan hari ini juga berguna mengingat seminggu lagi akan diadakan ujian.

Ku lihat pergerakan jarum jam yang melingkar manis di tangan kiriku.

Jam satu siang. Aku sudah ada di M's J jika ini adalah hari kerja. Tapi sekarang adalah akhir pekan. Aku tidak bekerja pada akhir pekan.

Ku putar otakku memikirkan apa yang akan aku lakukan untuk menghabiskan sisa hari ini.

Aku tak berniat pulang untuk bertemu dengan Ino dan Sai –penyebab aku mendapatkan detensi siang tadi, walaupun secara tidak langsung.

Tak kunjung menemukan hal yang bisa dilakukan, tanpa sadar aku terus berjalan hingga aku sudah berada di dalam taman yang berada di antara Tokyo Art School and Design dan Tokyo University.

Taman ini cukup terkenal menjadi tempat hangout mahasiswa dua universitas yang letaknya berhadapan ini.

Tak jarang aku, Ino dan Sai memanfaatkan hotspot di taman ini untuk menjelajah dunia maya jika jenuh dengan suasana kampus dan kehabisan kuota modem.

Siang ini taman tak seramai biasanya.

Mungkin karena pengunjung taman sebagian besar adalah mahasiswa yang jenuh dengan jadwal kuliah, maka taman menjadi lebih sepi pada akhir pekan seperti ini. Apalagi mengingat suhu udara yang cukup dingin walau tengah hari begini.

Kuhampiri kolam air mancur di tengah taman dan mendudukan diri di pinggir kolam setelah melepas sneaker low-top converse double tongue abu- abu yang sedari pagi membungkus kakiku.

Ku celupkan kedua kakiku kedalam air kolam. Segera rasa dingin dari air kolam berdiameter sepuluh meter ini seperti menggigit kakiku, kedua kakiku seperti seketika mati rasa. Ku kancingkan coat vintage coklat muda yang menempel dari petengahan paha sampai leher dan menggosokkan kedua tanganku untuk mengurangi rasa dingin.

Kuabaikan tatapan heran seorang pemuda berambut raven runcing mencuat seperti pantat ayam yang tengah duduk di bawah pohon maple di arah jam dua. Pemuda itu pasti berpikir aku kurang waras karena mencelupkan kaki ke air kolam yang hampir beku. Benar sih pemikiran pemuda itu, tak ada orang waras yang dengan suka rela membuat dirinya semakin kedinginan pada hari yang sudah beku.

Ada satu, aku.

Walaupun sering melakukan hal gila, tapi aku masih waras.

Dan akan tetap begitu. Jadi jangan tatap aku dengan tatapan heran begitu, wahai pemuda berambut seperti pantat ayam!

.

Nani?

.

Seperti pantat ayam?

.

Seperti pantat ayam.

.

SEPERTI PANTAT AYAM?!

Mataku melebar. Pemuda itu! Tak salah lagi, dia adalah brengsek tampan pelanggan tetap M's J.

Sedang apa dia di sini? Bukankah seharusnya sekarang dia menikmati secangkir pacillo sambil memejamkan mata dan mendengarkan music klasik ditemani penghangat ruangan M's J?

Tak usah berpikiran aku stalker atau apalah karena mengetahui kebiasaannya, dia selalu dateng ke tempat aku bekerja. Tentu saja aku tahu, duh!

Apakah dia tak berkunjung pada akhir pekan? Entah lah. Tak bisa aku simpulkan begitu mengingat aku tak pernah sekalipun pergi ke M's J pada akhir pekan.

Jangan- jangan dia mengikutiku secara diam- diam selama ini tanpa aku sadari?

Tapi kenapa?

Mungkin saja karena ternyata dia adalah pengagum rahasia yang sudah menyukaiku dari pertama bertemu, dan ternyata sudah bertahun- tahun, sehingga setiap hari mengunjungi tempatku bekerja hanya untuk melihatku.

Ya! Pasti begitu. Dialah yang stalker, bukan aku!

Kugelengkan kepalaku membuang jauh- jauh pemikiran ku yang sangat drama queen.

Inilah efek yang harus aku terima karena terlalu lama bergaul dengan seorang korean-lover fanatic seperti Ino. Aku jadi ketularan menyukai drama korea dan membuatku selalu menyambungkan kisah kehidupanku dengan kisah drama korea yang romantis. Dan tentu saja tak akan pernah ada kisah drama yang related dengan hidupku yang flat dalam aspek roman. Bahkan hidupku tak tersentuh kisah roman sejak sembilan belas tahun aku bernafas.

.

"Aku tak menguntitmu, Haruno."

Suara baritone yang cukup seksi, sama seksinya dengan suara Kyuhyun Super Junior bersumber dari sosok pemuda yang sudah berdiri menjulang di samping kananku.

Kepalaku mendongak menatap wajah pemilik suara baritone yang seksi.

.

Surga.

.

Jika suaranya sama seksinya dengan Kyuhyun Super Junior, maka wajahnya adalah surga.

Mataku melebar saat tersadar aku masih terduduk sambil menikmati pemandangan sosok menjulang di samping kananku, dengan refleks sempurna aku berdiri.

Byuur

Aku. Tercebur. Ke dalam. Kolam. Di depan. Pemuda. Surga.

.

.

Aku lupa fakta tentang kakiku yang masih tercelup dalam kolam. Sehingga saat aku mencoba berdiri kakiku otomatis kakiku masuk kedalam kolam yang airnya berkedalaman setengah meter.

.

"Hahahaha…"

Apa?

Suara apa itu? Lonceng surga? Apa aku sudah mati hanya karena jatuh kedalam kolam berketinggian setengah meter? jadi sekaang aku berada di surga?

Tidak.

Aku tidak sedang berada di surga. Aku masih berdiri di dalam kolam dingin di tengah taman dan basah.

Yang tadi itu suara tawa pemuda surga.

Pemuda surga di depanku menertawakan aku yang jatuh di kolam sampai memegangi perutnya?

What the…

Sekalipun suara tawanya seperti lonceng surga, tetap saja aku tak suka dia menertawakan aku sampai seperti itu.

"What a joke"

Mulutku menganga.

Apa katanya? What a joke?

Setelah menertawaiku dia mengataiku lelucon?

Dikiranya aku badut bahan olok- olokan?

Aku ralat.

Dia bukan Pemuda surga lagi. Dia kembali menjadi brengsek tampan.

"Ngga lucu deh." Ku kerucutkan bibirku memberitahu bahwa aku tersinggung dengan kelakuannya yang seenak kepala -pantat- ayam- seksi-nya menertawakan aku.

"Haha… Maaf. Bukan maksudku menertawai kamu. Habis kamu lucu."

Apa? Maaf? Maaf saja!

Pemuda berwajah stoic –yang ternyata nggak stoic-stoic banget, buktinya barusan dia ngakak karena aku jatuh ke kolam- itu mengulurkan tangannya disela tawanya yang masih belum berhenti, walau sudah tak sekeras saat pertama.

.

Blink

.

Blink

.

Kedua mataku berkedip cepat tak percaya.

Maksud uluran tangannya itu dia mau membantuku keluar dari dalam kolam ini?

Baik sekali, setelah menertawakanku sekeras itu. Batinku sarkastik.

Tapi maaf saja ya, aku tak akan aku maafkanmu semudah itu, tampan.

Otak licikku mulai merencanakan rencana pembalasan pada pemuda surga ini.

Jangan sebut aku Haruno Sakura jika aku tak bisa membalas apa yang kau harus dibalas dengan kejutan yang lain. Tawa harus dibalas dengan tawa yang lain.

Basah-

Kutahan seringai setan dan menggantikannya dengan senyum terimakasih sambil menerima uluran tangan berototnya. Tangannya menggenggam miliku.

Dan inilah saat pembalasan.

.

Syuuut

.

Byuuuuur

.

-harus dibalas basah.

.

Kena kau!

.

Pemuda surga itu –maksudku brengsek tampan- jatuh ke dalam kolam bersamaku.

.

.

Tbc

WordCount: 1408

A/N: Selesaaaai. Sebenarnya chapter dua sudah selesai sehari setelah publish chapter pertama. Sudah panjang belum? Sudah saya tambah empat halaman lebih banyak dari chapter satu loh. Ga saya buat lebih panjang, karena takutnya nanti jadi membosankan. 6^^

Anyway, Terimakasih sudah membaca.

Kritik, saran dan pendapat (atau ada yang mau menebak apa reaksi Sasuke selanjutnya ) silahkan sampaikan lewat review.

-with cherry on top-

.the autumn evening.