Me, Jewelry and a cup of Coffee
By: the autumn evening
Pairing: Sasuke/Sakura
Rating: T
Disclaimer: me no own. I don't even own the computer I'm typing this on.
Warning: AU. Typos. OOC
Thanks to:
nadialovely, akasuna no ei- chan, Pink Uchiha, Gin Kazaha, Angela M, Obsinyx Virderald, hanazono yuri, badass, , lhyia. kiryu
.
Chapter 3:
Meet the Uchiha
.
.
"What a joke" ujar pemuda tampan.
Mulutku menganga.
Apa katanya? What a joke?
Setelah menertawaiku dia mengataiku lelucon?
Dikiranya aku badut bahan olok- olokan?
Aku ralat.
Dia bukan Pemuda surga lagi. Dia kembali menjadi brengsek tampan.
"Ngga lucu deh." Ku kerucutkan bibirku memberitahu bahwa aku tersinggung dengan kelakuannya yang seenak kepala -pantat- ayam- seksi-nya menertawakan aku.
"Haha… Maaf. Bukan maksudku menertawai kamu. Habis kamu lucu."
Apa? Maaf? Maaf saja!
Pemuda berwajah stoic –yang ternyata nggak stoic-stoic banget, buktinya barusan dia ngakak karena aku jatuh ke kolam- itu mengulurkan tangannya disela tawanya yang masih belum berhenti, walau sudah tak sekeras saat pertama.
.
Blink
.
Blink
.
Kedua mataku berkedip cepat tak percaya.
Maksud uluran tangannya itu dia mau membantuku keluar dari dalam kolam ini?
Baik sekali, setelah menertawakanku sekeras itu. Batinku sarkastik.
Tapi maaf saja ya, aku tak akan aku maafkanmu semudah itu, tampan.
Otak licikku mulai merencanakan rencana pembalasan pada pemuda surga ini.
Jangan sebut aku Haruno Sakura jika aku tak bisa membalas apa yang kau harus dibalas dengan kejutan yang lain. Tawa harus dibalas dengan tawa yang lain.
Basah-
Kutahan seringai setan dan menggantikannya dengan senyum terimakasih sambil menerima uluran tangan berototnya. Tangannya menggenggam miliku.
Dan inilah saat pembalasan.
.
Syuuut
.
Byuuuuur
.
-harus dibalas basah.
.
.
Got you!
.
Pemuda surga itu –maksudku brengsek tampan- jatuh ke dalam kolam bersamaku.
Saat aku berhasil membalas menariknya jatuh ke dalam kolam, Sialnya karena terdorong berat badannya, aku malah jadi jatuh terduduk bersama dengan pemuda surga.
Pakaianku yang tadinya hanya basah bagian celana, kini hampir basah seluruhnya.
Damn it!
Ku alihkan pandanganku kepada pemuda surga.
Mati aku.
Beraninya aku menjatuhkan seseorang yang bahkan tak aku ketahui namanya ke dalam kolam di saat udara dingin begini?
Beberapa saat aku hanya bertatapan dengan mata onyx di hadapanku.
Saat ku perhatikan keadaannya, tak jauh beda denganku. Bajunya basah, wajah surga-nya terlihat kaget- sekaget- kagetnya. Tapi yang paling menarik perhatianku, rambut pantat ayamnya tetap berdiri mencuat.
Tak bisa kutahan lagi bibirku yang berkedut menahan tawa,
"Pffft… Ahahaha…"
Tawaku memecah keheningan diantara aku dan pemuda surga. Pemuda surga menaikkan sebelah alisnya heran, beberapa saat hanya terdiam melihatku yang sedang tertawa tetapi entah apa yang ia pikirkan sehingga tak lama kemudian terdengar lagi lonceng surga miliknya. Mengiringi tawaku.
"Hahaha…."
.
.
Aaah!
Betapa indahnya hidup.
.
.
Saat ini pukul enam. Aku berada di dalam The Estoque hitam, keluaran lamborghini milik Sasuke –yang ternyata nama pemuda surga.
Heran mengapa aku bisa berakhir dalam Estoque milik Sasuke?
Ini semua karena paksaan dari Sasuke.
Setelah insiden penceburan Sasuke tadi, bukannya cepat- cepat bangkit dari kebasahan aku dan Sasuke malah saling menciprati air.
Kalau di ingat lagi, sangat menggelikan. Immature dan yang jelas aneh.
Bagaimana bisa aku yang selama ini hanya berinteraksi akrab dengan Ino dan Sai –dan Sasori- senpai jika di tepat kerja- malah berakhir dalam sebuah permainan kekanakan 'ayo ciprati orang di depanmu dengan air dingin sampai tubuhnya basah' dengan orang yang baru aku kenal.
Aku seperti tersihir dengan kehadiran Sasuke, seperti menemukan teman lama yang sebelumnya tak pernah ada.
.
.
Tadi setelah lelah bermain air dengan Sasuke, Kami memutuskan untuk duduk mengobrol sambil meminum kopi instan yang Sasuke dapat dari mesin pembuat kopi yang ada di sekitar taman.
Di situlah sang 'pemuda surga' mengenalkan dirinya sebagai Sasuke.
Iya, hanya Sasuke. Tanpa menyebutkan nama belakangnya.
Atau nama depan? Sasuke nama depan atau nama belakang sih?
.
Kami –aku dan Sasuke- mengobrol banyak hal. Dimulai dari kebiasaanya meminum secangkir pacillo buatanku, dimana kampus Sasuke, yang ternyata di Tokyo Univerisity. Alasan kenapa hari ini Sasuke tidak pergi ke M's J untuk secangkir kopi, dijawab dengan dengusan sebal oleh Sasuke karena menganggap aku masih berpikiran dia adalah penguntit. Dan akhirnya malah aku yang malu sendiri setelah Sasuke bilang M's J tak beroperasi pada akhir pekan. Sebagai karyawan, aku merasa gagal.
Awalnya aku yang selalu bertanya pada Sasuke dan dia hanya menjawab saja, seperti narasumber yang sedang diwawancara. Tapi lama- lama keluar juga sifat asli Sasuke yang ternyata sangat ingin tahu sampai- sampai kami berebut untuk bertanya dan akhirnya harus ber- suit untuk menentukan siapa yang akan bertanya duluan.
Sialnya Sasuke hampir selalu menang. Jadi terpaksa aku harus menjawab pertanyaannya yang semakin lama semakin konyol saja.
Awalnya sih hanya pertanyaan wajar sepeti jurusan kuliah, tempat tinggal, dari mana asalku, berapa luas Shirakawa –kampung halamanku, berapa luas peternakan milikku, berapa jumlah penduduk Shirakawa, hingga binatang mamalia apa saja yang biasanya hidup di sana.
Konyol. Memangnya aku harus menyebutkan satu- satu? buat apa juga dia bertanya hal itu? Apa Sasuke punya kelainan seksual dan tertarik untuk membuahi salah satu kambing Shirakawa? Ewwwh…
Tak sampai di situ kekonyolan Sasuke, dia juga berkomentar bahwa seleraku sangat norak karena mengecat rambut dengan warna pink. Dan menambahkan kenapa tidak warna orange saja sekalian? Kemudian berlanjut menceritakan temannya yang terobsesi dengan warna orange.
Memangnya aku peduli?! Lagian rambutku memang asli berwarna pink, tahu!
Sasuke juga bertanya apakah aku memakai circle lens karena mataku terlihat besar dan berwarna hijau emerald. Saat aku bilang bahwa mataku memang sejak lahir sudah hijau begini, Sasuke dengan entengnya berkomentar "mungkin itu mengindikasikan bahwa kau mata duitan, matamu hijau begitu seperti dolar!"
What the hell!
Yang paling parah adalah saat Sasuke bertanya apakah aku pernah mengukur luas jidatku karena menurut Sasuke itu sangat lebar.
Dan Sasuke mendapatkan satu benjolan besar di kepala pantat ayamnya dariku.
Ha! Itulah yang dia dapat jika bermain- main dengan Haruno Sakura.
Walaupun ngobrol dengan Sasuke sangat menguras emosi, tapi aku akui, aku merasa sangat nyaman dan merasa seperti sudah kenal lama denga Sasuke, tak merasa canggung sama sekali. Hingga saat aku tersadar matahari bahkan sudah hampir tenggelam.
.
.
Saat ini masih pukul enam. Aku masih berada di dalam The Estoque hitam, keluaran lamborghini dan masih milik Sasuke.
Sasuke mengajakku menuju rumahnya untuk mengganti bajuku yang basah kuyup.
Untuk menebus rasa bersalahnya menyebabkan bajuku basah, katanya.
Aku yang merasa tak perlu –karena menurutku itu bukan sepenuhnya salahnya sehingga aku jatuh ke kolam. Toh akhirnya aku membuat Sasuke juga sama 'basah'nya dengan aku, lagian sekarang bajuku sudah setengah kering- hanya bisa pasrah menuruti Sasuke yang tetap keukeuh menarikku menuju mobil nya setelah mengabaikan protesku agar mengantarku pulang saja tadi.
"Setelah mengganti pakaianmu di rumahku, maka aku akan mengantarmu pulang."
"Aku tak bawa baju ganti, antarkan aku pulang saja."
"Kamu selalu bawa baju ganti."
"Tahu dari mana kau, Sasuke? Jangan- jangan kau benar- benar penguntit ya?"
"Hn"
"Jangan meng-Hn-kan aku lagi!"
"Aa"
"Mulai lagi deh pelit kata-nya "
"Diamlah, Haruno"
"Terserah aku, lagian- Eeeh? Aku baru sadar kalo aku belum ngasih tau namaku."
Benar saja, sejak berkenalan dan mongobrol pajang dengan Sasuke, aku belum menyebutkan namaku.
Saat Sasuke menghampiriku sebelum aku tercebur, kalo tidak salah dia bilang
"Aku tak menguntitmu, Haruno."
Ya! Dia langsung memanggilku Haruno. Dia tahu namaku dari awal.
"Sudah kubilang aku bukan penguntit. Aku tahu namamu karena aku pernah membacanya di seragam kerja milikmu." Sasuke menjawab.
Hmm, masuk akal juga jawabannya.
Tapi bisa saja dia berbohong, mengingat refleksnya sangat baik. Terbukti saat mengobrol, dia akan menjawab dengan spontan.
Tapi walaupun refleksnya baik, dia masih tetap terjatuh ke dalam kolam bersamaku. Dan juga tak bisa menghindari pukulanku dikepalanya. HAHA!
Aku tersenyum mengingat raut muka kaget Sasuke saat menemukan dirinya tercebur ke kolam hanya karena tarikan seorang gadis. Tadi pasti yang pertama bagi orang seperti Sasuke bermain air di tengah taman. Walaupun taman sedang sepi, tetap saja itu tempat umum. Apalagi untuk orang yang cenderung introvert seperti Sasuke.
" Berhenti tersenyum nona, kita sudah sampai,"
Suara baritone Sasuke -yang semakin lama semakin terdengar seksi- terdengar dari sisi kemudi. Ku turunkan kaca mobil disamping kananku untuk melihat- lihat halaman dapan rumah Sasuke.
Rumah Sasuke sangat indah.
Semua properti sepertinya ditata dengan rapi dan teliti. Semakin aku memandang, kekagumanku semakin bertambah. Jalan berkelok menuju pintu utama dengan tanaman bunga berjajar di sepanjang tepi jalan. Rumput tumbuh subur dan hijau. Warna hijau yang biasa terlihat di dalam film, begitu cerah dan bersemangat. Beberapa pohon tumbuh di halaman ini tapi yang menarik perhatianku adalah satu pohon bunga sakura satu- satunya yang tumbuh paling dekat dengan bangunan utama. Batangnya tebal dan kokoh, dan cabangnya tumbuh naik ke arah langit seperti sepasukan tangan terentang.
Aku tak menyadarinya pada awalnya, tapi rumah Sasuke tidak terletak di distrik mewah di mana orang- orang kaya biasa tinggal. Sasuke tinggal di sebuah distrik yang masih melestarikan sejarah dan mempertahankan budaya jepang kuno yang membuatnya semakin menarik. Ini sedikit aneh, karena aku tak menduga sama sekali bahwa Sasuke tinggal di tempat seperti ini.
Rumahnya sangat megah. Seperti memancarkan hawa agung memikat siapapun yang memandang. Dinding luarnya terbuat dari kayu eboni gelap dengan dua jendela besar di kedua sisi sepasang pintu geser shoji. Terasnya terbuat dari kayu hitam dari bahan sama dan mengitari sekeliling rumah. Di lantai dua terdapat balkon yag membingkai setengah bagian rumah. Atapnya terbuat dari atap sirap abu- abu gelap miring ke bawah dan sangat cocok dengan sirap yang ada di atas pagar. Gaya arsiteksturnya sangat dipengaruhi gaya pada masa periode Edo. Rumah ini terlihat sangat, sangat tua. Beberapa ratus tahun, mungkin?
Sasuke pasti –tanpa keraguan sedikitpun- adalah seorang heir. Pantas saja dia tampan.
Well, tak ada hubungannya antara heir dan tampan sih, tapi biasanya jika seorang heir jadi terlihat tampan. Hmm.
Ku perhatikan sebuah papan nama bertulisan "Uchiha" besar dengan background lambang kipas berbentuk lingkaran berwarna merah dan putih khas klan Uchiha terlihat di bagian atas pintu geser tadi.
Uchiha ya... Jadi ingat wawancara dengan Uchiha Mikoto.
.
.
Uchiha Mikoto?
.
.
Uchiha.
.
.
Jangan bilang Sasuke adalah seorang Uchiha?
.
.
"Sasuke, ini rumahmu?" Tanyaku sedikit gugup.
"Hn, kaget ya ga pernah main ke rumah bagus?"
Gubrak!
Kegugupanku menghadapi kemungkinan bahwa Sasuke adalah keturunan Uchiha dan kemungkinan Mikoto Uchiha berada di bangunan ini hilang seketika dengan jawaban Sasuke yang asal bicara.
"Terserah kau saja deh! " Aku cemberut, melipat kedua tangan di depan dada. Sasuke hanya tersenyum miring, melepas sabuk pengaman dan berjalan keluar setelah membuka pintu.
Ceklek
Pintu sebelah kananku terbuka dari arah luar. Sasuke.
Wow. Aku pikir dia mau meninggalkanku di dalam mobil tanpa mengajakku masuk.
"Kamu mau berlama- lama di dalam situ, atau mau masuk ke dalam?"
"Aku di sini saja deh ya…" Pintaku memelas.
Sasuke melotot. Tak terpengaruh mata memelasku. Dan menarikku setelah sebelumnya melepas sabuk pengamanku.
.
.
Aku mengikuti Sasuke yang menarik tangan kananku dengan sedikit paksa. Bohong. Maksudnya dengan sangat paksa. Dan erat. Sampai aku yakin nanti pasti akan berbekas merah. Ku seret langkahku berat sambil menyumpahi Sasuke yang sangat kasar padaku.
Aku tak bisa berhenti memandangi sekeliling dan lupa dengan Sasuke yang masih menggenggam tanganku. Sebuah pertanyaan perlahan menggelegak di otakku ketika aku memandang ukiran rumit yang menghiasi jendela. Ku alihkan pandanganku kepada Sasuke.
"Hei" Panggilku. Sasuke berhenti berjalan dan menoleh, menatapku melewati bahunya.
"Maaf nggak bermaksud kasar, tapi kenapa kau tinggal di sini?" Lanjutku.
Sasuke mengerjapkan mata dan membalikan tubuh sepenuhnya untuk menghadapku. "Ah, aku tak pernah menjelaskan tentang rumahku sebelumnya." Sasuke menghela napas dan mengusap rambutnya, mencoba menidurkan rambutnya, mungkin? Dan gagal total.
"Rumah ini awalnya adalah rumah kakek dari pihak ibuku sudah sejak lama, mungkin sejak memasuki zaman Edo sekitar… abad delapan belas? Sekitar itu." Lanjutnya. "Kami –ibuku, ayahku, dan kakakku sebenarnya tinggal di Kyoto, di rumah yang lebih bergaya barat. Namun karena rumah ini dekat dengan kampus dan tempat kerja ayahku, kakek menawarkan untuk tinggal di sini." Sebuah senyum kecut terlukis di wajah Sasuke.
"Ketika pertama kali datang ke sini, aku harus menggunakan toilet jongkok selama sekitar satu bulan sampai dilakukan renovasi toilet baru. Awalnya kakek menolak, mengingat seluruh properti masih miliknya. Tapi setelah berhari- hari keluhan tentang toilet yang tak nyaman, akhirnya dia setuju."
Aku tertawa. "Toilet jongkok?"
Sasuke mengangguk. "Pengalaman terburukku. Aku tak ingin mengingatnya lagi. Anyways, mari masuk. Ibuku pasti sudah menunggu." Dia berbalik dan mulai berjalan menju pintu. Sekali lagi aku mengikuti Sasuke, meskipun pikiranku tertuju pada satu kata.
Ibu.
Kata itu mengalir lancar dari mulutnya, sangat santai. Sepeti kata yang sudah biasa dia ucapkan sehari- hari. Aku ingin tahu bagaimana ibu Sasuke. Jika mempertimbangkan wajah Sasuke, dia kemungkinan besar cantik. Mungkin memiliki rambut hitam tipis seperti sayap burung gagak. Atau mungkin panjang dan ikal sedikit di bagian bawah.
Dan matanya…?
Aku menutup kedua mataku, mencoba untuk menggambarkan ibu Sasuke di kepalaku. Sesuatu melintas di pikiranku.
Hijau.
Hijau yang tampak sangat familier denganku. Lebih terang dari rumput yang ada di halaman. Aku melangkah mundur, pusing dan serasa berputar- putar.
Wanita itu tersenyum lebar dan berubah menjadi tawa. Suara musik yang tampaknya hampir binar. Dan aku menyadari warna rambutnya tidak hitam, tetapi coklat aneh, hampir kemerahan. Dia tampak akrab di ingatanku. Aku menyadari identitas wanita itu.
Wanita itu adalah ibuku.
Pikiranku jadi kosong.
Ibu.
"Hei." Suara maskulin menyadarkan lamunanku. Memandang Sasuke yang sedang menatapku dengan mengeryitkan alisnya. "Kamu baik- baik saja?"
Aku mengangguk dan mundur beberapa langkah untuk menambah jarak antara kami. Sasuke memegang pintu geser shoji dan membukanya. Anehnya, pintu tidak bergeser ke kanan atau kiri, tetapi membuka ke dalam rumah.
"Kamu duluan," kata Sasuke.
Aku masuk disusul dengan Sasuke dan suara pintu ditutup dengan sekali klik.
"Sasu- chan? Kau kah itu?" Seseorang melangkah keluar, wajahnya lembut dan bibir tersenyum ramah. Berbeda dengan senyum yang ada di bayanganku sebelumnya. Matanya sewarna kopi panas. Senyumnya melebar ketika melihatku.
Berkebalikan dengan ekspresi yang terpasang di wajahku.
Aku memucat. Ini lebih parah dari membayangkan ibu Sasuke adalah ibuku.
Karena ibu Sasuke adalah Mikoto Uchiha.
Designer jewelry yang menjadi narasumber wawancara untuk menjalani detensiku.
.
.
"Halo, senang bertemu denganmu, aku Mikoto ibu Sasu -chan" Kata Mikoto-san, kaki jenjangnya melangkah ke tempat aku berdiri.
"Kau pasti teman Sasu- chan, siapa namamu?"
"Haruno Sakura." Bibirku terasa kering dan sedikit menahan kedutan di sudut bibirku mendengar nickname pemberian Mikoto- san untuk Sasuke.
"Ne, Sakura- chan. Kau keberatan jika aku memanggilmu begitu?" Aku menggeleng. Dia melanjutkan dengan suaranya yang ringan dan ceria. "Selamat datang di rumah kami, kami memiliki sandal untuk kau gunakan-"
Ia menunjuk ke sepasang sandal rumah berwarna merah muda di depanku, "-dan buatlah dirimu nyaman."
Aku menundukan kepalaku, memakai Sandal yang lembut dan nyaman, dan memandangi lantai tempatnya berpijak berwarna tannish, sepertinya dibersihkan dan dipoles dengan baik. "Terimakasih banyak."
Mikoto- san mengatupkan kedua tangan di depan dada bersama- sama. "Gadis yang sangat sopan." Pujinya, sambil tersenyum kepada ku. Dengan pipi memerah, aku semakin menunduk sambil menggelengkan kepalaku.
"Yah, Kaa-san ada di dapur jika kau butuh sesuatu, Sasu- chan. Dan kenapa kau tak membawa Sakura- chan ke ruang tamu dan menyalakan TV?" Setelah kami menganggukan kepala, Mikoto- san tersenyum sekali lagi sambil mendorong Sasuke untuk berjalan lagi.
"Oh, dan sebelumnya antarkan Sakura- chan untuk berganti baju. Apa yang kau lakukan sehingga membuatnya basah Sasu-chan?"
"Kaa-san-"
"Dan satu lagi, Sakura-chan harus tinggal untuk makan malam. Ini sudah larut dan aku tidak mau jika Sakura- chan kembali ke rumah dengan perut lapar!" sela Mikoto- san sambil berkedip dan memamerkan gigi putihnya.
"Saya tidak ingin merepotkan," kataku sambil menggelengkan kepala. "Saya tidak lapar sama sekali, sungguh."
"Kau akan, setelah mencium aroma masakanku," Katanya menggoda, "Pokoknya kau tinggal Sakura- chan, aku tidak menerima penolakkan dan kau sama sekali tidak merepotkan.." Mikoto- san menolehkan kepalanya kepada Sasuke, sedikit cemberut.
"Kapan terakhir kali kau membawa seorang gadis ke rumah selain dia? Itachi pasti akan senang!"
Sasuke menggeram, "Kaa-san, jangan dibahas."
Mikoto- san menghela napas dramatis dan berjalan ke dapur, tetapi kemudian menoleh dan mengedipkan mata ke arah anaknya.
Setelah Mikoto- san menghilang di balik pintu dapur, Sasuke memecahkan keheningan di antara kami, "ikuti aku, kau akan berganti baju di kamar tamu."
Aku membuntutinya. "Rumahmu indah."
"Terimakasih," Dia kembali menoleh ke arahku. Ku alihkan pandanganku dari Sasuke ke ruang tamu berukuran besar yang dihias secara tradisional, tapi indah. Dindingnya merah bata, televisi layar lebar ada di bagian sudut. Dikelilingi oleh beberapa sofa berwarna krem.
Cklek
Pandanganku kembali pada Sasuke yang membuka pintu sebuah ruangan, aku tebak adalah kamar tamu.
"Anggap rumah sendiri," Sasuke memberiku jalan untuk masuk. "Aku akan ke atas untuk berganti baju juga. Kau bisa kembali ke ruang Tv setelah selesai. Remote ada di atas meja."
Aku mengangguk. "Baiklah, terimakasih."
.
.
Ku dudukan badanku di sofa berwarna terang, terlihat mewah dan oh- sangat nyaman seperti menyesuaikan dengan badanku dengan sendirinya. Menghela napas puas, aku mengganti beberapa channel, mencari sesuatu yang menarik. Tak berapa lama suara langkah terdengar dari arah tangga di sudut lain. Ku lihat Sasuke telah selesai berganti dengan pakaian kasual dengan handuk menutupi kepalanya.
"Apa yang kamu tonton?"
Aku mengangkat dagu menunjuk TV yang sedang menampilkan seorang pria tengah melarikan diri dari sekerumun orang. Sasuke mengambil tempat di sebelahku, matanya terpaku pada layar. "Aku pikir aku pernah melihat ini sebelumnya."
Kami melihat tv dalam diam sampai Mikoto- san melangkah ke ruang tamu dan mengatakan bahwa makan malam sudah siap.
"Ayo Sakura," Sasuke menunjuk ke arah pintu. Aku mengikutinya ketika dia memimpin jalan ke ruang makan.
Ruang makan sama elegan dengan ruang tamu dan tampak lebih berkelas. Sebuah lampu sederhana menerangi ruangan, tergantung di atas sebuah meja kayu ek ukuran menengah. Lima set makan malam sudah tersedia di depan kursi, dua di antaranya sudah diduduki.
Seorang pria setengah baya dengan rambut hitam, mata hitam keras, dan garis rahang yang datar. Mungkin orang ini adalah ayah Sasuke. Di sampingnya, aku tebak adalah Itachi, rambutnya panjang diikat ke belakang seperti ekor kuda dan beberapa dibiarkan membingkai wajahnya. Keduanya mendongak.
Sebelum ada yang berbicara, Mikoto- san masuk dengan sebuah wadah mengepul di tangannya.
"Oh, aku belum memperkenalkan Sakura- chan pada kalian berdua." Katanya sambil mengatur hidangan di meja. "ini adalah Fugaku, suamiku dan Itachi, anak sulungku."
"Senang bertemu dengan anda," kataku sambil membungkuk pada mereka. Fugaku- san hanya menggerutu, namun Itachi memberiku sebuah senyum ramah.
"Duduklah Sakura-chan." Mikoto- san menarik kursi untuk ku. Sambil berterimakasih, aku duduk disusul Mikoto- san yang duduk di sampingku.
Keheningan menyelimuti ruang makan, mengisi celah-celah kecil hingga ke sudut ruangan. Untuk sesaat aku khawatir bahwa sisa makan malam akan berjalan seperti ini.
.
.
TBC
.
.
A/N: sudah chapter tiga dan konflik belum muncul-_-
Saya tahu alurnya sangat lambat, mohon dimaafkan. Trus saya mau tanya, hubungan SasuSaku kecepetan ga?
Beritahu pendapatmu tentang chapter ini^^,
baca juga cerita saya yang lain: K a l e i d o s c o p e
Kritik, saran dan pendapat silahkan sampaikan lewat review.
-with cherry on top-
.the autumn evening.
Spoiler Chapter 4:
"Kedatanganmu adalah sesuatu yang mengagetkan bagi kami. Apakah kau sekelas Sasuke?"
…
"Tentu saja sebuah kejutan bagi kami, Selama ini kau hanya membawa pulang gadis itu.."
…
"Aku ingin kau memilih di antara kedua putraku yang mana…"
…
"Aku ingat telah melarangmu terlibat asmara dengan orang asing."
…
