Pretty Pretty Please?

By: the autumn evening

Pairing: Sasuke/Sakura

Rating: T

Disclaimer: me no own. I don't even own the computer I'm typing this on.

Warning: AU. Typos. OOC ( used to be Me, Jewelry and a cup of coffee)

Thanks to:

hanazono yuri , Fran Fryn Kun, AzuraCantlye ,Lhylia Kiryu , akasuna no ei-chan, Angela M, Choi Azura , Pink Uchiha , blyskue ,The Aquamarine girl24, FuRaHeart, chochochokyu , NyanmaruHaekal Uchiha, Ichika DiNaFa

.

.

Chapter 4:

Uchiha's Daughter in Law

.

Read and Review

.

.

Keheningan menyelimuti ruang makan, mengisi celah-celah kecil hingga ke sudut ruangan. Untuk sesaat aku khawatir bahwa sisa makan malam akan berjalan seperti ini.

Biasanya, suasana makan malam pasti selalu hidup dan ramai dengan celotehanku, Ino dan Sai sering berkunjung dan makan malam bersama. Jika di rumah, Kaa-san dan Otou-san saling bercerita tentang kejadian yang terjadi siang harinya. Keluargaku memang tidak super kaya seperti keluarga Uchiha. Otou-san ku memiliki perusahan kecilnya sendiri yang bergerak di bidang tekstil, sedangkan Kaa-san adalah seorang dokter umum di salah satu rumah sakit Shirakawa.

"Jadi, Sakura- san ya?"

Keheningan di ruang makan terpecah oleh pertanyaan Fugaku-san. Aku mengangguk mengiyakan "Saya minta maaf karena sudah mengganggu makan malam keluarga Uchiha."

Fugaku-san menggeleng kecil sambil tersenyum, "Bukan masalah, Apakah kau teman kuliah Sasuke?"

Aku menggeleng, "Bukan, Saya kuliah di Tokyo Art School and Design."

Mikoto-san berbinar setelah mendengar jawabanku, "Benarkah? Jurusan apa yang kau ambil, Sakura-chan?"

"Design Jewelry." Jawabku canggung.

Mikoto-san semakin bersemangat," Jadi kau murid Tsunade? Barusan Tsunade menelponku, katanya dia ingin aku melakukan wawancara dengan salah satu mahasiswanya."

Mataku melebar, tak menyangka Tsunade-sensei akan menghubungi Mikoto-san secepat ini. Padahal aku belum mpersiapkan diri untuk bertemu dengan Mikoto-san secepat ini.

"Mahasiswa yang dimaksud Tsunade-sensei adalah saya, Mikoto-san." Aku memutuskan untuk mengatakannya saja, memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat janji dengan Mikoto-san.

Kulihat Sasuke mengerutkan kening sambil memandangku dengan pandangan kenapa- tak- mengatakannya- kepadaku. Yang aku jawab dengan memutarkan bola mataku sambil menjulurkan lidah.

"Dunia begitu sempit ne, ternyata pacar Sasuke-kun adalah mahasiswa Tsunade yang akan melakukan wawancara dengan kaa-san."

"Sakura bukan pacarku." Sasuke menyangkal dengan sempat sambil melotot ke arah Mikoto-san yang kini tengah tertawa sambil memegangi perutnya karena berhasil mempermainkan Sasuke.

"Tentu saja Sakura bukan pacar Sasuke, mana boleh seseorang yang sudah memiliki tunangan berpacaran dengan gadis lain." Suara Itachi terdengar menghentikan tawa Mikoto-san.

"Tunangan my ass!" Sasuke bergumam.

Tunangan? Aku mengerutkan kening dan mengangkat pandanganku dari piringku ke arah Sasuke dan menemukannya tengah sibuk dengan makanannya. Perlahan aku melirik ke arah Itachi, kakak laki- laki Sasuke dan menemukan Itachi sedang menatap kearahku.

Sebenarnya bukan jenis tatapan intens dan menusuk yang biasa digambarkan di cerita fiksi, itu terlalu dramastis. Lebih seperti tatapan ingin tahu seorang anak kecil yang berada di dalam laboratorium biologi dan tengah berhadapan dengan seekor katak objek ekperimennya dengan pisau di tangannya.

Splash.

Darah. Darah. Darah.

Tiba-tiba seluruh ruangan berlumuran darah. Nafasku terengah- engah, kututup mataku dan menggelengkan kepalaku dari bayangan mengerikan itu.

Aku berlebihan, mungkin Itachi hanya sedang memikirkan sesuatu dan kebetulan saja aku berada di garis pandangnya sehingga terlihat seperti dia sedang menatapku? Bisa jadi.

"Itachi, jangan mengejek adikmu." Suara Fugaku-san terdengar kembali.

"Aku tidak sedang mengejek Sasuke, Aku hanya.. sedikit terkejut?" Kata Itachi yang terdengar seperti pertanyaan kepada dirinya sendiri.

"Tentu saja terkejut, selama ini Sasuke hanya membawa pulang gadis itu…" Sambung Itachi.

Gadis itu?

Apa gadis itu yang dimaksud Itachi adalah tunangan Sasuke?

Aku sedikit kesal kepada Sasuke. Bukan kesal seperti cemburu karena Sasuke sudah memiliki tunangan, tapi kesal karena dia sama sekali tidak mengatakan tentang tunangannya kepadaku.

Fine, mungkin karena aku baru sebentar mengenalnya dan dia belum sempat mengatakan semua hal tentang dirinya dan kebetulan itu termasuk tidak mengatakan sepatah katapun tentang tunangannya.

Tapi tetap saja itu membuat aku kesal.

Apa dia sengaja supaya aku menganggapnya masih single? Dasar tipikal laki- laki.

Aku tidak dalam penyangkalan tentang apapun, lagipula aku tidak merasakan perasaan suka dalam hal romantis kepada Sasuke. Mungkin kedengarannya seperti aku sedang dalam penyangkalan, tapi aku benar- benar tidak pernah sedikitpun terlintas dalam pikiran bahwa aku dan Sasuke menjalin hubungan cinta dan sejenisnya.

Baiklah mungkin aku memang tertarik kepada Sasuke secara fisik, hanya itu saja. Tapi gadis mana yang tidak tertarik jika melihat Sasuke?

Sasuke is too hot to be real.

Dia terlalu tampan untuk diabaikan.

Hanya saja, Sasuke bukan tipeku. Aku selalu membayangkan bahwa pacarku nanti adalah seseorang yang mengerti tentang seni sehingga kencan pertama akan aku habiskan dengan dia melukisku sepanjang hari, dia juga harus ramah dan murah senyum.

Wah. Aku baru saja mendeskripsikan Sai.

Aneh.

Tapi aku juga tidak menyukai Sai seperti itu. Aku hanya menganggapnya sahabat dari kecil. Lagipula, Ino menyukai Sai.

Tapi Sai adalah lelaki yang mendekati tipe idealku.

Aku menggelengkan kepala untuk menyingkirkan pikiran anehku sekali lagi. Gambaran aku sedang berkencan denganSai membuat perutku melilit. Saat aku melihat ke depan, aku masih menemukan Itachi memandangku, pandangannya membuat perutku merasa semakin tidak enak, aku tersenyum ke arahnya sebelum menunduk.

"Jadi Itachi, bagaimana dengan Deidara?" Suara Sasuke terdengar mengalihkan topik pembicaraan.

"Oh, dia baik. Rencananya dia akan berkunjung kesini hari ini."

"Deidara? Bukankah aku telah melarangmu untuk terlibat asmara dengan orang asing, Itachi?" Suara Fugaku terdengar penuh penekanan.

Hening selama beberapa saat, "Aku sudah cukup tua untuk Otou-san urusi. urus saja seseorang yang mau menuruti perkataan Otou-san."

"… Lagipula, Deidara tidak sepenuhnya orang asing, Kaa-sannya adalah orang Jepang." Itachi menjawab dengan tenang sebelum terdengar suara bel berbunyi yang menangguhkan kata-kata Fugaku-san.

"..Oh sepertinya itu Deidara, aku akan membukakan pintu." Sambung Itachi sambil beranjak dari tempat duduknya.

Ku perhatikan Fugaku-san menggenggam dengan erat sumpit di tangan kanannya.

Wow. Jika melihat reaksinya, sepertinya Fugaku-san tidak menyukai entah apa hubungan Itachi dengan seseorang bernama Deidara tadi. Mikoto-san hanya menghela napas.

Tak selang beberapa lama, Itachi muncul dengan seorang gadis cantik berambut hitam panjang berjalan di belakangnya dengan senyum malu.

"Oh! Hinata-chan, kebetulan sekali kau berkunjung kemari. Kaa-san sedang masak besar malam ini. Mari duduk disini."

Mikoto-san tersenyum lebar saat melihat sosok gadis yang ternyata bernama Hinata, berbanding terbalik dengan raut wajah Itachi yang terlihat tidak senang karena yang datang bukan seseorang yang diharapkannya.

.

.

Setelah memperkenalkan aku dan Hinata secara singkat, Mikoto-san mulai mengobrol akrab dengan Hinata.

Jadi, dari obrolan yang bisa aku tangkap dan aku pahami, Hinata adalah not- soon- to- be- daughter- in- law keluarga Uchiha. Masih calon, karena belum dilaksanakan pertunangan secara resmi. Dan bisa aku ambil kesimpulan bahwa Hinata adalah tunangan Sasuke yang tadi Itachi bicarakan.

Wow.

Bintang. Bintang. Bintang.

Kepalaku seperti akan meledak, It's just too much.

Betapa aku sudah mendapatkan informasi yang begitu bertubi- tubi dalam satu hari yang panjang.

.

.

"Ne, Sakura-chan….Aku ingin kau memilih diantara dua putraku yang mana yang menurutmu mirip denganku dan yang mana yang mirip dengan Fugaku." Mikoto-san menatapku sambil tersenyum.

"Eh?" Aku hanya termangu tak menyangka akan diberikan jenis pertanyaan seperti itu.

"Kaa-san sepertinya sudah pernah menanyakan itu sebelumnya." Suara Sasuke mengalihkan pandangan semua orang dari raut ajaibku.

"Stt, Kaa-san hanya penasaran pendapat Sakura-chan!" Mikoto-san memutar bola matanya.

Aku menggaruk bekalang kepalaku cangung saat pandangan ingin tahu seluruh ruangan kembali beralih ke arahku.

"Ano, Saya tidak begitu mengenal Itachi-san tapi menurut saya Sasuke mirip dengan Mikoto-san, awalnya terlihat sombong dan semaunya sendiri tetapi begitu sudah mengenalnya, sebenarnya sasuke adalah teman mengobrol yang menyenangkan. Walaupun terkadang terlalu jahil." Kataku sambil tertawa mengingat pertemuanku dengan Sasuke siang tadi.

Benarkah baru siang tadi? Kenapa aku merasa kedekatanku dan Sasuke sudah seperti sahabat sejak kecil yang hidup bersama dan tak terpisahkan?

Ha.

Ha. Tertawa sarkastik dalam hati.

Pandangan ingin tahu seluruh ruangan berubah menjadi pandangan terperangah tak percaya.

Apa? Innerku berteriak.

Apakah aku mengatakan sesuatu yang aneh? Kenapa mereka malah terperangah?

Aku kan' hanya mengatakan apa yang aku pikirkan, oke mungkin pikiranku terkadang absurd dan barbaric dan sedikit liar tapi-

HEY! Im trying to be frank here. Dang it.

"Tak aku sangka akan ada satu orang lagi yang mengatakan bahwa Sasuke-kun mirip denganku selain Naruto-kun, semua orang yang aku tanya pasti menjawab bahwa Sasuke-kun mewarisi sifat kaku Fugaku. Bahkan Hinata-chan juga menjawab Sasuke-kun mirip Fugaku." Mikoto-san tiba-tiba bangkit dari duduknya dan memelukku.

Whoa.

"Mereka yang menjawab Sasuke-kun mirip dengan Fugaku yang kaku pasti tidak mengenal Sasuke-kun dengan baik. Sasuke-kun tidak mau terbuka tentang sifat aslinya di depan orang lain selain kepada keluarga dan Naruto-kun, yang adalah sahabatnya sedari mereka masih menggunakan diapers." Sambung Mikoto-san setelah melepas pelukannya.

"Kaa-san masih saja terobsesi bahwa aku dan Sasuke memiliki sifat yang sama dengan Kaa-san." Kali ini Itachi ikut menimpali.

"Mau bagaimana lagi, Kaa-san kan tidak ingin anak- anak Kaa-san menjadi manusia tanpa ekpresi seperti Otou-san kalian. Cukup satu saja manusia berwajah datar dirumah ini." Kata Mikoto-san sambil berjalan kembali menuju kursinya.

"Ngomong- ngomong, Sakura pasti sudah kenal lama dengan Sasuke sampai sudah mengenal Sasuke dengan begitu baik. Dasar Sasuke, berapa lama kau berniat menyembunyikan gadis manis ini untukmu sendiri?" Itachi terdengar mempermainkan Sasuke lagi.

Ha. Ha.

Jika mengenal selama beberapa jam bisa dibilang lama. Then yes, I know him for my whole life, Itachi-san.

"Belum lama…"Sasuke menjawab .

"Kau tahu kan Sakura-chan, Sasuke-kun kami memiliki fangirls. Betapa aku ingin tertawa saat mengetahui Sasuke malah terganggu, bukannya bangga seperti anak laki-laki lain. Kau tak perlu takut pada gadis lagi Sasuke-kun, kau terlalu tua untuk itu..."

Mikoto-san tersenyum sebelum melanjutkan, "Kenapa baru main ke rumah sekarang Sakura-chan? Kaa-san senang sekali akhirnya Sasuke-kun mempunyai teman gadis."

Karena walaupun kita sudah sering bertemu, Sasuke baru berkenalan denganku siang ini, Mikoto-san.

Alih- alih menjawab demikian aku hanya tersenyum menanggapi perkataan Mikoto-san, begitu pula Sasuke.

Percakapan berlanjut didominasi oleh Mikoto-san dan Hinata hingga makan malam berakhir, sampai akhirnya Itachi menawarkan diri untuk mengantarku pulang, katanya sekalian dia akan bertemu dengan Deidara.

Sedikit bimbang, akhirnya aku iyakan saja ajakan Itachi, hitung- hitung bisa untuk penghematan ongkos taksi sampai apartemenku. Mengingat Sasuke pasti akan bersama Hinata setelah ini dan aku tidak enak hati jika memintanya mengantarku pulang.

"Biar aku saja yang mengantar Sakura, aku sudah berjanji akan mengantarkannya pulang." Sasuke menahan aku yang akan masuk ke dalam mobil Itachi, meninggalkan Fugaku-san, Mikoto-san dan Hinata yang masih berada di meja makan.

"Iie, tak apa Sasuke. Sepertinya kau sibuk." Tolakku setelah duduk di kursi belakang, aku cukup tahu diri bahwa Itachi akan bertemu dengan Deidara sehingga sengaja mengosongkan tempat duduk di sebelah Itachi.

"Aku tetap ikut mengantar Sakura. Aku tidak mau melanggar janjiku." Kata Sasuke bersikeras.

Aku tidak mengingat Sasuke berjanji akan mengantarku pulang, tapi aku tak menahannya lagi saat detik berikutnya Sasuke sudah duduk manis di sebelahku.

"Hei- hei, kalian berdua membuatku terlihat seperti supir saja!" Itachi melotot jengkel pada Sasuke, yang dibalas dengan juluran lidah.

Dasar kekanak-kanakan.

"Jahat sekali, kenapa kau tinggalkan Hinata sendirian? Bukankah kau tunangannya?" Kataku menoleh ke arah Sasuke yang memutar bola matanya sebelum bersender ke arah bahuku.

"Diam dan biarkan aku tidur."Sasuke bergumam dengan mata terpejam dan kepala yang menyender di bahuku.

"Hey! Jadi begini caramu mengantarku pulang? What a proficient." Sindirku sambil menggoyang-goyangkan bahuku agar Sasuke menjauh.

Sasuke hanya berdecak dan tetap bergeming, "Biarkan seperti ini sebentar saja."

Menghela napas, akhirnya kubiarkan saja Sasuke tidur bersandar di bahuku, raut wajahnya terlihat lelah dan aku merasa aku adalah penyebab besar dia merasakan lelah hari ini.

Di depan sebuah mini market Itachi menghentikan mobil dan masuklah seorang berperawakan tinggi dan langsing seperti seorang model, berambut pirang panjang yang diikat ekor kuda tinggi dengan poni panjang jatuh menutupi wajahnya. Mata birunya mengintip dari sela rambutnya. Sangat cantik walaupun dengan gaya berpakaian tak sesuai dengan yang aku bayangkan, Deidara mengenakan kaos panjang sampai setengah lutut dan celana jeans hitam yang ketat, lebih terlihat boyish.

Aku tertawa dalam hati karena Deidara begitu mirip dengan sahabatku Ino. Jika saja Ino dan Sai melihat Deidara, mereka pasti akan tertawa bersamaku sambil membandingkan siapa yang lebih cantik.

Sisa perjalanan dilewati dengan obrolan Deidara dan Itachi yang hangat, Jadi Deidara adalah teman satu universitas Itachi, bahkan mereka tinggal di flat yang sama di New York.

Well, mungkin bukan hal yang aneh untuk tinggal bersama dengan pacar jika kau berada di Amerika, tapi hal ini masih terdengar asing di telingaku yang bahkan hingga saat ini masih belum merasakan ciuman pertamaku.

Hiks. Meratapi masa remajaku dalam hati saat menyadari mobil sudah berhenti di depan Apartemenku.

"Sudah sampai," Itachi menoleh ke arahku dan dengan cepat kubangunkan Sasuke yang masih terlelap dan dengan tenangnya bernafas di leherku.

"Terimakasih Itachi-san sudah mengantarku pulang, maaf mengganggu kau dan Deidara-san." Aku membungkuk setelah beranjak dari dalam mobil.

Dari dalam, Sasuke memutar bolamatanya."Apa- apaan, aku tidak dapat ucapan terimakasih?"

Aku menyeringai, "Tidak."

Kemudian aku menutup pintu mobil tepat di depan mukanya. Aku menjulurkan lidahku dan mundur menjauh dari mobil.

"Hoi," Itachi menoleh ke arah Sasuke, "Antar dia sampai apartemennya, pastikan Sakura masuk dengan selamat."

Sasuke menggerutu. "Sekarang. Kau harus belajar memperlakukan kekasihmu dengan lebih baik, Sasu-chan."

"Jezz." Sasuke membanting pintu mobil dan menyeringai ke arah Itachi yang sedang memelototinya.

Aku hampir sampai di tangga menuju apartemenku saat langkah Sasuke mendekat. "Apa-"

"Itachi menyuruhku untuk mengantarmu sampai pintu apartemenmu." Gumamnya. "Memastikan kau sampai dengan selamat."

Aww that was sweet of Itachi. Aku tersenyum dan mulai menaiki tangga yang cukup lebar untuk dua orang berdampingan. Sasuke berjalan di sampingku dengan langkah yang sama pelan dengan langkahku.

"Sudah sampai." Aku berhenti di depan pintu apartemenku yang berada di lantai tiga.

"Baiklah, sampai jumpa besok." Sasuke memandangku dan mengangguk.

"Ya, Sampai jumpa." Jawabku.

Sasuke berbalik dan berjalan menjauh sebelum kemudian menoleh dari balik pundaknya. Aku melambaikan tanganku sambil tersenyum saat aku rasakan dua buah lengan merangkulku dari belakang.

Sai.

Ku lihat Sasuke berhenti melangah dan mengerutkn dahinya. Aku mengipaskan tanganku mengisyaratkan kepada Sasuke agar cepat pulang karena Itachi dan Deidara masih menunggunya dibawah tapi Sasuke malah berbalik dan melangkah kembali ke arahku dan Sai.

Oh tuhan, apa lagi?

Tbc

A/N: Gomen Eve baru bisa update setelah berbulan- bulan, dengan judul baru pula. Tadinya fanfic ini judulnya Me Jewelry and a Cup of Coffee, tapi karena Eve merubah keseluruhan plot dan judul yang lama Eve rasa tidak cocok dengan plot baru, so yeah. Eve usahakan tidak akan ngaret update lagi. Sekali lagi gomen ne, Eve ngantor dari senin sampai sabtu jadi susah cari waktu buat ngelanjutin ini. Paling cuma sempet bikin oneshot satu dua, untuk yang suka fluffy, fell free to check them out. #modus

Anyway, Terimakasih sudah membaca.

Poff.

Kritik, saran dan pendapat (atau ada yang mau menebak apa reaksi Sasuke selanjutnya ) silahkan sampaikan lewat review.

-with cherry on top-

.the autumn evening.