Pretty Pretty Please?
By: the autumn evening
Pairing: Sasuke/Sakura
Rating: T
Disclaimer:me no own.I don't even own the computer I'm typing this on.
Warning:AU. Typos. OOC ( used to be Me, Jewelry and a cup of coffee)
Thanks to:
Nyanmaru desu, hanazono yuri, ratihh, franceour, SayuriOrchidflen, Lhylia Kiryu, zey-yenns28, tamii, pratiwirahim
.
Chapter 5:
The Grumpy Sai and The Playful Sasuke
.
.
Read and Review
.
.
Bingung dan ingin tahu tergambar jelas di wajah pucat milik Sai saat dia melihat ke arah Sasuke yang melangkah ke arahku. Aku hanya meringis canggung pada Sai.
Kita selalu mempunyai saat- saat canggung dalam hidup, seperti yang sudah di takdirkan. Terkadang aku bertanya- tanya apakah normal jika itu terjadi begitu sering?
Saat Sasuke berjalan mendekatiku dan Sai yang masih melingkarkan lengannya di pinggangku, aku tidak tidak tahu harus berkata apa dan bagaimana mengatakannya. Otakku sepertinya mendadak tidak berfungsi dan itu sama sekali tidak mempermudah situasiku saat ini. Entah apa penyebab aku yang tiba- tiba merasa seperti baru saja tertangkap basah berselingkuh di hadapan Sasuke.
Sasuke sudah sampai di depanku, raut wajahnya tak terbaca. Ekpresinya sama dengan yang selalu dia tunjukan sebelum kami berkenalan, dingin, bukan ekspresi yang sombong dan jahil yang tadi siang. Keheningan yang canggung menyelimuti kami, saat pintu apartemenku terbuka disusul munculnya sosok Ino dari balik pintu. Sai segera melepaskan rengkuhannya padaku.
"Sakura?" Ino memanggil namaku, pandangannya penuh keingintahuan. Ino dan Sai memandangku kemudian Sasuke, menunggu aku mengenalkan Sasuke dan aku malah hanya berdiri seperti seorang idiot.
Well, ini adalah pertama kalinya ada seorang teman yang berkunjung ke apartemenku selain Sai, jadi tak heran jika reaksi Sai dan Ino terkesan seperti baru saja melihat alien, alien yang supertampan.
"Um.. guys, ini Sasuke. Dan Sasuke, dua makhluk ini adalah sahabatku."
Ino memicingkan mata, menungguku untuk meneruskan yang hanya ku jawab denga diam.
"Sasuke." Sasuke memperkenalkan diri, menyalami Sai dan Ino.
"Sai."
"Aku Ino, senang bertemu denganmu, Sasuke." Ino melirik ke arahku dan melemparkan senyum aneh.
"Darimana Saja kau, Jelek?" Sai bertanya. Aku membuka mulut untuk menjawab tetapi Sai memotongku "Kau baru saja sembuh dari sakit, tidak seharusnya berada di luar sampai larut."
Aku tahu Sai benar beberapa hari yang lalu aku terserang flu yang cukup parah, maka aku tidak berniat untuk menyangkalnya.
"Ayo masuk," Ino mengisyaratkan untuk mengikutinya masuk apartemen.
"Aku sebaiknya pulang." Sasuke berbisik kepadaku dan disusul dering ponselnya.
Tak selang beberapa lama, Sasuke menutup telepon dan menghela napas kesal. Aku melemparkan tatapan ingin tahu ke arahnya.
"Kenapa, Sasuke?"
"Itachi bilang karena aku terlalu lama jadi dia akan pergi berkeliling bersama Deidara." Sasuke memasukan lagi ponselnya ke dalam saku belakang celananya.
"Kalau begitu, kamu ikut bergabung dengan kami saja. Kami berniat menonton film malam ini, ada banyak makanan di dalam." Ino berkata dengan semangat.
"Hei Ino! Makanan siapa yang kamu bicarakan?" Aku meneriaki Ino, sebal karena aku tahu dia tidak pernah memiliki makanannya sendiri dengan alasan diet.
Ino memutar bola matanya bosan, "Tadi sore Sai baru saja belanja untuk memenuhi kulkasmu karena makananmu sudah kami habiskan siang tadi. Jadi jangan khawatir akan kehabisan makanan."
"Ya, benar." Sai mengangguk dan mulai berjalan masuk melewati pintu, sambil berbisik melewati Sasuke, "Saranku, jangan makan potato chipsnya, jika tidak ingin Sakura membunuhmu." Sai menunjukku dengan dagunya.
"Lucu banget deh, Sai." Aku meninju bahu Sai main- main.
.
.
Apartemenku dan Ino sangat nyaman walaupun dengan ukuran yang tidak begitu besar. Pintu masuk menghadap ke utara di sisi paling barat, yang pertama kali kau temukan jika membuka pintu adalah sebuah kubus berukuran besar tanpa pembatas dengan ruang tamu yang lebih cocok disebut ruang santai, terdiri dari sofa besar berwarna china white yang terlihat hangat tapi tidak hot banget dengan meja bulat yang di letakan di atas karpet abu- abu besar, menghadap TV flat screen dan beberapa peralatan tekhnologi pendukung super canggih lainnya.
Dinding dan lantai berwarna cokelat terang dengan motif seperti kayu sedangkan langit- langit di biarkan putih yang di pusatnya menempel berbagai macam warna dan bentuk Lampshade membentuk lukisan abstrak.
Ruang makan, dapur dan kamar tidur membentuk huruf L mengelilingi ruang santai. Tak ada pembatas dinding di antara tiap ruangan sehingga kau bisa melihat ruang makan dan dapur di belakang ruang santai dan Kamar tidur di sebelah kanan ruang santai. Yang memisahkan ruang santai dengan ruang lainnya adalah lantai yang dibuat enam puluh senti lebih tinggi dengan dua undakan tangga dan tool cabinet dari kaca yang menjulang hingga langit- langit berisi beberapa guci keramik, buku dan beberapa bingkai fotoku, Ino, dan Sai.
Dapur dengan konsep terbuka terletak tepat di selatan ruang santai, disamping ruang makan dengan pemisah bar counter yang lagi- lagi berwarna china white. Aku cukup senang berekperimen di dapur sehingga perlengkapan yang mendukungku cukup lengkap.
Springbed kingsize tempat aku dan Ino tidur terletak di sebelah timur ruang santai dekat balkon yang menghadap ke arah matahari terbit.
Lemari pakaian walk in yang menyimpan harta milikku dan Ino berada di dinding sebelah kanan tempat tidur sedangkan kamar mandi berada di dinding sebelah kiri. Ada large standing mirror yang bisa aku pindahkan sesukanya di samping meja rias Ino.
"Wow, Nice apartment." Sasuke berdecak kagum saat berada di ruang santai, menyusul Ino yang sudah sibuk dengan kotak penyimpanan keping dvd.
"I know, right. Sakura yang mendesign semuanya. Aku sih tinggal membawa my cute ass dan nggak berniat komplain karena sudah tahu Sakura akan menyulap apartemen kita jadi super seksi begini. Kalo menurutku juga Sakura lebih berbakat di design interior daripada design jewelry." Sambut Ino sambil menarik kotak keping DVD menuju sofa dan duduk di atas karpet menyusul Sasuke yang sudah duduk manis di Sofa.
Sasuke menggosokan tangganya di kedua pahanya, menyamankan dirinya. Aku sudah akan mendudukan diri di sampingnya saat sebuah tangan lagi- lagi merangkul pundakku.
"Aku butuh bantuanmu di dapur." Sai bergumam dan mendorongku menuju dapur, literally. Sesampainya di dapur, Sai mendorongku dengan sedikit kasar. Tatapannya terik dengan kemarahan, rahangnya mengeras. Aku tidak sering melihat Sai marah sebelumnya, dia yang begini sedikit membuat nyaliku menciut juga.
"Hey!" aku mengelus lenganku yang barusan dia cengkeram. "Apa sih masalahmu?"
"Kamu. Kamu masalahku." Sai maju mendekatiku. Aku melangkah mundur sampai punggungku bertemu dengan kulkas.
"Kamu ngomong apa sih?" Aku mengerut bingung. Sai meletakan tangannya di pundakku dan menekannya pada kulkas di belakangku.
"Siapa orang aneh itu?" Aku tahu yang Sai maksud adalah Sasuke.
"Namanya Sasuke, dan dia tidak aneh." Aku menjawab tersinggung.
"Aku tidak tahu kau punya teman bernama Sasuke." Sai masih dengan sengitnya memojokkanku.
"Memangnya aku harus melaporkan siapa saja temanku padamu?"
"Tentu saja! Sejak kapan kau berteman dengan orang aneh itu?"
"Sejak tadi siang," Jujurku, aku tahu bahwa aku tidak pernah bisa berbohong di hadapan Sai dan Ino, jadi percuma saja jika mencobanya kali ini di saat Sai terlihat tidak begitu bersahabat.
"Kamu benar- benar ceroboh, Sakura. Membiarkan orang asing yang baru kau kenal hari ini mengunjungi apartemenmu. Bagaimana jika dia pembunuh berantai atau dia seorang rapist?"
"Well, dia mengajakku ke rumahnya sebelum ini. Lagian tadi Sasuke hanya berniat mengantarku pulang. Ino yang mengundangnya masuk." Jujur aku hampir tidak bisa berkata- kata, aku sama sekali tidak kepikiran bahwa Sasuke akan melakukan hal jahat padaku, pembunuh bayaran? Pemerkosa? Apa pula dugaan Sai, nadanya juga, aku tidak begitu suka dengan nada menghakimi yang Sai gunakan.
"Tetap saja dia adalah orang asing. Aku tidak suka! Kamu terlalu cepat percaya pada orang yang baru saja kamu temui." Sai menggeleng dan melangkah mundur.
"Kenapa kamu begitu mempermasalahkan ini sih?" Aku melipat kedua lenganku di depan dada. "Kamu cemburu?" Sai tertawa.
"Memangnya kenapa aku harus cemburu?" Dia balik bertanya heran. Dia berjalan memojokanku kembali.
"Entahlah, kau bertingkah seperti seorang kekasih yang sedang cemburu sekarang." Aku meletakan tanganku di dadanya, mencoba mendorongnya tapi Sai malah mencengkeram pergelangan tanganku. Matanya tepat menatap mataku.
"Aku tidak cemburu." Katanya penuh penekanan sambil mencondongkan kepalanya mendekat. "Kalau aku mau kamu, aku sudah memilikimu sejak lama."
"Yeah, Terserah." Aku memutar mataku. Memang benar dulu, dulu sekali aku pernah menyukai Sai. Tapi itu sudah lama sekali dan aku sudah lama melupakan perasaanku kepadanya bahkan aku sampai lupa alasan mengapa aku harus melupakannya dulu.
"Mudah saja mengggodamu." Pandangan mata Sai jatuh di bibirku. "Memuaskan tubuhmu yang masih virgin ini."
"Tahu dari mana kalau aku masih virgin?" Aku meneguk ludah.
"Kamu lupa, aku tahu semua tentang kamu. Lagipula, tanpa harus menjadi sahabatmu juga aku sudah tahu bahwa kau masih virgin. Itu tertulis jelas di wajahmu."
"Sai, penting ya kita berdebat tentang ini?" Aku mulai tak nyaman dengan kemana arah percakapan ini berjalan.
"Kita tidak berdebat Sakura, ini diskusi." Sai sepertinya tidak berniat mengakhiri ini dalam waktu dekat.
Aku meniup poniku yang jatuh di dahikudengan putus asa, "Baiklah, Sai. Cukup sudah Diskusi kita kali ini. Mereka menunggu kita, jadi baiknya kamu lepasin aku sekarang."
"Aku membuat kamu gugup." Sai berkata tanpa menyembunyikan nada kemenangannya. "Ini baru awal." Lanjutnya sebelum melepaskanku.
Aku memandangnya penuh tanya untuk beberapa saat sebelum berjalan cepat meninggalkan dapur dengan kantong besar berisi makanan.
Di ruang santai, Ino masih melihat beberapa cover film yang berjejer di hadapannya. Sasuke masih duduk diam di sofa seperti saat aku meninggalkannya tadi.
Aku tak bisa percaya dia ada disana. Maksudku, aku dan dia baru berkenalan siang tadi setelah berbulan- bulan aku hanya menjadi pembuat secangkir pacillo untuknya di MJ's tanpa interaksi yang berarti.
"Welcome back," Sasuke tersenyum melihat kehadiranku, lesung pipi terbentuk di pipi kirinya. Wow, aku baru menyadari dia memiliki lesung pipi. Cute banget! Tiba- tiba seperti ada yang menabuh drum di dadaku.
Ba-thum. Ba-thum. Ba-thum.
"Kangen aku?" Godaku sambil membalas senyumnya. Aku tahu pasti Sasuke merasa tidak nyaman di tempat baru dengan orang- orang baru, sehingga kemunculanku pasti membuatnya lega.
"Selalu." Sasuke membalas godaanku dengan suara seksinya membangunkan sesuatu di perutku, bisa- bisanya aku lupa bahwa Sasuke punya suara yang super seksi. Mataku mendarat di bibirnya yang terlihat penuh dan basah. I bet my potato chips he was a good kisser.
Tiba- tiba aku tersadar bahwa aku tidak akan pernah tahu jika Sasuke benar- benar pintar berciuman atau tidak. Aku dan Sasuke hanyalah teman. Dan saat aku cek terakhir kali, teman tidak saling berciuman satu sama lain.
"Jadi," Suaraku mengalihkan perhatian Ino "Kita mau nonton apa?"
"Dawn of the bloody mutilated zombie . Film favoritmu kan, Jelek?" Sai menjawab dengan candaan. Aku terkekeh, sepertinya Sai sudah tidak memperpanjang perdebatan kami di dapur tadi.
"Nggak tahu nih, ada banyak sekali. Aku mau menonton semuanya." Ino cemberut.
Yeah, apakah aku sudah menyebutkan bahwa sahabat pirangku mempunya obsesi terhadap film? Dia bahkan pernah ingin menjadi sutradara, hanya tuhan yang tahu mengapa dia tidak melanjutkan mimpinya dan malah berkutat dengan dunia modeling seperti sekarang.
"Kita vote saja." Sasuke berkata mengejutkan kami bertiga. Kami menatapnya beberapa saat. "Film dengan vote yang lebih banyak menang."
"Ide bagus Sasuke!" Ino mengangguk setuju.
"Baiklah," Aku menepukan kedua tanganku. "Pilihannya?" Aku bertanya ke arah Ino.
"Well, kita punya…." Ino membalik beberapa cover "Friends with benefits," Ino memperlihatkan cover film pertama.
"Kita juga punya Dawn of the Zombie, The Proposal, dan Dear John"
"Kenapa pilihannya film romantis semua?" Sai mengernyit sebal.
"Sejak kapan Dawn of the Zombie jadi film romantis, Sai?" Tanya Ino sarcastik.
"Itu bukan poinnya, Ino." Sai menimpali.
"Waktunya voting!" Ino mengabaikan nada protes Sai.
"Dawn of the Zombie." Sai berkata.
"Pasti deh." Ino memutar mata bosan. "Aku pilih Friends with Benefits" Dia melirikku dan mengerling. Aku tidak mau menonton tentang zombie, jujur aku tidak punya perut yang kuat. Silahkan perlihatkan darah yang banyak dan kau akan melihatku muntah. "Friends with Benefits." Kataku kemudian.
Sebenarnya aku ingin memilih The Proposal, film comedy- romance favoritku sepanjang masa yang sudah aku putar berulangkali tanpa bosan. Tapi jika masing- masing dari kami memilih Film yang berbeda, maka voting tidak akan berhasil, so yeah.
Perhatian kami sekali lagi tertuju kepada Sasuke. "Pilih satu, terserah kamu." Aku berkata saat Sasuke hanya diam dan malah menatapku. Kulihat Sai mulai bergumam 'Pilih yang Zombie' pada Sasuke.
"Sai, diem deh. Biar Sasuke pilih sendiri," Aku memelototi Sai. Sasuke terlihat ragu.
Jangan Zombie please. Jangan Zombie. Mohonku dalam hati, Sasuke melihatku kemudian tersenyum, sepertinya dia memahami keinginanku. "Friends With benefits."
"Yes!" Ino melompat senang dan mulai melakukan tarian aneh. "Take that, Mister Zombie." Ino menjulurkan lidahnya ke arah Sai.
"Apaan sih?" Sai memandang Sasuke protes.
"It's hard to say no to Sakura." Jawab Sasuke sambil mencubit pipiku gemas. Jantungku berasa meleleh di dalam dadaku, aku yakin aku tidak bernafas selama beberapa detik.
Sial, Sasuke masih terus menggodaku. Tarik napas dalam- dalam, hembuskan.
Sadar Sakura, Sasuke hanya sedang menggodamu.
Aku membersihkan tenggorokanku.
"Ayo nonton sekarang." Aku mencoba menutupi pipiku yang aku yakin merona sewarna tomat. Aku bisa merasakan sepasang mata menatapku, dan menemukan Sai tengah memandangku tajam dengan terang- terangan.
"Kesinikan makanannya." Sai member isyarat kepadaku untuk memberikan kantong besar berisi makanan ke arahnya.
"Buruan, Jelek. Aku tahu kamu ingin merampas semua potato chipsnya tapi ada cukup banyak di sana untuk kita makan bersama." Aku memicingkan mata memandangnya.
"Aku kira semuanya untukku." Ku peluk kantong besar itu semakin mendekat.
"Ada lima bungkus potato chips ukuran besar disitu," Ino membela Sai "Buruan bagi." Aku mendesah kalah.
"Fine, Satu bungkus untuk kalian berdua." Aku melempar sebungkus potato chips ke arah Sai yang ditangkapnya di udara. Ku dengar Sasuke terkekeh di sebelahku, aku mengalihkan pandanganku ke arahnya.
"Kamu tidak pernah mengatakan padaku bahwa kamu punya obsesi terhadap potato chips." Komentarnya heran.
"Aku pikir ada banyak hal yang kita tidak saling tahu."
"Benar juga." Dia setuju, mengulum bibir bawahnya ke dalam mulutnya. Tidakkah dia tahu bahwa perbuatannya itu memancingku untuk berpikir yang iya- iya saat melihatnya?
Ino selesai memasukan keping film kedalam dvd dan kami berempat memposisikan diri di atas karpet agar lebih dekat dalam menikmati film. Ino mematikan lampu dan dengan sekejap kami diselimuti kegelapan. Tiba- tiba aku merasa tidak nyaman, Sasuke hanya berada beberapa inchi di sebelahku, aku bisa melihatnya dari sudut mataku.
Aku bergumam dalam hati mencoba menstabilkan perasaanku. Betapa supernya Sasuke yang dalam satu hari bisa mengombang- ambingkan perasaanku. Sampai tadi sore saat di rumah Sasuke, aku masih bisa dengan yakin berkata bahwa aku tidak memiliki perasaan khusus kepadanya. Tetapi kini, hanya berselang beberapa jam kemudian dia membuatku merasakan serangan jantung dengan tingkahnya yang mendadak manis di hadapan Ino dan Sai. Walaupun aku tahu dengan pasti bahwa dia hanya bermain- main denganku. Sasuke and his playfulness.
Ku alihkan perhatian ke arah layar yang mulai memutar film. Menit- menit awal kami lewati dengan keheningan dan hanya mengatakan beberapa komentar di beberapa bagian, tentu saja. Tapi kemudian, tibalah pada adegan sex. Tokoh utama mulai berciuman dan mendekati ranjang. Wajahku merona karena malu, telingaku terasa panas. Sasuke mulai menggeser duduknya tak nyaman di sampingku.
"Wow, pilihan yang bagus, girls." Sai mengejek sambil menyeringai. Aku menoleh ke arah Ino yang mulutnya terbuka lebar. Well, aku dan Ino sama- sama masih virgin. Kali ini memang bukan pertama kalinya kami melihat adegan sex di sebuah film, tapi kali ini adalah pertama kalinya kami melihat adegan semacam ini dengan dua pemuda di ruangan yang sama.
Awkward moment.
Jantungku semakin berdegup kencang, kedua tanganku terkulai lemas di kedua pahaku. Tubuhku menegang saat aku rasakan tangan Sasuke menggenggam tanganku. Aku mengalihkan perhatianku kepada Sasuke tetapi dia masih terlihat fokus dengan adegan dalam film dan sepertinya tidak sadar dengan tangannya yang menggenggam tanganku.
Dia ngapain sih? Aku merasakan Sasuke meremas tanganku lembut dan aku rasanya mau pingsan. Tanganku mulai berkeringat karena aliran listrik yang aku terima, apakah Sasuke menyadarinya? Adegan di layar tv menjadi semakin intense, sang perempuan mendesah keras. Baiklah, aku memutuskan untuk melarikan diri.
"Aku mau ke kamar mandi." Aku menghempaskan tangan Sasuke dan berdiri hendak lari ke kamar mandi saat melihat Ino menatapku dengan pandangan memelas. Aku menggerakan bibirku mengucapkan kata 'Maaf' tanpa suara kepada Ino dan mulai melangkah pergi.
Dalam hati aku tidak berhenti menggumamkan kata 'maaf' karena telah meninggalkan Ino dengan dua orang remaja pria dengan ditemani adegan sex di televisi. Maafkan aku Ino, aku hanya tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku tetap duduk di samping Sasuke. That's just too much to handle.
Tbc
A/N:Hai, ini Eve lagi dengan chapter lima. Cukup kilat ya Eve bisa update dalam waktu dua minggu, ini karena Eve lagi dalam mood yang baik. Ada yang sadar nggak, kalau chapter dua, tiga, empat, dan lima itu settingnya masih dalam satu hari? Bener kata Sakura, That's just too much to handle.
Tapi nggak impossible kok bahwa seseorang bisa memiliki hari yang super panjang dengan berbagai kejadian di dalamnya. #alasan
Gimana pendapat kalian? Ada yang suka sama karakter Sai disini selain Eve? #TeamSai atau #TeamSasuke ? Kalo Eve sementara dukung #TeamSai, ya tuhan, Sai hoooot banget xD
Oh iya, apakah alur terlalu lambat? Atau Cepat? Atau this story is a piece of shit and i don't give a damn?
Anyway, Terimakasih sudah membaca.
Poff.
Kritik, saran dan pendapat silahkan sampaikan lewat review.
-with cherry on top-
.the autumn evening.
