Pretty Pretty Please?
By: the autumn evening
Pairing: Sasuke/Sakura
Rating: T
Disclaimer: me no own. I don't even own the computer I'm typing this on.
Warning: AU. Typos. OOC, Kebarat- baratan, used to be Me, Jewelry and a cup of coffee.
Thanks to:
Francoeur, Lhylia Kiryu, EsterhazyTorte, akasuna no ei-chan, rikaochan, hanazono yuri, , Subarashii Shinju, Guest, AngelRyeong9
.
Chapter 6
.
Read and Review
.
.
Aku masuk ke dalam kamar mandi, menutup pintu dan berjalan menuju cermin yang menempel di dinding. Aku mengumpulkan air kran di kedua telapak tanganku dan membasuhnya ke seluruh wajahku. Bagaimana ini? Kenapa aku jadi merasakan perasaan aneh kepada Sasuke? Aku harus membuang jauh- jauh semua yang aku rasakan pada Sasuke jika masih ingin hidup normal tanpa sakit hati dan sebelum aku naksir berat pada Sasuke.
Aku mendesah, menyandarkan kepalaku pada cermin dan menutup mataku. Setelah merasa ekpresi wajahku sudah kembali seperti biasa, aku kembali menuju ruang santai. Ino dan Sai tampak sedang mengobrol sedangkan Sasuke tengah berkutat dengan ponselnya. Dia meletakan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Film masih berjalan, adegan ranjang kelihatannya sudah berakhir.
Aku merasakan Sasuke mendekatiku dan kurasakan nafasnya menyapu telingaku. Aku meneguk ludah.
"Aku harus pergi sekarang," Suara seksi miliknya mengipasi telingaku, membuatku merinding.
"Hum, Baiklah." Tanggapku. Terimakasih tuhan, suaraku terdengar cukup biasa. "Guys, Sasuke harus pulang. Aku akan mengantarnya sampai depan." Aku mengatakannya dan berjalan bersama dengan Sasuke menuju pintu.
"Jadi," Sasuke menatapku setelah sampai di luar apartemen. "Senang menghabiskan hari denganmu, Sakura."
"Aku juga." Anggukku sambil tersenyum.
"Sayang sekali aku harus cepat pergi, Itachi sepertinya sudah selesai dengan Deidara." Sasuke memberiku senyum manis.
Aku merasakan kakiku lemas, cukup sudah Sasuke mempermainkan perasaanku hari ini. "Berhenti berakting all-sweet seperti itu, Sasuke. Kita tidak sedang berada di bawah sebuah ilusi bahwa hubungan kita sebegini baik."
"Sangat menyenangkan bisa menggodamu, Sakura."
Aku menggeram kesal, "Sudah sana pulang, jangan biarkan Itachi-san menunggu."
"Aku nggak dapat goodbye kiss?" Sasuke ternyata masih menikmati waktunya untuk menggodaku. Aku meletakan kedua tanganku di pinggang, memelototi Sasuke dan bersiap memarahinya.
"Baiklah, aku pergi. Jangan terlalu merindukan aku, sampai jumpa Sakura." Sasuke melambaikan tangan sambil melangkah menjauh.
.
.
Aku bangun saat jam dinding di kamarku sudah menunjuk angka sebelas esok harinya. Aku mengerjap- ngerjapkan dan hampir menutup mataku kembali saat Ino menarik selimutku agar aku bangun.
"Beri aku lima menit Ino," Aku menggumam serak dan menutupi kepalaku dengan bantal, menghindari sinar matahari yang masuk dari jendela.
"Tidak lagi, Sakura. Kau mau menghindariku lagi, huh?" Ino menggoyang-goyang bahuku dengan kencang. Aku yang masih setengah sadar hanya menggeram dan akhirnya mendudukan diriku.
"Apa sih, Pig?" Tanyaku serak sambil meraih karet untuk mengikat rambut sepunggungku.
"Kau masih hutang penjelasan tentang Sasuke padaku. Ayo ceritakan sedetail- detailnya." Ino bersedekap sambil memelototiku. Oh, aku jadi ingat, semalam aku langsung pergi tidur setelah mengantar Sasuke agar Ino dan Sai tidak bertanya lebih jauh tentang Sasuke. Aku tahu aku tidak akan bisa menghindar selamanya dari Ino.
"Fine! Apa yang kamu mau tahu?" Tanyaku menyerah.
"Siapa Sasuke? Sejak kapan kamu mengenalnya? Kenapa aku baru tahu hari ini?" Ino melempariku pertanyaan dengan bertubi- tubi.
Aku memutar mataku maklum, Ino dan Sai memang sama- sama protektif kepadaku jika membahas masalah tentang teman lelaki. "Sasuke adalah seseorang yang aku kenal, aku mengenalnya baru kemarin siang, itulah kenapa kamu baru tahu tentang dia tadi malam." Jawabku santai, tetapi dalam hati cemas juga dengan reaksi Ino.
"Apa? Baru kenal kemarin dan kamu sudah mengajaknya ke sini?" Ino berteriak histeris. Aku menghela napas melihat reaksi Ino yang tidak jauh berbeda dengan Sai, sebelum membela diri. "Tadinya dia hanya akan mengantarkan aku pulang karena saat aku akan pulang dari rumahnya hari sudah malam, tapi…"
"Kamu sudah diajak ke rumahnya?" Ino makin histeris.
"Kamu mau terus menerus menjerit atau mau aku menjelaskan dulu?" Tanyaku sabar. Ino terlihat menghela napas dan akhirnya mengizinkanku meneruskan, aku menceritakan seluruh kejadian kemarin siang sejak dari taman, makan malam dengan keluarga Uchiha hingga Sasuke yang mengantarku pulang.
"Tentang dia yang ke sini, kan kamu yang mengajaknya masuk. Jadi bukan sepenuhnya salahku." Kataku membela diri sebelum Ino menyalahkanku mentah- mentah.
Ino terlihat tak bisa berkata- kata untuk beberapa saat setelah mendengar ceritaku.
"Kamu suka sama dia?" Tanya Ino kemudian.
"Aku nggak tahu, dia bikin aku pusing. But that's not the point. Lagian dia nggak suka aku, Dia sudah punya tunangan." Jawabku lemas.
"Oh dear, I'm so sorry." Ino memelukku, yang ku tanggapi dengan tawa yang terdengar terpaksa.
"It's okay. I'm Okay."
.
.
Aku disini lagi, berdiri di belakang espresso machine dan melayani beberapa pengunjung seperti biasa. Sasuke baru saja mendudukan dari di sudut ruangan setelah mendapatkan secangkir Pacillo seperti biasa. Sudah aku putuskan untuk menghadapi Sasuke dengan sebiasa mungkin, jika aku menghindarinya sekarang mungkin ini akan membingungkan Sasuke. Karena MJ's sedang tidak terlalu ramai, aku akhirnya menghampiri Sasuke.
"Hai there, Pacillo-san." Sapaku pada Sasuke.
Sasuke yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu sambil memandang ke luar hanya mengangkat sebelah alisnya setelah beberapa saat hanya tertegun kaget saat melihat aku sudah duduk di kursi yang ada di depannya.
"Butuh makanan pendamping?" Tanyaku basa- basi, Sasuke mendongak menatapku.
"Bagaimana jika seporsi bulgogi?" Aku mengernyit heran saat mendengar jawaban Sasuke. "Bulgogi? aku pikir kamu datang ke tempat yang salah. Ini bukan rumah makan korea, tuan." Tanggapku formal.
"Begitukah? Sepertinya kamu tidak menangkap maksud perkataanku, nona merah muda." Sasuke membalas perkataanku sambil menarik sudut bibir kirinya.
"Sepertinya begitu. Jadi aku akan sangat berterimakasih jika kamu mau memperjelas maksud perkataan tadi."
Sasuke menghela napas lalu menghempaskan punggungnya pada kursi. "Masa kamu nggak ngerti bahwa aku sedang mengajakmu makan di luar."
"Kamu mencoba mengajakku berkencan?" Godaku pada Sasuke.
"Terserah kamu mau menyebutnya apa, sekarang aku butuh seseorang untuk menemaniku makan. Aku tidak bisa makan sendiri." Sasuke memutar bola mata bosan.
Tidak bisa makan sendiri? Omong kosong. Sejauh aku mengamatinya, aku selalu melihatnya tidak memiliki masalah jika minum kopi sendiri. Alasan yang tidak masuk akal, bukankah hampir sama, seseorang pergi ke sebuah café untuk minum atau makan? Kenapa jika makan harus ditemani sedangkan jika minum tidak?
"Maaf tapi aku nggak bisa, kamu tahu aku ada kerja kan Sasuke." Aku menatap Sasuke dengan pandangan bersalah, well, tidak juga. Aku mau lihat apakah dia masih tetap bersikeras memintaku menemaninya atau tidak.
"Kalau begitu temani aku setelah jam kerjamu habis, jangan khawatir, my treat." Sasuke rupanya masih belum menyerah mengajakku sampai membujuk untuk mentraktir segala.
Sempat tergiur beberapa saat sebelum aku ingat bahwa aku masih memiliki agenda yang harus dilakukan hari ini. "Ini bukan karena aku nggak mau kamu bayarin aku atau bagaimana ya Sasuke, tapi aku sudah berencana pergi ke toko buku setelah bekerja. Lagipula, memangnya kamu nggak ada teman lain yang bisa diajak makan? Naruto misalnya?"
"Naruto sedang sibuk akhir- akhir ini. Bagaimana jika kamu temani aku makan, setelah itu aku antar kamu ke toko buku?" Melihat tatapan memohon Sasuke, akhirnya aku mengurungkan niatku untuk menolak Sasuke lebih jauh. Toh tidak ada ruginya jika menemani Sasuke makan sebentar, aku mendapat tumpangan gratis ke toko buku sekaligus mendapat bonus makan malam.
"Baiklah kalau begitu, sampai nanti Sasuke." Aku mengangguk dan bangkit dari kursi ketika melihat seorang pengunjung yang memasuki toko.
.
.
Aku mengganti seragam kerjaku dengan pakaian yang aku kenakan tadi siang. Aku melapisi kamisolku dengan blazer biru pastel dan setelah memakai sepatu boot pendek warna coklat gelap, ku ambil dompet dan menemui Sasuke.
Sasuke sedang bersandar di badan mobilnya, saat melihatku dia langsung bangkit dan menghampiriku. "Kamu beneran mau makan bulgogi?" Tanyaku setelah berada di dalam mobil Sasuke.
"Iya, tapi kalo kamu nggak suka masakan Korea, kamu bilang saja kamu mau makan dimana?" Tawaran Sasuke membuatku terkesiap. Dia yang mau makan, kok malah tanya kepadaku.
"Aku terserah kamu, kan kamu yang mau makan." Sasuke menatapku selama beberapa detik sebelum kemudian mengangguk paham. Sepuluh menit berikutnya, mobil berhenti di depan sebuah rumah makan bergaya Korea. Kami sempat mengelilingi pusat kota sebelum menuju rumah makan yang terletak di pinggir kota dengan banyak gedung tua dengan cat yang sudah memudar karena asap kendaraan bermotor. Rumah makan ini adalah satu- satunya bangunan bergaya tradisional di daerah ini. Kubaca deretan Hangeul* yang membentuk kata "Jibeuro" di atas pintu masuk rumah makan. Seorang pelayan yang mengenakan hanbok* menyambut kedatangan Sasuke dan aku lalu mengantar kami ke dalam sebuah bilik di bagian dalam rumah makan.
Nice place. Rumah makan ini cocok untuk mereka yang butuh makan dengan privasi dan tanpa gangguan karena di sediakan bilik untuk setiap pengunjung. Sasuke memesan Bulgogi dan kalguksu sedangkan aku memesan sundae dan bulgogi. Aku jarang makan masakan korea, tapi aku pernah mencoba sundae dan bulgogi beberapa kali dan rasanya enak. Aku tidak mau sok pesan makanan lain yang tidak aku tahu bentuknya karena takut yang aku pesan adalah semacam gurita hidup yang biasa di makan di drama korea. Aku bergidik, membayangkannya saja membuat aku tiba- tiba ingin mengeluarkan isi perutku.
"Sasuke, kenapa kamu nggak kuliah di luar negeri seperti Itachi-san?" Aku membuka pembicaraan sambil menyumpit makananku. Aku tahu pertanyaanku terdengar terlalu pribadi, tapi aku benar- benar ingin tahu.
"Tidak tertarik. Kamu sendiri? " Tanyanya balik setelah berhasil menelan makanannya.
"Aku? Karena nggak mendapat izin dari kedua orang tuaku." Jawabku sambil merengut, sebenarnya aku sangat ingin belajar di luar negeri, tapi aku bahkan belum pernah pergi ke luar Jepang sama sekali.
"Di luar atau di dalam sama saja kok, yang penting kan serius kuliahnya." Sasuke berkata seolah menghiburku. Aku hanya mengangguk setuju dan mengalihkan perhatian pada kimchi yang tidak tersentuh di sisi Sasuke.
"Kamu nggak suka kimchi?" Sasuke memandangku dan menggeleng.
"Kenapa tadi nggak bilang?" Tanyaku lagi.
"Lupa."
Aku salah satu orang yang suka makanan tradisional Korea yang rasanya sedikit ajaib itu, dan sebenarnya ingin makan kimchi milik Sasuke, tapi aku merasa sedikit self-concious di depan Sasuke. Akhirnya aku biarkan kimchi itu tidak termakan.
Selesai makan yang tanpa sadar menghabiskan waktu satu jam lebih karena keasyikan ngobrol, kami langsung menuju sebuah toko buku paling besar di pusat kota. Aku sedang mencari pentalogi series "Percy Jackson & the Olympians' karya Rick Riordan. Aku melihat Sasuke menuju ke rak New Realise. Ketika sudah menemukan yang aku cari, aku melihat Sasuke yang sedang browsing sambil melihat beberapa buku tentang bisnis.
Aku melangkah menuju rak berisi berbagai macam manga dan mulai melihat- lihat. Saat sedang asik membaca summary di cover sebuah shoujo manga, tiba-tiba aku merasakan aroma mint yang aku kenali sebagai aroma Sasuke, buru- buru aku menoleh. Ternyata Sasuke sudah berdiri tepat di belakangku sehingga hidungku langsung bertabrakan dengan dadanya. Aku mengambil satu langkah ke samping untuk memberi jarak di antara kami berdua. Jarak yang tidak begitu jauh karena aku bisa melihat dengan jelas ada tato aneh di ceruk lehernya yang membuat Sasuke kelihatan semakin seksi.
"Suka baca manga?" Senyum simpul muncul di sudut bibirnya.
"Aku suka baca apa saja yang bisa menghibur." Kataku sambil melangkah menuju kasir, mencoba mengalihkan pandanganku dari tato di lehernya.
"Kamu suka cerita fantasi?" Tanyanya lagi saat melihat book-set di dalam keranjang belanjaku.
Aku mengangguk, "Nggak Cuma fantasi, Aku suka hampir semua novel atau manga yang di adaptasi menjadi film dan anime. Kayak Percy Jackson ini, film kedua dari lima serinya sudah release agustus kemarin. Aku mau baca novelnya dulu baru kemudian menonton."Jelasku.
"Nggak surprise dong, kan sudah tahu endingnya lebih dulu." Sasuke mengerutkan kening.
"Well, aku memang nggak suka surprise. Aku hampir selalu baca novelnya dulu baru nonton filmnya. Kadang pernah juga nonton filmnya dulu baru baca novelnya." Aku tersenyum lebar.
"Kamu aneh." Sasuke menggelengkan kepala yang aku tanggapi dengan kekehan kecil.
"Kamu juga berpikir begitu? Aku suka saja berimajinasi saat membaca novel, membayangkan tokoh dan segala setting dan latar belakangnya kemudian membandingkannya dengan tokoh dan suasana dalam filmnya. Sangat menyenangkan karena terkadang imajinasiku lebih hebat dan keren daripada filmnya."
"Ada tidak film yang hampir sama dengan bayangan di imajinasi kamu?" Tanya Sasuke terlihat tertarik. Aku berpikir sebentar kemudian mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Ada, Harry Potter." Aku tersenyum sebelum melanjutkan, " Aku sudah melihat pemeran filmnya waktu aku mulai membaca buku pertama, jadi tidak terlalu sulit untuk membayangkannya. Aku sangat senang karena gambaranku tentang Hogwarts sama bagusnya dengan yang ada di film."
Sasuke terkesima dan tersenyum, "Kelihatannya menyenangkan, aku jadi ingin melihat bagaimana dunia imajinasimu. Sepertinya sangat keren di dalam sana."
Aku tertawa mendengar tanggapan Sasuke.
.
.
Aku sudah selesai membayar dan sedang menunggu Sasuke selesai dengan transaksinya.
"Apakah kalian ingin membuat kartu keanggotaan toko buku kami?" Tanya kasir cowok yang terlihat masih sangat muda, mungkin umurnya tidak lebih dari tujuh belas tahun.
"Tidak, terimakasih." Sasuke menjawab sopan.
"Bagaimana dengan pacar anda? Saya lihat dia memberi seri lengkap Percy Jackson, kami bisa memberi diskon besar pada pembelian ini."
Aku dan Sasuke sama-sama kaget dengan asumsi kasir muda ini dan berkata secara bersamaan, "Dia bukan pacarku." "Aku bukan pacarnya."
Kasir itu terlihat kaget dan berkata kepadaku, "Oh baiklah, karena anda sudah membeli seluruh seri Percy Jackson, bukannya memaksa, toko buku kami besok malam berencana untuk menonton bersama film seri keduanya, aku ada satu tiket gratis. Anda mau pergi denganku?"
Ku dengar Sasuke menggeram di sampingku, melihat wajah Sasuke yang menatapku dengan tatapan tidak enak aku mencoba mengatasi keadaan dengan sedikit salah tingkah. "Terimakasih tawarannya, sayangnya besok malam aku sudah ada acara, mungkin lain kali." Kataku sambil menarik tangan Sasuke yang sedang mencoba menakuti kasir muda itu dengan tatapannya.
Ketika aku dan Sasuke sudah berada di luar dan kurasa cukup jauh dari si kasir muda, aku langsung tertawa lepas.
"Apaan sih? Kamu flirting ya sama anak itu?" Sasuke memandangku dengan tatapan menuduh. Aku menghentikan tawaku dan memelototinya. "Kalo menurut kamu memberi satu senyuman itu bisa disebut flirting, then yes. aku flirting sama anak itu."
Sasuke mengerutkan kening kemudian menggeleng mendengar jawabanku. Aku susul Sasuke yang melangkah cepat menuju mobilnya. Setengah jam kemudian aku sudah berbaring lelah di atas ranjang. Kuingat lagi, perasaanku kepada Sasuke cukup stabil hari ini, efek yang aku rasakan karena senyum dan pesonanya sudah sedikit berkurang, semoga saja akan menghilang seiring berjalannya waktu.
.
.
Libur natal dan tahun baru sudah berakhir dua minggu lalu, Satu bulan lebih sudah berlalu semenjak pertemananku dengan Sasuke, kami semakin dekat dan masih bertemu setiap hari -kecuali saat libur natal selama dua minggu karena aku pulang ke Shirakawa. Sampai saat ini aku masih belum bertemu lagi dengan Mikoto-san untuk wawancara karena beliau tengah berada di Perancis dan menurut informasi yang aku dapat dari Sasuke, beliau baru akan kembali ke Jepang akhir bulan ini.
Aku baru keluar dari kamar mandi dan akan bersiap untuk kuliah, Ino sudah berangkat tadi pagi- pagi benar jadi aku mungkin akan pergi sendiri hari ini. Sai barangkali masih marah kepadaku karena kemarin aku membuat dia mendapat C pada essay di salah satu mata kuliahnya. Entah bagaimana aku akan menghadapi Sai nanti.
Aku kaget saat melihat Sai tengah duduk di atas ranjang, jelas sekali dia menungguku sejak tadi.
Celaka. Sai pasti akan membunuhku. Aku menyapukan pandanganku ke sekeliling ruangan, mencari sesuatu yang dapat aku gunakan untuk mempertahankan diri tapi setelah beberapa lama dan hanya melihat teddy bears, bantal, baju- baju kotor, dan lampu duduk kecil aku sadar aku tidak memiliki satupun senjata yang dapat aku gunakan untuk mempertahankan diri. Kemana perginya semua shotgun milikku? Oh benar, aku tidak pernah memiliki satupun. Great. Just great.
Kulirik Sai yang terlihat tenang dan percaya diri seperti biasa dengan senyum di bibirnya, aku harus mengambil keuntungan dari sikap lengahnya. Dengan gerakan cepat, aku berbalik dan berlari dari kamarku.
"Hey!" Sai berteriak tapi aku sudah bersiap membuka pintu apartemen dengan satu tanganku masih memegang kamisol coklat pastelku. Sai lebih tinggi dan lebih cepat dariku hingga sudah jelas sebelum aku sempat meraih pintu, dia sudah berhasil menangkap lenganku.
"Lepasin Sai," Kataku terengah- engah, aku jarang sekali berolah raga sehingga lari sedikit saja aku sudah kelelahan.
"Hh, Tenang dulu." Sai menghela napas, mataku bertemu dengan matanya dadaku sesak karena napasku yang masih satu- satu.
"Kamu kenapa sih?" Sai menatapku dengan pandangan heran, "Aku tidak berniat membunuhmu."
"Benarkah?" Aku bertanya penuh harap.
"Ya, aku memang berniat membuatmu takut, tapi aku tidak mengira reaksimu akan berlebihan seperti ini."
"Aku pikir kamu…" Aku melepaskan tangannya dari lenganku dan mundur selangkah. "Kamu ngapain masih disini?" Aku melipat kedua lenganku di dadaku. Pandangan Sai tertuju pada dadaku, aku mengikuti pandangannya dan ingat bahwa aku tidak mengenakan kamisolku, dadaku hanya tertutupi oleh bra berwarna coklat tua. "Aaa-" Aku berteriak dan buru- buru menutupi tubuh bagian atasku dengan kamisol yang masih aku pegang tadi. "Sai, dasar mesum! Pervert! Pervert!" Aku memukulinya dengan satu lenganku.
"Oh please, kayak aku mau mesum sama kamu saja," Sai memutar bola matanya, kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Aku buru- buru memakai kamisolku dan berjalan menuju ruang makan.
Ku raih dua lembar roti tawar dan mulai mengoleskan selai sirsak di atasnya, mengabaikan Sai yang sudah berdiri di sampingku.
"Hey!" Aku mendongak menatap Sai yang merebut roti dari tanganku. Aku melihat mata Sai , jelas sekali tatapannya sarat akan kekesalan. Aku meneguk ludah.
"Kamu hutang satu permintaan maaf kepadaku." Katanya.
"Aku?" Aku mengarahkan jari telunjukku ke arah wajahku dengan wajah tak bersalah.
"Ya, Kamu. Jelek."
" Kamu membuatku kesal, kamu pantas mendapatkannya. Lagian bukan salahku jika kamu dapat C, memangnya siapa yang meynuruh aku mengerjakan essay punyamu?" Kataku sambil berdiri. "Balikin sarapanku."
"Kamu nggak bilang begitu kemarin, kamu bilang aku pasti akan dapat nilai sempurna jika mengizinkanmu mengerjakan kau dengan percaya dirinya menepuk-nepuk punggungku."
"Siapa yang menyuruhmu mempercayaiku semudah itu," Aku menjulurkan lidah kepada Sai.
"Jangan mengacau denganku, Sa-ku-ra." Dia menyebut namaku dengan penuh penekanan.
"Apa kamu sedang menakut- nakuti aku?" Aku merengut saat Sai berjalan semakin mendekatiku. Cemas dengan keselamatanku, aku mundur dengan pelan, Sai membentuk seringai dengan sudut bibirnya.
"Buat aku kesal lagi dan kamu akan melihatnya."
"Melihat apa?" Aku tidak akan membiarkan Sai mengintimidasiku. Dia memegang pundakku dan menariknya mendekat. Aku mengelak untuk membebaskan diriku. "Lepaskan!"
"Kamu benar- benar…." Sai berkata sambil menatap sayu tepat di mataku.
"Ejek aku lagi dan aku bersumpah akan-"
"…Cantik," Aku terkesiap dan tak bisa mencegah kedua pipiku untuk merona, tapi kemudian Sai tertawa. Aku mencibir saat dia melepaskanku dan memberikan rotiku kembali. Sai terus tertawa selama beberapa saat. "Kamu… kamu harusnya melihat wajahmu.. Jelek." Katanya di sela tawanya.
Jadi, Sai tadi hanya bercanda? Kenapa aku tidak kaget? Tentu saja para lelaki tidak akan menganggap aku cantik. Apa lagi ini Sai yang mengatakannya, makhluk yang memang selalu senang mengejekku dan tidak pernah serius, well, sesekali dia terlihat seperti benar- benar serius. Contohnya barusan, lalu beberapa waktu yang lalu saat Sasuke berkunjung ke apartemenku. Aku memandangnya sinis dan menggigit rotiku dengan ganas, melampiaskan kekesalanku pada Sai. Jika saja roti ini adalah Sai, maka aku akan menggigitnya dengan keras seperti ini.
Nyam.
Nyam.
Aku kunyah dan cabik- cabik dengan gigiku hingga tak bersisa, dasar Sai!
"Kamu ngapain disini? Aku kira sudah berangkat dengan Ino." Sai mengabaikanku. Aku menelan gigitan terakhir pada rotiku. "Hey! Aku sedang bicara padamu!"
"Aku sedang memikirkan sesuatu untuk membalas perlakuanmu padaku kemarin." Sai melihatku dengan tatapan bosan.
"Aku tidak melakukan apapun." Kataku dengan nada tidak bersalah. Sai bengkit dari duduknya.
"Essayku mendapatkan C kemarin karena kamu, Sakura."
"Aku sudah bilang aku nggak terlalu pintar membuat essay yang bukan bidangku."
"Nggak, kamu nggak bilang begitu kemarin."
"Ya, aku sudah bilang."
"Fine, terserah." Sai melangkah menuju kamarku dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari sesuatu.
"Mari lihat apa yang bisa aku temukan disini," Katanya sambil menari sesuatu dari laci di sisi kanan ranjang, Diaryku.
Mataku melebar, mulutku menganga. "Jangan,"
Sai menggeleng puas. Aku merasakan darah mengalir cepat menuju wajahku. Aku marah sekaligus malu.
"Baiklah, jelek," Aku tahu Sai sangat puas melihat reaksiku, "Sebuah diary? Serius? Berapa umurmu? Sepuluh tahun?"
"Itu milikku, kamu nggak boleh lihat itu." aku berlari mencoba meraih diaryku tetapi Sai mengangkatnya tinggi- tinggi.
"Jadi," Sai mulai membaca beberapa halaman, aku bisa melihat dia tengah menahan tawanya. "Kamu menulis kejadian disaat kita tak sengaja berciuman? Wow, aku tersentuh, Sakura, ternyata kamu begitu tak ingin melupakannya sampai menulisnya dalam diary. Dan lihat apa yang di tulis disini, jika menurut diary ini, aku adalah tipe idealmu, huh?" Sai menatapku dengan pandangan berbinar dan muka yang menahan tawa.
Oh tidak, orang terakhir yang aku inginkan membaca diary milikku adalah Sai, dulu aku sering menulis tentang Sai disana, aku tidak ingin Sai membacanya dan kemudian salah mengartikannya. Bagaimana jika Sai mengira aku masih menyukainya karena aku menulis dia adalah tipe idealku dalam diary?
"Balikin sekarang, Sai bodoh!" Aku memukul dadanya berulang kali, mataku mulai berair karena menahan marah.
"Wah, wah, tenang dulu, kelinci kecil." Sai sama sekali tidak bergerak, dia sama sekali tidak terpengaruh dengan pukulanku. Aku mencoba meraih diaryku namun sama sekali tidak bisa mencapai tangan Sai. Mendapat ide yang brilian, aku melompat ke atas ranjang dan tersenyum lebar saat aku bisa menggapainya sekarang. Aku menarik diaryku tetapi Sai mundur, aku tidak akan melepaskan diaryku, ever again. Aku tak menyadari saat aku kehilangan keseimbanganku dan jatuh ke depan.
"Ah!" aku berteriak saat aku akan menyentuh lantai, Sai mencoba menangkapku tetapi berakhir dengan kami jatuh bersama.
"Sial!" Sai berteriak saat punggungnya bertemu dengan lantai dengan suara berdebum keras, aku mendarat di atasnya. Aku berusaha bangkit dengan kedua tangan menolah lantai di kedua sisi tubuh Sai, tapi kemudian aku membeku. Posisi kami begitu dekat, nafasnya bersatu dengan nafasku. Mata hitamnya menatap tepat di mataku, mengingatkanku pada mata hitam milik Sasuke. Kedua pipiku merona saat menyadari kini aku tengah menindih Sai. Kedua tangan Sai berada di pinggangku, bibirnya membentuk sebuah seringai saat tatapannya turun ke bibirku.
Aku merasakan dadaku berdegup kencang, aku tak pernah berada dalam posisi yang begitu intim dengan seorang pemuda sebelumnya.
Sai mengusap punggungku lembut dan aku hanya menggigit bibir bawahku dengan grogi, pandanganku jatuh pada bibirnya yang basah.
"Sakura!" Sebuah Suara mengagetkanku.
Ino!
.
.
Tbc
Hangeul : huruf korea.
Hanbok : baju tradisional korea.
Jibeuro : The way home.
A/N: Jangan bully Eve karena di chapter ini lagi- lagi lebih banyak SaiSaku daripada SasuSaku-nya. Mau bagaimana dong, Eve kan masih ada di #TeamSai.
Tapi jangan khawatir, karena chapter depan interaksi SasuSaku akan lebih intim kok. #gakjuga
Terus mulai chapter depan juga konflik yang sebenernya akan mulai muncul ke permukaan, so be aware peoples!
Untuk Subarashii-san, Maaf karena sudah buat Sai menjadi sangat tidak-Sai dan terlalu OOC disini, kan saya sudah peringatkan, kalau akan ada out of character disini. Tidak akan ada adegan 'itu' kok di fanfic ini (kecuali jika Saya berubah pikiran). Terus, seperti Guest-san yang mengatakan fanfic ini terlalu bergaya kebarat- baratan dan sangat tidak Jepang, gomen. Eve sudah tambahkan di warning, supaya tidak ada lagi yang kaget dengan gaya penulisan Eve^^,
Tidak masalah kan, jika setting di Jepang tapi dengan gaya penulisan yang begini? (You know what I mean)
Anyway, Terimakasih sudah membaca.
Kritik, saran dan pendapat silahkan sampaikan lewat review.
-with cherry on top-
.the autumn evening.
