Pretty Pretty Please?
By: the autumn evening
Pairing: Sasuke/Sakura
Rating: T
Disclaimer: I do not own Naruto, Naruto does not own me either. What a deal.
Warning: SasuSaku. AU. Typos. OOC ( used to be Me, Jewelry and a cup of coffee)
Thanks to:
Hanazono yuri, siMeji runacular kushii, Nyanmaru desu, Pink Uchiha, akasuna no ei-chan, Guest , hevy. lovato , mia, AngelRyeong9, Lhylia Kiryu, Subarashii Shinju
.
Chapter 7:
(not)Gloomy Sunday!
.
.
Read and Review
.
.
"Sakura!" Sebuah suara mengagetkanku, aku buru buru bangkit ketika Sai sudah melepaskan kedua tangannya dari pinggangku. Ku rapikan bajuku lalu melihat ke arah datangnya suara. Ino tengah melangkah dari ruang tamu menuju tempat aku dan Sai berdiri, sepertinya tidak sempat melihat posisiku dengan Sai tadi.
Aku menghela napas lega. Untunglah Ino tidak melihatnya, bukannya aku ingin menyembunyikan sesuatu darinya, aku hanya sedang tidak ingin menghadapi kesalahpahaman dan segala pertanyaan Ino jika dia melihatku tadi.
"Loh, Sai. Kamu kok ada disini?" Ino mengerutkan alis sambil menatap curiga kepada aku dan Sai.
"Sai baru saja mau pergi," Jawabku pada Ino sambil mengalihkan pandanganku ke arah jendela yang juga berfungsi sebagai pintu menuju balkon, ternyata di luar sedang hujan lebat.
"Nggak juga," Sai mendudukan diri di ranjang, Ino menatapku penuh tanya.
"Sakura, aku mau ngobrol sebentar." Ino menarik tanganku menjauh dari Sai menuju dapur. Ino menyender di konter dapur dan melipat kedua tangannya di dada, rambut pirangnya sedikit basah dan sebagian poninya menempel di wajahnya. Mata birunya menatapku menunggu penjelasan, yang berarti Ino melihat posisiku dengan Sai tadi.
"Apa aku melewatkan sesuatu?"
"Tidak juga."
"Apa yang sedang kamu dan Sai lakukan tadi?"
"Aku nggak sedang melakukan sesuatu tadi." Aku menatap Ino dengan pandangan memelas, Ino memutar bola matanya.
"Aku baru tinggal sebentar kamu sudah-"
"Ino!"
"Apa?!"
"Ini semua hanya salah paham." Aku membuat lingkaran besar dengan kedua tanganku.
"Benarkah? Sakura, aku pikir kamu tahu aku suka sama Sai dan nggak akan berniat mendekatinya,"
"Ya, kamu benar, aku nggak akan mendekatinya," Ino membalasku dengan tatapan 'Aku sama sekali tidak percaya'.
"Aku tadi lihat kalian berdua seperti mau memakan satu sama lain," Ino melanjutkan.
"Nggak, aku sedang berusaha mengambil diaryku dari tangan Sai, Cuma itu." aku membela diri frustasi, sambil memperlihatkan diaryku kepada Ino. Tatapan sebal dan menghakimi Ino seketika berubah, Ino membuka mulut kaget selama beberapa saat.
"Kamu punya diary?" Dia menatapku dengan tatapan tidak percaya bercampur geli dan selanjutnya tertawa lebar, aku memicingkan mata ke arahnya.
"Ya, memang kenapa." Aku cemberut, menahan malu sambil mengumpulkan lagi sisa- sisa harga diriku.
"Itu bener- bener…" Ino memegangi perutnya tanpa berhenti tertawa "Lucu banget,"
"Memangnya salah kalau punya diary?" Aku memukul kepala Ino dengan diaryku sebelum meninggalkannya.
Ino hanya menggeleng sambil mengikuti di belakangku, ini yang aku sukai dari kedua sahabatku, mereka sangat mudah melupakan masalah.
"Ngomong- ngomong, kenapa kamu balik lagi, Ino?" Aku menanyakan pertanyaan yang sejak tadi berada di kepalaku.
"Oh, karena cuaca buruk, tidak ada bus yang beroperasi. Jadi aku nggak bisa sampai kampus tadi." Ino menjawab santai.
"Memangnya kamu nggak bisa pakai subway?" Aku mengernyit heran mendengar alasannya. Ino hanya mengangkat bahunya acuh.
"Kamu juga sebaiknya tidak usah ke kampus hari ini, sepertinya akan ada badai nanti." Kata Sai sambil menatapku. Aku mengangguk menyetujui saran Sai setelah berpikir bahwa kelas pasti kosong jika cuaca sedang seperti ini. Lagipula, sesekali membolos kelas tidak akan membuat aku menjadi bodoh.
"Sai, besok antar aku ke pameran ya," Ino duduk di samping Sai di atas ranjang.
"Bertiga?"
Ino menggeleng, "Tidak, hanya berdua. Sakura sepertinya besok ada acara."
Aku melotot ke arah Ino yang sedang heboh memberiku kode untuk mengiyakan ucapannya, aku menghela napas dan mengangguk pada Sai yang menatapku dengan penuh tanya.
"Memangnya kamu mau ngapain besok?" Sai mengerutkan dahi.
Aku hanya mengedikan bahu dan bergumam 'rahasia', sebenarnya aku hanya sedang malas memikirkan jawaban untuk pertanyaan Sai, aku kan tidak ada rencana apa- apa besok.
"Sai?" Suara Ino membuyarkan perhatian Sai dariku, dia menghela napas sebelum berkata "Baiklah."
.
.
Aku sedang berniat membeli beberapa bagel untuk sarapan di Tokyo's Bagel dekat apartemen saat aku menemukan Sasuke tengah bersender di kap Estoque Hitam mengkilat miliknya. Saat melihatku, Sasuke berdiri dan melangkah mendekat. Hari ini dia mengenakan baggy jeans, dan jaket hitam yang melapisi jumper biru muda dengan capuchon yang sengaja menjulur ke luar dari belakang jaket hitamnya. Rambutnya terlihat halus walaupun dengan bentuk berantakan seperti biasa, memberikannya kesan 'bad boy' yang super seksi. Aku menangkap raut senang sekaligus geli di wajahnya. Sudut bibirnya tertarik beberapa mili meter dan melangkah mendekatiku yang hanya diam setelah melihatnya.
"Ada apa?" aku bertanya penuh rasa keingintahuan.
"Tidak ada, hanya kebetulan lewat, karena melihatmu jadi sekalian saja mampir." Jawabnya, bibirnya berkedut menahan senyum. Aku hanya memutar bola mataku, kebetulan bagaimana? Yang aku lihat tadi dia sudah berhenti di depan apartemenku, bagian mananya yang kebetulan?
"Apa rencanamu hari ini?"
"Membeli beberapa makanan yang kira- kira habis sampai sore hari nanti," Jawabku santai.
Sasuke mengerutkan dahi, "Tumben sendirian? Pengawalmu mana?"
Kali ini giliran aku yang mengerutkan dahi. "Sai dan gadis Yamanaka." Jelas Sasuke.
"Ino dan Sai sudah pergi ke pameran tadi pagi- pagi sekali."
Sasuke mengangguk paham, "Jadi aku menangkap nada kecewa dari suaramu. Ditinggal kencan, eh?"
Aku hanya mengangguk sambil mengerucutkan bibirku, detik selanjutnya aku merasakan kedua tangan Sasuke sedang menarik pipiku gemas. Aku memelototinya "Apa yang kamu lakukan?" Bentakku pada Sasuke yang lebih terdengar seperti suara orang berkumur. Suara tawa ringan Sasuke menyusul suara berkumurku.
"Bagaimana jika ada seorang pemuda tampan yang mengajakmu pergi hari ini?" Sasuke menatapku sambil melepaskan kedua tangannya dari pipiku.
" Aku akan dengan senang hati menerimanya , artinya pemuda tampan itu telah menyelamatkan aku dari Gloomy Sunday yang menghantui, mungkin aku tidak jadi bunuh diri karena bosan." Jawabku sambil mengelus kedua pipiku yang aku yakin memerah karena dicubit Sasuke tadi.
"Well, Im available. Tapi apa yang aku dapat jika aku membawamu pergi?"
"Jadi pemuda tampan yang kamu maksud adalah dirimu sendiri? Tadinya aku berharap bahwa benar- benar ada seorang pemuda tampan yang mengajakku." Tatapan geli aku lemparkan kepada Sasuke.
"Tentu saja, siapa yang lebih tampan dari aku?" Sasuke menjawab dengan percaya diri. Aku tertawa dalam hati, tidak menyangka Sasuke akan menjadi super narsis seperti ini. No wonder, Sasuke adalah salah satu dari pemuda yang mengetahui betapa tampannya dirinya dan mengetahui efek yang dapat dia timbulkan kepada para gadis yang mendaratkan tatapan mereka padanya.
"Yang lebih tampan darimu ya..." Aku mengelus daguku berpura- pura berpikir "Edward Cullen?"
"Jadi tipe idealmu itu semacam Robert Pattinson?"
"Kata siapa? Aku bilang Edward Cullen, bukan Robert Pattinson."
"Bukankah mereka sama saja?" Sasuke memutar bola matanya.
"Tidak dong, Edward dalam bayanganku itu lebih Hot daripada Robert Pattinson tahu!"
"Edward Cullen 'kan hanya tokoh fiksi, nona manis."
Pipiku memanas mendengar panggilan Sasuke, untung saja aku bisa berdalih merah di pipiku masih dikarenakan oleh sebab cibitan Sasuke tadi.
"Biar saja, yang penting Edward lebih tampan dari pada kamu."Aku tetap bersikukuh.
"Jadi dari perkataanmu tadi, dapat disimpulkan bahwa yang paling tampan adalah Edward, kedua aku, lalu baru Robert Pattinson?" Sasuke menyeringai.
"Well, yang ketiga bukan Robert Pattinson sih, melainkan-"
"Dan kamu tidak menyangkal bahwa aku lebih tampan dari Robert Pattinson?" Sasuke memotong ucapanku. Aku mengernyit sebelum sadar apa yang sedang Sasuke coba katakan.
Damn it! Kenapa aku mengiyakan saja saat Sasuke secara tidak langsung mengatakan dia adalah tertampan kedua? Berarti secara tidak langsung aku mengatakan bahwa di dunia nyata, Sasuke adalah yang paling tampan, mengingat Edward hanya ada dalam bayanganku.
Bodoh. Bodoh.
"Dasar GR! Aku tidak berkata begitu." Aku memalingkan wajah, menolak menatap Sasuke yang mulai tertawa.
"Berhenti deh, Sasuke!" Aku menghentakan kaki karena Sasuke tetap tidak berhenti tertawa.
"Fine, Jadi kamu mau melakukan apa jika aku mengajakmu pergi hari ini?" Tanya Sasuke setelah berhasil menghentikan tawanya.
Aku mengelus daguku, "Bagaimana dengan sebungkus potato chips?"
Oke aku tahu aku sangat tidak kreatif dan sebungkus potato chip? Itu- sangat- tidak- persuatif. Tapi mau bagaimana lagi, hal yang menurutku paling menarik adalah sekantong besar potato chips, hal kedua yang menarik bagiku adalah sekantong potato chips yang lainnya.
"Tidak tertarik." Sasuke menjawab dengan nada bosan.
"Bagaimana dengan, aku melakukan apa saja yang kamu mau?" Sasuke terlihat terkejut dengan tawaranku, aku sendiri juga terkejut mengapa aku bisa berkata begitu, bukankah itu sedikit terdengar innuendo?
Apa aku seputus asa itu hanya untuk mendapatkan teman hari ini? Terserah deh Sasuke menganggapku bagaimana, toh sudah terlanjur, jadi tidak mungkin aku menarik kata- kataku lagi.
"Kecuali seks." Lanjutku, entah kenapa aku merasa perlu menambahkannya. Sasuke terkekeh.
"Kamu berpikir aku akan minta sex denganmu?" Dia menunjukku dengan jarinya sambil memberiku tatapan 'apakah kamu sedang mabuk?'
"Terserah," Aku melipat kedua tanganku di dada, aku harus mengakui bahwa perkataan Sasuke sedikit mencubit harga diriku, aku memicingkan mataku kepadanya. Apa aku benar- benar sebegitu tidak menariknya ya?
"Aku nggak pernah having sex sama perempuan semau aku, itu tergantung sama perempuannya, dia harus sudah siap dan mau." Kata Sasuke sambil menatapku, mungkin mencoba membuatku merasa lebih baik. Aku merinding mendengar perkataan Sasuke, jadi dia mau having sex dengan siapa saja yang sudah siap dan mau? Seriously boy, kamu tidak membuat aku merasa lebih baik.
"Ayo masuk,"
Walaupun kesal, akhirnya aku masuk ke dalam estique Sasuke. Dengan segera, wangi parfum Sasuke masuk bertubi- tubi ke indra penciumanku. Sangat hangat dan nyaman disini, aku sudah sangat sering berada di dalam mobil Sasuke tapi perasaanku jika berada di dalamnya masih sama seperti saat pertama kali, was-was. Sasuke sudah duduk di kursi pengemudi dan mulai menghidupkan mesin, mobil mulai berjalan dan aku penasaran kemana dia akan membawaku. Dia tidak berkata- kata lagi sejak tadi.
"Kita mau ke mana?" Aku menyadari mobil melaju menuju kota.
"McDonalds,"
"McDonalds? Ngapain?" Aku merengut ke arahnya, "Aku nggak laper." Oke itu bohong, lambungku sudah mulai mengaum seperti singa, Sasuke tertawa ringan.
"Yakin?" Aku menggigit bibirku menahan malu.
"Dengar ya, Sasuke." Aku mengabaikan pertanyaan Sasuke, "Aku nggak bawa uang," Akuku malu. Lebih baik mengatakannya sekarang daripada baru mengatakannya setelah kami memesan sesuatu. Aku merutuki kebodohanku saat menyadari aku tidak membawa uang dan tadi aku dengan percaya dirinya keluar untuk membeli bagel. Lagi- lagi aku merutuk dalam hati.
Mobil Sasuke berhenti, aku ikuti langkahnya menuju pintu McDonalds.
"Jangan mengkhawatirkannya, hari ini makanan aku yang bayar." Aku mengerutkan dahiku.
"Kemarin kamu baru saja mentraktirku makan, dan hari ini kamu mau traktir aku lagi? Kamu lagi merencanakan apa?"
Sasuke terkekeh sambil melirikku dari ujung matanya, "Kamu tidak tahu bahwa aku memang orang baik?"
"Nggak, aku nggak tahu tentang itu." Aku akan memprotes Sasuke lebih jauh saat tiba giliran kami untuk memesan, aku membiarkan Sasuke memesankanku makanan yang dia mau. Aku terlalu malu untuk memesan sendiri setelah membiarkan Sasuke membayarkan untukku.
Tanpa aku sangka Sasuke membawa makanan kamu menuju mobil bukannya duduk di salah satu tempat yang sudah di sediakan. Kami sedang dalam perjalanan sekali lagi meninggalkan kota. Kemana Sasuke akan membawaku? Aku memiringkan kepalaku penasaran tapi tidak berniat untuk menanyakan padanya. Setelah sekian menit- yang aku yakin lebih dari setengah jam- Sasuke menepikan mobilnya dan mesin mobilnya benar- benar berhenti di jalan yang sepi.
"Kenapa kita berhenti disini?" Aku bertanya, kecemasan tergambar jelas dalam suaraku. Apa Sasuke berniat memberiku makan, lalu kemudian membunuhku dan melemparkan tubuhku ke sungai? Sasuke tampak mengabaikan pertanyaanku dan bangkit dari kursinya dengan makanan di kedua tangan. Aku mengikutinya keluar mobil. Sasuke mulai berjalan menuju ke dalam hutan. "Sasuke? Kamu mau kemana?"
"Ikuti saja." Sasuke balas berteriak. Menggeram frustasi, aku mulai mengikutinya. Aku benci berjalan di hutan, bukannya aku tidak suka alam bebas, aku suka. Siapa juga yang tidak suka nature? Aku hanya tidak punya keahlian untuk berjalan di medan yang penuh batu dan semak belukar.
"Sasuke!" Aku mencoba untuk mendapatkan atensi Sasuke tetapi dia terus saja berjalan tanpa mengindahkan panggilanku. Apa yang sedang aku lakukan sekarang? Aku mencoba dengan seluruh kekuatan dan konsentrasi penuh untuk menyusul langkah Sasuke, berdasarkan fakta bahwa Sasuke lebih tinggi dariku otomatis membuat langkahnya lebih lebar dariku.
"Sasuke! Kamu mau keman—ah!" Aku tergelincir di atas sebuah batu dan aku bersumpah aku melihat segalanya dalam slow motion. Aku berusaha untuk tidak jatuh, benar- benar berusaha, tapi tentu saja aku gagal. Aku bisa melihat tanah semakin dekat denganku, dan aku berakhir jatuh dengan sukses.
Tawa Sasuke menggema mengisi ruang kosong di antara pepohonan di sekitarku sebelum dia berjalan menghampiriku.
"Ngapain sih kamu bawa aku ke sini?" Aku meraih satu tangan Sasuke yang menjulur ke arahku sedangkan tangan yang satumya masih penuh dengan makanan kami berdua.
"Tunggu sebentar, dan kamu akan melihatnya sendiri."
Aku kembali mengikuti langkah Sasuke, setelah melewati 1234 pohon, menginjak 456 bebatuan dan hampir jatuh 78 kali, akhirnya kami sampai di tujuan kami. Oke, mungkin aku sedikit berlebihan dalam menyebutkan angka- angka tadi, tapi yang coba aku katakan adalah aku lelah. Sasuke masih terlihat sempurna, dia tidak terlihat lelah sama sekali. Aku menyandarkan punggungku pada sebatang pohon, aku kehabisan napas, mungkin aku akan pingsan jika terus berjalan.
"Kita sudah sampai," Sasuke memberi tahu dari jarak yang sedikit jauh dariku.
"Hore." Aku berujar sarkastik. Saat aku melihat ke arah dimana Sasuke berdiri, aku menganga, jika aku berada di dalam sebuah manga, pasti daguku digambar sampai menyentuh tanah.
Kami sampai di sebuah Sungai dengan air terjun besar yang dikelilingi pohon- pohon raksasa. Rumput menutupi seluruh tanah di tepi sungai, Sasuke membawaku ke tempat yang dalam bayanganku sangat klise, tempat yang biasa dikunjungi sepasang kekasih dalam kisah roman klasik. Jika sebelum ini, aku pasti akan mengejek Sasuke yang terlalu klise dalam memilih tempat, tetapi saat aku mengalaminya sendiri, aku tidak bisa mengatakan apapun selain, "Wow," Kataku kehabisan kata- kata. "Ini… Wow," Aku meneguk ludah merasakan tenggorokanku kering. Sasuke duduk di atas rumput tepi sungai, membuka kantong berisi makanan, dia memutar kepalanya ke arahku.
"Apakah kamu berencana berdiri disana sepanjang hari?" Tanyanya sambil menggigit hambergernya. Mulutku berair, aku sangat lapar. Termotifasi melihat makanan, aku berjalan mendekati Sasuke dan mendudukan diri di sampingnya. Sasuke memberiku hambergerku dan menatap ke arah air terjun. Aku menatap Sasuke penuh tanda tanya, kenapa dia membawaku kemari? Ini terlihat seperti sebuah… Hhh, aku bahkan tidak bisa menentukan kata yang tepat untuk menerjemahkannya.
Kencan?
Ya, ini terasa seperti sebuah kencan, tapi Sasuke tidak sedang berniat mengajakku kencan kan?
Kami memakan sisa makanan kami dalam diam, sangat segar dan tenang mendengar suara air yang berjatuhan menghantam bebatuan. Aku melirik ke arah Sasuke, dia terlihat sangat menikmati pemandangan. Mata hitamnya menyinarkan sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Bibir basahnya membentuk senyum lembut, dia menoleh ke arahku dan pandangan kami bertemu. Aku meneguk ludah.
"Kenapa kita disini?" Tanyaku. Senyum di bibir Sasuke terganti menjadi sebuah seringai main- main.
"Karena disini sepi, aku tidak mau ada orang yang melihat aku bersama denganmu, itu akan menghancurkan reputasiku." Sasuke mengangkat kedua bahunya.
"Dasar Sialan." Kataku sambil meninju lengannya.
"Kamu masih punya hutang padaku."
"Kamu mau apa?" Aku melipat kedua tanganku di dada, kedua kalinya hari ini.
"Apa yang aku mau?" Dia mengelus garis rahangnya dengan jari- jari panjangnya.
"Cepat katakan," Aku memaksanya walaupun sebenarnya takut memikirkan kemungkinan yang dia minta, Sasuke adalah seorang pemuda dewasa after all, siapa yang tahu apa yang ada dalam otaknya.
"Beneran kamu mau tahu?" Dia bertanya dengan nada menggoda.
"Iya," Aku mengeratkan gigiku tidak sabar.
"Aku mau sebuah ciuman," Mataku melebar terkejut, bibirku terbuka. Aku tidak bisa mencegah pipiku untuk tidak merona. Sasuke melihat tepat di mataku, membuatku merasa melayang di udara. Jantungku berdegup kencang, memukul- mukul seluruh dadaku.
"Nggak,"
"Kenapa nggak?" Sasuke memiringkan kepalanya sambil mencondongkan kepalanya mendekatiku.
"Aku tidak..mau,"
"Kamu mau melanggar janjimu?" Sasuke bertanya setelah jarak kami hanya beberapa jengkal. Aku bersiap mundur saat Sasuke menahan lenganku, "Kalau kamu berniat melanggar janji, maka aku akan mencuri saja sebuah ciuman darimu,"
"Nggak, Sasuke, Kamu…" Aku mencoba mengatakan sesuatu sebelum mendengar Sasuke tertawa. Aku cemberut menatap Sasuke. Aku merasa de javu. Kemarin Sai, sekarang Sasuke. Kenapa seluruh orang mempermainkanku dengan lelucon yang sama? Lelucon yang sama jika di ulang tidak akan lucu lagi, kan?
"Kau benar- benar menyenangkan," Kata Sasuke di tengah tawanya.
"Kamu bercanda?"
"Tentu saja aku bercanda." Katanya seolah- olah itu adalah hal yang sangat pasti di dunia. "Aku tidak akan menciummu." Kata- katanya menggantung, tapi dia idak meneruskannya. Seluruh orang benar- benar senang menyakiti harga diriku. Aku menelan rasa sakit hatiku karena perkataan Sasuke dan mengenakan topeng tidak peduli.
"Lalu apa yang kamu mau?"
"Aku butuh bantuanmu." Aku menunggu Sasuke menyelesaikan kalimatnya.
"Karena kamu kuliah di jurusan Design Jewelry, Aku mau kamu buatkan aku cincin untuk seseorang. Buatlah yang paling spesial seolah- olah itu adalah karya terakhirmu." Sasuke menatapku serius.
"Untuk Hinata?" Tanyaku spontan.
"Hn,"
"Bukannya kalian sudah bertunangan?" Aku mengernyit heran, Sasuke menoyor kepalaku.
"Jangan sesukamu mengambil kesimpulan, aku dan Hinata belum bertunangan secara resmi, semuanya menunggu Hinata lulus sekolah dulu."
"Hinata masih sekolah?" Tanyaku tidak percaya, terakhir kali aku melihatnya, penampilannya tampak satu atau dua tahun lebih dewasa daripada aku. Sasuke mengangguk dan kembali menatapku dengan pandangan 'jadi kamu mau membantuku atau tidak'.
"Serius kamu minta aku buatkan? Kenapa kamu nggak minta Mikoto-san membuatkannya untukmu? Dia kan lebih jago."
Sasuke memutar bola matanya, "Kaa-san tidak mau, dia bilang aku harus memilihkannya sendiri untuk Hinata, atau mengajak Hinata untuk memilihnya sendiri. Aku pikir karena aku mempunyai teman yang ahli dalam bidang ini, kenapa tidak aku manfaatkan saja?" Sasuke menatapku dengan seringai jahil.
Aku menatapnya dengan perasaan campur aduk, antara kaget, kecewa, marah, dan sedih. Aku menghela napas berat, ini adalah pertama kalinya aku dan Sasuke benar- benar berbicara tentang Hinata.
Selama ini, Sasuke selalu mengalihkan pembicaraan jika aku mulai menyinggung tentang tunangannya, membuatku lupa tentang statusnya dan tentang ketidak mungkinanku dengan Sasuke.
Aku menghela napas sekali lagi sebelum menjawab, "Baiklah, akan aku lakukan."
Sasuke tersenyum lebar sebelum mulai melepas jaket dan jumpernya, menyisakan t-shirt hitam yang kontras dengan kulit pucatnya. Dia mulai memanjat bebatuan di sekitar air terjun. Setelah melepas mantel merah yang menghangatkanku sejak tadi pagi, aku duduk di atas batu besar. Matahari sudah tinggi tetapi udara masih cukup dingin mengingat sekarang masih bulan Januari. Udara dingin menyusup pori- pori kulitku terasa sampai ke sumsum tulang. Kuperhatikan kegiatan Sasuke, aku bayangkan dia jatuh tercebur ke dalam sungai kemudian mati membeku, tapi sepertinya Sasuke benar- benar ahli. Dia tahu pasti bagaimana cara memanjat. Aku mengambil ponselku dari saku celana, merasa bosan. Ku lihat layar ponsel ada satu pesan dari Sai, tanpa menunggu lama, aku membukanya.
Sai : Aku sedang bersenang- senang dengan Ino, kamu rugi karena melewatkannya. Ini bukan pameran biasa, jelek!
Aku : Aku senang mendengarnya. Tidak juga, Sai. Aku juga bersenang- senang hari ini. :p
Sai : Benarkah? Aku tahu kamu cuma tiduran di rumah saja.
Aku : Peramal gagal! Aku sedang pergi dengan Sasuke!
Sai : Ngapain? Kemana?
Aku : Kencan!
Aku benar- benar tidak tahu kenapa aku membalas begitu pada Sai, mungkin aku hanya ingin balas memanasi Sai yang tadi pamer? Beberapa menit berlalu sebelum balasan dari Sai datang.
Sai : Aku tidak peduli jika kamu berkencan dengan siapa saja, asal jangan merebut milik orang.
Aku rasakan darahku mendidih di kepala, Sai menyindirku. Aku ketikan balasan untuk Sai dengan Cepat.
Aku : Kenapa kamu ngomong begitu?
Sai : Ngomong bagaimana?
Aku : Kata- katamu tidak sopan dan kejam. Kamu menyindirku?
Sai : Aku cuma mengingatkanmu, Sakura.
Tidak perlu diingatkan aku juga tahu kalau Sasuke sudah punya tunangan, calon tunangan maksudku.
Aku: ….
Aku memejamkan mata, mencoba mendinginkan kepalaku dari semua membuat kepalaku panas. Oke aku akui Sai tidak mengatakan sesuatu yang kejam, aku saja yang menjadi terlalu sensitif karena permintaan Sasuke tadi. Aku membuka mataku dan mataku seketika menangkap Sasuke yang tengah shirtless.
"Sakura!" Teriaknya, dia tengah berdiri di atas air terjun. Sixpack di perutnya terlihat jelas, dia tersenyum lebar seperti…. bukan Sasuke yang biasa aku tahu.
"Kamu ngapain?" Aku berteriak panik, mencoba mengalahkan suara derasnya air terjun. Sudah gila, Sasuke bisa membunuh dirinya sendiri jika melompat dari sana.
"Bersenang- senang," Katanya sebelum kemudian melompat.
"Jangan!" Teriakku sebelum Sasuke muncul ke permukaan dengan gerakan super seksi dan mengibaskan rambutnya yang basah ke arahku. Aku mencoba menghindar tetapi Sasuke malah mulai mencipratiku dengan kedua tangannya.
"Sasuke bodoh!" aku berteriak marah. Dengan cepat aku menjauhkan ponselku agar tidak ikut basah, yang terakhir aku inginkan hari ini adalah ponselku rusak karena terkena air.
"Sakura,"
"Apa?" Aku bertanya sebal sambil melirik Sasuke.
"Cepat nyebur."
"Eh? Kasih aku waktu untuk berpikir." Aku mengelus daguku lagi, berpura- pura sedang berpikir keras. "Rasa- rasanya tidak deh, Sasuke. Nggak akan." Aku tersenyum lebar, Sasuke hanya mengerutkan kening.
"Airnya hangat."
"Nggak mau. Dan jangan bohong."
"Mendingan kamu nyebur dengan kemauan kamu sendiri, deh."
"Apa maksudmu berkata begitu?" Sasuke tersenyum miring.
"Kamu nggak mau aku mendorongmu kan?"
"Sasuke, kamu nggak akan berani."
"Tentu saja aku berani."
Aku menggelengkan kepala dan melangkah melompati bebatuan, menjauhi Sasuke yang mulai berenang ke arahku menuju tepi sungai.
"Aku tahu apa yang ada dalam kepalamu, Sakura," Sasuke keluar dari air. Air mengalir dari kepala menuju perutnya dan aku benar- benar butuh seluruh self-control dalam diriku agar tidak memandanginya lama- lama. Celananya menempel di kakinya yang berotot, "Kalau kamu lari, aku bisa menangkapmu dalam hitungan detik." Sasuke berbisik.
Aku mengabaikan perkataan Sasuke dang berlari sekencang yang aku bisa. Ingat bahwa aku tidak memiliki keahlian saat berjalan di hutan? Bayangkanlah betapa buruknya jika aku memutuskan untuk berlari. Aku mengabaikan sakit saat beberapa kali aku tersandung kakiku sendiri dan hampir terjatuh. Beruntung karena hari ini kakiku terbungkus converse. Bagaimana jika aku memakai high heels? Oh aku harus berhenti membayangkan macam- macam di saat seperti ini.
Aku merasa bodoh. Untuk apa aku lari dari Sasuke? Percuma saja. Dari yang aku tahu, Sasuke adalah pemain basket, dia lebih tinggi dan larinya lebih cepat dariku.
Oh benar, untuk menyelamatkan harga diriku. Masa aku menyerah begitu saja dan membiarkan Sasuke mendorongku ke dalam sungai yang mungkin sedingin es dan membuatku beku seketika.
"Sakura!" Sasuke merangkulkan lengannya di tubuhku dari belakang. Aku bergidik dan merasakan de javu sekali lagi. Adegan seperti ini baru saja aku alami dengan Sai kemarin. Betapa tidak originalnya peristiwa yang menimpaku akhir- akhir ini! Aku merasa Klise.
"Sasuke!" Aku menendang-nendang dan mencoba menggigit lengannya, aku tidak akan menyerah kali ini.
"Berhenti menggeliat." Sasuke sama sekali tidak bereaksi dengan gerakanku yang sudah seperti kuda gila. Sasuke menekankan tubuhnya pada tubuhku, aku dapat merasakan tubuhnya yang basah dan setengah telanjang menekan punggungku. Nafas hangatnya mengipasi belakang leher dan telingaku, mengantarkan kehangatan yang membuatku panas.
"Sasuke," Aku berkata pelan, seiring melemahnya gerakanku.
"Nggak," Sasuke melepaskanku satu tangannya, kurasakan tangan Sasuke menyentuh kakiku, detik selanjutnya aku sadar bahwa Sasuke tengah menggendong aku bridal style.
"Nggak. Nggak mau!" Aku berteriak dan memukuli dadanya saat langkah Sasuke sudah sampai di tepi Sungai. "Sasuke! Berhenti nggak! Aku bersumpah jika kamu melakukannya dan kemudian aku mati membeku, arwahku akan menghantui dan membunuhmu!" Sasuke terkekeh mendengar perkataanku sambil terus menatap wajahku.
Ayo Sakura pikirkan sesuatu!
"Aku nggak bisa berenang!" Wow, ini adalah pertama kalinya aku mengatakan kebohongan yang masuk akal.
"Sungainya tidak dalam." Kata Sasuke sebelum melemparkanku ke dalam air. Aku berteriak kencang, aku yakin sekali aku melihat burung- burung berterbangan dari pohon. Aku tercebur ke dalam air yang… hangat?
Tubuhku tertelan oleh sungai selama beberapa saat, aku terkaget mendapatkan perubahan temperature yang sangat kontras. Aku berenang menuju permukaan,melihat Sasuke yang tengah tersenyum ke arahku.
"Sasuke, dasar bodoh, kepala ayam! Kamu.. kamu…" Aku marah, tetapi otakku tidak bisa memikirkan lagi kata- kata untuk mencaci Sasuke.
"Bagaimana airnya?" Sasuke mengabaikan kemarahanku dan tetap tersenyum.
Aku tidak menjawab pertanyaan Sasuke dan mulai berenang menuju air terjun, tubuhku rileks, lebih baik aku nikmati saja sekalian karena aku sudah terlanjur basah. Aku menolak perasaan hangat yang menjalar di seluruh tubuh dan hatiku. Terdengar suara lompatan di belakangku, tak lama kemudian aku sudah menemukan Sasuke berenang menyusulku.
"Aku pikir tadi kamu bilang bahwa kamu tidak bisa berenang." Sasuke memandangku geli.
"Dan kamu percaya semudah itu?" Aku menjulurkan lidahku. "Aku benci kamu, Sasuke." Lanjutku kemudian.
"Nggak, kamu sama sekali nggak benci aku. Aku terlalu tampan untuk bisa kamu benci." Sasuke menjawab dengan penuh percaya diri. Sial, bisa saja dia menjawabku.
"Dasar besar kepala. Pasti kepalamu adalah satu-satunya hal besar kamu punya." Kataku sambil menyeringai, Sasuke memicingkan matanya.
"Pilihan topik yang bagus, Sakura. Tapi aku ingatkan ya, jangan mulai sesuatu yang tidak bisa kamu selesaikan." Sasuke melipat lengannya di dada.
"Maksudmu?" Aku mengernyit bingung menatap Sasuke yang juga sedang menatap mataku dengan pandangan yang.. Bagaimana mengatakannya ya? Yang jelas tatapannya dalam sekali.
"Kamu terlalu innocent, Sakura."Sasuke mengelus kepalaku. Aku menatap Sasuke bingung saat dia malah berenang menuju tepi sungai.
"Sasuke, tunggu aku." Aku menepi dan mengikuti langkah Sasuke. Aku rasakan bajuku menempel ketal pada tubuhku. Mata hitam Sasuke jatuh di wajahku, menurun ke dadaku dan semakin bawah sampai ke kakiku. Aku meneguk ludah. "Heh!" Aku menutupi dadaku, "Apa yang kamu lihat?"
"Aku baru sadar kalau kamu punya tubuh yang bagus, maksudku, kamu sedikit terlalu kurus tapi aku masih-"
"Sasuke!" Aku meninju dadanya, "Dasar mesum!" aku menggigit bibir bawahku, merasakan dingin setelah keluar dari air hangat. Aku yakin aku akan berubah menjadi ungu sebentar lagi.
Sasuke menghela napas berat, berbalik tanpa melihat ke arahku lagi. "Ayo kembali ke mobil sebelum kamu demam."
.
.
tbc
.
A.N: Hallo people,this is Eve again bring you a long chapter!
Bagaimana interaksi SasuSaku-nya? Sudah dapet feelnya atau masih kalah dengan interaksi SaiSaku kemarin? Daaan ternyata chapter ini belum sampai konflik juga (maaf). Lumayan banyak yang bilang kalau Sai itu Hot dan Sasuke manis, jadi yang mana favorit kamu?
Untuk memperjelas, kenapa tidak ada interaksi SasuHina padahal mereka bertunangan (walaupun belum resmi), Not yet dear. Nanti juga pasti ada saatnya, ini diceritakan dari sudut pandang Sakura yang memang nggak pernah liat Hinata sejak hari dimana mereka bertemu, tambah lagi, Sasuke juga tidak pernah terlihat bareng dengan Hinata di depan Sakura. ( Masa iya Sasuke mau PDKT malah bawa perempuan lain, big no no). Dan Sasuke terlihat seperti sedang 'affair' dengan Sakura, that's right, itulah hidup. Tapi jangan langsung nge'judge' Sasuke jahat karena bukan salah dia dong kalo dia tertarik dengan Sakura. Terus salah siapa? Tanyakan pada mahar dan alam. ( Ada yang tahu quote ini?)
Anyway, Terimakasih sudah membaca.
A.N.N: SuperThanks Untuk Nyanmaru desu, Pink Uchiha, AngelRyeong9, dan Subarashii Shinju yang reviewnya panjang dan detail, you rock!
Kritik, saran dan pendapat silahkan sampaikan lewat review.
-with cherry on top-
.the autumn evening.
