Pretty Pretty Please?

By: the autumn evening

Pairing: Sasuke/Sakura

Rating: T

Disclaimer: I do not own Naruto, Naruto does not own me either. What a deal.

Warning: SasuSaku. AU. Typos. OOC ( used to be Me, Jewelry and a cup of coffee)

Thanks to:

SayuriOrchidflen, Pinky Blossom, aguma, lilids lilac, Love Foam, reader, rikaochan, L, hanazono yuri, akasuna no ei-chan, Chocolate Lolypop, tamii-hayashida, Lhylia Kiryu, AngelRyeong9, Nuria Agazta, Francoeur, Subarashii Shinju, Nanapipiwiwi, namikaze sachi, Sakumori Haruna.

.

Chapter 8:

The Truth

.

.

Read and Review

.

.

There are three sides to every story, yours, mines, and the truth.

.

.

"Sakura! Kamu darimana saja?" Ino meneriakiku saat aku baru menginjakan kaki di apartemen.

"Aku pergi dengan Sasuke." Jawabku lemas, merasa lelah.

Ino memutar bola matanya, "Aku juga lihat tadi Sasuke yang mengantarmu," Sahut Ino, "Kenapa tidak bilang kalau mau pergi? Kamu bikin aku dan Sai cemas, tahu! Ponselmu juga tidak bisa dihubungi. Sekarang Sai sedang mencarimu."

"Ponselku kehabisan battery." Kataku.

Ino berdecak dan merogoh ponsel dari sakunya, sepertinya berniat menghubungi Sai dan mengatakan bahwa aku sudah kembali. Buru- buru aku mencegahnya dan mengatakan bahwa aku sedang tidak ingin menghadapi kemarahan Sai hari ini karena aku sangat lelah. Ino berpikir sebentar kemudian mengantongi kembali ponselnya sambil menghela napas.

Kujatuhkan tubuhku ke atas tempat tidur tanpa repot membersihkan diri terlebih dahulu. Menatap langit langit kamar, sambil memikirkan kembali permintaan Sasuke tadi siang.

"Aku mau kamu buatkan aku cincin untuk seseorang. Buatlah yang paling spesial seolah- olah itu adalah karya terakhirmu."

"Kaa-san tidak mau, dia bilang aku harus memilihkannya sendiri untuk Hinata, atau mengajak Hinata untuk memilihnya sendiri. Aku pikir karena aku mempunyai teman yang ahli dalam bidang ini, kenapa tidak aku manfaatkan saja?"

Jadi teman, ya?

.

.

Akhir bulan Januari, hubunganku dengan Sasuke masih begitu- begitu saja. Kami bertemu setiap sore di MJ's, aku membuatkannya secangkir pacillo, dia yang kemudian duduk di sudut ruangan setelah menerima kopinya, dan menghabiskan sore sambil memandangi jalan melewati kaca jendela dengan sesekali menyesap isi cangkirnya.

Saat shiftku berakhir, biasanya aku menemukan Sasuke sudah berdiri di luar mobilnya siap untuk mengantarku pulang. Kami berdebat selama beberapa saat, perdebatan kecil tentang aku yang menolak tawarannya untuk mengantar aku pulang, dan dia yang bersikukuh dengan segala cara seperti; mendorong punggungku, menarik scarf di leherku atau terkadang hanya menyerobot paksa tasku dan melemparkannya ke kursi belakang mobilnya, apa saja yang membuat aku akhirnya pulang bersamanya. Selalu begitu setiap hari.

Jika akhir pekan, Sasuke mengajakku keluar dengan berbagai macam alasan, dari yang masuk diakal sampai alasan yang benar- benar aneh.

"Sakura, temani aku makan siang,"

.

"Sakura, tidak ada makanan di rumahku. Apa di apartemenmu ada sesuatu yang bisa di makan?"

.

"Sakura, aku datang untuk melihat apakah rambutmu masih berwarna pink, tadi malam aku bermimpi rambutmu berubah menjadi abu- abu."

.

"Sakura, temani aku mengambil baju di Asaoka Laundry."

.

"Sakura, kemarin aku salah mengambil baju, ayo temani lagi."

.

"Sakura, sepertinya aku tidak mencucikan baju di tempat ini, ayo coba lihat di laundry yang lain."

.

"Sakura, aku baru ingat bahwa aku tidak pernah menitipkan bajuku di laundry."

Antara marah dan ingin tertawa setiap mendengar alasan Sasuke yang semakin lama semakin mengada- ada, aku biasanya berakhir menghabiskan waktu seharian dengan Sasuke. Sudah menjadi kebiasaan untukku mendengar suara dan melihat wajah Sasuke. Aku mulai berpikir bahwa aku mungkin akan berakhir teradiksi dengan eksistensi Sasuke jika -hubungan tidak sehat untuk jantungku- ini terus berlanjut.

.

.

Suatu hari, sebuah seminar umum yang melibatkan kampusku dan kampus Sasuke yang memang berjarak sangat dekat -berseberangan. Dengen harapan bertemu Sasuke, aku dengan sedikit terlalu bersemangat mengikuti seminar itu. Aku, Ino, Sai dan sebagian besar mahasiswa universitasku hijrah ke aula Tokyo University.

Gedung Seminar cukup luas dan terlalu besar untuk ukuran aula sebuah Universitas, tidak heran mengingat ini adalah salah satu Universitas terbaik di Jepang. Ruangan dengan bentuk setengah bola dengan deretan kursi berundak mengelilingi panggung mungkin akan sedikit memudahkan aku untuk mencari sosok yang membuatku datang ke sini.

Ruangan hampir penuh saat aku meginjakan kaki di dalamnya. Dan di sana Sasuke, duduk tenang di seberang ruangan menghadap pintu masuk di sebelah pemuda pirang yang sedang asik mengoceh bersama segerombol pemuda lain. Aku seperti tertarik oleh tatapan mata Sasuke di detik pertama aku berada dalam aula. Dia menyadari kehadiranku di antara beratus atau beribu- ribu orang yang ada di dalam aula. Saat itu juga suara di kepalaku memainkan musiknya sendiri.

Dan kau ada di antara milyaran manusia dan ku bisa dengan radarku menemukanmu.

Haha silly.

Aku merasa waktu bergerak sangat lambat diantara aku dan Sasuke, aku tidak bisa jika tidak meleleh saat melihat cara dia menatapku hari itu.

Aku menyusul Sai dan Ino menuju tempat duduk kosong yang ternyata berada cukup jauh dari tempat Sasuke duduk, rasa kecewaku melebur seketika saat menyadari aku masih bisa melihat Sasuke dengan jelas dari tempat aku duduk, dia berada di arah jam empat.

Dalam diam aku perhatikan Sasuke yang tengah tersenyum miring, cara dia membaur dengan teman- temannya, cara dia tersenyum dan tertawa saat menanggapi lelucon pemuda pirang di sampingnya sementara matanya tetap terkunci dengan milikku sejak tadi. Cara dia membuatku merasakan tatapan matanya di punggungku sepanjang seminar membuat aku tidak bisa bergerak leluasa, cara dia mengedipkan mata ke arahku saat tidak ada yang memperhatikan.

Tuhan, apakah seorang gadis bisa hamil hanya dari sebuah tatapan?

Aku mengedipkan mata berkali-kali saat menyadari seminar berakhir dengan tepuk tangan riuh dari seluruh ruangan, aku bahkan tidak mengetahui jika seminar sudah dimulai! Betapa Sasuke bisa menghisap dan mengalihkan seluruh perhatianku hanya kepadanya.

Aku tengah menunggu ruangan sepi agar tidak perlu berdesakan untuk keluar ruangan saat aku meliha tSasuke menghampiriku dengan langkah percaya diri bagai seorang peragawan, mengabaikan tatapan heran yang di lemparkan teman- temannya.

"Sakura,"

Caranya melambaikan tangan sambil menyebut namaku seperti sebuah melodi lagu cinta yang hanya bisa dia lagukan.

Semua itu membuat seluruh yang ada dalam diriku bergetar, membuat aku tak bisa mencegah senyuman yang menampakan deret gigiku.

"Sasuke" Aku mengangguk dengan senyum terbentuk di bibir.

"Menikmati seminarnya?" Tanya Sasuke sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku blazer almamaternya.

Aku memutar kedua mataku, "Seperti aku bisa berkonsentrasi jika ada seseorang yang memandangiku terus menerus."

Sasuke menarik sudut bibirnya, "Itu karena tidak ada yang lebih menarik daripada kamu di ruangan ini,"

"Maksudnya?"

Sasuke hanya menggeleng, tidak menjawab pertanyaanku. "Bagaimana jika aku mengajakmu berkeliling?"

"Campus tour?" Tanyaku sedikit terlalu bersemangat. Ku alihkan pandanganku ke tempat Ino dan Sai duduk yang ternyata sudah kosong. Segera aku mengangguk ke arah Sasuke tanda setuju.

Butuh waktu beberapa lama untuk mengelilingi seluruh kampus Sasuke, aku lihat jam analog di tanganku, sudah jam tiga dan aku belum makan siang. Pantas saja lambungku mulai memprotes sejak tadi.

"Sasuke, tumben tidak mengajak aku makan, kamu nggak lapar?" Aku mendudukan diri di sebuah bangku taman dan memijit tungkai kakiku.

Pandanganku jatuh ke arah air mancur di jantung taman, senyum terbentuk di bibirku saat mengingat peristiwa yang pernah aku alami disana, saat pertama Sasuke menghampiriku. Rasanya baru kemarin, aku masih mengingat dengan jelas seluruh percakapan pertama kami, saat aku menuduh dia sebagai stalker, saat itu aku sama sekali tidak punya ide bahwa aku bisa sebegini dekat dengan Sasuke. Kini aku sudah lupa bagaimana rasanya jika sehari saja tanpa Sasuke.

"-ra.. Sakura?" Suara Sasuke membuyarkan lamunanku. Aku meringis melihat Sasuke yang menunjukan raut kesalnya. "Kamu dengarin aku nggak?"

"Kamu ngomong apa tadi? Maaf aku lagi memikirkan sesuatu."

"Aku bilang, aku sedang tidak lapar karena aku sudah makan sebelum berangkat seminar. Lalu aku juga bertanya apakah kamu lapar?" Jelas Sasuke sabar.

Aku membulatkan bibirku, "Aku belum begitu lapar,"

"Kamu sedang memikirkan apa tadi?" Sasuke menatapku ingin tahu.

Ku kedikkan bahuku, " Hanya mengenang masa lalu."

Sasuke terkekeh mendengar jawabanku, "Bicaramu seperti seorang nenek berusia enam puluh tahun saja,"

Aku terkekeh mendengar tanggapannya, "Sebenarnya, aku tadi mengingat hari dimana semua ini dimulai,"Tuturku akhirnya.

"Semua apa?"

"Kita.." Sasuke menatapku dalam, "Pertemanan kita, maksudku." Lanjutku cepat.

Sasuke tersenyum lembut, kurasakan tangannya mengelus puncak kepalaku, "Aku tidak menyangka kita bisa sampai sejauh ini." Pandangan Sasuke tertuju kepada air mancur. Kami berada dalam keheningan yang nyaman sampai kudengar suara Sasuke yang tengah merogoh sesuatu di tas ranselnya, mengeluarkan sebatang cokelat dan menyodorkannya kepadaku. Aku menatapnya bingung. "Apa ini?"

"Ini Dark chocolate." Jawab Sasuke santai.

Kuputar bola mataku, "Aku juga tahu itu chocolate, maksudku untuk apa?"

"Untukmu. Chocolate bagus untuk membantumu mengontrol kadar gula darah."

Aku menatap Sasuke dengan pandangan tertarik, tidak menyangka seseorang yang tidak suka makanan manis sepertinya benar- benar akan menyimpan cokelat di dalam raselnya.

"Makasih," Kataku sambil mulai menyobek kemasannya. "Punyamu mana?" Tanyaku di sela mengunyah.

Sasuke menggeleng, " Nah I'm cool. Aku nggak perlu itu,"

"Yap, So cool you drive me home!" Perintahku.

"Baik, nona manis." Sahut Sasuke sambil mengacak rambutku.

Kadang aku heran dan terkaget sendiri saat menyadari betapa seringnya aku bersama dengan Sasuke, apakah waktu luangnya sebanyak itu? Apa dia menghabiskan waktu luangnya hanya untukku? Bagaimana dengan Hinata? Sasuke tidak pernah terlihat bersama dengan Hinata, aku juga tidak pernah melihatnya menghubungi Hinata.

Jika bersamaku, dia selalu sibuk mengobrol atau hanya memandangiku saat aku berbicara kepadanya.

Menyadari semua itu, entah kenapa membuat dadaku penuh dengan rasa bahagia bahwa Sasuke lebih memilih menghabiskan waktu bersamaku daripada dengan Hinata. Wow, betapa Sasuke telah membuat aku berubah menjadi monster.

.

.

Kuraih bantal dan menenggelamkan wajahku di bawahnya, wajah Sasuke menari- nari di pikiranku. Wajahnya yang terlihat lembut jika sedang tersenyum, terlihat jahil saat sedang menyeringai, dan wajah memelasnya yang malah terlihat seperti orang menahan sakit. Ada sesuatu dari cara Sasuke menatapku yang membuatku merasa istimewa dan cantik.

Aku tahu bahwa semua perlakuan Sasuke kepadaku murni karena dia menganggap aku satu- satunya teman perempuan yang bisa dia ajak mengobrol dan tidak rese, itulah yang Sasuke pernah katakan padaku, aku tahu bahwa dia hanya 'play around' dan aku kebetulan berada di depannya dan dia menyukai kehadiranku.

"Aku harus apa?" Tak sadar aku mengatakannya dengan keras.

"Katakan kalau kamu suka dia," Aku menyingkirkan bantal dari wajahku melihat Ino yang melempar senyum padaku. "Sasuke kan?" Tanyanya dengan pasti.

"Aku nggak bisa."

"Kenapa nggak? Ya tuhaaaan, dia hot banget!" Ino berseru.

"Dia hanya ingin berteman?" Suaraku terdengar ragu.

"Then, friends with benefits it is!"

"Nggak!"

"Oh, ayolah Sakura. Ingat film yang kita tonton bersama Sasuke waktu itu? Ceritanya itu seperti isyarat yang turun dari tuhan untuk kalian. Kalian harus bersama." Ino mempertemukan kedua tangannya di dada dengan pandangan berbinar.

"Jika kamu lupa, maka aku dengan senang hati mengingatkanmu, Ino. He's taken. Dia sudah punya tunangan yang cantik dan aku.." Kata- kataku seperti menyangkut di tenggorokanku, air mata mulai berkumpul di kedua mataku.

Tidak!

Aku tidak suka saat aku terlalu emosional dan berujung ingin menangis seperti saat ini. Ino terlihat merasa bersalah karena telah memojokanku dan akan mengatakan sesuatu sebelum aku meneruskan perkataanku.

"Aku terlalu 'biasa' untuk Sasuke." Lanjutku setelah berhasil mengatur air mataku agar tidak tumpah.

"God, Im wasting my time with this woman," Ino mengacak rambutnya frustasi.

"Kamu kapan sih berhenti menjadi pesimis tentang hal begini? Aku benci harus mengatakan ini kepadamu tapi sepertinya aku butuh mengatakannya," Ino berhenti sejenak sebelum meneruskan, "Semua orang tahu -kecuali kamu- kalau kamu itu cantik dan cute dan kamu juga punya otak yang bisa kamu banggakan." Ino mengatakanya dengan wajah merona, malu bahwa dia baru mengatakan apa yang baru saja dia katakan padaku.

Aku ingin menertawakan ekpresi Ino saat ini tapi urung karena aku tahu butuh seluruh yang ada di dirinya untuk berkata seperti tadi. "Dia berbeda Ino. Dia tidak menyukaiku seperti itu. Sasuke."

"Kamu yakin?" Ino menghela napas. "Memang kamu nggak bisa lihat apa cara dia melihat kamu? Dia jelas banget naksir berat sama kamu, Ra. Sama besar sepertimu atau mungkin lebih!"

"Apapun yang kamu katakan, nggak akan ada sesuatu yang terjadi antara Sasuke dan aku."

"Mau taruhan?" Ino memicingkan matanya. "Ini Cuma masalah waktu. Sasuke tidak akan bisa menahan dirinya selamanya. Begitu juga kamu, self-control kamu akan patah suatu hari. Percaya deh."

Aku menunduk, bermain dengan jemariku.

"Aku hanya… aku hanya nggak mau mengorbankan pertemanan aku dengan Sasuke, hanya untuk sebuah pengakuan. Bagaimana jika aku mengatakannya, dan dia menolakku? Menjadi temannya saja sudah cukup dari pada tidak sama sekali." Ino memelukku dengan kedua lengannya.

"Kamu gadis yang baik, Sakura. Too bad he's taken." Ino mengelus rambutku.

"Kau mengatakannya karena aku sahabatmu." Kataku sambil mendorong Ino main- main. Ino tersenyum ke arahku.

"Mungkin," Katanya sambil mencubit hidungku.

Why are all the hot guy either gay or taken? Aku menjerit dalam hati.

"Ino,"

"Hm?"

"Kenapa semua pemuda tampan yang kita kenal kalo nggak Gay, pasti Taken?"

"Nggak tau deh, ra." Ino ikut berbaring di sampingku, diam beberapa saat sebelum bangkit dan melotot kepadaku.

"Sakura! Sai kan juga hot, tapi dia nggak punya pacar loh!" Aku mendudukan diri dan memandang Ino yang juga memandangku balik, aku tahu kami memikirkan hal yang sama, senyum terbentuk di kedua bibir kami sebelum kami berteriak bersamaan.

"Berarti Sai Gay!" Gelak tawa terdengar menyusul teriakan kami, aku pukul- pukul ranjang tempatku duduk untuk menyalurkan rasa geli karena lelucon sendiri.

"Siapa yang gay?" Suara baritone yang aku tahu milik seseorang yang baru saja menjadi objek lelucon kami seketika menghentikan tawa kami.

Hening beberapa saat sebelum tawaku dan Ino meledak kembali.

.

.

Hari ini adalah minggu pertama di bulan Februari. Aku bersiap menuju kediaman Uchiha untuk melakukan wawancara dengan Mikoto-san, aku sudah menyiapkan berbagai pertanyaan yang akan aku ajukan kepada Mikoto-san untuk tugasku yang seharusnya selesai jauh- jauh hari, tetapi karena Mikoto-san tidak berada di Jepang sejak tahun baru, alhasil aku baru bisa melakukan wawancara sekarang. Aku sengaja tidak mengatakan kepada Sasuke bahwa aku akan ke rumahnya hari ini, karena aku tidak mau merepotkannya yang mungkin akan menawarkan untuk menjemputku dan sebagainya. Selain itu, aku takut menghadapi kemungkinan akan ditanggapi biasa- biasa saja oleh Sasuke.

Kediaman Uchiha masih berhasil membuatku berdecak kagum bahkan pada kunjunganku kali ini. Saat ini hari masih siang, hanya ada satu Volvo yang terparkir di garasi yang aku kenali sebagai mobil Mikoto-san. Itachi sudah kembali ke Amerika sehari setelah tahun baru. Fugaku- san seperti biasa pasti masih berada di kantor, mengingat hari masih siang.

"Sakura- chan! Kenapa baru kesini lagi sekarang?" Pekik Mikoto-san saat dia baru membukakan aku pintu. Aku membungkuk sebelum menjawab, "Saya berkunjung beberapa kali setelah tahun baru."

"Maksudku sebelum natal, aku dulu membuatkan kue khusus untukmu tetapi kata Sasu-chan kamu tidak datang." Mikoto-san menggandeng tanganku menuju ruang kerjanya, tahu pasti tujuanku datang hanya untuk tugasku.

"Maaf, saya pulang ke Shirakawa pada liburan natal dan tahun baru."

Mikoto-san menggeleng, "Aku yang seharusnya minta maaf karena Sakura-chan tidak bisa menyelesaikan tugasnya tepat waktu, apakah Tsunade memarahimu?"

Aku terdiam sebentar, benar juga. Kenapa Tsunade- sensei tidak memarahiku? "Saya tidak dimarahi,"

Mikoto-san mengangguk puas, "Memang sebaiknya begitu, karena sebelum aku pergi aku sudah menghubunginya dan berkata bahwa kamu belum bisa mewawancarai aku karena aku tengah pergi."

Aku menganga tidak percaya bahwa orang sesibuk Mikoto-san menyempatkan diri untuk menghubungi Tsunade- sensei hanya agar aku tidak dimarahi.

"Terimakasih, Mikoto-san." Aku membungkuk sekali lagi.

"Tidak perlu, kalau kamu ingin berterimakasih, bagaimana jika tinggal lebih lama dan membantuku memasak seusai wawancara? Aku sangat bosan jika harus sendirian di rumah. Sasuke entah pergi kemana tadi." Mikoto-san memberikan tatapan memohon. Aku tersenyum, betapa terkadang Mikoto-san mengingatkan aku kepada Sasuke.

Aku mengangguk.

.

.

Minder.

Hanya itu yang aku rasakan, kini aku tengah berada di dalam dapur bersama Mikoto-san untuk menyiapkan makan malam. Sedikit was-was mengingat pengalaman memasakku sebelum ini yang tidak bisa dibanggakan, aku hanya membantu sebisaku dan lebih banyak melihat kegundahanku, Mikoto-san tersenyum dan mengatakan bahwa aku tidak usah memaksakan diri dan melihat saja.

Alhasil aku benar- benar hanya membantu pekerjaan mudah seperti mengocok telur yang akan di buat omelet, memarut keju, mengiris bawang, mencuci sayuran, dan beberapa pekerjaan ringan lainnya. Aku berterimakasih kepada Mikoto-san yang sepertinya mengerti kesusahanku dalam hal memasak. Beliau bahkan menyemangatiku.

"Tidak apa- apa Sakura-chan, dulu saat aku seumuran denganamu, aku juga sangat payah dalam urusan dapur. Tapi setelah menikah, aku bisa dengan sendirinya memasak berbagai masakan lezat untuk suami dan anak- anakku. Practice makes perfect." Katanya sambil tersenyum maklum.

Aku tersenyum sambil mencuci sekeranjang besar tomat segar karena mengingat ini adalah salah satu makanan favorit Sasuke. Dengan senyum masih terpasang di sudut bibir, aku bersiap membuatkan jus tomat untuk Sasuke yang mungkin akan pulang sebentar lagi.

Entah kenapa aku tiba- tiba aku tersenyum sendiri saat membayangkan Sasuke akan meminum jus tomat buatanku, weird. Padahal hampir setiap hari aku membuatkannya secangkir kopi.

Setelah wawancara, aku merasakan bahwa hubunganku dengan Mikoto-san semakin akrab karena kami merasa cocok mengobrol di banyak hal selain Jewelry. Mikoto-san banyak bercerita tentang Itachi dan Sasuke sambil meracik di dapur. Katanya, Sasuke sejak kecil sangat ingin mengalahkan kakaknya agar Otou-san menganggapnya hebat. Tapi seberapa kerasnya Sasuke berusaha, otousan-nya tetap lebih memuji Itachi.

Suatu hari, tepatnya hari kelulusan Itachi dari SMA, terjadi sedikit perpecahan di kediaman Uchiha karena Fugaku-san mengetahui keinginan Itachi untuk bersekolah di luar negeri. Sebagai salah satu tokoh budaya Jepang, Fugaku-san sangat menentang keras anak- anaknya untuk mengikuti budaya barat apalagi sampai bersekolah di luar negeri. Dengan keras kepala, Itachi tetap bersikukuh untuk pergi ke Amerika walaupun dengan ancaman bahwa Fugaku-san tidak akan mengiriminya uang sepeserpun.

Saat itu, Sasuke mulai kagum pada Itachi dan ingin mengikuti jejaknya untuk belajar di luar negeri, saat itu Sasuke ingin menjadi seorang dokter. Tapi di saat Sasuke lulus SMA, Fugaku meminta Sasuke untuk tetap tinggal karena sekarang hanya Sasuke yang bisa Fugaku-san harapkan untuk menjadi penerusnya. Pada akhirnya, demi mendapatkan pengakuan dari Fugaku-san, akhirnya Sasuke menagguhkan mimpinya untuk bersekolah di luar negeri dan menuruti semua perintah Otousan-nya.

Mendengar penuturan itu, aku teringat jawaban Sasuke saat aku menanyakan tentang hal ini.

"Sekolah di luar negeri atau di dalam sama saja kok, yang penting kan serius kuliahnya."

Itulah yang saat itu Sasuke katakan dengan nada penuh penghiburan yang aku kira ditunjukan kepadaku, kini aku tahu bahwa dia tengah mencoba menghibur dirinya sendiri.

"Saya tidak tahu bahwa Sasuke sudah mengalami hal- hal sulit selama ini." Dia sampai harus mengorbankan mimpinya, tambahku dalam hati.

Mikoto-san tersenyum sendu sambil menatapku, "Bukan hanya mengorbankan mimpinya, Sasuke juga tengah mengorbankan satu lagi hal yang paling berharga dalam hidupnya."

Aku menatap Mikoto-san penuh tanya, tetapi sepertinya dia tidak berniat menjelaskan maksud perkataannya kepadaku. "Bagaimana hubungan kamu dengan Sasuke?"

Aku terperangah dengan perubahan topik yang mendadak, "Eh? Kami berteman dengan sangat baik," Kataku, meringis merasakan nyeri tiba- tiba di dadaku.

Mikoto-san tersenyum dan mengelus rambutku pelan, "Syukurlah. Terimakasih Sakura-chan sudah mau dekat dengan Sasuke. Aku berharap Sakura-chan bisa bertahan sampai akhir."

Aku mengernyit bingung mendengar perkataan Mikoto-san namun hanya dibalas dengan senyum lembut dan sebuah pelukan, "Maaf ya Sakura-chan."

"Maaf untuk?"

"Untuk tidak bisa membantu kalian."

.

.

Suara deru mobil berhenti mengalihkan perhatianku dan Mikoto-san yang masih sibuk mengaduk- aduk wadah mengepul. "Sepertinya Sasuke sudah pulang." Mikoto-san bersiap meletakan spatula sebelum aku menahannya.

"Biar saya saja yang membukakan pintu, Mikoto-san." Aku menawarkan diri karena kulihat dia masih belum selesai dengan masakannya. Mikoto-san berterimakasih yang aku jawab dengan sebuah anggukan.

Aku berlari kecil menuju pintu masuk yang misahkan halaman depan dengan ruang tamu, walaupun keluarga Uchiha termasuk keluarga bangsawan, tetapi mereka tidak memiliki pelayan yang tinggal di rumah utama. Yang aku tahu, para pelayan tinggal terpisah dengan rumah utama dan hanya datang untuk bersih- bersih pada pagi dan sore hari dan memasak jika tidak ada Mikoto-san. Inilah salah satu yang membuatku kagum, walaupun kaya, keluarga Uchiha menerapkan gaya hidup mandiri untuk anak-anaknya.

Aku buru- buru membuka pintu dan menemukan Sasuke tengah berdiri malas dengan kedua tangan berada di saku celananya, matanya melebar dan seketika menegakkan postur tubuhnya ketika menyadari yang membukakan pintu adalah aku.

"Sakura?" Tanyanya lebih kepada dirinya sendiri. Aku terdiam, semua sapaanku tertelan kembali. Tubuhku tiba- tiba saja tidak bisa digerakan saat melihat seorang gadis cantik yang masih melingkarkan kedua tangannya di lengan kanan Sasuke dengan apik. Gadis yang aku ketahui sebagai calon tunangan Sasuke.

"Kenapa kamu disini?" Sasuke menunjukan wajah tidak percaya dan tidak nyaman.

Tentu saja Sasuke merasa bahwa aku adalah pengganggu acaranya -yang entah apa dengan Hinata malam ini. Great. Seharusnya aku langsung pulang saja setelah selesai wawancara tadi, tak usah tergiur untuk makan bersama Sasuke lagi bahkan dengan penuh suka cita membuatkan Sasuke jus tomat spesial.

Kini aku rasakan bunga- bunga yang tadi bermekaran di dalam diriku mulai jatuh satu-satu bersama dengan mataku yang tiba- tiba merasa panas.

Aku masih terdiam di dekat pintu masuk saat Hinata berjalan melewatiku dengan masih menggandeng Sasuke yang masih memberondongku dengan pertanyaannya. Aku tak bisa menangkap satupun perkataan Sasuke, aku baru saja terbentur dengan sangat keras oleh sesuatu bernama 'kenyataan'.

Tbc.

A/N: Hallo People! This is Eve.

Makasih untuk setiap review yang masuk, you made my days!

Lumayan banyak yang tidak suka SasuHina ya, Eve juga! Believe me, it's such pain in the ass buat Eve ngetik akhir chapter ini (dan chapter depan). Dan kenapa banyak yang menganggap Sasuke PHP? Kenapa? Kenapa? #okecukup

Well karena Eve menambahkan genre friendship di fanfiksi ini, jadi rencananya Eve mau bikin semacam bonus cerita di chapter depan yang berisi satu scene singkat SasuIno (bukan dalam hubungan romance, hanya pembicaraan tentang Sakura) dan akan di ceritakan dari sudut pandang Ino. Menurut kalian perlu tidak? Atau hanya akan mengganggu keseluruhan cerita yang diambil dari sudut pandang Sakura? Untuk pertanyaan seperti;

Sebenernya Sasuke cintanya sama siapa ? - Sasuke cintanya sama ayahnya, serius. He's such a good son like that.

Apa endingnya bakalan SasuSaku? - Yang ada dalam draft Eve sampai saat ini sih, SasuSaku, tapi just so you know, Eve berubah pikiran seperti mengganti underwear, so yeah. Intinya baca terus kalau mau tahu.

Berapa Umur Eve?- Well ini pertanyaan Out of Topic, umur Eve akan menjadi 19 tahun tanggal 6 November besok. Sudah tua ya Dx

Kecewa karena adegan ciuman yang nggak jadi. – Well jangan terlalu kecewa, people. Karena nanti ada saatnya buat SasuSaku ciuman. #spoiler

Anyway, Terimakasih sudah membaca.

Kritik, saran dan pendapat silahkan sampaikan lewat review.

-with cherry on top-

.the autumn evening.

P.S:

AngelRyeong9: sudah Eve koreksi lagi kalimat yang menurut kamu rancu, thanks ya, ayo koreksi yang ini juga! /wink/

Subarashii Shinju: maksud Sasuke bilang 'Jangan memulai sesuatu yang tidak bisa kamu selesaikan' apa?

Well, jadi waktu itu Sakura bilang begini ke Sasuke "Dasar besar kepala. Pasti kepalamu adalah satu-satunya hal besar yang kamu punya." Dan Sasuke become a perfert boy that he is, dia mengartikan kata- kata Sakura dalam konteks seksual, dia merasa kalau hal 'besar' yang dia punya bukan hanya kepalanya. Hal apakah itu? Mungkin sesuatu di balik celananya? Who knows?

Karena Sasuke menganggap Sakura masih terlalu innocent dan polos tentang hal ini, jadilah dia bilang "Jangan mulai sesuatu yang tidak bisa kamu selesaikan."

Begitulah, semoga mendapat pencerahan ^^,